Minggu, 25 Desember 2011

Kun Si Dukun #Trio Merah Delima

Kantin Mbok Sum terguncang hebat. Gempa kecil membuat para pengunjung pingsan seketika. Kecuali Mbok Sum dan Kun. Fayya masih kuliah. Ber-head set.

"Kun. Urus tuh temanmu." kata Mbok Sum datar. Kedatangan tiga orang berpakaian seragam mirip boy band tak membuat mbok Sum kaget. Ini sudah biasa. Mbok Sum paham, kalau yang aneh-aneh pasti ada sangkut pautnya sama Kun.
"Siap mbok."
"Jangan rusak kantin mbok lho."
"Siap."
"Kalau berkelahi cari tempat yang agak keren. Jangan di kantin. Kurang garang. Apalagi background nya mbok lagi ngaduk teh."
"Siap Mbok."

"Kun!"
"Kun!"
"Kun!"
Tiga orang itu memanggil dengan suara satu dua tiga. Alto tenor sopran. Sopran santun. Dengan jarak sepersekian detik hingga terjadilah efek delay.
"Yups!" jawab Kun sambil meregangkan otot-ototnya.
Tiga orang berkacamata itu melangkah bersama. Membuat sedikit gerakan-gerakan dance. Koreografi cantik. Gagah tapi cantik. Kecantikan yang gagah. Make upnya sedikit terlalu tebal di bagian mata.

"Kami TRIO MERAH DELIMA!" Jeng jeng jeng.
"Dan maksut kalian mau...." Kun tetap santai.
"Iya. Kami mau menantangmu bertarung."
"Baiklah. Tapi jangan disini. Ikuti aku. The ngi and the lang. NGILANG!"
Wush! Wush! Wush! Wush!
Ketiganya menyusul Kun yang menghilang seketika itu juga.

Rumah Sakit Jiwa. Kun memilihkan tempat yang strategis untuk bertarung. Kun sampai terlebih dahulu. Sedetik kemudian Trio Merah Delima menyusul.
"Jarak dekat atau jarak jauh?" tantang Kun.
"Jarak dekat!"
"Lima ribu!"
"Jarak jauh?"
"Nambah dikit. Tujuh ribu lima ratus."
Ketiganya berbisik-bisik.
"Oke. Jarak jauh!" mereka mengumpulkan duit dari saku masing-masing.

Kun mengambil jarak. Tujuh kali hentakan kaki ke tanah. Dan Kun siap meladeni trio lulusan akademi boy band Indonesia itu. Tiga orang itu membentuk formasi segitiga. Dua di tanah dan satu terbang. Kun segera menghimpun tenaga dan mengucap mantra.

"Angin angin angin. Ini ilmu angin bukan ilmu angin-anginan. Angin angin angin mendekatlah! Maka kalian akan MASUK ANGIN!"
Wush wush wush!!! Batu, tanah, sapi, rumput, dua pasien, dan satu suster berkerudung ikut terangkat.

Tiga orang itu juga tak mau kalah. Ketiganya mengucap mantra dan muncul sinar merah dari tubuh mereka.
"Kami Trio Merah Delima. Saksikan kesaktian kami, hanya di RSJ tivi! Hiyattttt!!!!"

Bola api besar datang ke arah Kun. Tujuh kali hentakan tanah. Angin berhasil membentengi Kun dan membuat bola api itu jauh terpental melewati lapisan atmosfer dan padam. Mereka melakukannya lagi tapi masih gagal. Lalu ketiganya mencoba melakukan pertarungan jarak dekat dengan Kun. Namun masih percuma. Angin yang melindungi Kun terlalu kuat. Mereka terus berusaha menembus barikade angin. Lagi lagi percuma. Selalu terpental dan terhempas.

Dari kejauhan ada dua orang dokter cantik melihat peristiwa itu.
"Dok lihat deh. Itu pasien darimana lagi sih?"
"Empat orang itu yah?"
"Hu'um."
"Bentar saya cek di buku ini dok. Mmmm, gak ada tuh dok. Pasien baru mungkin dok."
"Iya. Mungkin sih. Eh dok gimana kabar selingkuhan situ?"

"Sekarang aku rasa saatnya giliranku." Kun menghempaskan tubuh mereka. Blas!!! Bug Bug Bug! Trio Merah delima jatuh tersungkur. Mereka tak bisa bangun. Ketiganya sulit melakukan pembangunan.

Dengan senyum datar Kun mendekati mereka.
"Apa yang kalian pakai? Jimat merah delima?" tanya Kun. Trio itu kompak mengangguk. Meski sakit, kekompakan harus tetap dijaga.
"Tahu aturan pakainya?" tanya Kun sekali lagi. Trio itu kompak menggeleng.
"Merah delima itu kasiatnya akan hilang kalau kalian bawa ke tempat yang memiliki energi lebih besar dari merah delima itu. Atau dengan kata lain, bahwa tempat ini juga memiliki energi merah delima yang jauh lebih besar daripada yang kalian miliki. Paham?" Kun memberikan kultum. Kuliah tujuh menit. Ketiganya masih menahan sakit sambil saling tatap.

"Orang gila itu memiliki energi yang luar biasa melebihi energi merah delima. Pukul mereka. Siksa mereka. Mereka tetap akan tertawa. Kalaupun mereka menangis, itu bukan karena merasakan sakit. Mereka menangis karena, mengapa orang-orang sewaras kalian tega menyiksa dan menyingkir-nyingkirkan mereka yang kalian anggap tidak waras." Kun tersenyum. Tatap matanya kosong.

Mereka tidak tahu. Bahwa Kun masih memiliki hubungan kuat dengan RSJ ini. Maka tidak heran jika Kun begitu kuat. Istilahnya menang kandang. Kun sendiri juga belum mengetahuinya.
"The ngi and the lang! NGILANG!" Kun kembali ke kantin Mbok Sum. Fayya sudah menunggu. Fayya ber-head set.

Lalu datang enam pegawai RSJ mengangkut Trio Merah Delima. Bagai medis yang mengangkut pemain sepak bola yang cedera. Lalu mereka memasukkan ketiganya ke kamar masing-masing.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar