Selasa, 19 Juni 2012

Kun Si Dukun #Pawang Hati

"Semangat banget nyucinya Kun."
"Lumayan buat olah raga tangan. Biar otot-ototnya terlatih Fayya."
"Biar kuat mindah mendung yah? Wek!" Fayya mengejek Kun.
"Oalah. Ada beberapa kriteria orang mencuci. Ada orang yang mencuci karena ia merasa telah ikut andil mengotori. Ada orang yang mencuci karena itu sudah menjadi pekerjaannya. Yang keren yang ketiga ini. Ada orang yang mencuci padahal dia tidak ikut andil mengotori dan itu bukan pekerjaannya sendiri."
"Kamu masuk yang mana?"
"Gak ngerti."
"Aku juga gak ngerti. Pura-pura tanya aja. Wek!"
"Sekali-sekali kalau nyuci hening bisa gak sih?" Mbok Sum menjadi wasit.
"Habis itu Kun kalau ditanya jawabnya kemana-mana mbok."
"Jawabnya kemana-mana tapi hatinya kan cuma ke hatimu. Wek!"
"Tuh kan mbok bener. Pinjem wajan jumbonya mbok."
"Terus mbok Sum goreng tempe pakai apa? Aneh-aneh aja kamu sayang." Kun nyengir.
"Ini Fay pakai panci aja. Sama jumbonya kok." Mbok Sum memberikan alternatif.
"Waduh. Kompak bener. Seneng banget kalau aku teraniaya yah?" Kun segera berlari menuju pertapaannya. Sudut kantin.

Fayya menyusul, tapi tak membawa panci ataupun wajan jumbo. Masih siang, namun langit kedatangan awan mendung. Sinar mataharipun terhalang oleh gelap pertanda air hujan segera hadir. Kun masih saja asyik berkutat dengan file-file hasil donlotannya. Kun menghapus semua file hasil donlotan termasuk koleksi film-film Koreanya. Kalau lagu, Kun tidak begitu berminat. Fayya yang suka mengoleksi lagu-lagu.

"Serius amat sayang." kata Fayya.
"Iya ini lagi hapus file film. Hard disknya penuh. Sesak. Kasihan yang lain, ntar susah bernafas. Bisa macet juga."
"Emang bisa gitu file sesak nafas."
"Kalau gak percaya gak apaapa sih. Tapi kalau percaya kebangetan juga. He..."
"Mulai deh."
"Gak. Aku semalam dapat mimpi. Ada berita semacam saran yang membangun gitu, bahwa lebih baik, kalau kita tidak begitu tahu asal usul sumbernya mending ditinggalin atau dihapus aja. Aku kan gak ngerti free download itu 'bener' apa 'gak'. Itu nyuri apa gak aku juga gak tahu. Aku hanya berusaha menghargai karya orang lain aja sih. Lebih baik aku ketinggalan info seputar dunia gak apaapa. Kalau mau lihat video ya cari yang onlline plus langsung dari officialnya. Fay! Fayya! Fayya sayang! Malah molor. Woy bangun woy!"
"Mmmm. Iya. Tugas dari saya kemaren dikirim via email aja."
"Bangun sayang. Malah ngigau gitu. Aku Kun."
"Oh, ternyata kekasihku sayang. Maaf. Semalam habis lembur koreksi tugas-tugas mahasiswa gitu. Maklum asisten dosen yah kayak gini kerjaannya sayang."
"Tidur jam berapa?"
"Pertanyaan bodoh. Ya gak tahu lah sayang."
"Oh lupa. Bangun jam berapa tadi?"
"Tadi jam empat pagi udah bangun. Terus ke kamar mandi. Balik kamar tidur. Tahu-tahu udah jam delapan. Langsung buru-buru ke kampus."
"Kamu udah mulai sibuk sekarang."
"Hu'um. Eh sayang, kamu gak curiga sama mendungnya? Gelapnya kok beda yah."
"Fayya, kamu ini aneh-aneh aja. Yang namanya mendung ya gelap sayang."
"Serius deh. Kok aku ngerasa ada yang ganjil."
"Gini aja deh. Kalau kamu bisa mindahin mendung itu, supaya kamu gak khawatir yah pindah aja. Tapi kalau bisa sih. Heeee..." Kun nyengir.
"Oh jadi ceritanya kamu nantangin aku buat mindah mendung gitu? Emang kamu aja apa yang bisa kayak gitu? Baik. Aku ladeni permintaanmu sayang."
"Lha? Serius?"
"Lihat aja!"

Fayya memejamkan matanya. Tangannya terlipat di dada. Berbeda dengan Kun. Biasanya Kun melakukan dengan berdiri, namun Fayya cukup melakukannya dengan duduk. Hening sunyi. Kun mulai merasakan gelombang-gelombang dari dalam tubuh Fayya. Gelombang yang dalam waktu singkat berubah menjadi angin langsung menuju ke awan mendung membentuk seperti pusaran-pusaran. Semakin kuat semakin kuat dan semakin kuat. Kun mengamati dengan seksama. Wajahnya serius. Untung kantin mbok Sum sedang sepi. Jadi tidak banyak yang tahu kejadian ini. Termasuk mbok Sum sendiri. Dengan segera pusaran angin yang berasal dari tubuh Fayya itu menyapu bersih awan hitam. Langit cerah seketika. Sinar mentari kembali menampakkan keceriaanya. Air hujan yang sempat menetes segera pergi entah kemana. Fayya membuka mata menatap Kun penuh bangga dan berkata,
"Gimana sayang? Berhasil?"
Kun mengangguk sambil tersenyum.

Malam harinya,
"Huaaaaa!!!! Kun!!!! Cepet kesini sayang!!!!" Fayya berteriak lewat telpon.
"Ada apa? Kecoak? Tokek? Serigala?"
"Bukan!!!! Buruan sini!!!!"
"Iyah."

Sepuluh menit, ah, seperti biasanya, Kun sampai dengan dandanan yang masih seperti biasanya pula. Kun tidak terkejut dengan kondisi kos-kosan Fayya yang mirip seperti habis kebanjiran.

"Siapa yang habis ulang tahun?" tanya Kun.
"Ulang tahun apa?"
"Lha itu banyak air. Habis siram-siraman kan?"
"Hhhhh bukan. Tadi sore sini hujan lebat. Terus kebanjiran. Kamarku aja sampai bocor. Hhhhh."
"Oh."
"Kenapa cuma oh!"
"Oh no."
"Kenapa cuma oh no!"
"Hihihi. Kamu sadar gak sih."
"Sadar gimana?"
"Tadi siang kamu habis ngapain?"
"Apa yah? Nyuci piring sama kamu, pulang terus koreksi tugas mahasiswa, mmmm, udah itu aja kok."
"Bukan yang itu. Tadi kamu mindah mendung kan?"
"Oh itu. Baru inget."
"Kalau soal mindah hujan atau mendung sih gampang. Yang sulit itu kemana kamu akan memindahnya. Harus  cari lokasi yang pas, yang benar-benar sedang membutuhkan air. Jangan asal dibuang. Kalau asal dibuang yah kayak gini, akhirnya dia ikut sama kamu. Kan dia udah nuruti permintaanmu untuk kamu pindah, nah sekarang dia kemana-mana ikut kamu. Banjir deh jadinya kamarmu. Sayang, kamu boleh kok mindah hujan kemana aja, asal gak mindahin aku dari hatimu. Kalau aku sih lebih milih jadi pawang hati daripada pawang hujan. Heee..." Kun nyengir.
"MBOK SUM!!!!"
"Wey ini bukan di kantin lho!"
"Oh lupa. Pukul headset aja kalau gitu. Diem disitu dulu yah sayang."

