Kamis, 06 Agustus 2015

#Kembalinya Si Dukun

Kun meletakkan berkas-berkas penilaian untuk anak didiknya. Pusing kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa manusia melakukan pekerjaan rumit seperti ini. Demi apa?

"Gimana Kun? Selesai?" Genderuwo yang masih dalam penyamaran sebagai kepala sekolah menghampirinya.
"Pertanyaanku satu Gen." 
"Apa?"
"Kamu kok kuat menyamar menjadi kepala sekolah? Bukannya pekerjaan kepala sekolah sangat rumit?"
"Kamu masih meragukan kemampuan kami Kun? Menyamar jadi juru supit aja kami mampu kok."
"Perbandingan yang aneh. Juru supit kok dibandingkan dengan kepala sekolah."
"Kun. Menjadi juru supit adalah uji kelayakan ilmu kami yang paling akhir. Kalau kami berhasil melakukan supit dengan selamat, maka kami lulus. Urusannya masa depan Kun. Salah potong kan bisa runyam?"
"Iya sih Gen. Kamu benar."
"Eh tapi kamu nggak sakit kan?"
"Nggak Gen. Sedikit lelah aja mungkin."
"Butuh istirahat? Mau ambil cuti sekalian?"
"Nggak ah. Kalau aku ambil cuti Fayya pasti marah-marah. Kalau aku ingin menjadi manusia seutuhnya, aku harus mampu dan mau menanggalkan seluruh kemampuanku Gen. Kemaren aku cek kadar kesaktianku sudah mulai menurun. Hampir 70%. Itu artinya sedikit lagi, aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Aku nggak mau keturunanku sama anehnya dengan diriku Gen."
"Oh. Sekarang aku ngerti. Kenapa janin yang ada di perut Fayya menghilang secara misterius kemaren. Mungkin menunggumu menjadi manusia seutuhnya, baru dia lahir Kun."
"Mungkin Gen. Peristiwa kemaren itu membawa perubahan besar di dalam diriku. Ketika rasa kehilangan itu muncul, seketika itu juga aku merasa hampir menjadi manusia. Kecewa bahasa sederhananya Gen."
"Nggak apa-apa Kun. Gini Kun, soal gelombang aneh di belakang sekolah ini gimana?"
"Aku nggak up date Gen. Terlalu disibukkan dengan administrasi sekolah ini. Di sisi lain, aku bersyukur. Bersyukur bisa mulai merasakan apa yang dialami manusia. Sudah jarang terbang. Hampir nggak pernah menggunakan ilmu ngilang lagi."
"Kun, kamu serius ingin jadi manusia seutuhnya."
"Ku rasa iya Gen. Sudah memantapkan hati."
"Ya sudah Kun. Mungkin persoalan gelombang aneh di belakang sekolah ini biar aku yang hendel. Kamu pulang aja. Fayya masih butuh perhatian dan kasih sayangmu."

Kun pulang. Matanya berkunang-kunang. Jadi manusia saja belum utuh, gimana mau jadi bapak? Pikirnya.

Bel pintu rumah berbunyi. Pintu rumah terbuka. Fayya masih seperti dulu, cantik dan cerdas. Fayya mencium punggung tangan Kun. Kun mencium kening Fayya.

"Aku masak makanan kesukaanmu sayang."
"Apa yang?"
"Sambal udang basi."
"Hmmm... nyam nyam..."
"Jangaaaann ngiler di pundakkuuuu!!"
"Maap maap maap sayang."
"Yaaah baru juga dicuci."
"Iya maap. Nanti aku cuci deh. Makan yuk."

Setelah makan mereka berdua melanjutkan adegan di dalam kamar. Selalu seperti itu. Sebelum tidur, baik siang maupun malam Kun dan Fayya mengambil waktu barang sejenak untuk saling bertukar cerita. Mungkin yang mereka bicarakan soal masa depan. Namun tak jarang pula mereka memetakan masa lalu. Khususnya peristiwa itu. Peristiwa yang membatalkan Kun menjadi seorang bapak.

"Kita coba lagi ya sayang." Fayya meyakinkan Kun.
Kun mengangguk. Lalu dia tidur. Baru beberapa menit terdengar teriakan tetangga minta tolong. Teriakan yang membuat Kun dan Fayya terbangun dan bergegas keluar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. 

"Kenapa mbak?" Ku bertanya kepada pemilik teriakan tadi.
"Itu mas Kun. Tolong itu! Tolong!" Mbak itu menunjuk ke arah langit.
Kun terkejut. Dia melihat awan hitam berputar-putar tepat di atas rumah si Mbak.
"Nggak apa-apa Mbak. Itu angin biasa." Kun coba menangkan dan menganggap hal itu biasa saja. Tapi ada yang berkecamuk di hatinya. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Kun menatap ke arah Fayya. Fayya menggeleng. Kun terus menatap Fayya. Fayya tetap menggeleng. Awan hitam itu berputar semakin cepat. Si Mbak berteriak semakin keras. Tetangga sudah mulai membuka pintu rumah masing-masing dan hampir keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum Fayya akhirnya menganggukkan kepala.

Bagi Kun itu adalah pertanda ada ijin dari Fayya untuk membereskan awan hitam itu. Dengan segera ditepuklah pundak si Mbak yang tentu saja langsung pingsan tak sadarkan diri. Kemudian Kun menjejakkan kaki ke tanah 3,5 kali lalu melesatlah dia ke gumpalan awan hitam itu.

"Gini aja deh! Langsung tunjukkan siapa dirimu! Daripada ku hanguskan kamu!" Seperti biasa tanpa basa basi Kun memberikan peringatan.
"Kamu tidak berubah."
"Heh! Siapa kamu! Jangan sok tahu soal aku!"
"Sok tahu? Gimana aku tidak tahu siapa kamu? Kamu yang menyelamatkan aku waktu itu."
"Ha?" Kun tercengang.
"Inget sama badai yang kamu halau hingga kamu masuk angin?"
"Badai? Masuk angin?"
"Hajatan."
"Astagaaa... itu kalian?"
"Iyaaaa Kuuuunnn...."
"Kalian ngapain ke sini? Jangan bilang kangen sama aku ya."
"Nggak Kun. Kami kaget aja. Kami dapat kabar dari Gagak Rimang katanya sebentar lagi kamu jadi manusia. Bener seperti itu?"
"Iya."
"Kalau iya. Kami bakal kehilanganmu. Cuma kamu yang bisa menjadi penghubung antara dunia kami dan dunia manusia. Kamu yang sering mengingatkan kami untuk tak semerta-merta tunduk begitu saja kepada perintah manusia. Apalagi kalau tujuannya menggunakan jasa kami adalah untuk menyakiti manusia yang lain. Kalau kamu pensiun dini, siapa yamg mengurus gelombang-gelombang seperti kami Kun?"

Kun terdiam sejenak. Lalu,
"Tidak. Tidak bisa. Aku tetap pada pendirianku. Aku harus merelakan kemampuanku. Semuanya."
"Baiklah Kun. Kami tidak bisa memaksamu. Kami pamit. Salam kepada tuan putri mu, Fayya."
"Oke."

Gumpalan awan hitam itu pergi. Hilang. Berganti awan-awan yang putih cerah merangsang. Kun lalu turun ke bumi menemui Fayya yang sedang mengipasi si Mbak.

"Gimana yang?"
"Nggak apa-apa."

Kun memegang pundak si Mbak. Yang kemudian tersadar.

"Ha? Dimana aku? Aku kenapa?"
"Tadi Mbak lagi jalan di depan rumah kami lalu mbak tertabrak kucing yang membawa ikan curian lalu mbak pingsan." Jawab Fayya. Kun tersenyum. Istrinya semakin dewasa dan pandai mengarang cerita. 

Kemudian setelah si mbak sehat Kun dan Fayya masuk ke rumah. Namun kekita hendak membuka pintu Kun terjatuh. Dahinya mengeluarkan cahaya. Fayya melihat itu dan segera menyeret Kun ke sofa supaya tetangga tidak curiga. Dahi Kun bercahaya selama 33 menit. Karena Fayya tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengambil wajan jumbo untuk berjaga-jaga kalau-kalau Kun berubah menjadi monster jahat.

Begitu siuman, kata pertama yang diucapkan Kun adalah, 
"Sial!"
"Kenapa yang?"
"Tadi indikator kekuatanku menunjukkan penurunan."
"Bagus dong yang kalau gitu."
"Maksudku kadar kemanusiaanku turun."
"Gara-gara kamu terbang ya?"
"Bukan. Bukan itu. Gara aku mau menolong tetangga kita dan mendapat persetujuanmu."
"Ohhh.... jadi kamu mau bilang ini semua gara-gara aku?! Aku yang salah?"
"Bukan yang. Bukan begitu maksudku. Maksudku.... yang jangan pukul aku pakai iiiitttt...."

PLAK!

Wajan jumbo mendarat lagi ke kepala Kun setelah empat tahun. Dan sebenarnya inilah aktivasi terdahsyat kekuatan Kun. Dipukul wajan jumbo oleh Fayya. Aktivasi dari orang yang dicinta. Selamat datang kembali, dan tetaplah jadi dirimu yang sesungguhnya Kun. Begitu ucap awan hitam tadi. Sedangkan di sekolah si Genderuwo tersenyum merasakan kembalinya kekuatan Kun, yang kali ini lebih berlipat dari biasanya. Tiga puluh tiga kali lipat.

