Kun mondar-mandir lagi.
"Duduk kenapa?" tanya Fayya.
"Bukan gitu Fay. Masih ingat sama Sandra?"
"Sandra....Sandra, Sandra yang mana Kun? Sandra jepit?"
"Ealah. Kamu memang benar-benar cantik deh. Sandra yang kemaren itu, yang mau ikut audisi idol-idol itu lho. Masa lupa seh?"
"Idol? Pasta gigi bukan?"
"Itu odol sayang. Idol di tivi itu. Yang merebutkan hadiah 100 juta itu lho. Kamu pernah liat tivi gak seh?"
"Untuk apa aku liat tivi. Sedang wajahmu sudah tergambar jelas di hatiku..."
Kun menyublim.
"Duduk gih." Fayya berhasil menjinakkan Kun. Kun duduk. Hatinya sendu. Kun menyublimkan diri.
"Emang kenapa dengan Sandra?" Fayya mengelus rambut Kun yang gondrong sepundak.
"Kemaren dia ngotot banget minta susuk sama aku. Susuk yang bisa meningkatkan aura wajahnya. Biar para juri meloloskan dirinya ke babak final."
"Terus udah kamu kasih?"
"Belum seh Fay. Makanya aku bingung tadi. Dikira kita distributor susuk apa."
"Kamu lagi gak ada stock susuk?"
"Dari dulu aku mana punya susuk gitu. Kakek gak pernah mengajariku bab susuk menyusuk."
"Kalau kamu gak punya susuk, kasih aja susuk sapi."
"Itu susu sayang, bukan susuk." Kun mencubit pipi Fayya. Kun gemes.
"Lepasin gak? Kalau kamu gak lepasin tangan kamu, aku pakai headset nih." Fayya mengancam untuk berubah menjadi siluman headset. Kun segera melepas tangannya dari teritorial pipi Fayya.
"Eh susuk sapi boleh juga tuh." Kun mendapatkan ide.
"Kumat deh ngawurnya."
"Fayya, kamu hebat. Kamu bakat juga jadi dukun."
"Emang kamu dukun?" Fayya menggoda Kun.
"Mmmm, kasih tahu gak yahhh...."
"Siapapun kamu, bukan masalah untukku." kata Fayya mengusap pipi Kun. Ada nyamuk disana. Mereka larut dalam cinta. Di depan kandang sapi belakang kampus.
........
Sandra datang lagi menemui Kun di kantin Mbok Sum. Fayya tak ber-headset. Sekarang Kun yang ber-headset.
"Kun!" Sandra kegirangan. Kun cuek. Merem sambil manggut-manggut. Fayya menatap Sandra sambil memberi isyarat untuk duduk.
"Urusan Kun, aku yang handle. Ada apa?" tanya Fayya tegas. Bergas namun tak beringas.
"Susuk. Aku minta susuk seperti yang dijanjikan Kun kemaren." kata Sandra tak kalah tegas. Maklum mantan paskibra semasa SMA.
"Nih." Fayya memberikan cairan kental berwarna putih dalam sachet.
"Gak yakin aku." Sandra manyun.
"Gak percaya?"
"Iya. Aku mengajukan mosi tak percaya. Harus Kun sendiri yang memberikan. Bukan kamu."
"Gak percaya?"
"Iya."
"Silahkan pulang." Fayya lebih tegas. Sandra berpikir ulang.
"Baiklah." Sandra menerima itu.
"Aturan pakainya, seduh dengan air hangat. Minum sehari sebelum audisi."
"Ini beneran susuk?" Sandra masih tak yakin.
"Sudah pernah lihat susuk sebelumnya?" tanya Fayya.
"Belum." Sandra menggeleng.
"Belum kenapa ngeyel? Itu namanya susuk sapi. Disebut sapi karena warna putihnya. Biar wajahmu memancarkan aura seputih kulit sapi."
"Oke deh kalau begitu. Makasih. Salam buat Kun."
"Baik. Akan ku sampaikan salam darimu. Maaf, Kun sedang gak bisa diganggu. Dia sedang merapal mantra. Tuh lihat sampai merem kayak gitu."
Sandra berlalu. Fayya mencolek paha Kun. Kun membuka mata. Fayya mengerlingkan mata.
......
Di rumah Sandra. Seorang anak kecil berlari menuju gelas berisi cairan warna putih. Diambilnya gelas itu, lau diminumlah cairan di dalamnya. Sandra mengetahui hal itu dan membentak adiknya yang masih imut.
"Hey! Jangan diminum! Itu bukan untuk anak kecil!" Muka Sandra memerah melihat susuk yang baru ia buat diminum oleh adiknya
"Maap Kak Candela, cucunya enyak." adik kecil itu ketakutan sampai seluruh tubuhnya menggigil hampir saja pingsan.
"Susuk itu, senyum tulus dari dalam hatimu...." Sandra membaca tulisan yang tertera di sachet yang akan dibuang ke tempat sampah. Sandra merangkul adiknya. Segera. Kun dan Fayya berduaan di depan kandang sapi belakang kampus.
......
0 komentar:
Posting Komentar