Kun pasrah.
Share:

Minggu, 17 Juni 2012

Kun Si Dukun #Psikologi Dukun

Di kos Fayya,

"Enak gak punya pacar makhluk kayak gitu?" tanya Oli.
"Sebelum aku jawab. Aku mau tegasin beberapa hal sama kamu. Yang pertama, aku sama Kun sepakat menyebut kekasih, bukan pacar. Kedua, jangan tanya perbedaanya dimana. Ketiga, karena aku tidak akan menjawabnya. Keempat, kalau masih belum jelas dan belum puas dengan jawaban-jawabanku, gak usah tanya-tanya lagi."
"Mmmm gak gitu juga kali Fay. Aku lagi ada tugas kuliah psikologi. Aku tertarik sama Kun."
"Naksir sama Kun?"
"Bukan. Aku penasaran sama Kun. Dia itu betah banget gak lulus-lulus. Anehnya pihak kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia. Tentu selain 'sakti'nya itu."
"Aku sebenarnya juga sempet punya pikiran kayak kamu Ol. Kenapa cuma dia yang gak bisa diapa-apakan sama kampus. Terus aku tanyain hal itu sama Kun. Apa jawabnya coba?"
"Mana aku tau Fay."
"Tebak aja. Ntar kalau bener aku traktir di Aneka Penyet."
"Serius?"
"He'em."
"Bener yah?"
"Iyah. Aku traktir parkirnya. Makanannya sih bayar sendiri. He..."
"Hmmm. Terus apa jawaban Kun?"
"Dia bilang, kampus gak pernah berbuat apa-apa sama dia, karena dia juga gak pernah berbuat apa-apa untuk kampus. Kalau dia 'berbuat' apa-apa dia pasti udah lulus dari dulu Ol."
"Dasar dukun aneh. Eh Fay, kamu gak pernah minta diajak jalan-jalan kemana gitu sama Kun. Dia kan bisa dengan mudah pergi kemana saja Fay. Kamu gak kepengen keliling dunia gitu?"
"Buat apa keliling dunia. Sedangkan sejatinya aku setiap hari mengelilingi matahari."
"Hadewww. Gini aja deh Fay. Tolong bilang sama Kun, besok aku mau ketemu sama dia di kantin Mbok Sum. Kamu sama anehnya dengan Kun."

Plak! Headset menghujam nyamuk yang nempel di pipi Oli.

Di kantin Mbok Sum, Kun duduk imut membaca e-book terbaru Syech Jangkis. E-book yang membahas 'kelakuan-kelakuan' para dukun beberapa abad terakhir ini.

"Ada apa Ol?"
"Aku mau wawancara sama kamu."
"Ikut majalah mana kamu?"
"Bukan. Ini untuk tugas kuliah."
"Halah. Paling dari Pak Armando kan?"
"Bukan. Ini murni tugas kuliah kok. Psikologi. Aku mau nulis psikologi dukun."
"Kenapa datangnya ke aku?"
"Karena kamu dukun."
"Tahu dari mana kamu aku dukun?"
"Udah banyak yang bilang. Kamu legenda di kampus."
"Percaya sama omongan mereka?"
"Percaya seratus persen sih gak yah, cuma aku punya feeling kamu emang dukun."
"Kamu aja dukun kok. Itu barusan pakai ilmu feeling. Kamu memakai 'rasa' sebagai pintu untuk membedah sesuatu itu."
"Maksut aku gini Kun. Gimana yah ngomongnya. Mmmm...."
"Gini aja deh. Aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu. Semuanya. Semua pertanyaanmu akan aku jawab. Semuanya."
"Aku mulai dari mana yah. Mmmm..."
"Dari sini aja. Gak usah jauh-jauh."
"Mmmm. Sejak kapan kamu bisa menghilang?"
"Sejak aku bisa menghilang."
"Hari tanggal bulan tahun?"
"Berabad-abad yang lalu. Lupa."
"Gimana kamu berlatih ilmu itu?"
"Latihan."
"Contohnya?"
"Bernafas, kedipin mata sama minum air kembang." Kun melirik es teh.
"Mmmm..."
"Sebentar sebentar. Stop dulu. Kalau denger nada bicaramu ini bukan untuk tugas kuliah deh. Kamu mau jadi seperti aku kayaknya."
"Mmmm..." perempuan berkacamata itu menundukkan pandangannya. "Iya sih... kalau kamu berkenan tolong jadilah trainer ku. Latih aku."
"Ealah kalimatmu aja kurang enak didengar gitu."
"Maksutnya Kun."
"Kata training alias 'latih melatih' itu cocoknya digunakan untuk binatang. Contohnya, Oli sedang melatih anjing kesayanganya pedekate dengan lawan jenis. He..." Kun nyengir.
"Susah ngomong sama kamu. Kayak gitu kok katanya dukun. Ya udah ajari aku. Ajar aku."
"Ajar itu mirip dengan hajar. Kamu nyuruh aku untuk menghajarmu? Serius? Bentar aku ambil piring dulu."
"Hhhhhh! Ya udah didik aku!"
"Kamu kan Oli bukan Didik?"
"HHHHH!!!!! Ya udah jadilah guruku!!!!"
"Cari anak-anak Fakultas Keguruan kan banyak."
"HHHHH!!!!! BODOH AMAT!!!!!" Oli berlalu dengan mengunyah kacamatanya sendiri.

Kun lantas mengirim sms agar Fayya segera ke kantin. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang muka 'yang paling disukai' Kun. Nyengar-nyengir.

"Kamu apain si Oli tadi?"
"Gak aku apa-apain kok." Kun nyengir.
"Kamu itu dasar!" Fayya memukul lengan Kun yang tipis pakai pensil 2B.
"Lagian milih tugas kok aneh gitu. Siko, siko, siko apa tadi?"
"Psikologi, jelek!"
"Iya. Sikologi. Gak pake Pe kan?"
"Pakai dong jelek."
"Berarti Sikologip?"
"Hhhh. Bodoh beneran kamunya ya."
"Fayya." tatapan mata Kun sendu.
"Apa! Paling juga mau romantis-romatisan lagi."
"Ya udah gak jadi deh."
"Heeee. Bercanda sayang. Apa pangeran jelek serigala jinak ku?"
"Fayya. Setiap orang yang ada di dekatku, orang itu akan terlihat pandai. Karena aku bodoh. Setiap orang yang berjalan bersamaku, orang itu akan terlihat elok. Karena aku buruk. Setiap orang yang mau berdiri tegar bersamaku, pastilah orang itu kuat dan sakti, karena sebenarnya aku ini lemah."
"MBOK SUM!!! PINJAM WAJAN JUMBO!!! KUN KUMAT!!!"




Share:

Kamis, 14 Juni 2012

Kun Si Dukun #Memeluk Bom

Pintu kamar kos Fayya diketuk tiga kali. Ketukan yang biasa. Seperti jomblo yang mengetuk rumah ketua RT minta tanda tangan surat keterangan tidak laku. Karena si empunya kamar tak kunjung keluar, kemudian si pengetuk merubah pola ketukan. Pola dangdut. Baru kemudian Fayya membuka pelan pintu kamarnya.
"Ada apa Ol?" tanya Fayya kepada Oli. Sebenarnya namanya Olive. Tapi lebih mudah dipanggil Oli. Seperti Setiawan yang sering dipanggil Wawan.
"Ada bungkusan kecil di dekat pintu gerbang."
"Terus?"
"Mmmm. Ada suaranya juga sih."
"Iya. Terus?"
"Gak apaapa sih cuma mau ngasih tahu aja."
"Oh." Fayya hampir menutup pintu kamarnya lagi. Tapi segera Oli mencegah.
"Eh sebentar. Di bungkusan itu ada nama kamu."
"Namaku? Maksut kamu paket untuk ku?"
"Bukan paketan tapi bungkusan."
"Sama aja Oli."
"Beda. Karena aku sering beli nasi bungkus. Bukan nasi paket."
"Baiklah. Aku akan mengambil paket eh bungkusan itu."
"Tapi hati-hati Fay."
"Kenapa?"
"Ada suara di dalamnya." Olive lantas berlalu begitu saja dan buru-buru masuk ke kamarnya sendiri. Membanting pintu kamarnya dengan keras. Lalu menguncinya dari dalam. Hati.

Fayya menuju ke gerbang. Didapatinya satu bungkusan plastik hitam dengan tulisan 'Kepada: Fayya'. Fayya mengamati lagi tulisan di bawahnya. 'Serahkan ini kepada Kun'. Lalu Fayya mengamati tulisan di bawahnya lagi. 'Jangan terima apabila segel rusak'. Lalu tulisan paling bawah sendiri. 'Cepet serahkan kepada Kun jangan baca aja!'.

Fayya segera mengabari kekasih gelapnya itu. Gelap karena sering berpakaian gelap-gelap alias hitam-hitam. Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun datang dengan wajah berseri. Masih dengan model rambut tercerai berai sepundak. Hanya ada yang baru dengan ikat kepalanya. Ada huruf K di tengahnya. Pas di jidat.
"Punya siapa? Balikin!" Fayya merespon ikat kepala Kun yang baru.
"Ini punya tetangga. Ya punya ku sendiri lah."
"Hehehehe. Bercanda sayang. Balikin gih."
"Hhhhh. Bikin gemes aja ni anak."
"Hehehehe."
"Malah nyengir lagi. Biasanya juga aku yang nyengir. Ada apa sih?" Kun bertanya dalam mulut. Bukan dalam hati.
"Ini ada paketan buat kamu. Kalau kata Oli sih bungkusan."
"Tumben. Gak kayak biasanya. Sebentar aku panggil Gagak Rimang dulu. Mang sini Mang! Buruan mang! Tareeekkk mangggg."
"Ada apa Kun?" burung itu sudah bercokol di ranting.
"Ini aku dapat paketan. Kan biasanya kamu yang ngurus paket untukku?"
"Paket? Bentar aku cek dulu. Mmmmm. Hari ini gak ada paket untuk kamu. Yang ada juga untuk Pangeran Tokek sama si Genderuwo."
"Serius? Cek lagi coba?"
"Iya gak ada."
"Terus ini dari siapa dari mana? Udah makasih kalau gitu."
"Gimana Kun?" Fayya bertanya.

Terdengar bunyi aneh dari dalam bungkusan. Seperti detak jantung. Kun mengamati lagi. Bukan. Seperti detik jam. Kun bergegas membuka bungkusan tersebut. Dan yap, it's bomb!
"Apa Kun?" Fayya gemetar.
"Iya ini bomb. Kan udah dibilang di atas it's bomb! Pake tanda seru lagi. Masa kurang jelas sayang." Kun datar. Fayya hampir pingsan. "Udah tenang aja."
"Tapi itu. Waktunya Kun! Waktunya kurang sebentar lagi." Fayya panik.
"Sssttt. Udah gak apaapa." Kun hampir memeluk Fayya.
"Eh! Perjanjiannya kemaren gimana?" Fayya menepisnya. Fayya jadi kiper. Penjaga.
"Oh lupa. Gak boleh meluk ya? Maaf maaf. Biasa di film Korea kan suka gitu. Dikit-dikit meluk. Heee..."
"Iya tapi sekarang gak boleh. Kan kamu sendiri yang bilang sayang. Tiap kali meluk aku energimu malah berkurang. Iya kan?"
"Iya. Karena belum saatnya sih. Maaf lupa. Makasih sayang udah ngingetin. Enaknya diapain yah bom ini?" Kun masih mikir.
"Haduh! Ya segera dijinakkan lah."
"Emang hewan apa dijinakkan?"
"Atau kalau gak segera dibuang kemana gitu kek."
"Bentar yah. Pinjam headsetnya. The Ngi and The Lang! NGILANG!"

Wus wus wus wus!!!

"Maaf ada yang  mau bom?" Kun menawari segerombolan Genderuwo yang lagi blind date.
"Whaaaaa!!!!!" Genderuwo itu berhamburan.

"Maaf, serigala botak mau bom?"
"Woy! Mau aku tambah botak apa?" serigala botak itu pingsan.

"Maaf, pangeran Tokek, mau bom?"
"Kamu gila apa! Aku kan ada di kamar Fayya! Tok kek tok kek!"

"Heido! Mau bom gak?"
"Gak." jawab Heido cool sambil membetulkan poni yang lebih panjang daripada lehernya.

"The Ngi and The Lang! NGILANG!"

Kun sampai di tempat yang tidak seorang pun mengetahui. Termasuk Kun. Apalagi Pak Armando. Kun mencoba mendeteksi apa sebenarnya bom itu. Dia mencoba meneliti dengan seksama. Ada dua kabel disana. Yang satu berwarna biru. Yang satu berwarna hijau. Yang satu berwarna kuning. Eh, kan cuma dua. Yang kuning tidak ada. Keringat Kun mengucur deras. Sementara detik waktu terus berlalu. Membuat Kun semakin ngilu. Pilu. Di fikirannya hanya ada biru hijau kuning. Eh yang kuning tidak ada. Hanya biru hijau biru hijau biru hijau. Untuk sesaat Kun memejamkan mata. Benar-benar terpejam dia. Gelap gulita.
"Hei siapa kamu?"
"Aku Kun."
"Bukan. Aku Kun!"
"Aku yang Kun!"
"Bukan! Aku lah Kun yang sebenarnya!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"

Kun berhadapan dengan sosok yang sama persis dengan dirinya. Hanya yang satu tanpa huruf K di ikat kepalanya.

"Apa mau mu?"
"Aku mau melawanmu!"
"Melawanku?"
"Iya. Aku mau mengalahkanmu!"
"Baik. Aku mau melayanimu. Kita lihat siapa Kun yang sesungguhnya."

Pertarungan fisik dan non fisik, reguler dan non reguler pun terjadi. Banyak kilatan dimana-mana. Benturan demi benturan terjadi. Saling pukul dan saling tangkis semakin seru layaknya pertandingan bulu tangkis. Bahkan tak jarang battle rap juga muncul. Hingga akhirnya salah satu dari mereka terjatuh.
"Bangun! Dasar lemah! Ayo bangun! Lawan aku!" teriak salah satunya. Yang diteriaki tetap tak berdaya.
"Melawan dirimu sendiri saja kamu tak mampu! Bagaimana kamu bisa menjinakkan bom itu!"
"Ayo bangun!"
Yang diteriaki kemudian berdiri. Pandangan matanya lain. Tenang. Hening. Sunyi. Seribu kali lipat lebih tenang dari sebelumnya. Kemudian serangan bertubi-tubi datang. Yang diserang hanya diam. Seolah menikmati pukulan-pukulan itu. Seolah-olah diam menikmati sakit itu.
"Sudah? Ayo pukul lagi." pintanya.
Kemudian datang lagi beberapa jurus yang menghujam. Yang dipukul malah mengeluarkan sesungging senyuman.
"Serius sudah?"
Sosok Kun tanpa huruf K itupun tiba-tiba menghilang. Kun lantas segera membuka matanya. Dipandanginya bom tersebut. Kun mengelus bom itu sambil berucap lirih.
"Kalau mau meledak, meledaklah. Ledakkan lah dirimu sekeras-kerasnya. Ku temani kau. Aku bersamamu disini." kata Kun sembari memakai headset Fayya.

Blum!!!!!!

Dari kos Fayya menyaksikan kembang api di langit. "Kunnnn....." ucapnya lirih sambil membiarkan air matanya menitih.
Entah ini yang disebut cinta, atau rindu, Fayya lantas mengirim sms kepada Kun.
"Kun, pangeran jelek ku, serigala jinak ku, kamu gak apaapa kan sayang?" Fayya lunglai antara bahagia dan sedih. Karena merasa sudah dilindungi sedemikian rupa dan dengan tiba-tiba ditinggal sedemikian rupa juga. Namun sms itu pending. Fayya semakin menangis sejadinya.

Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian hape Fayya berbunyi ada nomer asing disana,
"Karena aku gak boleh meluk kamu, jadi aku peluk bom tadi. Aku kira bisa jinak, eh tak tahunya tetep meledak. Tapi kalau kamu mau nanti, silahkan pakai bahuku, karena aku tak bisa bersandar pada bahuku sendiri. Hehehe. -Kun-"
"HEH! Gak boleh deket-deketan tahu!!!" balas Fayya tertawa haru.

Dan malam itu pun berakhir dengan adegan 'cukup smsan saja'.....







Share:

Minggu, 10 Juni 2012

Kun Si Dukun #Topeng Heido

Terlihat sekelebat makhluk turun dari cerahnya bintang-bintang angkasa....


Sementara itu di kantin Mbok Sum beberapa mahasiswi sedang asyik membicarakan 'orang baru'.
"Eh serius, wajahnya itu bikin mau pingsan."
"Masa sih?"
"Iya. Bintang iklan aja kalah sama dia. Apalagi iklan makanan anjing."
"Huuuu..."
"Tapi beneran deh. Ntar kalau kamu lihat sendiri kamu juga bakal berdecak kagum."

Kun masih duduk di sudut. Menunggu Fayya sambil download film-film Korea. Entah Korea Selatan atau Korea Utara. Sengaja dia mengabaikan pembicaraan mahasiswi-mahasiswi itu. Baginya lumrah. Sejurus kemudian Fayya datang. Tapi kali ini dia tak sendiri. Ada seorang lelaki bersamanya.

"HAAAAA!!!! HEIDO!!!!!!!" spontan mahasiswi-mahasiswi itu histeris. Saking histerisnya ada yang langsung lari keliling kantin tujuh kali lalu pingsan. Ada yang menjambak rambutnya sendiri. Ada yang menampar pipinya sendiri. Sampai ada yang memanjat pohon beringin lalu loncat begitu saja. Tapi tidak ada yang tiba-tiba mengerjakan skripsi.

Iya. Laki-laki ganteng gagah dengan model rambut 'poni lebih panjang daripada leher' yang datang bersama Fayya adalah Heido.
"Kun kenalin ini Heido." kata Fayya. Kun melongo.
"Gannntenggg..." kata Kun lirih.
"Heh!" Fayya menjitak Kun.
"Oh!" Kun sadar.
"Heido."
"Kun."
"Heido ini salah satu penerima beasiswa dari universitas Jagoan. Dia kesini untuk belajar selama seminggu atas rekomendasi Pak Armando. Nah aku dapet tugas menemaninya selama dia disini Kun." Fayya menjelaskan.
"Oh ini yang bernama Kun." kata Heido sambil melambaikan tangan ke arah mahasiswi-mahasiswi tadi. Mereka langsung membentuk girls band. Nyanyi sambil nari. Gak gak gak kuat gak gak gak kuat.
"Iya. Aku Kun. Namamu seperti gak asing bagiku. Seperti toppp..."
"Iya aku memang bukan berasal dari sini. Aku kesini dalam rangka tugas."
"Tugas?"
"Iya.Tugas dari yang menugasiku."
"Untuk?"
"Untuk melindungi."
"Melindungi apa?"
"Melindungi yang aku lindungi."
"Gini aja deh. Nanti malam kita ketemu disini." kata Kun.
"Baik. Nanti malam aku kesini."
"Kalian sedang membicarakan apa sih?" tanya Fayya.
"Kamu gak perlu tahu. Ini urusan laki-laki." jawab Kun. Plak! Headset menghujam. "Aduh."
..........

Malam hari, di kantin Mbok Sum yang sunyi,
"Heido. Itu nama topeng. Bukan nama manusia. Topeng itu digunakan para dewa yang ditugasi untuk melindungi beberapa manusia. Benar?"
"Kamu memang manusia yang paham dunia kami Kun. Iya itu topeng para Dewa untuk menutupi bentuk kami yang sebenarnya. Secara bentuk, manusia memang yang paling sempurna di semesta yang kami kenal. Sejatinya bentuk kami tak seperti ini. Kamu tahu kan? Makanya kami membuat teknologi topeng. Ini hanya teknik proyeksi saja. Bahkan bahan-bahan yang kami pakai juga berasal dari bumi. Kami pakai kayu dan ramuan-ramuan dari tumbuh-tumbuhan bumi."
"Ho'o aku ngerti. Tapi aku salut. Kalian keren. Bisa tahu model yang sedang jadi mode di dunia kami."
"Kami sudah terlatih sejak berabad-abad yang lalu Kun. Sebenarnya juga, kami suka dengan perempuan-perempuan dari generasi manusia. Mereka sempurna."
"Eh. Sebentar. Baru kali ini lho aku bisa ngobrol serius dengan makhluk yang bukan manusia. Biasanya mereka udah aku ejek habis-habisan karena gak bisa menyamar dengan pas. Ada yang nyamar jadi pejabat, ada yang bentuknya serigala botak."
"Sekali lagi kami sudah terlatih."
"Lantas, apa tugasmu?"
"Menemani Fayya."
"Maksutnya?"
"Iya, menemani Fayya."
"Belum paham."
"Aku mendapat tugas melindungi Fayya."
"Dari?"
"Kalau itu masih belum bisa aku buka."
"Heido. Sistematika kerja dewa tidak kaku seperti itu kan? Posisimu kan hampir seperti, 'senjata' yang memilih 'sarung'nya kan?"
"Iya. Ini juga masih tergantung Fayya. Kalau dia tidak setuju aku menjaganya aku akan kembali ke tempatku di bintang-bintang sana."
"Berarti kamu akan....."
..........

Santer tersiar kabar Fayya menjalin hubungan dengan Heido. Kemana-mana selalu ada Heido di samping Fayya.
"Kun, bener Fayya sudah jadian sama Heido?" tanya mbok Sum.
"Gak tahu mbok." Kun menanggapinya dengan senyum.
"Gak nyesel kamu?"
"Buat apa nyesel mbok? Sedang film-film Korea masih sanggup jadi temanku."
"Mbok ikut sedih Kun."
"Jangan mbok. Gak usah ikut-ikutan sedih. Orang yang lagi sedih, lagi marah, lagi kalut, biasanya kalau masak gak enak mbok hasilnya. Ntar warung mbok sepi lagi."
"Kun Kun, kamu itu memang aneh. Tahu apa yang anak seumuranmu sudah gak memperdulikannya."
"Es teh lagi Mbok."
........

Genap hari ke tujuh Heido selalu menemani Fayya. Adegan beralih saat mereka sedang makan berdua di warung lesehan. Aneka Penyet. Bebek penyet ayam penyet tempe penyet telur penyet sandal penyet. "Nyet jus alpukat satu nyet! Buruan nyet! Haus nih nyet!" agak kurang enak memang cara memanggil pelayannya.

Fayya mengirimkan sms ke Kun yang kurang lebih bunyinya seperti ini, "Pangeran ganteng alias serigala jinak, buruan kesini. Aneka penyet. Kalau gak kesini aku pukul pakai wajan jumbo!" sungguh romantis.
Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Kun sudah mendarat manis di warung Aneka Penyet.
"Heido mau pamit. Ini makan-makan perpisahannya." Fayya menjelaskan.
"Iya Kun. Aku harus segera kembali."
"Berarti kamu?"
"Iya aku harus segera memberikan laporan."
"Aku ke toilet." Fayya ijin sebentar.
"Hemmm. Berarti kamu?"
"Iya aku mengakui kalau aku gagal. Secara tidak langsung Fayya menolak untuk aku lindungi. Setiap hari yang dibicarakan cuma nama mahasiswa setengah dukun, sinting plus kadaluwarsa, tapi juga disebut pangeran ganteng, Kun. Selama seminggu ini aku kenyang dengan cerita tentang dirimu Kun."
"Hihihihi." Kun nyengir.
"Aku harus pulang sekarang Kun. Fayya memang istimewa. Kamu saja yang menjaganya. Lindungi dia. Karena dia perempuan mu. Perempuan dengan font Italic."
"Perempuan ku?"
"Kalau kamu sudah jadi empu, kamu akan tahu arti perempuan itu. Dia sejatinya gurumu kelak. Baik. Aku pamit pergi. Tolong kembalikan poni ini ke salon sebelah." Heido pergi. Dengan meninggalkan poni serta topeng yang masih ada label harganya, Rp. 5000,-.
"Kun mana Heido?" tanya Fayya sekembalinya dari khayangan, eh toilet.
"Pamit dia. Takut ketinggalan pesawat katanya."
"Untung belum pesan makanan. Dia itu baik orangnya Kun. Baik sama aku. Baik sama temen kos ku juga. Sering bantu ngangkatin galon ke lantai tiga dia. Eh Kun sudah seminggu ini kita gak makan bareng yah? Kamu kok gak pernah sms sih? Marah ya? Cemburu ya?"
"Kamu kan sibuk dengan tugas-tugasmu. Aku memang sengaja mengambil jarak. Aku hanya ingin menciptakan kehangatan di antara kita tanpa saling berdekatan. Coba kamu dekati api, kalau jarakmu terlalu dekat akan panas sekali, tapi kalau kamu memosisikan diri di jarak yang tepat, hangat yang akan kamu rasakan. Sederhananya, masa kita mau seharian pelukan terus? Kan gerah juga jadinya? Mau mecahin rekor apa?" Kun nyengir.
"Kamu mau dipukul pakai wajan jumbo apa headset?" Fayya tersenyum.
"NYET! PESEN ES TEH NYET! Setelah ini aja pelukannya yah Fayya sayang. NYET BURUAN NYET! PANAS NYET!"




Share:

Kamis, 07 Juni 2012

Kun Si Dukun #Sakit Menyaktikan

Kun dan Fayya masih sering mencuci piring di kantin Mbok Sum. Ini bukan lagi dalam rangka menjalani hukuman melainkan dilakukan atas dasar 'terlanjur cinta' pada aktivitas sederhana ini. Para penghuni kantin malah semakin menaruh hormat kepada mahasiswa yang disinyalir merangkap sebagai dukun ini.
"Kun ah!" Fayya gemes karena kena cipratan air.
"Hehehehe." Kun nyengir.
"Kunnnn....hhhhhh..." Fayya masih gemes. Kun masih nyengir.
"Kun! Udah deh ah!" Fayya mulai tak sabar. Kun belum mulai untuk berhenti nyengir.
"Kun! Dibilangin juga! Pukul head set nih!" Fayya mengancam.
"Gak takut Wek!" Kun malah menjulurkan lidahnya.

Byur! Fayya menyiram air sisa cucian. Kun basah.

"Kun, bukannya kamu mandinya pakai air kembang yah? Tumben ini air comberan? Jajal ilmu baru kamu?" tanya Mbok Sum. Kun mlengos. Punya pacar cantik tapi galak. Galaknya juga aneh. Mending dipukul headset daripada diguyur air comberan.

Sepuluh menit kemudian, hidung Kun tiba-tiba mampet. Kun sulit bernafas. Badan Kun menggigil. Suhu tubuh meningkat. Kun pingsan. Fayya cuek. Paling-paling Kun hanya pura-pura biar ditolong sama Fayya. Kun lunglai di dapur Mbok Sum. Dengan kondisi masih basah kuyup. Lama sekali Fayya dan Mbok Sum membiarkan seonggok daging itu terkulai. Lalu Fayya mulai menjadi panik tatkala Kun tak segera sadarkan diri.
"Kun! Kun! Kun sayang! Bangun!" 
"Kun bangun! Kun! Kun! KUNNN!!!!"
"Ssssttt. Berisik ah." Kun tersadar.
"Kun? Kamu kenapa?" tanya Fayya sembari membantu Kun berdiri.
"Gak tahu. Lemes aja nih badan."
"Periksa yah?" tanya Fayya.
"Periksa kemana?"
"Oh lupa, kamu dukun kan yah?"
"Bukan. Aku siluman serigala. Mbok Sum! Es teh!"
"Ha? Es teh?" Fayya heran.
"Udah. Gak usah heran gitu ah."
"Kenapa es teh Kun? Kamu kan lagi...."
"Udah. Ntar kamu juga tahu sendiri."

Mbok Sum muncul membawa segelas es teh manis, sepiring mendoan, dan handuk kotor untuk Kun.
"Nih bersihin dulu pakai ini biar gak kedinginan."
"Oh Mbok Sum. Engkau lah penjual makanan terkejam yang pernah ku kenal." Kun berdeklamasi. Mana handuknya mirip lap biasa.

Kun menerawang es teh di hadapannya.
"Fayya tolong kamu jangan duduk disini. Pindah di hadapanku saja."
"Kenapa Kun?" Fayya bertanya Kun tak menjawab. Lalu...
"Oalah! Bener kan! Ini masalah utamanya." Kun seperti menemukan sesuatu. Tiba-tiba saja bajunya ikut mengering.
"Ada apa Kun?"
"Pingsanku tadi."
"Emang kenapa?"
"Kemaren aku terlalu banyak download film sama lagu."
"Terus hubungannya apa sayang?"
"Kata kakek ku, imun dalam tubuh ini, termasuk energi bisa berkurang kalau aku melakukan sesuatu yang kurang pas."
"Gak ngerti deh sayang."
"Iya sih memang gak ada hubungannya." 
Plak! Headset mengujam.
"Aku terlalu banyak Ngilang kemaren. Terfosir kayaknya."
"Ngilang?"
"Iya. Semalam aku melakukan perpindahan-perpindahan ke berbagai tempat. Ternyata pas perpindahan ke 99 akan menuju ke 100 aku gagal. Tapi terus ku paksakan. Hasilnya ya seperti tadi mendadak pingsan."
"Kamu lagi ada tugas?"
"Iya dapet up date ilmu dari kakek. Katanya suruh nyoba berapa kali aku mampu melakukan perpindahan dalam semalam. Tapi aku senang kok. Karena ada satu ilmu perpindahan yang sampai sekarang aku gak bisa-bisa. Dari dulu bahkan. Dan aku berharap semoga memang gak pernah bisa."
"Pindah kemana sayang?"
"Pindah dari hatimu." Kun nyengir. Fayya menyublim.
Plak!
"Pukulanmu sayang, itu sakit yang menyaktikan." Kun masih nyengir.
Plak! Plak! Plak! Selama 99 kali.
Share:

Kun Si Dukun #Serigala Botak

Bulan purnama semalam ternyata adalah tanda bahwa ada makhluk jadi-jadian. Konon tersiar kabar kalau makhluk tersebut berwujud serigala. Dan ternyatanya lagi, serigala tersebut telah memporak porandakan kantin Mbok Sum. Tak ayal karena kejadian itu Kun menjadi tertuduh dalam kasus ini. Ia dituduh  sebagai biang keladi oleh sebagian mahasiswa yang ternyata masih menyimpan dendam gara-gara dibawa Kun ke pegunungan Himalaya.

Fayya tahu hal ini. Fayya tahu kalau Kun tidak berubah menjadi serigala pas bulan purnama semalam. Malah semalam Kun menjadi lebih jinak di bahu Fayya. Fayya juga tidak habis pikir. Siapa yang tega menyebarkan rumor ini. Oleh Kun, Fayya disuruh jangan mengambil tindakan terlebih dahulu.
"Sudahlah. Kita terima saja." begitu kata Kun. Fayya pun menuruti kekasihnya yang jelek itu. 
"Padahal kalau kamu mau kamu bisa meluluh lantahkan seisi kampus ini." kata Fayya sedikit geram.
"Fayya. Apa kalau kampus ini hancur, aku berarti menang dan kebenaran akan terungkap?"
"Mmmmm. Tapi kamu sudah tahu kan siapa pelaku yang sebenarnya?"
"Aku sengaja tidak mencari tahu."
"Kenapa?"
"Biarlah sekali-kali aku merasakan seperti ini. Gak apaapa kok. Tenang saja." Kun tersenyum tenang. Fayya juga. Mereka saling menjaga kepercayaan satu sama lain.

Sebagai hukumannya, setiap hari Kun harus mencuci piring di kantin Mbok Sum. Sebenarnya Mbok Sum sendiri juga menaruh iba. Iya. Mbok Sum sadar sepenuhnya kalau Kun memang tipikal mahasiswa kurang kerjaan. Tapi Mbok Sum sangat yakin kalau bukan Kun pelakunya. Benar yang dikatakan Fayya. Kalau Kun sudah mau marah, kampus ini bisa tak tersisa. Termasuk Pak Armando.
"Kun, sudah biar Mbok aja yang nyuci. Itu sudah mbok Sum bikinkan es teh kesukaanmu."
"Gak apaapa mbok. Biar Kun yang cuci. Sekalian maen air. Daripada ke water boom mahal mending disini mbok gratis. Bentar lagi juga Fayya kesini buat bantuin."
"Lho kok malah melibatkan Fayya segala?"
"Fayya kan anaknya gitu Mbok. Kun juga gak bisa nyegah kalau dia udah punya kemauan. Selama itu baik, ya Kun biarkan mbok."

Cemoohan demi cemoohan tertuju kepada Kun. Ada yang sengaja memesan makanan banyak sekali tapi tidak dimakan sehingga meninggalkan setumpuk piring dan gelas kotor. Kun mengerjakannya setiap pagi hingga senja menjelang. 

Setelah genap memasuki tujuh hari Kun kemudian mengambil tindakan. Malam-malam sekali dia sambangi kantin Mbok Sum. Jelas sepi disana. Senyapnya suasana, angin yang bikin bulu kudu merinding, dan suara hewan malam terseram. Krik Krik Krik Krik...

"Gini deh yah. Aku gak mau balas dendam sama kamu. Aku cuma mau berterima kasih sama kamu." Kun berbicara dengan suara yang tak berwujud.
"Hahaha. Kamu itu Kun. Sudah difitnah sedemikian rupa kok malah berterima kasih sama yang memfitnah." jawab suara itu.
"Sekarang gini. Aku tanya sama kamu. Beda antara difitnah dan tidak difitnah itu terletak pada apanya?" Kun cukup berdialog. tak mau adu fisik.
"Pertanyaanmu cerdas. Aku tidak punya jawaban."
"Siapa juga yang nyuruh kamu menjawab. Eh bulu kamu rontok. Punya bulu gak dirawat."
"Ha? Mana mana?"
"Tuh. Kurang keren ilmu kamu. Meski kamu sembunyi gitu, kalau bulu kamu rontok dimana-mana juga bakal ketahuan."
"Duh. Padahal ramuan penghalus bulu yang ku pakai keluaran terbaru dari Pet Shop Batu Payung..."
"Apa kamu bilang? Batu Payung?"
"Upsss. Kelepasan deh."
"Kamu dari Batu Payung?"
"Mmmm. Ketahuan deh."
"Heh! Jawab!"
"Iya aku dari Batu Payung."
"Terus tujuan kamu apa!" Kun mulai naik pitam. 
"Sebenarnya aku, aku, mmmm, aku...."
"Kenapa sih! Coba keluar sekarang!"
"Gak bisa Kun kalau sekarang. Aku malu."
"Keluar gak! Keluar cepet!" Kun mengancam. Matanya menyala-nyala. Rambutnya naik. Tangannya mengepal siap menembakkan sesuatu.
"Iya deh. Jangan tertawa."

Makhluk itupun keluar. Seekor serigala yang hampir tak berbulu. Kun melihatnya. Kun menahan tawa seketika.
"Awas jangan tertawa." kata serigala yang botak dimana-mana itu.
"Huahahahahaha...." Kun tak bisa menahannya.
"Tuh bener kan."
"Iya ya maaf. Huahahahaha...."
"Ya udah sembunyi lagi."
"Eits, gak usah. Maaf maaf. Terus dulu maksut kamu apa pakai merusak kantin segala?"
"Aku gak sengaja Kun. Aku dikejar-kejar temen-temenku yang bulunya masih normal. Aku diejek Kun. Aku malu. Makanya sekalian aku kesini nyari kamu. Siapa tahu kamu punya obat antik bulu rontok. Kan banyak dari manusia yang punya obat anti kebotakan Kun?"
"Heh. Kamu kira aku tukang obat apa?"
"Terus gimana Kun?"
"Gini aja deh. Kamu gak usah minder-minder lagi sama temen-temenmu."
"Kalau temen sih gak masalah yah. Tapi mana ada serigala betina yang mau kawin sama serigala botak?"
"Huhahahaha. Lebih baik jadi serigala botak daripada jadi serigala berbulu domba. Kurang jantan!"
"Oh. Bener juga Kun. Aku percaya bahwa aku akan bertemu jodohku. Yaitu serigala betina, yang botak juga!"

Kemudian Kun mengirim sms untuk Fayya,
"Kalau mau bobok bukunya dirapikan dulu. Besok temenin nyuci piring lagi yah sayang. ^_^."

Share:

Rabu, 06 Juni 2012

Kun Si Dukun #Bulan Purnama

Di depan kandang sapi belakang kampus. Sinar bulan purnama menyoroti sepasang insan teraneh sejagad raya. Yang lelaki serba hitam dengan rambut tercerai berai sepundak. Yang perempuan, cantik sih, bener-bener cantik, tapi berkalung headset. Seperti dua artis yang duduk di panggung opera dengan sorot lampu yang fokus hanya kepada mereka. yang lain gelap gulita.

"Kun sayang, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun, bulannya bagus."
"Hmmm."
"Kun! Jangan tidur!"
"Aku gak tidur Fayya sayang. Aku sedang menikmati suasana ini."
"Iya. Tapi kalau diajak bicara dijawab yah."
"Hmmm."
"Tuh kan!"
"Iya iya."
"Bulannya bagus. Purnama penuh."
"Iya bagus. Purnama penuh."
"Kun, kamu gak bakal berubah jadi serigala kan?"
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan serigala. Kebanyakan nonton film impor kamu sih."
"Hehehe. Kalau mau berubah juga gak apaapa. Apapun bentuk kamu aku tetep sayang kok."
"Fayya sayang. Aku ini manusia. Bukan siluman."
"Beneran deh. Kalau berubah juga gak apaapa. Aku pengen tahu wujud aslimu."
"Kamu cantik-cantik kejam juga ternyata. Wujud asliku yah kayak gini Fayya sayang."
"Hehehehe..."

Clorotttttt......

"Eh Kun ada bintang jatuh."
"Mana?"
"Itu tadi! Cepet kita bikin permohonan. Oh bintang aku mohon, semoga Kun menampakkan wujud aslinya. Sekarang giliranmu Kun."
"Ini kekasih model apa kayak gini. Baiklah. Oh bintang, aku mohon jangan kabulkan permohonan Fayya."

Plak!!! Headset Fayya menyentuh jidat Kun. Dengan kecepatan 100km/jam.

"Kok gitu sih!" Fayya gemes.
"Lha kamu juga aneh gitu mintanya." Kun membelai Fayya. Membelai headsetnya.





Share:

Selasa, 05 Juni 2012

Kun Si Dukun #Tawuran Mahasiswa

"Kun sayang, buruan kesini. Darurat." sms Fayya.
"Iya bentar. Ini lagi ngurusin mahasiwa yang lagi berantem." bales Kun.
"Berantem? Tawur maksut kamu?"
"Hampir."
"Tapi setelah itu buruan kesini yah. Aku tunggu di kos. Darurat beneran nih."
"Iya sayang."
.........

Di kantin Mbok Sum,
"Gak bisa! Pokoknya gak bisa! Kami gak bakalan mau berdamai!" kata salah seorang mahasiswa.
"Apaan! Kami juga gak bakalan minta maaf! Kalau perlu kita selesaikan secara jantan!" kata yang lain tak kalah semangatnya.
"Mmmm permisi. Tolong gak usah gebrak meja ya. Nanti es teh saya bisa tumpah." kata Kun datar.
"APAA!!!" kata mahasiswa itu bersamaan.
"Mmmm, gini yah temen-temenku mahasiswa yang budiman. Bisa gak kira-kira masalahnya diselesaikan secara non fisik? Maksutnya gak usah saling tonjok. Kasihan tangan kalian bisa berdarah-darah. Tangan itu juga harus dirawat. Sayang kalau rusak."
"GAK PEDULI!!" kata mahasiswa itu masih bersamaan.
"Mmmm, kalau kalian berantem kan kampus ini juga tercoreng namanya, nanti kan..."
"PEDULI AMAT!!" kata mahasiswa itu kompak.
"hhhhhh...." Kun menghela nafas. "Kalian paham gak dengan kalimat 'diselesaikan secara non fisik'?"
"GAK!!!" mereka kompak terus.
"Diselesaikan secara non fisik itu, kalian tetep berantem tapi gak usah adu fisik. Ngerti?"
"GAK!!!" sampai detik ini mereka kompak.
"Baiklah. Terserah kalian kalau masih mau berantem disini. Tapi kayaknya kurang macho kalau berantemnya di kantin Mbok Sum. Kurang laki."
"TERUS DIMANA???" mereka berantem tapi kompak seperti saudara kembar.
"Mari aku antar."
"NAIK APA???"
"Udah merem aja bentar." kata Kun lembut. Baru kali ini dia mau mengalah dengan keadaan.
"OKE!!!"
"Pada hitungan ketiga nanti kalian boleh membuka mata. Oh iya, kalau mau ajak teman yang banyak juga boleh. Sekalian tawur aja disana." Kun memberikan saran. Saran yang merusak.
"Baik! Aku bawa kesebelasan futsal!"
"Aku juga!"
"Heh mas mas. Kebelasan sepak bola aja, jangan kesebelasan futsal." Kun merespon mereka yang terlalu emosional.
"GAK PEDULI!!!" lagi-lagi mereka kompak.
"Udah siap semua? Merem yah? Berapa yang ikut jadinya? Hitung dulu. Nanti biar bisa dicatat berapa korbannya."
"BAIK!!!" Mereka membawa buku absen masing-masing kubu.
"Udah? Berapa?"
"Aku sebelas."
"Aku juga sebelas."
"Sip. Dua puluh dua orang akan tawur di tempat paling 'laki' di jagad ini. Hitung bareng-bareng."
"SATU DUA TIGAAAAA!!!!!"

Dan mereka berada di pucuk pegunungan Himalaya.

