"Sayaaaang..... bangun. Udah jam berapa ini? Katanya masuk jam setengah tujuh." Fayya berbisik lembut.
"Jam berapa sayang?" Kun berucap lirih sambil mengelap ilernya.
"Jam setengah lima sayang." Fayya mengusap rambut Kun yang semalam baru saja dipotong.
"Baru juga jam setengah lima sayang. Bobo lagi ah."
"Eeeh. Jangan gitu dong sayang. Kalau Gurunya telat bagaimana muridnya? Ayo bangun sayang."
"Uhmmm, tapi ada syaratnya."
"Apa sayang syaratnya? Hmm?"
"Cium kening dulu."
"Iya. Sini sini sayang. Muuuaaahhh...."
"Makasih sayang. Bobo lagi ya."
THUWANG!
"Aduh! Sakit sayang!"
"He? Mau dipukul lagi pakai wajan jumbo? He? Bangun nggak! Bangun!"
"Iya iya. Bangun nih."
"Disayang sayang kok masih nggak ngerti juga. Bangun! Air kembangnya udah siap dari tadi! Keburu dingin ntar rasanya kayak pipis kuda!"
"Iya iya. Galak banget sih sekarang. Dulu aja nggak pernah mukul. Sekarang mukul beneran. Sakit nih."
"Sakit sayang? Aduh maaf deh. Sini coba lihat. Ups... Maaf sayang. Tadi maunya bercanda. Taunya kena beneran maaf ya."
Begitulah. Hari pertama Kun mengajar diwarnai dengan adegan yang masuk kategori 'deleted scene'. Cukup brutal. Apalagi jika dikonsumsi para pengantin baru yang ingin membina keluarga harmonis. Tidak layak ditiru memang. Namun, seperti itulah kemesraan yang terjadi antara Kun dan Fayya. Romantisme wajan jumbo.
Kun sudah selesai mandi. Tampilannya cukup menawan. Fayya menjadi penata gaya bagi Kun. Setelah Kun memberi kabar bahwa dirinya diterima menjadi guru di sebuah sekolah di bawah naungan yayasan yang cukup perlente Fayya bergegas mencari referensi fashion guru masa kini. Dari yang casual hingga yang modis tapi terksesan disembunyikan. Misalnya. Paduan celana bahan halus model skinny dan sepatu pantofel mengkilap bagi guru laki-laki. Iya, percuma juga sih kalau Fayya mencari referensi fashion guru perempuan. Kalau fashion istri para guru, dia sudah menguasai.
Untuk Kun, Fayya sudah menyiapkan kostum yang paling pas untuk dipadupadankan dengan tubuh Kun yang tinggi semampai, berkulit kuning bangsat, bertangan panjang, dan berkaki lebar. Memang hanya Fayya satu-satunya perempuan yang sudah paham lekuk tubuh Kun.
"Ini untuk hari Senin. Ini hari Selasa. Ini Rabu. Ini Kamis."
"Stop. Khusus untuk hari Kamis aku tidak mau menyalahi aturan leluhurku di Batu Payung. Untuk hari Kamis aku harus pakai kostum hitam-hitam."
"Sayaaaang.... Nanti yang diajar kan murid SD. Masih anak-anak sayang. Anak-anak itu sukanya warna-warna cerah."
"Itu salah satu kesalahan pendidikan kita. Siapa bilang hitam itu menakutkan? Siapa bilang anak-anak tidak suka hitam? Anak-anak itu bukan badut. Yang didandani warna-warni seperti crayon berjalan. Sudah aku pakai hitam-hitam aja."
"Hmmm... gini aja sayang." Kemudian Fayya membisiki Kun.
"Hmmm... cerdas kamu sayang. Istri siapa sih ini?" Kun memuji dengan nada kesal.
"Istrinya Pak Guru." Fayya tersenyum.
Tahu apa yang dibisikkan Fayya kepada Kun? Seperti ini.
"Kalau begitu yang hitam-hitam dalemannya aja sayang."
Dengan rasa yang serba aneh dan mengganjal, Kun berangkat menuju sekolah. Batinnya agak sedikit tersiksa. Menghadapi makhluk dari alam apapun dia sanggup. Tapi anak kecil? Bisa apa dia dihadapan anak kelas 2 SD? Sedangkan masa kecil Kun sendiri sudah dipenuhi dengan hal-hal seperti, terbang, menghilang, memindahkan benda tanpa memegangnya, dan beberapa ketrampilan yang sebenarnya tidak pantas untuk dimiliki oleh anak seusianya. Iya. Kun memang terlahir spesial. Karena itu juga, Fayya sayang kepadanya.
"Perkenalkan anak-anak nama saya, Pak Dewa. Siapa anak-anak?"
"Pak Dewaaaaaaaaa...."
Harus. Demi kepentingan misi penyelamatan ini Kun harus mengganti namanya menjadi Dewa. Pak Dewa begitu Genderuwo memilihkan nama tanpa pertimbangan filosofis dan maknawi apapun. Asal aja. Dewa. Pak Dewa.
"Mulai hari ini dan seterusnya Pak Dewa akan menemani kalian belajar sambil bermain."
"Bermain pak?" tanya anak lelaki yang masih terbuka resleting celananya.
"Iya bermain." jawab Kun ramah. Padahal dalam hati dia mencaci maki Genderuwo. Genderuwo kurang kerjaan! Begitu batinnya.
