Selasa, 09 Februari 2016

#Kun VS Fayya

Kun baru saja selesai membersihkan pekarangan rumah karena rumput-rumput sudah mulai meninggi. Rumput-rumput itu nanti akan direbus oleh Fayya. Air hasil rebusan itu nanti akan dijadikan minuman. Bukan. Bukan untuk Kun. Melainkan untuk sapi tetangga. Minuman herbal. Ini adalah resep yang ditemukan Fayya. Alasannya simpel. Supaya sapinya tidak bosen dengan menu rumput organik mentah seperti itu. Meskipun kadnag Fayya usil juga, sengaja menyampurkan air rumput itu ke minuman Kun. Alasannya juga simpel. Supaya Kun tidak bosen, dengan sapi.

"Sayang... sarapan siap!"
"Iya sayang. Perutku juga udah siap. Aku mau beres-beres dulu bentar."

Setelah beberes, Kun melenggang menuju rumah. Baru tiga langkah, seseorang memanggilnya.

"Mas!"

Kun tidak segera menoleh karena memang jarang ada yang memanggilnya 'mas'.

"Mas!"

Baru 'mas' yang kedua Kun menoleh menuju sumber suara.

"Mas!"
"Iya?"
"Lupa sama aku?"
"Kam.. muuu.."
"Aku mantanmu!"

Deg.

Mantan? Di episode sebelumnya, setelah Kun kembali ke masa lalu, tidak ada satu pun mantan yang dia miliki. Ini kenapa tiba-tiba ada perempuan dengan wajah yang memiliki postur tubuh dengan Fayya, mengaku mantan Kun.

Kun melihat ke pintu belakang rumah. Memastikan Fayya tidak mendengar suara perempuan yang mengaku mantan Kun itu. Kun menghampiri si perempuan yang berdiri di luar pagar dengan senyum manisnya.

"Siapa kamu? Ngaku." Kun membuka percakapan tanpa basa basi.
"Aku mantanmu Kun."
"Siapa yang mengirimmu?"
"Kun! Jangan pura-pura deh!"
"Tidak. Aku tak mengenalmu. Siapa kamu?"
"Kun... aku man.. tan.. muuu...." suara perempuan itu tercekat.
"Tak mungkin. Aku tidak pernah behubungan dengan perempuan selain Fayya."
"Kamu memang sakti Kun. Tapi sepertinya kamu lupa. Setiap ilmu yang kamu miliki meningkat levelnya, ada efek yang kamu tidak mengerti."
"Efek?"
"Salah satunya, sebagian memori di otakmu terkikis perlahan."
"Tidak. Kamu mengarang cerita."

"Sayaaaang... sarapan sudah siiii...." kepala Fayya menyembul dari pintu belakang. Sontak Fayya kaget. Dia mematung.

"Siapa itu?!" teriak Fayya.

Tak ada jawaban dari Kun atau perempuan itu.

"Bukannya arisannya diundur? Kenapa iurannya diminta sekarang?!"

Masih tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.

"Uang sampah juga sudah aku bayar." Fayya masih tak mengerti.

Dan masih juga tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.

Fayya mulai penasaran dengan apa yang terjadi antara Kun dan perempuan itu. Lalu dia menyusul ke depan, dengan menenteng wajan jumbo di tangan kanannya dalam posisi 'siap hantam'.

"Dia..."
"Aku mantan Kun." perempuan itu mengulurkan tangan kepada Fayya.
"Man.... tan...?" tanya Fayya.
"Iya. Perkenalkan, aku Nira. Mantan Kun di Batu Payung."

Deg.

Nira? Siapa dia? Batin Fayya. Kalau untuk urusan makhluk astral yang aneh-aneh bentuk dan namanya, Fayya sudah bisa terima. Karena dia paham bahwa Kun memang makhluk multi dimensi. Tapi lain dengan perempuan bernama Nira ini. Dia, berwujud manusia, dan sepenuhnya manusia. Dan sialnya, cantik. Lebih cantik dari Fayya.

"Ini pasti Mbak Fayya ya? Istrinya Mas Kun ya?"

Untuk adegan berikutnya Kun tidak banyak bergerak.

"Iya. Aku istrinya. Ada perlu apa ke sini?". Fayya dingin.
"Nggak ada hal penting sih. Aku kangen aja sama Mas Kun."
"Itu saja?"
"Sama ini. Aku mau mengembalikan cincin matahari yang diberikan Kun dulu kepadaku."
"Cincin matahari? Tidak. Hanya aku satu-satunya si pemilik syah cincin matahari. Tidak mungkin. Siapa kamu sebenarnya?"
"Mbak Fayya, aku Nira mantan Kun."

Kun masih tak bergerak. Kakinya mengakar ke tanah. Dalam arti sebenarnya.

"Ini." Nira melepas cincin yang sama dengan yang dipakai Fayya dari jari manisnya."

Fayya menerima cincin itu.

"Sudah, Nira pamit dulu. Mari Mbak Fayya. Mas Kun, jaga kesehatan. Jangan lupa makan."

Perempuan bernama Nira itu berlalu.

Prang!

Fayya memukul kepala Kun dengan wajan jumbo.
Kun.
Biasa saja.

"Heh! Dasar lelaki pembohong! Kamu bukan dukun sakti! Kamu dukun cabul! Kamu dukun cabul! Dukun cabul!"

Fayya memukul Kun berkali-kali, tapi Kun masih biasa saja.

Fayya berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamar. Dari luar lamat-lamat terdengar isak tangis Fayya. Kun perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia sudah ingin meninju perempuan bernama Nira yang mengaku-ngaku sebagai mantannya tadi. Kemudian menyusul Fayya.

"Sayang..." Kun mengetuk pintu kamar dari luar.
"Pergi!" balas Fayya.
"Sayang... aku bisa jelaskan semuanya."
"Nggak perlu!"

Cincin matahari yang diberikan Nira mengeluarkan sinar berwarna putih kemilau. Tangan Fayya gemetar menggenggamnya. Kemudian cincin matahari yang dipakai Fayya juga mengeluarkan sinar berwarna kuning keemasan. Dua cincin tersebut terbang dan mengambang di udara untuk beberapa waktu. Suara gemuruh terdengar dari luar kamar. Getaran mirip gempa juga terasa sampai ke halaman rumah.

"Fayya!" Kun panik.
"Kamu kenapa!" Kun berteriak dan membuka paksa pintu kamar.

Fayya terkejut. Di hadapannya sudah berdiri Fayya yang menyala-nyala.

Kun mendekat, tapi segera saja Fayya menghempaskan tubuh Kun hanya dengan sekali sentuh. Kun terpelanting. Fayya mengejarnya. Fayya memegang kepala Kun dan meninju wajah Kun sampai ke angkasa luar.

Fayya melesat menyusul Kun dan menghajar Kun bertubi-tubi tanpa Kun bisa melawan. Tubuh Kun sudah tidak karuan bentuknya. Bibirnya sudah penuh darah.

"Ayo! Lawan aku!" tantang Fayya.
"Tidak. Aku tak akan pernah menyakitimu!"
"Dasar tukang bohong!"

Blum!

Fayya menghantam perut Kun. Lagi-lagi Kun terpelanting kembali ke bumi. Fayya menyusulnya dan langsung melayangkan tendangan super ampuh ke tubuh Kun yang terseungkur di pinggir sungai.

"Ayo! Lawan aku!"
"Fayya.. tiii daaakk mungkiiin... aku berbohong kepadamuuu... dan kamu juga harus tahu. Bahwa hal tersulit kedua di dalam hidup ini setelah mengalahkan diri sendiri adalah bertempur melawan orang yang sangat kita cintai. Aku tidak pernah punya mantan Fayya."

Fayya diam. Dua cincin matahari yang telah menyatu dan melekat di jari manisnya meredup sinarnya.

"Kamu percaya kan sama suamimu?"

Fayya masih diam.

"Fayya..."

"Kun, aku percaya kamu. Tapi, siapa Nira?"

.................

Di belahan bumi yang lain, seorang perempuan sedang tertawa dengan sangat keras sekali. Dia merasa menang karena sudah berhasil membuat keluarga orang tersakti di jagad ini kocar-kacir. Misinya berhasil. Strategi yang digunakan sangat sempurna. Penyamarannya sebagai seorang 'mantan' membuat Kun kehilangan sebagian semangat hidupnya. Namun ada hal yang tidak disadari oleh perempuan itu. Dia tidak tahu kalau Fayya menjadi sangat sakti karena kekuatan dua cincin matahari yang menyatu.

"Hei perempuan sialan!"

Perempuan itu kaget melihat Fayya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.

"Rasakan ini!"

Blum!

..............

Share:

Kamis, 27 Agustus 2015

#Malam Jumat Klimis

Pagi ini Kun bersemangat sekali untuk berangkat mengajar. Matahari sepertinya tahu apa yang dirasa Kun hingga turut menyumbangkan sinarnya yang cerah ceria. Sarapan sudah tersedia di meja. Fayya tetap dengan kondisi khasnya 'bangun pagi tanpa make up'.
"Cantiiikknyooo.. istri siapa sih.."
"Tiranosaurus!"
"Idiiihh galak amir neng. Sarapan hari ini apa neng?"
"Oseng-oseng kulit landak."
"Hehehe.. pagi-pagi kok cemberut."
"Tau ah. Gara-gara kamu."
"Lhooo.. kok gara-gara aku?"
"Iya! Semuwaaah ini gara-gara kamuh! Kamuh! Kamuh! Kamuuuhh!"
"Kamu salah minum jamu kayaknya."
"Nggak!"
"Kamu minum jamu galian singset apa galian sewot sih?"
"Aku nggak minum jamu bego!"
"Kamu minum 'jamu bego'? Pantesan aja."
"Nggak. Pokoknya ini gara-gara kamu!"
"Emang aku kenapa?"
"Semalam kamu bobo duluan dan baru bangun tadi pagi! Tau artinya apa?!"
"Fayya turun deh. Marahnya nggak perlu sampe naik meja gitu deh. Turun turun cantik. Yuk sini sini."
"Habis kamu gitu sih."
"Iya iya. Aku yang salah. Itu piring letakin dulu jangan digigit-gigit gitu."
"Hhhh sebel! Kamu lupa semalam malam apa?"
"Malam jumat."
"Tau apa artinya malam Jumat bagi pasangan suami-istri?"
"Tau."
"Apa?"
"Bobo."
"Hhhh.. kamu nggak peka! Dukun apaan nggak peka gitu!"
"Emang bobo kan?"
"Malam Jumat itu kan jatahnya kita..."
"Astaga.. jatah kita nge-date kan?"
"Telat."
"Maaf-maaf sayang. Ma'aaaafff banget ya. Kayaknya aku sudah mulai terbiasa sama jadwal manusia yang suka nge-date di malam minggu. Ma'aaaaf banget."
"Makanya.."
"Iya iya. Maaf yaaa.."
"Ya udah besok-besok jangan diulangi lagi. Diinget-inget. Kalau perlu dicatet. Apa dibikin kaos sekalian gitu."
"He'em. Masak apa yang?"
"Ini telur dadar kesukaanmu sama tempe goreng dilumat."
"Dilumat? Dipenyet kali yang."
"Nggak. Dilumat namanya. Aku lumat pake hak sepatu."
"Kamu lama-lama menjijikan yang."
"Becanda yang. Mau gantian ngambek?"
"Nggak ah. Capek ngambek terus."
"Eh gimana kasus Pak Armando kemarin? Udah beres."
"Udah. Rumahnya udah bersih. Udah nggak ada yang ganggu."
"Terus yang nunggu gimana?"
"Udah aku suruh pulang. Tempatnya nggak disitu kok."
"Emang dimana?"
"Taipe."
"Udah aku berangkat dulu ya. Tempe telur lumat kamu lezat."
..............

Kun sedang beristirahat di kantor. Hari ini cukup menyita banyak energi dan emosi. Ada anak yang jatuh akibat main dorong-dorongan dengan temannya. Akibatnya kepala si anak sedikit memar. Anehnya dia tidak menangis sedikitpun. Dan yang tak kalah aneh adalah jawaban  yang keluar dari mulut si anak ketika ditanya oleh Kun.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak pak. Anak yang lahirnya malam Jumat pasti kuat."
"Kamu harus disegera diobati. Benturan di kepalamu mempengaruhi kinerja otakmu nak. Hadeehh.."

Di kantor Kun melakukan kontak dengan Pak Armando. Pak Armando bercerita bahwa rumahnya sudah benar-benar aman dan dia bermaksud memberikan imbalan kepada Kun atas jasanya itu.
"Nggak usah pak. Mending disumbangkan kemana gitu. Duit dua puluh lima juta itu nggak sedikit lho pak." Kun menolak secara halus.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau akan saya sumbangkan ke yayasan temen saya yang baru diresmikan pada malam Jumat lalu. Katanya kalau malam Jumat itu membawa keberuntungan."
Kun menutup percakapan itu dengan penuh tanda tanya. Malam Jumat? Why?
............

Seminggu berlalu dan sampailah pada malam Jumat berikutnya. Sedari jam 5 sore Fayya sibuk berdandan. Meskipun mereka berdua sudah cukup lama menikah, namun momen nge-date ini tak boleh dijalani dengan srampangan dan asal-asalan. Harus spesial.
Pun begitu dengan Kun. Dia juga harus tampil fresh dan prima. Seperti tak mau kalah dan seolah ingin mengimbangi Fayya, Kun sudah berdandan dari jam enam belas lebih lima puluh lima menit. Artinya Kun berdandan lima menit lebih dulu dari Fayya. Sori, dikira aku nggak bisa dandan apa. Begitu batin Kun.
Tepat pukul dua puluh nol nol mereka keluar dari kamar yang berbeda. Fayya keluar dahulu. Disusul Kun kemudian. Fayya terlihat begitu eksotis dan Kun terlihat begitu fantastis. Fayya tampak anggun dan Kun tampak elegan. Fayya tampak samping, Kun tampak miring.
Mereka bertemu dan berpelukan lama. Malam Jumat ini tak boleh dilewatkan begitu saja.
"Sayang.. kemana kitahh.." Fayya mendesah pertanda bahwa lautan cinta siap tertumpah.
"Kitaaah akan menyebrangi tujuh samuderaaahh sayaaang.. samudera kenikmatan.."
"Baik sayang. Semua kuserahkan padamuuuhhh.."

Lalu Kun menggendong Fayya ke kamar. Fayya bengong.
"Sayang! Katanya mau nge-date?! Kok ke kamar sih?"
"Ssstt.. ini malam Jumat sayang. Malam Jumat Kli.."
"Malam Jumat Kliwon?"
"Bukan sayang. Ini malam Jumat Klimis. Malam Jumat khusus buatmu maniiiisss.."

Klik!
Lampu kamar dimatikan, dan Fayya sudah tidur (mendengkur) duluan karena seharian capek berdandan. Kun? Nggak usah kalian pikirkan. Baru tersiksa dia sekarang.

Share:

Senin, 10 Agustus 2015

#Kun Anta(Riksa)

Sebentar lagi sekolah dimana Kun dan Genderuwo menjalankan misi akan melakukan proses akreditasi. Ini yang membuat Kun selalu tidak mengerti kelakuan dan polah tingkah manusia. Satuan pendidikan yang biasa menilai anak didiknya kini harus rela dinilai lagi oleh, pihak lain. Sang Assesor, begitu mereka menyebutnya. Dalam beberapa waktu saja Kun dan Genderuwo harus segera menyelesaikan administrasi sekolah dan yayasan.

"Pusing Gen. Pusing."
"Udah Kun. Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan. Manusia memang ribet."
"Tumben kamu ngomong gitu. Biasanya belain manusia?"
"Di tahap dan di saat tertentu iya. Tapi untuk persoalan yang beginian ini sudah melampaui batas."
"Gini aja Gen. Habis proses akreditasi ini, gimana kalau kita liburan? Gagak Rimang, Serigala Botak, sama Pangeran Tokek diajak sekalian gimana?"
"Emang mau liburan kemana Kun?"
"Kemana aja pokoknya asal nggak di bumi. Bosen. Ke wilayah Anta Riksa aja Gen. Katanya ada tempat pemandian 'air awet muda'."
"Bolehlah Kun. Tapi itu kita bahas nanti. Yang jelas persoalan akreditasi ini kita selesaikan dulu. Itu standart tiga udah kan?"
"Udah. Aku udah sampai standart tiga puluh lima."
"Ha?! Kan cuma sampai delapan?"
"Lho? Lha ini apaan?"
"Mana coba lihat?"
"Nih."
"Astagaaa... bener Mbok Sum. Kamu nggak hanya tambah sakti. Tapi tambah bodo juga. Baca lagi apa judulnya Kun."
"Standart Penilaian Akreditasi Sekolah Dukun. Iya ya. Standart dukun kan beda sama manusia biasa ya?"

Di sebuah tempat di wilayah Anta Riksa....
Terjadi perang yang sangat dahsyat untuk memperebutkan pemandian awet muda. Berbagai jenis makhluk dari dimensi yang berbeda saling serang untuk menguasai pemandian tersebut. Hanya kelompok dari manusia yang belum ada. Korban sudah berjatuhan. Masalah semakin besar. Dan makhluk-makhluk itu menuduh manusia sebagai dalang di balik peristiwa ini. Menurut mereka, manusialah yang mengadu domba mereka untuk berperang dan saling serang. Supaya saling bunuh dan ketika mereka semua mati, habis, manusialah yang akan menjadi penguasa pemandian air awet muda itu. Padahal tempat itu adalah tempat umum bagi semua makhluk dari segala dimensi.

Segera kabar itu tersiar sampai ke telinga Kun. Segera pula ia menghubungi Genderuwo, Gagak Rimang, dan Pangeran Tokek.

"Bahaya kalau mereka sampai menyerang ke bumi. Bisa habis manusia." Kun memimpin rapat.
"Bukannya manusia suka berperang Kun?" Genderuwo berpendapat.
"Iya mereka suka perang, tapi sebenernya lebih suka perang-perangan. Ada ide nggak?" Kun merespon balik.
"Apa Kun? Perang-perangan?" Serigala Botak heran.
"Penjelasannya nanti. Sekarang gini. Bumi ini kan terdiri delapan penjuru mata angin, nah jumlah kita kan empat, jadi satu personil menjaga dua penjuru mata angin. Ngerti?"
"Bukannya lebih enak kita pakai ilmu membelah diri Kun. Kan kita bisa jadi lebih dari satu?" Pangeran Tokek, cerdas.
"Resikonya besar. Kita mudah low bat Kek. Masalahnya kita belum tahu berapa yang datang ke bumi." Lalu Kun terdiam. Hening untuk beberapa saat. Masing-masing berpikir bagaimana menjaga bumi ini.

"Kenapa kita tiba-tiba peduli dengan bumi ya? Padahal kalau kita mau kita tinggal pergi saja dari bumi ini." Genderuwo memecah kesunyian. Pangeran Tokek dan Serigala Botak seperti mengamini.
"Itu tandanya, kalau kita punya kepedulian yang besar dan sayang terhadap manusia. Meski mereka suka perang, sejatinya kalau boleh memilih lebih baik tidak usah ada peperangan. Mungkin kita berempat ini yang ditugasi menjaga bumi. HEH! Diajak dialog malah tidur! Ayo berangkat!"

Kun sudah berpamitan kepada Fayya. Dramatis. Penuh derai air mata. Penuh haru. Seperti ini.
"Fayya sayang aku harus menjaga bumi."
"Pulangnya jangan malam-malam."
"Hadeh. Nangis kek apa gimana gitu pokoknya yang dramatis."
"Ini udah keluar air matanya." Jawab Fayya sambil mengupas bawang merah.
"Oalah."
"Ini namanya bawang merah."
"Udah tahu!"
"Inget ya. Bawang merah. Bukan barang mewah."
"Iya!"
"Apa coba?"
"Bawang merah!"
"Apa?"
"Bawang merah!"
"Coba dicepetin ngomongnya."
"Bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah barang mewah!"
"Ahahaha..." Fayya tertawa meski dalam hati sebenarnya dia merasa cemas luar biasa.

Makhluk-makhluk dari berbagai dimensi mulai memasuki bumi. Kun menjadi penjaga gerbang utama. Dia yang akan menghadapi para utusan mereka.
Nafasnya diatur sedemikian rupa. Ketenangan batin dan hatinya ditata. Kekuatan dikumpulkan menjadi satu titik prinsip. Jangan sampai ada korban.

Lima makhluk menghampiri Kun. Mereka tanpa basa basi langsung memberi hormat kepada Kun.
"Kun. Selama masih ada makhluk seperti anda di bumi ini, kami, tidak akan pernah mau berurusan dengan bumi. Kami percaya pelaku yang mengadu domba kami bukan berasal dari bumi."
"Terima kasih tuan-tuan semua. Terima kasih atas kepercayaannya yang telah diberikan kepada saya." Kun menitihkan air mata yang kemudian diikuti oleh utusan-utusan itu. Air mata itu keluar karena keadaan yang memilukan.
"Baiklah kami undur diri dulu. Salam untuk ketiga temanmu."

Makhluk itu pergi. Kun berhasil mengelabuhi mereka dengan air mata buatan hasil remesan bawang merah yang ditempelkan Fayya di wajah Kun sebelum berangkat tadi dengan rapal mantra,
"Bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah bawang merah barang mewah!"

Dan Kun melanglang buana ke Anta Riksa dengan kartu khusus bertuliskan 'Kun Anta (Riksa)'.


Share:

Jumat, 07 Agustus 2015

#Mantan-Mantan

Kun duduk di ruang tamu. Fayya sudah tidur. Malam ini Kun ingin menyelesaikan tugasnya yang terbengkalai. Sesekali terdengar suara dengkuran Fayya. Cukup keras sebenarnya. Namun Kun merahasiakan hal ini. Setiap ditanya oleh Fayya, jawaban Kun selalu sama.

"Kamu bakat jadi penyanyi. Suaramu cukup merdu bahkan di saat kamu tertidur."

Padahal aslinya seperti suara mesin diesel.

Kebetulan karena laptop Kun lagi rusak dia meminjam laptop Fayya. Laptop yang sama yang dipakai Fayya ketika masih kuliah dulu. Kun menekan tombol power. Dia tersenyum melihat proses loading. Aneh. Kenapa harus ada loading. Batin Kun.

Ketika Kun mau mulai mengetik hatinya berdesir. Seperti ada aroma romansa masa lalu menyeruak. Masa-masa ketika menjadi penghuni tetap kantin Mbok Sum hingga saat dia harus berkali-kali menyelamatkan Fayya dari gangguan gelombang-gelombang jahat. Masa lalu punya caranya sendiri untuk menyeret kita bersama arus derasnya. Peristiwa demi peristiwa muncul di kepala Kun. Dasar dia dukun usil, Kun menggunakan kekuatannya untuk menampilkan peristiwa-peristiwa itu di dinding ruang tamu. Alhasil dia seolah sedang melihat film tentang masa lalunya.

Lucu, seru, sedih, tegang, dan yang jelas mengasyikkan. Rupanya tak semua orang seberuntung dia. Lahir dengan kemampuan yang sedemikian rupa. Ingin terbang cukup menghentakkan kaki saja. Ingin berpindah tempat dengan sekejap cukup dengan berucap. Kun bersyukur. Meski dia tahu, tanggung jawab yang diembannya semakin besar.

Rasa penasaran Kun muncul ketika melihat ada satu folder bertuliskan 'rahasia'. Rahasia? Apa yang dirahasiakan Fayya? Sejak kapan Fayya suka menyimpan rahasia? Kun semakin penasaran. Dibukalah folder itu. Klik. Dan muncul foto-foto Fayya bersama dengan cowok lain. Ada kurang lebih lima cowok berbeda. Meski tidak ada yang berpose mesra namun setidaknya foto-foto itu menjelaskan bahwa cowok-cowok itu ada hubungan dengan Fayya. Lho, bukannya Fayya bilang bahwa hanya Kun kekasihnya selama ini?

Kepala Kun panas. Jantungnya berdetak lebih kencang. Seperti dikejar DC karena hutang. Kun mencoba menenangkan diri tapi selalu gagal. Dia merasa dikhianati oleh perempuan yang kini menjadi istrinya itu. Semakin menatap foto-foto itu, semakin ia terbakar oleh cemburu. Kedua tangannya mulai mengeluarkan asap. Bunga-bunga api mulai bermunculan di kelopak mata Kun. Bahaya. Siaga satu. Karena tak ingin menyakiti siapapun, Kun akhirnya memutuskan untuk kembali ke masa lalu.

"Jika Fayya punya mantan, baiklah. Aku akan kembali ke masa lalu untuk menemui mantanku. Hiyaaaaatttt...."

Wuuuusaahhhhh...

Tubuh Kun melesat melewati dimensi waktu. Dan tibalah ia di masa itu. Masa ketika dia masih menjadi penghuni tetap kantin Mbok Sum.

Sedikit penjelasan. Jika di film-film jika ada tokoh kembali ke masa lalu, dia akan bertemu dengan dirinya yang lain ketika muda. Namun Kun tidak begitu. Ketika dia kembali ke masa lalu, tetap hanya ada satu Kun, yang masih muda. Paham?

Kun menemui Mbok Sum.
"Mbok Suuuummm...."
"Eh Kuuunn.... apa kabar? Kamu dari masa depan ya?"
"Lha? Kok Mbok Sum tahu?"
"Itu bajumu ada tulisannya. Baru saja dari tahun 2015."
"Sial. Ilmu macam apa ini. Nggak keren sama sekali. Nggak seru."
"Udahlah Kun. Mbok Sum pura-pura nggak tahu aja ya. Biar kamu kelihatan sakti. Mbok nggak bakal bilang-bilang kok. Ya? Nggak usah sedih."
"Apaan sih Mbok. Terserah Mbok Sum ah. Yang jelas kedatanganku ke sini mau menemui mantan-mantan ku. Es teh Mbok."
"Mantan?"
"Iya."
"Memang punya?"

Mendengar pertanyaan Mbok Sum Kun menjadi bingung. Clingak-clinguk. Mantan? Iya ya. Memang dia punya mantan?

"Heh! Ditanyain malah bengong?"
"Eh, iya Mbok."
"Emang kamu punya mantan? Makhluk astral dari mana?"
"Bentar Mbok aku cek dulu."
"Hadeh. Dari dulu kamu nggak berubah. Sakti tapi bodonya minta ampun. Kamu cek lagi sana. Mbok Sum mau nggoreng tahu dulu."

Lalu Kun mengulangi lagi. Kembali ke masa lalu berkali-kali. Sampai Mbok Sum bosen harus mengulang-ulang adegan menggoreng tahu. Hasilnya sama saja. Kun tidak menemukan mantannya. Setelah pengulangan yang ke-99 Kun akhirnya menyerah. Dia menemui Mbok Sum lagi. Adegannya sama. Mbok Sum tahu kalau Kun dari masa depan.

"Nihil Mbok. Nggak ada."
"Dibilangin juga. Kamu itu nggak pernah punya mantan. Yang mau sama makhluk aneh kayak kamu itu ya cuma Fayya. Kamu lagi ada masalah sama Fayya?"
"Mmmm..."
"He?""
"Iya mbok. Ada."
"Apa? Sini cerita sama Mbok. Siapa tau mbok bisa bantu."
"Es teh dulu Mbok."
"Heh dukun bego! Lihat belakangmu! Itu gara-gara kamu berulang kali kembali ke masa lalu dan mengulang adegan yang sama! Es teh 98 gelas itu siapa yang minum nanti!"
"Iya Mbok maap maap. Galaknya."
"Ayo cerita."

Lalu Kun menceritakan peristiwa penemuan folder rahasia milik Fayya itu.

"Kun, setiap orang punya masa lalu. Sekarang kamu tinggal milih. Mau tetap percaya kepada Fayya atau kamu pergi darinya." Mbok Sum bijak padahal nggak pernah bayar pajak.
"Aku.."
"Sekarang kamu kembali ke tahun 2015. Sekarang juga kamu kembali. Bicara yang baik sama istrimu. Atau kamu bisa menyimpan kejadian ini dan tidak usah menceritakannya kepada Fayya."
"Iya Mbok. Makasih Mbok. Aku pam..."
"Eitss... habiskan dulu es tehnya!"
"Astagaaaa..."

Dengan perut penuh es teh Kun kembali ke masa kini. Di ruang tamu. Menghadap laptop Fayya. Menimbang sesuatu. Dan...

"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Fayya yang baru saja keluar dari kamar.
"Belum."
"Nggak capek?"
"Nggak."
"Apa mau makan lagi?"
"Kenyang."
"Kamu kenapa sih yang?" Fayya paham kalau jawaban yang keluar dari mulut Kun singkat, itu tandanya dia sedang tidak enak hati.

Kun tak berkata apa-apa. Dia beranjak dari ruang tamu menuju kamar tidur. Fayya melihat laptop yang masih menyala. Fayya ingin mematikan laptop itu. Namun ketika dia mendapati folder 'rahasia' terpampang di layar, dia mulai paham apa yang telah terjadi dengan Kun. Fayya membuka folder itu berniat untuk menghapus semua file di dalamnya. Dan apa yang terjadi?

Fayya melihat semua foto cowok yang berpose bersamanya berubah menjadi foto Kun. Fayya tersenyum. Suaminya memang aneh. Kemudian Fayya menghampiri Kun di kamar.

"Kalau aku nggak punya mantan, kamu juga nggak boleh punya mantan."
"Iya sayang. Tapi aku kecewa."
"Kenapa?"
"Editan fotomu jelek."
"Hapus ajaaaaa......"
"Hahaha...."
"Setiap orang punya masa lalu. Memang tak bisa dirubah. Tapi masih bisa diedit. Sedikit. Orang cuma foto aja."
Share:

Kamis, 06 Agustus 2015

#Kembalinya Si Dukun

Kun meletakkan berkas-berkas penilaian untuk anak didiknya. Pusing kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa manusia melakukan pekerjaan rumit seperti ini. Demi apa?

