Antrian panjang. Bau keringat menyeruak dimana-mana. Hampir semua mata menyipit. Panas. Beberapa ada yang mencoba menyejukkan tubuhnya dengan menggunakan jari jemarinya. Semacam, kipas darurat meski mereka tahu efek yang ditimbulkan tidak seberapa.
"Nanti, kalau ikut antrian para pelamar, nggak boleh curang. Sayangku harus ikut audisi senatural mungkin." begitu pesan Fayya kepada Kun.
Boleh ditebak, Kun memang sedang ikut dalam audisi GURU INDONESIA. Sebenarnya ini merupakan pantangan besar. Bisa saja menimbulkan efek samping yang kurang baik bagi kesehatan Kun. Namun, karena kondisi sosial, dia harus menjadi manusia normal. Manusia biasa. Atau lebih tepatnya, manusia. Nggak pakai normal nggak pakai biasa. Manusia.
"Uhmmm, cuma itu syaratnya sayang?"
"Iya. Pokoknya kamu nggak boleh pakai kekuatan apapun. Kamu harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau yang lain kepanasan, kamu juga harus mau kepanasan. Jangan lantas mengeluarkan jurus Masuk Angin mu."
"Yeeee, emang namanya jurus masuk angin?"
"Fayya sendiri yang ngarang itu."
"Doakan aku sayang."
Keringat mulai membasahi baju Kun. Satu orang di depannya mencoba menawarkan minum. Kun tahu orang itu tidak berniat jahat kepada Kun tapi Kun tetap menolak. Dia sengaja berpuasa untuk menguji seberapa kuat dirinya berdiri lama, dengan kondisi menyengat dan, bau.
"Audisi aneh. Dimana-mana yang ada orang meminta diangkat menjadi murid. Ini malah mencalonkan diri menjadi guru. Minta diangkat lagi. Emang karung beras minta diangkat." perempuan di belakang Kun mengomel sendiri. Kun membalikkan badan dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas, ini audisi teraneh sepanjang sejarah kehidupan saya mas. Setahu saya di film-film silat itu yang ada hanya orang-orang yang minta diangkat menjadi murid. Bukan minta menjadi guru kayak audisi ini." perempuan itu sewot. Kun mencoba jernih.
"Maaf mbak, tapi ini kan bukan film silat. Ini kan dunia nyata."
"Dunia nyata apanya mas? Ini tuh lebih aneh dari film kartun!"
"Terus kenapa mbak ada di sini?"
"Terpaksa mas. Supaya ijazah saya berguna."
"Ijazah apa mbak?"
"Aduh dimana ijazah saya!?" perempuan itu lantas keluar dari antrian dengan wajah panik.
Kun memejamkan mata. Dia mencoba memindai sebenarnya seperti apa isi kepala orang-orang yang ikut mencalonkan diri menjadi guru ini. Kun mendapatkan berbagai macam jawaban. Dia senyum-senyum sendiri. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia ini. Batin Kun. Namun Kun menangkap sinyal aneh. Kun mendapati sebuah gelombang yang tak dikenal. Tempatnya tepat di belakang gedung audisi berlangsung. Kun terus mendeteksi. Baginya, ini gelombang baru. Apa ini? Atau tepatnya siapa ini? Kun semakin penasaran. Gelombang tak dikenal itu memenuhi kepala Kun hingga Kun hampir terjatuh. Kun mencoba membiarkan untuk sementara waktu gelombang tak dikenal itu. Dia ingin fokus kepada pesan Fayya.
Setelah menunggu, akhirnya nama Kun dipanggil. Dia sudah duduk di hadapan penguji.
"Nama?"
"Kun."
"Nama lengkap?"
"Kun."
"Nama panggilan?"
"Kun."
"Nama sayang?"
"Kun."
"Tempat tanggal lahir?"
"Batu Payung 11-11-11."
"Tahun 1911?"
"Bukan. Tahun 11."
"Oh. Hobi?"
"Terbang."
"Ketrampilan?"
"Menghilang."
"Kegiatan selama ini?"
"Jualan jagung bakar."
"Ada warung?"
"Ada."
"Dimana?"
"Di dalam piramida."
"Baik tunggu sebentar."
Jawaban yang normal menurut Kun. Dia mengemban amanah dari istrinya, Fayya. Bahwa, katakanlah dengan jujur meskipun itu pahit.
"Saudara Kun. Silakan ke dalam. Pimpinan yayasan ingin bertemu langsung."
Begitu Kun masuk ruangan,
"Kuuuunnnnn!!!"
"Aduh. Sial! Kostum kamu jelek Genderuwo!"
"Hahahaha... sini peluk dulu sahabatkuuuu!"
"Aaakkkk... pelan-pelan woy!"
"Iyaaa maaf.. terlalu seneng aku. Lama kita tak bersua kawan! Hahahaha.."
"Satu pertanyaanku. NGAPAIN KAMU DI SINI!"
"Hahaha.... nggak kok. Ini tugas dari kaumku."
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mengurusi yayasan ini."
