Rabu, 26 September 2012

Kun Si Dukun #Nikah Masal[ah]

"Hidup itu juga harus tahu kapan matematikanya, kapan fisikanya, kapan kimianya, kapan bahasanya, kapan sosialnya, kapan kapannya Fayya." lelaki berkaca mata kecil itu memandang serius ke wajah anak perempuannya.
"Iya Pak. Fayya ngerti. Tapi dia sangat serius dengan Fayya pak. Hanya dia lelaki yang Fayya kenal dengan tingkat keseriusan level panglima perang pak."
"Fayya, anak tercantikku satu-satunya. Bukan bapak tidak setuju kalau kamu menikah dengan anak itu. Tapi kamu juga harus paham, siapa sebenarnya dia itu. Seberapa kenal kamu dengannya? Fayya, nikah itu bukan hanya urusan cinta. Harus benar-benar cukup bekal. Tidak asal nikah saja. Banyak hal atau masalah-masalah baru yang akan muncul, yang pasti akan kalian hadapi. Apalagi kamu sebagai perempuan. Harus selektif. Bobot bibit bebetnya jelas. Bukan asal cinta saja. Kerja apa dia?"
"Mmmmm, cuma seorang tukang cuci piring di kantin Mbok Sum. Kantin di kampus Fayya."
"Hmmm. Cuma tukang cuci piring? Kamu lebih baik bercermin sekali lagi Fayya. Kamu itu calon dosen. Tinggal beberapa langkah lagi, harapan bapak ke kamu segera terwujud. Kamu jangan lantas merusak cita-cita luhur keluarga ini Fayya. Bapak sudah mati-matian menguliahkan kamu ke kampus itu. Tidak sedikit biaya yang bapak keluarkan untuk studimu itu Fayya."
"Tapi sekarang Fayya kan sudah mampu mencari uang sendiri. Fayya kan nggak minta lagi sama bapak, sama ibu."
"Fayya. Lebih baik kamu dengarkan perkataan bapakmu itu. Ini demi kebaikanmu. Demi masa depanmu Fayya." perempuan dengan sedikit uban di poninya itu ikut menimpali. "Kamu yakin bakal hidup bahagia dengan seorang tukang cuci piring? Fayya, tolong jangan gegabah mengambil keputusan. Kamu itu calon intelektual di kampusmu."
"Tapi dia sangat menyayangi Fayya bu. Berkali-kali dia menyelamatkan hidup Fayya. Dia yang menjaga martabat, harga diri, bahkan nyawa Fayya bu. Cuma dia bu."
"Omonganmu semakin ngawur. Dia Superman? Spiderman? Iron Man?"
"Terserah kalau bapak nggak percaya sama Fayya. Yang penting Fayya sudah bicara dan memohon doa restu dari bapak ibu."
Kemudian Fayya bergegas pergi menuju kamar tidur. Sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Bapak ibunya kembali melakukan diskusi terkait dengan masalah Fayya. Orang tua. Segala sesuatu yang dilakukan selalu tentang kebahagiaan anaknya.
"Fayya sudah dewasa pak. Sudah sepantasnya dia menentukan pilihannya sendiri."
"Tapi bu. Apa kata orang nanti. Seorang dosen menikah dengan tukang cuci piring. Itu hanya terjadi di film-film murahan. Sangat tidak mungkin terjadi disini bu."
"Iya pak. Ibu paham. Cuma masalahnya Fayya sepertinya benar-benar mencintai tukang cuci piring itu."
"Gini aja. Bapak cari orang pinter aja. Bapak mau konsultasi gimana sebaiknya. Siapa tahu Mbah Nolet punya solusinya."
"Lho bukannya Mbah Nolet sudah lama meninggal pak?"
"Belum. Mbah Nolet sengaja menghilang. Hanya beberapa orang dekat, termasuk bapak yang masih punya pin BB nya. Dia langganan keluargaku dulu."
"Langganan? Berarti bapak sebelum menikahi ibu sempat berkonsultasi juga sama Mbah Nolet?"
"Hehehehe. Iya."
............

Rumah itu biasa. Seperti rumah kebanyakan. Ada pintu, jendela, genteng, ubin, teras. Hanya aura yang memancar dari rumah itu yang berbeda. Seperti sesuatu yang menyimpan energi dahsyat.
"Sulit. Sulit. Sangat-sangat sulit."
"Apanya Mbah?"
"Sulit. Aku sulit membaca siapa anak ini sebenarnya."
"Maksutnya mbah?"
"Lelaki yang dicintai anakmu Fayya ini belum bisa ku analisa sekarang. Tapi kalau melihat tanggal lahir dari keduanya, mereka memang lebih baik tidak bersama. Kalau mereka bersama, akan terjadi masalah dengan anakmu. Masalah itu bukan masalah spele. Itu masalah besar."
"Kata Fayya, anak itu lahir hari Selasa Pahing mbah."
"Iya dan anakmu Rabu Wage?"
"Iya mbah."
"Sangat-sangat berbahaya. Angin ketemu api itu. Sangat-sangat tidak cocok. Atau begini saja. Kamu undang anak itu ke rumahmu. Pertemukan aku dengan dia. Biar aku terangkan padanya kalau lebih baik dia pergi jauh saja dari Fayya."
"Iya mbah. Kalau bisa sedikit diberi apa gitu, biar dia semakin mantap meninggalkan Fayya."
"Hmmm. Itu urasan mudah. Serahkan saja semuanya padaku."
.............

Di kantin Mbok Sum,
"Ini Kun bayaranmu bulan ini."
"Makasih Mbok."
"Nggak dihitung dulu Kun?"
"Nggak mbok. Kun percaya."
"Bocah aneh. Itung dulu sana!"
"Mbok, aku kerja disini bukan cari duit mbok."
"Halah. Sok sok an. Itung apa nggak?!"
"Iya deh iya. Mbok, ini kok 250 ribu?"
"He? Berapa?"
"250 ribu mbok."
"Sini coba mbok lihat. Oh iya. 250 ribu."
"Berarti kelebihan mbok. Biasanya kan cuma 150."
"Makanya mbok suruh ngitung dulu. Maksut mbok ya gini ini. Mungkin masih ada kelebihan gitu."
"Ealah mbok mbok."
"Eh sudah ditunggu Fayya dari tadi di depan. Wajahnya serius. Nggak pake headset. Pasti lagi ada apa-apa kalian."
"Bentar mbok. Kun keluar dulu."

"Kun, aku mau ngomong. Ini serius."
"Iya. Langsung aja."
"Tapi jangan potong sebelum aku selesai bicara."
"Iya. Mana berani aku motong pembicaraanmu."
"Janji ya."
"Iya janji."
"Serius?"
"Iya serius."
"Bener ya."
"Iya bener. Ini kapan kamu ngomongnya?"
"Aku sudah bilang sama bapak ibuku. Aku sudah cerita banyak tentang kamu. Intinya, mereka belum bisa merestui hubungan kita. Aku belum bisa menikah denganmu."
"Menikah? Emang siapa yang ngajak kamu nikah?"
"Ya kamu lah Kun! Jangan bilang kamu lupa ya?"
"Kapan aku pernah melamarmu?"
"Eh ini anak beneran bodohnya! Jangan sampai aku ngeluarin headset ya."
"Apa sih? Nggak ngerti aku."
"Heh! Cincin matahari yang kamu kasih ke aku itu untuk apa?!!!"
"Oalah. Cincin itu? Iya iya baru inget. Aduh maap maap."
"Hihhh!!!"
"Oh jadi bapak ibu nggak setuju? Baguslah kalau gitu."
"Ha? Kamu bilang bagus?"
"Iya. Kalau emang dengan itu kamu bisa lebih bahagia kan aku juga ikut bahagia."
"Terus cincinnya?"
"Ya buat kamu lah. Nggak bakalan aku minta. Kan bapak ibumu nggak setuju."
"Kun. Bapak ibu bukan NGGAK setuju, tapi BELUM setuju."
"Oh..."
"Ngomong sama kamu itu kalau nggak di CAPSLOCK kok susah sepertinya."
"Terus ada penawaran apa dari bapak?"
"Penawaran? Kamu kira jualan apa? Ada sih Kun. Bapak minta kamu maen ke rumah ku. Bapak ingin ngobrol dulu sama kamu. Bapak ingin tahu lebih banyak tentang siapa kamu."
"Emang kamu belum cerita?"
"Udah."
"Terus?"
"Aku diketawain bapak. Katanya kamu dikira Superman yang sehari-harinya bekerja sebagai pencuci piring di kantin Mbok Sum."
.......

Senyap. Suara jangkrik hampir tak ada. Angin juga enggan berhembus kencang-kencang. Nyamuk apalagi. Seperti tak enak hati ikut ngerumpi. Iya sekarang Kun di hadapkan dengan sesuatu yang belum pernah sama sekali dialami. Berhadapan dengan makhluk sakti apapun dia tak gentar. Tapi untuk berhadapan dengan calon mertua, ini lain cerita. Tapi bukan Kun kalau tak bisa mengatasinya.
"Diminum dulu tehnya." Bapak Fayya berbasa-basi.
"Iya pak." Sruputttt....
"Bagaimana? Terlalu manis?"
"Nggak pak. Pas."
"Fayya yang bikin."
"Enak kok pak. Enak."
"Jadi, Kun serius dengan anak saya?"
"Kalau bapak ibu berkenan ya, saya ingin melanjutkan ke level, eh kok level, tahap berikutnya pak. Menikah."
"Tak gampang lho orang menikah dan berumah tangga itu."
"Iya pak. Tapi meskipun sulit, kenyataannya bapak ibu bisa melakukannya. Iya kan? Kalau bapak ibu bisa, kenapa saya nggak mampu?" Kun mengeluarkan kata-kata yang salah tempat sepertinya.
"Kamu yakin sekali Kun. Apa modalmu?"
"Saya pak? Saya nggak punya modal apa-apa."
"Terus bagaimana kamu mau melanjutkan hubungan kalian kalau tanpa modal?"
"Pak, kalau orang punya modal, lalu dirinya jadi sukses, itu sudah biasa pak. Tapi kalau nggak punya modal sama sekali, lalu dia sukses, itu baru dahsyat pak. Kalau pun dia tidak meraup keuntungan dari usahanya itu, dia nggak akan pernah rugi pak. Orang dia nggak ngeluarin modal apa-apa. Darimana dia bisa rugi?"
Bapak Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"
"Nak Kun. Bukan begitu. Masa depan kan penting. Rencana juga harus ada. Apa rencanamu ke depan?"
"Kalau saya sama Fayya sudah merencanakan dan sepakat untuk menikah bu."
"Iya ke depannya?"
"Iya menikah itu bu."
"Maksut ibu..."
"Iya bu. Kami berdua sudah sepakat untuk menikah dan menikah. Menikah terus setiap hari. Menikah dengan enak dan tidak enaknya kehidupan. Termasuk menikah dengan masalah-masalah baru nantinya."
Ibu Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"

"Bapak ibu ke dalam sebentar. Ada yang harus kami bicarakan. Nanti akan ada yang menemani nak Kun ngobrol."
"Asyikkkk. Fayya?"
"Bukan. Ntar kamu juga tahu sendiri."

Lalu sosok Mbah Nolet keluar. Kun menemuinya. Ada pembicaraan penting disana. Hanya mereka berdua yang tahu............

..........
Di Kantin Mbok Sum (lagi)....
"Kuuuunnnn!!!!!" Fayya teriak kegirangan. Hampir memeluk Kun tapi tak jadi.
"Hmmm. Ada apa sih tuan putri pagi-pagi udah teriak-teriak?"
"Kunnnnn!!! Aku punya kabar baik!!!!"
"Iya iya. Duduk dulu kenapa sih."
"Kun. Bapak Ibu sudah menyetujui hubungan kita. Yeeeyyyyy!!!!"
"Oh.."
"Just Oh? Datar banget! Ih sebel deh!"
"Iya kan kata bapak ibumu yang terpenting ke depannya. Bukan saat ini aja. Hehehe..."
"Iya sih. Eh kamu tau nggak sih siapa yang bicara sama kamu semalam? Itu Mbah Nolet lho. Mbah Nolet itu orang kepercayaan keluargaku. Mmmm..."
"Penasehat spiritual? Psikolog? Konsultan? Profesor kejiwaan?"
"Iya semacam itu sih. Kamu tahu?"
"Gini aja deh. Aku ajak kamu ke rumahnya aja."
"Emang kamu tahu rumah?"
"Udah deh, masa sama calon suami nggak paham-paham juga."
"Ih, mulai kumat songongnya!"
"Yuk sekarang aja."
"Sepagi ini?"
"Iya. Mau nggak?"
"Mau mau..."
........

"Mbah! Mbah Nolet! Mbah! Bangun Mbah! Jam segini masih tidur! Mbah! Woy! Bangun woy!"
"Masih tidur kali Kun."
"Haduhhh. Siapa sih pagi-pagi gini udah teriak-teriak. Iya bentar!!!"

"Ehhhh, nak Kun. Mari masuk-masuk." Mbah Nolet menciumi tangan Kun. Berkali-kali. Fayya melongo sendiri. Dia tidak percaya dengan peristiwa aneh hari ini.






Share:

Senin, 16 Juli 2012

Kun Si Dukun #Cincin Matahari

Fayya anggun dengan gaun ungunya. Berjalan slow motion penuh wibawa mempesona. Seisi kampus membicarakan dirinya. Hingga rektor pun membuat rapat dadakan membahas masalah yang agak aneh ini. Memang, tak seperti biasanya Fayya tampil begitu cantiknya. Perpaduan antara futuristik headset dan sepatu high heels nya membuat seolah-olah dia tak menapakkan kakinya ke tanah, melainkan terbang bagai bidadari yang sedang berkeliling ke bumi mencari pangeran tampan penakluk naga. Segera saja jajaran kampus mengundang Kun terkait hal yang sudah menggegerkan kampus itu.

"Maaf saudara Kun, apa yang sebenarnya terjadi gerangan?" tanya rektor di dalam gedung seminar. Kun duduk di hadapan para petinggi kampus. Di belakang Kun ribuan mahasiswa ikut menyaksikan fenomena semacam pengadilan publik ini. Di sudut terlihat mahasiswi mahasiswi bermata sembab. Sepertinya karena tangisan.
"Maaf kisanak, eh maaf yang mulia rektor, saya belum begitu jelas dengan pertanyaan yang yang mulia ajukan. Mohon diperjelas lagi kisanak. Eh. Yang mulia."
"Apakah saudara Kun tidak tahu persoalan yang telah terjadi di kampus ini kemarin?"
"Sekali lagi hamba mohon maaf yang mulia. Saya benar-benar tidak tahu. Kalau yang mulia tanya berapa jumlah tahu yang digoreng mbok Sum kemarin, saya bisa memberi informasi yang cukup valid yang mulia."
"Hmmm. Sudah bertemu dengan saudari Fayya hari ini?"
"Sejak sepuluh hari yang lalu saya sengaja tidak bertemu dengan Fayya yang mulia. Sekedar tanya kabar via sms pun tidak."
"Berarti saudara Kun tidak berhubungan lagi?"
"Maaf yang mulia. Pertanyaan anda semakin tidak jelas bagi saya. Saya masih berhubungan, hanya saja sedang mengurangi intensitas komunikasi di antara kami berdua yang mulia. Kenapa pertanyaan anda mirip infotaiment yang mulia?"
"Saudara Kun, dengan berat hati saya selaku wakil dari seluruh isi kampus ini, menyatakan, tentu saja setelah menimbang dengan seksama, bahwa saudari Fayya harus kami skors untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Saya yakin saudara Kun tidak akan keberatan dengan hal ini."
"Saya memang tidak keberatan yang mulia. Saya malah senang. Karena dengan begitu kami berdua bisa berlibur dengan tenang. Tidak hanya di kantin mbok Sum terus yang mulia. Tapi maaf yang mulia. Kalau boleh tahu apa gerangan yang sebenarnya sudah Fayya perbuat sehingga yang mulia memutuskan hal bahwa Fayya harus diskors?"
"Sehari yang lalu kampus ini mengalami huru hara besar. Semua laki-laki di kampus ini memutuskan pacar-pacarnya secara sepihak. Jadi ada gerakan Move On besar-besaran di kampus ini. Tentu saja banyak wanita yang berteriak histeris bahkan ada yang bertekad untuk membunuh semua spesies nyamuk di muka bumi ini, padahal nyamuk tidak ada urusan dengan Move On massal ini."
"Lantas apa hubungannya dengan Fayya yang mulia?"
"Mereka, para lelaki itu, melakukan gerakan Move On karena semua lelaki di kampus ini tertarik dengan dandanan Fayya yang tidak seperti biasanya. Kalau tidak percaya tanya hadirin di belakang saudara. Benarkan para hadirin yang budiman?"
"BENARRRR!!!!" gemuruh seketika ruangan seminar itu.
"Fayya memang cantik yang mulia. Luar dalam yang mulia. Saya mengakuinya." kata Kun membela.
"Tapi yang kemaren beda saudara Kun. Anda berkata seperti itu karena anda kekasihnya. Itu merupakan hal yang wajar. Saya saja sampai....."
"Sampai apa yang mulia?" Kun memotong.
"Ah lupakan. Yang jelas kami harus menskors saudari Fayya dengan catatan tentunya."
"Apa catatan itu yang mulia?"
"Dengan catatan, dia berdandan seperti semula, seperti biasanya, dan Fayya boleh kembali ke kampus ini."
"Baik yang mulia, akan saya sampaikan pesan anda. Sehari ini saya juga belum bertemu dengan kekasih saya itu, yang meski dandanannya biasa saja, tapi tetap cantik bagi saya."
"Hmmm. Baiklah dengan demikian peradilan dadakan ini secara resmi saya bubarkan." Dog Dog Dog.
..........................................................

Kun menyambangi kos Fayya. Sambil siul-siul lagu dangdut Kun mengetuk pintu kamar Fayya. Lama Kun mengetuk tapi belum ada jawaban dari dalam kamar. Pintu kamar Olive yang persis bersebelahan dengan kamar Fayya malah yang terbuka. Dari sana kepala Olive menyembul.

"Nyari Fayya Kun?"
"Eh Olive. Iya. Fayya tidur yah?"
"Nggak. Dari kemarin belum pulang."
"Dari kemaren?"
"Iya dari kemaren. Aku kira dia nginep di rumah saudaranya yang lagi punya hajat."
"Tahu dari mana?"
"Dari dandanan Fayya yang menor. Itu anak pamitnya mau ke kampus, tapi aku sendiri nggak percaya. Masa mau ke kampus kok anggun kayak gitu."
"Iya bilang saja anggun, jangan menor."
"Iya anggun. Ada acara Kartinian apa di kampus? Nggak kan?"
"Mmm, nggak tahu deh. Tadi hapenya aku hubungi nggak aktif. Makanya aku langsung kesini, siapa tahu dia sedang sakit nggak enak badan mungkin."

Olive tak menanggapi cerita Kun. Dia langsung memasukkan kembali kepalanya yang menyembul tadi dan menutup pintu kamarnya. Kun gelisah. Benar-benar gelisah. Kun menuju ke tempat yang agak sepi di lapangan bola sebelah kos Fayya. Dengan segera dia memanggil empat sahabat karibnya. Genderuwo, Gagak Rimang, Serigala Botak, Pangeran Tokek. Namun keempatnya sepakat menggelengkan kepala. Hanya Pangeran Tokek yang agak memiliki informasi beberapa menit sebelum Fayya menghilang dari kos nya.

"Jam 06.33 ia selesai mandi. Sempat ganti-ganti baju beberapa kali, tapi tepat pada jam 07.45 dia baru memutuskan untuk memakai gaun warna ungu. Jam 07.58 dia memakai headsetnya. Jam 08.00 dia memakai high heelsnya. Jam 08.05 dia menutup pintu kamarnya."
Genderuwo, Gagak Rimang, dan Serigala botak meneteskan air liur mendengar penjelasan dari Pangeran Tokek.
"Kenapa kalian?" tanya pangeran Tokek. "Hmmm, otak mesum semua! Kalian kira aku mengintip Fayya ganti baju apa! Dasar makhluk tak berperi kemanusiaan! Aku menghormati Fayya sebagaimana aku menghargai saudaraku Kun! Mana mungkin aku mengintip Fayya. Sebelum dia ganti baju dia sudah mengancamku. Kalau sampai aku mengintipnya, aku akan diekspor ke China. Mana berani aku."

Kun tersenyum melihat tingkah polah sahabat-sahabatnya itu. Apa lagi Pangeran Tokek yang diberi mandat khusus untuk menjaga Fayya selama di kos. Setelah Kun mengucapkan terima kasih segera Kun melakukan pencarian lewat frekuensi-frekuensi asing yang jarang digunakan lazimnya manusia. Bahkan tidak juga digunakan oleh satelit milik mesin pencari yang sekarang mendominasi dunia internet. Kun memejamkan mata merapal mantra dan menghentakkan kakinya tiga kali ke tanah.

"Yang sebelumnya hilang, nampak lah! Yang sebelum tak terlihat, muncul lah! Yang sebelumnya jomblo, menikah lah! Ups, salah mantra. Yang sebelumnya gelap, jelas kan lah! Hiyaaattttttt!!!!"

Daun kering jatuh tepat di hidung Kun. Ada bekas tai burung mengering di sana. Juga ada semacam guratan kata-kata yang membentuk kalimat, "Kalau mau Fayya selamat, datang ke gudang garam. Tujuh kilometer barat daya dari tempatmu berdiri."
"Ada yang cari gara-gara lagi rupanya. Baiklah." gumam Kun.
....................................................

Gudang garam. Gudang garam dalam arti sebenarnya. Sebuah gudang yang dulunya memang pernah digunakan untuk menimbun garam-garam yang akan dipasarkan. Gudang yang konon katanya juga pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan gula ini memiliki atmosfer energi tersendiri. Sejak pertama kali masuk Kun sudah mendeteksi adanya gelombang-gelombang liar yang berlalu lalang.

"Woy!!!" teriakan Kun menggema di seluruh gudang yang hanya diterangi oleh cahaya yang masuk dari lubang-lubang ventilasi udara.
"Woy!!!" lagi, teriakan Kun menggema. Sesaat Kun mencium. Seperti aroma tubuh Fayya. Dia semakin yakin kalau Fayya memang berada di gudang ini.
"Fayya!!!" panggilan yang menggema. Seperti sedang diucapkan oleh lelaki kepada kekasihnya karena sudah lama mereka tak saling sua.
"Fayya!!!" tetap saja, panggilan dari hati itu tak menemui balasnya.
"Fayyaaaa!!!"

Sosok bayangan hitam muncul. Ada kemilau cahaya di jari tengah tangan kanannya. Sosok tinggi besar gagah sehingga jelas suara alas kakinya yang berbenturan dengan ubin gudang. Kun waspada. Tangannya mengepal bersiap untuk menghantam kalau-kalau sosok itu menyerangnya.

"Hmmm. Jangan terburu-buru anak muda." kata sosok yang sepertinya lelaki itu.
"Siapa kamu duhai kisanak?" tanya Kun.
"Aku? Tak perlu kau tahu siapa aku."
"Tapi aku tak asing dengan cincinmu itu."
"Hahaha. Rupanya pengetahuanmu memang cukup luas anak muda."
"Dimana Fayya?!" Kun menggertak.
"Sssttt. Tak usah berteriak. Fayya sedang tidur pulas disana." lelaki itu menunjuk ke arah tepat dimana Fayya diikat kedua tangan dan kakinya dan dibiarkan bergelantungan.
"Fayya," Kun lirih. "Siapa kamu sebenarnya! Apa yang sudah kamu perbuat terhadap Fayya! Apa maksutmu!" kembali suara Kun menggema.
"Hahaha. Anak muda anak muda. Oh lupa, aku tahu siapa namamu. Kun Si Dukun. Anak muda terhebat di jagat raya ini. Anak muda yang punya kekuatan unik yang tidak dimiliki oleh generasi-generasi sebelumnya. Hahaha...."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan? Turunkan Fayya sekarang! Turunkan!" Kun geram.
"Hahaha. Lihat apa yang ada di jari Fayya itu. Lihat!" lelaki itu balik menggertak.
Kun menatap ke arah Fayya. Seperti sebuah cincin terselip di jari manis Fayya. Fayya masih anggun dengan gaun ungunya.
"Kau tahu apa itu anak muda? Itu Cincin Matahari kan? Iya kan?!! Itu bukan cincin sembarangan. Sebuah cincin yang memiliki kekuatan maha dahsyat yang bisa meluluh lantahkan seisi semesta ini jika bertemu dengan pasangannya! Iya kan!" lelaki itu semakin keras suaranya.
"Aku tak mengerti kisanak. Sungguh aku tak mengerti denganmu lelaki tua. Itu cincin dariku untuk Fayya. Belum ada seminggu ini aku membelikannnya. Tapi itu bukan Cincin matahari seperti yang engkau maksut." Kun mencoba mengembalikan keadaan sambil menghela nafasnya. Lelaki itu seperti sedang menunggu penjelasan Kun selanjutnya. "Itu cincin biasa kisanak. Justru yang di jari tengahmu itulah cincin matahari."
"Iya, tapi aku masih membutuhkan satu Cincin Matahari lagi untuk menambah kekuatanku."
"Aku tidak tahu dimana cincin yang satunya lagi berada. Aku sungguh-sungguh tidak tahu kisanak. Sekarang aku mohon dengan sangat, bebaskan Fayya. Dia tak bersalah."
"Tidak bisa! Kamu harus memberi tahuku dimana cincin yang satunya lagi berada. Kecuali, kalau kau tidak ingin Fayya selamat." lelaki itu menggertak. Tak ada cara lain bagi Kun selain melawannya.
"Baiklah, sepertinya kita memang harus bertarung kisanak. Mari. Aku siap melayanimu."

Kun terdiam, terpejam, sunyi, hening, diam. Dalam hatinya dia sudah berjanji tidak ingin melukai sedikitpun lelaki ambisius itu. Kun bersiap dengan Untouched Cow (Sapi tak tersentuh) nya. Sebuah ilmu racikannya sendiri yang memanfaatkan energi partikel terkecil air sebagai benteng pertahanan. Apa hubungannya dengan sapi? Karena partikel-partikel air itu jika berkumpul menimbulkan satu warna putih mirip dengan susu sapi. Rasanya juga. Kun pernah dengan tidak sengaja meminumnya. Kun membuat benteng, karena dia tak mau menyerang.

Lelaki itu datang dengan sorotan Cincin matahari. Datang menghantam pertahanan Kun. Kun tak sedikitpun bergerak. Sinar dari cincin matahari itu juga tidak mampu menembus pertahanan Kun. "Hebat juga anak ini." gumam lelaki itu sambil terus menghujani Kun dengan berbagai macam tinju dan tendangan. Tendangan menyilang, tendangan penjuru empat mata angin, dan tendangan tanpa tepisan. Namun Kun tetap tak bergerak. Dengan cepat Kun melompat ke arah Fayya dan membuat lelaki itu terkejut seketika. Kesempatan ini digunakan untuk segera mengejar Kun. Tapi Kun lebih cepat dari yang dia bayangkan. Kun berhasil membawa Fayya turun. Membaringkan Fayya  yang terkulai lemas. Dilihatnya dengan seksama seluruh tubuh Fayya dan Kun tidak menemukan satu goresan pun disana. Kun tersenyum. Fayya masih terlihat anggun dengan gaun ungunya meski dua hari tak mandi.

Kun berdiri. Mengambil cincin dari tangan Fayya dan memakainya. Tak lupa juga dia memakai headset Fayya.

"Waktumu habis kisanak. Sekarang pergilah kalau engkau tidak mau terluka. Sekali lagi ini cincin biasa. Bukan cincin matahari." Kun memberi peringatan keras kepada lelaki itu.
"Hahaha. Aku masih tidak percaya. Nyatanya sekarang kau memakainya anak muda. Berarti itu memang pasangan dari cincin matahari ini."
"Baiklah. Cepat saja urusan ini harus diselesaikan. Aku tak mau Fayya menunggu terlalu lama. Sudah. Ku hitung sampai tiga silahkan kisanak pergi dari tempat ini. Satu..."
"Hahaha. Aku tidak akan takut anak muda."
"Dua...."
"Mari kita selesaikan anak muda, hiyaaaattttt.."
"Tigaaaaaaa......"

Satu pukulan dari Kun membuat lelaki itu hilang. Mungkin perpental sampai ke galaksi lain menembuas lapisan-lapisan udara di langit sana.

Kun membopong Fayya. "The Ngi and The Lang! Ngilang!" Kun membawa Fayya di atas bukit kecil dekat kampus. Fayya masih agak pusing karena kejadian ini. Pelan-pelan Fayya bercerita perihal pertemuannya dengan lelaki asing di tengah jalan.

"Dia bilang dia tertarik dengan cincinku dan berniat menukarnya. Tapi aku menolak. Aku bilang kalau cincin ini satu-satunya benda yang bisa mengingatkanku kepadamu meski kamu tak pernah sms ataupun menelponku. Aku anggap ini avatarmu Kun. Cincin ini sering aku cium setiap selesai berdoa. Tentu saja doa-doa untuk keselamatanmu. Aku menolaknya saat itu. Tapi dia memaksaku. Setelah itu aku tak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah disini bersamamu."
"Udah ceritanya besok saja. Kamu masih harus banyak istirahat." Kun tersenyum. Kali ini bukan nyengir.
"Kun terimakasih sudah menyelamatkanku."
"Iya. Tapi nggak perlu juga meluk. Kalau kekuatanku hilang lagi gimana? Hehehe. Eh, lain kali kalau ke kampus pakaiannya yang biasa aja yah. Jangan bikin geger kampus lagi."
"Aku sengaja sih. Ngetes apa kamu masih perhatian sama aku nggak. Hehehe.."
"Ealah."
"Kun.."
"Ya Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kunnnn...."
Dan adegan itu berakhir dengan saling memanggil nama saja.....
Share:

Selasa, 19 Juni 2012

Kun Si Dukun #Pawang Hati

"Semangat banget nyucinya Kun."
"Lumayan buat olah raga tangan. Biar otot-ototnya terlatih Fayya."
"Biar kuat mindah mendung yah? Wek!" Fayya mengejek Kun.
"Oalah. Ada beberapa kriteria orang mencuci. Ada orang yang mencuci karena ia merasa telah ikut andil mengotori. Ada orang yang mencuci karena itu sudah menjadi pekerjaannya. Yang keren yang ketiga ini. Ada orang yang mencuci padahal dia tidak ikut andil mengotori dan itu bukan pekerjaannya sendiri."
"Kamu masuk yang mana?"
"Gak ngerti."
"Aku juga gak ngerti. Pura-pura tanya aja. Wek!"
"Sekali-sekali kalau nyuci hening bisa gak sih?" Mbok Sum menjadi wasit.
"Habis itu Kun kalau ditanya jawabnya kemana-mana mbok."
"Jawabnya kemana-mana tapi hatinya kan cuma ke hatimu. Wek!"
"Tuh kan mbok bener. Pinjem wajan jumbonya mbok."
"Terus mbok Sum goreng tempe pakai apa? Aneh-aneh aja kamu sayang." Kun nyengir.
"Ini Fay pakai panci aja. Sama jumbonya kok." Mbok Sum memberikan alternatif.
"Waduh. Kompak bener. Seneng banget kalau aku teraniaya yah?" Kun segera berlari menuju pertapaannya. Sudut kantin.

Fayya menyusul, tapi tak membawa panci ataupun wajan jumbo. Masih siang, namun langit kedatangan awan mendung. Sinar mataharipun terhalang oleh gelap pertanda air hujan segera hadir. Kun masih saja asyik berkutat dengan file-file hasil donlotannya. Kun menghapus semua file hasil donlotan termasuk koleksi film-film Koreanya. Kalau lagu, Kun tidak begitu berminat. Fayya yang suka mengoleksi lagu-lagu.

"Serius amat sayang." kata Fayya.
"Iya ini lagi hapus file film. Hard disknya penuh. Sesak. Kasihan yang lain, ntar susah bernafas. Bisa macet juga."
"Emang bisa gitu file sesak nafas."
"Kalau gak percaya gak apaapa sih. Tapi kalau percaya kebangetan juga. He..."
"Mulai deh."
"Gak. Aku semalam dapat mimpi. Ada berita semacam saran yang membangun gitu, bahwa lebih baik, kalau kita tidak begitu tahu asal usul sumbernya mending ditinggalin atau dihapus aja. Aku kan gak ngerti free download itu 'bener' apa 'gak'. Itu nyuri apa gak aku juga gak tahu. Aku hanya berusaha menghargai karya orang lain aja sih. Lebih baik aku ketinggalan info seputar dunia gak apaapa. Kalau mau lihat video ya cari yang onlline plus langsung dari officialnya. Fay! Fayya! Fayya sayang! Malah molor. Woy bangun woy!"
"Mmmm. Iya. Tugas dari saya kemaren dikirim via email aja."
"Bangun sayang. Malah ngigau gitu. Aku Kun."
"Oh, ternyata kekasihku sayang. Maaf. Semalam habis lembur koreksi tugas-tugas mahasiswa gitu. Maklum asisten dosen yah kayak gini kerjaannya sayang."
"Tidur jam berapa?"
"Pertanyaan bodoh. Ya gak tahu lah sayang."
"Oh lupa. Bangun jam berapa tadi?"
"Tadi jam empat pagi udah bangun. Terus ke kamar mandi. Balik kamar tidur. Tahu-tahu udah jam delapan. Langsung buru-buru ke kampus."
"Kamu udah mulai sibuk sekarang."
"Hu'um. Eh sayang, kamu gak curiga sama mendungnya? Gelapnya kok beda yah."
"Fayya, kamu ini aneh-aneh aja. Yang namanya mendung ya gelap sayang."
"Serius deh. Kok aku ngerasa ada yang ganjil."
"Gini aja deh. Kalau kamu bisa mindahin mendung itu, supaya kamu gak khawatir yah pindah aja. Tapi kalau bisa sih. Heeee..." Kun nyengir.
"Oh jadi ceritanya kamu nantangin aku buat mindah mendung gitu? Emang kamu aja apa yang bisa kayak gitu? Baik. Aku ladeni permintaanmu sayang."
"Lha? Serius?"
"Lihat aja!"

Fayya memejamkan matanya. Tangannya terlipat di dada. Berbeda dengan Kun. Biasanya Kun melakukan dengan berdiri, namun Fayya cukup melakukannya dengan duduk. Hening sunyi. Kun mulai merasakan gelombang-gelombang dari dalam tubuh Fayya. Gelombang yang dalam waktu singkat berubah menjadi angin langsung menuju ke awan mendung membentuk seperti pusaran-pusaran. Semakin kuat semakin kuat dan semakin kuat. Kun mengamati dengan seksama. Wajahnya serius. Untung kantin mbok Sum sedang sepi. Jadi tidak banyak yang tahu kejadian ini. Termasuk mbok Sum sendiri. Dengan segera pusaran angin yang berasal dari tubuh Fayya itu menyapu bersih awan hitam. Langit cerah seketika. Sinar mentari kembali menampakkan keceriaanya. Air hujan yang sempat menetes segera pergi entah kemana. Fayya membuka mata menatap Kun penuh bangga dan berkata,
"Gimana sayang? Berhasil?"
Kun mengangguk sambil tersenyum.

Malam harinya,
"Huaaaaa!!!! Kun!!!! Cepet kesini sayang!!!!" Fayya berteriak lewat telpon.
"Ada apa? Kecoak? Tokek? Serigala?"
"Bukan!!!! Buruan sini!!!!"
"Iyah."

Sepuluh menit, ah, seperti biasanya, Kun sampai dengan dandanan yang masih seperti biasanya pula. Kun tidak terkejut dengan kondisi kos-kosan Fayya yang mirip seperti habis kebanjiran.

"Siapa yang habis ulang tahun?" tanya Kun.
"Ulang tahun apa?"
"Lha itu banyak air. Habis siram-siraman kan?"
"Hhhhh bukan. Tadi sore sini hujan lebat. Terus kebanjiran. Kamarku aja sampai bocor. Hhhhh."
"Oh."
"Kenapa cuma oh!"
"Oh no."
"Kenapa cuma oh no!"
"Hihihi. Kamu sadar gak sih."
"Sadar gimana?"
"Tadi siang kamu habis ngapain?"
"Apa yah? Nyuci piring sama kamu, pulang terus koreksi tugas mahasiswa, mmmm, udah itu aja kok."
"Bukan yang itu. Tadi kamu mindah mendung kan?"
"Oh itu. Baru inget."
"Kalau soal mindah hujan atau mendung sih gampang. Yang sulit itu kemana kamu akan memindahnya. Harus  cari lokasi yang pas, yang benar-benar sedang membutuhkan air. Jangan asal dibuang. Kalau asal dibuang yah kayak gini, akhirnya dia ikut sama kamu. Kan dia udah nuruti permintaanmu untuk kamu pindah, nah sekarang dia kemana-mana ikut kamu. Banjir deh jadinya kamarmu. Sayang, kamu boleh kok mindah hujan kemana aja, asal gak mindahin aku dari hatimu. Kalau aku sih lebih milih jadi pawang hati daripada pawang hujan. Heee..." Kun nyengir.
"MBOK SUM!!!!"
"Wey ini bukan di kantin lho!"
"Oh lupa. Pukul headset aja kalau gitu. Diem disitu dulu yah sayang."

Kun pasrah.
Share:

Minggu, 17 Juni 2012

Kun Si Dukun #Psikologi Dukun

Di kos Fayya,

"Enak gak punya pacar makhluk kayak gitu?" tanya Oli.
"Sebelum aku jawab. Aku mau tegasin beberapa hal sama kamu. Yang pertama, aku sama Kun sepakat menyebut kekasih, bukan pacar. Kedua, jangan tanya perbedaanya dimana. Ketiga, karena aku tidak akan menjawabnya. Keempat, kalau masih belum jelas dan belum puas dengan jawaban-jawabanku, gak usah tanya-tanya lagi."
"Mmmm gak gitu juga kali Fay. Aku lagi ada tugas kuliah psikologi. Aku tertarik sama Kun."
"Naksir sama Kun?"
"Bukan. Aku penasaran sama Kun. Dia itu betah banget gak lulus-lulus. Anehnya pihak kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia. Tentu selain 'sakti'nya itu."
"Aku sebenarnya juga sempet punya pikiran kayak kamu Ol. Kenapa cuma dia yang gak bisa diapa-apakan sama kampus. Terus aku tanyain hal itu sama Kun. Apa jawabnya coba?"
"Mana aku tau Fay."
"Tebak aja. Ntar kalau bener aku traktir di Aneka Penyet."
"Serius?"
"He'em."
"Bener yah?"
"Iyah. Aku traktir parkirnya. Makanannya sih bayar sendiri. He..."
"Hmmm. Terus apa jawaban Kun?"
"Dia bilang, kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia, karena dia juga gak pernah berbuat apa-apa untuk kampus. Kalau dia 'berbuat' apa-apa dia pasti udah lulus dari dulu Ol."
"Dasar dukun aneh. Eh Fay, kamu gak pernah minta diajak jalan-jalan kemana gitu sama Kun. Dia kan bisa dengan mudah pergi kemana saja Fay. Kamu gak kepengen keliling dunia gitu?"
"Buat apa keliling dunia. Sedangkan sejatinya aku setiap hari mengelilingi matahari."
"Hadewww. Gini aja deh Fay. Tolong bilang sama Kun, besok aku mau ketemu sama dia di kantin Mbok Sum. Kamu sama anehnya dengan Kun."

Plak! Headset menghujam nyamuk yang nempel di pipi Oli.

Di kantin Mbok Sum, Kun duduk imut membaca e-book terbaru Syech Jangkis. E-book yang membahas 'kelakuan-kelakuan' para dukun beberapa abad terakhir ini.

"Ada apa Ol?"
"Aku mau wawancara sama kamu."
"Ikut majalah mana kamu?"
"Bukan. Ini untuk tugas kuliah."
"Halah. Paling dari Pak Armando kan?"
"Bukan. Ini murni tugas kuliah kok. Psikologi. Aku mau nulis psikologi dukun."
"Kenapa datangnya ke aku?"
"Karena kamu dukun."
"Tahu dari mana kamu aku dukun?"
"Udah banyak yang bilang. Kamu legenda di kampus."
"Percaya sama omongan mereka?"
"Percaya seratus persen sih gak yah, cuma aku punya feeling kamu emang dukun."
"Kamu aja dukun kok. Itu barusan pakai ilmu feeling. Kamu memakai 'rasa' sebagai pintu untuk membedah sesuatu itu."
"Maksut aku gini Kun. Gimana yah ngomongnya. Mmmm...."
"Gini aja deh. Aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu. Semuanya. Semua pertanyaanmu akan aku jawab. Semuanya."
"Aku mulai dari mana yah. Mmmm..."
"Dari sini aja. Gak usah jauh-jauh."
"Mmmm. Sejak kapan kamu bisa menghilang?"
"Sejak aku bisa menghilang."
"Hari tanggal bulan tahun?"
"Berabad-abad yang lalu. Lupa."
"Gimana kamu berlatih ilmu itu?"
"Latihan."
"Contohnya?"
"Bernafas, kedipin mata sama minum air kembang." Kun melirik es teh.
"Mmmm..."
"Sebentar sebentar. Stop dulu. Kalau denger nada bicaramu ini bukan untuk tugas kuliah deh. Kamu mau jadi seperti aku kayaknya."
"Mmmm..." perempuan berkacamata itu menundukkan pandangannya. "Iya sih... kalau kamu berkenan tolong jadilah trainer ku. Latih aku."
"Ealah kalimatmu aja kurang enak didengar gitu."
"Maksutnya Kun."
"Kata training alias 'latih melatih' itu cocoknya digunakan untuk binatang. Contohnya, Oli sedang melatih anjing kesayanganya pedekate dengan lawan jenis. He..." Kun nyengir.
"Susah ngomong sama kamu. Kayak gitu kok katanya dukun. Ya udah ajari aku. Ajar aku."
"Ajar itu mirip dengan hajar. Kamu nyuruh aku untuk menghajarmu? Serius? Bentar aku ambil piring dulu."
"Hhhhhh! Ya udah didik aku!"
"Kamu kan Oli bukan Didik?"
"HHHHH!!!!! Ya udah jadilah guruku!!!!"
"Cari anak-anak Fakultas Keguruan kan banyak."
"HHHHH!!!!! BODOH AMAT!!!!!" Oli berlalu dengan mengunyah kacamatanya sendiri.

Kun lantas mengirim sms agar Fayya segera ke kantin. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang muka 'yang paling disukai' Kun. Nyengar-nyengir.

"Kamu apain si Oli tadi?"
"Gak aku apa-apain kok." Kun nyengir.
"Kamu itu dasar!" Fayya memukul lengan Kun yang tipis pakai pensil 2B.
"Lagian milih tugas kok aneh gitu. Siko, siko, siko apa tadi?"
"Psikologi, jelek!"
"Iya. Sikologi. Gak pake Pe kan?"
"Pakai dong jelek."
"Berarti Sikologip?"
"Hhhh. Bodoh beneran kamunya ya."
"Fayya." tatapan mata Kun sendu.
"Apa! Paling juga mau romantis-romatisan lagi."
"Ya udah gak jadi deh."
"Heeee. Bercanda sayang. Apa pangeran jelek serigala jinak ku?"
"Fayya. Setiap orang yang ada di dekatku, orang itu akan terlihat pandai. Karena aku bodoh. Setiap orang yang berjalan bersamaku, orang itu akan terlihat elok. Karena aku buruk. Setiap orang yang mau berdiri tegar bersamaku, pastilah orang itu kuat dan sakti, karena sebenarnya aku ini lemah."
"MBOK SUM!!! PINJAM WAJAN JUMBO!!! KUN KUMAT!!!"




Share:

Kamis, 14 Juni 2012

Kun Si Dukun #Memeluk Bom

Pintu kamar kos Fayya diketuk tiga kali. Ketukan yang biasa. Seperti jomblo yang mengetuk rumah ketua RT minta tanda tangan surat keterangan tidak laku. Karena si empunya kamar tak kunjung keluar, kemudian si pengetuk merubah pola ketukan. Pola dangdut. Baru kemudian Fayya membuka pelan pintu kamarnya.
"Ada apa Ol?" tanya Fayya kepada Oli. Sebenarnya namanya Olive. Tapi lebih mudah dipanggil Oli. Seperti Setiawan yang sering dipanggil Wawan.
"Ada bungkusan kecil di dekat pintu gerbang."
"Terus?"
"Mmmm. Ada suaranya juga sih."
"Iya. Terus?"
"Gak apaapa sih cuma mau ngasih tahu aja."
"Oh." Fayya hampir menutup pintu kamarnya lagi. Tapi segera Oli mencegah.
"Eh sebentar. Di bungkusan itu ada nama kamu."
"Namaku? Maksut kamu paket untuk ku?"
"Bukan paketan tapi bungkusan."
"Sama aja Oli."
"Beda. Karena aku sering beli nasi bungkus. Bukan nasi paket."
"Baiklah. Aku akan mengambil paket eh bungkusan itu."
"Tapi hati-hati Fay."
"Kenapa?"
"Ada suara di dalamnya." Olive lantas berlalu begitu saja dan buru-buru masuk ke kamarnya sendiri. Membanting pintu kamarnya dengan keras. Lalu menguncinya dari dalam. Hati.

Fayya menuju ke gerbang. Didapatinya satu bungkusan plastik hitam dengan tulisan 'Kepada: Fayya'. Fayya mengamati lagi tulisan di bawahnya. 'Serahkan ini kepada Kun'. Lalu Fayya mengamati tulisan di bawahnya lagi. 'Jangan terima apabila segel rusak'. Lalu tulisan paling bawah sendiri. 'Cepet serahkan kepada Kun jangan baca aja!'.

