Pintu kamar kos Fayya diketuk tiga kali. Ketukan yang biasa. Seperti jomblo yang mengetuk rumah ketua RT minta tanda tangan surat keterangan tidak laku. Karena si empunya kamar tak kunjung keluar, kemudian si pengetuk merubah pola ketukan. Pola dangdut. Baru kemudian Fayya membuka pelan pintu kamarnya.
"Ada apa Ol?" tanya Fayya kepada Oli. Sebenarnya namanya Olive. Tapi lebih mudah dipanggil Oli. Seperti Setiawan yang sering dipanggil Wawan.
"Ada bungkusan kecil di dekat pintu gerbang."
"Terus?"
"Mmmm. Ada suaranya juga sih."
"Iya. Terus?"
"Gak apaapa sih cuma mau ngasih tahu aja."
"Oh." Fayya hampir menutup pintu kamarnya lagi. Tapi segera Oli mencegah.
"Eh sebentar. Di bungkusan itu ada nama kamu."
"Namaku? Maksut kamu paket untuk ku?"
"Bukan paketan tapi bungkusan."
"Sama aja Oli."
"Beda. Karena aku sering beli nasi bungkus. Bukan nasi paket."
"Baiklah. Aku akan mengambil paket eh bungkusan itu."
"Tapi hati-hati Fay."
"Kenapa?"
"Ada suara di dalamnya." Olive lantas berlalu begitu saja dan buru-buru masuk ke kamarnya sendiri. Membanting pintu kamarnya dengan keras. Lalu menguncinya dari dalam. Hati.
Fayya menuju ke gerbang. Didapatinya satu bungkusan plastik hitam dengan tulisan 'Kepada: Fayya'. Fayya mengamati lagi tulisan di bawahnya. 'Serahkan ini kepada Kun'. Lalu Fayya mengamati tulisan di bawahnya lagi. 'Jangan terima apabila segel rusak'. Lalu tulisan paling bawah sendiri. 'Cepet serahkan kepada Kun jangan baca aja!'.
Fayya segera mengabari kekasih gelapnya itu. Gelap karena sering berpakaian gelap-gelap alias hitam-hitam. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun datang dengan wajah berseri. Masih dengan model rambut tercerai berai sepundak. Hanya ada yang baru dengan ikat kepalanya. Ada huruf K di tengahnya. Pas di jidat.
"Punya siapa? Balikin!" Fayya merespon ikat kepala Kun yang baru.
"Ini punya tetangga. Ya punya ku sendiri lah."
"Hehehehe. Bercanda sayang. Balikin gih."
"Hhhhh. Bikin gemes aja ni anak."
"Hehehehe."
"Malah nyengir lagi. Biasanya juga aku yang nyengir. Ada apa sih?" Kun bertanya dalam mulut. Bukan dalam hati.
"Ini ada paketan buat kamu. Kalau kata Oli sih bungkusan."
"Tumben. Gak kayak biasanya. Sebentar aku panggil Gagak Rimang dulu. Mang sini Mang! Buruan mang! Tareeekkk mangggg."
"Ada apa Kun?" burung itu sudah bercokol di ranting.
"Ini aku dapat paketan. Kan biasanya kamu yang ngurus paket untukku?"
"Paket? Bentar aku cek dulu. Mmmmm. Hari ini gak ada paket untuk kamu. Yang ada juga untuk Pangeran Tokek sama si Genderuwo."
"Serius? Cek lagi coba?"
"Iya gak ada."
"Terus ini dari siapa dari mana? Udah makasih kalau gitu."
"Gimana Kun?" Fayya bertanya.
Terdengar bunyi aneh dari dalam bungkusan. Seperti detak jantung. Kun mengamati lagi. Bukan. Seperti detik jam. Kun bergegas membuka bungkusan tersebut. Dan yap, it's bomb!
"Apa Kun?" Fayya gemetar.
"Iya ini bomb. Kan udah dibilang di atas it's bomb! Pake tanda seru lagi. Masa kurang jelas sayang." Kun datar. Fayya hampir pingsan. "Udah tenang aja."
"Tapi itu. Waktunya Kun! Waktunya kurang sebentar lagi." Fayya panik.
"Sssttt. Udah gak apaapa." Kun hampir memeluk Fayya.
"Eh! Perjanjiannya kemaren gimana?" Fayya menepisnya. Fayya jadi kiper. Penjaga.
"Oh lupa. Gak boleh meluk ya? Maaf maaf. Biasa di film Korea kan suka gitu. Dikit-dikit meluk. Heee..."
"Iya tapi sekarang gak boleh. Kan kamu sendiri yang bilang sayang. Tiap kali meluk aku energimu malah berkurang. Iya kan?"
"Iya. Karena belum saatnya sih. Maaf lupa. Makasih sayang udah ngingetin. Enaknya diapain yah bom ini?" Kun masih mikir.
"Haduh! Ya segera dijinakkan lah."
"Emang hewan apa dijinakkan?"