"Asyiiikkkk!!! Teman-teman kita tidak akan belajar tapi bermain-main sama Pak Dewa!"
"Asyiiiiikkk!!!" Jawab paduan suara cempreng anak-anak itu.
"Pak Dewa Pak Dewa..."
"Iya, ada apa?"
"Pak Dewa aku punya pertanyaan buat Pak Dewa."
"Pertanyaan? Tapi sebelum itu perkenalkan siapa nama kamu?"
"Namaku Ucup Pak."
"Ucup? Yusuf kali?"
"Nggak pak Ucup."
"Nama lengkapnya?"
"Ucup Mesranianto Pak."
"Astaga, itu Kecup kali Cup! Kecup Mesra Nian. Karena kamu laki-laki ditambah akhiran -to."
"Bukan Pak! Ucup! Bukan Kecup!"
"Iya iya. Suka-suka bapak ibumu lah."
"Bukan Pak. Yang memberi nama ini bukan bapak ibu. Tapi kakek."
"Oooo kakek."
"Ho'oh pak. Kakek saya dukun."
"Astaga... pantesan aneh gitu ya? Dimana-mana dukun memang aneh Cup."
"Pertanyaanya sekarang Pak."
"Oh iya. Apa pertanyaannya Cup?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Iya Pak. Apa?"
"Uhmmm, apa ya Cup. Pertanyaan yang sulit Cup. Anak-anak ada yang tahuuuuuu?"
"Tidaaaaaakkkk!!!!"
"Ayo pak. Apa Pak?"
"Bentar Cup. Beri waktu bapak berfikir Cup."
"Ucup hitung sampai lima ya Pak. Satu.... Dua.... Tigaaaaa.... Empaaaaaatt... dan Liiiiimmmm...."
"Nyerah Cup. Pak Dewa nggak tahu."
"Yes! Binatang yang tidak memiliki ekor adalah Kita!"
"Astagaaaaa... Genderuwo sialan. Ini sekolah macam apaaaaa.....!!!!"
Saat istirahat di ruang kepala sekolah,
"Kamu gila ya Gen. Anak-anak di sini aneh-aneh semua! Lebih baik aku menyamar jadi tukang kebun aja daripada jadi guru."
"Hehehe... Tapi asyik kan Kun?"
"Asyik apanya. Kirain cuma satu anak yang aneh. Nggak tahunya semua. Masa mereka baru mau belajar kalau aku menyanyi sambil menari dulu. Dan mereka maunya aku melakukan itu setiap pagi sebelum pelajaran dimulai lho."
"Hahaha, kelas 2 itu memang agak spesial Kun. Makanya aku minta kamu yang pegang. Kamu kan pawang. Pakai dong energi pawangmu."
"Heh! Asal kamu tau ya Gen. Fayya melarangku untuk menggunakan kekuatan apapun selama aku di sini. Apalagi ilmu tinggi sekelas ilmu pawang itu."
"Takut sama istri?"
"Bilang seperti itu lagi ku kembalikan kamu ke alam asalmu selamanya lho!"
"Nggak Kun. Bercanda bercanda."
"Tapi, ada baiknya juga sih Gen aku berinteraksi dengan anak-anak. Belajar kalau punya anak besok." senyum Kun mengembang.
"Cieeee... emang udah berapa bulan Fayya."
"Nggak tahu. Aku nggak ngitung. Kalau saatnya lahir juga akan lahir sendiri."
"Pengen cowok apa cewek?"
"Apa aja lah Gen. Yang penting nggak kayak bapaknya?"
"Lha? Emang anak siapa kalau nggak mirip kamu."
"Maksudnya biar hatinya kelak selembut ibunya. Galak galak gitu istriku ngangenin Gen."
"Tahu lah perjalanan cinta kalian kayak apa."
"Gen, aku ijin pulang dulu ya."
"Ngapain pulang."
"Kangen Fayya Gen."
"Ijin pulang karena kangen istri Kun? Tidak! Sekolah ini baru aja memenangkan lomba disiplin tingkat nasional. Dengan kata lain, sekolah ini sangat menjunjung tinggi asas kedisiplinan semua kalangan. Baik guru maupun murid. Ijin pulang karena kangen? Cuih...."
"Nggak boleh?"
"Boleh deh boleh. Matamu udah memerah gitu. Bentar lagi keluar apinya deh. Daripada aku jadi Genderuwo bakar. Iya deh silakan pulang deh. Ati-ati di jalan deh. Aku kasih uang saku sekalian deh."
Kun pulang pagi. Dia sudah tidak kuat menahan rindu. Namun dia tidak pernah lupa akan misinya. Membongkar gelombang aneh di sudut belakang sekolah bersama Genderuwo.
"Sayaaang aku pulaaaang...."
"Lhooo sayang kok udah pulang? Bukannya kemarin katanya sampai jam dua. Ini kenapa jam sepuluh udah pulang. Kamu sakit sayang?"
"Nggak. Aku kangen sama kamu."
"Hmmm.. sini peluk dulu sayang..."
"Iya sayang."
"Sayang..." Fayya berbisik.
"Hu'um?"
"Kamu pilih aku pukul pakai wajan jumbo lagi apa balik ke sekolah sekarang juga?"
"Astagaaaa...."
Kun kembali ke sekolah dengan pikiran, "Kalau begini caranya kapan proses pembuahan di siang hari akan terjadi....."
0 komentar:
Posting Komentar