Senin, 16 Juli 2012

Kun Si Dukun #Cincin Matahari

Fayya anggun dengan gaun ungunya. Berjalan slow motion penuh wibawa mempesona. Seisi kampus membicarakan dirinya. Hingga rektor pun membuat rapat dadakan membahas masalah yang agak aneh ini. Memang, tak seperti biasanya Fayya tampil begitu cantiknya. Perpaduan antara futuristik headset dan sepatu high heels nya membuat seolah-olah dia tak menapakkan kakinya ke tanah, melainkan terbang bagai bidadari yang sedang berkeliling ke bumi mencari pangeran tampan penakluk naga. Segera saja jajaran kampus mengundang Kun terkait hal yang sudah menggegerkan kampus itu.

"Maaf saudara Kun, apa yang sebenarnya terjadi gerangan?" tanya rektor di dalam gedung seminar. Kun duduk di hadapan para petinggi kampus. Di belakang Kun ribuan mahasiswa ikut menyaksikan fenomena semacam pengadilan publik ini. Di sudut terlihat mahasiswi mahasiswi bermata sembab. Sepertinya karena tangisan.
"Maaf kisanak, eh maaf yang mulia rektor, saya belum begitu jelas dengan pertanyaan yang yang mulia ajukan. Mohon diperjelas lagi kisanak. Eh. Yang mulia."
"Apakah saudara Kun tidak tahu persoalan yang telah terjadi di kampus ini kemarin?"
"Sekali lagi hamba mohon maaf yang mulia. Saya benar-benar tidak tahu. Kalau yang mulia tanya berapa jumlah tahu yang digoreng mbok Sum kemarin, saya bisa memberi informasi yang cukup valid yang mulia."
"Hmmm. Sudah bertemu dengan saudari Fayya hari ini?"
"Sejak sepuluh hari yang lalu saya sengaja tidak bertemu dengan Fayya yang mulia. Sekedar tanya kabar via sms pun tidak."
"Berarti saudara Kun tidak berhubungan lagi?"
"Maaf yang mulia. Pertanyaan anda semakin tidak jelas bagi saya. Saya masih berhubungan, hanya saja sedang mengurangi intensitas komunikasi di antara kami berdua yang mulia. Kenapa pertanyaan anda mirip infotaiment yang mulia?"
"Saudara Kun, dengan berat hati saya selaku wakil dari seluruh isi kampus ini, menyatakan, tentu saja setelah menimbang dengan seksama, bahwa saudari Fayya harus kami skors untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Saya yakin saudara Kun tidak akan keberatan dengan hal ini."
"Saya memang tidak keberatan yang mulia. Saya malah senang. Karena dengan begitu kami berdua bisa berlibur dengan tenang. Tidak hanya di kantin mbok Sum terus yang mulia. Tapi maaf yang mulia. Kalau boleh tahu apa gerangan yang sebenarnya sudah Fayya perbuat sehingga yang mulia memutuskan hal bahwa Fayya harus diskors?"
"Sehari yang lalu kampus ini mengalami huru hara besar. Semua laki-laki di kampus ini memutuskan pacar-pacarnya secara sepihak. Jadi ada gerakan Move On besar-besaran di kampus ini. Tentu saja banyak wanita yang berteriak histeris bahkan ada yang bertekad untuk membunuh semua spesies nyamuk di muka bumi ini, padahal nyamuk tidak ada urusan dengan Move On massal ini."
"Lantas apa hubungannya dengan Fayya yang mulia?"
"Mereka, para lelaki itu, melakukan gerakan Move On karena semua lelaki di kampus ini tertarik dengan dandanan Fayya yang tidak seperti biasanya. Kalau tidak percaya tanya hadirin di belakang saudara. Benarkan para hadirin yang budiman?"
"BENARRRR!!!!" gemuruh seketika ruangan seminar itu.
"Fayya memang cantik yang mulia. Luar dalam yang mulia. Saya mengakuinya." kata Kun membela.
"Tapi yang kemaren beda saudara Kun. Anda berkata seperti itu karena anda kekasihnya. Itu merupakan hal yang wajar. Saya saja sampai....."
"Sampai apa yang mulia?" Kun memotong.
"Ah lupakan. Yang jelas kami harus menskors saudari Fayya dengan catatan tentunya."
"Apa catatan itu yang mulia?"
"Dengan catatan, dia berdandan seperti semula, seperti biasanya, dan Fayya boleh kembali ke kampus ini."
"Baik yang mulia, akan saya sampaikan pesan anda. Sehari ini saya juga belum bertemu dengan kekasih saya itu, yang meski dandanannya biasa saja, tapi tetap cantik bagi saya."
"Hmmm. Baiklah dengan demikian peradilan dadakan ini secara resmi saya bubarkan." Dog Dog Dog.
..........................................................

