Selasa, 27 Desember 2011

Kun Si Dukun #Misteri Penunggu Gunung

Kantin Mbok Sum.

"Kun, ini kan gini yah. Temen-temen pecinta alam mau naik ke gunung. Nah masalahnya, kami belum punya referensi, gunung mana yang cocok buat kami daki dan taklukkan. Kun punya?"
"Ini kenapa tanya aku yah?"
"Kan situ suka bertapa menyendiri di gunung-gunung kan?"
"Apaan? Siapa yang bilang! Suruh sini orangnya!"
"Kun, tenang Kun. Rumornya sih gitu Kun. Kita-kita kan cuma mau cari tahu sekaligus klarifikasi Kun."
"Oalah. Gini ya mahasiswa-mahasiswa yang budiman. Kakek saya mengajarkan kepada saya untuk tak perlu bertapa di gua atau gunung-gunung. Kakek sudah memberikan petuah kepada saya, kalau mau bertapa, silahkan cari tempat di rumah sakit jiwa saja. Waktu kecil saya memang dilarang untuk kesana. Kata kakek saya, RSJ itu memiliki aura galau. Itu pada waktu saya kecil. Saat saya beranjak gede, kakek saya malah menyarankan untuk bertapa disana. Jadi kalian kalau mau tanya gunung jangan sama saya teman-teman mahasiswa yang budiman."

Temen-temen mahasiswa yang budiman itu melongo. Sebenarnya Kun itu makhluk dari alam mana?

"Woy! Bengong lagi!"
"Oh, gini Kun. Kami cuma mau minta pertimbangan kamu. Enaknya gunung mana gitu? Temen-temen sih sudah ada rencana mau ke Bukit Penoreh. Tapi katanya disana tempatnya angker. Sering memakan korban."
"Aduh!" Kun menepuk jidat. Jidatnya nyamuk.
"Menurut Kun gimana? Kami mohon Kun untuk melakukan penerawangan."
"Minta es teh tawar sama Mbok Sum."
"Mbok Sum es teh tawar."
"Nih."

Byur! Kun mengguyur salah satu perwakilan mahasiswa.
"Kun kenapa Kun!" mahasiswa itu berdiri mau marah.
"Duduk!" gertak Kun.

Mahasiswa itu kemudian duduk. Mukanya masih cemberut.

"Gak usah marah. Dengar omonganku baik-baik. Kalau perlu dicatet. Gunung, laut, hutan, itu tidak ada yang angker! Ngerti! Mereka itu unsur-unsur yang menyimpan berbagai suplai energi untuk bumi. Kalau kamu ingin kesana, kesana saja. Kalau kamu tidak punya maksut buruk, maksut merusak, mereka akan senantiasa menyambutmu dengan penuh senyum. Kamu bisa bermain-main dengan gulungan ombak. Kamu bisa bersua dengan batu-batu gunung. Kamu juga bisa menghirup oksigen dengan sebebas-bebasnya di hutan. Itu kenapa dulu sangat dianjurkan untuk pergi ke tempat-tempat seperti itu, untuk bertapa untuk merenung! Ngerti!"
"Mitosnya...."
"Apaan? Justru dimana ada banyak manusia, disitulah tempat yang angker. Angker itu kan menimbulkan rasa takut. Jadi tempat-tempat yang membuat dirimu takut, menimbulkan ketidaknyamanan jasmani rohani mu, itulah angker. Gak harus, gunung, laut, dan hutan kan? Orang di kampus sini saja kamu sering ketakutan sama dosen-dosen. Di kantor sering ketakutan sama atasan. Betul?"

Semampai lekuk tubuh Fayya mendatangi Kun. Dia hanya tersenyum sambil mengerlingkan mata kepada Kun kemudian berlalu. Kun bergegas berdiri dan menyusulnya.

"Kemana Kun?" tanya mahasiswa itu.
"Menyusul Fayya. Aku takut kehilangan dia meski untuk sekejap mata."
"Berarti tempat ini juga angker buatmu Kun?"
"Peduli amat......."
Share:

Minggu, 25 Desember 2011

Kun Si Dukun #Pemantra Libay dan Siluman Headset

Alkisruh, Kun sedang berkelahi hebat dengan Fayya. Kalau Fayya sudah cemberut semua kemampuan Kun seolah sirna begitu saja. Yang bisa dilakukan hanyalah mencari cara bagaimana meluluhkan hati Fayya. Dan jika sudah seperti ini, kakek Kun menjadi sasaran luapan kebingungannya.

"Kakekkk." Kun menangis.
"Fayya?"
Kun mengangguk sambil sesenggukan.
"Kenapa lagi?" tanya kakek.
"Fayya marah kek. Katanya aku gak selektif kalau menerima pasien. Aku dituduh selingkuh sama gadis berkerudung hitam kek."
"Gak biasanya Fayya cemburu Kun?"
"Kun juga gak tahu kek. Mungkin gara-gara bulu matanya rontok lagi. Kalau Kun gak minta maaf, dia akan mengutuk dirinya sendiri menjadi siluman headset seumur hidup kek. Tapi bagaimana mau minta maaf kalau headsetnya gak dilepas dari kuping." Kun masih menangis.
"Siluman headset?"
"Iya kek. Dia akan terkena kutukan headset lalu menjadi siluman headset selama-lamanya kek."
"Kutukan headset? Sebentar kakek cari di kitabnya Syech Jangkis. Ada gak ya kutukan headset itu?"
"Aduh kakek. Kutukan headset itu, selama hidupnya ia akan memakai headset terus alias dia gak bakalan mau mendengarkan semua ocehan Kun kakek. Mana ada di kitab Syech Jangkis kek."
"Oh. Pernah dengar Pemantra Libay?"
"Pemantra Libay?" leher Kun menjulur.
"Yups. Pemantra Libay."
"Siapa kek?"
"Dia adalah pemilik mantra-mantra hebat. Rumahnya menempel di sebuah tembok raksasa. Di pertapaan Batu Payung kitabnya juga menjadi best seller. Dia teman akrab Syech Jangkis dulu. Coba kamu cari tahu tentang Pemantra Libay."

Segera Kun mencari info seputar Pemantra Libay. Segala kitab diubeg-ubeg. Segala pameran buku diobok-obok. Kun keluar masuk toko buku. Baik bekas maupun new arrival.  Kun menepuk jidatnya sendiri. Kenapa dia tidak sekalian saja pergi ke pertapaan Batu Payung. Tapi dimana pertapaan Batu Payung itu. Selama ini dia hanya mendengar dari cerita kakeknya saja. Lalu Kun nekat menggunakan ilmu ngilangnya namun sia-sia saja. Dia tak pernah sampai di pertapaan Batu Payung.

Waktu sudah cukup pekat. Informasi tentang Pemantra Libay belum didapat. Kun harus mencari air kembang. Es teh. Kun berhenti di sebuah warung. Remang-remang nama warung itu. Warung yang menjual rendang juga nyaman untuk bergoyang karena ada musik yang berdendang.