Karena jumlah pukulan wajan jumbo Fayya tiga puluh tiga kali juga. Mau jadi manusia seutuhnya kok susahnya minta ampun. Batin Kun sambil menahan sakit.
Share:

Rabu, 23 April 2014

Guru Indonesia #2

"Sayaaaang..... bangun. Udah jam berapa ini? Katanya masuk jam setengah tujuh." Fayya berbisik lembut.
"Jam berapa sayang?" Kun berucap lirih sambil mengelap ilernya.
"Jam setengah lima sayang." Fayya mengusap rambut Kun yang semalam baru saja dipotong.
"Baru juga jam setengah lima sayang. Bobo lagi ah."
"Eeeh. Jangan gitu dong sayang. Kalau Gurunya telat bagaimana muridnya? Ayo bangun sayang."
"Uhmmm, tapi ada syaratnya."
"Apa sayang syaratnya? Hmm?"
"Cium kening dulu."
"Iya. Sini sini sayang. Muuuaaahhh...."
"Makasih sayang. Bobo lagi ya."

THUWANG!

"Aduh! Sakit sayang!"
"He? Mau dipukul lagi pakai wajan jumbo? He? Bangun nggak! Bangun!"
"Iya iya. Bangun nih."
"Disayang sayang kok masih nggak ngerti juga. Bangun! Air kembangnya udah siap dari tadi! Keburu dingin ntar rasanya kayak pipis kuda!"
"Iya iya. Galak banget sih sekarang. Dulu aja nggak pernah mukul. Sekarang mukul beneran. Sakit nih."
"Sakit sayang? Aduh maaf deh. Sini coba lihat. Ups... Maaf sayang. Tadi maunya bercanda. Taunya kena beneran maaf ya."

Begitulah. Hari pertama Kun mengajar diwarnai dengan adegan yang masuk kategori 'deleted scene'. Cukup brutal. Apalagi jika dikonsumsi para pengantin baru yang ingin membina keluarga harmonis. Tidak layak ditiru memang. Namun, seperti itulah kemesraan yang terjadi antara Kun dan Fayya. Romantisme wajan jumbo.

Kun sudah selesai mandi. Tampilannya cukup menawan. Fayya menjadi penata gaya bagi Kun. Setelah Kun memberi kabar bahwa dirinya diterima menjadi guru di sebuah sekolah di bawah naungan yayasan yang cukup perlente Fayya bergegas mencari referensi fashion guru masa kini. Dari yang casual hingga yang modis tapi terksesan disembunyikan. Misalnya. Paduan celana bahan halus model skinny dan sepatu pantofel mengkilap bagi guru laki-laki. Iya, percuma juga sih kalau Fayya mencari referensi fashion guru perempuan. Kalau fashion istri para guru, dia sudah menguasai.

Untuk Kun, Fayya sudah menyiapkan kostum yang paling pas untuk dipadupadankan dengan tubuh Kun yang tinggi semampai, berkulit kuning bangsat, bertangan panjang, dan berkaki lebar. Memang hanya Fayya satu-satunya perempuan yang sudah paham lekuk tubuh Kun.

"Ini untuk hari Senin. Ini hari Selasa. Ini Rabu. Ini Kamis."
"Stop. Khusus untuk hari Kamis aku tidak mau menyalahi aturan leluhurku di Batu Payung. Untuk hari Kamis aku harus pakai kostum hitam-hitam."
"Sayaaaang.... Nanti yang diajar kan murid SD. Masih anak-anak sayang. Anak-anak itu sukanya warna-warna cerah."
"Itu salah satu kesalahan pendidikan kita. Siapa bilang hitam itu menakutkan? Siapa bilang anak-anak tidak suka hitam? Anak-anak itu bukan badut. Yang didandani warna-warni seperti crayon berjalan. Sudah aku pakai hitam-hitam aja."
"Hmmm... gini aja sayang." Kemudian Fayya membisiki Kun.
"Hmmm... cerdas kamu sayang. Istri siapa sih ini?" Kun memuji dengan nada kesal.
"Istrinya Pak Guru." Fayya tersenyum.

Tahu apa yang dibisikkan Fayya kepada Kun? Seperti ini.

"Kalau begitu yang hitam-hitam dalemannya aja sayang."

Dengan rasa yang serba aneh dan mengganjal, Kun berangkat menuju sekolah. Batinnya agak sedikit tersiksa. Menghadapi makhluk dari alam apapun dia sanggup. Tapi anak kecil? Bisa apa dia dihadapan anak kelas 2 SD? Sedangkan masa kecil Kun sendiri sudah dipenuhi dengan hal-hal seperti, terbang, menghilang, memindahkan benda tanpa memegangnya, dan beberapa ketrampilan yang sebenarnya tidak pantas untuk dimiliki oleh anak seusianya. Iya. Kun memang terlahir spesial. Karena itu juga, Fayya sayang kepadanya.

"Perkenalkan anak-anak nama saya, Pak Dewa. Siapa anak-anak?"
"Pak Dewaaaaaaaaa...."

Harus. Demi kepentingan misi penyelamatan ini Kun harus mengganti namanya menjadi Dewa. Pak Dewa begitu Genderuwo memilihkan nama tanpa pertimbangan filosofis dan maknawi apapun. Asal aja. Dewa. Pak Dewa.

"Mulai hari ini dan seterusnya Pak Dewa akan menemani kalian belajar sambil bermain."
"Bermain pak?" tanya anak lelaki yang masih terbuka resleting celananya.
"Iya bermain." jawab Kun ramah. Padahal dalam hati dia mencaci maki Genderuwo. Genderuwo kurang kerjaan! Begitu batinnya.
"Asyiiikkkk!!! Teman-teman kita tidak akan belajar tapi bermain-main sama Pak Dewa!"
"Asyiiiiikkk!!!" Jawab paduan suara cempreng anak-anak itu.
"Pak Dewa Pak Dewa..."
"Iya, ada apa?"
"Pak Dewa aku punya pertanyaan buat Pak Dewa."
"Pertanyaan? Tapi sebelum itu perkenalkan siapa nama kamu?"
"Namaku Ucup Pak."
"Ucup? Yusuf kali?"
"Nggak pak Ucup."
"Nama lengkapnya?"
"Ucup Mesranianto Pak."
"Astaga, itu Kecup kali Cup! Kecup Mesra Nian. Karena kamu laki-laki ditambah akhiran -to."
"Bukan Pak! Ucup! Bukan Kecup!"
"Iya iya. Suka-suka bapak ibumu lah."
"Bukan Pak. Yang memberi nama ini bukan bapak ibu. Tapi kakek."
"Oooo kakek."
"Ho'oh pak. Kakek saya dukun."
"Astaga... pantesan aneh gitu ya? Dimana-mana dukun memang aneh Cup."
"Pertanyaanya sekarang Pak."
"Oh iya. Apa pertanyaannya Cup?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Iya Pak. Apa?"
"Uhmmm, apa ya Cup. Pertanyaan yang sulit Cup. Anak-anak ada yang tahuuuuuu?"
"Tidaaaaaakkkk!!!!"
"Ayo pak. Apa Pak?"
"Bentar Cup. Beri waktu bapak berfikir Cup."
"Ucup hitung sampai lima ya Pak. Satu.... Dua.... Tigaaaaa.... Empaaaaaatt... dan Liiiiimmmm...."
"Nyerah Cup. Pak Dewa nggak tahu."
"Yes! Binatang yang tidak memiliki ekor adalah Kita!"
"Astagaaaaa... Genderuwo sialan. Ini sekolah macam apaaaaa.....!!!!"

Saat istirahat di ruang kepala sekolah,

"Kamu gila ya Gen. Anak-anak di sini aneh-aneh semua! Lebih baik aku menyamar jadi tukang kebun aja daripada jadi guru."
"Hehehe... Tapi asyik kan Kun?"
"Asyik apanya. Kirain cuma satu anak yang aneh. Nggak tahunya semua. Masa mereka baru mau belajar kalau aku menyanyi sambil menari dulu. Dan mereka maunya aku melakukan itu setiap pagi sebelum pelajaran dimulai lho."
"Hahaha, kelas 2 itu memang agak spesial Kun. Makanya aku minta kamu yang pegang. Kamu kan pawang. Pakai dong energi pawangmu."
"Heh! Asal kamu tau ya Gen. Fayya melarangku untuk menggunakan kekuatan apapun selama aku di sini. Apalagi ilmu tinggi sekelas ilmu pawang itu."
"Takut sama istri?"
"Bilang seperti itu lagi ku kembalikan kamu ke alam asalmu selamanya lho!"
"Nggak Kun. Bercanda bercanda."
"Tapi, ada baiknya juga sih Gen aku berinteraksi dengan anak-anak. Belajar kalau punya anak besok." senyum Kun mengembang.
"Cieeee... emang udah berapa bulan Fayya."
"Nggak tahu. Aku nggak ngitung. Kalau saatnya lahir juga akan lahir sendiri."
"Pengen cowok apa cewek?"
"Apa aja lah Gen. Yang penting nggak kayak bapaknya?"
"Lha? Emang anak siapa kalau nggak mirip kamu."
"Maksudnya biar hatinya kelak selembut ibunya. Galak galak gitu istriku ngangenin Gen."
"Tahu lah perjalanan cinta kalian kayak apa."
"Gen, aku ijin pulang dulu ya."
"Ngapain pulang."
"Kangen Fayya Gen."
"Ijin pulang karena kangen istri Kun? Tidak! Sekolah ini baru aja memenangkan lomba disiplin tingkat nasional. Dengan kata lain, sekolah ini sangat menjunjung tinggi asas kedisiplinan semua kalangan. Baik guru maupun murid. Ijin pulang karena kangen? Cuih...."
"Nggak boleh?"
"Boleh deh boleh. Matamu udah memerah gitu. Bentar lagi keluar apinya deh. Daripada aku jadi Genderuwo bakar. Iya deh silakan pulang deh. Ati-ati di jalan deh. Aku kasih uang saku sekalian deh."

Kun pulang pagi. Dia sudah tidak kuat menahan rindu. Namun dia tidak pernah lupa akan misinya. Membongkar gelombang aneh di sudut belakang sekolah bersama Genderuwo.

"Sayaaang aku pulaaaang...."
"Lhooo sayang kok udah pulang? Bukannya kemarin katanya sampai jam dua. Ini kenapa jam sepuluh udah pulang. Kamu sakit sayang?"
"Nggak. Aku kangen sama kamu."
"Hmmm.. sini peluk dulu sayang..."
"Iya sayang."
"Sayang..." Fayya berbisik.
"Hu'um?"
"Kamu pilih aku pukul pakai wajan jumbo lagi apa balik ke sekolah sekarang juga?"
"Astagaaaa...."

Kun kembali ke sekolah dengan pikiran, "Kalau begini caranya kapan proses pembuahan di siang hari akan terjadi....."


Share:

Senin, 14 April 2014

Guru Indonesia

Antrian panjang. Bau keringat menyeruak dimana-mana. Hampir semua mata menyipit. Panas. Beberapa ada yang mencoba menyejukkan tubuhnya dengan menggunakan jari jemarinya. Semacam, kipas darurat meski mereka tahu efek yang ditimbulkan tidak seberapa.
"Nanti, kalau ikut antrian para pelamar, nggak boleh curang. Sayangku harus ikut audisi senatural mungkin." begitu pesan Fayya kepada Kun.

Boleh ditebak, Kun memang sedang ikut dalam audisi GURU INDONESIA. Sebenarnya ini merupakan pantangan besar. Bisa saja menimbulkan efek samping yang kurang baik bagi kesehatan Kun. Namun, karena kondisi sosial, dia harus menjadi manusia normal. Manusia biasa. Atau lebih tepatnya, manusia. Nggak pakai normal nggak pakai biasa. Manusia.

"Uhmmm, cuma itu syaratnya sayang?"
"Iya. Pokoknya kamu nggak boleh pakai kekuatan apapun. Kamu harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau yang lain kepanasan, kamu juga harus mau kepanasan. Jangan lantas mengeluarkan jurus Masuk Angin mu."
"Yeeee, emang namanya jurus masuk angin?"
"Fayya sendiri yang ngarang itu."
"Doakan aku sayang."

Keringat mulai membasahi baju Kun. Satu orang di depannya mencoba menawarkan minum. Kun tahu orang itu tidak berniat jahat kepada Kun tapi Kun tetap menolak. Dia sengaja berpuasa untuk menguji seberapa kuat dirinya berdiri lama, dengan kondisi menyengat dan, bau.

"Audisi aneh. Dimana-mana yang ada orang meminta diangkat menjadi murid. Ini malah mencalonkan diri menjadi guru. Minta diangkat lagi. Emang karung beras minta diangkat." perempuan di belakang Kun mengomel sendiri. Kun membalikkan badan dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas, ini audisi teraneh sepanjang sejarah kehidupan saya mas. Setahu saya di film-film silat itu yang ada hanya orang-orang yang minta diangkat menjadi murid. Bukan minta menjadi guru kayak audisi ini." perempuan itu sewot. Kun mencoba jernih.
"Maaf mbak, tapi ini kan bukan film silat. Ini kan dunia nyata."
"Dunia nyata apanya mas? Ini tuh lebih aneh dari film kartun!"
"Terus kenapa mbak ada di sini?"
"Terpaksa mas. Supaya ijazah saya berguna."
"Ijazah apa mbak?"
"Aduh dimana ijazah saya!?" perempuan itu lantas keluar dari antrian dengan wajah panik.

Kun memejamkan mata. Dia mencoba memindai sebenarnya seperti apa isi kepala orang-orang yang ikut mencalonkan diri menjadi guru ini. Kun mendapatkan berbagai macam jawaban. Dia senyum-senyum sendiri. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia ini. Batin Kun. Namun Kun menangkap sinyal aneh. Kun mendapati sebuah gelombang yang tak dikenal. Tempatnya tepat di belakang gedung audisi berlangsung. Kun terus mendeteksi. Baginya, ini gelombang baru. Apa ini? Atau tepatnya siapa ini? Kun semakin penasaran. Gelombang tak dikenal itu memenuhi kepala Kun hingga Kun hampir terjatuh. Kun mencoba membiarkan untuk sementara waktu gelombang tak dikenal itu. Dia ingin fokus kepada pesan Fayya.

Setelah menunggu, akhirnya nama Kun dipanggil. Dia sudah duduk di hadapan penguji.
"Nama?"
"Kun."
"Nama lengkap?"
"Kun."
"Nama panggilan?"
"Kun."
"Nama sayang?"
"Kun."
"Tempat tanggal lahir?"
"Batu Payung 11-11-11."
"Tahun 1911?"
"Bukan. Tahun 11."
"Oh. Hobi?"
"Terbang."
"Ketrampilan?"
"Menghilang."
"Kegiatan selama ini?"
"Jualan jagung bakar."
"Ada warung?"
"Ada."
"Dimana?"
"Di dalam piramida."
"Baik tunggu sebentar."

Jawaban yang normal menurut Kun. Dia mengemban amanah dari istrinya, Fayya. Bahwa, katakanlah dengan jujur meskipun itu pahit.

"Saudara Kun. Silakan ke dalam. Pimpinan yayasan ingin bertemu langsung."

Begitu Kun masuk ruangan,

"Kuuuunnnnn!!!"
"Aduh. Sial! Kostum kamu jelek Genderuwo!"
"Hahahaha... sini peluk dulu sahabatkuuuu!"
"Aaakkkk... pelan-pelan woy!"
"Iyaaa maaf.. terlalu seneng aku. Lama kita tak bersua kawan! Hahahaha.."
"Satu pertanyaanku. NGAPAIN KAMU DI SINI!"
"Hahaha.... nggak kok. Ini tugas dari kaumku."
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mengurusi yayasan ini."
"Nggak. Aku nggak paham. Kamu, makhluk dari alam lain, disuruh mengurusi yayasan milik manusia?"
"Ceritanya begini. Pemilik yayasan ini orang yang baik. Sangat baik sekali. Orangnya jujur, ramah, tegas, adil, bersahaja, berwibawa, tidak gampang mengeluh, tidak gampang cengeng..."
"Oke. Stop. Itu kamu bukan tim sukses kan?"
"Hahaha.. nggak lah Kun. Kami, makhluk Genderuwo, mengendus, bahkan mendapatkan data kalau pimpinan yayasan di sini sedang dalam keadaan bahaya. Kami tidak tega Kun. Lantas kepala suku kami menemui pimpinan yayasan ini dan menawarkan operasi penyelamatan."
"Jadi maksudmu sekarang pimpinan yayasan yang asli sekarang ada di.."
"Yap. Dia aman di wilayah kami. Kami mengambilnya kemarin. Sekarang aku yang menjadi dirinya untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman. Lupa kalau kami ini, kaum Genderuwo ahli dalam bidang penculikan dan spionase? Masih ingat dengan cerita tiba-tiba ada anak menghilang dan orang-orang menganggap diambil oleh Genderuwo kan?"
"Iya tau. Cerita basi itu. Bahkan kalian juga menyunat. Dasar ahli medis salah sasaran kalian."
"Hahaha... begitulah Kun."
"Berarti audisi Guru Indonesia ini pasti juga ulahmu kan?"
"Hahaha.. iyaaa.."
"Dasar makhluk aneh."
"Jujur Kun. Aku memang sengaja membuat acara seperti ini untuk memancing kedatanganmu. Kalau aku ke rumahmu langsung, pasti istrimu akan marah-marah. Kamu kan disuruh berperilaku normal. Nggak boleh main lagi sama kita-kita ini."
"Ya bukan begitu Gen. Ada baiknya juga istriku berbuat seperti itu. Bosen tiap harus ketemu sama makhluk aneh kayak kamu!"
"Terserah kamu lah Kun. Hahahaha.. yang jelas aku butuh bantuanmu saat ini untuk menyelamatkan yayasan ini Kun. Atau lebih tepatnya menyelamatkan sekolah ini. Dari...."
"Dari apa?"
"Dari...."
"Dari apa Gen!"
"Dariiiiii...."
"Gen!"
"Dari sesuatu di belakang gedung ini."
"Astaga.. pantas saja aku menangkap gelombang yang aneh."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kun?"
"Gen. Ini akan butuh waktu lama. Tidak bisa sekarang. Aku sama sekali belum pernah merasakan gelombang seperti ini sebelumnya. Satu atau dua tahun mungkin belum cukup."
"Oke. Supaya kamu mudah melakukan pendeteksian sekarang sebagai pimpinan yayasan aku mengangkatmu langsung menjadi Guru di sini."
"Ha?"
"Kamu dapat jadwal mengajar kelas 2."
"Ha? Kelas 2? SD? Aku mengajar anak kecil?"
"Terserah nanti kamu ajari terbang atau terbang-terbangan atau apalah. Yang jelas sesuatu di belakang gedung ini harus segera diketahui. Ini jadwal mengajarmu."
"Sebentar-sebentar..."
"Sudah tak ada waktu lagi Kun. Kamu harus di sini masuk dalam operasi penyelamatan ini."
"Masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang Gen? Kamu gila apa? Aku tidak pernah mau mencalonkan diri sebagai Guru Gen! Nggak! Aku jadi murid saja! Kamu tahu kan nilai akademis ku sewaktu kuliah seperti apa? Kamu ingat kan bahwa kelas utamaku adalah kantin Mbok Sum?"
"Ayo lah Kun. Tolong bantu kami dalam misi penyelamatan ini. Beliau orang baik Kun."
"Haduh. Padahal aku nggak berharap diterima Gen. Aku nggak pantes jadi guru Gen."
"Demi Fayya."
"Gen...."
"Lakukan ini demi orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu Kun. Sebagaimana kami kaum Genderuwo menyayangi pimpinan yayasan ini."
"Gen...."
"Oh iya, jangan lupa buat RPP nya juga."
"Astaga....."