"Nggak. Aku nggak paham. Kamu, makhluk dari alam lain, disuruh mengurusi yayasan milik manusia?"
"Ceritanya begini. Pemilik yayasan ini orang yang baik. Sangat baik sekali. Orangnya jujur, ramah, tegas, adil, bersahaja, berwibawa, tidak gampang mengeluh, tidak gampang cengeng..."
"Oke. Stop. Itu kamu bukan tim sukses kan?"
"Hahaha.. nggak lah Kun. Kami, makhluk Genderuwo, mengendus, bahkan mendapatkan data kalau pimpinan yayasan di sini sedang dalam keadaan bahaya. Kami tidak tega Kun. Lantas kepala suku kami menemui pimpinan yayasan ini dan menawarkan operasi penyelamatan."
"Jadi maksudmu sekarang pimpinan yayasan yang asli sekarang ada di.."
"Yap. Dia aman di wilayah kami. Kami mengambilnya kemarin. Sekarang aku yang menjadi dirinya untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman. Lupa kalau kami ini, kaum Genderuwo ahli dalam bidang penculikan dan spionase? Masih ingat dengan cerita tiba-tiba ada anak menghilang dan orang-orang menganggap diambil oleh Genderuwo kan?"
"Iya tau. Cerita basi itu. Bahkan kalian juga menyunat. Dasar ahli medis salah sasaran kalian."
"Hahaha... begitulah Kun."
"Berarti audisi Guru Indonesia ini pasti juga ulahmu kan?"
"Hahaha.. iyaaa.."
"Dasar makhluk aneh."
"Jujur Kun. Aku memang sengaja membuat acara seperti ini untuk memancing kedatanganmu. Kalau aku ke rumahmu langsung, pasti istrimu akan marah-marah. Kamu kan disuruh berperilaku normal. Nggak boleh main lagi sama kita-kita ini."
"Ya bukan begitu Gen. Ada baiknya juga istriku berbuat seperti itu. Bosen tiap harus ketemu sama makhluk aneh kayak kamu!"
"Terserah kamu lah Kun. Hahahaha.. yang jelas aku butuh bantuanmu saat ini untuk menyelamatkan yayasan ini Kun. Atau lebih tepatnya menyelamatkan sekolah ini. Dari...."
"Dari apa?"
"Dari...."
"Dari apa Gen!"
"Dariiiiii...."
"Gen!"
"Dari sesuatu di belakang gedung ini."
"Astaga.. pantas saja aku menangkap gelombang yang aneh."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kun?"
"Gen. Ini akan butuh waktu lama. Tidak bisa sekarang. Aku sama sekali belum pernah merasakan gelombang seperti ini sebelumnya. Satu atau dua tahun mungkin belum cukup."
"Oke. Supaya kamu mudah melakukan pendeteksian sekarang sebagai pimpinan yayasan aku mengangkatmu langsung menjadi Guru di sini."
"Ha?"
"Kamu dapat jadwal mengajar kelas 2."
"Ha? Kelas 2? SD? Aku mengajar anak kecil?"
"Terserah nanti kamu ajari terbang atau terbang-terbangan atau apalah. Yang jelas sesuatu di belakang gedung ini harus segera diketahui. Ini jadwal mengajarmu."
"Sebentar-sebentar..."
"Sudah tak ada waktu lagi Kun. Kamu harus di sini masuk dalam operasi penyelamatan ini."
"Masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang Gen? Kamu gila apa? Aku tidak pernah mau mencalonkan diri sebagai Guru Gen! Nggak! Aku jadi murid saja! Kamu tahu kan nilai akademis ku sewaktu kuliah seperti apa? Kamu ingat kan bahwa kelas utamaku adalah kantin Mbok Sum?"
"Ayo lah Kun. Tolong bantu kami dalam misi penyelamatan ini. Beliau orang baik Kun."
"Haduh. Padahal aku nggak berharap diterima Gen. Aku nggak pantes jadi guru Gen."
"Demi Fayya."
"Gen...."
"Lakukan ini demi orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu Kun. Sebagaimana kami kaum Genderuwo menyayangi pimpinan yayasan ini."
"Gen...."
"Oh iya, jangan lupa buat RPP nya juga."
"Astaga....."
Di rumah,
"Sayang selamat ya akhirnya kamu diterima jadi guru." Fayya memeluk Kun erat. Pelukan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
"Iya. Makasih ya sayang." Kun mencoba memaksa diri untuk tersenyum.
"Kenapa sayang? Kok cemberut?"
"Jadi guru di yayasan, gajinya sedikit." Padahal bukan itu yang ingin diomongkan Kun. Tapi dia terpaksa berbohong.
"Sayang. Fayya nggak minta apa-apa darimu sayang. Kalau kamu nggak kelihatan bekerja, gimana kata tetangga?"
"Iya. Itu wajar."
"Sekarang senyum dong sayang."
Kun tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Apa sebenarnya di belakang gedung tadi....."
"Ke kamar yuk..." Fayya menggandeng Kun. Proses perkembangbiakan dimulai.
0 komentar:
Posting Komentar