-Ini zaman bukan zaman megalitik. Ini zaman zaman menggelitik. Ini bukan zaman zaman batu. Ini zaman zaman manusia kepalanya lebih keras daripada batu-
Syech Jangkis
Kun membaca kitab karangan Syech Jangkis yang sudah dipindah alihkan dari potongan daun lontar ke e-book. Kun sebenarnya sedang menunggu acara Blues di cafe Aem Piem. Acara musik Blues yang digagas sahabat-sahabat Kun, termasuk beberapa pasien yang pernah curhat soal peruntungan-peruntungan di dunia musik. Sambil menunggu Kun membaca e-kitab nya Syech Jangkis ditemani kentang goreng dan minuman yang menurut Kun paling aneh. Minuman yang memiliki sifat-sifat seperti manusia. Soda Gembira. Meski setelah minum itu tidak ada efek apa-apa selain hilang rasa hausnya.
Untuk situasi seperti ini, mengajak Fayya adalah hal yang mubadzir. Cewek itu tak bisa lepas dari headsetnya. Daripada terlihat konyol karena acara belum mulai tapi dia sudah manggut-manggut duluan, mending dia menikmati film hasil download tadi siang di rumah. Film Korea.
"Weits Kun datang. Selamat malam sobat. Sendirian aja nih sob." seseorang berhasil menemukan Kun menyendiri di dekat pintu toilet.
"Eh, iya nih sob. Sendiri. Fayya lagi gak enak badan. Bulu matanya rontok satu."
"Udah pesen minum? Bir mau?"
"Ah gak deh. Soda ini aja udah cukup."
"Yah bir yah. Tenang saja aku yang traktir."
"Mmmm..."
"Oke yah? Oke dong sob. Jarang-jarang kamu merapat kesini lho sob. Oke sob? Sekalian makan sob. Sop buntut sini enak lho sob. Beneran deh. Nyesel kalau kamu nggak nyoba sop nya sob. Yah sob yah. Mau sop kan sob? Sop yah sob? Aku yang traktir sop nya sob."
Telinga Kun gerah mendengar Sop dan Sob. Lebih baik dia mengangguk daripada semakin pusing. Pertama memang hanya satu botol. Habis satu botol acara sudah dimulai. Datang lagi botol. Lagi lagi dan lagi. Botol botol dan botol. Sampai tak terasa teman Kun sudah mabuk. Bukan karena kandungan alkoholnya tapi karena satu krat botol diminum sendiri. Lagi lagi dan lagi. Mabuk mabuk dan mabuk. Teler teler dan teler. Teman Kun sempoyongan. Musik sudah tak terdengar begitu jelas di telinga. Kenikmatan melodi-melodi blues gagal untuk dirasa.
Sedang Kun, di gelas pertama dia sudah menemukan keanehan yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Orang yang melihat mengira Kun sudah mabuk. Jari telunjuk tangan kanan Kun bergerak sendiri seperti sedang menulis sesuatu. Bibirnya bergetar hebat. Air liurnya tumpah ruah.
"Rindu, rindu, rindu.
Mantra mantra rindu
Aku meninggalkanmu, bukan untuk berlalu
Aku meninggalkanmu untuk merangkai rindu
Aku menguji takaran cintamu dengan rindu
Aku mengarahkan cintamu juga dengan rindu
Rindu, rindu, rindu
Mantra mantra rindu
Air mata rindu untuk ibu"
Begitu kalimat ini terus terucap. Terus dan terus dan terus. Kun benar-benar 'mabuk' rindu.
......
Di pertapaan Batu Payung. Ngat, ibu Kun sedang tersenyum sambil menitihkan air mata. Dia sedang menulis Mantra Mantra Rindu di daun lontar. Air mata rindu, sebagai doa keselamatan untuk anak ku.....gumamnya.
0 komentar:
Posting Komentar