Minggu, 17 Juni 2012

Kun Si Dukun #Psikologi Dukun

Di kos Fayya,

"Enak gak punya pacar makhluk kayak gitu?" tanya Oli.
"Sebelum aku jawab. Aku mau tegasin beberapa hal sama kamu. Yang pertama, aku sama Kun sepakat menyebut kekasih, bukan pacar. Kedua, jangan tanya perbedaanya dimana. Ketiga, karena aku tidak akan menjawabnya. Keempat, kalau masih belum jelas dan belum puas dengan jawaban-jawabanku, gak usah tanya-tanya lagi."
"Mmmm gak gitu juga kali Fay. Aku lagi ada tugas kuliah psikologi. Aku tertarik sama Kun."
"Naksir sama Kun?"
"Bukan. Aku penasaran sama Kun. Dia itu betah banget gak lulus-lulus. Anehnya pihak kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia. Tentu selain 'sakti'nya itu."
"Aku sebenarnya juga sempet punya pikiran kayak kamu Ol. Kenapa cuma dia yang gak bisa diapa-apakan sama kampus. Terus aku tanyain hal itu sama Kun. Apa jawabnya coba?"
"Mana aku tau Fay."
"Tebak aja. Ntar kalau bener aku traktir di Aneka Penyet."
"Serius?"
"He'em."
"Bener yah?"
"Iyah. Aku traktir parkirnya. Makanannya sih bayar sendiri. He..."
"Hmmm. Terus apa jawaban Kun?"
"Dia bilang, kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia, karena dia juga gak pernah berbuat apa-apa untuk kampus. Kalau dia 'berbuat' apa-apa dia pasti udah lulus dari dulu Ol."
"Dasar dukun aneh. Eh Fay, kamu gak pernah minta diajak jalan-jalan kemana gitu sama Kun. Dia kan bisa dengan mudah pergi kemana saja Fay. Kamu gak kepengen keliling dunia gitu?"
"Buat apa keliling dunia. Sedangkan sejatinya aku setiap hari mengelilingi matahari."
"Hadewww. Gini aja deh Fay. Tolong bilang sama Kun, besok aku mau ketemu sama dia di kantin Mbok Sum. Kamu sama anehnya dengan Kun."

Plak! Headset menghujam nyamuk yang nempel di pipi Oli.

Di kantin Mbok Sum, Kun duduk imut membaca e-book terbaru Syech Jangkis. E-book yang membahas 'kelakuan-kelakuan' para dukun beberapa abad terakhir ini.

"Ada apa Ol?"
"Aku mau wawancara sama kamu."
"Ikut majalah mana kamu?"
"Bukan. Ini untuk tugas kuliah."
"Halah. Paling dari Pak Armando kan?"
"Bukan. Ini murni tugas kuliah kok. Psikologi. Aku mau nulis psikologi dukun."
"Kenapa datangnya ke aku?"
"Karena kamu dukun."
"Tahu dari mana kamu aku dukun?"
"Udah banyak yang bilang. Kamu legenda di kampus."
"Percaya sama omongan mereka?"
"Percaya seratus persen sih gak yah, cuma aku punya feeling kamu emang dukun."
"Kamu aja dukun kok. Itu barusan pakai ilmu feeling. Kamu memakai 'rasa' sebagai pintu untuk membedah sesuatu itu."
"Maksut aku gini Kun. Gimana yah ngomongnya. Mmmm...."
"Gini aja deh. Aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu. Semuanya. Semua pertanyaanmu akan aku jawab. Semuanya."
"Aku mulai dari mana yah. Mmmm..."
"Dari sini aja. Gak usah jauh-jauh."
"Mmmm. Sejak kapan kamu bisa menghilang?"
"Sejak aku bisa menghilang."
"Hari tanggal bulan tahun?"
"Berabad-abad yang lalu. Lupa."
"Gimana kamu berlatih ilmu itu?"
"Latihan."
"Contohnya?"
"Bernafas, kedipin mata sama minum air kembang." Kun melirik es teh.
"Mmmm..."
"Sebentar sebentar. Stop dulu. Kalau denger nada bicaramu ini bukan untuk tugas kuliah deh. Kamu mau jadi seperti aku kayaknya."
"Mmmm..." perempuan berkacamata itu menundukkan pandangannya. "Iya sih... kalau kamu berkenan tolong jadilah trainer ku. Latih aku."
"Ealah kalimatmu aja kurang enak didengar gitu."
"Maksutnya Kun."
"Kata training alias 'latih melatih' itu cocoknya digunakan untuk binatang. Contohnya, Oli sedang melatih anjing kesayanganya pedekate dengan lawan jenis. He..." Kun nyengir.
"Susah ngomong sama kamu. Kayak gitu kok katanya dukun. Ya udah ajari aku. Ajar aku."
"Ajar itu mirip dengan hajar. Kamu nyuruh aku untuk menghajarmu? Serius? Bentar aku ambil piring dulu."
"Hhhhhh! Ya udah didik aku!"
"Kamu kan Oli bukan Didik?"
"HHHHH!!!!! Ya udah jadilah guruku!!!!"
"Cari anak-anak Fakultas Keguruan kan banyak."
"HHHHH!!!!! BODOH AMAT!!!!!" Oli berlalu dengan mengunyah kacamatanya sendiri.

Kun lantas mengirim sms agar Fayya segera ke kantin. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang muka 'yang paling disukai' Kun. Nyengar-nyengir.

"Kamu apain si Oli tadi?"
"Gak aku apa-apain kok." Kun nyengir.
"Kamu itu dasar!" Fayya memukul lengan Kun yang tipis pakai pensil 2B.
"Lagian milih tugas kok aneh gitu. Siko, siko, siko apa tadi?"
"Psikologi, jelek!"
"Iya. Sikologi. Gak pake Pe kan?"
"Pakai dong jelek."
"Berarti Sikologip?"
"Hhhh. Bodoh beneran kamunya ya."
"Fayya." tatapan mata Kun sendu.
"Apa! Paling juga mau romantis-romatisan lagi."
"Ya udah gak jadi deh."
"Heeee. Bercanda sayang. Apa pangeran jelek serigala jinak ku?"
"Fayya. Setiap orang yang ada di dekatku, orang itu akan terlihat pandai. Karena aku bodoh. Setiap orang yang berjalan bersamaku, orang itu akan terlihat elok. Karena aku buruk. Setiap orang yang mau berdiri tegar bersamaku, pastilah orang itu kuat dan sakti, karena sebenarnya aku ini lemah."
"MBOK SUM!!! PINJAM WAJAN JUMBO!!! KUN KUMAT!!!"




Share:

0 komentar:

Posting Komentar