Sebentar lagi sekolah dimana Kun dan Genderuwo menjalankan misi akan melakukan proses akreditasi. Ini yang membuat Kun selalu tidak mengerti kelakuan dan polah tingkah manusia. Satuan pendidikan yang biasa menilai anak didiknya kini harus rela dinilai lagi oleh, pihak lain. Sang Assesor, begitu mereka menyebutnya. Dalam beberapa waktu saja Kun dan Genderuwo harus segera menyelesaikan administrasi sekolah dan yayasan.
"Pusing Gen. Pusing."
"Udah Kun. Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan. Manusia memang ribet."
"Tumben kamu ngomong gitu. Biasanya belain manusia?"
"Di tahap dan di saat tertentu iya. Tapi untuk persoalan yang beginian ini sudah melampaui batas."
"Gini aja Gen. Habis proses akreditasi ini, gimana kalau kita liburan? Gagak Rimang, Serigala Botak, sama Pangeran Tokek diajak sekalian gimana?"
"Emang mau liburan kemana Kun?"
"Kemana aja pokoknya asal nggak di bumi. Bosen. Ke wilayah Anta Riksa aja Gen. Katanya ada tempat pemandian 'air awet muda'."
"Bolehlah Kun. Tapi itu kita bahas nanti. Yang jelas persoalan akreditasi ini kita selesaikan dulu. Itu standart tiga udah kan?"
"Udah. Aku udah sampai standart tiga puluh lima."
"Ha?! Kan cuma sampai delapan?"
"Lho? Lha ini apaan?"
"Mana coba lihat?"
"Nih."
"Astagaaa... bener Mbok Sum. Kamu nggak hanya tambah sakti. Tapi tambah bodo juga. Baca lagi apa judulnya Kun."
"Standart Penilaian Akreditasi Sekolah Dukun. Iya ya. Standart dukun kan beda sama manusia biasa ya?"
Di sebuah tempat di wilayah Anta Riksa....
Terjadi perang yang sangat dahsyat untuk memperebutkan pemandian awet muda. Berbagai jenis makhluk dari dimensi yang berbeda saling serang untuk menguasai pemandian tersebut. Hanya kelompok dari manusia yang belum ada. Korban sudah berjatuhan. Masalah semakin besar. Dan makhluk-makhluk itu menuduh manusia sebagai dalang di balik peristiwa ini. Menurut mereka, manusialah yang mengadu domba mereka untuk berperang dan saling serang. Supaya saling bunuh dan ketika mereka semua mati, habis, manusialah yang akan menjadi penguasa pemandian air awet muda itu. Padahal tempat itu adalah tempat umum bagi semua makhluk dari segala dimensi.
Segera kabar itu tersiar sampai ke telinga Kun. Segera pula ia menghubungi Genderuwo, Gagak Rimang, dan Pangeran Tokek.
"Bahaya kalau mereka sampai menyerang ke bumi. Bisa habis manusia." Kun memimpin rapat.
"Bukannya manusia suka berperang Kun?" Genderuwo berpendapat.
"Iya mereka suka perang, tapi sebenernya lebih suka perang-perangan. Ada ide nggak?" Kun merespon balik.
"Apa Kun? Perang-perangan?" Serigala Botak heran.
"Penjelasannya nanti. Sekarang gini. Bumi ini kan terdiri delapan penjuru mata angin, nah jumlah kita kan empat, jadi satu personil menjaga dua penjuru mata angin. Ngerti?"
"Bukannya lebih enak kita pakai ilmu membelah diri Kun. Kan kita bisa jadi lebih dari satu?" Pangeran Tokek, cerdas.
"Resikonya besar. Kita mudah low bat Kek. Masalahnya kita belum tahu berapa yang datang ke bumi." Lalu Kun terdiam. Hening untuk beberapa saat. Masing-masing berpikir bagaimana menjaga bumi ini.
"Kenapa kita tiba-tiba peduli dengan bumi ya? Padahal kalau kita mau kita tinggal pergi saja dari bumi ini." Genderuwo memecah kesunyian. Pangeran Tokek dan Serigala Botak seperti mengamini.
"Itu tandanya, kalau kita punya kepedulian yang besar dan sayang terhadap manusia. Meski mereka suka perang, sejatinya kalau boleh memilih lebih baik tidak usah ada peperangan. Mungkin kita berempat ini yang ditugasi menjaga bumi. HEH! Diajak dialog malah tidur! Ayo berangkat!"
Kun sudah berpamitan kepada Fayya. Dramatis. Penuh derai air mata. Penuh haru. Seperti ini.
"Fayya sayang aku harus menjaga bumi."
"Pulangnya jangan malam-malam."
"Hadeh. Nangis kek apa gimana gitu pokoknya yang dramatis."
"Ini udah keluar air matanya." Jawab Fayya sambil mengupas bawang merah.
"Oalah."
"Ini namanya bawang merah."
"Udah tahu!"
"Inget ya. Bawang merah. Bukan barang mewah."
"Iya!"
"Apa coba?"
"Bawang merah!"
"Apa?"
"Bawang merah!"
"Coba dicepetin ngomongnya."
"Bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah barang mewah!"
"Ahahaha..." Fayya tertawa meski dalam hati sebenarnya dia merasa cemas luar biasa.
Makhluk-makhluk dari berbagai dimensi mulai memasuki bumi. Kun menjadi penjaga gerbang utama. Dia yang akan menghadapi para utusan mereka.
Nafasnya diatur sedemikian rupa. Ketenangan batin dan hatinya ditata. Kekuatan dikumpulkan menjadi satu titik prinsip. Jangan sampai ada korban.
Lima makhluk menghampiri Kun. Mereka tanpa basa basi langsung memberi hormat kepada Kun.
"Kun. Selama masih ada makhluk seperti anda di bumi ini, kami, tidak akan pernah mau berurusan dengan bumi. Kami percaya pelaku yang mengadu domba kami bukan berasal dari bumi."
"Terima kasih tuan-tuan semua. Terima kasih atas kepercayaannya yang telah diberikan kepada saya." Kun menitihkan air mata yang kemudian diikuti oleh utusan-utusan itu. Air mata itu keluar karena keadaan yang memilukan.
"Baiklah kami undur diri dulu. Salam untuk ketiga temanmu."
Makhluk itu pergi. Kun berhasil mengelabuhi mereka dengan air mata buatan hasil remesan bawang merah yang ditempelkan Fayya di wajah Kun sebelum berangkat tadi dengan rapal mantra,
"Bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah barang mewah!"
Dan Kun melanglang buana ke Anta Riksa dengan kartu khusus bertuliskan 'Kun Anta (Riksa)'.
0 komentar:
Posting Komentar