Di dek sebuah kapal yang menuju pulau kecil, Kun melamun. Dia menerawang sedang apa istri tercintanya sekarang. Sambil mengusap-usap cincin perkawinan mereka, Kun berharap istrinya baik-baik saja di rumah sederhana mereka. Untuk kemudian matanya terpejam.
"Sayang, kamu sedang apa sekarang?"
Terngiang suara Fayya, "Kun, lupa kalau kamu dukun?"
"Eh sayang, rupanya kamu tahu kalau aku sedang merindukanmu?" Kun membalas.
"Ya tahu lah sayang. Gelombang yang kamu kirimkan kan jalurnya berbeda dengan gelombang-gelombang yang ada. Kalau yang sering dipakai internet yang sekarang sih masih belum ada apa-apanya."
"Hahaha, sayang.. maaf aku terpaksa pakai kekuatan yang ini. Aku nggak kuat. Kangen banget sama kamu Fayya."
"Sama sayang. Kangenku juga nggak kalah besar sama kangenmu."
"Kamu sedang apa sekarang?"
"Yeee, katanya dukun, kok masih tanya. Hahaha..."
"Sayaaaaang... ini kan formalitas sebagai seorang suami istri. Kalau aku nggak pura-pura tanya terus kita mau mesra-mesraan pakai apaaaa.... Hiiihhhh, gemes tau!!!"
"Hahaha, berhasil bikin sayangku gemes..."
"Sesakti-saktinya, seampuh-ampuhnya, secerdas-cerdasnya manusia bikin teknologi apapun, proses penciptaan manusia yang paling nikmat ya dengan bertemunya aku dan kamu untuk menjadi kita, dan menjadi anak kita...."
"Ngomong apa sih yang?"
"Hiiiiihhh.. gemeeess!!"
"Hahaha..."
Bahu kanan Kun ditepuk seseorang. Mata Kun terbuka. Komunikasi dengan Fayya terputus.
"Maaf mas. Ini sampai mana?"
"Oh, maaf mas. Saya juga kurang tahu. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Mas mau kemana?"
"Ke pulau Harpu."
"Pulau Harpu? Serius mas?"
"Iya mas."
"Di sana angker lho mas. Orang yang sudah pergi ke sana tidak akan kembali dengan selamat."
"Mas kok tahu. Pernah ke sana?"
"Belum mas. Menurut cerita-cerita orang di sekitar pulau seperti itu mas."
"Uhmmm,"
"Mas ada keperluan apa?"
"Main aja."
"Main?"
"Iya. Istri saya sedang hamil. Terus dia meminta saya untuk pergi ke pulau Harpu. Ngidam gitu mas. Kalau nggak dituruti ya gimana."
"Ah, itu takhayul mas. Itu cuma mitos. Ngidam itu nggak dituruti juga nggak apa-apa mas. Pasti nanti takut kalau bayinya lahirnya nggak normal kan?"
"Mas," Kun tersenyum, "Saya mau menuruti keinginan istri saya untuk pergi ke pulau Harpu itu bukan semata agar bayi saya nanti lahirnya bisa selamat, normal. Itu karena saya berusaha menghormati dan menghargainya sebagai seorang istri. Di rumah dia sudah melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi ini bentuk rasa syukur dan terima kasih saya kepada istri saya mas."
"Oh..."
"Mas sendiri mau kemana?"
"Saya turun sini." kemudian laki-laki itu menghilang. Kun, biasa saja. Memang seperti ini dunianya. Mau gimana lagi?
Kapal berhenti di bibir pantai. Kun turun dengan membawa tas rangsel kecil berwarna hitam. Semacam tas untuk laptop. Isinya, dia tidak tahu. Karena Fayya lah yang menyiapkan semuanya. Iya, seperti yang Kun katakan kepada 'makhluk' di kapal tadi, Fayya memang istri yang baik.
Siang hari yang terik pulau Harpu terlihat sepi. Lebih tepat kalau dikatakan lengang. Kun juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan foto-foto selfie dan mengirimkan gambarnya via bbm lantas pulang kembali ke rumah, atau mendirikan tenda dan menginap di pulau Harpu yang katanya angker ini untuk beberapa hari. Sementara ini Kun memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling menikmati pulau Harpu yang indah ini.
Pohon-pohon besar yang rindang, sejuknya udara, dan semilirnya angin pantai menemani perjalanan Kun. Iya, benar-benar lengang. Kicauan burung-burung juga turut serta membersamai Kun. Entah kenapa air matanya menitih. Ini bukan tempat angker. Batin Kun. Ini tempat yang indah. Benar-benar indah. Kun mengambil ponselnya. Ternyata tidak ada sinyal. Kun tersenyum. Baginya ini adalah tempat yang tepat. Terima kasih Fayya sayang. Kenapa tepat? Karena tempat yang tidak bisa ditembus oleh sinyal seluler dan internet adalah tempat yang masih murni gelombang elektromagnetiknya. Begitu diagnosa Kun. Dan tempat-tempat seperti itu adalah tempat yang sangat cocok untuk menetralisir isi kepala dan isi hati.
Lalu di bawah pohon yang rindang, Kun duduk bersila setelah meletakkan rangsel di sampingnya. Matanya, terpejam.
Datang seorang anak kecil. Dia tersenyum lalu bersalaman dengan Kun dan menyium punggung tangan Kun.
"Siapa kamu?" anak kecil itu bertanya. Menurut Kun dia ganteng.
"Namaku Kun. Kamu siapa?"
"Aku, aku lupa siapa aku."
"Iya nggak usah dijelaskan. Aku tahu kok. Kamu Si Gelombang kan?"
"Iya. Kok kamu tahu sih? Padahal aku kan sudah berpura-pura lupa."
"Hehehe, eh Gelombang, aku panggil kamu Mbang gitu aja ya. Soalnya kalau Gelombang terlalu panjang."
"Nggak papa Om Kun."
"Yeee, manggil Om lagi. Mas aja."
"Yeee, ya nggak mau. Om Kun aja ya."
"Iya deh. Terserah kamu."
"Om Kun di sini ngapain?"
"Nggak tahu. Main aja."
"Ke rumahku aja yuk Om. Deket situ kok. Kebetulan di sini lagi ada pesta Om."
"Pesta? Pesta apa Mbang?"
"Syukuran. Ibuku hamil Om."
"Ibumu hamil?"
"Iya. Hamil calon adikku Om."
"Kamu anak yang nomer berapa Mbang."
"Aku anak nomer 1134509 Om."
"Astaga. Berarti adikmu nanti anak nomer 1134510?"
"Yap! Bener Om."
"Berarti memang Gelombang itu memang banyak jenisnya ya?"
"Iya Om. Jenis kami banyak kok. Dan berbeda-beda. Yang dikenal manusia itu ya cuma gelombang-gelombang yang itu-itu aja Om. Mereka itu Jenis Gelombang yang ingin populer Om. Tapi sebenarnya yang lebih hebat dari mereka juga masih banyak Om."
"Lha?"
"Kenapa Om? Bukannya Om sudah tahu ya?"
"Iya sih sudah tahu. Kaget aja. Om kira tidak sebanyak itu jenisnya."
"Kalau pembagian secara umum cuma dua. Kayak manusia Om."
"Oh."
"Gimana Om? Jadi ikut ke rumah nggak. Beneran lagi ramai Om."
"Boleh deh. Daripada nggak ngapa-ngapain."
Di rumah si Mbang sangat ramai. Kumpul banyak sekali Gelombang. Semua melihat ke arah Kun. Mereka tersenyum ramah. Kun juga membalas setiap senyum itu. Baru kali ini dia merasa heran setelah sekian lamanya. Si Mbang mengajak masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada bapak ibunya.
"Nak Kun ya?" Bapak Mbang menyebut nama Kun.
"Kok tahu Pak?" Kun heran.
"Sudah. Kayak nggak ngerti sama gelombang aja Kun. Data kami soal kamu banyak. Kamu itu jenis manusia yang paling sering berinteraksi dan sering menggunakan jasa kami kan?"
"Iya bapak. Terus terang saya kaget kalau kalian sebanyak ini pak. Pantesan sinyal hape nggak mampu menembus. Lha di sini tempat lahirnya gelombang. Hahaha.."
"Hahaha... Nak Kun, gimana kabar istrinya? Si Fayya."
"Iya pak. Fayya sedang hamil. Dia ngidam dan meminta saya datang ke pulau Harpu ini pak. Nggak tahu maksud dia apa."
"Perempuan, jenis manusia itu memang sinyalnya kuat Kun. Banyak dari kami, gelombang, khususnya gelombang-gelombang yang kuat, yang ikut bersama perempuan Kun."
"Gitu ya Pak?"
"Tubuh seorang perempuang adalah tempat yang nyaman bagi gelombang-gelombang kuat Kun. Fayya memang sekilas perempuan biasa. Tapi begitu dia mengabdi dan menerima suaminya dengan penuh ketulusan, maka gelombang-gelombang yang ada di tubuhnya akan menjelma menjadi pendaran-pendaran yang sangat kuat. Kuat di sini bukan kuat untuk menyerang yang lain. Tapi kuat untuk mengayomi yang lain. Kuat untuk kamu ajak berjuang di medan perang model apapun. Apa lagi, dia sedang hamil."
"Pak,"
"Kenapa Nak Kun?"
"Boleh meluk pak?"
"Sini-sini. Jangan siakan sayang Fayya kepadamu Nak Kun. Sayangi dia, lindungi dia. Nafkahi dia sebagai tanggung jawabmu sebagai lelaki. Dia dipilih untuk menjagamu. Menjaga keseimbangan hidupmu Kun."
"Tapi istri bapak juga sedang hamil."
"Kalau kami sih hampir setiap hari melahirkan Kun. Hahaha...."
.......................
Di rumah Fayya sedang bersiap menyambut Kun. Usia kandungannya sudah memasuki angka dua bulan. Bagi Fayya ini adalah anugerah tersendiri. Awalnya dia berfikir jangan-jangan dia tidak bisa hamil. Secara Kun adalah makhluk aneh. Tapi nyatanya dia hamil juga.
Teh hangat, sambel petai, dan sedikit gorengan tempe sudah tersaji cantik di meja makan. Kun datang.
"Sayang. Mau mandi dulu apa langsung makan?" Fayya menyambut Kun penuh keramahan.
"Makan dulu yang. Mandinya nanti. Bareng kamu." Kun menggoda.
"Baru juga pulang pikirannya sudah sampai sana. Gimana? Dapat apa dari pulau Harpu?"
"Dapat banyak sayang."
"Mana? Tasnya juga masih kempes gini."
"Ada kok. Nanti di kamar aja. Aku lapar."
"Hu'um. Sini Fayya ambilkan nasinya. Eh sayang, aku boleh jujur nggak."
"Boleh. Kenapa Fayya sayang?"
"Uhmmm, sebenarnya aku tuh nggak tahu kalau ada pulau yang namanya Harpu. Saat itu aku nyebut kata Harpu begitu aja. Eh nggak tahunya ada beneran ya? Hehehe.."
"Hiiihhhh... Gemes gemes gemeeeeessss....."
Setelah adegan saling cubit dan makan bersama, Kun dan Fayya mandi. Bareng. Tak usah dibayangkan bagaimana adegannya. Setelah adegan yang kurang bisa digambarkan itu, mereka berada di kasur. Terjadilah diskusi yang sangat penting.
"Sayang, sayang mau anak kita besok jadi apa?" Kun mengawali. Dan apa respon Fayya?
"Pertanyaanmu terlalu mainstream Kun. Ganti."
Klik. Lampu pun dimatikan.
0 komentar:
Posting Komentar