Batu Payung. Keadaannya selalu sama. Tenang. Rindang. Penuh kasih dan sayang. Hanya saja mulai muncul beberapa anak cabang padepokan. Terhitung Padepokan Batu Payung sudah memiliki cabang ketujuh karena jumlah murid yang membludak. Padepokan Batu Payung memiliki jargon "Pengen Sakti? Jangan Ke Sini!".
Padepokan yang Ibunda Kun turut berpartisipasi di dalamnyq merupakan Padepokan yang pertama kali dirintis. Dan jangan harap kita akan bertemu dengan orang-orang sakti di sini. Yang kita temui adalah orang-orang yang dititipi dua jenis kemampuan saja. Kemampuan menanam dan kemampuan mengolah.
Seperti Ibunda Kun yang memiliki kemampuan mengolah bahan apa saja menjadi masakan yang super lezat. Dan seperti itu pula yang diingat Kun ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Batu Payung.
"Gimana Fayya? Sudah isi?"
Kun tak langsung menjawab karena mulutnya dipenuhi oleh potongan ayam kampung goreng.
"Belum. Minta restunya ya bunda."
"Selalu. Ibu selalu merestuimu nak."
"Kalau bisa laki-laki. Sehat."
"Iya. Sehat pasti."
"Kakek sekarang dimana?"
"Kakek lagi meresmikan cabang ke tujuh."
"Lho? Katanya sudah dibuka pendaftaran. Kok baru diresmikan?"
"Nak, ini Batu Payung."
"Sepertinya Batu Payung sudah mulai membuka diri ya Bun."
"Bukan. Batu Payung tidak pernah promosi kesana kemari. Bikin spanduk juga tidak. Nyebar brosur apalagi."
"Mereka tahu dari mana?"
Ibunda Kun menjawab dengan senyuman. Dalam hatinya dia berkata bahwa Batu Payung menjadi seperti ini karena sepak terjang Kun di luar sana. Namun Ibunda Kun merahasiakan ini semua. Supaya Kun tidak terlalu berat tanggung jawabnya.
"Bunda masih kelihatan cantik. Padahal sudah tua ya."
"Ini, Batu Payung. Apapun bisa terjadi di sini. Yang tidak mungkin di luar sana, menjadi mungkin di sini."
Mendengar itu Kun menghentikan makannya. Dia mencerna pernyataan sang ibu.
"Yang tidak mungkin di luar sana, menjadi mungkin di sini? Berarti keinginanku untuk membuat sekolah yang mengadopsi Kurikulum Berbasis Kesaktian Lokal dari Batu Payung, hanya bisa terwujud di Batu Payung saja? Kata Fayya ide-ideku tentang sekolah tidak mungkin diwujudkan di sana..."
"Kenapa nak?"
"Ah, nggak apa-apa."
"Kamu lupa? Ini,"
"Batu Payung. Ibu sudah tahu berarti?"
"Tidak ada salahnya mencoba nak. Jangan takut gagal. Jangan takut kalah. Kalau ingin sakti?"
"Jangan ke sini. Itu yang bikin jargon pasti Kakek."
"Siapa lagi. Itu saja terpaksa. Dan itu sebenarnya bukan jargon. Itu kenyataan lapangan. Kakekmu sudah tak ingin menerima murid lagi. Muridnya Kakek ya cuma kamu itu."
"Aku pikir dulu semua kesaktian kakek sudah lenyap karena sudah dipindah ke dalam tubuhku."
"Ibu kasih tahu satu rahasia. Nanti kalau kamu lihat atau dengar ada murid-murid yang membicarakan satu ilmu bernama Tenaga Dalam Negeri, kamu jangan kaget ya."
"Kenapa?"
"Ilmu itu menjadi ilmu favorit yang paling ingin dipelajari oleh murid-murid di sini."
"Favorit? Seberapa hebat ilmu itu?"
"Nggak ada. Itu tenaga dalam yang biasanya dipelajari."
"Terus kenapa ada tambahan negeri di belakang?"
"Kayak kamu nggak kenal kakekmu aja. Terserah dia mau melabeli ilmu itu apa. Mungkin besok meningkat lagi. Tenaga Luar Negeri. Atau Tenaga Dalam Tenaga.
"Ahahaha... kakek kakek. Kakek tak pernah berubah. Aku juga mau buat ilmu baru. Tenaga Dalam Bangeeettt....."
Mereka tertawa. Dari jauh si Kakek tahu, cucu kesayangannya pulang. Dia bahagia.
"Apakah ramalan itu benar-benar akan terjadi?" batin si Kakek.
0 komentar:
Posting Komentar