Baru saja Kun mau memasuki warung itu tiba-tiba ada seseorang keluar dari warung dan menabraknya. Brug!!! Kun terjatuh. Orang tua itu juga terjatuh kemudian bangun dan berjalan sempoyongan sambil melirik Kun.

"Pergi! Dasar pemabuk!" teriak si empunya warung

Dompet pemabuk itu jatuh. Hati Kun berkata lebih baik ia mengikuti kemana pemabuk itu pergi. Diikutilah pemabuk itu. Diikuti dalam arti yang sebenarnya. Kalau pemabuk itu jatuh, Kun menjatuhkan diri. Kalau pemabuk itu meludah, Kun meludahkan ludah. Kalau pemabuk itu nge-dance ala boyband Korea, Kun juga.

Pemabuk itu menghilang lalu seketika muncul di belakang Kun. Kun tahu, lalu ganti Kun yang menghilang dan muncul di belakang pemabuk itu.
"Sial! Hebat juga bocah ini." kata pemabuk itu.
"Maaf, dompet anda terjatuh tadi." kata Kun sambil mengulurkan dompet. Bukan mengulurkan lidah.
"Kamu baik sekali bocah. Sebagai imbalannya, terimalah ini." Pemabuk itu memberi Kun secarik kertas. Dari daun lontar sepertinya.
"Apa ini? Biasanya duit? Kok ini kertas?" Kun matre.
"Buka setibamu di rumah. Sekarang pulanglah." kata pemabuk itu sempoyongan.
"Sebentar sebentar. Anda mau menghilang?" tanya Kun.
"Iya. Kenapa?"
"Baiklah. Sebagai bentuk penghormatan, saya akan memejamkan mata. Sudah. Sekarang anda silahkan menghilang." kata Kun.
"Bocah edan!" bentak pemabuk itu.

Begitu Kun membuka mata, pemabuk  itu sudah tidak ada. Hanya ada bekas roda becak yang melintas.

Setibanya di rumah Kun membuka kertas itu perlahan-lahan. Slow motion. Slow but sure. Slow down baby.

Angin angin ingin, jangan kau benci angin karena ia pengarah ingin
Air air pikir, jangan kau benci air karena ia pengalir pikir
Tanah tanah rumah, jangan kau benci tanah karena ia sejatinya rumah
Api api mati, jangan terus kau turuti karena ia bisa meledakkan diri
(Libay, 775 SM)


Mulut Kun menganga. Dari kejauhan kecoak sudah mengincarnya. Kun terharu membaca tulisan itu. Karena itu adalah tulisan keramat Pemantra Libay. Dia membaca berulang-ulang semalaman. Dan berharap esok pagi ada perubahan yang signifikan pada diri Fayya.
..........

Di kantin Mbok Sum.
Kun duduk di hadapan Fayya. Fayya ber-head set.
"Fayya. Kun akui memang Kun salah. Kun akui Kun memperlakukan gadis berkerudung hitam itu tidak seperti pasien yang lain. Kun seperti itu karena dia dari keluarga yang kurang harmonis. Dia butuh perhatian yang lebih Fay."
Fayya tetap manggut-manggut cuek menikmati alunan musik dari headset.
"Fayya. Kalau kamu begini terus, aku bisa kacau Fay. Aku bisa....Fay, tolong dengarkan aku dan lepas headsetmu. Aku tak mau kau benar-benar menjadi siluman headset Fay. Aku mengaku salah dan aku minta maaf Fay." Kun cengeng lagi.
Lalu keajaiban pun terjadi. Fayya melepas headsetnya sambil tersenyum dan mengusap air mata Kun. Mata Kun bocor mengeluarkan air.

"Kun. Mengakui kesalahan adalah bagian dari proses mencintai." Fayya menjelaskan secara ilmiah wal akademiah. Mata Kun masih bocor.
"Lalu Fay?"
"Kun. Memaafkan juga bagian dari proses mencintai itu sendiri." Fayya tersenyum manis. Tidak cemberut kecut lagi.
"Kesimpulannya Fay?"
"Kau akui kesalahanmu. Aku memaafkanmu. Kau mencintaiku, aku............"
Kun memeluk Fayya padahal kalimat itu belum selesai terucap tanpa diketahui apa makna dibaliknya.

"Terima kasih Pemantra Libay...." Kun dan Fayya mengucapkannya secara bersamaan. Mereka lantas melepas pelukan dan saling tatap. Tatapan heran. Itu orang kenapa bisa terkenal, batin mereka bersamaan juga.
Share:

Kun Si Dukun #Trio Merah Delima

Kantin Mbok Sum terguncang hebat. Gempa kecil membuat para pengunjung pingsan seketika. Kecuali Mbok Sum dan Kun. Fayya masih kuliah. Ber-head set.

"Kun. Urus tuh temanmu." kata Mbok Sum datar. Kedatangan tiga orang berpakaian seragam mirip boy band tak membuat mbok Sum kaget. Ini sudah biasa. Mbok Sum paham, kalau yang aneh-aneh pasti ada sangkut pautnya sama Kun.
"Siap mbok."
"Jangan rusak kantin mbok lho."
"Siap."
"Kalau berkelahi cari tempat yang agak keren. Jangan di kantin. Kurang garang. Apalagi background nya mbok lagi ngaduk teh."
"Siap Mbok."

"Kun!"
"Kun!"
"Kun!"
Tiga orang itu memanggil dengan suara satu dua tiga. Alto tenor sopran. Sopran santun. Dengan jarak sepersekian detik hingga terjadilah efek delay.
"Yups!" jawab Kun sambil meregangkan otot-ototnya.
Tiga orang berkacamata itu melangkah bersama. Membuat sedikit gerakan-gerakan dance. Koreografi cantik. Gagah tapi cantik. Kecantikan yang gagah. Make upnya sedikit terlalu tebal di bagian mata.

"Kami TRIO MERAH DELIMA!" Jeng jeng jeng.
"Dan maksut kalian mau...." Kun tetap santai.
"Iya. Kami mau menantangmu bertarung."
"Baiklah. Tapi jangan disini. Ikuti aku. The ngi and the lang. NGILANG!"
Wush! Wush! Wush! Wush!
Ketiganya menyusul Kun yang menghilang seketika itu juga.

Rumah Sakit Jiwa. Kun memilihkan tempat yang strategis untuk bertarung. Kun sampai terlebih dahulu. Sedetik kemudian Trio Merah Delima menyusul.
"Jarak dekat atau jarak jauh?" tantang Kun.
"Jarak dekat!"
"Lima ribu!"
"Jarak jauh?"
"Nambah dikit. Tujuh ribu lima ratus."
Ketiganya berbisik-bisik.
"Oke. Jarak jauh!" mereka mengumpulkan duit dari saku masing-masing.

