Kantin Mbok Sum.
"Kun, ini kan gini yah. Temen-temen pecinta alam mau naik ke gunung. Nah masalahnya, kami belum punya referensi, gunung mana yang cocok buat kami daki dan taklukkan. Kun punya?"
"Ini kenapa tanya aku yah?"
"Kan situ suka bertapa menyendiri di gunung-gunung kan?"
"Apaan? Siapa yang bilang! Suruh sini orangnya!"
"Kun, tenang Kun. Rumornya sih gitu Kun. Kita-kita kan cuma mau cari tahu sekaligus klarifikasi Kun."
"Oalah. Gini ya mahasiswa-mahasiswa yang budiman. Kakek saya mengajarkan kepada saya untuk tak perlu bertapa di gua atau gunung-gunung. Kakek sudah memberikan petuah kepada saya, kalau mau bertapa, silahkan cari tempat di rumah sakit jiwa saja. Waktu kecil saya memang dilarang untuk kesana. Kata kakek saya, RSJ itu memiliki aura galau. Itu pada waktu saya kecil. Saat saya beranjak gede, kakek saya malah menyarankan untuk bertapa disana. Jadi kalian kalau mau tanya gunung jangan sama saya teman-teman mahasiswa yang budiman."
Temen-temen mahasiswa yang budiman itu melongo. Sebenarnya Kun itu makhluk dari alam mana?
"Woy! Bengong lagi!"
"Oh, gini Kun. Kami cuma mau minta pertimbangan kamu. Enaknya gunung mana gitu? Temen-temen sih sudah ada rencana mau ke Bukit Penoreh. Tapi katanya disana tempatnya angker. Sering memakan korban."
"Aduh!" Kun menepuk jidat. Jidatnya nyamuk.
"Menurut Kun gimana? Kami mohon Kun untuk melakukan penerawangan."
"Minta es teh tawar sama Mbok Sum."
"Mbok Sum es teh tawar."
"Nih."
Byur! Kun mengguyur salah satu perwakilan mahasiswa.
"Kun kenapa Kun!" mahasiswa itu berdiri mau marah.
"Duduk!" gertak Kun.
Mahasiswa itu kemudian duduk. Mukanya masih cemberut.
"Gak usah marah. Dengar omonganku baik-baik. Kalau perlu dicatet. Gunung, laut, hutan, itu tidak ada yang angker! Ngerti! Mereka itu unsur-unsur yang menyimpan berbagai suplai energi untuk bumi. Kalau kamu ingin kesana, kesana saja. Kalau kamu tidak punya maksut buruk, maksut merusak, mereka akan senantiasa menyambutmu dengan penuh senyum. Kamu bisa bermain-main dengan gulungan ombak. Kamu bisa bersua dengan batu-batu gunung. Kamu juga bisa menghirup oksigen dengan sebebas-bebasnya di hutan. Itu kenapa dulu sangat dianjurkan untuk pergi ke tempat-tempat seperti itu, untuk bertapa untuk merenung! Ngerti!"
"Mitosnya...."
"Apaan? Justru dimana ada banyak manusia, disitulah tempat yang angker. Angker itu kan menimbulkan rasa takut. Jadi tempat-tempat yang membuat dirimu takut, menimbulkan ketidaknyamanan jasmani rohani mu, itulah angker. Gak harus, gunung, laut, dan hutan kan? Orang di kampus sini saja kamu sering ketakutan sama dosen-dosen. Di kantor sering ketakutan sama atasan. Betul?"
Semampai lekuk tubuh Fayya mendatangi Kun. Dia hanya tersenyum sambil mengerlingkan mata kepada Kun kemudian berlalu. Kun bergegas berdiri dan menyusulnya.
"Kemana Kun?" tanya mahasiswa itu.
"Menyusul Fayya. Aku takut kehilangan dia meski untuk sekejap mata."
"Berarti tempat ini juga angker buatmu Kun?"
"Peduli amat......."
0 komentar:
Posting Komentar