"Atau kalau gak segera dibuang kemana gitu kek."
"Bentar yah. Pinjam headsetnya. The Ngi and The Lang! NGILANG!"
Wus wus wus wus!!!
"Maaf ada yang mau bom?" Kun menawari segerombolan Genderuwo yang lagi blind date.
"Whaaaaa!!!!!" Genderuwo itu berhamburan.
"Maaf, serigala botak mau bom?"
"Woy! Mau aku tambah botak apa?" serigala botak itu pingsan.
"Maaf, pangeran Tokek, mau bom?"
"Kamu gila apa! Aku kan ada di kamar Fayya! Tok kek tok kek!"
"Heido! Mau bom gak?"
"Gak." jawab Heido cool sambil membetulkan poni yang lebih panjang daripada lehernya.
"The Ngi and The Lang! NGILANG!"
Kun sampai di tempat yang tidak seorang pun mengetahui. Termasuk Kun. Apalagi Pak Armando. Kun mencoba mendeteksi apa sebenarnya bom itu. Dia mencoba meneliti dengan seksama. Ada dua kabel disana. Yang satu berwarna biru. Yang satu berwarna hijau. Yang satu berwarna kuning. Eh, kan cuma dua. Yang kuning tidak ada. Keringat Kun mengucur deras. Sementara detik waktu terus berlalu. Membuat Kun semakin ngilu. Pilu. Di fikirannya hanya ada biru hijau kuning. Eh yang kuning tidak ada. Hanya biru hijau biru hijau biru hijau. Untuk sesaat Kun memejamkan mata. Benar-benar terpejam dia. Gelap gulita.
"Hei siapa kamu?"
"Aku Kun."
"Bukan. Aku Kun!"
"Aku yang Kun!"
"Bukan! Aku lah Kun yang sebenarnya!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
Kun berhadapan dengan sosok yang sama persis dengan dirinya. Hanya yang satu tanpa huruf K di ikat kepalanya.
"Apa mau mu?"
"Aku mau melawanmu!"
"Melawanku?"
"Iya. Aku mau mengalahkanmu!"
"Baik. Aku mau melayanimu. Kita lihat siapa Kun yang sesungguhnya."
Pertarungan fisik dan non fisik, reguler dan non reguler pun terjadi. Banyak kilatan dimana-mana. Benturan demi benturan terjadi. Saling pukul dan saling tangkis semakin seru layaknya pertandingan bulu tangkis. Bahkan tak jarang battle rap juga muncul. Hingga akhirnya salah satu dari mereka terjatuh.
"Bangun! Dasar lemah! Ayo bangun! Lawan aku!" teriak salah satunya. Yang diteriaki tetap tak berdaya.
"Melawan dirimu sendiri saja kamu tak mampu! Bagaimana kamu bisa menjinakkan bom itu!"
"Ayo bangun!"
Yang diteriaki kemudian berdiri. Pandangan matanya lain. Tenang. Hening. Sunyi. Seribu kali lipat lebih tenang dari sebelumnya. Kemudian serangan bertubi-tubi datang. Yang diserang hanya diam. Seolah menikmati pukulan-pukulan itu. Seolah-olah diam menikmati sakit itu.
"Sudah? Ayo pukul lagi." pintanya.
Kemudian datang lagi beberapa jurus yang menghujam. Yang dipukul malah mengeluarkan sesungging senyuman.
"Serius sudah?"
Sosok Kun tanpa huruf K itupun tiba-tiba menghilang. Kun lantas segera membuka matanya. Dipandanginya bom tersebut. Kun mengelus bom itu sambil berucap lirih.
"Kalau mau meledak, meledaklah. Ledakkan lah dirimu sekeras-kerasnya. Ku temani kau. Aku bersamamu disini." kata Kun sembari memakai headset Fayya.
Blum!!!!!!
Dari kos Fayya menyaksikan kembang api di langit. "Kunnnn....." ucapnya lirih sambil membiarkan air matanya menitih.
Entah ini yang disebut cinta, atau rindu, Fayya lantas mengirim sms kepada Kun.
"Kun, pangeran jelek ku, serigala jinak ku, kamu gak apaapa kan sayang?" Fayya lunglai antara bahagia dan sedih. Karena merasa sudah dilindungi sedemikian rupa dan dengan tiba-tiba ditinggal sedemikian rupa juga. Namun sms itu pending. Fayya semakin menangis sejadinya.
Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian hape Fayya berbunyi ada nomer asing disana,
"Karena aku gak boleh meluk kamu, jadi aku peluk bom tadi. Aku kira bisa jinak, eh tak tahunya tetep meledak. Tapi kalau kamu mau nanti, silahkan pakai bahuku, karena aku tak bisa bersandar pada bahuku sendiri. Hehehe. -Kun-"
"HEH! Gak boleh deket-deketan tahu!!!" balas Fayya tertawa haru.
Dan malam itu pun berakhir dengan adegan 'cukup smsan saja'.....
0 komentar:
Posting Komentar