Sabtu, 07 Januari 2012

Kun Si Dukun #Kenangan No.1

Ini malam Jum'at. Hari yang tepat bagi Kun untuk mengajak Fayya jalan-jalan. Bosan tiap nge-date cuma di kantin Mbok Sum dan kandang sapi belakang kampus. Menghirup udara kota, berjalan saling bergandengan tangan, mesra sepertinya. Lampu taman remang-remang menawan. Bintang tetap berpijar. Rembulan tertawa riang. Namun Kun merasa ada yang kurang. Fayya tak mau melepas headset-nya.
Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terlontar. Seolah menikmati, entah itu kehangatan atau justru keterpisahan. Mereka dekat, tapi headset menjadi semacam batu karang penghalang. Kun tetap tersenyum mencoba menerima segala kelebihan dan kekurangan Fayya seperti yang pernah terucap saat mereka belum jadian dulu. Janji adalah janji. Janji adalah uji.
Sembari menikmati malam, Kun berinisiatif untuk membeli ubi bakar seberang jalan. Ubi bakar mirip makanan khas pertapaan Batu Payung. Telobakar. Semoga Fayya suka. Harap Kun dalam hati.

"Bang dua yah."
"Dua? Rasa?"
"Mmmm, ada apa aja?"
"Rumput laut ada. Sapi panggang ada. Coto Makasar ada. Gudeg Jogja juga ada. Atau yang biasa, asin pedas?"
"Mmmm, asin pedas aja deh dua."
"Makan sini apa bungkus?"
"Sini aja deh."
"Minum?"
"Gak deh bang. Udah bawa sendiri."
"Itu pacarnya telinganya gak sakit ditempelin gituan?" tanya abang penjual ubi bakar keliling.
"Oh. Ini sudah biasa bang. Gak papa kok."

Suasana sepi. Hanya ada Kun, Fayya, dan abang penjual ubi bakar. Aroma ubi bakar menghambur. Fayya merem sambil manggut-manggut disamping Kun. Hidungnya juga ikut bergerak merespon aroma ubi bakar yang khas. Tiba-tiba dari arah yang tak terduga muncul seseorang berpakaian putih. Dia berlari ke arah Fayya dan menyambar tas Fayya. Tapi ternyata bukan tas yang didapat melainkan headset Fayya.

"COPET!!!" Fayya berteriak. Abang penjual ubi bakar kaget meloncat. Kun datar. Secepat kilat orang tadi menghilang. Headset Fayya raib. Fayya menangis tersedu.
"KUN! Kenapa kamu gak mengejar copet itu!" Fayya marah hebat. Dua kali lipat lebih hebat dari biasanya.
"KUN!" Fayya menggoncang tubuh Kun. Kun diam saja. Air mukanya rata.
"KUN! Aku kecewa sama kamu! Cowok macam apa kamu! Alien darimana kamu! Makhluk apa kamu! Spesies apa kamu! HA! Ngomong dong! NGOMONG!" Fayya marah makin lebat. Abang penjual ubi segera bergegas pergi takut terkena cipratan darah dari perkelahian ini.
"Fayya," kata Kun lembut. "Seberapa berarti headset itu buat kamu?"
Fayya mulai menurunkan volume tangisannya. Dengan nafas sedikit tersengal, Fayya bicara.
"Itu headset kesayanganku."
"Hanya itu alasannya?"
"Bukan. Ada lagi."
"Apa?"
"Itu headset peninggalan kakakku yang sudah meninggal. Dengan itu aku bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaanku sambil mengenang wajah kakakku tanpa aku harus terganggu dan mengganggu orang lain." Fayya menyandarkan kepalanya ke dada Kun. Kun memeluk Fayya.
"Fayya. Kenangan itu boleh kamu tempatkan dimana aja. Lagu, film, cokelat, bau parfum, baju, buku, atau dimanapun sesuka hatimu. Kenangan itu cara kita untuk berbaik-baik dengan masa lalu. Sekarang Fayya, bolehkah aku menjadi kenanganmu yang nomer satu diantara sekian kenanganmu yang ada kelak? Aku mengajukan diri dari sekarang."
"Jangan pergi Kun." pelukan Fayya semakin erat.
"Gak kok. Ini ubi bakarnya makan dulu. Gak usah sedih lagi yah." jawab Kun sambil memakai headset kesayangan Fayya. Fayya segera merebut headset itu lagi. Kun menatap gemerlap bintang di angkasa. Ada bintang jatuh disana. Oh bukan. Itu copet tadi yang terlempar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar