Fayya tahu hal ini. Fayya tahu kalau Kun tidak berubah menjadi serigala pas bulan purnama semalam. Malah semalam Kun menjadi lebih jinak di bahu Fayya. Fayya juga tidak habis pikir. Siapa yang tega menyebarkan rumor ini. Oleh Kun, Fayya disuruh jangan mengambil tindakan terlebih dahulu.
"Sudahlah. Kita terima saja." begitu kata Kun. Fayya pun menuruti kekasihnya yang jelek itu.
"Padahal kalau kamu mau kamu bisa meluluh lantahkan seisi kampus ini." kata Fayya sedikit geram.
"Fayya. Apa kalau kampus ini hancur, aku berarti menang dan kebenaran akan terungkap?"
"Mmmmm. Tapi kamu sudah tahu kan siapa pelaku yang sebenarnya?"
"Aku sengaja tidak mencari tahu."
"Kenapa?"
"Biarlah sekali-kali aku merasakan seperti ini. Gak apaapa kok. Tenang saja." Kun tersenyum tenang. Fayya juga. Mereka saling menjaga kepercayaan satu sama lain.
Sebagai hukumannya, setiap hari Kun harus mencuci piring di kantin Mbok Sum. Sebenarnya Mbok Sum sendiri juga menaruh iba. Iya. Mbok Sum sadar sepenuhnya kalau Kun memang tipikal mahasiswa kurang kerjaan. Tapi Mbok Sum sangat yakin kalau bukan Kun pelakunya. Benar yang dikatakan Fayya. Kalau Kun sudah mau marah, kampus ini bisa tak tersisa. Termasuk Pak Armando.
"Kun, sudah biar Mbok aja yang nyuci. Itu sudah mbok Sum bikinkan es teh kesukaanmu."
"Gak apaapa mbok. Biar Kun yang cuci. Sekalian maen air. Daripada ke water boom mahal mending disini mbok gratis. Bentar lagi juga Fayya kesini buat bantuin."
"Lho kok malah melibatkan Fayya segala?"
"Fayya kan anaknya gitu Mbok. Kun juga gak bisa nyegah kalau dia udah punya kemauan. Selama itu baik, ya Kun biarkan mbok."
Cemoohan demi cemoohan tertuju kepada Kun. Ada yang sengaja memesan makanan banyak sekali tapi tidak dimakan sehingga meninggalkan setumpuk piring dan gelas kotor. Kun mengerjakannya setiap pagi hingga senja menjelang.
Setelah genap memasuki tujuh hari Kun kemudian mengambil tindakan. Malam-malam sekali dia sambangi kantin Mbok Sum. Jelas sepi disana. Senyapnya suasana, angin yang bikin bulu kudu merinding, dan suara hewan malam terseram. Krik Krik Krik Krik...
"Gini deh yah. Aku gak mau balas dendam sama kamu. Aku cuma mau berterima kasih sama kamu." Kun berbicara dengan suara yang tak berwujud.
"Hahaha. Kamu itu Kun. Sudah difitnah sedemikian rupa kok malah berterima kasih sama yang memfitnah." jawab suara itu.
"Sekarang gini. Aku tanya sama kamu. Beda antara difitnah dan tidak difitnah itu terletak pada apanya?" Kun cukup berdialog. tak mau adu fisik.
"Pertanyaanmu cerdas. Aku tidak punya jawaban."
"Siapa juga yang nyuruh kamu menjawab. Eh bulu kamu rontok. Punya bulu gak dirawat."
"Ha? Mana mana?"
"Tuh. Kurang keren ilmu kamu. Meski kamu sembunyi gitu, kalau bulu kamu rontok dimana-mana juga bakal ketahuan."
"Duh. Padahal ramuan penghalus bulu yang ku pakai keluaran terbaru dari Pet Shop Batu Payung..."
"Apa kamu bilang? Batu Payung?"
"Upsss. Kelepasan deh."
"Kamu dari Batu Payung?"
"Mmmm. Ketahuan deh."
"Heh! Jawab!"
"Iya aku dari Batu Payung."
"Terus tujuan kamu apa!" Kun mulai naik pitam.
"Sebenarnya aku, aku, mmmm, aku...."
"Kenapa sih! Coba keluar sekarang!"
"Gak bisa Kun kalau sekarang. Aku malu."
"Keluar gak! Keluar cepet!" Kun mengancam. Matanya menyala-nyala. Rambutnya naik. Tangannya mengepal siap menembakkan sesuatu.
"Iya deh. Jangan tertawa."
Makhluk itupun keluar. Seekor serigala yang hampir tak berbulu. Kun melihatnya. Kun menahan tawa seketika.
"Awas jangan tertawa." kata serigala yang botak dimana-mana itu.
"Huahahahahaha...." Kun tak bisa menahannya.
"Tuh bener kan."
"Iya ya maaf. Huahahahaha...."
"Ya udah sembunyi lagi."
"Eits, gak usah. Maaf maaf. Terus dulu maksut kamu apa pakai merusak kantin segala?"
"Aku gak sengaja Kun. Aku dikejar-kejar temen-temenku yang bulunya masih normal. Aku diejek Kun. Aku malu. Makanya sekalian aku kesini nyari kamu. Siapa tahu kamu punya obat antik bulu rontok. Kan banyak dari manusia yang punya obat anti kebotakan Kun?"
"Heh. Kamu kira aku tukang obat apa?"
"Terus gimana Kun?"
"Gini aja deh. Kamu gak usah minder-minder lagi sama temen-temenmu."
"Kalau temen sih gak masalah yah. Tapi mana ada serigala betina yang mau kawin sama serigala botak?"
"Huhahahaha. Lebih baik jadi serigala botak daripada jadi serigala berbulu domba. Kurang jantan!"
"Oh. Bener juga Kun. Aku percaya bahwa aku akan bertemu jodohku. Yaitu serigala betina, yang botak juga!"
Kemudian Kun mengirim sms untuk Fayya,
"Kalau mau bobok bukunya dirapikan dulu. Besok temenin nyuci piring lagi yah sayang. ^_^."
0 komentar:
Posting Komentar