Kun mengambil jarak. Tujuh kali hentakan kaki ke tanah. Dan Kun siap meladeni trio lulusan akademi boy band Indonesia itu. Tiga orang itu membentuk formasi segitiga. Dua di tanah dan satu terbang. Kun segera menghimpun tenaga dan mengucap mantra.

"Angin angin angin. Ini ilmu angin bukan ilmu angin-anginan. Angin angin angin mendekatlah! Maka kalian akan MASUK ANGIN!"
Wush wush wush!!! Batu, tanah, sapi, rumput, dua pasien, dan satu suster berkerudung ikut terangkat.

Tiga orang itu juga tak mau kalah. Ketiganya mengucap mantra dan muncul sinar merah dari tubuh mereka.
"Kami Trio Merah Delima. Saksikan kesaktian kami, hanya di RSJ tivi! Hiyattttt!!!!"

Bola api besar datang ke arah Kun. Tujuh kali hentakan tanah. Angin berhasil membentengi Kun dan membuat bola api itu jauh terpental melewati lapisan atmosfer dan padam. Mereka melakukannya lagi tapi masih gagal. Lalu ketiganya mencoba melakukan pertarungan jarak dekat dengan Kun. Namun masih percuma. Angin yang melindungi Kun terlalu kuat. Mereka terus berusaha menembus barikade angin. Lagi lagi percuma. Selalu terpental dan terhempas.

Dari kejauhan ada dua orang dokter cantik melihat peristiwa itu.
"Dok lihat deh. Itu pasien darimana lagi sih?"
"Empat orang itu yah?"
"Hu'um."
"Bentar saya cek di buku ini dok. Mmmm, gak ada tuh dok. Pasien baru mungkin dok."
"Iya. Mungkin sih. Eh dok gimana kabar selingkuhan situ?"

"Sekarang aku rasa saatnya giliranku." Kun menghempaskan tubuh mereka. Blas!!! Bug Bug Bug! Trio Merah delima jatuh tersungkur. Mereka tak bisa bangun. Ketiganya sulit melakukan pembangunan.

Dengan senyum datar Kun mendekati mereka.
"Apa yang kalian pakai? Jimat merah delima?" tanya Kun. Trio itu kompak mengangguk. Meski sakit, kekompakan harus tetap dijaga.
"Tahu aturan pakainya?" tanya Kun sekali lagi. Trio itu kompak menggeleng.
"Merah delima itu kasiatnya akan hilang kalau kalian bawa ke tempat yang memiliki energi lebih besar dari merah delima itu. Atau dengan kata lain, bahwa tempat ini juga memiliki energi merah delima yang jauh lebih besar daripada yang kalian miliki. Paham?" Kun memberikan kultum. Kuliah tujuh menit. Ketiganya masih menahan sakit sambil saling tatap.

"Orang gila itu memiliki energi yang luar biasa melebihi energi merah delima. Pukul mereka. Siksa mereka. Mereka tetap akan tertawa. Kalaupun mereka menangis, itu bukan karena merasakan sakit. Mereka menangis karena, mengapa orang-orang sewaras kalian tega menyiksa dan menyingkir-nyingkirkan mereka yang kalian anggap tidak waras." Kun tersenyum. Tatap matanya kosong.

Mereka tidak tahu. Bahwa Kun masih memiliki hubungan kuat dengan RSJ ini. Maka tidak heran jika Kun begitu kuat. Istilahnya menang kandang. Kun sendiri juga belum mengetahuinya.
"The ngi and the lang! NGILANG!" Kun kembali ke kantin Mbok Sum. Fayya sudah menunggu. Fayya ber-head set.

Lalu datang enam pegawai RSJ mengangkut Trio Merah Delima. Bagai medis yang mengangkut pemain sepak bola yang cedera. Lalu mereka memasukkan ketiganya ke kamar masing-masing.
Share:

Sabtu, 24 Desember 2011

Kun Si Dukun #Mantra-Mantra Rindu

-Ini zaman bukan zaman megalitik. Ini zaman zaman menggelitik. Ini bukan zaman zaman batu. Ini zaman zaman manusia kepalanya lebih keras daripada batu-
Syech Jangkis

Kun membaca kitab karangan Syech Jangkis yang sudah dipindah alihkan dari potongan daun lontar ke e-book. Kun sebenarnya sedang menunggu acara Blues di cafe Aem Piem. Acara musik Blues yang digagas sahabat-sahabat Kun, termasuk beberapa pasien yang pernah curhat soal peruntungan-peruntungan di dunia musik. Sambil menunggu Kun membaca e-kitab nya Syech Jangkis ditemani kentang goreng dan minuman yang menurut Kun paling aneh. Minuman yang memiliki sifat-sifat seperti manusia. Soda Gembira. Meski setelah minum itu tidak ada efek apa-apa selain hilang rasa hausnya.

Untuk situasi seperti ini, mengajak Fayya adalah hal yang mubadzir. Cewek itu tak bisa lepas dari headsetnya.  Daripada terlihat konyol karena acara belum mulai tapi dia sudah manggut-manggut duluan, mending dia menikmati film hasil download tadi siang di rumah. Film Korea.

"Weits Kun datang. Selamat malam sobat. Sendirian aja nih sob."  seseorang berhasil menemukan Kun menyendiri di dekat pintu toilet.
"Eh, iya nih sob. Sendiri. Fayya lagi gak enak badan. Bulu matanya rontok satu."
"Udah pesen minum? Bir mau?"
"Ah gak deh. Soda ini aja udah cukup."
"Yah bir yah. Tenang saja aku yang traktir."
"Mmmm..."
"Oke yah? Oke dong sob. Jarang-jarang kamu merapat kesini lho sob. Oke sob? Sekalian makan sob. Sop buntut sini enak lho sob. Beneran deh. Nyesel kalau kamu nggak nyoba sop nya sob. Yah sob yah. Mau sop kan sob? Sop yah sob? Aku yang traktir sop nya sob."

Telinga Kun gerah mendengar Sop dan Sob. Lebih baik dia mengangguk daripada semakin pusing. Pertama memang hanya satu botol. Habis satu botol acara sudah dimulai. Datang lagi botol. Lagi lagi dan lagi. Botol botol dan botol. Sampai tak terasa teman Kun sudah mabuk. Bukan karena kandungan alkoholnya tapi karena satu krat botol diminum sendiri. Lagi lagi dan lagi. Mabuk mabuk dan mabuk. Teler teler dan teler. Teman Kun sempoyongan. Musik sudah tak terdengar begitu jelas di telinga. Kenikmatan melodi-melodi blues gagal untuk dirasa.

Sedang Kun, di gelas pertama dia sudah menemukan keanehan yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Orang yang melihat mengira Kun sudah mabuk. Jari telunjuk tangan kanan Kun bergerak sendiri seperti sedang menulis sesuatu. Bibirnya bergetar hebat. Air liurnya tumpah ruah.