Fayya segera mengabari kekasih gelapnya itu. Gelap karena sering berpakaian gelap-gelap alias hitam-hitam. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun datang dengan wajah berseri. Masih dengan model rambut tercerai berai sepundak. Hanya ada yang baru dengan ikat kepalanya. Ada huruf K di tengahnya. Pas di jidat.
"Punya siapa? Balikin!" Fayya merespon ikat kepala Kun yang baru.
"Ini punya tetangga. Ya punya ku sendiri lah."
"Hehehehe. Bercanda sayang. Balikin gih."
"Hhhhh. Bikin gemes aja ni anak."
"Hehehehe."
"Malah nyengir lagi. Biasanya juga aku yang nyengir. Ada apa sih?" Kun bertanya dalam mulut. Bukan dalam hati.
"Ini ada paketan buat kamu. Kalau kata Oli sih bungkusan."
"Tumben. Gak kayak biasanya. Sebentar aku panggil Gagak Rimang dulu. Mang sini Mang! Buruan mang! Tareeekkk mangggg."
"Ada apa Kun?" burung itu sudah bercokol di ranting.
"Ini aku dapat paketan. Kan biasanya kamu yang ngurus paket untukku?"
"Paket? Bentar aku cek dulu. Mmmmm. Hari ini gak ada paket untuk kamu. Yang ada juga untuk Pangeran Tokek sama si Genderuwo."
"Serius? Cek lagi coba?"
"Iya gak ada."
"Terus ini dari siapa dari mana? Udah makasih kalau gitu."
"Gimana Kun?" Fayya bertanya.

Terdengar bunyi aneh dari dalam bungkusan. Seperti detak jantung. Kun mengamati lagi. Bukan. Seperti detik jam. Kun bergegas membuka bungkusan tersebut. Dan yap, it's bomb!
"Apa Kun?" Fayya gemetar.
"Iya ini bomb. Kan udah dibilang di atas it's bomb! Pake tanda seru lagi. Masa kurang jelas sayang." Kun datar. Fayya hampir pingsan. "Udah tenang aja."
"Tapi itu. Waktunya Kun! Waktunya kurang sebentar lagi." Fayya panik.
"Sssttt. Udah gak apaapa." Kun hampir memeluk Fayya.
"Eh! Perjanjiannya kemaren gimana?" Fayya menepisnya. Fayya jadi kiper. Penjaga.
"Oh lupa. Gak boleh meluk ya? Maaf maaf. Biasa di film Korea kan suka gitu. Dikit-dikit meluk. Heee..."
"Iya tapi sekarang gak boleh. Kan kamu sendiri yang bilang sayang. Tiap kali meluk aku energimu malah berkurang. Iya kan?"
"Iya. Karena belum saatnya sih. Maaf lupa. Makasih sayang udah ngingetin. Enaknya diapain yah bom ini?" Kun masih mikir.
"Haduh! Ya segera dijinakkan lah."
"Emang hewan apa dijinakkan?"
"Atau kalau gak segera dibuang kemana gitu kek."
"Bentar yah. Pinjam headsetnya. The Ngi and The Lang! NGILANG!"

Wus wus wus wus!!!

"Maaf ada yang  mau bom?" Kun menawari segerombolan Genderuwo yang lagi blind date.
"Whaaaaa!!!!!" Genderuwo itu berhamburan.

"Maaf, serigala botak mau bom?"
"Woy! Mau aku tambah botak apa?" serigala botak itu pingsan.

"Maaf, pangeran Tokek, mau bom?"
"Kamu gila apa! Aku kan ada di kamar Fayya! Tok kek tok kek!"

"Heido! Mau bom gak?"
"Gak." jawab Heido cool sambil membetulkan poni yang lebih panjang daripada lehernya.

"The Ngi and The Lang! NGILANG!"

Kun sampai di tempat yang tidak seorang pun mengetahui. Termasuk Kun. Apalagi Pak Armando. Kun mencoba mendeteksi apa sebenarnya bom itu. Dia mencoba meneliti dengan seksama. Ada dua kabel disana. Yang satu berwarna biru. Yang satu berwarna hijau. Yang satu berwarna kuning. Eh, kan cuma dua. Yang kuning tidak ada. Keringat Kun mengucur deras. Sementara detik waktu terus berlalu. Membuat Kun semakin ngilu. Pilu. Di fikirannya hanya ada biru hijau kuning. Eh yang kuning tidak ada. Hanya biru hijau biru hijau biru hijau. Untuk sesaat Kun memejamkan mata. Benar-benar terpejam dia. Gelap gulita.
"Hei siapa kamu?"
"Aku Kun."
"Bukan. Aku Kun!"
"Aku yang Kun!"
"Bukan! Aku lah Kun yang sebenarnya!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"

Kun berhadapan dengan sosok yang sama persis dengan dirinya. Hanya yang satu tanpa huruf K di ikat kepalanya.

"Apa mau mu?"
"Aku mau melawanmu!"
"Melawanku?"
"Iya. Aku mau mengalahkanmu!"
"Baik. Aku mau melayanimu. Kita lihat siapa Kun yang sesungguhnya."

Pertarungan fisik dan non fisik, reguler dan non reguler pun terjadi. Banyak kilatan dimana-mana. Benturan demi benturan terjadi. Saling pukul dan saling tangkis semakin seru layaknya pertandingan bulu tangkis. Bahkan tak jarang battle rap juga muncul. Hingga akhirnya salah satu dari mereka terjatuh.
"Bangun! Dasar lemah! Ayo bangun! Lawan aku!" teriak salah satunya. Yang diteriaki tetap tak berdaya.
"Melawan dirimu sendiri saja kamu tak mampu! Bagaimana kamu bisa menjinakkan bom itu!"
"Ayo bangun!"
Yang diteriaki kemudian berdiri. Pandangan matanya lain. Tenang. Hening. Sunyi. Seribu kali lipat lebih tenang dari sebelumnya. Kemudian serangan bertubi-tubi datang. Yang diserang hanya diam. Seolah menikmati pukulan-pukulan itu. Seolah-olah diam menikmati sakit itu.
"Sudah? Ayo pukul lagi." pintanya.
Kemudian datang lagi beberapa jurus yang menghujam. Yang dipukul malah mengeluarkan sesungging senyuman.
"Serius sudah?"
Sosok Kun tanpa huruf K itupun tiba-tiba menghilang. Kun lantas segera membuka matanya. Dipandanginya bom tersebut. Kun mengelus bom itu sambil berucap lirih.
"Kalau mau meledak, meledaklah. Ledakkan lah dirimu sekeras-kerasnya. Ku temani kau. Aku bersamamu disini." kata Kun sembari memakai headset Fayya.

Blum!!!!!!

Dari kos Fayya menyaksikan kembang api di langit. "Kunnnn....." ucapnya lirih sambil membiarkan air matanya menitih.
Entah ini yang disebut cinta, atau rindu, Fayya lantas mengirim sms kepada Kun.
"Kun, pangeran jelek ku, serigala jinak ku, kamu gak apaapa kan sayang?" Fayya lunglai antara bahagia dan sedih. Karena merasa sudah dilindungi sedemikian rupa dan dengan tiba-tiba ditinggal sedemikian rupa juga. Namun sms itu pending. Fayya semakin menangis sejadinya.

Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian hape Fayya berbunyi ada nomer asing disana,
"Karena aku gak boleh meluk kamu, jadi aku peluk bom tadi. Aku kira bisa jinak, eh tak tahunya tetep meledak. Tapi kalau kamu mau nanti, silahkan pakai bahuku, karena aku tak bisa bersandar pada bahuku sendiri. Hehehe. -Kun-"
"HEH! Gak boleh deket-deketan tahu!!!" balas Fayya tertawa haru.

Dan malam itu pun berakhir dengan adegan 'cukup smsan saja'.....







Share:

Minggu, 10 Juni 2012

Kun Si Dukun #Topeng Heido

Terlihat sekelebat makhluk turun dari cerahnya bintang-bintang angkasa....


Sementara itu di kantin Mbok Sum beberapa mahasiswi sedang asyik membicarakan 'orang baru'.
"Eh serius, wajahnya itu bikin mau pingsan."
"Masa sih?"
"Iya. Bintang iklan aja kalah sama dia. Apalagi iklan makanan anjing."
"Huuuu..."
"Tapi beneran deh. Ntar kalau kamu lihat sendiri kamu juga bakal berdecak kagum."

Kun masih duduk di sudut. Menunggu Fayya sambil download film-film Korea. Entah Korea Selatan atau Korea Utara. Sengaja dia mengabaikan pembicaraan mahasiswi-mahasiswi itu. Baginya lumrah. Sejurus kemudian Fayya datang. Tapi kali ini dia tak sendiri. Ada seorang lelaki bersamanya.

"HAAAAA!!!! HEIDO!!!!!!!" spontan mahasiswi-mahasiswi itu histeris. Saking histerisnya ada yang langsung lari keliling kantin tujuh kali lalu pingsan. Ada yang menjambak rambutnya sendiri. Ada yang menampar pipinya sendiri. Sampai ada yang memanjat pohon beringin lalu loncat begitu saja. Tapi tidak ada yang tiba-tiba mengerjakan skripsi.

Iya. Laki-laki ganteng gagah dengan model rambut 'poni lebih panjang daripada leher' yang datang bersama Fayya adalah Heido.
"Kun kenalin ini Heido." kata Fayya. Kun melongo.
"Gannntenggg..." kata Kun lirih.
"Heh!" Fayya menjitak Kun.
"Oh!" Kun sadar.
"Heido."
"Kun."
"Heido ini salah satu penerima beasiswa dari universitas Jagoan. Dia kesini untuk belajar selama seminggu atas rekomendasi Pak Armando. Nah aku dapet tugas menemaninya selama dia disini Kun." Fayya menjelaskan.
"Oh ini yang bernama Kun." kata Heido sambil melambaikan tangan ke arah mahasiswi-mahasiswi tadi. Mereka langsung membentuk girls band. Nyanyi sambil nari. Gak gak gak kuat gak gak gak kuat.
"Iya. Aku Kun. Namamu seperti gak asing bagiku. Seperti toppp..."
"Iya aku memang bukan berasal dari sini. Aku kesini dalam rangka tugas."
"Tugas?"
"Iya.Tugas dari yang menugasiku."
"Untuk?"
"Untuk melindungi."
"Melindungi apa?"
"Melindungi yang aku lindungi."
"Gini aja deh. Nanti malam kita ketemu disini." kata Kun.
"Baik. Nanti malam aku kesini."
"Kalian sedang membicarakan apa sih?" tanya Fayya.
"Kamu gak perlu tahu. Ini urusan laki-laki." jawab Kun. Plak! Headset menghujam. "Aduh."
..........

Malam hari, di kantin Mbok Sum yang sunyi,
"Heido. Itu nama topeng. Bukan nama manusia. Topeng itu digunakan para dewa yang ditugasi untuk melindungi beberapa manusia. Benar?"
"Kamu memang manusia yang paham dunia kami Kun. Iya itu topeng para Dewa untuk menutupi bentuk kami yang sebenarnya. Secara bentuk, manusia memang yang paling sempurna di semesta yang kami kenal. Sejatinya bentuk kami tak seperti ini. Kamu tahu kan? Makanya kami membuat teknologi topeng. Ini hanya teknik proyeksi saja. Bahkan bahan-bahan yang kami pakai juga berasal dari bumi. Kami pakai kayu dan ramuan-ramuan dari tumbuh-tumbuhan bumi."
"Ho'o aku ngerti. Tapi aku salut. Kalian keren. Bisa tahu model yang sedang jadi mode di dunia kami."
"Kami sudah terlatih sejak berabad-abad yang lalu Kun. Sebenarnya juga, kami suka dengan perempuan-perempuan dari generasi manusia. Mereka sempurna."
"Eh. Sebentar. Baru kali ini lho aku bisa ngobrol serius dengan makhluk yang bukan manusia. Biasanya mereka udah aku ejek habis-habisan karena gak bisa menyamar dengan pas. Ada yang nyamar jadi pejabat, ada yang bentuknya serigala botak."
"Sekali lagi kami sudah terlatih."
"Lantas, apa tugasmu?"
"Menemani Fayya."
"Maksutnya?"
"Iya, menemani Fayya."
"Belum paham."
"Aku mendapat tugas melindungi Fayya."
"Dari?"
"Kalau itu masih belum bisa aku buka."
"Heido. Sistematika kerja dewa tidak kaku seperti itu kan? Posisimu kan hampir seperti, 'senjata' yang memilih 'sarung'nya kan?"
"Iya. Ini juga masih tergantung Fayya. Kalau dia tidak setuju aku menjaganya aku akan kembali ke tempatku di bintang-bintang sana."
"Berarti kamu akan....."
..........

Santer tersiar kabar Fayya menjalin hubungan dengan Heido. Kemana-mana selalu ada Heido di samping Fayya.
"Kun, bener Fayya sudah jadian sama Heido?" tanya mbok Sum.
"Gak tahu mbok." Kun menanggapinya dengan senyum.
"Gak nyesel kamu?"
"Buat apa nyesel mbok? Sedang film-film Korea masih sanggup jadi temanku."
"Mbok ikut sedih Kun."
"Jangan mbok. Gak usah ikut-ikutan sedih. Orang yang lagi sedih, lagi marah, lagi kalut, biasanya kalau masak gak enak mbok hasilnya. Ntar warung mbok sepi lagi."
"Kun Kun, kamu itu memang aneh. Tahu apa yang anak seumuranmu sudah gak memperdulikannya."
"Es teh lagi Mbok."
........

Genap hari ke tujuh Heido selalu menemani Fayya. Adegan beralih saat mereka sedang makan berdua di warung lesehan. Aneka Penyet. Bebek penyet ayam penyet tempe penyet telur penyet sandal penyet. "Nyet jus alpukat satu nyet! Buruan nyet! Haus nih nyet!" agak kurang enak memang cara memanggil pelayannya.

Fayya mengirimkan sms ke Kun yang kurang lebih bunyinya seperti ini, "Pangeran ganteng alias serigala jinak, buruan kesini. Aneka penyet. Kalau gak kesini aku pukul pakai wajan jumbo!" sungguh romantis.
Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun sudah mendarat manis di warung Aneka Penyet.
"Heido mau pamit. Ini makan-makan perpisahannya." Fayya menjelaskan.
"Iya Kun. Aku harus segera kembali."
"Berarti kamu?"
"Iya aku harus segera memberikan laporan."
"Aku ke toilet." Fayya ijin sebentar.
"Hemmm. Berarti kamu?"
"Iya aku mengakui kalau aku gagal. Secara tidak langsung Fayya menolak untuk aku lindungi. Setiap hari yang dibicarakan cuma nama mahasiswa setengah dukun, sinting plus kadaluwarsa, tapi juga disebut pangeran ganteng, Kun. Selama seminggu ini aku kenyang dengan cerita tentang dirimu Kun."
"Hihihihi." Kun nyengir.
"Aku harus pulang sekarang Kun. Fayya memang istimewa. Kamu saja yang menjaganya. Lindungi dia. Karena dia perempuan mu. Perempuan dengan font Italic."
"Perempuan ku?"
"Kalau kamu sudah jadi empu, kamu akan tahu arti perempuan itu. Dia sejatinya gurumu kelak. Baik. Aku pamit pergi. Tolong kembalikan poni ini ke salon sebelah." Heido pergi. Dengan meninggalkan poni serta topeng yang masih ada label harganya, Rp. 5000,-.
"Kun mana Heido?" tanya Fayya sekembalinya dari khayangan, eh toilet.
"Pamit dia. Takut ketinggalan pesawat katanya."
"Untung belum pesan makanan. Dia itu baik orangnya Kun. Baik sama aku. Baik sama temen kos ku juga. Sering bantu ngangkatin galon ke lantai tiga dia. Eh Kun sudah seminggu ini kita gak makan bareng yah? Kamu kok gak pernah sms sih? Marah ya? Cemburu ya?"
"Kamu kan sibuk dengan tugas-tugasmu. Aku memang sengaja mengambil jarak. Aku hanya ingin menciptakan kehangatan di antara kita tanpa saling berdekatan. Coba kamu dekati api, kalau jarakmu terlalu dekat akan panas sekali, tapi kalau kamu memosisikan diri di jarak yang tepat, hangat yang akan kamu rasakan. Sederhananya, masa kita mau seharian pelukan terus? Kan gerah juga jadinya? Mau mecahin rekor apa?" Kun nyengir.
"Kamu mau dipukul pakai wajan jumbo apa headset?" Fayya tersenyum.
"NYET! PESEN ES TEH NYET! Setelah ini aja pelukannya yah Fayya sayang. NYET BURUAN NYET! PANAS NYET!"




Share:

Kamis, 07 Juni 2012

Kun Si Dukun #Sakit Menyaktikan

Kun dan Fayya masih sering mencuci piring di kantin Mbok Sum. Ini bukan lagi dalam rangka menjalani hukuman melainkan dilakukan atas dasar 'terlanjur cinta' pada aktivitas sederhana ini. Para penghuni kantin malah semakin menaruh hormat kepada mahasiswa yang disinyalir merangkap sebagai dukun ini.
"Kun ah!" Fayya gemes karena kena cipratan air.
"Hehehehe." Kun nyengir.
"Kunnnn....hhhhhh..." Fayya masih gemes. Kun masih nyengir.
"Kun! Udah deh ah!" Fayya mulai tak sabar. Kun belum mulai untuk berhenti nyengir.
"Kun! Dibilangin juga! Pukul head set nih!" Fayya mengancam.
"Gak takut Wek!" Kun malah menjulurkan lidahnya.

Byur! Fayya menyiram air sisa cucian. Kun basah.

"Kun, bukannya kamu mandinya pakai air kembang yah? Tumben ini air comberan? Jajal ilmu baru kamu?" tanya Mbok Sum. Kun mlengos. Punya pacar cantik tapi galak. Galaknya juga aneh. Mending dipukul headset daripada diguyur air comberan.

Sepuluh menit kemudian, hidung Kun tiba-tiba mampet. Kun sulit bernafas. Badan Kun menggigil. Suhu tubuh meningkat. Kun pingsan. Fayya cuek. Paling-paling Kun hanya pura-pura biar ditolong sama Fayya. Kun lunglai di dapur Mbok Sum. Dengan kondisi masih basah kuyup. Lama sekali Fayya dan Mbok Sum membiarkan seonggok daging itu terkulai. Lalu Fayya mulai menjadi panik tatkala Kun tak segera sadarkan diri.
"Kun! Kun! Kun sayang! Bangun!" 
"Kun bangun! Kun! Kun! KUNNN!!!!"
"Ssssttt. Berisik ah." Kun tersadar.
"Kun? Kamu kenapa?" tanya Fayya sembari membantu Kun berdiri.
"Gak tahu. Lemes aja nih badan."
"Periksa yah?" tanya Fayya.
"Periksa kemana?"
"Oh lupa, kamu dukun kan yah?"
"Bukan. Aku siluman serigala. Mbok Sum! Es teh!"
"Ha? Es teh?" Fayya heran.
"Udah. Gak usah heran gitu ah."
"Kenapa es teh Kun? Kamu kan lagi...."
"Udah. Ntar kamu juga tahu sendiri."

Mbok Sum muncul membawa segelas es teh manis, sepiring mendoan, dan handuk kotor untuk Kun.
"Nih bersihin dulu pakai ini biar gak kedinginan."
"Oh Mbok Sum. Engkau lah penjual makanan terkejam yang pernah ku kenal." Kun berdeklamasi. Mana handuknya mirip lap biasa.

Kun menerawang es teh di hadapannya.
"Fayya tolong kamu jangan duduk disini. Pindah di hadapanku saja."
"Kenapa Kun?" Fayya bertanya Kun tak menjawab. Lalu...
"Oalah! Bener kan! Ini masalah utamanya." Kun seperti menemukan sesuatu. Tiba-tiba saja bajunya ikut mengering.
"Ada apa Kun?"
"Pingsanku tadi."
"Emang kenapa?"
"Kemaren aku terlalu banyak download film sama lagu."
"Terus hubungannya apa sayang?"
"Kata kakek ku, imun dalam tubuh ini, termasuk energi bisa berkurang kalau aku melakukan sesuatu yang kurang pas."
"Gak ngerti deh sayang."
"Iya sih memang gak ada hubungannya." 
Plak! Headset mengujam.
"Aku terlalu banyak Ngilang kemaren. Terfosir kayaknya."
"Ngilang?"
"Iya. Semalam aku melakukan perpindahan-perpindahan ke berbagai tempat. Ternyata pas perpindahan ke 99 akan menuju ke 100 aku gagal. Tapi terus ku paksakan. Hasilnya ya seperti tadi mendadak pingsan."
"Kamu lagi ada tugas?"
"Iya dapet up date ilmu dari kakek. Katanya suruh nyoba berapa kali aku mampu melakukan perpindahan dalam semalam. Tapi aku senang kok. Karena ada satu ilmu perpindahan yang sampai sekarang aku gak bisa-bisa. Dari dulu bahkan. Dan aku berharap semoga memang gak pernah bisa."
"Pindah kemana sayang?"
"Pindah dari hatimu." Kun nyengir. Fayya menyublim.
Plak!
"Pukulanmu sayang, itu sakit yang menyaktikan." Kun masih nyengir.
Plak! Plak! Plak! Selama 99 kali.
Share:

Kun Si Dukun #Serigala Botak

Bulan purnama semalam ternyata adalah tanda bahwa ada makhluk jadi-jadian. Konon tersiar kabar kalau makhluk tersebut berwujud serigala. Dan ternyatanya lagi, serigala tersebut telah memporak porandakan kantin Mbok Sum. Tak ayal karena kejadian itu Kun menjadi tertuduh dalam kasus ini. Ia dituduh  sebagai biang keladi oleh sebagian mahasiswa yang ternyata masih menyimpan dendam gara-gara dibawa Kun ke pegunungan Himalaya.

Fayya tahu hal ini. Fayya tahu kalau Kun tidak berubah menjadi serigala pas bulan purnama semalam. Malah semalam Kun menjadi lebih jinak di bahu Fayya. Fayya juga tidak habis pikir. Siapa yang tega menyebarkan rumor ini. Oleh Kun, Fayya disuruh jangan mengambil tindakan terlebih dahulu.
"Sudahlah. Kita terima saja." begitu kata Kun. Fayya pun menuruti kekasihnya yang jelek itu. 
"Padahal kalau kamu mau kamu bisa meluluh lantahkan seisi kampus ini." kata Fayya sedikit geram.
"Fayya. Apa kalau kampus ini hancur, aku berarti menang dan kebenaran akan terungkap?"
"Mmmmm. Tapi kamu sudah tahu kan siapa pelaku yang sebenarnya?"
"Aku sengaja tidak mencari tahu."
"Kenapa?"
"Biarlah sekali-kali aku merasakan seperti ini. Gak apaapa kok. Tenang saja." Kun tersenyum tenang. Fayya juga. Mereka saling menjaga kepercayaan satu sama lain.

Sebagai hukumannya, setiap hari Kun harus mencuci piring di kantin Mbok Sum. Sebenarnya Mbok Sum sendiri juga menaruh iba. Iya. Mbok Sum sadar sepenuhnya kalau Kun memang tipikal mahasiswa kurang kerjaan. Tapi Mbok Sum sangat yakin kalau bukan Kun pelakunya. Benar yang dikatakan Fayya. Kalau Kun sudah mau marah, kampus ini bisa tak tersisa. Termasuk Pak Armando.
"Kun, sudah biar Mbok aja yang nyuci. Itu sudah mbok Sum bikinkan es teh kesukaanmu."
"Gak apaapa mbok. Biar Kun yang cuci. Sekalian maen air. Daripada ke water boom mahal mending disini mbok gratis. Bentar lagi juga Fayya kesini buat bantuin."
"Lho kok malah melibatkan Fayya segala?"
"Fayya kan anaknya gitu Mbok. Kun juga gak bisa nyegah kalau dia udah punya kemauan. Selama itu baik, ya Kun biarkan mbok."

Cemoohan demi cemoohan tertuju kepada Kun. Ada yang sengaja memesan makanan banyak sekali tapi tidak dimakan sehingga meninggalkan setumpuk piring dan gelas kotor. Kun mengerjakannya setiap pagi hingga senja menjelang. 

Setelah genap memasuki tujuh hari Kun kemudian mengambil tindakan. Malam-malam sekali dia sambangi kantin Mbok Sum. Jelas sepi disana. Senyapnya suasana, angin yang bikin bulu kudu merinding, dan suara hewan malam terseram. Krik Krik Krik Krik...

"Gini deh yah. Aku gak mau balas dendam sama kamu. Aku cuma mau berterima kasih sama kamu." Kun berbicara dengan suara yang tak berwujud.
"Hahaha. Kamu itu Kun. Sudah difitnah sedemikian rupa kok malah berterima kasih sama yang memfitnah." jawab suara itu.
"Sekarang gini. Aku tanya sama kamu. Beda antara difitnah dan tidak difitnah itu terletak pada apanya?" Kun cukup berdialog. tak mau adu fisik.
"Pertanyaanmu cerdas. Aku tidak punya jawaban."
"Siapa juga yang nyuruh kamu menjawab. Eh bulu kamu rontok. Punya bulu gak dirawat."
"Ha? Mana mana?"
"Tuh. Kurang keren ilmu kamu. Meski kamu sembunyi gitu, kalau bulu kamu rontok dimana-mana juga bakal ketahuan."
"Duh. Padahal ramuan penghalus bulu yang ku pakai keluaran terbaru dari Pet Shop Batu Payung..."
"Apa kamu bilang? Batu Payung?"
"Upsss. Kelepasan deh."
"Kamu dari Batu Payung?"
"Mmmm. Ketahuan deh."
"Heh! Jawab!"
"Iya aku dari Batu Payung."
"Terus tujuan kamu apa!" Kun mulai naik pitam. 
"Sebenarnya aku, aku, mmmm, aku...."
"Kenapa sih! Coba keluar sekarang!"
"Gak bisa Kun kalau sekarang. Aku malu."
"Keluar gak! Keluar cepet!" Kun mengancam. Matanya menyala-nyala. Rambutnya naik. Tangannya mengepal siap menembakkan sesuatu.
"Iya deh. Jangan tertawa."

Makhluk itupun keluar. Seekor serigala yang hampir tak berbulu. Kun melihatnya. Kun menahan tawa seketika.
"Awas jangan tertawa." kata serigala yang botak dimana-mana itu.
"Huahahahahaha...." Kun tak bisa menahannya.
"Tuh bener kan."
"Iya ya maaf. Huahahahaha...."
"Ya udah sembunyi lagi."
"Eits, gak usah. Maaf maaf. Terus dulu maksut kamu apa pakai merusak kantin segala?"
"Aku gak sengaja Kun. Aku dikejar-kejar temen-temenku yang bulunya masih normal. Aku diejek Kun. Aku malu. Makanya sekalian aku kesini nyari kamu. Siapa tahu kamu punya obat antik bulu rontok. Kan banyak dari manusia yang punya obat anti kebotakan Kun?"
"Heh. Kamu kira aku tukang obat apa?"
"Terus gimana Kun?"
"Gini aja deh. Kamu gak usah minder-minder lagi sama temen-temenmu."
"Kalau temen sih gak masalah yah. Tapi mana ada serigala betina yang mau kawin sama serigala botak?"
"Huhahahaha. Lebih baik jadi serigala botak daripada jadi serigala berbulu domba. Kurang jantan!"
"Oh. Bener juga Kun. Aku percaya bahwa aku akan bertemu jodohku. Yaitu serigala betina, yang botak juga!"

Kemudian Kun mengirim sms untuk Fayya,
"Kalau mau bobok bukunya dirapikan dulu. Besok temenin nyuci piring lagi yah sayang. ^_^."

Share:

Rabu, 06 Juni 2012

Kun Si Dukun #Bulan Purnama

Di depan kandang sapi belakang kampus. Sinar bulan purnama menyoroti sepasang insan teraneh sejagad raya. Yang lelaki serba hitam dengan rambut tercerai berai sepundak. Yang perempuan, cantik sih, bener-bener cantik, tapi berkalung headset. Seperti dua artis yang duduk di panggung opera dengan sorot lampu yang fokus hanya kepada mereka. yang lain gelap gulita.

"Kun sayang, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun! Jangan tidur!"
"Aku gak tidur Fayya sayang. Aku sedang menikmati suasana ini."
"Iya. Tapi kalau diajak bicara dijawab yah."
"Hmmm."
"Tuh kan!"
"Iya iya."
"Bulannya bagus. Purnama penuh."
"Iya bagus. Purnama penuh."
"Kun, kamu gak bakal berubah jadi serigala kan?"
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan serigala. Kebanyakan nonton film impor kamu sih."
"Hehehe. Kalau mau berubah juga gak apaapa. Apapun bentuk kamu aku tetep sayang kok."
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan siluman."
"Beneran deh. Kalau berubah juga gak apaapa. Aku pengen tahu wujud aslimu."
"Kamu cantik-cantik kejam juga ternyata. Wujud asliku yah kayak gini Fayya sayang."
"Hehehehe..."

Clorotttttt......

"Eh Kun ada bintang jatuh."
"Mana?"
"Itu tadi! Cepet kita bikin permohonan. Oh bintang aku mohon, semoga Kun menampakkan wujud aslinya. Sekarang giliranmu Kun."
"Ini kekasih model apa kayak gini. Baiklah. Oh bintang, aku mohon jangan kabulkan permohonan Fayya."

Plak!!! Headset Fayya menyentuh jidat Kun. Dengan kecepatan 100km/jam.

"Kok gitu sih!" Fayya gemes.
"Lha kamu juga aneh gitu mintanya." Kun membelai Fayya. Membelai headsetnya.





Share:

Selasa, 05 Juni 2012

Kun Si Dukun #Tawuran Mahasiswa

"Kun sayang, buruan kesini. Darurat." sms Fayya.
"Iya bentar. Ini lagi ngurusin mahasiwa yang lagi berantem." bales Kun.
"Berantem? Tawur maksut kamu?"
"Hampir."
"Tapi setelah itu buruan kesini yah. Aku tunggu di kos. Darurat beneran nih."
"Iya sayang."
.........

Di kantin Mbok Sum,
"Gak bisa! Pokoknya gak bisa! Kami gak bakalan mau berdamai!" kata salah seorang mahasiswa.
"Apaan! Kami juga gak bakalan minta maaf! Kalau perlu kita selesaikan secara jantan!" kata yang lain tak kalah semangatnya.
"Mmmm permisi. Tolong gak usah gebrak meja ya. Nanti es teh saya bisa tumpah." kata Kun datar.
"APAA!!!" kata mahasiswa itu bersamaan.
"Mmmm, gini yah temen-temenku mahasiswa yang budiman. Bisa gak kira-kira masalahnya diselesaikan secara non fisik? Maksutnya gak usah saling tonjok. Kasihan tangan kalian bisa berdarah-darah. Tangan itu juga harus dirawat. Sayang kalau rusak."
"GAK PEDULI!!" kata mahasiswa itu masih bersamaan.
"Mmmm, kalau kalian berantem kan kampus ini juga tercoreng namanya, nanti kan..."
"PEDULI AMAT!!" kata mahasiswa itu kompak.
"hhhhhh...." Kun menghela nafas. "Kalian paham gak dengan kalimat 'diselesaikan secara non fisik'?"
"GAK!!!" mereka kompak terus.
"Diselesaikan secara non fisik itu, kalian tetep berantem tapi gak usah adu fisik. Ngerti?"
"GAK!!!" sampai detik ini mereka kompak.
"Baiklah. Terserah kalian kalau masih mau berantem disini. Tapi kayaknya kurang macho kalau berantemnya di kantin Mbok Sum. Kurang laki."
"TERUS DIMANA???" mereka berantem tapi kompak seperti saudara kembar.
"Mari aku antar."
"NAIK APA???"
"Udah merem aja bentar." kata Kun lembut. Baru kali ini dia mau mengalah dengan keadaan.
"OKE!!!"
"Pada hitungan ketiga nanti kalian boleh membuka mata. Oh iya, kalau mau ajak teman yang banyak juga boleh. Sekalian tawur aja disana." Kun memberikan saran. Saran yang merusak.
"Baik! Aku bawa kesebelasan futsal!"
"Aku juga!"
"Heh mas mas. Kebelasan sepak bola aja, jangan kesebelasan futsal." Kun merespon mereka yang terlalu emosional.
"GAK PEDULI!!!" lagi-lagi mereka kompak.
"Udah siap semua? Merem yah? Berapa yang ikut jadinya? Hitung dulu. Nanti biar bisa dicatat berapa korbannya."
"BAIK!!!" Mereka membawa buku absen masing-masing kubu.
"Udah? Berapa?"
"Aku sebelas."
"Aku juga sebelas."
"Sip. Dua puluh dua orang akan tawur di tempat paling 'laki' di jagad ini. Hitung bareng-bareng."
"SATU DUA TIGAAAAA!!!!!"

Dan mereka berada di pucuk pegunungan Himalaya.

"Buruan berantem sana. Keren kan tempatnya."
"Kunnnn!!!!!" mereka kompak. Kompak merengek. "Kembalikan kami ke kampus Kunnnnn." beberapa dari mereka ada yang lupa bawa pampers sehingga ngompol di celana.
"Wuih! Keren lho itu! Siapa itu yang ngompol? Baru pertama kali kan ngompol di Himalaya?"
"Kunnnnn, pulangggg...." dua puluh dua orang itu menangis.
"Udah disini aja berantemnya. Aku balik dulu. Ada urusan darurat sama Fayya. Dadaaaaa..."
"Kunnn!!!!! Kami janji gak akan berantem lagi. Kami janji Kun. Kami akan menyelesaikan ini secara non fisik Kun."
"Santet maksut kalian?"
"Bukan Kunnnnn. Mulai saat ini dan seterusnya kami berdamai Kunnn."
"Iya kami berdamai Kun."
"Kalau gitu silahkan berpelukan satu sama lain. Setelah itu pegangan yang erat dan melingkar. Tutup mata kalian. Satukan tangan dan hati kalian, sambil berdoa dan berjanji dalam hati. Bahwa kalian akan saling menjamin keamanan satu dengan yang lainnya. Berdoa yang baik-baik. Berdoa untuk teman kalian. Berdoa supaya kalian tidak lagi saling membenci. Berdoa untuk keselamatan semuanya."

Hening seketika. Beberapa pendaki ada yang coba mengintip adegan ini. Mereka menitihkan air mata. Bukan air kencing.

Kun segera menuju kos Fayya.
"Ada apa sih?"
"Ini tolong angkatin galon ke lantai tiga. Punya teman kos."
"Oh mudah itu."
"Eit! Gak boleh pakai ajian yah sayang. Alami aja sayang. Yah?"
"Iya. Galon satu aja mah enteng."
"Tuh lihat sendiri."
"Whaaaa????"

Sebelas galon bersegel sudah menunggu Kun.
Share:

Senin, 04 Juni 2012

Kun Si Dukun #Pangeran Tokek

Fayya membisikan 'sesuatu' ke telinga Kun. Bersifat privat dan tidak boleh diketahui penghuni kantin Mbok Sum.
"Apa?" Kun kurang jelas. Fayya mendekati telinga Kun lagi.
"Apaan sih?"
"Hhhhh...." Fayya mulai gerah.
"Perasaan kamu cuma niup telingaku aja. Ngomong apa sih?"
"HHHHH..." Fayya geregetan. Fayya mengulanginya lagi.
"Geli ah.." Kun ngikik.
"TOKEK!!!!" Fayya berteriak. Sudah pasti kantin mbok Sum ikut bergetar.
"GEMPA!!!!" Mbok Sum berlari keluar dari dapur lalu tiarap di tanah.
Kun segera membungkam mulut Fayya lalu menyeret, eh menggandeng Fayya pergi dari kantin Mbok Sum. Kun takut kalau kalau kantin Mbok Sum rubuh sebelum Shubuh.

"Ada apa sih?" Kun mencoba mencari penjelasan.
"Ada tokek sayang. Tokek!"
"Iya ngerti. Tokeknya kenapa? Ngajak kamu jadian?"
"Hhhhh. Bukan. Ngajak aku kawin!"
"Beneran? Jangan lupa undang aku yah."
Plak! Kepala Kun kena jitak oleh Fayya.
"Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya, putri cantik...." Kun nyengir. Fayya menyublim. Fayya menjitak Kun lagi. Pelan tapi.
"Kan selama kurang lebih dua bulan aku meninggalkan kamar kosku. Lalu semalam pas aku mau tidur, aku dikejutkan oleh suara tokek. Pertamanya sih biasa saja. Tapi lama kelamaan kok ada yang ganjil gitu sama tokeknya. Bunyinya gak kayak biasanya. Beneran deh. Terus iseng-iseng aku itung berapa kali bunyinya. Terus aku tulis di kertas. Tau gak hasilnya kayak apa?"
"Sandi sekte sesat?"
"Terlalu serius."
"Kode rahasia dari inteligen asing?"
"Terlalu hollywood banget."
"Nomer urut antrean e-ktp?"
"Hallooooo. Itu tokek sayang. Bukan pegawai kecamatan."
"Terus apaan?"
"Hasilnya ini nih. Pertama, dia bunyi 1x. Lalu jeda selama semenit. Lalu bunyi 1x lagi. Lalu jeda lagi semenit. Terus dia bunyi 2x."
"Anehnya dimana putri cantik?"
"Itu aneh Kun. Dia kayak lagi berhitung. Pertama 1x, kedua 1x, ketiga 2x. Itukan sama artinya dengan 1 + 1 = 2 Kun!"
"Oalah. Kamu di kampung dua bulan aku kira gak ada yang berubah. Ternyata kamu semakin matematis otaknya."
Plak! Kepala Kun kena jitak lagi.
"Iya iya, maaf putri cantik. Terus aku harus berbuat apa?"
"Pokoknya, kamu harus cari tahu siapa tokek itu sebenarnya. Kamu harus bisa ngobrol dengan si tokek. Perasaanku ada yang ganjil Kun."
"Baik. Nanti sore aku ke kos. Sekarang kan kamu harus kuliah? Eh denger-denger kamu udah jadi asisten dosen ya?"
"Hu'um. Kenapa emang?" Fayya tersenyum bangga.
"Kok gak tanya sama dosenmu aja perihal tokek itu?"
Plak! Headset Fayya mendarat manis di jidat Kun.

..........

Kun sudah berada di dalam kamar Fayya. Fayya menunggu di luar. Fayya asyik ngerumpi dengan penghuni kos yang lain. Kun mencoba khidmat di dalam. Fayya membuat paduan suara 'Hahahahaha' di luar alias ngakak bersama teman-temannya.

"Woy! Keluar gih. Daripada aku ekspor ke China lho. Buruan ah. Lama amat. Ku itung sampai tiga ya. Gak keluar rasakan sendiri akibatnya. Satu, du....wa, tiiii...."
"Iya. Ini aku Kun. Galak banget sih sekarang."
"Nah gitu kan enak ngobrolnya. Wuih! Pakai baju baru kamu? Woy! Kamu tokek apa anjing dalmatian belang-belang gitu?" Kun ngakak.
"Iya, ini jersey terbaru. Maklum mau Euro juga."
"Heh Pangeran Tokek, ngapain kamu nyasar kesini? Cari tempat yang keren kenapa? Masa pangeran ngumpet di deket lemari."
"Gini Kun, kerajaan Tokek D'Vocal baru aja kalah perang sama kerajaan Nyamuk D'Sedot. Kerajaan kami hampir semuanya luluh lantah oleh serbuan mereka. Kami dihajar habis-habisan. Terpaksa beberapa dari kami harus menyelamatkan diri. Kami panik Kun. Kami tercerai berai. Aku kesini mencari Putri Tokek Kun. Kekasihku."
"Ha? Kalah sama kerajaan nyamuk? Kok bisa?"
"Aku dapet info dari telik sandiku, katanya nyamuk-nyamuk itu semakin kuat. Mereka menghisap darah impor. Darah orang-orang dari negara yang katanya super power, atau man super, atau apalah namanya. Pokoknya itu darah orang-orang kuat Kun."
"Ini kenapa aneh gini yah? Terus kenapa kamu mencari Putri Tokek di kamar ini?"
"Gini Kun. Aku dapet info juga dari telik sandiku, bahwa penghuni kamar ini juga seorang Putri. Putri Cantik. Lengkapnya Tuan Putri Cantik."
"Oalah! Pasti telik sandimu si Keci kecoak idiot itu kan?"
"Iya Kun."
"Tuan Putri Cantik itu panggilan sayangku untuk Fayya. Dia calon istriku. Bodoh!"
"Whaaaaa????"
"Kamu juga bodoh! Jangan mudah percaya sama si Keci. Itu Kecoak asal mangap aja mulutnya."
"Maaf Kun, maaf. Tapi bener juga sih info si Keci."
"Apaan?"
"Penghuni kamar ini bener-bener cantik. Hehehehe...Tok Kek Tok Kek Tok Kek!!!"

Fayya yang mendengar suara tokek lantas berteriak dari luar, "Iya Kun, itu tokeknya. Bunuh aja! Buat sate aja! Lumayan ngirit buat makan malam!"

"Waduh. Cantik-cantik sadis juga Kun kekasihmu itu." kata Pangeran Tokek.
"Iya. Makanya jangan macam-macam sama dia. Aku aja takut sama dia. Pokoknya kamu jagain dia. Bersuaralah sewajarnya. Gak usah belajar berhitung 1 + 1 = 2. Jangan buat dia curiga. Yah? Aku mohon malam ini atau paling lambat besok pagi, kamu pergi dari kamar ini. Kamu bakal ketemu sama putri pujaanmu itu kok. Cari saja di kantin Mbok Sum. Tenang saja. Pasti ketemu."
"Iya Kun. Makasih bantuannya."
"Sama-sama Pangeran Tokek."
"Eh Kun. Beneran kamu takut sama Fayya. Kamu kan sakti. Siapa saja bisa dengan mudah kamu jadikan kekasih."
"Iya. Aku takut. Aku takut kehilangan kepercayaan Fayya yang sudah diberikan kepadaku selama ini. Asal kamu tau aja, cinta itu lebih sakti dari kesaktian-kesaktian itu sendiri. Dengan cinta, kamu akan secara alamiah menjadi sakti. Kamu akan memiliki ketajaman-ketajaman naluri. Termasuk naluri mencari dan melindungi apa yang sebelumnya kamu cari itu."

"Sudah?" Fayya membuka pintu kamar kos. Kun nyengir. Pangeran Tokek bersembunyi di balik lemari sembari berkemas pergi ke kantin Mbok Sum. Fayya ber-headset. Lagi.


Share:

Kun Si Dukun #Kembalinya Fayya

"Mbok Sum!!!!" Kun berlari ingin memeluk Mbok Sum.
"Aihhh. Kenapa lagi ini bocah?" Mbok Sum pasang muka panik. Padahal sudah bayar tagihan listrik.
"Mbok Sum!!!!" Kun mencoba memeluk Mbok Sum. Tapi Mbok Sum menghindarinya.
"Eit! Pasti lagi ada maunya. Mau ngutang lagi?"
"Gak Mbok. Fayya Mbok! Fayya!"
"Fayya? Fayya kenapa? Duduk dulu sana. Udah teriak-teriak kayak orang gila lagi. Duduk!" Mbok Sum memberikan instruksi. Kun duduk.
"Kenapa sih?" tanya Mbok Sum.
"Fayya Mbok. Fayya sudah pulang dari kampung." Kun menggebu.
"Terus?"
"Udah sih Mbok. Itu aja sih."
"Hmmmm. Ini anak memang minta dipukul pakai wajan jumbo kali yah. Udah! Mbok mau menggoreng lagi. Kirain ada apa." Mbok Sum berlalu. Kun duduk termangu sendiri sambil baca sms yang masuk dari Fayya.

"Sepuluh menit sembilan belas detik lagi aku ke kantin" begitu sms dari Fayya untuk Kun.

Fayya pulang ke kampung dalam rangka liburan kuliah. Ini memang kampus yang aneh. Bayarnya mahalnya minta ampun tapi tidak sebanding dengan masa studinya. Ini gara-gara masukan dari Pak Armando agar rektor memberlakukan kebijakan baru. Uang gedung ditingkatkan tapi bangunan fisik gedung hanya bertingkat tiga sejak pertama kali dibangun. Seharusnya jika benar-benar merealisasikan kebijakan itu, gedung kampus sudah tingkat 23. Karena uang gedung sudah mengalami peningkatan selama dua puluh kali. Disamping itu, masa studinya yang katanya 1 semester tidak benar-benar dijalankan selama enam bulan full. Masa studi 1 semester, yang efektif hanya tiga sampai empat bulan. Sisanya adalah liburan.

Maksutnya tadi mau bilang gini aja sih; Fayya liburan di kampung selama dua bulan. Itu aja sih.

Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang senyum di hadapan Kun. Muka Kun agak memerah. Seperti antara canggung dan gugup beserta malu. Seperti ABG alay yang baru kenal what is the love.
"Kun." kata Fayya.
"Fayya." kata Kun. Ya iyalah masa kata Pak Armando!
"Kamu gak berubah Kun." Fayya mengelus rambut Kun.
"Jelas aja gak berubah. Orang yang kamu pegang rambut." kata Kun nyengir. Masih ada sisa kecanggungan disitu. Kun belum pulih dari rasa canggungnya. Begitu pula Fayya. "Kamu juga gak berubah." tambah Kun.
"Berarti aku gak tambah cantik dong?" Fayya agak mengernyitkan jidatnya.
"Kamu dari dulu memang cantik Fayya. Lagian aku juga bingung, maksutnya kecantikan yang bertambah itu kayak apa?"
"Mmmm, gak tau juga sih Kun." Fayya tersenyum. Kun mulai menyublim. "Kamu gak tanya kabarku?"
"Gak perlu. Kan kamu sudah disini bersamaku. Berarti sudah otomatis kabar kamu sehat selalu. Iya kan?" selalu begitu. Kun ngawur.
"Yah, minimal tanya gimana liburanku donggggg. Yah, biar aku bisa bicara banyak." Fayya mengajukan diri untuk presentasi.
"Aku sudah tau semua kegiatanmu apa." jawab Kun menggoda.
"Yahhh. Pura-pura gak tau aja dong. Yah?" Fayya merengek.
"Baiklah tuan putri cantik."
"Apa?"
"Tuan putri cantik."
"Tuan putri cantik?"
"Iya. Tuan putri cantik. Kenapa?"
"Aku gak mau dipanggil seperti itu."
"Lha?"
"Terlalu panjang. Putri cantik aja. Ntar aku panggil kamu Pangeran Ganteng."
"Itu fitnah Fayya."
"Gak papa yah. Pangeran Ganteng aja yah?"
"Baiklah. Tau gitu aku gak panggil kamu putri cantik tadi."
"Jadi marah ceritanya?"
"Gak." Kun geleng-geleng imut.
"Makasih." Fayya mencubit pipi Kun. "Baik. Aku mau mulai cerita darimana yah? Mmm..."
"Dari kamu mengajari anak-anak kecil di kampungmu membaca aja. Gimana?" tawar Kun.
"Ihhhh. Kun jahat ah. Udah dibilangin pura-pura gak tau aja kenapa sih!" Fayya cemberut. Kun menyeringai.
"Iya iya. Silahkan cerita."
"Gini Kun, aku di kampung mengajari..."
"Tiga anak kecil?"
"Jangan dipotong duluuuuu Kunnnnnn. Sebel ah. Aku pergi aja kalau gitu." Fayya beranjak dari kursi dan pergi. Kun cukup tersenyum saja. Kamu bener-bener gak berubah Fayya, batin Kun.

Kali ini Fayya bener-bener marah. Dia pergi mengendarai motor  miliknya dan segera melaju kencang. Sedang Kun sengaja tak mau memakai ilmu ngilangnya. Dia menyalakan mesin motor ceper yang konon Syech Jangkis sendiri yang memodifikasi motor ceper itu. Segera Kun menyusul Fayya.

Adegan kejar mengejar terjadi. Tapi jangan dibayangkan seperti di adegan film-film dari negeri Kayu Suci, Hollywood. Ini adegan yang biasa saja. Ini adegan yang sewajarnya. Seorang lelaki yang mengejar wanita dambaannya. Fayya sudah ngebut begitu rupa. Sampai naik turun gunung pula. Namun rupanya lelah segera menghampirinya. Dia berhenti di ujung bukuit. Dengan view panorama yang elok rupawan. Matahari yang hampir besembunyi, senja.
"Fayya?" Kun datang menghampirinya. Fayya memakai headset merah.
"Kun? Kok kamu bisa nyusul sih? Padahal aku sudah ngebut. Motor kamu kan terkenal pelan? Kok bisa sih. Lagian ini tanjakan-tanjakan disini cukup tinggi." Fayya heran. Heran karena baru kali ini Kun mampu menyusulnya tanpa mengandalkan ajian apa-apa.
"Fayya, sekencang apapun kau berlari toh itu pada akhirnya hanya untuk berhenti. Kalau tujuan kita sudah sama, sekencang apapun kamu berlari, sejauh apapun kamu pergi, aku juga sangat mungkin mampu menyusulmu, meski aku mengejarmu dengan berjalan kaki. Iya, karena kamu tujuanku sementara ini."

Fayya memeluk Kun di bukit itu. Dengan background sendunya senja. Bau sangit keluar dari mesin motor Kun.

Share:

Sabtu, 04 Februari 2012

Kun Si Dukun #Putus Cinta?

Hari itu kelabu. Sendu. Mengharu. Pilu. Ngilu. Kun memegang kepala dari pagi hingga sore menjelang di kantin Mbok Sum. Mbok Sum mengira Kun sedang meditasi. Mbok Sum tak mau mengganggu Kun. Takut kalau ada efek negatif dari ritual Kun jika Kun diganggu. Mbok Sum memetakan beberapa inisiatif. Pertama, guyur pakai air bekas cucian piring. Kedua pukul pakai wajan jumbo. Ketiga, panggilkan Fayya. Pilihan pertama dan kedua agak kurang manusiawi. Pilihan ketiga lebih baik.

"Maaf Mbok. Urusan Kun bukan urusan Fayya lagi." mata Fayya tertuju pada tanah.
"Kalian berantem?" mata Mbok Sum tertuju pada rambut Fayya.
"Gak Mbok." mata Fayya tertuju pada pipi tembem Mbok Sum.
"Lantas?" mata Mbok Sum tertuju pada daun jatuh.
"Kami berdua sudah tidak ada ikatan lagi Mbok." mata Fayya tertuju pada langit.
"Putus maksudnya?" mata Mbok Sum menyipit. Tapi tetap terlihat melotot.
"Iya Mbok."
"Sejak kapan?"
"Sejak kami putus Mbok."
"Kok Mbok Sum gak tahu yah?"
"Kan Mbok gak dikasih tahu."
"Penyebabnya apa Fay?"
"Penyebabnya karena kita putus Mbok."
"Gak kasian sama Kun? Seharian dia duduk sambil megang kepala lho."
"Kita memang gak cocok lagi Mbok."
"Fayya, dalam cinta itu tidak soal cocok atau tidak cocok. Dalam cinta itu yang diperlukan bukan kesamaan atau kecocokan. Dalam cinta itu yang dibutuhkan justru perbedaan. Semakin banyak perbedaan, maka semakin kamu akan mengerti siapa kekasihmu yang sebenarnya."
"Misalnya Mbok?"
"Kalau yang diutamakan kesamaan-kesamaan, ya ceritanya akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet itu. Coba yang satu minum racun yang satu menyelamatkan, cari penawar. Kan ada usaha untuk merasakan nikmatnya cinta dalam kehidupan."
"Tapi itu kan janji suci mbok."
"Janji ya janji. Tapi yang wajarnya dong. Jangan terlalu puitis kalau berjanji. Kalau merayu, baru yang puitis. Harus dibedakan antara janji dan merayu. Jangan pura-pura berjanji tapi tujuannya merayu. Misalnya, KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI. Itu janji yang merayu."
"Mbok," air mata Fayya tumpah, "Aku sebenarnya masih sayang sama Kun. Cuma, kadang anehnya gak ketulungan mbok. Masa ngasih bunga sampai tujuh rupa. Tujuh kali dalam sehari lagi."
"Itulah Kun. Dia itu bukan aneh tapi unik. Iya sih kadang mbok Sum juga sebel. Masa pesen es teh sampai tujuh gelas cuma ditumpuk-tumpuk aja bukannya diminum. Gimana? Sekarang ikut mbok ke kantin ya? Lihat Kun."

Fayya menerima ajakan Mbok Sum. Kun terlihat masih memegang kepalanya.

"Kun." panggil Fayya lembut.
"Hem?" Kun seperti bangun tidur.
"Kamu gak papa kan Kun?"
"Gak papa." mata Kun bengkak.
"Kamu habis menangis Kun?"
"Gak. Sepertinya aku ketiduran. Semalem habis lembur ngapalin mantra. Tebel banget kitabnya."
"Kun."
"Hem?'
"Maafin aku yah?"
"Soal apa?"
"Soal yang kemaren."
"Emang kemaren ada apa?"
"Aku mau kita balikan lagi."
"Emang kita putus apa?"
"Kun, kemaren kan aku minta putus dan kamu mengiyakannya bukan?"
"Kamu gak minta putus."
"Aku minta putus Kun."
"Gak. Kamu cuma bilang HARI INI HUBUNGAN KITA BERAKHIR SAMPAI DISINI. Itu kamu bilangnya hari Rabu kan? Pas aku ngasih kembang tujuh rupa tujuh kali dalam sehari itu kan? Ini hari apa? Sabtu kan? Hubungan kita kan berakhir cuma hari Rabu kemaren. Berarti Kamis dan seterusnya otomatis kita berhubungan lagi kan?" Kun polos. Fayya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Kun.

Mbok Sum menarik Fayya menjauh dari Kun sambil berbisik,

"Kun itu bukan unik lagi. Tolong pukul kepala Kun pakai wajan jumbo ini."

Kun nyengir sendiri.
Share:

Minggu, 22 Januari 2012

Kun Si Dukun #Fitrah

"Kun!!!!" seorang menemui Kun. Mukanya masam.
"Apalagi! Gak pake teriak kenapa sih?"
"Ekspresi emosional Kun."
"Ada apa?"
"Duitku habis. Aku diputusin pacar. Aku jomblo Kun."
"Oh selamat. Kamu kembali ke fitrah."
"Maksutnya Kun?"
"Pas lahir ke dunia, kamu bawa duit?"
"Gak."
"Sekarang duitmu habis. Berarti kan kamu seperti bayi yang baru lahir."
"Terus pacarku?"
"Pas lahir ke dunia, kamu bawa pacarmu?"
"Gak."
"Kalau kamu diputusin pacarmu, kamu juga kembali ke fitrah. Seperti bayi yang baru lahir. Gak ada ceritanya kan bayi yang baru lahir bawa pacar?"
"HUAAAAAAA!!!!" orang itu nangis.
"Kenapa nangis?"
"Kembali ke fitrah Kun. Saat bayi dilahrikan ke dunia kan menangis. Huaaaaa!!!"
Share:

Selasa, 17 Januari 2012

Kun Si Dukun #Akhirnya Lulus

"Hore hore hore! Aku lulus! Aku lulus!" teriak Kun kegirangan. Kantin Mbok Sum bergemuruh seketika.
"Yuhuuuuu!!! Hello evribadeh! Aku lulus!! Yihaaa!!" Kun tak terkontrol lagi. Gelas, piring, semuanya berhampuran. Laptop kesayangannya juga ikut melayang entah kemana.

Beberapa mahasiswa bergegas mencari Fayya. Mereka takut kalau Kun berubah jadi gila. Gila dalam arti yang sebenarnya. Jingkrak-jingkraknya sudah melebihi batas manusia normal. Kadang-kadang sampai terbang ke langit.

Fayya berhasil ditemukan.

"Kun! Stoppppp!!!!" instruksi Fayya berhasil menghentikan Kun.
"Kenapa kamu sayang?" tanya Fayya lembut-lembut cemas. Kun nyengir.
"Hehehehe..."
"Kenapa sih?"
"Aku lulus. Wajar kan kalau aku seneng. Apalagi ini mata kuliah tersulit. Pak Armando! Bayangkan! Bayangkan!" keceriaan Kun sudah kelewat batas.
"Sini coba lihat nilaimu!" Fayya penasaran.
"Gimana? Aku lulus kan?"
"Aduh. Ini kan mata kuliah semester tiga. Sekarang kamu semester berapa sayang?" Fayya menutup mata.

Fayya menggandeng Kun pergi dari kantin Mbok Sum. Berharap kejadian ini tidak banyak yang mengetahuinya. Kun lulus ujian mata kuliah semester tiga. Masalahnya sekarang dia semester tak terhingga.
Share:

Sabtu, 14 Januari 2012

Kun Si Dukun #Fakir Tafsir

"Kun, semalam aku mimpi dikejar ular!" ujar Tono.
"Sedang ada yang naskir kamu itu."
"Tapi aku udah punya pacar Kun."
"Berarti, dalam waktu dekat kamu akan menikah."
"Tapi Kun pacarku Bambang! Gimana Kun?"
"Pergi aja ke kebun binatang. Masuk aja ke kandang ular! Cari ular mana yang semalam mengejarmu!"
...........

"Kun semalem aku mimpi naik gunung. Artinya apa Kun?" tanya Yusril.
"Kamu akan segera menemukan kesuksesan dalam hidupmu."
"Tapi aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang."
"Buruan ngungsi! Gunung di sebelah rumahmu mau meletus!"
............

"Kun, semalam aku mimpi ketemu pocong! Takutnya ga ilang-ilang sampe sekarang." kata Marisa.
"Kamu mau dapat duit banyak tuh."
"Tapi aku sudah kaya Kun. Aku nggak butuh duit lagi. Ini di tas aja ada semilyar."
"Buru-buru aja deh tinggalin semua duitmu. Bentar lagi kamu akan dipocong!"
............

"Kun semalem aku mimpi liat bintang jatuh bersinar terang sekali. Artinya?" tanya Yono.
"Kehidupanmu akan semakin cerah. Semua keinginanmu akan terwujud."
"Tapi Kun. Aku sudah bersyukur dengan kehidupanku sekarang."
"Awas. Rumahmu mau kejatuhan meteor!"
...........

"Semalam aku mimpi berpelukan terus sama kamu Kun. Artinya?" tanya Fayya.
"Kalau mimpimu buruk, tidak enak, itu sebagai pengganti di kehidupan nyatamu. Kalau mimpi indah, itu sebagai tanda bahwa hidupmu akan benar-benar indah...." kata Kun sambil nyengir...
Share:

Minggu, 08 Januari 2012

Kun Si Dukun #Perampok Bank

"Kun.....ngeband yuk!"
"Aduh. Gak ah. Males maen musik."
"Ayolah Kun. Kamu kan sakti yah. Pegang apapun pasti bunyi kan? Bisa kan?"
"Aduh. Ini gimana sih." Kun garuk-garuk kepala. Ternyata terlalu populer kurang enak juga.
"Yah Kun yah. Mau yah. Kita kekurangan personil nih."
"Kalian itu bukan hanya kekurangan personil. Tapi kekurangan kerjaan juga. Kenapa aku yang diajak!"
"Yah Kun yah. Plisss. Minggu depan ada audisi besar-besaran nih. Yang menang dapat kontrak rekaman seumur hidup! Bayangin Kun!"
"Argghhhh. Cari orang lain aja kenapa sih! Mana enak seumur hidup maen band terus. Kalian kan bisa tua juga."
"Tapi kamu pasti punya ramuan awet muda kan?"
"Mana ada ramm...bentar."

BB Kun berdering. Kun menjawab telepon yang masuk.
"Hallo Kun Si Dukun disini."
"Hallo."
"Iya passwordnya pak."
"Jaran Goyang Jaran Centil."
"Iya benar sekali bapak. Dengan bapak siapa dimana?"
"Dengan Pak Sofi di bank."
"Siapa pak? Sofi?"
"Iya Sofi. Sofiyanto."
"Oh bapak Sofi di bank yah. Keperluannya bapak?"
"Mengharap kedatangan Kun segera kesini. Ada perampokan bank."
"Iya baik bapak Sofi saya segera kesana bapak."

"Kemana lagi Kun? Urusan kita belum selesai."
"Assshh. Aku ada keperluan penting. Ada perampokan bank."
"Kalau gitu kamu kontribusi nama aja deh. Beri kami nama yang cocok untuk band kami."
"Horse Shakes. Udah aku ke bank dulu."
..........

Di bank sudah ramai banyak orang. Biasa orang antri. Kun heran. Katanya ada perampokan tapi kok situasi normal-normal saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Silahkan masuk. Ada yang bisa dibantu pak." sapa Satpam ramah.
"Mau ketemu Pak Sofi."
"Oh pak Sofi. Sudah ada janji sebelum nya?"
"Sudah pak. Bilang saja dicari Kun. Pasti beliau paham." Kun menatap serius tulisan TELLER. Itu bacanya sama kayak ES TELER bukan. Batin Kun. Maklum dukun cerdas. Makanya kuliah tak kunjung lulus.

Kun sudah berada di ruangan Pak Sofi. Seorang petinggi bank.
"Paham cerita saya tadi?"
"Paham pak Sofi. Jadi bank mengalami kerugian yang luar biasa. Beberapa uang raib, tapi laporan keuangan baik-baik saja. Gitu kan pak?"
"Betul sekali Kun. Saya curiga ada sesuatu yang telah terjadi."
"Gini pak. Saya minta segelas air putih."
"Oh kamu mau menerawang lewat gelas itu?" tanya Pak Sofi.
"Gelasnya agak besar pak. Jangan gelas yang kecil."
"Baik. Biar saya panggil OB dulu."

Gelas berisi air putih sudah berada di depan Kun. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Pak Sofi khidmat. Suasana mirip mengheningkan cipta. Mulut Kun komat-kamit. Terus sampai bibir Kun mengering. Lalu Kun membuka matanya. Mata yang tajam tertuju pada air di dalam gelas. Cukup lama dia memandang. Lalu, Glek! Kun menghabiskan air di dalam gelas.

"Ahhh. Seger pak Sofi. Haus saya sudah hilang." mata Kun berbinar. Pak Sofi menghela nafas setelah nafasnya tertahan lama gara-gara menyimak polah tingkah Kun.
"Sudah dapat jawabannya Kun. Siapa yang merampok uang di bank saya?"
"Tenang pak Sofi. Maksimal seminggu dari sekarang bapak akan segera tahu siapa yang terlibat di dalam kejadian ini. Tapi satu pesan saya pak. Jangan kaget nanti. Ya?"
"Baiklah. Terima kasih Kun."

Kun keluar ruangan sambil lirik-lirik lagi tulisan TELLER. Ia masih penasaran, sama tidak ya cara bacanya dengan ES TELER.
.......

Headline news koran tiga hari kemudian,
"Istri seorang petinggi bank diperiksa oleh KPK. Diduga lemah ia terlibat kasus penyelewengan kucuran dana bank."
Berita di bawahnya,
"Seorang petinggi bank mengalami stroke setelah mengetahui istrinya diperiksa oleh KPK sebagai tersangka ahli.
Berita di bawahnya lagi,
"Warung ES TELLER Pak Samin beromset 1 milyar tiap bulan..."
Berita paling bawah sendiri,
"KPK berencana berganti nama. Kekuatan Penyatu Keluarga..."
Share:

Sabtu, 07 Januari 2012

Kun Si Dukun #Kenangan No.1

Ini malam Jum'at. Hari yang tepat bagi Kun untuk mengajak Fayya jalan-jalan. Bosan tiap nge-date cuma di kantin Mbok Sum dan kandang sapi belakang kampus. Menghirup udara kota, berjalan saling bergandengan tangan, mesra sepertinya. Lampu taman remang-remang menawan. Bintang tetap berpijar. Rembulan tertawa riang. Namun Kun merasa ada yang kurang. Fayya tak mau melepas headset-nya.
Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terlontar. Seolah menikmati, entah itu kehangatan atau justru keterpisahan. Mereka dekat, tapi headset menjadi semacam batu karang penghalang. Kun tetap tersenyum mencoba menerima segala kelebihan dan kekurangan Fayya seperti yang pernah terucap saat mereka belum jadian dulu. Janji adalah janji. Janji adalah uji.
Sembari menikmati malam, Kun berinisiatif untuk membeli ubi bakar seberang jalan. Ubi bakar mirip makanan khas pertapaan Batu Payung. Telobakar. Semoga Fayya suka. Harap Kun dalam hati.

"Bang dua yah."
"Dua? Rasa?"
"Mmmm, ada apa aja?"
"Rumput laut ada. Sapi panggang ada. Coto Makasar ada. Gudeg Jogja juga ada. Atau yang biasa, asin pedas?"
"Mmmm, asin pedas aja deh dua."
"Makan sini apa bungkus?"
"Sini aja deh."
"Minum?"
"Gak deh bang. Udah bawa sendiri."
"Itu pacarnya telinganya gak sakit ditempelin gituan?" tanya abang penjual ubi bakar keliling.
"Oh. Ini sudah biasa bang. Gak papa kok."

Suasana sepi. Hanya ada Kun, Fayya, dan abang penjual ubi bakar. Aroma ubi bakar menghambur. Fayya merem sambil manggut-manggut disamping Kun. Hidungnya juga ikut bergerak merespon aroma ubi bakar yang khas. Tiba-tiba dari arah yang tak terduga muncul seseorang berpakaian putih. Dia berlari ke arah Fayya dan menyambar tas Fayya. Tapi ternyata bukan tas yang didapat melainkan headset Fayya.

"COPET!!!" Fayya berteriak. Abang penjual ubi bakar kaget meloncat. Kun datar. Secepat kilat orang tadi menghilang. Headset Fayya raib. Fayya menangis tersedu.
"KUN! Kenapa kamu gak mengejar copet itu!" Fayya marah hebat. Dua kali lipat lebih hebat dari biasanya.
"KUN!" Fayya menggoncang tubuh Kun. Kun diam saja. Air mukanya rata.
"KUN! Aku kecewa sama kamu! Cowok macam apa kamu! Alien darimana kamu! Makhluk apa kamu! Spesies apa kamu! HA! Ngomong dong! NGOMONG!" Fayya marah makin lebat. Abang penjual ubi segera bergegas pergi takut terkena cipratan darah dari perkelahian ini.
"Fayya," kata Kun lembut. "Seberapa berarti headset itu buat kamu?"
Fayya mulai menurunkan volume tangisannya. Dengan nafas sedikit tersengal, Fayya bicara.
"Itu headset kesayanganku."
"Hanya itu alasannya?"
"Bukan. Ada lagi."
"Apa?"
"Itu headset peninggalan kakakku yang sudah meninggal. Dengan itu aku bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaanku sambil mengenang wajah kakakku tanpa aku harus terganggu dan mengganggu orang lain." Fayya menyandarkan kepalanya ke dada Kun. Kun memeluk Fayya.
"Fayya. Kenangan itu boleh kamu tempatkan dimana aja. Lagu, film, cokelat, bau parfum, baju, buku, atau dimanapun sesuka hatimu. Kenangan itu cara kita untuk berbaik-baik dengan masa lalu. Sekarang Fayya, bolehkah aku menjadi kenanganmu yang nomer satu diantara sekian kenanganmu yang ada kelak? Aku mengajukan diri dari sekarang."
"Jangan pergi Kun." pelukan Fayya semakin erat.
"Gak kok. Ini ubi bakarnya makan dulu. Gak usah sedih lagi yah." jawab Kun sambil memakai headset kesayangan Fayya. Fayya segera merebut headset itu lagi. Kun menatap gemerlap bintang di angkasa. Ada bintang jatuh disana. Oh bukan. Itu copet tadi yang terlempar.
Share:

Kamis, 05 Januari 2012

Kun-Si-Dukun #Sandal Terbang

"Ini siapa yang nempel disini Mbok?" tanya Kun kepada Mbok Sum sembari membaca poster di tembok.
"Itu? Gak tau ada yang naruh gitu aja. Kamu kan dukun, kenapa masih nanya si Mbok ya?"
"Ealah Mbok. Masa mau tiap hari nerawang terus. Lama-lama ya bosen juga mbok. Monoton."
"Bener kamu mau bikin kerajinan sandal Kun? Mau jajal peruntungan di dunia bisnis? Mau jadi pengusaha sandal?"
"Kalau bikin kerajinan sandal seh iya Mbok. Tapi kalau bikin sandal yang bisa terbang kayak di poster itu, gak Mbok. Ini siapa lagi yang kurang kerjaan kayak gini. Masa Fayya sih. Gak mungkin ah."
"Tapi kan itu bisa bermanfaat bagi orang banyak Kun. Kalau tiap orang bisa terbang, kan bisa mengurangi kemacetan di jalan Kun."
"Betul mbok. Tapi pasti tak semua orang siap dengan hal itu. Para pengusaha otomotif misalnya. Pak Supeltas misalnya."
"Supeltas? Kasih aja mereka sandal itu. Beres kan?"
"Tumben mbok cerdas." Kun duduk. Fayya datang. Senyum-senyum genit. Ber-headset. Kun maklum.

Kun membuka laptopnya. Ia membuka file berisi rancangan sandal yang akan dibuat. Memang, sandal yang dibuat bukan sembarang sandal. Ini sandal yang memiliki kemampuan melawan gaya gravitasi. Namun hal ini masih bersifat RAHASIA. CAPSLOCK.
Kun menelaah terus menerus. Memperhitungan apa-apa yang dibutuhkan untuk menyusun sandal terbang itu. Karena ada komponen yang sangat langka, yaitu penggunaan batu merah delima sebagai tenanga utama. Batu yang sangat sulit sekali dicari di pasaran. Apalagi pasar Kambing. Kun terinspirasi dari perbincangan alumni pertapaan batu payung tentang mobil yang bisa terbang seminggu yang lalu. Menurut Kun, sandal yang bisa terbang lebih bersifat personal. Dan setiap orang memiliki ukuran kaki yang berbeda. Yang kedua ini agak kurang nyambung.
Fayya masih asik ber-headset. Merem-merem. Kun pergi toliet meninggalkan laptop dengan posisi menyala. Peraturan kampus, mengharuskan untuk melepas sandal ketika masuk ke kamar mandi. Kun melakukan itu. Iya, dia ke kampus tapi pakai sandal. Karena tidak pernah masuk kelas. Kelasnya ya di kantin Mbok Sum itu.
Agak lama Kun berada di dalam toilet. Gemericik air terdengar samar-samar. Lalu pintu terbuka, Kun keluar dan mendapati sandalnya sudah tidak berada di tempat yang semula. Kun bergegas membetulkan celananya lalu berjalan menuju kantin. Lagi, dia mendapati file rancangan sandalnya telah di copy oleh seseorang. Fayya ada disana, ber-headset dan masih merem-merem. Kun bertanya kepada mbok Sum jawaban mbok Sum seperti ini. GELENG-GELENG. Kun berkacak pinggang. Ia masih bisa tersenyum meski kehilangan sandalnya. Fayya dicolek. Kun mengajak Fayya pergi ke kandang sapi belakang kampus. Fayya manggut-manggut.
.........

Seorang anak kecil berlari menemui Kun. Matanya berkaca-kaca. Raut mukanya dipenuhi rasa bersalah. Baru akan ngomong itu bocah, Kun sudah mendahuluinya.

"Balikin sandal?" tanya Kun. Anak kecil itu melongo.
"Gak usah dibalikin. Buat kamu aja." kata Kun. Anak itu masih melongo.
"Mau sandal lagi?" tanya Kun. Anak itu melongo. Ada lalat masuk ke mulutnya. Tersedak.
"Minum?"
"Tapi bukan aku yang nyuri. Aku disuruh sama....sama....sama...."
"Sssttt. Minum dulu. Aku ngerti kok siapa yang nyuruh kamu." kata Kun. Anak itu melongo lagi.
"Emang kak Kun tau?"
"Iya. Sebentar lagi orangnya kesini."
"Hah? Kesini?" anak kecil itu ketakutan. Sangat ketakutan. Dan semakin ketakutan.
"Woy! Wajah biasa aja woy! Gak usah over scared gitu ah."
"Tapi nanti kalau dia tau aku disini bersama kak Kun. Aku bisa..."
"Woy! Dibilangin biasa aja gak usah ketakutan gitu kenapa sih? Halooo..., kan ada kakak disini. Kenapa masih takut?"

Seseorang berkostum aneh datang. Dia terbang. Sandalnya menyala-nyala. Close up sandalnya. Itu sandal Kun yang hilang di toilet. Mirip cerita superhero impor, kostum kurang lebih seperti itu. Anak kecil itu bergegas sembunyi ke dapur mbok Sum. Mbok Sum kaget. Dikira ada tuyul masuk dapur.

"Kamu yang nyuruh anak itu?" tanya Kun.
"Iya. Aku menantangmu!"
"Menantang? Tapi pose kamu kurang menantang tuh?"
"Aku menantang balap terbang. Siapa yang paling cepat sampai di tujuan, dia berhak atas Fayya!"
"Heh! Jangan bawa-bawa Fayya. Tolong hargai perempuan. Dia bukan piala bergilir. Hati-hati kalau bicara!" Kun mulai naik pitam.
"Hahahaha. Bilang saja kalau kau tak berani! Hahahaha..."
"Ini kenapa yah? Tiap tokoh jahat kok tertawanya seragam sih? Gak usah tertawa dulu kenapa? Tarung aja belum udah ketawa. Ngakak lagi."
"Hahahaha. Bagaimana? Takut?"
"Hmmm. Aku terima tantanganmu. Mana garis akhirnya?"
"Toko roti seberang jalan. 150 km dari sini."
"Halooo...toko roti banyak kali. Yang lain!"
"Warung ayam bakar. 18 km dari sini."
"Kamu nantangin balap terbang apa mau kuliner sih? Yang sadis dong tempatnya."
"Baik. Tempat pemotongan hewan. 159 km dari sini."
"Haduh...Gini aja deh. Capek aku ngomongnya. Siapa yang bisa duduk bersama Fayya disana. Dia yang menang." Kun menunjuk Fayya lagi duduk sendiri di taman.
"Hahahaha. Baiklah. Fair play. Ini garis start nya."
"Mbok Sum tolong hitung!" teriak Kun.
"Kamu semuanya 3500 Kun!" Sahut Mbok Sum dari dalam dapur.
"Bukan itu mbok. Keluar dulu mbok. Hitung satu sampai tiga mbok."

Mbok Sum keluar sambil membawa sapu tangan. Mbok Sum berada di tengah-tengah antara Kun dan orang misterius itu. Mbok Sum centil. Mbok Sum seksi. Untuk sejenak.

"Satu, dua, tiga!"

Orang itu terbang dengan kecepatan penuh. Dari sandalnya muncul sinar merah delima. Dia sampai di taman dimana Fayya duduk tadi. Dia sampai lebih awal dari pada Kun. Tapi, orang itu linglung. Tidak ada Fayya disana, juga Kun. Tolah toleh tolah toleh. Garuk-garuk kepala. Lupa kalau dia memakai helm. Setelah linglung beberapa menit. Dia kembali ke kantin. Dia melihat Fayya sedang bercanda dengan Kun.

"Woy! Gak usah heran!"
"Tapi Kun, kamu kok cepat sekali? Kamu terbang tadi?" orang itu menyela. Nadanya putus asa.
"Kamu gak pernah update ilmu seh. Ya terserah aku mau terbang atau mau apa, yang penting aku yang lebih dulu sampai kan?"
"Tapi Kun, kamu kan sering terbang pakai sandal itu kan? Aku sering melihatmu kok."
"Itu, bukan karena sandalnya. Yah terserah aku mau terbang pakai apa. Sandal, piring, karpet, atau apapun. Yang penting itu bukan sandalnya tapi 'ilmu'nya. Dan ingat, jangan pernah menyuruh anak kecil lagi untuk mencuri!  Anak kecil itu polos, dia belum tahu apa-apa."
"Dimana anak itu?"
"Dia sedang ku hukum." kata Kun sambil menatap anak kecil yang sedang bermain-main dengan sandal terbang kreasi Kun. Anak itu terlihat menikmati kebingungan dengan penerbangannya. Sesekali ia terjatuh, lalu tertawa dan berusaha untuk terbang lagi.

Orang itu pingsan. Mobil ambulance RSJ datang.
Share: