Selasa, 20 Desember 2011

Kun Si Dukun #Kue Tumpeng

Besok Fayya ulang tahun. Tapi sampai jam lima sore ini Kun belum mendapatkan ide, hadiah apa yang akan diberikan untuk Fayya. Kun sudah membaca angin, tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Kun sudah berdialog dengan pohon, tapi pohonnya cuek. Kun sudah berusaha bernegosiasi dengan sapi tetangga tetap tak ada pencerahan. Bahkan Kun sudah berdialog dengan kodok, kodoknya malah bernyanyi riang sambil hujan-hujanan.
Kun kalut. Lalu dia bersemedi di depan google.co.id. Searching kado ulang tahun. Tak ada jawaban juga. Kun mondar-mandir mondar-mandir sampai tak sadar dirinya sudah sepuluh kaki di atas tanah. Kun terbang. Begitu Kun sadar, Kun jatuh ke tanah. Apa ya? Apa ya? Apa ya?
Dalam keadaan seperti ini Kun bersebrangan dengan Fayya. Kun lebih mengagumi keris, Fayya mengagumi palunya Thor.

Sudah hampir jam dua belas malam. Kun buntu. Rupanya kemampuan yang dia miliki juga ada batasnya. Jawaban yang dia dapat hanya satu kata. TUMPENG pakai CAPSLOCK.
"Kalau tumpeng? Nasi kuning? Telur Dadar? Ketimun? Cabe merah di atasnya? Fayya mau gak ya?" batin Kun.
Why tumpeng? Tumpeng adalah salah satu makanan favorit dari pertapaan Batu Payung. Ada apa-apa pasti tumpeng. Berbagai acara selametan selalu ditemani dengan tumpeng. Bahkan ulang tahun pun juga tumpengan. Lempar-lemparan juga pakai tumpeng. Semuanya tumpeng. Tapi Kun tak bisa memaksakan kehendak Fayya, yang kurang cocok dengan tumpeng.
Lewat jam dua belas Kun menemukan ide. Lantas Kun menelfon toko roti untuk memesan 'sesuatu' yang kurang begitu terdengar jelas karena agak sedikit rahasia.

Sore menjelang. Kun berdandan. Celana hitam. Kemeja hitam. Ikat kepala hitam. Sepatu hitam. Lalu dia menjemput Fayya untuk dibawa ke suatu tempat. Dengan mata tertutup Kun membawa Fayya ke tempat terindah. Kantin Mbok Sum.
Setelah membuka mata, Fayya lantas memeluk Kun.
"Terima Kasih Kun." kata Fayya.
"Sama-sama. Selamat ulang tahun yah. Doa sendiri aja. Lebih mujarab." kata Kun membelai rambut Fayya.
"Fayya. Tolong kamu tutup mata lagi."
Fayya menutup mata.
"Sekarang boleh buka." kata Kun.
Fayya semakin terkesima. Kun membawa kue berbentuk piramida dengan lilin merah di atasnya. Tanpa bernyanyi, Kun meminta Fayya meniupnya.
"Sekarang potong tumpengnya." kata Kun.
"Tumpeng?"
"Iya itu tumpeng."
"Bukannya piramid Kun?"
"Bukan itu tumpeng. Yang kamu tiup tadi cabe. Bukan lilin."
"Tapi itu kue Kun. Kue yang bentuknya piramid."
"Bukan. Itu tumpeng. Aku menyebutnya tumpeng. Tumpeng dan piramida itu saudara. Dan...."
"Sssstttt. Ya sudah terserah kamu menyebutnya apa. Yang penting aku bahagia. Terima kasih Kun." kata Fayya sambil memegang pipi Kun. Lalu melempar kue ke arah Kun. PLOK!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar