"Kun sayang, buruan kesini. Darurat." sms Fayya.
"Iya bentar. Ini lagi ngurusin mahasiwa yang lagi berantem." bales Kun.
"Berantem? Tawur maksut kamu?"
"Hampir."
"Tapi setelah itu buruan kesini yah. Aku tunggu di kos. Darurat beneran nih."
"Iya sayang."
.........
Di kantin Mbok Sum,
"Gak bisa! Pokoknya gak bisa! Kami gak bakalan mau berdamai!" kata salah seorang mahasiswa.
"Apaan! Kami juga gak bakalan minta maaf! Kalau perlu kita selesaikan secara jantan!" kata yang lain tak kalah semangatnya.
"Mmmm permisi. Tolong gak usah gebrak meja ya. Nanti es teh saya bisa tumpah." kata Kun datar.
"APAA!!!" kata mahasiswa itu bersamaan.
"Mmmm, gini yah temen-temenku mahasiswa yang budiman. Bisa gak kira-kira masalahnya diselesaikan secara non fisik? Maksutnya gak usah saling tonjok. Kasihan tangan kalian bisa berdarah-darah. Tangan itu juga harus dirawat. Sayang kalau rusak."
"GAK PEDULI!!" kata mahasiswa itu masih bersamaan.
"Mmmm, kalau kalian berantem kan kampus ini juga tercoreng namanya, nanti kan..."
"PEDULI AMAT!!" kata mahasiswa itu kompak.
"hhhhhh...." Kun menghela nafas. "Kalian paham gak dengan kalimat 'diselesaikan secara non fisik'?"
"GAK!!!" mereka kompak terus.
"Diselesaikan secara non fisik itu, kalian tetep berantem tapi gak usah adu fisik. Ngerti?"
"GAK!!!" sampai detik ini mereka kompak.
"Baiklah. Terserah kalian kalau masih mau berantem disini. Tapi kayaknya kurang macho kalau berantemnya di kantin Mbok Sum. Kurang laki."
"TERUS DIMANA???" mereka berantem tapi kompak seperti saudara kembar.
"Mari aku antar."
"NAIK APA???"
"Udah merem aja bentar." kata Kun lembut. Baru kali ini dia mau mengalah dengan keadaan.
"OKE!!!"
"Pada hitungan ketiga nanti kalian boleh membuka mata. Oh iya, kalau mau ajak teman yang banyak juga boleh. Sekalian tawur aja disana." Kun memberikan saran. Saran yang merusak.
"Baik! Aku bawa kesebelasan futsal!"
"Aku juga!"
"Heh mas mas. Kebelasan sepak bola aja, jangan kesebelasan futsal." Kun merespon mereka yang terlalu emosional.
"GAK PEDULI!!!" lagi-lagi mereka kompak.
"Udah siap semua? Merem yah? Berapa yang ikut jadinya? Hitung dulu. Nanti biar bisa dicatat berapa korbannya."
"BAIK!!!" Mereka membawa buku absen masing-masing kubu.
"Udah? Berapa?"
"Aku sebelas."
"Aku juga sebelas."
"Sip. Dua puluh dua orang akan tawur di tempat paling 'laki' di jagad ini. Hitung bareng-bareng."
"SATU DUA TIGAAAAA!!!!!"
Dan mereka berada di pucuk pegunungan Himalaya.
"Buruan berantem sana. Keren kan tempatnya."
"Kunnnn!!!!!" mereka kompak. Kompak merengek. "Kembalikan kami ke kampus Kunnnnn." beberapa dari mereka ada yang lupa bawa pampers sehingga ngompol di celana.
"Wuih! Keren lho itu! Siapa itu yang ngompol? Baru pertama kali kan ngompol di Himalaya?"
"Kunnnnn, pulangggg...." dua puluh dua orang itu menangis.
"Udah disini aja berantemnya. Aku balik dulu. Ada urusan darurat sama Fayya. Dadaaaaa..."
"Kunnn!!!!! Kami janji gak akan berantem lagi. Kami janji Kun. Kami akan menyelesaikan ini secara non fisik Kun."
"Santet maksut kalian?"
"Bukan Kunnnnn. Mulai saat ini dan seterusnya kami berdamai Kunnn."
"Iya kami berdamai Kun."
"Kalau gitu silahkan berpelukan satu sama lain. Setelah itu pegangan yang erat dan melingkar. Tutup mata kalian. Satukan tangan dan hati kalian, sambil berdoa dan berjanji dalam hati. Bahwa kalian akan saling menjamin keamanan satu dengan yang lainnya. Berdoa yang baik-baik. Berdoa untuk teman kalian. Berdoa supaya kalian tidak lagi saling membenci. Berdoa untuk keselamatan semuanya."
Hening seketika. Beberapa pendaki ada yang coba mengintip adegan ini. Mereka menitihkan air mata. Bukan air kencing.
Kun segera menuju kos Fayya.
"Ada apa sih?"
"Ini tolong angkatin galon ke lantai tiga. Punya teman kos."
"Oh mudah itu."
"Eit! Gak boleh pakai ajian yah sayang. Alami aja sayang. Yah?"
"Iya. Galon satu aja mah enteng."
"Tuh lihat sendiri."
"Whaaaa????"
Sebelas galon bersegel sudah menunggu Kun.
0 komentar:
Posting Komentar