Di rumah,
"Sayang selamat ya akhirnya kamu diterima jadi guru." Fayya memeluk Kun erat. Pelukan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
"Iya. Makasih ya sayang." Kun mencoba memaksa diri untuk tersenyum.
"Kenapa sayang? Kok cemberut?"
"Jadi guru di yayasan, gajinya sedikit." Padahal bukan itu yang ingin diomongkan Kun. Tapi dia terpaksa berbohong.
"Sayang. Fayya nggak minta apa-apa darimu sayang. Kalau kamu nggak kelihatan bekerja, gimana kata tetangga?"
"Iya. Itu wajar."
"Sekarang senyum dong sayang."

Kun tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Apa sebenarnya di belakang gedung tadi....."

"Ke kamar yuk..." Fayya menggandeng Kun. Proses perkembangbiakan dimulai.


Share:

Jumat, 14 Maret 2014

Fayya Ngidam

Di dek sebuah kapal yang menuju pulau kecil, Kun melamun. Dia menerawang sedang apa istri tercintanya sekarang. Sambil mengusap-usap cincin perkawinan mereka, Kun berharap istrinya baik-baik saja di rumah sederhana mereka. Untuk kemudian matanya terpejam.
"Sayang, kamu sedang apa sekarang?"
Terngiang suara Fayya, "Kun, lupa kalau kamu dukun?"
"Eh sayang, rupanya kamu tahu kalau aku sedang merindukanmu?" Kun membalas.
"Ya tahu lah sayang. Gelombang yang kamu kirimkan kan jalurnya berbeda dengan gelombang-gelombang yang ada. Kalau yang sering dipakai internet yang sekarang sih masih belum ada apa-apanya."
"Hahaha, sayang.. maaf aku terpaksa pakai kekuatan yang ini. Aku nggak kuat. Kangen banget sama kamu Fayya."
"Sama sayang. Kangenku juga nggak kalah besar sama kangenmu."
"Kamu sedang apa sekarang?"
"Yeee, katanya dukun, kok masih tanya. Hahaha..."
"Sayaaaaang... ini kan formalitas sebagai seorang suami istri. Kalau aku nggak pura-pura tanya terus kita mau mesra-mesraan pakai apaaaa.... Hiiihhhh, gemes tau!!!"
"Hahaha, berhasil bikin sayangku gemes..."
"Sesakti-saktinya, seampuh-ampuhnya, secerdas-cerdasnya manusia bikin teknologi apapun, proses penciptaan manusia yang paling nikmat ya dengan bertemunya aku dan kamu untuk menjadi kita, dan menjadi anak kita...."
"Ngomong apa sih yang?"
"Hiiiiihhh.. gemeeess!!"
"Hahaha..."

Bahu kanan Kun ditepuk seseorang. Mata Kun terbuka. Komunikasi dengan Fayya terputus.
"Maaf mas. Ini sampai mana?"
"Oh, maaf mas. Saya juga kurang tahu. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Mas mau kemana?"
"Ke pulau Harpu."
"Pulau Harpu? Serius mas?"
"Iya mas."
"Di sana angker lho mas. Orang yang sudah pergi ke sana tidak akan kembali dengan selamat."
"Mas kok tahu. Pernah ke sana?"
"Belum mas. Menurut cerita-cerita orang di sekitar pulau seperti itu mas."
"Uhmmm,"
"Mas ada keperluan apa?"
"Main aja."
"Main?"
"Iya. Istri saya sedang hamil. Terus dia meminta saya untuk pergi ke pulau Harpu. Ngidam gitu mas. Kalau nggak dituruti ya gimana."
"Ah, itu takhayul mas. Itu cuma mitos. Ngidam itu nggak dituruti juga nggak apa-apa mas. Pasti nanti takut kalau bayinya lahirnya nggak normal kan?"
"Mas," Kun tersenyum, "Saya mau menuruti keinginan istri saya untuk pergi ke pulau Harpu itu bukan semata agar bayi saya nanti lahirnya bisa selamat, normal. Itu karena saya berusaha menghormati dan menghargainya sebagai seorang istri. Di rumah dia sudah melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi ini bentuk rasa syukur dan terima kasih saya kepada istri saya mas."
"Oh..."
"Mas sendiri mau kemana?"
"Saya turun sini." kemudian laki-laki itu menghilang. Kun, biasa saja. Memang seperti ini dunianya. Mau gimana lagi?

Kapal berhenti di bibir pantai. Kun turun dengan membawa tas rangsel kecil berwarna hitam. Semacam tas untuk laptop. Isinya, dia tidak tahu. Karena Fayya lah yang menyiapkan semuanya. Iya, seperti yang Kun katakan kepada 'makhluk' di kapal tadi, Fayya memang istri yang baik.

Siang hari yang terik pulau Harpu terlihat sepi. Lebih tepat kalau dikatakan lengang. Kun juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan foto-foto selfie dan mengirimkan gambarnya via bbm lantas pulang kembali ke rumah, atau mendirikan tenda dan menginap di pulau Harpu yang katanya angker ini untuk beberapa hari. Sementara ini Kun memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling menikmati pulau Harpu yang indah ini.

Pohon-pohon besar yang rindang, sejuknya udara, dan semilirnya angin pantai menemani perjalanan Kun. Iya, benar-benar lengang. Kicauan burung-burung juga turut serta membersamai Kun. Entah kenapa air matanya menitih. Ini bukan tempat angker. Batin Kun. Ini tempat yang indah. Benar-benar indah. Kun mengambil ponselnya. Ternyata tidak ada sinyal. Kun tersenyum. Baginya ini adalah tempat yang tepat. Terima kasih Fayya sayang. Kenapa tepat? Karena tempat yang tidak bisa ditembus oleh sinyal seluler dan internet adalah tempat yang masih murni gelombang elektromagnetiknya. Begitu diagnosa Kun. Dan tempat-tempat seperti itu adalah tempat yang sangat cocok untuk menetralisir isi kepala dan isi hati.

Lalu di bawah pohon yang rindang, Kun duduk bersila setelah meletakkan rangsel di sampingnya. Matanya, terpejam.

Datang seorang anak kecil. Dia tersenyum lalu bersalaman dengan Kun dan menyium punggung tangan Kun.
"Siapa kamu?" anak kecil itu bertanya. Menurut Kun dia ganteng.
"Namaku Kun. Kamu siapa?"
"Aku, aku lupa siapa aku."
"Iya nggak usah dijelaskan. Aku tahu kok. Kamu Si Gelombang kan?"
"Iya. Kok kamu tahu sih? Padahal aku kan sudah berpura-pura lupa."
"Hehehe, eh Gelombang, aku panggil kamu Mbang gitu aja ya. Soalnya kalau Gelombang terlalu panjang."
"Nggak papa Om Kun."
"Yeee, manggil Om lagi. Mas aja."
"Yeee, ya nggak mau. Om Kun aja ya."
"Iya deh. Terserah kamu."
"Om Kun di sini ngapain?"
"Nggak tahu. Main aja."
"Ke rumahku aja yuk Om. Deket situ kok. Kebetulan di sini lagi ada pesta Om."
"Pesta? Pesta apa Mbang?"
"Syukuran. Ibuku hamil Om."
"Ibumu hamil?"
"Iya. Hamil calon adikku Om."
"Kamu anak yang nomer berapa Mbang."
"Aku anak nomer 1134509 Om."
"Astaga. Berarti adikmu nanti anak nomer 1134510?"
"Yap! Bener Om."
"Berarti memang Gelombang itu memang banyak jenisnya ya?"
"Iya Om. Jenis kami banyak kok. Dan berbeda-beda. Yang dikenal manusia itu ya cuma gelombang-gelombang yang itu-itu aja Om. Mereka itu Jenis Gelombang yang ingin populer Om. Tapi sebenarnya yang lebih hebat dari mereka juga masih banyak Om."
"Lha?"
"Kenapa Om? Bukannya Om sudah tahu ya?"
"Iya sih sudah tahu. Kaget aja. Om kira tidak sebanyak itu jenisnya."
"Kalau pembagian secara umum cuma dua. Kayak manusia Om."
"Oh."
"Gimana Om? Jadi ikut ke rumah nggak. Beneran lagi ramai Om."
"Boleh deh. Daripada nggak ngapa-ngapain."

Di rumah si Mbang sangat ramai. Kumpul banyak sekali Gelombang. Semua melihat ke arah Kun. Mereka tersenyum ramah. Kun juga membalas setiap senyum itu. Baru kali ini dia merasa heran setelah sekian lamanya. Si Mbang mengajak masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada bapak ibunya.

"Nak Kun ya?" Bapak Mbang menyebut nama Kun.
"Kok tahu Pak?" Kun heran.
"Sudah. Kayak nggak ngerti sama gelombang aja Kun. Data kami soal kamu banyak. Kamu itu jenis manusia yang paling sering berinteraksi dan sering menggunakan jasa kami kan?"
"Iya bapak. Terus terang saya kaget kalau kalian sebanyak ini pak. Pantesan sinyal hape nggak mampu menembus. Lha di sini tempat lahirnya gelombang. Hahaha.."
"Hahaha... Nak Kun, gimana kabar istrinya? Si Fayya."
"Iya pak. Fayya sedang hamil. Dia ngidam dan meminta saya datang ke pulau Harpu ini pak. Nggak tahu maksud dia apa."
"Perempuan, jenis manusia itu memang sinyalnya kuat Kun. Banyak dari kami, gelombang, khususnya gelombang-gelombang yang kuat, yang ikut bersama perempuan Kun."
"Gitu ya Pak?"
"Tubuh seorang perempuang adalah tempat yang nyaman bagi gelombang-gelombang kuat Kun.  Fayya memang sekilas perempuan biasa. Tapi begitu dia mengabdi dan menerima suaminya dengan penuh ketulusan, maka gelombang-gelombang yang ada di tubuhnya akan menjelma menjadi pendaran-pendaran yang sangat kuat. Kuat di sini bukan kuat untuk menyerang yang lain. Tapi kuat untuk mengayomi yang lain. Kuat untuk kamu ajak berjuang di medan perang model apapun. Apa lagi, dia sedang hamil."
"Pak,"
"Kenapa Nak Kun?"
"Boleh meluk pak?"
"Sini-sini. Jangan siakan sayang Fayya kepadamu Nak Kun. Sayangi dia, lindungi dia. Nafkahi dia sebagai tanggung jawabmu sebagai lelaki. Dia dipilih untuk menjagamu. Menjaga keseimbangan hidupmu Kun."
"Tapi istri bapak juga sedang hamil."
"Kalau kami sih hampir setiap hari melahirkan Kun. Hahaha...."
.......................

Di rumah Fayya sedang bersiap menyambut Kun. Usia kandungannya sudah memasuki angka dua bulan. Bagi Fayya ini adalah anugerah tersendiri. Awalnya dia berfikir jangan-jangan dia tidak bisa hamil. Secara Kun adalah makhluk aneh. Tapi nyatanya dia hamil juga.

Teh hangat, sambel petai, dan sedikit gorengan tempe sudah tersaji cantik di meja makan. Kun datang.

"Sayang. Mau mandi dulu apa langsung makan?" Fayya menyambut Kun penuh keramahan.
"Makan dulu yang. Mandinya nanti. Bareng kamu." Kun menggoda.
"Baru juga pulang pikirannya sudah sampai sana. Gimana? Dapat apa dari pulau Harpu?"
"Dapat banyak sayang."
"Mana? Tasnya juga masih kempes gini."
"Ada kok. Nanti di kamar aja. Aku lapar."
"Hu'um. Sini Fayya ambilkan nasinya. Eh sayang, aku boleh jujur nggak."
"Boleh. Kenapa Fayya sayang?"
"Uhmmm, sebenarnya aku tuh nggak tahu kalau ada pulau yang namanya Harpu. Saat itu aku nyebut kata Harpu begitu aja. Eh nggak tahunya ada beneran ya? Hehehe.."
"Hiiihhhh... Gemes gemes gemeeeeessss....."

Setelah adegan saling cubit dan makan bersama, Kun dan Fayya mandi. Bareng. Tak usah dibayangkan bagaimana adegannya. Setelah adegan yang kurang bisa digambarkan itu, mereka berada di kasur. Terjadilah diskusi yang sangat penting.

"Sayang, sayang mau anak kita besok jadi apa?" Kun mengawali. Dan apa respon Fayya?
"Pertanyaanmu terlalu mainstream Kun. Ganti."

Klik. Lampu pun dimatikan.
Share:

Sabtu, 09 November 2013

HaniMun

"Sayang, tulisannya bukan gitu kali. Honeymoon. Bukan hanimun sayang."
"Oh. Tapi bacanya hanimun kan?"
"Iiiihhh... ya tetep aja tulisannya salah sayang."
"Mana yang lebih bener? Yang tulisan dan cara bacanya bener apa yang antara tulisan dan cara bacanya beda?"
"Tau ah. Yang paling bener itu yang keluar dari hatimu sayang."

Iya. Sekarang mereka berdua sedang berada di Tokyo. Honeymoon kata Fayya, atau hanimun kata Kun. Sama saja. Yang jelas mereka sedang merenda merajut kehidupan baru setelah sekian lama berkutat dengan keanehan demi keanehan. Kun juga sudah bertemu ibunda tercinta sewaktu prosesi pernikahan kemaren. Tak ada hal yang paling menggembirakan selain restu dari ibu. Sesakti seampuh apapun seorang anak, dia tetaplah anak. Tak ada satu pun pawang yang dikerahkan meski hujan terus terusan mengguyur sekitar rumah Fayya.

"Biarlah. Hujan ini berkah." begitu gumam Kun.

Tenda-tenda basah oleh air hujan. Tapi ada tak ada satu raut muka tamu yang cemberut panik atau gelisah karena mereka tahu siapa yang menikah. Anak muda yang sembilan puluh sembilan persen prestasi akademiknya amburadul tapi sangat solutif terhadap semua permasalahan yang terjadi di sekitar kampus. Dari masalah yang 'kasar' sampai yang 'halus'. Anak muda yang seharusnya mampu cumlaude, tapi memilih untuk telat lulusnya. Sederhana, hanya ingin merasakan proses demi proses kehidupan menuju sejatinya kedewasaan dan kematangan dalam berfikir dan bertindak. Anak muda yang paham bahwa es teh adalah sama dengan air kembang. Sama-sama herbal. Anak muda yang memiliki kemampuan menghilang tapi lebih memilih berjalan kaki jika bepergian. Anak muda, yang memang sangat memiliki potensi awet muda. Dan anak muda yang setia dengan satu pasangan saja. Fayya.

"Selamat ya Kun..." Pak Armando memeluk erat Kun kala itu.
"Terima kasih pak."
"Ini kenalkan istri saya."
"Istri?" Kun mengangkat alis. "Katanya kalian ber..."
"Ssssttt... nggak jadi Kun. Ini berkat ajian yang kamu ajarkan." 
"Ajian? Ajian apa ya?"
"Ajian milkshake. Masa lupa?"
"Pak! Itu bukan ajian! Itu minuman! Saya minta pak Armando sering-sering membuatkan milkshake kesukaan istri bapak biar istri bapak merasa disayang oleh suami. Bukan ajian!"
Pak Armando melongo. Istrinya juga. Sampai tumpah air liurnya. Dikiranya milkshae sama dengan horseshake atau ajian jaran goyang.

"Sayang, kok nggak ada salju? Katanya di Tokyo banyak salju." Fayya merengek manja di dekapan Kun. Erat. Dilem. Disemen. Dicor.
"Sayaaang. Ini musim apa coba? Kan bukan musim dingin. Mana ada salju yang. Lagian emang daerah Tokyo itu jarang-jarang juga turun salju meski musim dingin tiba." Kun menjelaskan sambil sesekali membelai kepala istrinya itu.
"Apa? Nggak ada salju? Masa kalah sama Indonesia. Di Indonesia kan banyak salju. Keluarnya juga nggak mengenal musim."
"Emang ada yang? Dimana? Kok baru denger sekarang."
"Ada kok." Fayya manggut-manggut sambil manyun-manyun bibirnya.
"Dimana sih yang? Penasaran aku. Kalau di Indonesia ada salju yang selalu turun tanpa mengenal waktu lebih baik besok kita pulang saja ke Indonesia yang."
"Ada yang. Beneran mau pulang besok?"
"Iya. Malam ini kita kemasi barang-barang."
"Nggak kecewa kalau aku bilang dimana tempat salju yang selalu turun itu?"
"Emang dimana sih yang?"
"Di tempat CUCI MOTOR SALJU. Hahahaha.... "
"Dasar duduuuullll!!! Siniiiiii!!!" Kun menggelitik Fayya, sampai terkekeh dan berlinang air mata. Kemudian selanjutnya terjadi adegan laga. Saling hantam, saling tindih, saling tarik, tapi tak ada yang tersakiti. Karena kalian tahu itu adegan apa. Hanimun kata Kun.

Pagi di Tokyo. Rencananya pasangan sejoli yang baru dirundung bahagia ini mau melanjutkan jalan-jalan mereka ke menara Tokyo atau Tokyo tower. Sebuah menara yang terletak di taman Shiba yang mirip dengan menara Eiffel di Paris. Tapi karena agak kecapekan setelah pertarungan semalam, Kun memutuskan untuk bersantai di kamar hotelnya. Fayya masih tergolek manja di ranjang.

