"Semangat banget nyucinya Kun."
"Lumayan buat olah raga tangan. Biar otot-ototnya terlatih Fayya."
"Biar kuat mindah mendung yah? Wek!" Fayya mengejek Kun.
"Oalah. Ada beberapa kriteria orang mencuci. Ada orang yang mencuci karena ia merasa telah ikut andil mengotori. Ada orang yang mencuci karena itu sudah menjadi pekerjaannya. Yang keren yang ketiga ini. Ada orang yang mencuci padahal dia tidak ikut andil mengotori dan itu bukan pekerjaannya sendiri."
"Kamu masuk yang mana?"
"Gak ngerti."
"Aku juga gak ngerti. Pura-pura tanya aja. Wek!"
"Sekali-sekali kalau nyuci hening bisa gak sih?" Mbok Sum menjadi wasit.
"Habis itu Kun kalau ditanya jawabnya kemana-mana mbok."
"Jawabnya kemana-mana tapi hatinya kan cuma ke hatimu. Wek!"
"Tuh kan mbok bener. Pinjem wajan jumbonya mbok."
"Terus mbok Sum goreng tempe pakai apa? Aneh-aneh aja kamu sayang." Kun nyengir.
"Ini Fay pakai panci aja. Sama jumbonya kok." Mbok Sum memberikan alternatif.
"Waduh. Kompak bener. Seneng banget kalau aku teraniaya yah?" Kun segera berlari menuju pertapaannya. Sudut kantin.
Fayya menyusul, tapi tak membawa panci ataupun wajan jumbo. Masih siang, namun langit kedatangan awan mendung. Sinar mataharipun terhalang oleh gelap pertanda air hujan segera hadir. Kun masih saja asyik berkutat dengan file-file hasil donlotannya. Kun menghapus semua file hasil donlotan termasuk koleksi film-film Koreanya. Kalau lagu, Kun tidak begitu berminat. Fayya yang suka mengoleksi lagu-lagu.
"Serius amat sayang." kata Fayya.
"Iya ini lagi hapus file film. Hard disknya penuh. Sesak. Kasihan yang lain, ntar susah bernafas. Bisa macet juga."
"Emang bisa gitu file sesak nafas."
"Kalau gak percaya gak apaapa sih. Tapi kalau percaya kebangetan juga. He..."
"Mulai deh."
"Gak. Aku semalam dapat mimpi. Ada berita semacam saran yang membangun gitu, bahwa lebih baik, kalau kita tidak begitu tahu asal usul sumbernya mending ditinggalin atau dihapus aja. Aku kan gak ngerti free download itu 'bener' apa 'gak'. Itu nyuri apa gak aku juga gak tahu. Aku hanya berusaha menghargai karya orang lain aja sih. Lebih baik aku ketinggalan info seputar dunia gak apaapa. Kalau mau lihat video ya cari yang onlline plus langsung dari officialnya. Fay! Fayya! Fayya sayang! Malah molor. Woy bangun woy!"
"Mmmm. Iya. Tugas dari saya kemaren dikirim via email aja."
"Bangun sayang. Malah ngigau gitu. Aku Kun."
"Oh, ternyata kekasihku sayang. Maaf. Semalam habis lembur koreksi tugas-tugas mahasiswa gitu. Maklum asisten dosen yah kayak gini kerjaannya sayang."
"Tidur jam berapa?"
"Pertanyaan bodoh. Ya gak tahu lah sayang."
"Oh lupa. Bangun jam berapa tadi?"
"Tadi jam empat pagi udah bangun. Terus ke kamar mandi. Balik kamar tidur. Tahu-tahu udah jam delapan. Langsung buru-buru ke kampus."
"Kamu udah mulai sibuk sekarang."
"Hu'um. Eh sayang, kamu gak curiga sama mendungnya? Gelapnya kok beda yah."