"Rindu, rindu, rindu. 
Mantra mantra rindu
Aku meninggalkanmu, bukan untuk berlalu
Aku meninggalkanmu untuk merangkai rindu
Aku menguji takaran cintamu dengan rindu
Aku mengarahkan cintamu juga dengan rindu
Rindu, rindu, rindu
Mantra mantra rindu
Air mata rindu untuk ibu"


Begitu kalimat ini terus terucap. Terus dan terus dan terus. Kun benar-benar 'mabuk' rindu.
......

Di pertapaan Batu Payung. Ngat, ibu Kun sedang tersenyum sambil menitihkan air mata. Dia sedang menulis Mantra Mantra Rindu di daun lontar.  Air mata rindu, sebagai doa keselamatan untuk anak ku.....gumamnya.
Share:

Rabu, 21 Desember 2011

Kun Si Dukun #Manusia Anus

Pertapaan Batu Payung. Tempatnya subur. Tempatnya tentram. Tempatnya mendukung keluasan-keluasan untuk berpikir. Tempat yang melahirkan Pemayung-Pemayung kehidupan. Ngat, begitu nama ini sangat disanjung oleh penghuni pertapaan batu Payung. Seorang wanita dari trah Syech Jangkis yang biasa disebut dengan Umbrella Girl. Justru Ngat, yang memiliki tingkat keilmuwan paling rendah di antara penduduk pertapaan Batu Payung. Ngat seperti manusia kebanyakan. Dia tidak bisa menghilang. Dia tidak bisa terbang. Dia tidak bisa mengendalikan angin. Dia juga tak mampu membaca kitab-kitab dari leluhurnya sendiri. Kitab yang paling best seller ialah kitab-kitab karangan Syech Jangkis. Dia penulis ulung. Rangkaian kata-katanya berisi banyak rahasia-rahasia keilmuwan. Dan Ngat, adalah Ibu Kun yang sekarang terpisah jarak. Kun berada di kampus. Ibunya di pertapaan Batu Payung.
....

Di kantin Mbok Sum, Kun sedang menerima pasien. Seorang mahasiswi cantik. Kun sudah terbiasa menghadapi berbagai macam orang. Jadi dia datar. Meski genitnya suka muncul kadang-kadang. Di samping Kun ada Fayya. Ber-headset.

"Kun." mahasiswi itu merengek.
"Iya cantik. Kenapa?"
"Begini Kun. Aku kan cantik ya. Tapi kenapa jomblo. Sedangkan kamu Kun, kamu jelek tapi kok kamu gak jomblo?"
"Jomblo atau bukan, tidak ditentukan oleh kualitas wajahmu. Jomblo dan bukan itu masalah sikap dalam memilih dan konsisten dengan pilihan itu dengan mempertimbangkan berbagai resiko yang dihadapi ke depannya."
"Gak paham Kun." mahasiswi itu manja.
"Kamu rasa lebih bahagia mana? Jomblo apa tidak?"
"Mmmm, kalau lihat orang lain enak tidak jomblo."
"Jangan lihat orang lain. Ukuran dirimu itu bukan didasarkan penilaian orang lain. Yang paling mengenali dirimu harus dirimu sendiri."
"Aku mau punya pacar Kun. Tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Aku belum boleh pacaran sama Mama ku."

Seketika Kun cengeng. Air matanya terjun bebas mendengar kata 'mama'. Rindunya menyeruak. Sudah sejak kecil dia belum diperbolehkan untuk bertemu ibunya. Kun kecil selalu bersama kakeknya. Memang seperti itulah leluhur mereka mendidik Kun.

"Kun? Kelilipan?" tanya mahasiswi itu. Fayya melihat Kun. Fayya memberikan tisu sambil manggut-manggut. Fayya ber-headset.
"Iya. Gak papa. Kecoak masuk mata."
"Terus gimana Kun? Punya mantra untuk meluluhkan hati mama ku?" mahasiswi itu masih merengek.

Kun mengambil secarik kertas dan pena kemudian ditulislah dua kata. Manusia Anus. Mahasiswi itu melongo, mukanya aneh.

"Manusia Anus? Apa maksutnya Kun."
"Itu ajian baru. Fresh open. Manusia Anus. Mantranya, anus, anus, anus, lalu sebut nama mama mu. Ucapkan tiga kali sehari. Lebih mujarab lagi, ucapkan kalau mama kamu sedang memberi nasehat. Dimanapun tempatnya dan kapan saja. Mudah-mudahan dalam dua hari nanti terjadi perubahan." kata Kun sambil menyeka air matanya sendiri.

Mahasiswi itu pergi. Mulutnya bergerak-gerak sendiri. Kun melanjutkan aktivitasnya. Download film Korea. Fayya tetap ber-headset ria sambil manggut-manggut tentunya.
......

Dua hari kemudian mahasiswi manja itu datang lagi. Wajahnya ceria. Sepertinya membawa kabar gembira. Kabar keberhasilan meluluhkan hati mamanya.

"Kun!!!" mahasiswi itu memeluk Kun. Fayya melirik. Kun segera melepaskan pelukan.
"Maaf, siapa ya?" tanya Kun. Saking banyaknya, Kun sering lupa dengan orang-orang yang pernah curhat denganya.
"Aku yang kamu beri ajian manusia anus."
"Manusia anus? Apalagi itu?" Kun juga lupa dengan apa yang dikerjakannya.
"Manusia anus! Jomblo jomblo!"
"Oh, iya kenapa?" Kun coba mengingat.
"Aku lagi bahagia Kun. Aku bahagia meski aku jomblo Kun. Aku bahagia Kun. Makasih ajiannya. Aku ngerti Kun, Anus itu kan artinya Aku Nurut Selalu kan? Bener kan? Ajianmu membuat aku menyadari satu hal paling penting dalam hidupku. Yaitu menghargai nasehat mama ku, ibuku. Anus, anus, anus, Mama. Anus, anus, anus, Mama. Aku Nurut Selalu, Aku Nurut Selalu, Aku Nurut Selalu Mama....." Mahasiswi itu menitihkan air mata bahagia.

Kun menitihkan air liur. Mana ada ajian manusia anus, apalagi itu, batin Kun bingung. Fayya tetap ber-headset ria.
Share:

Kun Si Dukun #Dihamili Genderuwo?

Seorang ibu tergopoh menemui Kun. Beliau bercerita seputar keganjilan yang dialami putrinya. Perut putrinya membesar. Menurut para tetangga putrinya dihamili oleh genderuwo. Keluarganya sudah tidak kuat menanggung malu. Kun yang menerima laporan ini lekas bertindak.
"Tenang saja bu. Sekarang ibu pulang."
"Tolong nak Kun."