"Akhirnya. Aku jadi manusia. Manusia seutuhnya. Semalam sudah yang ketiga kali aku melakukannya dengan Fayya. Berarti semua kekuatanku yang aneh-aneh itu sudah hilang. Aku normal sekarang. Aku manusia normal." batin Kun. 
"Sayaaang... Kamu dimana?" Fayya memanggil manja. Kun tersenyum menghampirinya.
"Disini sayang..."
"Sini peluuuk..."
"Teletubbies kalah sama kita yang. Jumlah berpelukan kita lebih banyak daripada mereka."
"Iiiihhh, gemes ah." Fayya mencubit perut Kun.
"Bangun yuk. Mandi sarapan habis itu kita ke menara Tokyo."
"Nggak mau. Maunya disini saja sama suami."
"Masa nggak jalan-jalan?"
"Nggak, bersamamu adalah perjalanan terindah dalam hidupku yang. Anyway, terimakasih Kun sayang."
"Iya Fayya sayang. Karenamu, aku menjadi manusia seutuhnya."
"Hu'um."
Dan lagi adegan laga itu berlanjut. Season 2.

Mereka menikmati perjalanan menggunakan kereta api super cepat menuju taman Shiba. Dalam hati Kun berkata, ternyata manusia memang suka terburu-buru atas nama efisiensi waktu. Padahal kalau mereka mau dan tahu, mereka bisa lebih cepat dari kereta ini tanpa menggunakan sarana apapun. Alami. Natural. Hmmm....
"Sayang.." Fayya membuyarkan lamunan Kun.
"Eh, iya."
"Ngelamunin apa sih?"
"Nggak itu tadi lho. Ada buruk bagus banget yang lewat. Warnanya lucu. Kayaknya burungnya penggemar Reggae."
"Ah ngaco ah. Kereta secepat ini mana sempat melihat burung."
"Burungnya, penggemar Reggae. Burungnya menggemari Reggae atau burungnya si penggemar Reggae. Iya sih. Aneh sih."

Kereta berhenti mendadak. Sepertinya ada hal darurat. Semua penumpang saling pandang seolah berkata 'ada apa sih'. Tak ada informasi apa-apa. Tiba-tiba saja kereta berguncang keras. Blarrrr! Semua penumpang berteriak histeris. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ketakutan. Jerit tangis terdengar di setiap gerbong. 

"Tenang sayang." Kun memeluk erat Fayya. 
"Ada apa sih Kun?" Fayya datar.
"Woy. Yang lain panik kenapa wajah kamu innocent gitu? Takut dikit kenapa sih?"
"Bersamamu aku tak takut menghadapi apapun sayang."
"Halooo, bukan saatnya gombal-gombalan. Lihat itu orang-orang pada panik. Kita panik juga dong."
"Ah terlalu mainstream. Mengikuti suara terbanyak itu kurang asyik."
"Astaga. Kamu lebih aneh dariku Fayya. Yuk keluar yuk. Yang lain udah pada keluar tuh."
"Nggak mau. Ntar aja kalau udah lima detik sebelum kereta meledak kita baru keluar."
"Astaga. Sayaaang.. Ini kita lagi nggak main film. Ini beneran. Darurat sayang daruraaat..."
"Iya deh kita keluar aja." Fayya masih innocent. Kun garuk-garuk kepala.

Lalu keadaan sedikit tenang. Kemudian ia mencoba berbincang dengan orang Jepang. Dengan 'bahasa'.
"Iya. Saya pernah bertugas di Indonesia lama. Mengurusi distribusi perusahaan otomotif."
"Syukur. Karena saya tidak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Perancis."
"Sayang. Ini Jepang." Fayya memberi isyarat Kun, bahwa kebodohan adalah kunci kebodohan selanjutnya.
"Ngomong-ngomong tadi ada apa?"
"Ada monster yang ingin menguasai bumi."
"HAAAA??? MONSTER???" Kun dan Fayya kompak. 
"Oke sayang. Kita pulang. Dia tak lebih aneh daripada kita." Kun menarik tangan Fayya. 

"Sayang. Gimana kalau ternyata ada monster beneran di Jepang?"
"Astagaaa... di Indonesia ketemu siluman. Di Jepang ketemu monster. Kapan bisa tenang hidup ini."

Di kamar hotel, laptop Fayya berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk di sana.
Bapak: Nak, kalian kapan pulang? Sebaiknya secepatnya.
Fayya: Iya pak. Kalau bapak menghendaki kami pulang, kami akan pulang secepatnya.
Bapak: Disini lagi ada masalah kecil. Pamanmu kesurupan. Sudah tiga hari ini. Kadang ia berbicara dengan logat yang aneh. Seperti orang Jepang.
Kun: Bapak, tunggu saya pulang.

Segera setelah turun dari pesawat mereka meluncur menuju rumah Fayya. Di sana paman Fayya, sudah diikat dengan rantai besar.

"Mana! Mana Kun! Manaaa!!!" matanya beringas. "Mana! Mana Kun! Manaaa!!!"
"Aku di sini. Tenanglah. Kita bicara baik-baik."
"HAHAHA.. rupanya kamu sudah di sini. Sekarang lepaskan aku dan kita bertarung secara ksatria!"
"Bapak..." Kun memberi isyarat kepada mertuanya untuk melepas rantai yang mengikat pamannya.
"Jangan di sini. Di luar saja. Kita selesaikan berdua." Kun berjalan santai menuju halaman rumah. Si paman yang kesurupan segera mengejar Kun dan ingin menghantamnya dari belakang.

Suuuuuutttttt.... Kun menghentikan si paman dengan menujukkan rambu-rambu berlambang 'S'.

"Duduk." pinta Kun yang lebih dulu mengambil posisi bersila. Kemudian si paman duduk.
"Apa maumu?" Kun bertanya dengan tenang.
"Aku? Hahaha!!"
"Nggak usah tertawa gitu. Biasa saja. Itu memperburuk citramu."
"Sial! Aku mau menguasai tubuh ini."
"Serius?"
"Iya!"
"Kamu mau menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia lebih tepatnya manusia Indonesia?"
"Iiii.. yaaaa..."
"Siap hidup di negara yang seperti ini?"
"Iiii... yaaaa..."
"Siap dengan kondisi ekonomi yang seperti ini?"
"Tiiii.. iyaaa..."
"Kamu pikir enak apa menjadi manusia? Ha? Kamu harus berumah tangga, beranak pinak, mematuhi aturan dan etika. Enak apa? Kamu bodoh ya? Kehidupanmu itu jauh lebih baik. Jadi manusia itu sulit. Apalagi ini Indonesia. Kalau mau merasuki tubuh orang itu kira-kira. Nggak boleh asal. Perhitungkan dulu baik-baik kultur, politik, ekonomi, sosial, dan semua unsurnya secara matang. Ngawur! Lagian pamanku itu sudah punya anak istri. Jangan renggut kebahagiaan orang lain. Ngerti kamu! Percuma kamu hidup menjadi manusia yang itu bukan dirimu sendiri! Kamu harus bersusah payah meminjam tubuh orang lain. Belum lagi jika kamu melarikan diri dari sini kamu harus mengurus ijin ini itu dan membuat KTP baru. Dikira gampang apa ngurus birokrasi di sini! Ha! Ngerti?"
"Nger..."
"Ngerti nggak?!"
"E, iya iya.. nger ngerti ti."
"Sekarang keluar dari tubuh paman saya."
"Nggak mau."
"Ya terserah situ kalau nggak mau." Kun berdiri meninggalkan si Paman. Tapi kemudian tubuh si paman tergeletak. Kun segera menyadarkannya. Si paman sudah kembali. Keluarga ikut senang.

Di dalam kamar,
"Katanya sudah nggak mau memakai kekuatan itu lagi yang?"
"Nggak kok. Tadi cuma aku ajak bicara."
"Eh tapi tapi, siapa yang merasuki paman tadi."
"Mau tahu?"
"Hu'um." Fayya manggut-manggut manja.
"Beneran?"
"Hu'um." Fayya makin manja.
"Jangan kaget ya."
"Hu'uuummm sayangku.."
"Tadi itu, MONSTER JEPANG!!! HAAAAA....."

Dan adegan laga itupun terjadi lagi untuk kesekian kali. Selamat menempuh hidup baru Kun Fayya...






Share:

Minggu, 27 Oktober 2013

Ilmu Amuba Baroka Hasana

Kun melepas topi hitamnya dan menaruhnya di meja. Di meja itu pula sudah menunggu segelas air kembang. Raut mukanya linglung. Mbok Sum segera menghampirinya.
"Tahu goreng Kun." 
"Iya mbok. Makasih. Belum mau makan."
"Sedang puasa kamu?"
"Sepertinya sih iya."
"Ini kan Sabtu. Puasa apa kamu?"
"Puasa Tahu mbok. Nggak makan tahu dulu selama seminggu."
Plak!
"Ditanya beneran kok."
"Iya mbok puasa."
"Puasa apaan?! Terus yang minum es teh itu siapa?"
"Bukan aku mbok. Itu diriku yang lain."
"Dirimu yang lain?"
"Iya. Diriku yang lain." Kembali, Kun linglung. Senyap. Kantin mbok Sum membeku seketika. Tahu goreng itu berubah menjadi es krim tahu.

Di hari menjelang pernikahannya dengan Fayya, Kun seharusnya gembira. Layaknya manusia-manusia yang siap menyongsong suka cita kehidupan baru yang penuh cahaya. Tapi tidak dengan Kun. Ke-linglung-annya kali ini bukan hal yang main-main. Tiga hari lagi dia akan menikah. Di ritual suci itu tentu akan hadir beberapa keluarganya dari pertapaan Batu Payung. Termasuk Ibunda tercinta. Tapi ini lain. Di saat Kun harus menjalannya puasa 3 hari berturut-turutnya dalam rangka menyongsong prosesi sakral itu, Kun malah tidak puasa sama sekali. Kenapa kamu Kun. Kenapa.

Di tengah-tengah kebekuan yang melingkupi kantin Mbok Sum, Kun berucap lirih.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." Kun seperti sedang berbicara dengan seseorang tapi tidak ada siapapun di sana karena semuanya membeku. Membeku dalam arti sebenarnya.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." lagi. Kun mengulangi ucapannya, tapi dengan siapa Kun berbicara.

Kun menghela nafas panjang. Seperti ada penyesalan di wajah yang baru saja dicukur kumis dan jenggotnya itu. Tak ada cara lain. Kemudian Kun memanggil Kakenya yang sudah lama tidak pernah dihubunginya. Yang sudah lama menyapih Kun sejak Kun bisa menjalankan ilmu menghilangnya.

"Kakek, kesinilah. Cucumu ini sedang..." Kemudian segera muncul Kakek Kun berjaket tebal untuk mengantisipasi dingin yang diciptakan Kun.
"Kamu sendiri yang bisa menyelesaikan ini Kun. Tidak juga dengan Fayya." Singkat. Lalu Kakek Kun segera pergi.
"Kek....." Kun menggeleng-gelengkan kepala, tanda ia menyerah. Kenapa lagi kamu Kun.
"Baiklah. Kalau ini yang harus aku alami. Fayya, bapaknya Fayya, Ibunya Fayya, maaf aku harus pergi sekarang. Ke masa laluku."

Lalu, semua berlalu. Melaluli lalu lalangnya waktu, Kun kembali ke 29 hari sebelum semua itu.

"Sayang. Ini nanti kan bapak mau mengundang beberapa temannya yang ada di luar negeri sana, tapi masalahnya, bapak itu agak sedikit aneh.."
"Iya wajar, anaknya juga aneh."
"Kun! Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya Fayya ku sayang.."
"Masalahnya bapak nggak mau ngirim undangan via online. Bapak maunya ngirim undangan sekaligus ngirim bingkisannya langsung. Tapi tiket kesananya kan mahal dan kolega bapak itu nggak hanya berada di satu negara saja. Uhmmm, maksut Fayya, Kun mau kalau misalnya...."
"Mengantarkan undangan dan bingkisan itu langsung dalam waktu yang bersamaan?"
"Iya sayang. Gimana? Punya caranya kan."
"Ada sih gampang itu. Semua undangan yang khusus untuk disini juga aku bisa mengirimnya langsung dalam satu waktu."
"Oke deh sayang. Yuk kita tulisi undangan-undangan ini dulu. Eh Suprapto ini kurang gelarnya sayang. Nanti suka marah kalau gelarnya nggak disebut. Katanya nggak menghargai orang."
"Iya deh. Gelarnya panjang banget ya yang? Ini gelar apa kereta api sih? Hahaha.."
"Hahaha..."

Undangan-undangan itu semuanya berjumlah ribuan. Dan harus segera dikirim karena penentuan hari yang mendadak dari Fayya. Secara spontan Fayya meminta Kun menikahinya selambat-lambatnya sebulan dari selesaina telpon mereka hari itu. Kun dan Fayya menulis undangan secara manual, meskipun sebenarnya bisa dilakukan secara kilat dan hasilnya mengkilap. Tapi mereka ingin menikmati suasana yang menurut mereka butuh kejelian itu. Terutama untuk penulisan gelar beberapa tamu dari Indonesia. Seolah mereka tak bisa hidup tanpa gelar. Lalu dimana Tuhan? Sibukkah Ia mencari gelar? Demikian Kun berfikir. Tumben.

Malam. Kun duduk bersila. Matanya terpejam. Ia akan mencoba ilmu amuba. Membelah dirinya menjadi 99 bagian dalam semalam. Demi apa kalau bukan demi calon mertuanya tercinta. Turki, Pakistan, Rusia, Canada, Hiroshima, dan masih banyak kota dan negara di luar sana yang harus bisa Kun tembus tanpa memakai visa. Ilmu Amuba Baroka Hasana.

"Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Mecah telu dadi telu. Mecah limo dadi limo. Mecah pitu dadi pitu. Mecah songo dadi SongoSongo!!!!!"

Byaaarrr!!!! 

Keluar sembilan puluh sembilan macam jenis Kun dan segera melesat sesusai arah yang dituju. Dari 99 bagian itu tiap bagiannya masih memecah 99 lagi dan begitu seterusnya. Tiap bagian dari dirinya pergi membawa bingkisan dan undangan pernikahannya. Konyol bukan? Iya. Tapi ini harus dilakukannya.

Kun bisa kemana pun secara bersamaan. Undangan tersebar dari China hingga ujung Kutub Utara, ada. Padahal itu cuma temen facebook bapaknya Fayya. Siapa saja diundang, di add. Dikiranya semua orang perlu hadir di acara pernikahan anaknya. Tapi nggak mau menyebar undangan online. Iya, namanya juga demi calon mertua. 

"Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Soko songo dadi siji. Soko pitu dadi siji. Soko telu dadi siji. Seko siji bali siji!!!!!"

Sut sut sut sut sut sut sut sut sut!!!!

Bagian-bagian tubuh Kun satu persatu kembali ke tubuh Kun yang satu. Yang masih duduk bersila di kamarnya. Nafasnya tersengal. Kun ambruk seketika. Energinya benar-benar terkuras kali ini. Tidak, dia tak sampai pingsan. Hanya ingin merebah. Kemudian dia bangkit lagi dan bersila. Segelas es teh diteguknya. Matanya terpejam. Mulutnya seperti sedang menghitung sesuatu.

"Sembilan pulan enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan. Sembilan puluh delapan? Kenapa cuma sembilan puluh delapan? Terus yang satu kemana?" Kun mulai panik. Dihitungnya kembali jumlah dirinya yang sudah terkumpul. Masih sama. Tetap 98 yang berarti itu kurang 1. Kun memanggil-manggil dengan mantra-mantra dan semua kekuatannya. Tapi nihil tak ada jawaban selama hampir sebulan. Dan inilah yang menyebabkan kun gelisah hingga membekukan seisi Kantin Mbok Sum.

Kembali ke kantin mbok Sum yang membeku.
Pasrah. Sudah jelas Kun tak bisa berbuat apa-apa. Ini resiko yang belum pernah diperhitungakan sebelumnya. Dia tak tahu kalau ada bagian tertentu dari tubuhnya yang tak mau kembali. Itu artinya ada sesuatu yang hilang dari tubuh Kun, dan berpengaruh terhadap apa-apa yang di sekitarnya. Dia takut, kalau bagian yang hilang dan belum kembali itu adalah bagian dirinya, yang mencintai Fayya. 

Ponselnya berdering. Kun tersadar. Lalu seisi kantin kembali normal seperti semula. Cuma ada sedikit basah di sekitar ketiak mbok Sum.

"Kun, segera ke rumah ya. Sudah ditunggu bapak ibu makan siang. Jangan di kantin mbok Sum terus. Sayang nggak puasa kan?"
"Nggak. Aku segera kesana." jawaban Kun datar. D A T A R. Tanpa Rasa. Hambar.

Makan siang bersama keluarga Fayya dijalani dengan biasa saja. Hanya basa-basi formalitas saja. Seperti formalitas hidup menjadi manusia yang diberi kemampuan luar biasa tapi juga harus menghadapi resiko-resiko yang luar biasa sulitnya.

Selesai. Kun duduk di teras depan yang kemudian disusul Fayya.

"Tumben kamu nggak bantu ibu cuci piring yang?" Fayya bertanya.
"Nggak tahu. Lagi nggak mood." jawab Kun. Mood? Sejak kapan Kun mempertimbangkan mood dalam melakoni hidup? Bahkan baru kali ini Fayya mendengar kata itu keluar dari mulut calon suaminya. Fayya mengernyitkan dahi. Kun, masih biasa saja.
"Kamu kenapa yang?" tanya Fayya sambil memegang tangan Kun. Ada yang sedikit bergetar di tubuh Kun. Tapi Kun tak menjawab.
"Sayang, kamu tak apa kan?" Lagi suara lembut Fayya menggetarkan Kun. Dengan tiba-tiba Kun menyandarkan kepala di bahu Fayya.
"Sini sini. Sayang..." Fayya mengelus-elus kepala Kun. Dan langsung terbesit satu kata di kepala Kun, 'Ceritakanlah'.

Kun mengangkat kepalanya. Lalu mulutnya ngoceh bagai burung bercerita tentang yang telah terjadi pada dirinya. Termasuk ketakutan akan hilangnya bagian dari dirinya yang mencintai Fayya. Dan,

"Sayang, aku mencintaimu. Masih mencintai dan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu. Pun ketika cinta itu hilang dari dirimu, aku akan tetap mencintaimu." ucap Fayya membinarkan mata Kun yang sayu sebelumnya.

Ponsel Kun bergetar ada sms rupanya.
"Tenang saja aku segera pulang. Ini masih di Tokyo. Besok kamu ma Fayya bulan madu kesini aja. Udah aku pesenin tempat. Akomodasi beres. Dari Kun 'yang lain'."

Fayya tersenyum. Kun sendu.




Share:

Senin, 26 Agustus 2013

Bunga Sakti, Bunga Tini

Hari ini Kun sedang melakukan gladi bersih untuk upacara wisudanya besok. Iya, sebuah acara wisuda yang 'tanpa rasa' ini mau tidak mau harus dilakoni Kun. Untuk apalagi kalau bukan prasyarat penikahannya dengan gadis pujaan hatinya, Fayya.

"Akhirnya kamu lulus juga Kun."
"Iya pak Armando. Makasih bantuannya kemaren. Kalau bukan karena bapak, mana mungkin saya bisa menempuh ujian skripsi dan lulus seperti ini pak."
"Halah Kun, masih suka basa basi dengan bapak. Meskipun bapak sering memusuhi kamu, tapi sebenarnya bapak itu menaruh perhatian yang besar kepadamu Kun. Secara akademis kamu memang tidak diperhitungkan di kampus, tapi untuk urusan pengusiran makhluk jahat, pemindahan hujan, pengaturan kecepatan angin, pihak kampus harus berterima kasih kepadamu."
"Tapi pak, itu bukan pekerjaan sa...."
"Ah sudahlah. Jangan merendah terus gitu. Kami tahu itu Kun. Tahu sekali. Sudah, acara gladi bersih sudah dimulai tuh. Sana."
"Itu orang kenapa masih aneh aja sih. Dibilangin aku nggak pernah ngelakuin itu semua masih nggak percaya. Yang kemaren-kemaren itu kan memang kejadian wajar bin alamiah. Makhluk jahat, makhluk jahat apa. Seisi kampus ini kan baik-baik semua orangnya. Makanya aku betah. Hihihihi.. tapi ah biarin. Biar Armando, eh Pak Armando percaya juga nggak apa-apa. Yang penting aku lulus sekarang." batin Kun.

BB jadul Kun bergetar. Tertera tulisan 'Fayya' di ponsel yang katanya smartphone tapi hanya bisa buat bbm-an, sms-an, dan sesekali telfon itu.

"Maaf sayang, aku nggak bisa hadir di upacara wisudamu besok. Masih ada urusan...."
"Keluarga? Ponakan sunat?"
"Hiiiiih! Nggak usah nebak dulu kenapa sih!" 
"Iya iya. Maaf."
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang. Nggak bisa ngasih bunga ucapan selamat buat kamu besok."
"Nggak papa sayang. Udah tenang aja. Urusan keluarga lebih penting. Keluarga yang utama. Upacara wisuda juga paling kayak gitu-gitu aja. Ngebosenin. Paling aku besok ngilang. Muncul kalau pas dipanggil aja. Hihihi..."
"Heh! Sayangku nggak boleh gitu. Inget apa kata bapak kemaren. Dilarang keras menggunakan ilmu apapun! Inget nggak?!"
"Iya iya. Galak amat sih."
"Udah ya. Besok aku minta tolong sama si Isnu buat ngasih bunga ke kamu."
"Isnu?"
"Iya Isnu Isnu."
"Isnu yang jenggotnya bisa buat nyapu lantai itu?"
"Sayang nggak boleh gitu ah."
"Nggak mau! Isnu kan cowok! Masa aku nerima bunga dari cowok? Nggak nggak nggak! Mending aku nyari bunga sendiri di puncak Himalaya sana. Ih amit-amit. Cowok nerima bunga dari cowok. Nggak mau. Titik!"
"Beneran nggak mau?"
"Nggak. Sekali nggak mau tetep nggak mau."
"Berarti kamu nggak mau jadi su..."
"Oke aku mau."
"Nah gitu dong sayang. Anggap aja Isnu itu aku."
"Ih... amit a..."
"Nggak mau?"
"Mau mau mau sayaaaang...."

Yap dan dengan terpaksa sekali Kun harus berfoto dengan Isnu sebagai butki kalau dia telah menerima bunga dari Fayya. Beberapa foto menunjukkan mereka berdua saling rangkul dan menggenggam bunga bersama-sama. Sejak saat itu Kun harus mempertaruhkan harga dirinya. Yang jatuh merosot. Lebih merosot dari nilai tukar rupiah terhadap dollar.

"Hahaha.. mesra banget kalian Kun." Fayya ngakak tak terkira melihat foto-foto wisuda Kun.
"Puas? Seneng? Bahagia?" Kun jengkel.
"Sayaang. Jangan cemberut gitu ah. Dandanan udah keren gitu kok masih cemberut aja. Lagian fotonya kan masih bisa diedit sayang." Senyum Fayya menenangkan Kun.
"Sayang, makasih ya. Kadang aku masih nggak percaya bisa lulus juga."
"Iya. Sebenarnya sederhana aja sih sayang. Kamu kan bisa macem-macem ilmu yang manusia biasa nggak bisa, seharusnya kan kamu bisa dengan mudah lulus sayang."
"Yeee, ya nggak sesederhana itu sayang. Coba diulang lagi pernyataanmu."
"Yang mana?"
"Yang terakhir tadi."
"Oh, kamu kan bisa ilmu macem-macem yang manusia biasa nggak bisa..."
"Nah. Justru itu poinnya. Jadi sarjana kan manusia biasa banyak yang bisa sekarang. Yang nggak biasa itu kan kalau mereka berani hidup tanpa gelar sarjana. Jadi wajar kalau aku nggak lulus-lulus sayang."
"Kun, sayang, kamu itu cerdas tapi salah tempat. Nyebelin tahu nggak sih."
"Cie gantian cemberut cieee..."
"Habis, kamu diajak bicara serius malah ngomongnya kemana-mana."
"Iya iya maaf. Sebenarnya persoalan lulus atau nggak itu cuma masalah komunikasi kita aja sama pembimbing. Tahu kenapa aku milih pak Armando? Karena dia itu percaya banget sama aku. Selama bimbingan kemaren dia banyak cerita macem-macem tentang masalah keluarganya. Aku cuma jadi pendengar yang baik aja. Ngasih solusi juga nggak. Eh, dia nganggep semua masalah keluarganya selesai gara-gara aku kasih jampi-jampi. Nggak tahu cara berfikirnya kayak apa. Mungkin campuran spiral dan zig-zag. Hihihi.."
"Anyway sayang. Terlepas dari cerita-cerita konyol itu semua, selamat yah. Sekarang calon suamiku sudah jadi sarjana." Fayya mengecup kening Kun.
"Berarti sudah legal buka praktek?"
"Boleh sayang. Tapi cuma aku yang jadi pasienmu."

"Kuuuunnnn!!!" Gagak Rimang, Genderuwo, Pangeran Tokek, dan Serigala Botak muncul tiba-tiba dan membentuk paduan suara. Gagak Rimang suara 1. Genderuwo suara 2. Pangeran Tokek suara 3. Serigala Botak suara, anjing.
"Kalian lagi kalian lagi! Munculnya agak nanti aja kenapa sih. Gangguin adegan romantis aja. Ada apa?"
"Yeee, kita kan juga mau ngasih selamat Kun." Gagak Rimang membela diri.
"Iya Kun bener." Genderuwo mengamini.
"Iya Kun." Pangeran Tokek juga.
"You are our best friend Kun."
"Serigala Botak nggak usah sok-sok an pake bahasa Inggris kenapa sih." Kun risih. Tapi di dalam hati Kun bangga, sekaligus terharu.
"Ini Kun ada yang spesial dari kami." Gagak Rimang memberikan sekuntum bunga.
"Bunga apa itu?"
"Ini bunga sakti dari Pertapaan Batu Payung. Namanya Bunga Tini. Kepanjangan dari Bunga haTi nuraNi."
"Kenapa nggak dinamakan bunga Han...."
"Kun." Fayya memberi isyarat kepada Kun supaya diam.
"Ini bunga sakti. Tidak semua mampu mengambil bunga ini. Lebih tepatnya tidak semua orang dipertemukan dengan bunga ini. Meskipun pertapaan Batu Payung banyak menghasilkan orang-orang sakti, tapi tidak semua penduduk di sana berhasil ditemui oleh bunga Tini ini Kun."
"Terus, berarti Gagak Rimang yang berhasil ditemui oleh bunga Tini ini?"
"Bukan Kun. Uhmmm, ibumu yang ditemui Bunga Tini ini. Bunga ini titipan dari beliau."

Hening. Hening. Hening.

Fayya menyeka air mata Kun. Dia tahu, bahwa calon suaminya itu sangat merindukan ibunya di Pertapaan Batu Payung sana. Meskipun ibunya sudah merestui hubungannya dengan Fayya yang disampaikan melalui Gagak Rimang, namun tetap saja Kun masih ingin meminta restu secara langsung mencium kedua kaki ibunya.

"Sayang.." lagi-lagi senyum Fayya yang menenangkan Kun. "Anggap saja Bunga Tini ini, ibumu sayang. ibumu yang juga menjadi ibuku. Bunga Tini..."

Bunga Tini berubah menjadi kepulan asap dan seketika masuk melalui mulut Kun yang menganga secara otomatis. Tubuhnya bersinar. Matanya berbinar. Senyumnya berkibar. Laut dan langit bergetar. Kesaktian Kun, bertambah besar.... Tetapi masalahnya, bukan hanya kekuatan Kun yang bertambah besar. Perutnya juga.

Share: