"KUN!!!!" Fayya melompat memeluk Kun. Kun hampir saja terjatuh. Kalau sampai tadi Kun terjatuh, mereka berdua bisa celaka. Karena disamping mereka ada Pak Armando lagi sarapan di kantin.
"Ada apa seh Fay?"
"Ituuuuu...."
"Apaan?"
"Ituuuuu...."
"Apa? Pak Armando?" kata Kun. Pak Armando segera membalas dengan senyuman sinis.
"Ituuuu...kecoakkk!!!"
"Oalah! Sama kecoak aja takut."
"Bukan takut Kun. Tapi jijik. Jijik Kun."
"Jijik itu bukan sama kecoak. Tapi sama Pak Armando." Lagi, pak Armando tersenyum sinis.
"Injek aja Kun! Injek!" Fayya masih berada di gendongan Kun.
"Siapa? Pak Armando?" Untuk kesekian kalinya pak Armando sinis.
"Bukan. Kecoaknya."
Lalu Kun menurunkan Fayya. Pelan sekali. Sepelan penurunan bendera. Fayya duduk. Kun juga. Pak Armando pergi. Sambil memaki dalam hati.
"Fayya. Kalau ketemu kecoak itu jangan dibunuh." kata Kun pelan. Fayya mendengarkan. Mata sendunya serius tertuju pada mata Kun yang nista.
"Fayya. Kalau kamu membunuh satu kecoak nanti kecoak yang lain mendatangimu. Dan jumlahnya itu bisa lebih banyak."
"Lebih banyak Kun? Kenapa?"
"Karena kecoak adalah salah satu hewan yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Dan semuanya adalah saudara kembar."
"Saudara kembar Kun?"
"Iya saudara kembar. Wajah mereka sama semua kan?"
"Lalu Kun?"
"Lalu ada dua kemungkinan. Pertama, kalau kamu bunuh satu, nanti kecoak-kecoak yang lain datang untuk memberikan bela sungkawa. Karena mungkin kecoak yang kamu bunuh itu kecoak yang baik, jadi banyak kecoak yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Kedua, kalau yang kamu bunuh itu ternyata kecoak yang jahat diantara kecoak-kecoak yang lain, mereka juga akan mendatangimu untuk memberikan ungkapan rasa terima kasih. Bentuknya, kecoak-kecoak itu akan minta cipika-cipiki ke kamu. Mau?"
Fayya kagum dengan penjelasan Kun. Fayya memegang tangan Kun dan mengajak Kun untuk berdiri. Kun merespon. Mereka berdua berdiri. Jarak mereka mendekat. Bibir Fayya menempel ke telinga Kun.
"Kun. Aku tak akan memintamu menginjak kecoak lagi. Kalau ada kecoak yang menggangguku, jangan kau injak. Tapi makan saja untuk menghilangkan jejak."
Kun menelan ludah. Dia berpikir, makan kecoak sama dengan mencintai Fayya?
Oh si Kun to... :D
BalasHapus