Selang beberapa menit setelah ibu itu pergi Kun beraksi. Kun memejamkan mata. Lalu menghentakkan kakinya tujuh kali ke tanah,
"Gen! Sini Gen! Buruan Gen!" ucap Kun.
Seketika makhluk besar seperti kera telanjang muncul di hadapan Kun. Mbok Sum keluar dari dapur. Melihat 'itu' Mbok Sum langsung terkapar.
"Aduh. Gen! Jangan bodoh-bodoh amat dong. Kreatif sedikit kek. Nyamar jadi manusia kenapa sih?"
"Sori Kun. Bentar." suara Genderuwo terdengar besar.
Cling!
"Kayak gini?" suara Genderuwo terdengar macho tapi melambai.
"Kamu anggota Smash bukan? Jangan over kayak gitu dong Gen! Sewajarnya aja kenapa sih!"
Cling!
"Kayak gini?" suara Genderuwo mengecil.
"Waduh! Malah Cerry belle. Woy! Biasanya woy!" Kun mulai kesal.
Cling!
"Nah gitu dong. Gak papa. Kayak pejabat gitu gak papa deh. Sama-sama suka popularitas."
"Ada apa sih Kun?" tanya si Gen.
"Gini Gen. Bener kamu sudah menghamili orang?"
"Waduh Kun. Gak mungkin lah Kun. Masa gak percaya sama saudara sendiri sih. Kamu dari pertapaan Batu Payung sedang aku dari regional Batu Jago. Lagian ya Kun, kita itu sukanya sama yang sejenis...."
"Kamu homoseks?"
"Bukan Kun. Genderuwo itu sukanya sama Genderuwo perempuan. Genderuwo laki namanya Genderuwan, kalau putri Genderuwati. Kami itu hanya kawin dengan spesies yang sama. Gak mungkin sama manusia. Kami itu makhluk kasar Kun. Kamu tahu itu kan? Makanan kami juga buah-buahan. Kami itu kera purba Kun. Lebih tepatnya Gandaruwo."
"Kera jadul gitu? Kera ketinggalan jaman?"
"Terserah lah. Yang jelas aku sudah ngomong apa adanya. Aku mau balik dulu ke regional Batu Jago. Ada blind date disana. Ikut?"
"Ih, najis! Blind date sama kera jadul."
"Sip. Pergi dulu Kun. Nanti kalau butuh apa-apa bilang aja. BBM yah!"
"Siap."

Kemudian Kun berangkat ke lokasi kejadian.
"The Ngi and The Lang! NGILANG!"
Wush!
"Wah Kun datang!!!" teriak salah satu Genderuwati.
"Waduh. Salah tempat lagi. The Ngi and The Lang! NGILANG!"

Kun sampai di depan rumah ibu-ibu tadi. Setelah dia masuk Kun menemukan si gadis sedang menangis.
"Syukurlah nak Kun datang. Ibu sudah cemas."
"Tenang bu. Anak ibu gak papa kok. Aku mau ngomong sama puteri ibu. Boleh?"
"Silahkan."

"Adek? Perutnya sakit?"
Si gadis menggelengkan kepala.
"Ibu sebelumnya saya minta maaf. Saya mau memanggil Genderuwo kesini. Boleh?"
"JANGANNN!!!" Sontak gadis itu berteriak ketakutan.
Kun melongo.
"Jangan! Jangan! Jangan panggil genderuwo kesini. Jangan! Jangan! Aku gak hamil! Ak gak hamil! Aku bohong! Aku bohong! Aku bohong!" gadis itu mengeluarkan bantal dari dalam bajunya.
Ibunya mengernyitkan dahi. Kun masih melongo. Kemudian Kun membisiki si Ibu.
"Bu, kalau anak ibu belum bisa masak yang enak, jangan dimarahin terus. Ibu gak usah takut kalau anak ibu gak laku karena gak bisa masak. Siapa tahu menurut ibu kurang enak, tapi menurut calon suaminya nanti, itu yang terenak."
Si ibu manggut-manggut.

"Sudah saya pamit." Kun keluar rumah pelan-pelan. Ibu itu segera memeluk anaknya.
"The Ngi and The Lang! NGILANG!"
"Hore Kun datang lagi!!!" teriak salah satu Genderuwati.
"Waduh. Salah lagi. Salah lagi."
Dan Kun terpaksa mengikuti acara bilnd date dengan kaum dari regional Batu Jago itu.
Share:

Selasa, 20 Desember 2011

Kun Si Dukun #Kue Tumpeng

Besok Fayya ulang tahun. Tapi sampai jam lima sore ini Kun belum mendapatkan ide, hadiah apa yang akan diberikan untuk Fayya. Kun sudah membaca angin, tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Kun sudah berdialog dengan pohon, tapi pohonnya cuek. Kun sudah berusaha bernegosiasi dengan sapi tetangga tetap tak ada pencerahan. Bahkan Kun sudah berdialog dengan kodok, kodoknya malah bernyanyi riang sambil hujan-hujanan.
Kun kalut. Lalu dia bersemedi di depan google.co.id. Searching kado ulang tahun. Tak ada jawaban juga. Kun mondar-mandir mondar-mandir sampai tak sadar dirinya sudah sepuluh kaki di atas tanah. Kun terbang. Begitu Kun sadar, Kun jatuh ke tanah. Apa ya? Apa ya? Apa ya?
Dalam keadaan seperti ini Kun bersebrangan dengan Fayya. Kun lebih mengagumi keris, Fayya mengagumi palunya Thor.

Sudah hampir jam dua belas malam. Kun buntu. Rupanya kemampuan yang dia miliki juga ada batasnya. Jawaban yang dia dapat hanya satu kata. TUMPENG pakai CAPSLOCK.
"Kalau tumpeng? Nasi kuning? Telur Dadar? Ketimun? Cabe merah di atasnya? Fayya mau gak ya?" batin Kun.
Why tumpeng? Tumpeng adalah salah satu makanan favorit dari pertapaan Batu Payung. Ada apa-apa pasti tumpeng. Berbagai acara selametan selalu ditemani dengan tumpeng. Bahkan ulang tahun pun juga tumpengan. Lempar-lemparan juga pakai tumpeng. Semuanya tumpeng. Tapi Kun tak bisa memaksakan kehendak Fayya, yang kurang cocok dengan tumpeng.
Lewat jam dua belas Kun menemukan ide. Lantas Kun menelfon toko roti untuk memesan 'sesuatu' yang kurang begitu terdengar jelas karena agak sedikit rahasia.

Sore menjelang. Kun berdandan. Celana hitam. Kemeja hitam. Ikat kepala hitam. Sepatu hitam. Lalu dia menjemput Fayya untuk dibawa ke suatu tempat. Dengan mata tertutup Kun membawa Fayya ke tempat terindah. Kantin Mbok Sum.
Setelah membuka mata, Fayya lantas memeluk Kun.
"Terima Kasih Kun." kata Fayya.
"Sama-sama. Selamat ulang tahun yah. Doa sendiri aja. Lebih mujarab." kata Kun membelai rambut Fayya.
"Fayya. Tolong kamu tutup mata lagi."
Fayya menutup mata.
"Sekarang boleh buka." kata Kun.
Fayya semakin terkesima. Kun membawa kue berbentuk piramida dengan lilin merah di atasnya. Tanpa bernyanyi, Kun meminta Fayya meniupnya.
"Sekarang potong tumpengnya." kata Kun.
"Tumpeng?"
"Iya itu tumpeng."
"Bukannya piramid Kun?"
"Bukan itu tumpeng. Yang kamu tiup tadi cabe. Bukan lilin."
"Tapi itu kue Kun. Kue yang bentuknya piramid."
"Bukan. Itu tumpeng. Aku menyebutnya tumpeng. Tumpeng dan piramida itu saudara. Dan...."
"Sssstttt. Ya sudah terserah kamu menyebutnya apa. Yang penting aku bahagia. Terima kasih Kun." kata Fayya sambil memegang pipi Kun. Lalu melempar kue ke arah Kun. PLOK!
Share:

Senin, 19 Desember 2011

Kun Si Dukun #Syech Jangkis

Angin di sekitar kantin mengalami perubahan yang signifikan. Alur yang biasa sepoi, menjelma menjadi pusaran. Makin lama makin kencang. Daun-daun berhamburan. Saat itu suasana perkuliahan sedang berlangsung. Mbok Sum berada di dapur. Kun seorang diri di meja sudut.
"Tunjukkan dirimu!" bentak Kun.
Yang disebut tak menampakkan diri.
"Hei! Keluar kau sekarang!" Lagi. Kun berteriak.
Yang diteriaki juga tak kunjung muncul.
"Hei! Kalau berani keluar sekarang juga!" Kun mulai panas badan dan terengah-engah menatap pusaran angin itu.
"Mbok Sum! Es teh lagi!"
Mbok Sum keluar membawa segelas es teh. Mbok Sum berteriak ketakutan.
"Mbok Sum! Masuk ke dapur sekarang!"
Angin semakin besar dan besar. Batang ranting bergoyang. Ranting patah karena ranting bergoyang patah-patah.
"Heh denger ya! Kalau sekali lagi ku panggil kamu gak nongol-nongol, liat saja nanti! Buruan keluar kenapa sih!"
Namun angin itu masih saja berputar-putar di tempatnya. Sudah hampir setengah jam berlalu.
"Ya sudah terserah situ." Kun diam melanjutkan aktivitasnya. Nyeruput es teh. Makan tempe goreng. Sambil download film-film Korea.

"Hei kau yang duduk disitu." terdengar suara tanpa wujud.
Kun cuek. Download tetap berlangsung.
"Hei! Kau yang sedang duduk disitu!"
Kun clingak-clinguk. Lanjut download.
"Hei! Kun!"
Kun menjulurkan lehernya. Download lagi.
"KUN!!! Ini Kakek!!!"
Kun baru sadar. Ternyata kakeknya.
"Sombong amat sih Kun." Kakek berjalan ke arah Kun sambil membersihkan daun-daun di tubuhnya.
"Salah siapa. Tadi disuruh keluar, eh gak keluar-keluar juga. Ya Kun biarin saja."
"Biar keren Kun. Masa keluarga dukun datangnya biasa-biasa aja. Birokrasi keluarga kita kan emang kayak gitu. Harus ada ciri khasnya. Pejabat aja harus ada ciri khas nya pakai dikawal gitu. Kita juga harus dikawal sama angin dong."
"Ada apa sih kek?" Kun cemberut.
"Mana ada dukun nanya? Yang ada tuh, dukun itu ngasih jawaban. Bukan menyodorkan pertanyaan. Kayak penyidik saja."
"Minum apa kek? Sini gak jual air kembang!" Kun masih kesel sama kakeknya.
"Ih bodoh ni anak ya. Kamu kira es teh itu dari apa? Kamu gak minum air kembang? Teh yang wangi itu pakai apa? Kembang melati kan? Hahahaha."

Kun curiga. Dia mencium aroma penyamaran disini. Lalu Kun mendorong orang tua yang berwajah mirip kakeknya itu hingga terpental jauh keluar kantin.
"Kamu bukan kakekku!"
Orang tua itu berdiri.
"Ternyata ilmu kamu cukup mumpuni juga anak muda." Seketika orang itu menunjukkan wajah aslinya. Lebih tua dan lebih keriput dari kakeknya. Kostumnya atasan hitam, bawahan hitam, memakai ikat hitam di kepala dan jaket ala boyband Korea.
"Siapa kamu?" tantang Kun.
"Aku. Syech Jangkis. Leluhurmu."
"Aduh. Udah deh ah. Udah banyak yang ngaku leluhurku. Yang lain dong."
"Ini anak. Aku leluhurmu tau!!!"
"Leluhur yang mana lagi???" tanya Kun sambil mengambil notes dari sakunya. "Tuh udah banyak kayak gini."
"Aku leluhurmu dari pertapaan Batu Payung."
Seketika Kun terdiam. Menurut cerita kakeknya, pusat keilmuwan keluarganya adalah pertapaan Batu Payung. Semua ilmu pengetahuan keluarga mereka berasal dari sana.
"Aku hanya ingin mengabarkan kalau akan ada sesuatu yang mendatangimu tanpa tanda tanpa isyarat. Jadi berhati-hatilah Kun anakku."

....download complete....
Baru saja Kun ingin memindah file film Korea nya Syech Jangkis sudah menghilang dan bau kentut menyeruak. Fayya menepuk bahu Kun.
"Heh. Gak kuliah lagi?" tanya Fayya dengan senyum manisnya.
"Gak. Males. Pak Armando kan?" Kun tersenyum. Tanpa tanda tanpa isyarat, ternyata itu kode leluhurku kalau ada 'cinta' yang datang. Cinta datang tanpa tanda tanpa isyarat, ternyata itu Fayya, batin Kun.
Share:

Kun Si Dukun #Penglaris Kantin

Mbok Sum, penjual di kantin tempat Kun biasa mangkal menerima 'pasien' hari ini memberikan diskon gede-gedean untuk para pelanggannya. Es teh manis untuk hari ini gratis. Pas sekali karena es teh adalah minuman favorit Kun. Jadi dia bisa buka praktek seharian di kantin tanpa membayar.
"Nak Kun."
"Iya Mbok."
Saat ini kantin masih sepi. Mbok Sum heran. Dia sudah menulis kata diskon dengan CAPSLOCK namun pengunjung jarang yang datang. Baru lima orang saja termasuk penghuni tetap meja sudut. Kun.
"Kamu merasa ada yang aneh gak nak Kun?"
"Gak mbok. Biasa saja."
"Angin?"
"Angin sekitar sini masih stabil mbok. Mondar-mandir utara-selatan. Kenapa mbok?"
"Tapi kok dagangan mbok sepi ya? Padahal mbok sudah ngasih diskon kayak gitu. Kamu gak punya apa gitu untuk membantu si mbok."
"Maksutnya mbok?"
"Sejenis penglaris gitu. Biar banyak yang beli."
"Mbok pengen dagangan mbok laku? Mbok pengen banyak yang datang kemari?"
"Iya nak Kun."
Lalu Kun masuk ke dapur. Dia membawa keluar tabung gas tiga kiloan.
"Nak Kun mau apa?"
"Bakar kantin mbok. Biar banyak yang datang kesini."
Mbok Sum pingsan.

Selang beberapa menit Mbok Sum terbangun. Ratusan mahasiswa sudah berada di kantin. Persis mirip demo.
"Mbok bangun mbok." kata mahasiswi berkerudung hitam.
"Kun. Mana nak Kun? Ini ada apa ramai-ramai kayak gini?" tanya Mbok Sum random. Siapa saja berhak menjawab. Semacam pertanyaan rebutan.
"Kata Kun Mbok Sum mau nyalon jadi rektor?" tanya mahasiswa bertubuh kekar menggebu-gebu.
"Ha?"
"Kami bersama Mbok Sum! Hidup Mbok Sum! Hidup Mbok Sum! Mbok Sum untuk perubahan!" teriakan menggelegar  memenuhi kantin.

"Mbok Sum. Es teh satu." kata Kun dari meja sudut.
"Iya kami juga mbok Sum....." kata mahasiswa yang lain.
Share:

Minggu, 18 Desember 2011

Kun Si Dukun #Cinta Kecoak

"KUN!!!!" Fayya melompat memeluk Kun. Kun hampir saja terjatuh. Kalau sampai tadi Kun terjatuh, mereka berdua bisa celaka. Karena disamping mereka ada Pak Armando lagi sarapan di kantin.
"Ada apa seh Fay?"
"Ituuuuu...."
"Apaan?"
"Ituuuuu...."
"Apa? Pak Armando?" kata Kun. Pak Armando segera membalas dengan senyuman sinis.
"Ituuuu...kecoakkk!!!"
"Oalah! Sama kecoak aja takut."
"Bukan takut Kun. Tapi jijik. Jijik Kun."
"Jijik itu bukan sama kecoak. Tapi sama Pak Armando." Lagi, pak Armando tersenyum sinis.
"Injek aja Kun! Injek!" Fayya masih berada di gendongan Kun.
"Siapa? Pak Armando?" Untuk kesekian kalinya pak Armando sinis.
"Bukan. Kecoaknya."

Lalu Kun menurunkan Fayya. Pelan sekali. Sepelan penurunan bendera. Fayya duduk. Kun juga. Pak Armando pergi. Sambil memaki dalam hati.
"Fayya. Kalau ketemu kecoak itu jangan dibunuh." kata Kun pelan. Fayya mendengarkan. Mata sendunya serius tertuju pada mata Kun yang nista.
"Fayya. Kalau kamu membunuh satu kecoak nanti kecoak yang lain mendatangimu. Dan jumlahnya itu bisa lebih banyak."
"Lebih banyak Kun? Kenapa?"
"Karena kecoak adalah salah satu hewan yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Dan semuanya adalah saudara kembar."
"Saudara kembar Kun?"
"Iya saudara kembar. Wajah mereka sama semua kan?"
"Lalu Kun?"
"Lalu ada dua kemungkinan. Pertama, kalau kamu bunuh satu, nanti kecoak-kecoak yang lain datang untuk memberikan bela sungkawa. Karena mungkin kecoak yang kamu bunuh itu kecoak yang baik, jadi banyak kecoak yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Kedua, kalau yang kamu bunuh itu ternyata kecoak yang jahat diantara kecoak-kecoak yang lain, mereka juga akan mendatangimu untuk memberikan ungkapan rasa terima kasih. Bentuknya, kecoak-kecoak itu akan minta cipika-cipiki ke kamu. Mau?"

Fayya kagum dengan penjelasan Kun. Fayya memegang tangan Kun dan mengajak Kun untuk berdiri. Kun merespon. Mereka berdua berdiri. Jarak mereka mendekat. Bibir Fayya menempel ke telinga Kun.
"Kun. Aku tak akan memintamu menginjak kecoak lagi. Kalau ada kecoak yang menggangguku, jangan kau injak. Tapi makan saja untuk menghilangkan jejak."
Kun menelan ludah. Dia berpikir, makan kecoak sama dengan mencintai Fayya?
Share:

Sabtu, 17 Desember 2011

Kun Si Dukun #Nama Bayi

"Kun. Mas Kun. Mas Kun ya?" tanya seorang laki-laki di kantin kampus.
Kantin kampus adalah tempat buka praktek Kun. Pemilihan tempat terjadi secara alamiah. Atau terjadi 'begitu saja'.
"Iya pak. Kenapa?"
"Begini mas Kun. Istri saya baru saja melahirkan. Tapi..."
"Tapi bayi kuda?"
"Bukan..."
"Bayi tabung?"
"Bukan...."
"Bayi gaul"?
"Bukan...."
"Bayi 4L4Y?"
"Bukan...."
"Terus tapi kenapa bapak?"
"Tapi saya belum punya nama yang cocok. Saya harap mas Kun bisa memberikan nama yang baik untuk anak saya."
"PRIHATINERS!"
"Prihatiners?"
"Iya bapak. PRIHATINERS! Prihatiners adalah panggilan untuk orang yang selalu prihatin dalam hidupnya. Orang yang jadi orang nomer satu di negeri ini sekarang adalah orang yang sering mengucapkan kata 'prihatin' bapak. Laki perempuan sama saja bapak. Moga-moga anak bapak bisa menjadi orang nomer satu di negeri ini kelak."

Bapak itu berlalu sambil membayangkan anaknya pidato di depan kamera televisi.
"Saya Prihatiners. Mari kita sukseskan pembangunan di negara ini dengan asas keprihatinan yang mendalam."
Tanda Kun tetep up date berita televisi.
Share:

Kun Si Dukun #konsultasi dosen

"Pak, saya mau konsultasi terkait dengan persoalan tu..."
"Maaf Kun. Bapak lagi banyak pikiran." kata Pak Armando sambil memegang mulut Kun dengan jari telunjuknya. Kun sadar dan segera melepas jari Pak Armando yang bau ikan asin itu. Untung tidak ada mahasiswa lain yang melihat. Suasana agak gerimis romantis.
"Bapak lagi ada masalah?" tanya Kun baik-baik.
"Iya Kun. Di rumah istri bapak selalu marah-marah. Katanya bapak kurang jantan Kun."
"Kurang jantan? Maksutnya pak? Bapak kena penyakit lemah syahwat?"
"Mungkin iya Kun. Kamu bisa membantu saya?" tatapan mata Pak Armando sayu.
"Membantu untuk?"
"Untuk membuat saya lebih jantan dan sembuh dari lemah syahwat."
"Sebentar pak." Kun mengambil acak satu daun. "Ini kunyah saja pak."
Pak Armando. Dosen berpostur melambai itu mengunyahnya. Terlihat mau muntah tapi ditahan.
"Telan saja pak."
Cleguk!!!
"Saya sudah sembuh Kun?"
"Baru 50% pak."
"Terus yang 50% lagi?"
"Bapak makan batang pohonnya dan harus habis." kata Kun menunjuk pohon beringin besar di depan gedung fakultas.
Kun tidak lulus mata kuliah pak Armando. Sejak saat itu Pak Armando menaruh dendam kepada Kun.
Share:

Kun Si Dukun #Buka Praktek

Kemampuan Kun sudah mencapai target yang diharapkan sesuai silabus dari leluhurnya. Sekarang dia menjadi incaran beberapa manusia yang terlalu galau menghadapi hidup. Termasuk teman-teman kuliahnya.
"Kun, semalam aku mimpi dipatok ular. Kira-kira apa artinya Kun?" tanya Joni mahasiswa semester delapan, delapan belas.
"Itu mimpi wajib bagi para jomblo kayak kamu!"
"Kun semalam aku mimpi bertemu ustadz yang biasa ngisi pengajian di komplek ku. Dalam mimpi itu beliau memberi banyak petuah untuk ku. Kira-kira apa artinya Kun?" tanya Nana.
"Ustadz itu sudah menikah?"
"Belum Kun."
"Alhamdulillah."
"Kenapa Kun."
"Gak papa. Perutku mules."



...........


Tak ketinggalan pula orang-orang yang ingin mencalonkan diri menjadi pejabat atau anggota dewan, datang menemui Kun.
"Saudara Kun?"
"Iya. Saya sendiri."
"Siapa Kun?" tanya Fayya yang kaget dengan kedatangan dua orang kembar berperut buncit.
"Biasa. Bentar ya." Lalu Kun dan si kembar itu agak menjauh dari meja Fayya.
"Bagaimana saudara Kun, kira-kira bisa kita mendapat jatah satu kursi. Tolonglah diusahakan saudara Kun. Untuk syaratnya, kami bersedia melakukan apa saja." kata si kembar bersamaan.
"Maaf. Berulang kali saya katakan tidak bisa."
"Tapi tolonglah saudara Kun. Jika kami jadi nanti, kami akan menjamin hidup anda dan pasangan anda yang cantik itu."
"Maaf. Sekali lagi maaf."
"Kenapa saudara Kun? Kurang syaratnya?"
"Bukan. Bukan itu. Permintaan anda berdua aneh. Anda minta jatah satu kursi, sedangkan anda adalah kembar! Gendut pula! Mana mungkin muat SATU KURSI UNTUK BERDUA!!!"
Fayya cuek dengan headset di telinganya.
Share:

Kun Si Dukun #Nge-date 2

‎"Kun, aku gak suka tipe cowok yang sok ngasih surprise." kata Fayya tegas tapi sendu.
"Misalnya?"
"Misalnya kamu tiba-tiba nongol di depan pintu rumah pas ada arisan ibu-ibu. Atau tiba-tiba ada bunga dengan kartu ucapan sayang darimu di kamarku pas malam Jumat Kliwon....."
"Ssstttt...." Kun memberikan isyarat diam, "Tapi kalau tiba-tiba aku melamarmu, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, gimana?"
Fayya salto tujuh kali. Karena mereka baru jadian kemaren.
Share:

Kun Si Dukun #Ilmu Ngilang

‎"Kun, sekarang kamu boleh mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah kakek berikan."
"Yang mana kek?"
"Ilmu Ngilang."
"Siap kek. Laksanakan sekarang. Satu Dua Tiga, ILANG!"
Dan Kun terjepit di antrean manusia-manusia penggila diskon Blackberry. Sial, batin Kun.

............
‎"Ayo Kun coba sekali lagi Ilmu Ngilang-nya. Siap?"
"Siap kek. Satu Dua, eh kek ganti kode boleh?"
"Boleh Kun!"
"Oke Kek. The Ngi and the Lang, NGILANG!"
Kun clubbing bersama ratusan perempuan seksi.
"KUNNN!!! PULANGGGGG!!!" teriak kakeknya.

...........
‎"Kakek, aku nyerah."
"Kun, kamu harus meneruskan ilmu warisan ini. Ilmu Ngilang ini yang terfavorit di keluarga kita."
"Baiklah kek. The Ngi and the Lang! NGILANG!"
dan...
"Tuh bener kan kek, Kun bilang juga apa." Kun berada di tengah-tengah ratusan jamaah pengajian khusus perempuan. Pengajian berhenti. Dan penceramah segera menghimbau jamaah untuk membaca ayat Kursi.
Share:

Kun Si Dukun #Nge-date

Kun mengajak Fayya untuk nge-date di resto yang cukup gaul. Fayya merasa ada yang aneh dengan sikap Kun. Sejak mereka duduk, Kun tidak menawari Fayya minum, apalagi makan. Pelayan resto pun seolah mengacuhkan keberadaan mereka. Dua puluh menit kemudian seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman. 
"Ini udang saus tiram, kentang goreng, dan jus apel khusus untuk mbak Fayya. Selamat Makan...." kata pelayan tomboi itu.
"Darimana kamu tahu kalau aku suka sekali udang saus tiram, kentang goreng, dan jus apel Kun? Ini kan baru pertama kalinya kita keluar makan bareng kan?" Fayya senang tapi juga heran.
Kun cukup mengeluarkan senyum manisnya saja. Fayya kenyang. Kun terkesima dengan cara makan Fayya hingga lupa memesan makanan. Kun kelaparan.
Share:

Kun Si Dukun #Pedekate

Kun dan Fayya, perempuan yang Kun kagumi, terjebak hujan lebat dalam perjalanan mereka ke  kampus. Kun paham, Fayya tipe cewek yang takut hujan apalagi petir. Mereka segera berteduh di halte bus. Kun kemudian memejamkan mata sambil berucap lirih.
"Eh hujan. Berhenti dong. Lima menit aja yah." Seketika itu juga hujan berhenti meski mendung masih menggelayut.
Lalu Kun dan Fayya kembali berjalan sambil bercakap ringan tentang kuliah dan dosen mereka yang agak bencong. Pak Armando. Di tengah perjalanan Kun kembali mengucapkan kode,
"Hujan, sekarang turun lagi gak papa. Gerimis aja. Ngerti maksutku?"
Gerimis turun. Kun memakaikan jaketnya untuk Faya. Fayya mikir, parfum apa yang dipakai Kun. Fayya nutup hidung. Kun nutup mata dan mulut.

Share:

Kun Si Dukun #belajar terbang

‎"Kakek mau kemana?"
"Terbang. Mau ikut?"
"Iyaaaaa....."
"Ayo naek punggung kakek."
Kun kecil senang bukan kepalang. Sepanjang perjalanan dia bertanya terus kepada kakeknya.
"Kek itu apa?"
"Itu menara Eifell. Yang miring tadi menara pizza. Nah yang lancip itu piramida."

"Yang itu kek?"
"Itu bidadari lagi mandi di kali."
"Bukan yang rame-rame itu kek. Tapi yang jongkok sendirian itu lho."

Share: