"Ini siapa yang nempel disini Mbok?" tanya Kun kepada Mbok Sum sembari membaca poster di tembok.
"Itu? Gak tau ada yang naruh gitu aja. Kamu kan dukun, kenapa masih nanya si Mbok ya?"
"Ealah Mbok. Masa mau tiap hari nerawang terus. Lama-lama ya bosen juga mbok. Monoton."
"Bener kamu mau bikin kerajinan sandal Kun? Mau jajal peruntungan di dunia bisnis? Mau jadi pengusaha sandal?"
"Kalau bikin kerajinan sandal seh iya Mbok. Tapi kalau bikin sandal yang bisa terbang kayak di poster itu, gak Mbok. Ini siapa lagi yang kurang kerjaan kayak gini. Masa Fayya sih. Gak mungkin ah."
"Tapi kan itu bisa bermanfaat bagi orang banyak Kun. Kalau tiap orang bisa terbang, kan bisa mengurangi kemacetan di jalan Kun."
"Betul mbok. Tapi pasti tak semua orang siap dengan hal itu. Para pengusaha otomotif misalnya. Pak Supeltas misalnya."
"Supeltas? Kasih aja mereka sandal itu. Beres kan?"
"Tumben mbok cerdas." Kun duduk. Fayya datang. Senyum-senyum genit. Ber-headset. Kun maklum.
Kun membuka laptopnya. Ia membuka file berisi rancangan sandal yang akan dibuat. Memang, sandal yang dibuat bukan sembarang sandal. Ini sandal yang memiliki kemampuan melawan gaya gravitasi. Namun hal ini masih bersifat RAHASIA. CAPSLOCK.
Kun menelaah terus menerus. Memperhitungan apa-apa yang dibutuhkan untuk menyusun sandal terbang itu. Karena ada komponen yang sangat langka, yaitu penggunaan batu merah delima sebagai tenanga utama. Batu yang sangat sulit sekali dicari di pasaran. Apalagi pasar Kambing. Kun terinspirasi dari perbincangan alumni pertapaan batu payung tentang mobil yang bisa terbang seminggu yang lalu. Menurut Kun, sandal yang bisa terbang lebih bersifat personal. Dan setiap orang memiliki ukuran kaki yang berbeda. Yang kedua ini agak kurang nyambung.
Fayya masih asik ber-headset. Merem-merem. Kun pergi toliet meninggalkan laptop dengan posisi menyala. Peraturan kampus, mengharuskan untuk melepas sandal ketika masuk ke kamar mandi. Kun melakukan itu. Iya, dia ke kampus tapi pakai sandal. Karena tidak pernah masuk kelas. Kelasnya ya di kantin Mbok Sum itu.
Agak lama Kun berada di dalam toilet. Gemericik air terdengar samar-samar. Lalu pintu terbuka, Kun keluar dan mendapati sandalnya sudah tidak berada di tempat yang semula. Kun bergegas membetulkan celananya lalu berjalan menuju kantin. Lagi, dia mendapati file rancangan sandalnya telah di copy oleh seseorang. Fayya ada disana, ber-headset dan masih merem-merem. Kun bertanya kepada mbok Sum jawaban mbok Sum seperti ini. GELENG-GELENG. Kun berkacak pinggang. Ia masih bisa tersenyum meski kehilangan sandalnya. Fayya dicolek. Kun mengajak Fayya pergi ke kandang sapi belakang kampus. Fayya manggut-manggut.
.........
Seorang anak kecil berlari menemui Kun. Matanya berkaca-kaca. Raut mukanya dipenuhi rasa bersalah. Baru akan ngomong itu bocah, Kun sudah mendahuluinya.
"Balikin sandal?" tanya Kun. Anak kecil itu melongo.
"Gak usah dibalikin. Buat kamu aja." kata Kun. Anak itu masih melongo.
"Mau sandal lagi?" tanya Kun. Anak itu melongo. Ada lalat masuk ke mulutnya. Tersedak.
"Minum?"
"Tapi bukan aku yang nyuri. Aku disuruh sama....sama....sama...."
"Sssttt. Minum dulu. Aku ngerti kok siapa yang nyuruh kamu." kata Kun. Anak itu melongo lagi.
"Emang kak Kun tau?"
"Iya. Sebentar lagi orangnya kesini."
"Hah? Kesini?" anak kecil itu ketakutan. Sangat ketakutan. Dan semakin ketakutan.
"Woy! Wajah biasa aja woy! Gak usah over scared gitu ah."
"Tapi nanti kalau dia tau aku disini bersama kak Kun. Aku bisa..."
"Woy! Dibilangin biasa aja gak usah ketakutan gitu kenapa sih? Halooo..., kan ada kakak disini. Kenapa masih takut?"
Seseorang berkostum aneh datang. Dia terbang. Sandalnya menyala-nyala. Close up sandalnya. Itu sandal Kun yang hilang di toilet. Mirip cerita superhero impor, kostum kurang lebih seperti itu. Anak kecil itu bergegas sembunyi ke dapur mbok Sum. Mbok Sum kaget. Dikira ada tuyul masuk dapur.
"Kamu yang nyuruh anak itu?" tanya Kun.
"Iya. Aku menantangmu!"
"Menantang? Tapi pose kamu kurang menantang tuh?"
"Aku menantang balap terbang. Siapa yang paling cepat sampai di tujuan, dia berhak atas Fayya!"
"Heh! Jangan bawa-bawa Fayya. Tolong hargai perempuan. Dia bukan piala bergilir. Hati-hati kalau bicara!" Kun mulai naik pitam.
"Hahahaha. Bilang saja kalau kau tak berani! Hahahaha..."
"Ini kenapa yah? Tiap tokoh jahat kok tertawanya seragam sih? Gak usah tertawa dulu kenapa? Tarung aja belum udah ketawa. Ngakak lagi."
"Hahahaha. Bagaimana? Takut?"
"Hmmm. Aku terima tantanganmu. Mana garis akhirnya?"
"Toko roti seberang jalan. 150 km dari sini."
"Halooo...toko roti banyak kali. Yang lain!"
"Warung ayam bakar. 18 km dari sini."
"Kamu nantangin balap terbang apa mau kuliner sih? Yang sadis dong tempatnya."
"Baik. Tempat pemotongan hewan. 159 km dari sini."
"Haduh...Gini aja deh. Capek aku ngomongnya. Siapa yang bisa duduk bersama Fayya disana. Dia yang menang." Kun menunjuk Fayya lagi duduk sendiri di taman.
"Hahahaha. Baiklah. Fair play. Ini garis start nya."
"Mbok Sum tolong hitung!" teriak Kun.
"Kamu semuanya 3500 Kun!" Sahut Mbok Sum dari dalam dapur.
"Bukan itu mbok. Keluar dulu mbok. Hitung satu sampai tiga mbok."
Mbok Sum keluar sambil membawa sapu tangan. Mbok Sum berada di tengah-tengah antara Kun dan orang misterius itu. Mbok Sum centil. Mbok Sum seksi. Untuk sejenak.
"Satu, dua, tiga!"
Orang itu terbang dengan kecepatan penuh. Dari sandalnya muncul sinar merah delima. Dia sampai di taman dimana Fayya duduk tadi. Dia sampai lebih awal dari pada Kun. Tapi, orang itu linglung. Tidak ada Fayya disana, juga Kun. Tolah toleh tolah toleh. Garuk-garuk kepala. Lupa kalau dia memakai helm. Setelah linglung beberapa menit. Dia kembali ke kantin. Dia melihat Fayya sedang bercanda dengan Kun.
"Woy! Gak usah heran!"
"Tapi Kun, kamu kok cepat sekali? Kamu terbang tadi?" orang itu menyela. Nadanya putus asa.
"Kamu gak pernah update ilmu seh. Ya terserah aku mau terbang atau mau apa, yang penting aku yang lebih dulu sampai kan?"
"Tapi Kun, kamu kan sering terbang pakai sandal itu kan? Aku sering melihatmu kok."
"Itu, bukan karena sandalnya. Yah terserah aku mau terbang pakai apa. Sandal, piring, karpet, atau apapun. Yang penting itu bukan sandalnya tapi 'ilmu'nya. Dan ingat, jangan pernah menyuruh anak kecil lagi untuk mencuri! Anak kecil itu polos, dia belum tahu apa-apa."
"Dimana anak itu?"
"Dia sedang ku hukum." kata Kun sambil menatap anak kecil yang sedang bermain-main dengan sandal terbang kreasi Kun. Anak itu terlihat menikmati kebingungan dengan penerbangannya. Sesekali ia terjatuh, lalu tertawa dan berusaha untuk terbang lagi.
Orang itu pingsan. Mobil ambulance RSJ datang.
0 komentar:
Posting Komentar