"Buruan berantem sana. Keren kan tempatnya."
"Kunnnn!!!!!" mereka kompak. Kompak merengek. "Kembalikan kami ke kampus Kunnnnn." beberapa dari mereka ada yang lupa bawa pampers sehingga ngompol di celana.
"Wuih! Keren lho itu! Siapa itu yang ngompol? Baru pertama kali kan ngompol di Himalaya?"
"Kunnnnn, pulangggg...." dua puluh dua orang itu menangis.
"Udah disini aja berantemnya. Aku balik dulu. Ada urusan darurat sama Fayya. Dadaaaaa..."
"Kunnn!!!!! Kami janji gak akan berantem lagi. Kami janji Kun. Kami akan menyelesaikan ini secara non fisik Kun."
"Santet maksut kalian?"
"Bukan Kunnnnn. Mulai saat ini dan seterusnya kami berdamai Kunnn."
"Iya kami berdamai Kun."
"Kalau gitu silahkan berpelukan satu sama lain. Setelah itu pegangan yang erat dan melingkar. Tutup mata kalian. Satukan tangan dan hati kalian, sambil berdoa dan berjanji dalam hati. Bahwa kalian akan saling menjamin keamanan satu dengan yang lainnya. Berdoa yang baik-baik. Berdoa untuk teman kalian. Berdoa supaya kalian tidak lagi saling membenci. Berdoa untuk keselamatan semuanya."

Hening seketika. Beberapa pendaki ada yang coba mengintip adegan ini. Mereka menitihkan air mata. Bukan air kencing.

Kun segera menuju kos Fayya.
"Ada apa sih?"
"Ini tolong angkatin galon ke lantai tiga. Punya teman kos."
"Oh mudah itu."
"Eit! Gak boleh pakai ajian yah sayang. Alami aja sayang. Yah?"
"Iya. Galon satu aja mah enteng."
"Tuh lihat sendiri."
"Whaaaa????"

Sebelas galon bersegel sudah menunggu Kun.
Share:

Senin, 04 Juni 2012

Kun Si Dukun #Pangeran Tokek

Fayya membisikan 'sesuatu' ke telinga Kun. Bersifat privat dan tidak boleh diketahui penghuni kantin Mbok Sum.
"Apa?" Kun kurang jelas. Fayya mendekati telinga Kun lagi.
"Apaan sih?"
"Hhhhh...." Fayya mulai gerah.
"Perasaan kamu cuma niup telingaku aja. Ngomong apa sih?"
"HHHHH..." Fayya geregetan. Fayya mengulanginya lagi.
"Geli ah.." Kun ngikik.
"TOKEK!!!!" Fayya berteriak. Sudah pasti kantin mbok Sum ikut bergetar.
"GEMPA!!!!" Mbok Sum berlari keluar dari dapur lalu tiarap di tanah.
Kun segera membungkam mulut Fayya lalu menyeret, eh menggandeng Fayya pergi dari kantin Mbok Sum. Kun takut kalau kalau kantin Mbok Sum rubuh sebelum Shubuh.

"Ada apa sih?" Kun mencoba mencari penjelasan.
"Ada tokek sayang. Tokek!"
"Iya ngerti. Tokeknya kenapa? Ngajak kamu jadian?"
"Hhhhh. Bukan. Ngajak aku kawin!"
"Beneran? Jangan lupa undang aku yah."
Plak! Kepala Kun kena jitak oleh Fayya.
"Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya, putri cantik...." Kun nyengir. Fayya menyublim. Fayya menjitak Kun lagi. Pelan tapi.
"Kan selama kurang lebih dua bulan aku meninggalkan kamar kosku. Lalu semalam pas aku mau tidur, aku dikejutkan oleh suara tokek. Pertamanya sih biasa saja. Tapi lama kelamaan kok ada yang ganjil gitu sama tokeknya. Bunyinya gak kayak biasanya. Beneran deh. Terus iseng-iseng aku itung berapa kali bunyinya. Terus aku tulis di kertas. Tau gak hasilnya kayak apa?"
"Sandi sekte sesat?"
"Terlalu serius."
"Kode rahasia dari inteligen asing?"
"Terlalu hollywood banget."
"Nomer urut antrean e-ktp?"
"Hallooooo. Itu tokek sayang. Bukan pegawai kecamatan."
"Terus apaan?"
"Hasilnya ini nih. Pertama, dia bunyi 1x. Lalu jeda selama semenit. Lalu bunyi 1x lagi. Lalu jeda lagi semenit. Terus dia bunyi 2x."
"Anehnya dimana putri cantik?"
"Itu aneh Kun. Dia kayak lagi berhitung. Pertama 1x, kedua 1x, ketiga 2x. Itukan sama artinya dengan 1 + 1 = 2 Kun!"
"Oalah. Kamu di kampung dua bulan aku kira gak ada yang berubah. Ternyata kamu semakin matematis otaknya."
Plak! Kepala Kun kena jitak lagi.
"Iya iya, maaf putri cantik. Terus aku harus berbuat apa?"
"Pokoknya, kamu harus cari tahu siapa tokek itu sebenarnya. Kamu harus bisa ngobrol dengan si tokek. Perasaanku ada yang ganjil Kun."
"Baik. Nanti sore aku ke kos. Sekarang kan kamu harus kuliah? Eh denger-denger kamu udah jadi asisten dosen ya?"
"Hu'um. Kenapa emang?" Fayya tersenyum bangga.
"Kok gak tanya sama dosenmu aja perihal tokek itu?"
Plak! Headset Fayya mendarat manis di jidat Kun.

..........

Kun sudah berada di dalam kamar Fayya. Fayya menunggu di luar. Fayya asyik ngerumpi dengan penghuni kos yang lain. Kun mencoba khidmat di dalam. Fayya membuat paduan suara 'Hahahahaha' di luar alias ngakak bersama teman-temannya.

"Woy! Keluar gih. Daripada aku ekspor ke China lho. Buruan ah. Lama amat. Ku itung sampai tiga ya. Gak keluar rasakan sendiri akibatnya. Satu, du....wa, tiiii...."
"Iya. Ini aku Kun. Galak banget sih sekarang."
"Nah gitu kan enak ngobrolnya. Wuih! Pakai baju baru kamu? Woy! Kamu tokek apa anjing dalmatian belang-belang gitu?" Kun ngakak.
"Iya, ini jersey terbaru. Maklum mau Euro juga."
"Heh Pangeran Tokek, ngapain kamu nyasar kesini? Cari tempat yang keren kenapa? Masa pangeran ngumpet di deket lemari."
"Gini Kun, kerajaan Tokek D'Vocal baru aja kalah perang sama kerajaan Nyamuk D'Sedot. Kerajaan kami hampir semuanya luluh lantah oleh serbuan mereka. Kami dihajar habis-habisan. Terpaksa beberapa dari kami harus menyelamatkan diri. Kami panik Kun. Kami tercerai berai. Aku kesini mencari Putri Tokek Kun. Kekasihku."
"Ha? Kalah sama kerajaan nyamuk? Kok bisa?"
"Aku dapet info dari telik sandiku, katanya nyamuk-nyamuk itu semakin kuat. Mereka menghisap darah impor. Darah orang-orang dari negara yang katanya super power, atau man super, atau apalah namanya. Pokoknya itu darah orang-orang kuat Kun."
"Ini kenapa aneh gini yah? Terus kenapa kamu mencari Putri Tokek di kamar ini?"
"Gini Kun. Aku dapet info juga dari telik sandiku, bahwa penghuni kamar ini juga seorang Putri. Putri Cantik. Lengkapnya Tuan Putri Cantik."
"Oalah! Pasti telik sandimu si Keci kecoak idiot itu kan?"
"Iya Kun."
"Tuan Putri Cantik itu panggilan sayangku untuk Fayya. Dia calon istriku. Bodoh!"
"Whaaaaa????"
"Kamu juga bodoh! Jangan mudah percaya sama si Keci. Itu Kecoak asal mangap aja mulutnya."
"Maaf Kun, maaf. Tapi bener juga sih info si Keci."
"Apaan?"
"Penghuni kamar ini bener-bener cantik. Hehehehe...Tok Kek Tok Kek Tok Kek!!!"

Fayya yang mendengar suara tokek lantas berteriak dari luar, "Iya Kun, itu tokeknya. Bunuh aja! Buat sate aja! Lumayan ngirit buat makan malam!"

"Waduh. Cantik-cantik sadis juga Kun kekasihmu itu." kata Pangeran Tokek.
"Iya. Makanya jangan macam-macam sama dia. Aku aja takut sama dia. Pokoknya kamu jagain dia. Bersuaralah sewajarnya. Gak usah belajar berhitung 1 + 1 = 2. Jangan buat dia curiga. Yah? Aku mohon malam ini atau paling lambat besok pagi, kamu pergi dari kamar ini. Kamu bakal ketemu sama putri pujaanmu itu kok. Cari saja di kantin Mbok Sum. Tenang saja. Pasti ketemu."
"Iya Kun. Makasih bantuannya."
"Sama-sama Pangeran Tokek."
"Eh Kun. Beneran kamu takut sama Fayya. Kamu kan sakti. Siapa saja bisa dengan mudah kamu jadikan kekasih."
"Iya. Aku takut. Aku takut kehilangan kepercayaan Fayya yang sudah diberikan kepadaku selama ini. Asal kamu tau aja, cinta itu lebih sakti dari kesaktian-kesaktian itu sendiri. Dengan cinta, kamu akan secara alamiah menjadi sakti. Kamu akan memiliki ketajaman-ketajaman naluri. Termasuk naluri mencari dan melindungi apa yang sebelumnya kamu cari itu."

"Sudah?" Fayya membuka pintu kamar kos. Kun nyengir. Pangeran Tokek bersembunyi di balik lemari sembari berkemas pergi ke kantin Mbok Sum. Fayya ber-headset. Lagi.


Share:

Kun Si Dukun #Kembalinya Fayya

"Mbok Sum!!!!" Kun berlari ingin memeluk Mbok Sum.
"Aihhh. Kenapa lagi ini bocah?" Mbok Sum pasang muka panik. Padahal sudah bayar tagihan listrik.
"Mbok Sum!!!!" Kun mencoba memeluk Mbok Sum. Tapi Mbok Sum menghindarinya.
"Eit! Pasti lagi ada maunya. Mau ngutang lagi?"
"Gak Mbok. Fayya Mbok! Fayya!"
"Fayya? Fayya kenapa? Duduk dulu sana. Udah teriak-teriak kayak orang gila lagi. Duduk!" Mbok Sum memberikan instruksi. Kun duduk.
"Kenapa sih?" tanya Mbok Sum.
"Fayya Mbok. Fayya sudah pulang dari kampung." Kun menggebu.
"Terus?"
"Udah sih Mbok. Itu aja sih."
"Hmmmm. Ini anak memang minta dipukul pakai wajan jumbo kali yah. Udah! Mbok mau menggoreng lagi. Kirain ada apa." Mbok Sum berlalu. Kun duduk termangu sendiri sambil baca sms yang masuk dari Fayya.

"Sepuluh menit sembilan belas detik lagi aku ke kantin" begitu sms dari Fayya untuk Kun.

Fayya pulang ke kampung dalam rangka liburan kuliah. Ini memang kampus yang aneh. Bayarnya mahalnya minta ampun tapi tidak sebanding dengan masa studinya. Ini gara-gara masukan dari Pak Armando agar rektor memberlakukan kebijakan baru. Uang gedung ditingkatkan tapi bangunan fisik gedung hanya bertingkat tiga sejak pertama kali dibangun. Seharusnya jika benar-benar merealisasikan kebijakan itu, gedung kampus sudah tingkat 23. Karena uang gedung sudah mengalami peningkatan selama dua puluh kali. Disamping itu, masa studinya yang katanya 1 semester tidak benar-benar dijalankan selama enam bulan full. Masa studi 1 semester, yang efektif hanya tiga sampai empat bulan. Sisanya adalah liburan.

Maksutnya tadi mau bilang gini aja sih; Fayya liburan di kampung selama dua bulan. Itu aja sih.

Sepuluh menit sembilan belas detik kemudian Fayya sudah pasang senyum di hadapan Kun. Muka Kun agak memerah. Seperti antara canggung dan gugup beserta malu. Seperti ABG alay yang baru kenal what is the love.
"Kun." kata Fayya.
"Fayya." kata Kun. Ya iyalah masa kata Pak Armando!
"Kamu gak berubah Kun." Fayya mengelus rambut Kun.
"Jelas aja gak berubah. Orang yang kamu pegang rambut." kata Kun nyengir. Masih ada sisa kecanggungan disitu. Kun belum pulih dari rasa canggungnya. Begitu pula Fayya. "Kamu juga gak berubah." tambah Kun.
"Berarti aku gak tambah cantik dong?" Fayya agak mengernyitkan jidatnya.
"Kamu dari dulu memang cantik Fayya. Lagian aku juga bingung, maksutnya kecantikan yang bertambah itu kayak apa?"
"Mmmm, gak tau juga sih Kun." Fayya tersenyum. Kun mulai menyublim. "Kamu gak tanya kabarku?"
"Gak perlu. Kan kamu sudah disini bersamaku. Berarti sudah otomatis kabar kamu sehat selalu. Iya kan?" selalu begitu. Kun ngawur.
"Yah, minimal tanya gimana liburanku donggggg. Yah, biar aku bisa bicara banyak." Fayya mengajukan diri untuk presentasi.
"Aku sudah tau semua kegiatanmu apa." jawab Kun menggoda.
"Yahhh. Pura-pura gak tau aja dong. Yah?" Fayya merengek.
"Baiklah tuan putri cantik."
"Apa?"
"Tuan putri cantik."
"Tuan putri cantik?"
"Iya. Tuan putri cantik. Kenapa?"
"Aku gak mau dipanggil seperti itu."
"Lha?"
"Terlalu panjang. Putri cantik aja. Ntar aku panggil kamu Pangeran Ganteng."
"Itu fitnah Fayya."
"Gak papa yah. Pangeran Ganteng aja yah?"
"Baiklah. Tau gitu aku gak panggil kamu putri cantik tadi."
"Jadi marah ceritanya?"
"Gak." Kun geleng-geleng imut.
"Makasih." Fayya mencubit pipi Kun. "Baik. Aku mau mulai cerita darimana yah? Mmm..."
"Dari kamu mengajari anak-anak kecil di kampungmu membaca aja. Gimana?" tawar Kun.
"Ihhhh. Kun jahat ah. Udah dibilangin pura-pura gak tau aja kenapa sih!" Fayya cemberut. Kun menyeringai.
"Iya iya. Silahkan cerita."
"Gini Kun, aku di kampung mengajari..."
"Tiga anak kecil?"
"Jangan dipotong duluuuuu Kunnnnnn. Sebel ah. Aku pergi aja kalau gitu." Fayya beranjak dari kursi dan pergi. Kun cukup tersenyum saja. Kamu bener-bener gak berubah Fayya, batin Kun.

Kali ini Fayya bener-bener marah. Dia pergi mengendarai motor  miliknya dan segera melaju kencang. Sedang Kun sengaja tak mau memakai ilmu ngilangnya. Dia menyalakan mesin motor ceper yang konon Syech Jangkis sendiri yang memodifikasi motor ceper itu. Segera Kun menyusul Fayya.

Adegan kejar mengejar terjadi. Tapi jangan dibayangkan seperti di adegan film-film dari negeri Kayu Suci, Hollywood. Ini adegan yang biasa saja. Ini adegan yang sewajarnya. Seorang lelaki yang mengejar wanita dambaannya. Fayya sudah ngebut begitu rupa. Sampai naik turun gunung pula. Namun rupanya lelah segera menghampirinya. Dia berhenti di ujung bukuit. Dengan view panorama yang elok rupawan. Matahari yang hampir besembunyi, senja.
"Fayya?" Kun datang menghampirinya. Fayya memakai headset merah.
"Kun? Kok kamu bisa nyusul sih? Padahal aku sudah ngebut. Motor kamu kan terkenal pelan? Kok bisa sih. Lagian ini tanjakan-tanjakan disini cukup tinggi." Fayya heran. Heran karena baru kali ini Kun mampu menyusulnya tanpa mengandalkan ajian apa-apa.
"Fayya, sekencang apapun kau berlari toh itu pada akhirnya hanya untuk berhenti. Kalau tujuan kita sudah sama, sekencang apapun kamu berlari, sejauh apapun kamu pergi, aku juga sangat mungkin mampu menyusulmu, meski aku mengejarmu dengan berjalan kaki. Iya, karena kamu tujuanku sementara ini."

Fayya memeluk Kun di bukit itu. Dengan background sendunya senja. Bau sangit keluar dari mesin motor Kun.

Share: