Kamis, 06 Agustus 2015

#Kembalinya Si Dukun

Kun meletakkan berkas-berkas penilaian untuk anak didiknya. Pusing kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa manusia melakukan pekerjaan rumit seperti ini. Demi apa?

"Gimana Kun? Selesai?" Genderuwo yang masih dalam penyamaran sebagai kepala sekolah menghampirinya.
"Pertanyaanku satu Gen." 
"Apa?"
"Kamu kok kuat menyamar menjadi kepala sekolah? Bukannya pekerjaan kepala sekolah sangat rumit?"
"Kamu masih meragukan kemampuan kami Kun? Menyamar jadi juru supit aja kami mampu kok."
"Perbandingan yang aneh. Juru supit kok dibandingkan dengan kepala sekolah."
"Kun. Menjadi juru supit adalah uji kelayakan ilmu kami yang paling akhir. Kalau kami berhasil melakukan supit dengan selamat, maka kami lulus. Urusannya masa depan Kun. Salah potong kan bisa runyam?"
"Iya sih Gen. Kamu benar."
"Eh tapi kamu nggak sakit kan?"
"Nggak Gen. Sedikit lelah aja mungkin."
"Butuh istirahat? Mau ambil cuti sekalian?"
"Nggak ah. Kalau aku ambil cuti Fayya pasti marah-marah. Kalau aku ingin menjadi manusia seutuhnya, aku harus mampu dan mau menanggalkan seluruh kemampuanku Gen. Kemaren aku cek kadar kesaktianku sudah mulai menurun. Hampir 70%. Itu artinya sedikit lagi, aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Aku nggak mau keturunanku sama anehnya dengan diriku Gen."
"Oh. Sekarang aku ngerti. Kenapa janin yang ada di perut Fayya menghilang secara misterius kemaren. Mungkin menunggumu menjadi manusia seutuhnya, baru dia lahir Kun."
"Mungkin Gen. Peristiwa kemaren itu membawa perubahan besar di dalam diriku. Ketika rasa kehilangan itu muncul, seketika itu juga aku merasa hampir menjadi manusia. Kecewa bahasa sederhananya Gen."
"Nggak apa-apa Kun. Gini Kun, soal gelombang aneh di belakang sekolah ini gimana?"
"Aku nggak up date Gen. Terlalu disibukkan dengan administrasi sekolah ini. Di sisi lain, aku bersyukur. Bersyukur bisa mulai merasakan apa yang dialami manusia. Sudah jarang terbang. Hampir nggak pernah menggunakan ilmu ngilang lagi."
"Kun, kamu serius ingin jadi manusia seutuhnya."
"Ku rasa iya Gen. Sudah memantapkan hati."
"Ya sudah Kun. Mungkin persoalan gelombang aneh di belakang sekolah ini biar aku yang hendel. Kamu pulang aja. Fayya masih butuh perhatian dan kasih sayangmu."

Kun pulang. Matanya berkunang-kunang. Jadi manusia saja belum utuh, gimana mau jadi bapak? Pikirnya.

Bel pintu rumah berbunyi. Pintu rumah terbuka. Fayya masih seperti dulu, cantik dan cerdas. Fayya mencium punggung tangan Kun. Kun mencium kening Fayya.

"Aku masak makanan kesukaanmu sayang."
"Apa yang?"
"Sambal udang basi."
"Hmmm... nyam nyam..."
"Jangaaaann ngiler di pundakkuuuu!!"
"Maap maap maap sayang."
"Yaaah baru juga dicuci."
"Iya maap. Nanti aku cuci deh. Makan yuk."

Setelah makan mereka berdua melanjutkan adegan di dalam kamar. Selalu seperti itu. Sebelum tidur, baik siang maupun malam Kun dan Fayya mengambil waktu barang sejenak untuk saling bertukar cerita. Mungkin yang mereka bicarakan soal masa depan. Namun tak jarang pula mereka memetakan masa lalu. Khususnya peristiwa itu. Peristiwa yang membatalkan Kun menjadi seorang bapak.

"Kita coba lagi ya sayang." Fayya meyakinkan Kun.
Kun mengangguk. Lalu dia tidur. Baru beberapa menit terdengar teriakan tetangga minta tolong. Teriakan yang membuat Kun dan Fayya terbangun dan bergegas keluar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. 

"Kenapa mbak?" Ku bertanya kepada pemilik teriakan tadi.
"Itu mas Kun. Tolong itu! Tolong!" Mbak itu menunjuk ke arah langit.
Kun terkejut. Dia melihat awan hitam berputar-putar tepat di atas rumah si Mbak.
"Nggak apa-apa Mbak. Itu angin biasa." Kun coba menangkan dan menganggap hal itu biasa saja. Tapi ada yang berkecamuk di hatinya. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Kun menatap ke arah Fayya. Fayya menggeleng. Kun terus menatap Fayya. Fayya tetap menggeleng. Awan hitam itu berputar semakin cepat. Si Mbak berteriak semakin keras. Tetangga sudah mulai membuka pintu rumah masing-masing dan hampir keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum Fayya akhirnya menganggukkan kepala.

Bagi Kun itu adalah pertanda ada ijin dari Fayya untuk membereskan awan hitam itu. Dengan segera ditepuklah pundak si Mbak yang tentu saja langsung pingsan tak sadarkan diri. Kemudian Kun menjejakkan kaki ke tanah 3,5 kali lalu melesatlah dia ke gumpalan awan hitam itu.

"Gini aja deh! Langsung tunjukkan siapa dirimu! Daripada ku hanguskan kamu!" Seperti biasa tanpa basa basi Kun memberikan peringatan.
"Kamu tidak berubah."
"Heh! Siapa kamu! Jangan sok tahu soal aku!"
"Sok tahu? Gimana aku tidak tahu siapa kamu? Kamu yang menyelamatkan aku waktu itu."
"Ha?" Kun tercengang.
"Inget sama badai yang kamu halau hingga kamu masuk angin?"
"Badai? Masuk angin?"
"Hajatan."
"Astagaaa... itu kalian?"
"Iyaaaa Kuuuunnn...."
"Kalian ngapain ke sini? Jangan bilang kangen sama aku ya."
"Nggak Kun. Kami kaget aja. Kami dapat kabar dari Gagak Rimang katanya sebentar lagi kamu jadi manusia. Bener seperti itu?"
"Iya."
"Kalau iya. Kami bakal kehilanganmu. Cuma kamu yang bisa menjadi penghubung antara dunia kami dan dunia manusia. Kamu yang sering mengingatkan kami untuk tak semerta-merta tunduk begitu saja kepada perintah manusia. Apalagi kalau tujuannya menggunakan jasa kami adalah untuk menyakiti manusia yang lain. Kalau kamu pensiun dini, siapa yamg mengurus gelombang-gelombang seperti kami Kun?"

Kun terdiam sejenak. Lalu,
"Tidak. Tidak bisa. Aku tetap pada pendirianku. Aku harus merelakan kemampuanku. Semuanya."
"Baiklah Kun. Kami tidak bisa memaksamu. Kami pamit. Salam kepada tuan putri mu, Fayya."
"Oke."

Gumpalan awan hitam itu pergi. Hilang. Berganti awan-awan yang putih cerah merangsang. Kun lalu turun ke bumi menemui Fayya yang sedang mengipasi si Mbak.

"Gimana yang?"
"Nggak apa-apa."

Kun memegang pundak si Mbak. Yang kemudian tersadar.

"Ha? Dimana aku? Aku kenapa?"
"Tadi Mbak lagi jalan di depan rumah kami lalu mbak tertabrak kucing yang membawa ikan curian lalu mbak pingsan." Jawab Fayya. Kun tersenyum. Istrinya semakin dewasa dan pandai mengarang cerita. 

Kemudian setelah si mbak sehat Kun dan Fayya masuk ke rumah. Namun kekita hendak membuka pintu Kun terjatuh. Dahinya mengeluarkan cahaya. Fayya melihat itu dan segera menyeret Kun ke sofa supaya tetangga tidak curiga. Dahi Kun bercahaya selama 33 menit. Karena Fayya tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengambil wajan jumbo untuk berjaga-jaga kalau-kalau Kun berubah menjadi monster jahat.

Begitu siuman, kata pertama yang diucapkan Kun adalah, 
"Sial!"
"Kenapa yang?"
"Tadi indikator kekuatanku menunjukkan penurunan."
"Bagus dong yang kalau gitu."
"Maksudku kadar kemanusiaanku turun."
"Gara-gara kamu terbang ya?"
"Bukan. Bukan itu. Gara aku mau menolong tetangga kita dan mendapat persetujuanmu."
"Ohhh.... jadi kamu mau bilang ini semua gara-gara aku?! Aku yang salah?"
"Bukan yang. Bukan begitu maksudku. Maksudku.... yang jangan pukul aku pakai iiiitttt...."

PLAK!

Wajan jumbo mendarat lagi ke kepala Kun setelah empat tahun. Dan sebenarnya inilah aktivasi terdahsyat kekuatan Kun. Dipukul wajan jumbo oleh Fayya. Aktivasi dari orang yang dicinta. Selamat datang kembali, dan tetaplah jadi dirimu yang sesungguhnya Kun. Begitu ucap awan hitam tadi. Sedangkan di sekolah si Genderuwo tersenyum merasakan kembalinya kekuatan Kun, yang kali ini lebih berlipat dari biasanya. Tiga puluh tiga kali lipat.

Karena jumlah pukulan wajan jumbo Fayya tiga puluh tiga kali juga. Mau jadi manusia seutuhnya kok susahnya minta ampun. Batin Kun sambil menahan sakit.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar