Di depan kandang sapi belakang kampus. Sinar bulan purnama menyoroti sepasang insan teraneh sejagad raya. Yang lelaki serba hitam dengan rambut tercerai berai sepundak. Yang perempuan, cantik sih, bener-bener cantik, tapi berkalung headset. Seperti dua artis yang duduk di panggung opera dengan sorot lampu yang fokus hanya kepada mereka. yang lain gelap gulita.
"Kun sayang, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun! Jangan tidur!"
"Aku gak tidur Fayya sayang. Aku sedang menikmati suasana ini."
"Iya. Tapi kalau diajak bicara dijawab yah."
"Hmmm."
"Tuh kan!"
"Iya iya."
"Bulannya bagus. Purnama penuh."
"Iya bagus. Purnama penuh."
"Kun, kamu gak bakal berubah jadi serigala kan?"
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan serigala. Kebanyakan nonton film impor kamu sih."
"Hehehe. Kalau mau berubah juga gak apaapa. Apapun bentuk kamu aku tetep sayang kok."
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan siluman."
"Beneran deh. Kalau berubah juga gak apaapa. Aku pengen tahu wujud aslimu."
"Kamu cantik-cantik kejam juga ternyata. Wujud asliku yah kayak gini Fayya sayang."
"Hehehehe..."
Clorotttttt......
"Eh Kun ada bintang jatuh."
"Mana?"
"Itu tadi! Cepet kita bikin permohonan. Oh bintang aku mohon, semoga Kun menampakkan wujud aslinya. Sekarang giliranmu Kun."
"Ini kekasih model apa kayak gini. Baiklah. Oh bintang, aku mohon jangan kabulkan permohonan Fayya."
Plak!!! Headset Fayya menyentuh jidat Kun. Dengan kecepatan 100km/jam.
"Kok gitu sih!" Fayya gemes.
"Lha kamu juga aneh gitu mintanya." Kun membelai Fayya. Membelai headsetnya.
0 komentar:
Posting Komentar