"Gimana Kun? Selesai?" Genderuwo yang masih dalam penyamaran sebagai kepala sekolah menghampirinya.
"Pertanyaanku satu Gen." 
"Apa?"
"Kamu kok kuat menyamar menjadi kepala sekolah? Bukannya pekerjaan kepala sekolah sangat rumit?"
"Kamu masih meragukan kemampuan kami Kun? Menyamar jadi juru supit aja kami mampu kok."
"Perbandingan yang aneh. Juru supit kok dibandingkan dengan kepala sekolah."
"Kun. Menjadi juru supit adalah uji kelayakan ilmu kami yang paling akhir. Kalau kami berhasil melakukan supit dengan selamat, maka kami lulus. Urusannya masa depan Kun. Salah potong kan bisa runyam?"
"Iya sih Gen. Kamu benar."
"Eh tapi kamu nggak sakit kan?"
"Nggak Gen. Sedikit lelah aja mungkin."
"Butuh istirahat? Mau ambil cuti sekalian?"
"Nggak ah. Kalau aku ambil cuti Fayya pasti marah-marah. Kalau aku ingin menjadi manusia seutuhnya, aku harus mampu dan mau menanggalkan seluruh kemampuanku Gen. Kemaren aku cek kadar kesaktianku sudah mulai menurun. Hampir 70%. Itu artinya sedikit lagi, aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Aku nggak mau keturunanku sama anehnya dengan diriku Gen."
"Oh. Sekarang aku ngerti. Kenapa janin yang ada di perut Fayya menghilang secara misterius kemaren. Mungkin menunggumu menjadi manusia seutuhnya, baru dia lahir Kun."
"Mungkin Gen. Peristiwa kemaren itu membawa perubahan besar di dalam diriku. Ketika rasa kehilangan itu muncul, seketika itu juga aku merasa hampir menjadi manusia. Kecewa bahasa sederhananya Gen."
"Nggak apa-apa Kun. Gini Kun, soal gelombang aneh di belakang sekolah ini gimana?"
"Aku nggak up date Gen. Terlalu disibukkan dengan administrasi sekolah ini. Di sisi lain, aku bersyukur. Bersyukur bisa mulai merasakan apa yang dialami manusia. Sudah jarang terbang. Hampir nggak pernah menggunakan ilmu ngilang lagi."
"Kun, kamu serius ingin jadi manusia seutuhnya."
"Ku rasa iya Gen. Sudah memantapkan hati."
"Ya sudah Kun. Mungkin persoalan gelombang aneh di belakang sekolah ini biar aku yang hendel. Kamu pulang aja. Fayya masih butuh perhatian dan kasih sayangmu."

Kun pulang. Matanya berkunang-kunang. Jadi manusia saja belum utuh, gimana mau jadi bapak? Pikirnya.

Bel pintu rumah berbunyi. Pintu rumah terbuka. Fayya masih seperti dulu, cantik dan cerdas. Fayya mencium punggung tangan Kun. Kun mencium kening Fayya.

"Aku masak makanan kesukaanmu sayang."
"Apa yang?"
"Sambal udang basi."
"Hmmm... nyam nyam..."
"Jangaaaann ngiler di pundakkuuuu!!"
"Maap maap maap sayang."
"Yaaah baru juga dicuci."
"Iya maap. Nanti aku cuci deh. Makan yuk."

Setelah makan mereka berdua melanjutkan adegan di dalam kamar. Selalu seperti itu. Sebelum tidur, baik siang maupun malam Kun dan Fayya mengambil waktu barang sejenak untuk saling bertukar cerita. Mungkin yang mereka bicarakan soal masa depan. Namun tak jarang pula mereka memetakan masa lalu. Khususnya peristiwa itu. Peristiwa yang membatalkan Kun menjadi seorang bapak.

"Kita coba lagi ya sayang." Fayya meyakinkan Kun.
Kun mengangguk. Lalu dia tidur. Baru beberapa menit terdengar teriakan tetangga minta tolong. Teriakan yang membuat Kun dan Fayya terbangun dan bergegas keluar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. 

"Kenapa mbak?" Ku bertanya kepada pemilik teriakan tadi.
"Itu mas Kun. Tolong itu! Tolong!" Mbak itu menunjuk ke arah langit.
Kun terkejut. Dia melihat awan hitam berputar-putar tepat di atas rumah si Mbak.
"Nggak apa-apa Mbak. Itu angin biasa." Kun coba menangkan dan menganggap hal itu biasa saja. Tapi ada yang berkecamuk di hatinya. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Kun menatap ke arah Fayya. Fayya menggeleng. Kun terus menatap Fayya. Fayya tetap menggeleng. Awan hitam itu berputar semakin cepat. Si Mbak berteriak semakin keras. Tetangga sudah mulai membuka pintu rumah masing-masing dan hampir keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum Fayya akhirnya menganggukkan kepala.

Bagi Kun itu adalah pertanda ada ijin dari Fayya untuk membereskan awan hitam itu. Dengan segera ditepuklah pundak si Mbak yang tentu saja langsung pingsan tak sadarkan diri. Kemudian Kun menjejakkan kaki ke tanah 3,5 kali lalu melesatlah dia ke gumpalan awan hitam itu.

"Gini aja deh! Langsung tunjukkan siapa dirimu! Daripada ku hanguskan kamu!" Seperti biasa tanpa basa basi Kun memberikan peringatan.
"Kamu tidak berubah."
"Heh! Siapa kamu! Jangan sok tahu soal aku!"
"Sok tahu? Gimana aku tidak tahu siapa kamu? Kamu yang menyelamatkan aku waktu itu."
"Ha?" Kun tercengang.
"Inget sama badai yang kamu halau hingga kamu masuk angin?"
"Badai? Masuk angin?"
"Hajatan."
"Astagaaa... itu kalian?"
"Iyaaaa Kuuuunnn...."
"Kalian ngapain ke sini? Jangan bilang kangen sama aku ya."
"Nggak Kun. Kami kaget aja. Kami dapat kabar dari Gagak Rimang katanya sebentar lagi kamu jadi manusia. Bener seperti itu?"
"Iya."
"Kalau iya. Kami bakal kehilanganmu. Cuma kamu yang bisa menjadi penghubung antara dunia kami dan dunia manusia. Kamu yang sering mengingatkan kami untuk tak semerta-merta tunduk begitu saja kepada perintah manusia. Apalagi kalau tujuannya menggunakan jasa kami adalah untuk menyakiti manusia yang lain. Kalau kamu pensiun dini, siapa yamg mengurus gelombang-gelombang seperti kami Kun?"

Kun terdiam sejenak. Lalu,
"Tidak. Tidak bisa. Aku tetap pada pendirianku. Aku harus merelakan kemampuanku. Semuanya."
"Baiklah Kun. Kami tidak bisa memaksamu. Kami pamit. Salam kepada tuan putri mu, Fayya."
"Oke."

Gumpalan awan hitam itu pergi. Hilang. Berganti awan-awan yang putih cerah merangsang. Kun lalu turun ke bumi menemui Fayya yang sedang mengipasi si Mbak.

"Gimana yang?"
"Nggak apa-apa."

Kun memegang pundak si Mbak. Yang kemudian tersadar.

"Ha? Dimana aku? Aku kenapa?"
"Tadi Mbak lagi jalan di depan rumah kami lalu mbak tertabrak kucing yang membawa ikan curian lalu mbak pingsan." Jawab Fayya. Kun tersenyum. Istrinya semakin dewasa dan pandai mengarang cerita. 

Kemudian setelah si mbak sehat Kun dan Fayya masuk ke rumah. Namun kekita hendak membuka pintu Kun terjatuh. Dahinya mengeluarkan cahaya. Fayya melihat itu dan segera menyeret Kun ke sofa supaya tetangga tidak curiga. Dahi Kun bercahaya selama 33 menit. Karena Fayya tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengambil wajan jumbo untuk berjaga-jaga kalau-kalau Kun berubah menjadi monster jahat.

Begitu siuman, kata pertama yang diucapkan Kun adalah, 
"Sial!"
"Kenapa yang?"
"Tadi indikator kekuatanku menunjukkan penurunan."
"Bagus dong yang kalau gitu."
"Maksudku kadar kemanusiaanku turun."
"Gara-gara kamu terbang ya?"
"Bukan. Bukan itu. Gara aku mau menolong tetangga kita dan mendapat persetujuanmu."
"Ohhh.... jadi kamu mau bilang ini semua gara-gara aku?! Aku yang salah?"
"Bukan yang. Bukan begitu maksudku. Maksudku.... yang jangan pukul aku pakai iiiitttt...."

PLAK!

Wajan jumbo mendarat lagi ke kepala Kun setelah empat tahun. Dan sebenarnya inilah aktivasi terdahsyat kekuatan Kun. Dipukul wajan jumbo oleh Fayya. Aktivasi dari orang yang dicinta. Selamat datang kembali, dan tetaplah jadi dirimu yang sesungguhnya Kun. Begitu ucap awan hitam tadi. Sedangkan di sekolah si Genderuwo tersenyum merasakan kembalinya kekuatan Kun, yang kali ini lebih berlipat dari biasanya. Tiga puluh tiga kali lipat.

Karena jumlah pukulan wajan jumbo Fayya tiga puluh tiga kali juga. Mau jadi manusia seutuhnya kok susahnya minta ampun. Batin Kun sambil menahan sakit.
Share:

Rabu, 23 April 2014

Guru Indonesia #2

"Sayaaaang..... bangun. Udah jam berapa ini? Katanya masuk jam setengah tujuh." Fayya berbisik lembut.
"Jam berapa sayang?" Kun berucap lirih sambil mengelap ilernya.
"Jam setengah lima sayang." Fayya mengusap rambut Kun yang semalam baru saja dipotong.
"Baru juga jam setengah lima sayang. Bobo lagi ah."
"Eeeh. Jangan gitu dong sayang. Kalau Gurunya telat bagaimana muridnya? Ayo bangun sayang."
"Uhmmm, tapi ada syaratnya."
"Apa sayang syaratnya? Hmm?"
"Cium kening dulu."
"Iya. Sini sini sayang. Muuuaaahhh...."
"Makasih sayang. Bobo lagi ya."

THUWANG!

"Aduh! Sakit sayang!"
"He? Mau dipukul lagi pakai wajan jumbo? He? Bangun nggak! Bangun!"
"Iya iya. Bangun nih."
"Disayang sayang kok masih nggak ngerti juga. Bangun! Air kembangnya udah siap dari tadi! Keburu dingin ntar rasanya kayak pipis kuda!"
"Iya iya. Galak banget sih sekarang. Dulu aja nggak pernah mukul. Sekarang mukul beneran. Sakit nih."
"Sakit sayang? Aduh maaf deh. Sini coba lihat. Ups... Maaf sayang. Tadi maunya bercanda. Taunya kena beneran maaf ya."

Begitulah. Hari pertama Kun mengajar diwarnai dengan adegan yang masuk kategori 'deleted scene'. Cukup brutal. Apalagi jika dikonsumsi para pengantin baru yang ingin membina keluarga harmonis. Tidak layak ditiru memang. Namun, seperti itulah kemesraan yang terjadi antara Kun dan Fayya. Romantisme wajan jumbo.

Kun sudah selesai mandi. Tampilannya cukup menawan. Fayya menjadi penata gaya bagi Kun. Setelah Kun memberi kabar bahwa dirinya diterima menjadi guru di sebuah sekolah di bawah naungan yayasan yang cukup perlente Fayya bergegas mencari referensi fashion guru masa kini. Dari yang casual hingga yang modis tapi terksesan disembunyikan. Misalnya. Paduan celana bahan halus model skinny dan sepatu pantofel mengkilap bagi guru laki-laki. Iya, percuma juga sih kalau Fayya mencari referensi fashion guru perempuan. Kalau fashion istri para guru, dia sudah menguasai.

Untuk Kun, Fayya sudah menyiapkan kostum yang paling pas untuk dipadupadankan dengan tubuh Kun yang tinggi semampai, berkulit kuning bangsat, bertangan panjang, dan berkaki lebar. Memang hanya Fayya satu-satunya perempuan yang sudah paham lekuk tubuh Kun.

"Ini untuk hari Senin. Ini hari Selasa. Ini Rabu. Ini Kamis."
"Stop. Khusus untuk hari Kamis aku tidak mau menyalahi aturan leluhurku di Batu Payung. Untuk hari Kamis aku harus pakai kostum hitam-hitam."
"Sayaaaang.... Nanti yang diajar kan murid SD. Masih anak-anak sayang. Anak-anak itu sukanya warna-warna cerah."
"Itu salah satu kesalahan pendidikan kita. Siapa bilang hitam itu menakutkan? Siapa bilang anak-anak tidak suka hitam? Anak-anak itu bukan badut. Yang didandani warna-warni seperti crayon berjalan. Sudah aku pakai hitam-hitam aja."
"Hmmm... gini aja sayang." Kemudian Fayya membisiki Kun.
"Hmmm... cerdas kamu sayang. Istri siapa sih ini?" Kun memuji dengan nada kesal.
"Istrinya Pak Guru." Fayya tersenyum.

Tahu apa yang dibisikkan Fayya kepada Kun? Seperti ini.

"Kalau begitu yang hitam-hitam dalemannya aja sayang."

Dengan rasa yang serba aneh dan mengganjal, Kun berangkat menuju sekolah. Batinnya agak sedikit tersiksa. Menghadapi makhluk dari alam apapun dia sanggup. Tapi anak kecil? Bisa apa dia dihadapan anak kelas 2 SD? Sedangkan masa kecil Kun sendiri sudah dipenuhi dengan hal-hal seperti, terbang, menghilang, memindahkan benda tanpa memegangnya, dan beberapa ketrampilan yang sebenarnya tidak pantas untuk dimiliki oleh anak seusianya. Iya. Kun memang terlahir spesial. Karena itu juga, Fayya sayang kepadanya.

"Perkenalkan anak-anak nama saya, Pak Dewa. Siapa anak-anak?"
"Pak Dewaaaaaaaaa...."

Harus. Demi kepentingan misi penyelamatan ini Kun harus mengganti namanya menjadi Dewa. Pak Dewa begitu Genderuwo memilihkan nama tanpa pertimbangan filosofis dan maknawi apapun. Asal aja. Dewa. Pak Dewa.

"Mulai hari ini dan seterusnya Pak Dewa akan menemani kalian belajar sambil bermain."
"Bermain pak?" tanya anak lelaki yang masih terbuka resleting celananya.
"Iya bermain." jawab Kun ramah. Padahal dalam hati dia mencaci maki Genderuwo. Genderuwo kurang kerjaan! Begitu batinnya.
"Asyiiikkkk!!! Teman-teman kita tidak akan belajar tapi bermain-main sama Pak Dewa!"
"Asyiiiiikkk!!!" Jawab paduan suara cempreng anak-anak itu.
"Pak Dewa Pak Dewa..."
"Iya, ada apa?"
"Pak Dewa aku punya pertanyaan buat Pak Dewa."
"Pertanyaan? Tapi sebelum itu perkenalkan siapa nama kamu?"
"Namaku Ucup Pak."
"Ucup? Yusuf kali?"
"Nggak pak Ucup."
"Nama lengkapnya?"
"Ucup Mesranianto Pak."
"Astaga, itu Kecup kali Cup! Kecup Mesra Nian. Karena kamu laki-laki ditambah akhiran -to."
"Bukan Pak! Ucup! Bukan Kecup!"
"Iya iya. Suka-suka bapak ibumu lah."
"Bukan Pak. Yang memberi nama ini bukan bapak ibu. Tapi kakek."
"Oooo kakek."
"Ho'oh pak. Kakek saya dukun."
"Astaga... pantesan aneh gitu ya? Dimana-mana dukun memang aneh Cup."
"Pertanyaanya sekarang Pak."
"Oh iya. Apa pertanyaannya Cup?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Iya Pak. Apa?"
"Uhmmm, apa ya Cup. Pertanyaan yang sulit Cup. Anak-anak ada yang tahuuuuuu?"
"Tidaaaaaakkkk!!!!"
"Ayo pak. Apa Pak?"
"Bentar Cup. Beri waktu bapak berfikir Cup."
"Ucup hitung sampai lima ya Pak. Satu.... Dua.... Tigaaaaa.... Empaaaaaatt... dan Liiiiimmmm...."
"Nyerah Cup. Pak Dewa nggak tahu."
"Yes! Binatang yang tidak memiliki ekor adalah Kita!"
"Astagaaaaa... Genderuwo sialan. Ini sekolah macam apaaaaa.....!!!!"

Saat istirahat di ruang kepala sekolah,

"Kamu gila ya Gen. Anak-anak di sini aneh-aneh semua! Lebih baik aku menyamar jadi tukang kebun aja daripada jadi guru."
"Hehehe... Tapi asyik kan Kun?"
"Asyik apanya. Kirain cuma satu anak yang aneh. Nggak tahunya semua. Masa mereka baru mau belajar kalau aku menyanyi sambil menari dulu. Dan mereka maunya aku melakukan itu setiap pagi sebelum pelajaran dimulai lho."
"Hahaha, kelas 2 itu memang agak spesial Kun. Makanya aku minta kamu yang pegang. Kamu kan pawang. Pakai dong energi pawangmu."
"Heh! Asal kamu tau ya Gen. Fayya melarangku untuk menggunakan kekuatan apapun selama aku di sini. Apalagi ilmu tinggi sekelas ilmu pawang itu."
"Takut sama istri?"
"Bilang seperti itu lagi ku kembalikan kamu ke alam asalmu selamanya lho!"
"Nggak Kun. Bercanda bercanda."
"Tapi, ada baiknya juga sih Gen aku berinteraksi dengan anak-anak. Belajar kalau punya anak besok." senyum Kun mengembang.
"Cieeee... emang udah berapa bulan Fayya."
"Nggak tahu. Aku nggak ngitung. Kalau saatnya lahir juga akan lahir sendiri."
"Pengen cowok apa cewek?"
"Apa aja lah Gen. Yang penting nggak kayak bapaknya?"
"Lha? Emang anak siapa kalau nggak mirip kamu."
"Maksudnya biar hatinya kelak selembut ibunya. Galak galak gitu istriku ngangenin Gen."
"Tahu lah perjalanan cinta kalian kayak apa."
"Gen, aku ijin pulang dulu ya."
"Ngapain pulang."
"Kangen Fayya Gen."
"Ijin pulang karena kangen istri Kun? Tidak! Sekolah ini baru aja memenangkan lomba disiplin tingkat nasional. Dengan kata lain, sekolah ini sangat menjunjung tinggi asas kedisiplinan semua kalangan. Baik guru maupun murid. Ijin pulang karena kangen? Cuih...."
"Nggak boleh?"
"Boleh deh boleh. Matamu udah memerah gitu. Bentar lagi keluar apinya deh. Daripada aku jadi Genderuwo bakar. Iya deh silakan pulang deh. Ati-ati di jalan deh. Aku kasih uang saku sekalian deh."

Kun pulang pagi. Dia sudah tidak kuat menahan rindu. Namun dia tidak pernah lupa akan misinya. Membongkar gelombang aneh di sudut belakang sekolah bersama Genderuwo.

"Sayaaang aku pulaaaang...."
"Lhooo sayang kok udah pulang? Bukannya kemarin katanya sampai jam dua. Ini kenapa jam sepuluh udah pulang. Kamu sakit sayang?"
"Nggak. Aku kangen sama kamu."
"Hmmm.. sini peluk dulu sayang..."
"Iya sayang."
"Sayang..." Fayya berbisik.
"Hu'um?"
"Kamu pilih aku pukul pakai wajan jumbo lagi apa balik ke sekolah sekarang juga?"
"Astagaaaa...."

Kun kembali ke sekolah dengan pikiran, "Kalau begini caranya kapan proses pembuahan di siang hari akan terjadi....."


Share:

Senin, 14 April 2014

Guru Indonesia

Antrian panjang. Bau keringat menyeruak dimana-mana. Hampir semua mata menyipit. Panas. Beberapa ada yang mencoba menyejukkan tubuhnya dengan menggunakan jari jemarinya. Semacam, kipas darurat meski mereka tahu efek yang ditimbulkan tidak seberapa.
"Nanti, kalau ikut antrian para pelamar, nggak boleh curang. Sayangku harus ikut audisi senatural mungkin." begitu pesan Fayya kepada Kun.

Boleh ditebak, Kun memang sedang ikut dalam audisi GURU INDONESIA. Sebenarnya ini merupakan pantangan besar. Bisa saja menimbulkan efek samping yang kurang baik bagi kesehatan Kun. Namun, karena kondisi sosial, dia harus menjadi manusia normal. Manusia biasa. Atau lebih tepatnya, manusia. Nggak pakai normal nggak pakai biasa. Manusia.

"Uhmmm, cuma itu syaratnya sayang?"
"Iya. Pokoknya kamu nggak boleh pakai kekuatan apapun. Kamu harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau yang lain kepanasan, kamu juga harus mau kepanasan. Jangan lantas mengeluarkan jurus Masuk Angin mu."
"Yeeee, emang namanya jurus masuk angin?"
"Fayya sendiri yang ngarang itu."
"Doakan aku sayang."

Keringat mulai membasahi baju Kun. Satu orang di depannya mencoba menawarkan minum. Kun tahu orang itu tidak berniat jahat kepada Kun tapi Kun tetap menolak. Dia sengaja berpuasa untuk menguji seberapa kuat dirinya berdiri lama, dengan kondisi menyengat dan, bau.

"Audisi aneh. Dimana-mana yang ada orang meminta diangkat menjadi murid. Ini malah mencalonkan diri menjadi guru. Minta diangkat lagi. Emang karung beras minta diangkat." perempuan di belakang Kun mengomel sendiri. Kun membalikkan badan dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas, ini audisi teraneh sepanjang sejarah kehidupan saya mas. Setahu saya di film-film silat itu yang ada hanya orang-orang yang minta diangkat menjadi murid. Bukan minta menjadi guru kayak audisi ini." perempuan itu sewot. Kun mencoba jernih.
"Maaf mbak, tapi ini kan bukan film silat. Ini kan dunia nyata."
"Dunia nyata apanya mas? Ini tuh lebih aneh dari film kartun!"
"Terus kenapa mbak ada di sini?"
"Terpaksa mas. Supaya ijazah saya berguna."
"Ijazah apa mbak?"
"Aduh dimana ijazah saya!?" perempuan itu lantas keluar dari antrian dengan wajah panik.

Kun memejamkan mata. Dia mencoba memindai sebenarnya seperti apa isi kepala orang-orang yang ikut mencalonkan diri menjadi guru ini. Kun mendapatkan berbagai macam jawaban. Dia senyum-senyum sendiri. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia ini. Batin Kun. Namun Kun menangkap sinyal aneh. Kun mendapati sebuah gelombang yang tak dikenal. Tempatnya tepat di belakang gedung audisi berlangsung. Kun terus mendeteksi. Baginya, ini gelombang baru. Apa ini? Atau tepatnya siapa ini? Kun semakin penasaran. Gelombang tak dikenal itu memenuhi kepala Kun hingga Kun hampir terjatuh. Kun mencoba membiarkan untuk sementara waktu gelombang tak dikenal itu. Dia ingin fokus kepada pesan Fayya.

Setelah menunggu, akhirnya nama Kun dipanggil. Dia sudah duduk di hadapan penguji.
"Nama?"
"Kun."
"Nama lengkap?"
"Kun."
"Nama panggilan?"
"Kun."
"Nama sayang?"
"Kun."
"Tempat tanggal lahir?"
"Batu Payung 11-11-11."
"Tahun 1911?"
"Bukan. Tahun 11."
"Oh. Hobi?"
"Terbang."
"Ketrampilan?"
"Menghilang."
"Kegiatan selama ini?"
"Jualan jagung bakar."
"Ada warung?"
"Ada."
"Dimana?"
"Di dalam piramida."
"Baik tunggu sebentar."

Jawaban yang normal menurut Kun. Dia mengemban amanah dari istrinya, Fayya. Bahwa, katakanlah dengan jujur meskipun itu pahit.

"Saudara Kun. Silakan ke dalam. Pimpinan yayasan ingin bertemu langsung."

Begitu Kun masuk ruangan,

"Kuuuunnnnn!!!"
"Aduh. Sial! Kostum kamu jelek Genderuwo!"
"Hahahaha... sini peluk dulu sahabatkuuuu!"
"Aaakkkk... pelan-pelan woy!"
"Iyaaa maaf.. terlalu seneng aku. Lama kita tak bersua kawan! Hahahaha.."
"Satu pertanyaanku. NGAPAIN KAMU DI SINI!"
"Hahaha.... nggak kok. Ini tugas dari kaumku."
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mengurusi yayasan ini."
"Nggak. Aku nggak paham. Kamu, makhluk dari alam lain, disuruh mengurusi yayasan milik manusia?"
"Ceritanya begini. Pemilik yayasan ini orang yang baik. Sangat baik sekali. Orangnya jujur, ramah, tegas, adil, bersahaja, berwibawa, tidak gampang mengeluh, tidak gampang cengeng..."
"Oke. Stop. Itu kamu bukan tim sukses kan?"
"Hahaha.. nggak lah Kun. Kami, makhluk Genderuwo, mengendus, bahkan mendapatkan data kalau pimpinan yayasan di sini sedang dalam keadaan bahaya. Kami tidak tega Kun. Lantas kepala suku kami menemui pimpinan yayasan ini dan menawarkan operasi penyelamatan."
"Jadi maksudmu sekarang pimpinan yayasan yang asli sekarang ada di.."
"Yap. Dia aman di wilayah kami. Kami mengambilnya kemarin. Sekarang aku yang menjadi dirinya untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman. Lupa kalau kami ini, kaum Genderuwo ahli dalam bidang penculikan dan spionase? Masih ingat dengan cerita tiba-tiba ada anak menghilang dan orang-orang menganggap diambil oleh Genderuwo kan?"
"Iya tau. Cerita basi itu. Bahkan kalian juga menyunat. Dasar ahli medis salah sasaran kalian."
"Hahaha... begitulah Kun."
"Berarti audisi Guru Indonesia ini pasti juga ulahmu kan?"
"Hahaha.. iyaaa.."
"Dasar makhluk aneh."
"Jujur Kun. Aku memang sengaja membuat acara seperti ini untuk memancing kedatanganmu. Kalau aku ke rumahmu langsung, pasti istrimu akan marah-marah. Kamu kan disuruh berperilaku normal. Nggak boleh main lagi sama kita-kita ini."
"Ya bukan begitu Gen. Ada baiknya juga istriku berbuat seperti itu. Bosen tiap harus ketemu sama makhluk aneh kayak kamu!"
"Terserah kamu lah Kun. Hahahaha.. yang jelas aku butuh bantuanmu saat ini untuk menyelamatkan yayasan ini Kun. Atau lebih tepatnya menyelamatkan sekolah ini. Dari...."
"Dari apa?"
"Dari...."
"Dari apa Gen!"
"Dariiiiii...."
"Gen!"
"Dari sesuatu di belakang gedung ini."
"Astaga.. pantas saja aku menangkap gelombang yang aneh."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kun?"
"Gen. Ini akan butuh waktu lama. Tidak bisa sekarang. Aku sama sekali belum pernah merasakan gelombang seperti ini sebelumnya. Satu atau dua tahun mungkin belum cukup."
"Oke. Supaya kamu mudah melakukan pendeteksian sekarang sebagai pimpinan yayasan aku mengangkatmu langsung menjadi Guru di sini."
"Ha?"
"Kamu dapat jadwal mengajar kelas 2."
"Ha? Kelas 2? SD? Aku mengajar anak kecil?"
"Terserah nanti kamu ajari terbang atau terbang-terbangan atau apalah. Yang jelas sesuatu di belakang gedung ini harus segera diketahui. Ini jadwal mengajarmu."
"Sebentar-sebentar..."
"Sudah tak ada waktu lagi Kun. Kamu harus di sini masuk dalam operasi penyelamatan ini."
"Masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang Gen? Kamu gila apa? Aku tidak pernah mau mencalonkan diri sebagai Guru Gen! Nggak! Aku jadi murid saja! Kamu tahu kan nilai akademis ku sewaktu kuliah seperti apa? Kamu ingat kan bahwa kelas utamaku adalah kantin Mbok Sum?"
"Ayo lah Kun. Tolong bantu kami dalam misi penyelamatan ini. Beliau orang baik Kun."
"Haduh. Padahal aku nggak berharap diterima Gen. Aku nggak pantes jadi guru Gen."
"Demi Fayya."
"Gen...."
"Lakukan ini demi orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu Kun. Sebagaimana kami kaum Genderuwo menyayangi pimpinan yayasan ini."
"Gen...."
"Oh iya, jangan lupa buat RPP nya juga."
"Astaga....."

Di rumah,
"Sayang selamat ya akhirnya kamu diterima jadi guru." Fayya memeluk Kun erat. Pelukan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
"Iya. Makasih ya sayang." Kun mencoba memaksa diri untuk tersenyum.
"Kenapa sayang? Kok cemberut?"
"Jadi guru di yayasan, gajinya sedikit." Padahal bukan itu yang ingin diomongkan Kun. Tapi dia terpaksa berbohong.
"Sayang. Fayya nggak minta apa-apa darimu sayang. Kalau kamu nggak kelihatan bekerja, gimana kata tetangga?"
"Iya. Itu wajar."
"Sekarang senyum dong sayang."

Kun tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Apa sebenarnya di belakang gedung tadi....."

"Ke kamar yuk..." Fayya menggandeng Kun. Proses perkembangbiakan dimulai.


Share: