Minggu, 27 Oktober 2013

Ilmu Amuba Baroka Hasana

Kun melepas topi hitamnya dan menaruhnya di meja. Di meja itu pula sudah menunggu segelas air kembang. Raut mukanya linglung. Mbok Sum segera menghampirinya.
"Tahu goreng Kun." 
"Iya mbok. Makasih. Belum mau makan."
"Sedang puasa kamu?"
"Sepertinya sih iya."
"Ini kan Sabtu. Puasa apa kamu?"
"Puasa Tahu mbok. Nggak makan tahu dulu selama seminggu."
Plak!
"Ditanya beneran kok."
"Iya mbok puasa."
"Puasa apaan?! Terus yang minum es teh itu siapa?"
"Bukan aku mbok. Itu diriku yang lain."
"Dirimu yang lain?"
"Iya. Diriku yang lain." Kembali, Kun linglung. Senyap. Kantin mbok Sum membeku seketika. Tahu goreng itu berubah menjadi es krim tahu.

Di hari menjelang pernikahannya dengan Fayya, Kun seharusnya gembira. Layaknya manusia-manusia yang siap menyongsong suka cita kehidupan baru yang penuh cahaya. Tapi tidak dengan Kun. Ke-linglung-annya kali ini bukan hal yang main-main. Tiga hari lagi dia akan menikah. Di ritual suci itu tentu akan hadir beberapa keluarganya dari pertapaan Batu Payung. Termasuk Ibunda tercinta. Tapi ini lain. Di saat Kun harus menjalannya puasa 3 hari berturut-turutnya dalam rangka menyongsong prosesi sakral itu, Kun malah tidak puasa sama sekali. Kenapa kamu Kun. Kenapa.

Di tengah-tengah kebekuan yang melingkupi kantin Mbok Sum, Kun berucap lirih.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." Kun seperti sedang berbicara dengan seseorang tapi tidak ada siapapun di sana karena semuanya membeku. Membeku dalam arti sebenarnya.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." lagi. Kun mengulangi ucapannya, tapi dengan siapa Kun berbicara.

Kun menghela nafas panjang. Seperti ada penyesalan di wajah yang baru saja dicukur kumis dan jenggotnya itu. Tak ada cara lain. Kemudian Kun memanggil Kakenya yang sudah lama tidak pernah dihubunginya. Yang sudah lama menyapih Kun sejak Kun bisa menjalankan ilmu menghilangnya.

"Kakek, kesinilah. Cucumu ini sedang..." Kemudian segera muncul Kakek Kun berjaket tebal untuk mengantisipasi dingin yang diciptakan Kun.
"Kamu sendiri yang bisa menyelesaikan ini Kun. Tidak juga dengan Fayya." Singkat. Lalu Kakek Kun segera pergi.
"Kek....." Kun menggeleng-gelengkan kepala, tanda ia menyerah. Kenapa lagi kamu Kun.
"Baiklah. Kalau ini yang harus aku alami. Fayya, bapaknya Fayya, Ibunya Fayya, maaf aku harus pergi sekarang. Ke masa laluku."

Lalu, semua berlalu. Melaluli lalu lalangnya waktu, Kun kembali ke 29 hari sebelum semua itu.

"Sayang. Ini nanti kan bapak mau mengundang beberapa temannya yang ada di luar negeri sana, tapi masalahnya, bapak itu agak sedikit aneh.."
"Iya wajar, anaknya juga aneh."
"Kun! Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya Fayya ku sayang.."
"Masalahnya bapak nggak mau ngirim undangan via online. Bapak maunya ngirim undangan sekaligus ngirim bingkisannya langsung. Tapi tiket kesananya kan mahal dan kolega bapak itu nggak hanya berada di satu negara saja. Uhmmm, maksut Fayya, Kun mau kalau misalnya...."
"Mengantarkan undangan dan bingkisan itu langsung dalam waktu yang bersamaan?"
"Iya sayang. Gimana? Punya caranya kan."
"Ada sih gampang itu. Semua undangan yang khusus untuk disini juga aku bisa mengirimnya langsung dalam satu waktu."
"Oke deh sayang. Yuk kita tulisi undangan-undangan ini dulu. Eh Suprapto ini kurang gelarnya sayang. Nanti suka marah kalau gelarnya nggak disebut. Katanya nggak menghargai orang."
"Iya deh. Gelarnya panjang banget ya yang? Ini gelar apa kereta api sih? Hahaha.."
"Hahaha..."

Undangan-undangan itu semuanya berjumlah ribuan. Dan harus segera dikirim karena penentuan hari yang mendadak dari Fayya. Secara spontan Fayya meminta Kun menikahinya selambat-lambatnya sebulan dari selesaina telpon mereka hari itu. Kun dan Fayya menulis undangan secara manual, meskipun sebenarnya bisa dilakukan secara kilat dan hasilnya mengkilap. Tapi mereka ingin menikmati suasana yang menurut mereka butuh kejelian itu. Terutama untuk penulisan gelar beberapa tamu dari Indonesia. Seolah mereka tak bisa hidup tanpa gelar. Lalu dimana Tuhan? Sibukkah Ia mencari gelar? Demikian Kun berfikir. Tumben.

Malam. Kun duduk bersila. Matanya terpejam. Ia akan mencoba ilmu amuba. Membelah dirinya menjadi 99 bagian dalam semalam. Demi apa kalau bukan demi calon mertuanya tercinta. Turki, Pakistan, Rusia, Canada, Hiroshima, dan masih banyak kota dan negara di luar sana yang harus bisa Kun tembus tanpa memakai visa. Ilmu Amuba Baroka Hasana.

"Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Mecah telu dadi telu. Mecah limo dadi limo. Mecah pitu dadi pitu. Mecah songo dadi SongoSongo!!!!!"

Byaaarrr!!!! 

Keluar sembilan puluh sembilan macam jenis Kun dan segera melesat sesusai arah yang dituju. Dari 99 bagian itu tiap bagiannya masih memecah 99 lagi dan begitu seterusnya. Tiap bagian dari dirinya pergi membawa bingkisan dan undangan pernikahannya. Konyol bukan? Iya. Tapi ini harus dilakukannya.

Kun bisa kemana pun secara bersamaan. Undangan tersebar dari China hingga ujung Kutub Utara, ada. Padahal itu cuma temen facebook bapaknya Fayya. Siapa saja diundang, di add. Dikiranya semua orang perlu hadir di acara pernikahan anaknya. Tapi nggak mau menyebar undangan online. Iya, namanya juga demi calon mertua. 

"Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Soko songo dadi siji. Soko pitu dadi siji. Soko telu dadi siji. Seko siji bali siji!!!!!"

Sut sut sut sut sut sut sut sut sut!!!!

Bagian-bagian tubuh Kun satu persatu kembali ke tubuh Kun yang satu. Yang masih duduk bersila di kamarnya. Nafasnya tersengal. Kun ambruk seketika. Energinya benar-benar terkuras kali ini. Tidak, dia tak sampai pingsan. Hanya ingin merebah. Kemudian dia bangkit lagi dan bersila. Segelas es teh diteguknya. Matanya terpejam. Mulutnya seperti sedang menghitung sesuatu.

"Sembilan pulan enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan. Sembilan puluh delapan? Kenapa cuma sembilan puluh delapan? Terus yang satu kemana?" Kun mulai panik. Dihitungnya kembali jumlah dirinya yang sudah terkumpul. Masih sama. Tetap 98 yang berarti itu kurang 1. Kun memanggil-manggil dengan mantra-mantra dan semua kekuatannya. Tapi nihil tak ada jawaban selama hampir sebulan. Dan inilah yang menyebabkan kun gelisah hingga membekukan seisi Kantin Mbok Sum.

Kembali ke kantin mbok Sum yang membeku.
Pasrah. Sudah jelas Kun tak bisa berbuat apa-apa. Ini resiko yang belum pernah diperhitungakan sebelumnya. Dia tak tahu kalau ada bagian tertentu dari tubuhnya yang tak mau kembali. Itu artinya ada sesuatu yang hilang dari tubuh Kun, dan berpengaruh terhadap apa-apa yang di sekitarnya. Dia takut, kalau bagian yang hilang dan belum kembali itu adalah bagian dirinya, yang mencintai Fayya. 

Ponselnya berdering. Kun tersadar. Lalu seisi kantin kembali normal seperti semula. Cuma ada sedikit basah di sekitar ketiak mbok Sum.

"Kun, segera ke rumah ya. Sudah ditunggu bapak ibu makan siang. Jangan di kantin mbok Sum terus. Sayang nggak puasa kan?"
"Nggak. Aku segera kesana." jawaban Kun datar. D A T A R. Tanpa Rasa. Hambar.

Makan siang bersama keluarga Fayya dijalani dengan biasa saja. Hanya basa-basi formalitas saja. Seperti formalitas hidup menjadi manusia yang diberi kemampuan luar biasa tapi juga harus menghadapi resiko-resiko yang luar biasa sulitnya.

Selesai. Kun duduk di teras depan yang kemudian disusul Fayya.

"Tumben kamu nggak bantu ibu cuci piring yang?" Fayya bertanya.
"Nggak tahu. Lagi nggak mood." jawab Kun. Mood? Sejak kapan Kun mempertimbangkan mood dalam melakoni hidup? Bahkan baru kali ini Fayya mendengar kata itu keluar dari mulut calon suaminya. Fayya mengernyitkan dahi. Kun, masih biasa saja.
"Kamu kenapa yang?" tanya Fayya sambil memegang tangan Kun. Ada yang sedikit bergetar di tubuh Kun. Tapi Kun tak menjawab.
"Sayang, kamu tak apa kan?" Lagi suara lembut Fayya menggetarkan Kun. Dengan tiba-tiba Kun menyandarkan kepala di bahu Fayya.
"Sini sini. Sayang..." Fayya mengelus-elus kepala Kun. Dan langsung terbesit satu kata di kepala Kun, 'Ceritakanlah'.

Kun mengangkat kepalanya. Lalu mulutnya ngoceh bagai burung bercerita tentang yang telah terjadi pada dirinya. Termasuk ketakutan akan hilangnya bagian dari dirinya yang mencintai Fayya. Dan,

"Sayang, aku mencintaimu. Masih mencintai dan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu. Pun ketika cinta itu hilang dari dirimu, aku akan tetap mencintaimu." ucap Fayya membinarkan mata Kun yang sayu sebelumnya.

Ponsel Kun bergetar ada sms rupanya.
"Tenang saja aku segera pulang. Ini masih di Tokyo. Besok kamu ma Fayya bulan madu kesini aja. Udah aku pesenin tempat. Akomodasi beres. Dari Kun 'yang lain'."

Fayya tersenyum. Kun sendu.




Share:

0 komentar:

Posting Komentar