"Fayya, kamu ini aneh-aneh aja. Yang namanya mendung ya gelap sayang."
"Serius deh. Kok aku ngerasa ada yang ganjil."
"Gini aja deh. Kalau kamu bisa mindahin mendung itu, supaya kamu gak khawatir yah pindah aja. Tapi kalau bisa sih. Heeee..." Kun nyengir.
"Oh jadi ceritanya kamu nantangin aku buat mindah mendung gitu? Emang kamu aja apa yang bisa kayak gitu? Baik. Aku ladeni permintaanmu sayang."
"Lha? Serius?"
"Lihat aja!"
Fayya memejamkan matanya. Tangannya terlipat di dada. Berbeda dengan Kun. Biasanya Kun melakukan dengan berdiri, namun Fayya cukup melakukannya dengan duduk. Hening sunyi. Kun mulai merasakan gelombang-gelombang dari dalam tubuh Fayya. Gelombang yang dalam waktu singkat berubah menjadi angin langsung menuju ke awan mendung membentuk seperti pusaran-pusaran. Semakin kuat semakin kuat dan semakin kuat. Kun mengamati dengan seksama. Wajahnya serius. Untung kantin mbok Sum sedang sepi. Jadi tidak banyak yang tahu kejadian ini. Termasuk mbok Sum sendiri. Dengan segera pusaran angin yang berasal dari tubuh Fayya itu menyapu bersih awan hitam. Langit cerah seketika. Sinar mentari kembali menampakkan keceriaanya. Air hujan yang sempat menetes segera pergi entah kemana. Fayya membuka mata menatap Kun penuh bangga dan berkata,
"Gimana sayang? Berhasil?"
Kun mengangguk sambil tersenyum.
Malam harinya,
"Huaaaaa!!!! Kun!!!! Cepet kesini sayang!!!!" Fayya berteriak lewat telpon.
"Ada apa? Kecoak? Tokek? Serigala?"
"Bukan!!!! Buruan sini!!!!"
"Iyah."
Sepuluh menit, ah, seperti biasanya, Kun sampai dengan dandanan yang masih seperti biasanya pula. Kun tidak terkejut dengan kondisi kos-kosan Fayya yang mirip seperti habis kebanjiran.
"Siapa yang habis ulang tahun?" tanya Kun.
"Ulang tahun apa?"
"Lha itu banyak air. Habis siram-siraman kan?"
"Hhhhh bukan. Tadi sore sini hujan lebat. Terus kebanjiran. Kamarku aja sampai bocor. Hhhhh."
"Oh."
"Kenapa cuma oh!"
"Oh no."
"Kenapa cuma oh no!"
"Hihihi. Kamu sadar gak sih."
"Sadar gimana?"
"Tadi siang kamu habis ngapain?"
"Apa yah? Nyuci piring sama kamu, pulang terus koreksi tugas mahasiswa, mmmm, udah itu aja kok."
"Bukan yang itu. Tadi kamu mindah mendung kan?"
"Oh itu. Baru inget."
"Kalau soal mindah hujan atau mendung sih gampang. Yang sulit itu kemana kamu akan memindahnya. Harus cari lokasi yang pas, yang benar-benar sedang membutuhkan air. Jangan asal dibuang. Kalau asal dibuang yah kayak gini, akhirnya dia ikut sama kamu. Kan dia udah nuruti permintaanmu untuk kamu pindah, nah sekarang dia kemana-mana ikut kamu. Banjir deh jadinya kamarmu. Sayang, kamu boleh kok mindah hujan kemana aja, asal gak mindahin aku dari hatimu. Kalau aku sih lebih milih jadi pawang hati daripada pawang hujan. Heee..." Kun nyengir.
"MBOK SUM!!!!"
"Wey ini bukan di kantin lho!"
"Oh lupa. Pukul headset aja kalau gitu. Diem disitu dulu yah sayang."
Kun pasrah.
0 komentar:
Posting Komentar