Minggu, 25 Desember 2011

Kun Si Dukun #Pemantra Libay dan Siluman Headset

Alkisruh, Kun sedang berkelahi hebat dengan Fayya. Kalau Fayya sudah cemberut semua kemampuan Kun seolah sirna begitu saja. Yang bisa dilakukan hanyalah mencari cara bagaimana meluluhkan hati Fayya. Dan jika sudah seperti ini, kakek Kun menjadi sasaran luapan kebingungannya.

"Kakekkk." Kun menangis.
"Fayya?"
Kun mengangguk sambil sesenggukan.
"Kenapa lagi?" tanya kakek.
"Fayya marah kek. Katanya aku gak selektif kalau menerima pasien. Aku dituduh selingkuh sama gadis berkerudung hitam kek."
"Gak biasanya Fayya cemburu Kun?"
"Kun juga gak tahu kek. Mungkin gara-gara bulu matanya rontok lagi. Kalau Kun gak minta maaf, dia akan mengutuk dirinya sendiri menjadi siluman headset seumur hidup kek. Tapi bagaimana mau minta maaf kalau headsetnya gak dilepas dari kuping." Kun masih menangis.
"Siluman headset?"
"Iya kek. Dia akan terkena kutukan headset lalu menjadi siluman headset selama-lamanya kek."
"Kutukan headset? Sebentar kakek cari di kitabnya Syech Jangkis. Ada gak ya kutukan headset itu?"
"Aduh kakek. Kutukan headset itu, selama hidupnya ia akan memakai headset terus alias dia gak bakalan mau mendengarkan semua ocehan Kun kakek. Mana ada di kitab Syech Jangkis kek."
"Oh. Pernah dengar Pemantra Libay?"
"Pemantra Libay?" leher Kun menjulur.
"Yups. Pemantra Libay."
"Siapa kek?"
"Dia adalah pemilik mantra-mantra hebat. Rumahnya menempel di sebuah tembok raksasa. Di pertapaan Batu Payung kitabnya juga menjadi best seller. Dia teman akrab Syech Jangkis dulu. Coba kamu cari tahu tentang Pemantra Libay."

Segera Kun mencari info seputar Pemantra Libay. Segala kitab diubeg-ubeg. Segala pameran buku diobok-obok. Kun keluar masuk toko buku. Baik bekas maupun new arrival.  Kun menepuk jidatnya sendiri. Kenapa dia tidak sekalian saja pergi ke pertapaan Batu Payung. Tapi dimana pertapaan Batu Payung itu. Selama ini dia hanya mendengar dari cerita kakeknya saja. Lalu Kun nekat menggunakan ilmu ngilangnya namun sia-sia saja. Dia tak pernah sampai di pertapaan Batu Payung.

Waktu sudah cukup pekat. Informasi tentang Pemantra Libay belum didapat. Kun harus mencari air kembang. Es teh. Kun berhenti di sebuah warung. Remang-remang nama warung itu. Warung yang menjual rendang juga nyaman untuk bergoyang karena ada musik yang berdendang.

Baru saja Kun mau memasuki warung itu tiba-tiba ada seseorang keluar dari warung dan menabraknya. Brug!!! Kun terjatuh. Orang tua itu juga terjatuh kemudian bangun dan berjalan sempoyongan sambil melirik Kun.

"Pergi! Dasar pemabuk!" teriak si empunya warung

Dompet pemabuk itu jatuh. Hati Kun berkata lebih baik ia mengikuti kemana pemabuk itu pergi. Diikutilah pemabuk itu. Diikuti dalam arti yang sebenarnya. Kalau pemabuk itu jatuh, Kun menjatuhkan diri. Kalau pemabuk itu meludah, Kun meludahkan ludah. Kalau pemabuk itu nge-dance ala boyband Korea, Kun juga.

Pemabuk itu menghilang lalu seketika muncul di belakang Kun. Kun tahu, lalu ganti Kun yang menghilang dan muncul di belakang pemabuk itu.
"Sial! Hebat juga bocah ini." kata pemabuk itu.
"Maaf, dompet anda terjatuh tadi." kata Kun sambil mengulurkan dompet. Bukan mengulurkan lidah.
"Kamu baik sekali bocah. Sebagai imbalannya, terimalah ini." Pemabuk itu memberi Kun secarik kertas. Dari daun lontar sepertinya.
"Apa ini? Biasanya duit? Kok ini kertas?" Kun matre.
"Buka setibamu di rumah. Sekarang pulanglah." kata pemabuk itu sempoyongan.
"Sebentar sebentar. Anda mau menghilang?" tanya Kun.
"Iya. Kenapa?"
"Baiklah. Sebagai bentuk penghormatan, saya akan memejamkan mata. Sudah. Sekarang anda silahkan menghilang." kata Kun.
"Bocah edan!" bentak pemabuk itu.

Begitu Kun membuka mata, pemabuk  itu sudah tidak ada. Hanya ada bekas roda becak yang melintas.

Setibanya di rumah Kun membuka kertas itu perlahan-lahan. Slow motion. Slow but sure. Slow down baby.

Angin angin ingin, jangan kau benci angin karena ia pengarah ingin
Air air pikir, jangan kau benci air karena ia pengalir pikir
Tanah tanah rumah, jangan kau benci tanah karena ia sejatinya rumah
Api api mati, jangan terus kau turuti karena ia bisa meledakkan diri
(Libay, 775 SM)


Mulut Kun menganga. Dari kejauhan kecoak sudah mengincarnya. Kun terharu membaca tulisan itu. Karena itu adalah tulisan keramat Pemantra Libay. Dia membaca berulang-ulang semalaman. Dan berharap esok pagi ada perubahan yang signifikan pada diri Fayya.
..........

Di kantin Mbok Sum.
Kun duduk di hadapan Fayya. Fayya ber-head set.
"Fayya. Kun akui memang Kun salah. Kun akui Kun memperlakukan gadis berkerudung hitam itu tidak seperti pasien yang lain. Kun seperti itu karena dia dari keluarga yang kurang harmonis. Dia butuh perhatian yang lebih Fay."
Fayya tetap manggut-manggut cuek menikmati alunan musik dari headset.
"Fayya. Kalau kamu begini terus, aku bisa kacau Fay. Aku bisa....Fay, tolong dengarkan aku dan lepas headsetmu. Aku tak mau kau benar-benar menjadi siluman headset Fay. Aku mengaku salah dan aku minta maaf Fay." Kun cengeng lagi.
Lalu keajaiban pun terjadi. Fayya melepas headsetnya sambil tersenyum dan mengusap air mata Kun. Mata Kun bocor mengeluarkan air.

"Kun. Mengakui kesalahan adalah bagian dari proses mencintai." Fayya menjelaskan secara ilmiah wal akademiah. Mata Kun masih bocor.
"Lalu Fay?"
"Kun. Memaafkan juga bagian dari proses mencintai itu sendiri." Fayya tersenyum manis. Tidak cemberut kecut lagi.
"Kesimpulannya Fay?"
"Kau akui kesalahanmu. Aku memaafkanmu. Kau mencintaiku, aku............"
Kun memeluk Fayya padahal kalimat itu belum selesai terucap tanpa diketahui apa makna dibaliknya.

"Terima kasih Pemantra Libay...." Kun dan Fayya mengucapkannya secara bersamaan. Mereka lantas melepas pelukan dan saling tatap. Tatapan heran. Itu orang kenapa bisa terkenal, batin mereka bersamaan juga.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar