Kun mengemasi barang-barangnya. Setelah memastikan bahwa Fayya aman ditinggal sendirian untuk waktu yang lama, Kun berpamitan dengan istri tersayangnya.
"Salam buat penduduk Batu Payung sayang."
"Iya."
"Salam juga buat ibu."
"Beres. Kalau ada apa-apa, kamu tahu apa yang harus dilakukan sayang."
"Hu'um. Tinggal bilang aja kalau aku suami dari dukun abad terkini."
"Pinter."
Batu Payung. Tempat kelahiran Kun. Sudah lama Kun tak menginjakkan kaki di Batu Payung. Karena sejak kecil Kun sudah dibawa menjauh dari Batu Payung dan ibunya oleh kakeknya. Tujuannya satu, memastikan potensi ke-dukun-an dalam diri Kun bisa maksimal semaksimal-maksimalnya. Kalau sejak kecil dia terbiasa dengan kemanjaan, bisa jadi dia tidak menjadi seperti yang sekarang ini. Alih-alih dia malah menjadi dukun manja. Maunya serba ada. Serba cepat. Bahkan serba menguntungkan secara ekonomikal. Itu yang sangat dihindari Kun. Maka ketika dulu, Kun ditawari untuk menjadi seorang guru dengan gaji di bawah rata-rata, atau Kun menyebutnya, 'Gaji Kerak Bumi', Kun mengiyakan. Dia harus mau melakoni hidup sebagai manusia manusia wajar.
Namun, setelah Kun tahu, bahwa itu adalah misi yang dilakukan temannya si Genderuwo untuk menyelamatkan Kepala Sekolah yang asli dari pengaruh energi tak bertanggung jawab, Kun menyadari, bahwa memang tugasnya di sini adalah menjadi dirinya sendiri. Menjadi Kun yang seperti di dalam kisah ini. Menjadi Kun yang sudah beristri. Menjadi Kun yang, orang bilang, cukup sakti untuk menjadi penguasa di rumahnya sendiri.
Misi itu selesai sudah lama sekali. Setelah tuntas Kun memutuskan untuk keluar dari sekolah. Meskipun sebenarnya Kun sudah ditawari untuk menjadi penasehat di yayasan sekolah itu, Kun menolaknya. Dia tidak mau terjebak oleh kenyamanan-kenyamanan semu. Atau dengan alasan yang cukup bisa diterima, yaitu bahwa lebih mudah menjadi orang sakti daripada menjadi penasehat yayasan yang tanggung jawabnya sangat besar. Menjadi sakti birokrasinya tidak rumit. Itu menurut Kun.
Soal duit, jangan ditanya. Dukun kok ditanya soal remeh temeh begituan. Jangan sekali-kali menanyakan soal punya duit berapa kepada Kun. Bisa-bisa rumah kalian dipenuhi dengan duit saat kalian bangun tidur. Pernah ada satu orang berusaha 'iseng' dengan Kun. Dengan berkacak pinggang, orang itu mencoba mempermalukan Kun di depan umum. Bahkan di depan keluarga besar Fayya.
"Kamu? Jadi guru? Punya apa kamu? Ha?!"
Kun tidak berbicara sepatah kata pun. Dia menahan diri. Atau lebih tepatnya, Fayya menahan dirinya.
"Ayo buktikan kalau kamu sakti! Coba beri aku uang yang banyak!"
Karena sudah cukup lama menahan, Kun akhirnya bersuara, "Besok, ketika anda membuka mata, uang itu akan ada di rumah anda. Jumlahnya akan selalu lebih banyak dari yang anda bayangkan."
Keesokan harinya, orang tersebut mendapati lembaran demi lembaran uang yang jumlahnya memang sangat banyak. Dengan hati yang gembira, dia pergi ke sebuah bank bermaksud menyimpan uang-uangnya.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau menabung. Atau deposit. Atau apalah yang penting uang ini aman dan saya bisa menikmati bunganya."
"Oh, bisa kami hitung dulu uangnya bapak."
Orang itu mengangkat tasnya. Kemudian mengeluarkan beberapa tumpuk uang kertas. Teller menerimanya dengan wajah sumringah. Begitu akan dihitung,
"Lho Pak? Ini mata uang negara mana?" Teller terbelalak.
"Itu uang asli kok mbak."
"Iya saya tahu Pak. Ini asli. Mesin pendeteksi juga menunjukkan tidak ada masalah. Tapi saya belum pernah lihat mata uang ini Pak."
"Coba saya lihat mbak."
Di sudut kanan atas uang itu ada tulisan, 'Alat Tukar Sah Padepokan Batu Payung'.
"Sayang. Hati-hati ya. Semoga studi banding di Padepokan Batu Payungnya lancar. Semoga nanti sepulang dari sana membawa sesuatu yang bisa diterapkan di sini. Termasuk kurikulumnya."
"Iya sayang. Kesaktian setiap manusia harus dimunculkan."
"Harus ya sayang?"
"Nggak juga sih. Nggak juga nggak apa-apa."
"Lha terus ngapain kamu jauh-jauh sampe kesana?"
"Jauh?"
"Iya. Batu Payung kan jauh sayang."
"Yang bilang jauh siapa?"
"Lho bukannya kamu yang bilang?"
"Batu Payung itu hanya tiga puluh tiga kali kedipan mata sayang."
"Ealah. Lha buat apa kamu bawa barang banyak banyak kayak gitu sayang?"
"Ya buat gaya aja. Biar kesannya habis dari perjalanan jauuuuuhhhh...."
"Ya udah. Kalau gitu aku ikut."
"Ealah. Aku mau studi banding kurikulum berbasis kesaktian lokal sayang. Jangan ikut dulu. Cuma lokal lho. Deket. Kesaktian lokal itu kayak misalnya tanganmu gatal, terus tumbuh benjolan merah kecil, terus kamu tahu kalau penyebab benjolan merah itu karena digigit nyamuk. Pengetahuanmu soal penyebab kegatalan, itulah kesaktian lokal sayang."
"Bodo amat. Pokoknya aku ikut."
0 komentar:
Posting Komentar