Kun menyambangi kos Fayya. Sambil siul-siul lagu dangdut Kun mengetuk pintu kamar Fayya. Lama Kun mengetuk tapi belum ada jawaban dari dalam kamar. Pintu kamar Olive yang persis bersebelahan dengan kamar Fayya malah yang terbuka. Dari sana kepala Olive menyembul.

"Nyari Fayya Kun?"
"Eh Olive. Iya. Fayya tidur yah?"
"Nggak. Dari kemarin belum pulang."
"Dari kemaren?"
"Iya dari kemaren. Aku kira dia nginep di rumah saudaranya yang lagi punya hajat."
"Tahu dari mana?"
"Dari dandanan Fayya yang menor. Itu anak pamitnya mau ke kampus, tapi aku sendiri nggak percaya. Masa mau ke kampus kok anggun kayak gitu."
"Iya bilang saja anggun, jangan menor."
"Iya anggun. Ada acara Kartinian apa di kampus? Nggak kan?"
"Mmm, nggak tahu deh. Tadi hapenya aku hubungi nggak aktif. Makanya aku langsung kesini, siapa tahu dia sedang sakit nggak enak badan mungkin."

Olive tak menanggapi cerita Kun. Dia langsung memasukkan kembali kepalanya yang menyembul tadi dan menutup pintu kamarnya. Kun gelisah. Benar-benar gelisah. Kun menuju ke tempat yang agak sepi di lapangan bola sebelah kos Fayya. Dengan segera dia memanggil empat sahabat karibnya. Genderuwo, Gagak Rimang, Serigala Botak, Pangeran Tokek. Namun keempatnya sepakat menggelengkan kepala. Hanya Pangeran Tokek yang agak memiliki informasi beberapa menit sebelum Fayya menghilang dari kos nya.

"Jam 06.33 ia selesai mandi. Sempat ganti-ganti baju beberapa kali, tapi tepat pada jam 07.45 dia baru memutuskan untuk memakai gaun warna ungu. Jam 07.58 dia memakai headsetnya. Jam 08.00 dia memakai high heelsnya. Jam 08.05 dia menutup pintu kamarnya."
Genderuwo, Gagak Rimang, dan Serigala botak meneteskan air liur mendengar penjelasan dari Pangeran Tokek.
"Kenapa kalian?" tanya pangeran Tokek. "Hmmm, otak mesum semua! Kalian kira aku mengintip Fayya ganti baju apa! Dasar makhluk tak berperi kemanusiaan! Aku menghormati Fayya sebagaimana aku menghargai saudaraku Kun! Mana mungkin aku mengintip Fayya. Sebelum dia ganti baju dia sudah mengancamku. Kalau sampai aku mengintipnya, aku akan diekspor ke China. Mana berani aku."

Kun tersenyum melihat tingkah polah sahabat-sahabatnya itu. Apa lagi Pangeran Tokek yang diberi mandat khusus untuk menjaga Fayya selama di kos. Setelah Kun mengucapkan terima kasih segera Kun melakukan pencarian lewat frekuensi-frekuensi asing yang jarang digunakan lazimnya manusia. Bahkan tidak juga digunakan oleh satelit milik mesin pencari yang sekarang mendominasi dunia internet. Kun memejamkan mata merapal mantra dan menghentakkan kakinya tiga kali ke tanah.

"Yang sebelumnya hilang, nampak lah! Yang sebelum tak terlihat, muncul lah! Yang sebelumnya jomblo, menikah lah! Ups, salah mantra. Yang sebelumnya gelap, jelas kan lah! Hiyaaattttttt!!!!"

Daun kering jatuh tepat di hidung Kun. Ada bekas tai burung mengering di sana. Juga ada semacam guratan kata-kata yang membentuk kalimat, "Kalau mau Fayya selamat, datang ke gudang garam. Tujuh kilometer barat daya dari tempatmu berdiri."
"Ada yang cari gara-gara lagi rupanya. Baiklah." gumam Kun.
....................................................

Gudang garam. Gudang garam dalam arti sebenarnya. Sebuah gudang yang dulunya memang pernah digunakan untuk menimbun garam-garam yang akan dipasarkan. Gudang yang konon katanya juga pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan gula ini memiliki atmosfer energi tersendiri. Sejak pertama kali masuk Kun sudah mendeteksi adanya gelombang-gelombang liar yang berlalu lalang.

"Woy!!!" teriakan Kun menggema di seluruh gudang yang hanya diterangi oleh cahaya yang masuk dari lubang-lubang ventilasi udara.
"Woy!!!" lagi, teriakan Kun menggema. Sesaat Kun mencium. Seperti aroma tubuh Fayya. Dia semakin yakin kalau Fayya memang berada di gudang ini.
"Fayya!!!" panggilan yang menggema. Seperti sedang diucapkan oleh lelaki kepada kekasihnya karena sudah lama mereka tak saling sua.
"Fayya!!!" tetap saja, panggilan dari hati itu tak menemui balasnya.
"Fayyaaaa!!!"

Sosok bayangan hitam muncul. Ada kemilau cahaya di jari tengah tangan kanannya. Sosok tinggi besar gagah sehingga jelas suara alas kakinya yang berbenturan dengan ubin gudang. Kun waspada. Tangannya mengepal bersiap untuk menghantam kalau-kalau sosok itu menyerangnya.

"Hmmm. Jangan terburu-buru anak muda." kata sosok yang sepertinya lelaki itu.
"Siapa kamu duhai kisanak?" tanya Kun.
"Aku? Tak perlu kau tahu siapa aku."
"Tapi aku tak asing dengan cincinmu itu."
"Hahaha. Rupanya pengetahuanmu memang cukup luas anak muda."
"Dimana Fayya?!" Kun menggertak.
"Sssttt. Tak usah berteriak. Fayya sedang tidur pulas disana." lelaki itu menunjuk ke arah tepat dimana Fayya diikat kedua tangan dan kakinya dan dibiarkan bergelantungan.
"Fayya," Kun lirih. "Siapa kamu sebenarnya! Apa yang sudah kamu perbuat terhadap Fayya! Apa maksutmu!" kembali suara Kun menggema.
"Hahaha. Anak muda anak muda. Oh lupa, aku tahu siapa namamu. Kun Si Dukun. Anak muda terhebat di jagat raya ini. Anak muda yang punya kekuatan unik yang tidak dimiliki oleh generasi-generasi sebelumnya. Hahaha...."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan? Turunkan Fayya sekarang! Turunkan!" Kun geram.
"Hahaha. Lihat apa yang ada di jari Fayya itu. Lihat!" lelaki itu balik menggertak.
Kun menatap ke arah Fayya. Seperti sebuah cincin terselip di jari manis Fayya. Fayya masih anggun dengan gaun ungunya.
"Kau tahu apa itu anak muda? Itu Cincin Matahari kan? Iya kan?!! Itu bukan cincin sembarangan. Sebuah cincin yang memiliki kekuatan maha dahsyat yang bisa meluluh lantahkan seisi semesta ini jika bertemu dengan pasangannya! Iya kan!" lelaki itu semakin keras suaranya.
"Aku tak mengerti kisanak. Sungguh aku tak mengerti denganmu lelaki tua. Itu cincin dariku untuk Fayya. Belum ada seminggu ini aku membelikannnya. Tapi itu bukan Cincin matahari seperti yang engkau maksut." Kun mencoba mengembalikan keadaan sambil menghela nafasnya. Lelaki itu seperti sedang menunggu penjelasan Kun selanjutnya. "Itu cincin biasa kisanak. Justru yang di jari tengahmu itulah cincin matahari."
"Iya, tapi aku masih membutuhkan satu Cincin Matahari lagi untuk menambah kekuatanku."
"Aku tidak tahu dimana cincin yang satunya lagi berada. Aku sungguh-sungguh tidak tahu kisanak. Sekarang aku mohon dengan sangat, bebaskan Fayya. Dia tak bersalah."
"Tidak bisa! Kamu harus memberi tahuku dimana cincin yang satunya lagi berada. Kecuali, kalau kau tidak ingin Fayya selamat." lelaki itu menggertak. Tak ada cara lain bagi Kun selain melawannya.
"Baiklah, sepertinya kita memang harus bertarung kisanak. Mari. Aku siap melayanimu."

