Rabu, 26 Oktober 2016

#Panen Pujian

Fayya menjemur pakaian di belakang rumah. Baru beberapa menit selesai, langit menggelap. Angin bertiup lamat-lamat membawa hawa dingin.

"Sayaaangg!!! Menduuunggg!!!" Fayya memberi isyarat kepada suaminya yang sedang menonton film Korea terbaru. Kebiasaan sejak mahasiswa yang tak pernah hilang sampai sekarang.

"Iyaaa!! Tauuuu!!" sahut Kun. 
"Diurus duluu!!"
"Mendungnya?!"
"Nggak. Hujannya nggak usah diusir. Kamu cepetan kesini! Angkatin jemuran!"
"Ealah..."

Kun membereskan beberapa helai pakaian yang benar-benar masih basah. 

"Makasih sayang."
"Yohoiii.. sama-sama sayang. Aku lanjut nonton film yak. Seru."
"Aku ikutan nonton ah."
"Lha jemuran ini?"
"Biarin."
"Nanti baunya nggak enak lho."
"Gampang. Serahin aja sama aku."

Mereka menuju kamar. Film Korea yang sudah separuh tayang, terpaksa diulang dari awal. Dalam situasi semacam ini, Kun tak bisa berbuat apa-apa. Perempuan pemegang kendali. Dengan muka terlipat Kun mengikuti jalan cerita yang dia sudah hampir hafal.

"Nggak tenang aja. Nanti nggak jadi mati. Perempuan itu masih hidup."
"Berisik! Diam dulu ah. Nggak seru kalau kamu spoiler terus kayak gitu."
"Itu nanti perempuannya berubah jadi..."
"Berisik!!! Diem nggak?"

Hujan deras datang. Angin yang semula lamat-lamat berubah jadi kencang. Bahkan menjadi sangat kencang. Pepohonan mengeluarkan derit-derit yang cukup bisa didengar sampai ke telinga Kun dan Fayya. 

"Sayang?"
"Apa?"
"Kamu nggak curiga? Kok aku merasa ada yang aneh dengan hujan dan angin kali ini?"
"Nggak ah. Nggak ada apa-apa. Ini biasa."
"Masa sih?"
"Iya. Lanjut nonton yuk."
"Tapi sayang, kok aku takut ya?"
"Fayya.. kan ada aku. Kenapa masih takut?"
"Beneran kamu nggak ngerasain apa-apa sayang?"
"Nggak ada apa-apa. Sudah lah."

Kun membelah diri. Yang satu duduk manis menonton film Korea bersama Fayya, yang satu keluar dari rumah. Menyambut kedatangan salah satu 'tamu'nya.

"Ada apa teman-teman?" tanya Kun.
"Apa kabar Kun?" tanya salah satu perwakilan rombongan berbaju ungu itu.
"Aku, baik. Kalian ada perlu apa?"
"Boleh kami masuk?"
"Nggak usah. Bisa banjir rumahku. Lagian di dalam 'kami' sedang nonton film Korea. Kalau Fayya merasa terganggu kalian mau dihantam cincin matahari?"
"Oh. Nggak usah kalau begitu. Kami di luar saja."
"Kedatangan kalian bisa nggak kalau nggak usah pakai hujan angin kayak ini? Mengganggu manusia. Bisa kena pasal mengganggu ketertiban umum."
"Ya nggak bisa lah Kun. Hujan dan angin adalah kendaraan kami. Tanpa itu kami nggak bisa kesini. Lagian kami cuma sebentar kok. Mau menitipkan sesuatu."
"Ya udah. Apa?"
"Begini Kun, kamu nggak kepikiran punya keturunan?"
"Ada. Kenapa?"
"Ini. Kami titip ini buat anakmu kelak?"

Sebuah batu kecil. Sangat kecil sekali.

"Kami titip batu ini."
"Itu namanya kerikil. Bukan. Batu."
"Batu."
"Kerikil."
"Batu."
"Kerikil."
"Ya sudah. Kami titip kerikil ini untuk anakmu kelak. Ini sebagai tanda terima kasih kami atas bantuanmu mengatasi masalah perang saudara antar makhluk di dimensi kami. Kalau bukan karena jasamu, mungkin kami sudah tidak ada lagi di kehidupan ini. Sekali lagi terima kasih. Kami ini memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya untukmu Kun. Kami sudah menyiapkan sebuah patung di tengah kota untuk mengenang jasa-jasamu."
"Oh. Kalau begitu dengarkan aku baik-baik. Hari ini aku merasa terhormat. Aku akan menerima hadiah dari kalian tapi dengan syarat."
"Apa itu?"
"Robohkan patung itu."
"Tapi..."
"Robohkan patung itu. Sekali lagi robohkan patung itu."
"Baiklah. Terima kasih banyak."
"Kalau sudah selesai urusan kalian, segera pergi. Jemuranku banyak."

Rombongan itu pergi. Kun menggenggam kerikil pemberian mereka. Kemudian dia membuangnya di halaman rumah. 

"Kalau memang kerikil ini energinya baik, besok pasti aku panen cabe. Mending panen cabe daripada panen pujian. Hari ini aku dipuja-puja. Besok? Lagian aku tahu patung menurut versi mereka itu beda dengan versi manusia. Kemarin aja katanya mau bikin patung kuda jadinya patung bebek. Nyebut kerikil aja batu. Kok berani-beraninya bikin patungku.

Di kamar, film Korea masih diputar. Kun dan Fayya tertidur. Padahal hujan sudah pergi. Dan mentari tersenyum menyinari. Jemuran sudah menanti.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar