Angin di sekitar kantin mengalami perubahan yang signifikan. Alur yang biasa sepoi, menjelma menjadi pusaran. Makin lama makin kencang. Daun-daun berhamburan. Saat itu suasana perkuliahan sedang berlangsung. Mbok Sum berada di dapur. Kun seorang diri di meja sudut.
"Tunjukkan dirimu!" bentak Kun.
Yang disebut tak menampakkan diri.
"Hei! Keluar kau sekarang!" Lagi. Kun berteriak.
Yang diteriaki juga tak kunjung muncul.
"Hei! Kalau berani keluar sekarang juga!" Kun mulai panas badan dan terengah-engah menatap pusaran angin itu.
"Mbok Sum! Es teh lagi!"
Mbok Sum keluar membawa segelas es teh. Mbok Sum berteriak ketakutan.
"Mbok Sum! Masuk ke dapur sekarang!"
Angin semakin besar dan besar. Batang ranting bergoyang. Ranting patah karena ranting bergoyang patah-patah.
"Heh denger ya! Kalau sekali lagi ku panggil kamu gak nongol-nongol, liat saja nanti! Buruan keluar kenapa sih!"
Namun angin itu masih saja berputar-putar di tempatnya. Sudah hampir setengah jam berlalu.
"Ya sudah terserah situ." Kun diam melanjutkan aktivitasnya. Nyeruput es teh. Makan tempe goreng. Sambil download film-film Korea.
"Hei kau yang duduk disitu." terdengar suara tanpa wujud.
Kun cuek. Download tetap berlangsung.
"Hei! Kau yang sedang duduk disitu!"
Kun clingak-clinguk. Lanjut download.
"Hei! Kun!"
Kun menjulurkan lehernya. Download lagi.
"KUN!!! Ini Kakek!!!"
Kun baru sadar. Ternyata kakeknya.
"Sombong amat sih Kun." Kakek berjalan ke arah Kun sambil membersihkan daun-daun di tubuhnya.
"Salah siapa. Tadi disuruh keluar, eh gak keluar-keluar juga. Ya Kun biarin saja."
"Biar keren Kun. Masa keluarga dukun datangnya biasa-biasa aja. Birokrasi keluarga kita kan emang kayak gitu. Harus ada ciri khasnya. Pejabat aja harus ada ciri khas nya pakai dikawal gitu. Kita juga harus dikawal sama angin dong."
"Ada apa sih kek?" Kun cemberut.
"Mana ada dukun nanya? Yang ada tuh, dukun itu ngasih jawaban. Bukan menyodorkan pertanyaan. Kayak penyidik saja."
"Minum apa kek? Sini gak jual air kembang!" Kun masih kesel sama kakeknya.
"Ih bodoh ni anak ya. Kamu kira es teh itu dari apa? Kamu gak minum air kembang? Teh yang wangi itu pakai apa? Kembang melati kan? Hahahaha."
Kun curiga. Dia mencium aroma penyamaran disini. Lalu Kun mendorong orang tua yang berwajah mirip kakeknya itu hingga terpental jauh keluar kantin.
"Kamu bukan kakekku!"
Orang tua itu berdiri.
"Ternyata ilmu kamu cukup mumpuni juga anak muda." Seketika orang itu menunjukkan wajah aslinya. Lebih tua dan lebih keriput dari kakeknya. Kostumnya atasan hitam, bawahan hitam, memakai ikat hitam di kepala dan jaket ala boyband Korea.
"Siapa kamu?" tantang Kun.
"Aku. Syech Jangkis. Leluhurmu."
"Aduh. Udah deh ah. Udah banyak yang ngaku leluhurku. Yang lain dong."
"Ini anak. Aku leluhurmu tau!!!"
"Leluhur yang mana lagi???" tanya Kun sambil mengambil notes dari sakunya. "Tuh udah banyak kayak gini."
"Aku leluhurmu dari pertapaan Batu Payung."
Seketika Kun terdiam. Menurut cerita kakeknya, pusat keilmuwan keluarganya adalah pertapaan Batu Payung. Semua ilmu pengetahuan keluarga mereka berasal dari sana.
"Aku hanya ingin mengabarkan kalau akan ada sesuatu yang mendatangimu tanpa tanda tanpa isyarat. Jadi berhati-hatilah Kun anakku."
....download complete....
Baru saja Kun ingin memindah file film Korea nya Syech Jangkis sudah menghilang dan bau kentut menyeruak. Fayya menepuk bahu Kun.
"Heh. Gak kuliah lagi?" tanya Fayya dengan senyum manisnya.
"Gak. Males. Pak Armando kan?" Kun tersenyum. Tanpa tanda tanpa isyarat, ternyata itu kode leluhurku kalau ada 'cinta' yang datang. Cinta datang tanpa tanda tanpa isyarat, ternyata itu Fayya, batin Kun.
0 komentar:
Posting Komentar