Kun terdiam, terpejam, sunyi, hening, diam. Dalam hatinya dia sudah berjanji tidak ingin melukai sedikitpun lelaki ambisius itu. Kun bersiap dengan Untouched Cow (Sapi tak tersentuh) nya. Sebuah ilmu racikannya sendiri yang memanfaatkan energi partikel terkecil air sebagai benteng pertahanan. Apa hubungannya dengan sapi? Karena partikel-partikel air itu jika berkumpul menimbulkan satu warna putih mirip dengan susu sapi. Rasanya juga. Kun pernah dengan tidak sengaja meminumnya. Kun membuat benteng, karena dia tak mau menyerang.

Lelaki itu datang dengan sorotan Cincin matahari. Datang menghantam pertahanan Kun. Kun tak sedikitpun bergerak. Sinar dari cincin matahari itu juga tidak mampu menembus pertahanan Kun. "Hebat juga anak ini." gumam lelaki itu sambil terus menghujani Kun dengan berbagai macam tinju dan tendangan. Tendangan menyilang, tendangan penjuru empat mata angin, dan tendangan tanpa tepisan. Namun Kun tetap tak bergerak. Dengan cepat Kun melompat ke arah Fayya dan membuat lelaki itu terkejut seketika. Kesempatan ini digunakan untuk segera mengejar Kun. Tapi Kun lebih cepat dari yang dia bayangkan. Kun berhasil membawa Fayya turun. Membaringkan Fayya  yang terkulai lemas. Dilihatnya dengan seksama seluruh tubuh Fayya dan Kun tidak menemukan satu goresan pun disana. Kun tersenyum. Fayya masih terlihat anggun dengan gaun ungunya meski dua hari tak mandi.

Kun berdiri. Mengambil cincin dari tangan Fayya dan memakainya. Tak lupa juga dia memakai headset Fayya.

"Waktumu habis kisanak. Sekarang pergilah kalau engkau tidak mau terluka. Sekali lagi ini cincin biasa. Bukan cincin matahari." Kun memberi peringatan keras kepada lelaki itu.
"Hahaha. Aku masih tidak percaya. Nyatanya sekarang kau memakainya anak muda. Berarti itu memang pasangan dari cincin matahari ini."
"Baiklah. Cepat saja urusan ini harus diselesaikan. Aku tak mau Fayya menunggu terlalu lama. Sudah. Ku hitung sampai tiga silahkan kisanak pergi dari tempat ini. Satu..."
"Hahaha. Aku tidak akan takut anak muda."
"Dua...."
"Mari kita selesaikan anak muda, hiyaaaattttt.."
"Tigaaaaaaa......"

Satu pukulan dari Kun membuat lelaki itu hilang. Mungkin perpental sampai ke galaksi lain menembuas lapisan-lapisan udara di langit sana.

Kun membopong Fayya. "The Ngi and The Lang! Ngilang!" Kun membawa Fayya di atas bukit kecil dekat kampus. Fayya masih agak pusing karena kejadian ini. Pelan-pelan Fayya bercerita perihal pertemuannya dengan lelaki asing di tengah jalan.

"Dia bilang dia tertarik dengan cincinku dan berniat menukarnya. Tapi aku menolak. Aku bilang kalau cincin ini satu-satunya benda yang bisa mengingatkanku kepadamu meski kamu tak pernah sms ataupun menelponku. Aku anggap ini avatarmu Kun. Cincin ini sering aku cium setiap selesai berdoa. Tentu saja doa-doa untuk keselamatanmu. Aku menolaknya saat itu. Tapi dia memaksaku. Setelah itu aku tak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah disini bersamamu."
"Udah ceritanya besok saja. Kamu masih harus banyak istirahat." Kun tersenyum. Kali ini bukan nyengir.
"Kun terimakasih sudah menyelamatkanku."
"Iya. Tapi nggak perlu juga meluk. Kalau kekuatanku hilang lagi gimana? Hehehe. Eh, lain kali kalau ke kampus pakaiannya yang biasa aja yah. Jangan bikin geger kampus lagi."
"Aku sengaja sih. Ngetes apa kamu masih perhatian sama aku nggak. Hehehe.."
"Ealah."
"Kun.."
"Ya Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kun.."
"Fayya.."
"Kunnnn...."
Dan adegan itu berakhir dengan saling memanggil nama saja.....
Share:

0 komentar:

Posting Komentar