Mbok Sum, penjual di kantin tempat Kun biasa mangkal menerima 'pasien' hari ini memberikan diskon gede-gedean untuk para pelanggannya. Es teh manis untuk hari ini gratis. Pas sekali karena es teh adalah minuman favorit Kun. Jadi dia bisa buka praktek seharian di kantin tanpa membayar.
"Nak Kun."
"Iya Mbok."
Saat ini kantin masih sepi. Mbok Sum heran. Dia sudah menulis kata diskon dengan CAPSLOCK namun pengunjung jarang yang datang. Baru lima orang saja termasuk penghuni tetap meja sudut. Kun.
"Kamu merasa ada yang aneh gak nak Kun?"
"Gak mbok. Biasa saja."
"Angin?"
"Angin sekitar sini masih stabil mbok. Mondar-mandir utara-selatan. Kenapa mbok?"
"Tapi kok dagangan mbok sepi ya? Padahal mbok sudah ngasih diskon kayak gitu. Kamu gak punya apa gitu untuk membantu si mbok."
"Maksutnya mbok?"
"Sejenis penglaris gitu. Biar banyak yang beli."
"Mbok pengen dagangan mbok laku? Mbok pengen banyak yang datang kemari?"
"Iya nak Kun."
Lalu Kun masuk ke dapur. Dia membawa keluar tabung gas tiga kiloan.
"Nak Kun mau apa?"
"Bakar kantin mbok. Biar banyak yang datang kesini."
Mbok Sum pingsan.
Selang beberapa menit Mbok Sum terbangun. Ratusan mahasiswa sudah berada di kantin. Persis mirip demo.
"Mbok bangun mbok." kata mahasiswi berkerudung hitam.
"Kun. Mana nak Kun? Ini ada apa ramai-ramai kayak gini?" tanya Mbok Sum random. Siapa saja berhak menjawab. Semacam pertanyaan rebutan.
"Kata Kun Mbok Sum mau nyalon jadi rektor?" tanya mahasiswa bertubuh kekar menggebu-gebu.
"Ha?"
"Kami bersama Mbok Sum! Hidup Mbok Sum! Hidup Mbok Sum! Mbok Sum untuk perubahan!" teriakan menggelegar memenuhi kantin.
"Mbok Sum. Es teh satu." kata Kun dari meja sudut.
"Iya kami juga mbok Sum....." kata mahasiswa yang lain.
0 komentar:
Posting Komentar