Senin, 04 Juni 2012

Kun Si Dukun #Kembalinya Fayya

"Mbok Sum!!!!" Kun berlari ingin memeluk Mbok Sum.
"Aihhh. Kenapa lagi ini bocah?" Mbok Sum pasang muka panik. Padahal sudah bayar tagihan listrik.
"Mbok Sum!!!!" Kun mencoba memeluk Mbok Sum. Tapi Mbok Sum menghindarinya.
"Eit! Pasti lagi ada maunya. Mau ngutang lagi?"
"Gak Mbok. Fayya Mbok! Fayya!"
"Fayya? Fayya kenapa? Duduk dulu sana. Udah teriak-teriak kayak orang gila lagi. Duduk!" Mbok Sum memberikan instruksi. Kun duduk.
"Kenapa sih?" tanya Mbok Sum.
"Fayya Mbok. Fayya sudah pulang dari kampung." Kun menggebu.
"Terus?"
"Udah sih Mbok. Itu aja sih."
"Hmmmm. Ini anak memang minta dipukul pakai wajan jumbo kali yah. Udah! Mbok mau menggoreng lagi. Kirain ada apa." Mbok Sum berlalu. Kun duduk termangu sendiri sambil baca sms yang masuk dari Fayya.

"Sepuluh menit sembilan belas detik lagi aku ke kantin" begitu sms dari Fayya untuk Kun.

Fayya pulang ke kampung dalam rangka liburan kuliah. Ini memang kampus yang aneh. Bayarnya mahalnya minta ampun tapi tidak sebanding dengan masa studinya. Ini gara-gara masukan dari Pak Armando agar rektor memberlakukan kebijakan baru. Uang gedung ditingkatkan tapi bangunan fisik gedung hanya bertingkat tiga sejak pertama kali dibangun. Seharusnya jika benar-benar merealisasikan kebijakan itu, gedung kampus sudah tingkat 23. Karena uang gedung sudah mengalami peningkatan selama dua puluh kali. Disamping itu, masa studinya yang katanya 1 semester tidak benar-benar dijalankan selama enam bulan full. Masa studi 1 semester, yang efektif hanya tiga sampai empat bulan. Sisanya adalah liburan.

Maksutnya tadi mau bilang gini aja sih; Fayya liburan di kampung selama dua bulan. Itu aja sih.

Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang senyum di hadapan Kun. Muka Kun agak memerah. Seperti antara canggung dan gugup beserta malu. Seperti ABG alay yang baru kenal what is the love.
"Kun." kata Fayya.
"Fayya." kata Kun. Ya iyalah masa kata Pak Armando!
"Kamu gak berubah Kun." Fayya mengelus rambut Kun.
"Jelas aja gak berubah. Orang yang kamu pegang rambut." kata Kun nyengir. Masih ada sisa kecanggungan disitu. Kun belum pulih dari rasa canggungnya. Begitu pula Fayya. "Kamu juga gak berubah." tambah Kun.
"Berarti aku gak tambah cantik dong?" Fayya agak mengernyitkan jidatnya.
"Kamu dari dulu memang cantik Fayya. Lagian aku juga bingung, maksutnya kecantikan yang bertambah itu kayak apa?"
"Mmmm, gak tau juga sih Kun." Fayya tersenyum. Kun mulai menyublim. "Kamu gak tanya kabarku?"
"Gak perlu. Kan kamu sudah disini bersamaku. Berarti sudah otomatis kabar kamu sehat selalu. Iya kan?" selalu begitu. Kun ngawur.
"Yah, minimal tanya gimana liburanku donggggg. Yah, biar aku bisa bicara banyak." Fayya mengajukan diri untuk presentasi.
"Aku sudah tau semua kegiatanmu apa." jawab Kun menggoda.
"Yahhh. Pura-pura gak tau aja dong. Yah?" Fayya merengek.
"Baiklah tuan putri cantik."
"Apa?"
"Tuan putri cantik."
"Tuan putri cantik?"
"Iya. Tuan putri cantik. Kenapa?"
"Aku gak mau dipanggil seperti itu."
"Lha?"
"Terlalu panjang. Putri cantik aja. Ntar aku panggil kamu Pangeran Ganteng."
"Itu fitnah Fayya."
"Gak papa yah. Pangeran Ganteng aja yah?"
"Baiklah. Tau gitu aku gak panggil kamu putri cantik tadi."
"Jadi marah ceritanya?"
"Gak." Kun geleng-geleng imut.
"Makasih." Fayya mencubit pipi Kun. "Baik. Aku mau mulai cerita darimana yah? Mmm..."
"Dari kamu mengajari anak-anak kecil di kampungmu membaca aja. Gimana?" tawar Kun.
"Ihhhh. Kun jahat ah. Udah dibilangin pura-pura gak tau aja kenapa sih!" Fayya cemberut. Kun menyeringai.
"Iya iya. Silahkan cerita."
"Gini Kun, aku di kampung mengajari..."
"Tiga anak kecil?"
"Jangan dipotong duluuuuu Kunnnnnn. Sebel ah. Aku pergi aja kalau gitu." Fayya beranjak dari kursi dan pergi. Kun cukup tersenyum saja. Kamu bener-bener gak berubah Fayya, batin Kun.

Kali ini Fayya bener-bener marah. Dia pergi mengendarai motor  miliknya dan segera melaju kencang. Sedang Kun sengaja tak mau memakai ilmu ngilangnya. Dia menyalakan mesin motor ceper yang konon Syech Jangkis sendiri yang memodifikasi motor ceper itu. Segera Kun menyusul Fayya.

Adegan kejar mengejar terjadi. Tapi jangan dibayangkan seperti di adegan film-film dari negeri Kayu Suci, Hollywood. Ini adegan yang biasa saja. Ini adegan yang sewajarnya. Seorang lelaki yang mengejar wanita dambaannya. Fayya sudah ngebut begitu rupa. Sampai naik turun gunung pula. Namun rupanya lelah segera menghampirinya. Dia berhenti di ujung bukuit. Dengan view panorama yang elok rupawan. Matahari yang hampir besembunyi, senja.
"Fayya?" Kun datang menghampirinya. Fayya memakai headset merah.
"Kun? Kok kamu bisa nyusul sih? Padahal aku sudah ngebut. Motor kamu kan terkenal pelan? Kok bisa sih. Lagian ini tanjakan-tanjakan disini cukup tinggi." Fayya heran. Heran karena baru kali ini Kun mampu menyusulnya tanpa mengandalkan ajian apa-apa.
"Fayya, sekencang apapun kau berlari toh itu pada akhirnya hanya untuk berhenti. Kalau tujuan kita sudah sama, sekencang apapun kamu berlari, sejauh apapun kamu pergi, aku juga sangat mungkin mampu menyusulmu, meski aku mengejarmu dengan berjalan kaki. Iya, karena kamu tujuanku sementara ini."

Fayya memeluk Kun di bukit itu. Dengan background sendunya senja. Bau sangit keluar dari mesin motor Kun.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar