Rabu, 21 Desember 2011

Kun Si Dukun #Manusia Anus

Pertapaan Batu Payung. Tempatnya subur. Tempatnya tentram. Tempatnya mendukung keluasan-keluasan untuk berpikir. Tempat yang melahirkan Pemayung-Pemayung kehidupan. Ngat, begitu nama ini sangat disanjung oleh penghuni pertapaan batu Payung. Seorang wanita dari trah Syech Jangkis yang biasa disebut dengan Umbrella Girl. Justru Ngat, yang memiliki tingkat keilmuwan paling rendah di antara penduduk pertapaan Batu Payung. Ngat seperti manusia kebanyakan. Dia tidak bisa menghilang. Dia tidak bisa terbang. Dia tidak bisa mengendalikan angin. Dia juga tak mampu membaca kitab-kitab dari leluhurnya sendiri. Kitab yang paling best seller ialah kitab-kitab karangan Syech Jangkis. Dia penulis ulung. Rangkaian kata-katanya berisi banyak rahasia-rahasia keilmuwan. Dan Ngat, adalah Ibu Kun yang sekarang terpisah jarak. Kun berada di kampus. Ibunya di pertapaan Batu Payung.
....

Di kantin Mbok Sum, Kun sedang menerima pasien. Seorang mahasiswi cantik. Kun sudah terbiasa menghadapi berbagai macam orang. Jadi dia datar. Meski genitnya suka muncul kadang-kadang. Di samping Kun ada Fayya. Ber-headset.

"Kun." mahasiswi itu merengek.
"Iya cantik. Kenapa?"
"Begini Kun. Aku kan cantik ya. Tapi kenapa jomblo. Sedangkan kamu Kun, kamu jelek tapi kok kamu gak jomblo?"
"Jomblo atau bukan, tidak ditentukan oleh kualitas wajahmu. Jomblo dan bukan itu masalah sikap dalam memilih dan konsisten dengan pilihan itu dengan mempertimbangkan berbagai resiko yang dihadapi ke depannya."
"Gak paham Kun." mahasiswi itu manja.
"Kamu rasa lebih bahagia mana? Jomblo apa tidak?"
"Mmmm, kalau lihat orang lain enak tidak jomblo."
"Jangan lihat orang lain. Ukuran dirimu itu bukan didasarkan penilaian orang lain. Yang paling mengenali dirimu harus dirimu sendiri."
"Aku mau punya pacar Kun. Tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Aku belum boleh pacaran sama Mama ku."

Seketika Kun cengeng. Air matanya terjun bebas mendengar kata 'mama'. Rindunya menyeruak. Sudah sejak kecil dia belum diperbolehkan untuk bertemu ibunya. Kun kecil selalu bersama kakeknya. Memang seperti itulah leluhur mereka mendidik Kun.

"Kun? Kelilipan?" tanya mahasiswi itu. Fayya melihat Kun. Fayya memberikan tisu sambil manggut-manggut. Fayya ber-headset.
"Iya. Gak papa. Kecoak masuk mata."
"Terus gimana Kun? Punya mantra untuk meluluhkan hati mama ku?" mahasiswi itu masih merengek.

Kun mengambil secarik kertas dan pena kemudian ditulislah dua kata. Manusia Anus. Mahasiswi itu melongo, mukanya aneh.

"Manusia Anus? Apa maksutnya Kun."
"Itu ajian baru. Fresh open. Manusia Anus. Mantranya, anus, anus, anus, lalu sebut nama mama mu. Ucapkan tiga kali sehari. Lebih mujarab lagi, ucapkan kalau mama kamu sedang memberi nasehat. Dimanapun tempatnya dan kapan saja. Mudah-mudahan dalam dua hari nanti terjadi perubahan." kata Kun sambil menyeka air matanya sendiri.

Mahasiswi itu pergi. Mulutnya bergerak-gerak sendiri. Kun melanjutkan aktivitasnya. Download film Korea. Fayya tetap ber-headset ria sambil manggut-manggut tentunya.
......

Dua hari kemudian mahasiswi manja itu datang lagi. Wajahnya ceria. Sepertinya membawa kabar gembira. Kabar keberhasilan meluluhkan hati mamanya.

"Kun!!!" mahasiswi itu memeluk Kun. Fayya melirik. Kun segera melepaskan pelukan.
"Maaf, siapa ya?" tanya Kun. Saking banyaknya, Kun sering lupa dengan orang-orang yang pernah curhat denganya.
"Aku yang kamu beri ajian manusia anus."
"Manusia anus? Apalagi itu?" Kun juga lupa dengan apa yang dikerjakannya.
"Manusia anus! Jomblo jomblo!"
"Oh, iya kenapa?" Kun coba mengingat.
"Aku lagi bahagia Kun. Aku bahagia meski aku jomblo Kun. Aku bahagia Kun. Makasih ajiannya. Aku ngerti Kun, Anus itu kan artinya Aku Nurut Selalu kan? Bener kan? Ajianmu membuat aku menyadari satu hal paling penting dalam hidupku. Yaitu menghargai nasehat mama ku, ibuku. Anus, anus, anus, Mama. Anus, anus, anus, Mama. Aku Nurut Selalu, Aku Nurut Selalu, Aku Nurut Selalu Mama....." Mahasiswi itu menitihkan air mata bahagia.

Kun menitihkan air liur. Mana ada ajian manusia anus, apalagi itu, batin Kun bingung. Fayya tetap ber-headset ria.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar