Minggu, 08 Januari 2012

Kun Si Dukun #Perampok Bank

"Kun.....ngeband yuk!"
"Aduh. Gak ah. Males maen musik."
"Ayolah Kun. Kamu kan sakti yah. Pegang apapun pasti bunyi kan? Bisa kan?"
"Aduh. Ini gimana sih." Kun garuk-garuk kepala. Ternyata terlalu populer kurang enak juga.
"Yah Kun yah. Mau yah. Kita kekurangan personil nih."
"Kalian itu bukan hanya kekurangan personil. Tapi kekurangan kerjaan juga. Kenapa aku yang diajak!"
"Yah Kun yah. Plisss. Minggu depan ada audisi besar-besaran nih. Yang menang dapat kontrak rekaman seumur hidup! Bayangin Kun!"
"Argghhhh. Cari orang lain aja kenapa sih! Mana enak seumur hidup maen band terus. Kalian kan bisa tua juga."
"Tapi kamu pasti punya ramuan awet muda kan?"
"Mana ada ramm...bentar."

BB Kun berdering. Kun menjawab telepon yang masuk.
"Hallo Kun Si Dukun disini."
"Hallo."
"Iya passwordnya pak."
"Jaran Goyang Jaran Centil."
"Iya benar sekali bapak. Dengan bapak siapa dimana?"
"Dengan Pak Sofi di bank."
"Siapa pak? Sofi?"
"Iya Sofi. Sofiyanto."
"Oh bapak Sofi di bank yah. Keperluannya bapak?"
"Mengharap kedatangan Kun segera kesini. Ada perampokan bank."
"Iya baik bapak Sofi saya segera kesana bapak."

"Kemana lagi Kun? Urusan kita belum selesai."
"Assshh. Aku ada keperluan penting. Ada perampokan bank."
"Kalau gitu kamu kontribusi nama aja deh. Beri kami nama yang cocok untuk band kami."
"Horse Shakes. Udah aku ke bank dulu."
..........

Di bank sudah ramai banyak orang. Biasa orang antri. Kun heran. Katanya ada perampokan tapi kok situasi normal-normal saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Silahkan masuk. Ada yang bisa dibantu pak." sapa Satpam ramah.
"Mau ketemu Pak Sofi."
"Oh pak Sofi. Sudah ada janji sebelum nya?"
"Sudah pak. Bilang saja dicari Kun. Pasti beliau paham." Kun menatap serius tulisan TELLER. Itu bacanya sama kayak ES TELER bukan. Batin Kun. Maklum dukun cerdas. Makanya kuliah tak kunjung lulus.

Kun sudah berada di ruangan Pak Sofi. Seorang petinggi bank.
"Paham cerita saya tadi?"
"Paham pak Sofi. Jadi bank mengalami kerugian yang luar biasa. Beberapa uang raib, tapi laporan keuangan baik-baik saja. Gitu kan pak?"
"Betul sekali Kun. Saya curiga ada sesuatu yang telah terjadi."
"Gini pak. Saya minta segelas air putih."
"Oh kamu mau menerawang lewat gelas itu?" tanya Pak Sofi.
"Gelasnya agak besar pak. Jangan gelas yang kecil."
"Baik. Biar saya panggil OB dulu."

Gelas berisi air putih sudah berada di depan Kun. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Pak Sofi khidmat. Suasana mirip mengheningkan cipta. Mulut Kun komat-kamit. Terus sampai bibir Kun mengering. Lalu Kun membuka matanya. Mata yang tajam tertuju pada air di dalam gelas. Cukup lama dia memandang. Lalu, Glek! Kun menghabiskan air di dalam gelas.

"Ahhh. Seger pak Sofi. Haus saya sudah hilang." mata Kun berbinar. Pak Sofi menghela nafas setelah nafasnya tertahan lama gara-gara menyimak polah tingkah Kun.
"Sudah dapat jawabannya Kun. Siapa yang merampok uang di bank saya?"
"Tenang pak Sofi. Maksimal seminggu dari sekarang bapak akan segera tahu siapa yang terlibat di dalam kejadian ini. Tapi satu pesan saya pak. Jangan kaget nanti. Ya?"
"Baiklah. Terima kasih Kun."

Kun keluar ruangan sambil lirik-lirik lagi tulisan TELLER. Ia masih penasaran, sama tidak ya cara bacanya dengan ES TELER.
.......

Headline news koran tiga hari kemudian,
"Istri seorang petinggi bank diperiksa oleh KPK. Diduga lemah ia terlibat kasus penyelewengan kucuran dana bank."
Berita di bawahnya,
"Seorang petinggi bank mengalami stroke setelah mengetahui istrinya diperiksa oleh KPK sebagai tersangka ahli.
Berita di bawahnya lagi,
"Warung ES TELLER Pak Samin beromset 1 milyar tiap bulan..."
Berita paling bawah sendiri,
"KPK berencana berganti nama. Kekuatan Penyatu Keluarga..."
Share:

0 komentar:

Posting Komentar