Minggu, 10 Juni 2012

Kun Si Dukun #Topeng Heido

Terlihat sekelebat makhluk turun dari cerahnya bintang-bintang angkasa....


Sementara itu di kantin Mbok Sum beberapa mahasiswi sedang asyik membicarakan 'orang baru'.
"Eh serius, wajahnya itu bikin mau pingsan."
"Masa sih?"
"Iya. Bintang iklan aja kalah sama dia. Apalagi iklan makanan anjing."
"Huuuu..."
"Tapi beneran deh. Ntar kalau kamu lihat sendiri kamu juga bakal berdecak kagum."

Kun masih duduk di sudut. Menunggu Fayya sambil download film-film Korea. Entah Korea Selatan atau Korea Utara. Sengaja dia mengabaikan pembicaraan mahasiswi-mahasiswi itu. Baginya lumrah. Sejurus kemudian Fayya datang. Tapi kali ini dia tak sendiri. Ada seorang lelaki bersamanya.

"HAAAAA!!!! HEIDO!!!!!!!" spontan mahasiswi-mahasiswi itu histeris. Saking histerisnya ada yang langsung lari keliling kantin tujuh kali lalu pingsan. Ada yang menjambak rambutnya sendiri. Ada yang menampar pipinya sendiri. Sampai ada yang memanjat pohon beringin lalu loncat begitu saja. Tapi tidak ada yang tiba-tiba mengerjakan skripsi.

Iya. Laki-laki ganteng gagah dengan model rambut 'poni lebih panjang daripada leher' yang datang bersama Fayya adalah Heido.
"Kun kenalin ini Heido." kata Fayya. Kun melongo.
"Gannntenggg..." kata Kun lirih.
"Heh!" Fayya menjitak Kun.
"Oh!" Kun sadar.
"Heido."
"Kun."
"Heido ini salah satu penerima beasiswa dari universitas Jagoan. Dia kesini untuk belajar selama seminggu atas rekomendasi Pak Armando. Nah aku dapet tugas menemaninya selama dia disini Kun." Fayya menjelaskan.
"Oh ini yang bernama Kun." kata Heido sambil melambaikan tangan ke arah mahasiswi-mahasiswi tadi. Mereka langsung membentuk girls band. Nyanyi sambil nari. Gak gak gak kuat gak gak gak kuat.
"Iya. Aku Kun. Namamu seperti gak asing bagiku. Seperti toppp..."
"Iya aku memang bukan berasal dari sini. Aku kesini dalam rangka tugas."
"Tugas?"
"Iya.Tugas dari yang menugasiku."
"Untuk?"
"Untuk melindungi."
"Melindungi apa?"
"Melindungi yang aku lindungi."
"Gini aja deh. Nanti malam kita ketemu disini." kata Kun.
"Baik. Nanti malam aku kesini."
"Kalian sedang membicarakan apa sih?" tanya Fayya.
"Kamu gak perlu tahu. Ini urusan laki-laki." jawab Kun. Plak! Headset menghujam. "Aduh."
..........

Malam hari, di kantin Mbok Sum yang sunyi,
"Heido. Itu nama topeng. Bukan nama manusia. Topeng itu digunakan para dewa yang ditugasi untuk melindungi beberapa manusia. Benar?"
"Kamu memang manusia yang paham dunia kami Kun. Iya itu topeng para Dewa untuk menutupi bentuk kami yang sebenarnya. Secara bentuk, manusia memang yang paling sempurna di semesta yang kami kenal. Sejatinya bentuk kami tak seperti ini. Kamu tahu kan? Makanya kami membuat teknologi topeng. Ini hanya teknik proyeksi saja. Bahkan bahan-bahan yang kami pakai juga berasal dari bumi. Kami pakai kayu dan ramuan-ramuan dari tumbuh-tumbuhan bumi."
"Ho'o aku ngerti. Tapi aku salut. Kalian keren. Bisa tahu model yang sedang jadi mode di dunia kami."
"Kami sudah terlatih sejak berabad-abad yang lalu Kun. Sebenarnya juga, kami suka dengan perempuan-perempuan dari generasi manusia. Mereka sempurna."
"Eh. Sebentar. Baru kali ini lho aku bisa ngobrol serius dengan makhluk yang bukan manusia. Biasanya mereka udah aku ejek habis-habisan karena gak bisa menyamar dengan pas. Ada yang nyamar jadi pejabat, ada yang bentuknya serigala botak."
"Sekali lagi kami sudah terlatih."
"Lantas, apa tugasmu?"
"Menemani Fayya."
"Maksutnya?"
"Iya, menemani Fayya."
"Belum paham."
"Aku mendapat tugas melindungi Fayya."
"Dari?"
"Kalau itu masih belum bisa aku buka."
"Heido. Sistematika kerja dewa tidak kaku seperti itu kan? Posisimu kan hampir seperti, 'senjata' yang memilih 'sarung'nya kan?"
"Iya. Ini juga masih tergantung Fayya. Kalau dia tidak setuju aku menjaganya aku akan kembali ke tempatku di bintang-bintang sana."
"Berarti kamu akan....."
..........

Santer tersiar kabar Fayya menjalin hubungan dengan Heido. Kemana-mana selalu ada Heido di samping Fayya.
"Kun, bener Fayya sudah jadian sama Heido?" tanya mbok Sum.
"Gak tahu mbok." Kun menanggapinya dengan senyum.
"Gak nyesel kamu?"
"Buat apa nyesel mbok? Sedang film-film Korea masih sanggup jadi temanku."
"Mbok ikut sedih Kun."
"Jangan mbok. Gak usah ikut-ikutan sedih. Orang yang lagi sedih, lagi marah, lagi kalut, biasanya kalau masak gak enak mbok hasilnya. Ntar warung mbok sepi lagi."
"Kun Kun, kamu itu memang aneh. Tahu apa yang anak seumuranmu sudah gak memperdulikannya."
"Es teh lagi Mbok."
........

Genap hari ke tujuh Heido selalu menemani Fayya. Adegan beralih saat mereka sedang makan berdua di warung lesehan. Aneka Penyet. Bebek penyet ayam penyet tempe penyet telur penyet sandal penyet. "Nyet jus alpukat satu nyet! Buruan nyet! Haus nih nyet!" agak kurang enak memang cara memanggil pelayannya.

Fayya mengirimkan sms ke Kun yang kurang lebih bunyinya seperti ini, "Pangeran ganteng alias serigala jinak, buruan kesini. Aneka penyet. Kalau gak kesini aku pukul pakai wajan jumbo!" sungguh romantis.
Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun sudah mendarat manis di warung Aneka Penyet.
"Heido mau pamit. Ini makan-makan perpisahannya." Fayya menjelaskan.
"Iya Kun. Aku harus segera kembali."
"Berarti kamu?"
"Iya aku harus segera memberikan laporan."
"Aku ke toilet." Fayya ijin sebentar.
"Hemmm. Berarti kamu?"
"Iya aku mengakui kalau aku gagal. Secara tidak langsung Fayya menolak untuk aku lindungi. Setiap hari yang dibicarakan cuma nama mahasiswa setengah dukun, sinting plus kadaluwarsa, tapi juga disebut pangeran ganteng, Kun. Selama seminggu ini aku kenyang dengan cerita tentang dirimu Kun."
"Hihihihi." Kun nyengir.
"Aku harus pulang sekarang Kun. Fayya memang istimewa. Kamu saja yang menjaganya. Lindungi dia. Karena dia perempuan mu. Perempuan dengan font Italic."
"Perempuan ku?"
"Kalau kamu sudah jadi empu, kamu akan tahu arti perempuan itu. Dia sejatinya gurumu kelak. Baik. Aku pamit pergi. Tolong kembalikan poni ini ke salon sebelah." Heido pergi. Dengan meninggalkan poni serta topeng yang masih ada label harganya, Rp. 5000,-.
"Kun mana Heido?" tanya Fayya sekembalinya dari khayangan, eh toilet.
"Pamit dia. Takut ketinggalan pesawat katanya."
"Untung belum pesan makanan. Dia itu baik orangnya Kun. Baik sama aku. Baik sama temen kos ku juga. Sering bantu ngangkatin galon ke lantai tiga dia. Eh Kun sudah seminggu ini kita gak makan bareng yah? Kamu kok gak pernah sms sih? Marah ya? Cemburu ya?"
"Kamu kan sibuk dengan tugas-tugasmu. Aku memang sengaja mengambil jarak. Aku hanya ingin menciptakan kehangatan di antara kita tanpa saling berdekatan. Coba kamu dekati api, kalau jarakmu terlalu dekat akan panas sekali, tapi kalau kamu memosisikan diri di jarak yang tepat, hangat yang akan kamu rasakan. Sederhananya, masa kita mau seharian pelukan terus? Kan gerah juga jadinya? Mau mecahin rekor apa?" Kun nyengir.
"Kamu mau dipukul pakai wajan jumbo apa headset?" Fayya tersenyum.
"NYET! PESEN ES TEH NYET! Setelah ini aja pelukannya yah Fayya sayang. NYET BURUAN NYET! PANAS NYET!"




Share:

0 komentar:

Posting Komentar