Rabu, 04 Januari 2012

Kun Si Dukun #Gagak Rimang

Seekor gagak hinggap di gelas. Gagak itu seram, cool, dan agak cuek dengan atribut kehitamannya. Gelas berisi air kembang, es teh milik Kun sejenak bergetar hebat. Kun mencoba berkomunikasi dengan gagak itu. Gagak Rimang.

"Ngapain?" tanya Kun polos.
"Undangan sob."
"Undangan apalagi?"
"Dari alumni pertapaan Batu Payung sob."
"Perihal?"
"Temu kangen sob."
"Eh kamu gagak Rimang bukan?"
"Iya sob. Gagak yang bertugas dalam hal surat menyurat sob."
"Bukannya merpati biasanya?"
"Merpati sudah gak aktif sob. Mereka ikut industri penerbangan dan surat menyurat sob. Merpati airline dan Pos sob."
"Mana undangannya?"
"Nih sob. Sob sini ada air kembang sob?"
"Ada. Itu di gelas yang kamu tongkrongin."
"Bukannya teh sob?"
"Air kembang. Teh sama kembang melati. Cobain deh."
"Wah seger juga sob. Recomended sama teman-teman di pertapaan Batu Payung sob. Seger bener sob."
"Eh ini untuk alumni yah? Aku belum pernah sekalipun ke pertapaan batu payung itu? Gimana? Gak salah ini undangannya?"
"Gak tuh. Bener kok. Ada nama kamu disitu."
"Ini kapan?"
"Sepuluh menit setelah kamu baca undangan ini sob. Langsung ke lokasi. Lokasinya sesuai yang tertera di undangan. Datang aja. Ada doorprise nya sob. Aku pamit dulu sob. Yuks!"
"Thanks gagak Rimang. Eh Rimang artinya apa yah?"
"Rimang sob! Rindu Ditimang!" gagak Rimang berlalu mengepakkan sayap hitamnya. Gagah. Mistis. Eksotis.
.......

Kun clingak-clinguk. Rame juga ternyata. Banyak dari alumni pertapaan batu payung yang datang ke acara pertemuan ini. Dia sangat asing dengan wajah-wajah yang ia temui. Seseorang mencolek bahunya dari belakang.
"Nak, jangan percaya dengan apa yang kamu lihat. Ini bukan wajah asli mereka."
Kun menoleh.
"Oh, terus, apa gunanya pertemuan ini?"
"Ini hanya untuk membahas hal-hal kecil yang sedang terjadi di dunia luar sana. Simak saja dan kau akan mengerti."

Lantas muncul sesosok orang berjubah hitam diatas podium.
"Siapa itu?" tanya Kun.
"Itu Gagak Rimang."
"Oh pantesan doyan es teh. Manusia juga ternyata dia. Kirain burung."
"Emang pernah ketemu?"
"Pernah. Dia sendiri yang ngundang aku kesini. Nyamar jadi burung lagi. Gak matching lagi. Masa gagak nganterin surat."

Dari podium muncul suara.
"KUN! Maju kesini!" Gagak Rimang memanggil Kun. Kun segera melesat. Kun berdiri di podium. Mukanya datar.
"Perkenalkan ini Kun!" kata gagak Rimang. Hadirin manggut-manggut.
"Sudah kembali lagi ke tempatmu tadi."
"Sudah? Cuma gitu aja? Kirain apaan?" Kun merasa dikerjain secara kekeluargaan.
"Sudah. Selamat menikmati jamuan-jamuan disini."
"Ealah."

Kun berkeliling sambil saling sapa. Terlihat beberapa dukun wanita yang sedang membicarakan proses kelahiran bayi di sudut dekat pintu. Di tempat lain Kun melihat kerumunan dukun yang membahas bumbu dan resep masakan. Selain itu Kun juga menemukan gerombolan lima orang yang sedang bercakap tentang mobil-mobil produk lokal. Kun merasa tertarik. Kun mendekati mereka. Kun menyimak pembicaraan mereka.
"Levitasi!" kata salah satu dari mereka semangat.
"Iya. Pakai teknologi jadul aja! Levitasi. Bener itu." tanggap yang lain.
"Nanggung kalau cuma bikin mobil nasional lagi. Sekalian bikin mobil yang bisa terbang!" teriak yang lain.
"Sip besok kita bikin rancangannya." yang lain tak kalah bersemangat.
"Manfaatkan tenaga angin! Kita namai pesawat mini ini dengan Gagak Rimang! Setuju?"
"Yeaayyyyy!!!" yang lain antusias mengangkat cawan.

Kun senyum-senyum sendiri. Dia melirik lagi kerumunan dukun wanita yang membahas proses kelahiran bayi tadi. Ada yang cantik disana. Senyumnya manis. Namun baru akan melangkahkan kakinya, wajah imut Fayya muncul di hatinya. Ah, masa dukun pacaran sama dukun, batin Kun. Kun pergi ke kantin Mbok Sum. Ada Fayya disana. Ber-headset
Share:

0 komentar:

Posting Komentar