Regenerasi. Itu yang ada di benak Kun setelah 'tamu' itu pergi. Pertanyaan si tamu berkostum serba ungu itu membuat Kun harus memikirkan masa depan. Bukan hanya keturunan secara biologis, namun juga persoalan, kemana semua ilmu Kun akan ditransfer? Karena Kun juga punya prediksi, bahwa ilmu dan kemampuan yang dimilikinya tidak akan lenyap begitu saja. Kemampuan itu akan mencari pemiliknya. Ada yang secara random, tapi ada juga yang bisa diarahkan oleh si empunya ilmu. Bisa dipilih akan dikemanakan ilmu-ilmu tersebut.
Kalau anak dari garis keturunan sendiri, agak kurang mungkin karena Kun sudah bercampur dan tercampur dengan Fayya. Jadi Kun mencoba cara lain. Dia mencoba membicarakan ini dengan Fayya.
"Sayang, bikin sekolah yuk."
"Sekolah? Buat apa?"
"Ya buat bersekolah."
"Kamu aneh-aneh aja Kun. Ide yang lebih brilian gitu nggak ada? Jaman sekarang orientasi sekolah itu harus ke cara pikir ekonomikal. Semua sekolah juga sama. Mau atas nama apapun visi misinya, yang dicari juga asas, semakin laku semakin mahal. Harusnya kan semakin laku semakin murah. Duitnya kan udah banyak."
"Aku nggak mau bikin sekolah yang kayak gitu. Aku mau bikin sekolah yang melatih anak-anak menjadi sakti."
"Kamu ngomong apa sih yang?"
"Aku kepikiran, bahwa makhluk atau manusia sejenis aku jumlahnya pasti banyak. Hanya saja mereka tidak mau menampakkan diri. Ada dua alasan, malu atau takut tidak dapat mengendalikan kekuatannya dan menjadi jahat."
"Emang tahu dari mana kalau jumlah manusia kayak kamu itu banyak?"
"Entahlah. Ada informasi tadi malam."
"Oh. Tamu yang berbaju serba ungu semalam?"
"Lho kok kamu tahu. Kamu sama aku kan sedang nonton..."
"Sayaaaang, aku tahu kamu membelah diri. Aku sudah hafal gejalanya. Pokoknya aku sudah kenal kamu luar dalam. Nggak usah heran deh. Dukun kok masih sering keheranan gitu? Lagian baju yang mereka pakai itu jemuran Mbak Sri tetangga depan rumah itu."
"Ealah."
"Terus kalau anak-anak itu sudah sakti emang mau ngapain? Menyelamatkan bangsa dan negara? Dari apa? Emang negara kita sedang perang? Orang negara ini aman-aman saja kok. Mending mikir yang lain sayang."
"Aku mau bikin sekolah yang beda. Apa-apanya beda. Kurikulumnya beda. Guru muridnya juga beda. Lintas demensi."
"Mulai deh. Si Genderuwo lagi yang jadi kepala sekolahnya?"
"Bisa jadi. Nggak tahu sayang kok malah jadi pengen bikin sekolah ya."
"Apa? Sekolah Sakti Sekolah Berbakti?"
"Kalau bisa muridnya dari bayi umur tujuh bulan. Jadi nanti memonitor perkembangan kemampuannya bisa maksimal."
"Kayaknya kamu harus menenangkan diri dulu Kun sayang. Isi kepalamu sudah mulai hilang kendali."
Fayya ke dapur dan membuatkan air kembang hangat dengn sedikit gula kesukaan Kun. Tak ketinggalan kerupuk terasi digoreng sebagai camilan. Fayya tahu, kalau Kun gelisah, itu sangat berbahaya. Kegelisahannya bisa mendatangkan badai petir.
"Ini diminum dulu. Sudah nggak usah terlalu dipikir sayang. Bikin sekolah itu nggak gampang. Itu pondasi dasar dari kehidupan manusia. Sebelum menjadi apa-apa dia diwajibkan oleh negara untuk bersekolah. Kalau nggak,"
"Mereka nggak akan dianggap manusia."
"Hu'um."
"Sekolahnya harus tidak terlihat sebagai sekolah. Yang tampak oleh indera bukan sekolah. Tapi mereka tetap belajar dalam bimbingan. Kemampuan mereka tetap ada yang mengawasi."
"Habis ini kamu tidur Kun. Besok dilanjutkan lagi."
"Sekolahnya harus beda. Benar-benar beda. Harus beda. Sekolahnya beda. Sekolah beda. Sekolah beda alam."
Kemudian terdengar suara Kun ngorok. Keringat dinginnya keluar. Fayya mengambil selimut. Di luar mendung mengintai. Tapi tak lama kemudian pergi. Karena Kun sudah terlelap.
0 komentar:
Posting Komentar