Senin, 14 April 2014

Guru Indonesia

Antrian panjang. Bau keringat menyeruak dimana-mana. Hampir semua mata menyipit. Panas. Beberapa ada yang mencoba menyejukkan tubuhnya dengan menggunakan jari jemarinya. Semacam, kipas darurat meski mereka tahu efek yang ditimbulkan tidak seberapa.
"Nanti, kalau ikut antrian para pelamar, nggak boleh curang. Sayangku harus ikut audisi senatural mungkin." begitu pesan Fayya kepada Kun.

Boleh ditebak, Kun memang sedang ikut dalam audisi GURU INDONESIA. Sebenarnya ini merupakan pantangan besar. Bisa saja menimbulkan efek samping yang kurang baik bagi kesehatan Kun. Namun, karena kondisi sosial, dia harus menjadi manusia normal. Manusia biasa. Atau lebih tepatnya, manusia. Nggak pakai normal nggak pakai biasa. Manusia.

"Uhmmm, cuma itu syaratnya sayang?"
"Iya. Pokoknya kamu nggak boleh pakai kekuatan apapun. Kamu harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau yang lain kepanasan, kamu juga harus mau kepanasan. Jangan lantas mengeluarkan jurus Masuk Angin mu."
"Yeeee, emang namanya jurus masuk angin?"
"Fayya sendiri yang ngarang itu."
"Doakan aku sayang."

Keringat mulai membasahi baju Kun. Satu orang di depannya mencoba menawarkan minum. Kun tahu orang itu tidak berniat jahat kepada Kun tapi Kun tetap menolak. Dia sengaja berpuasa untuk menguji seberapa kuat dirinya berdiri lama, dengan kondisi menyengat dan, bau.

"Audisi aneh. Dimana-mana yang ada orang meminta diangkat menjadi murid. Ini malah mencalonkan diri menjadi guru. Minta diangkat lagi. Emang karung beras minta diangkat." perempuan di belakang Kun mengomel sendiri. Kun membalikkan badan dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas, ini audisi teraneh sepanjang sejarah kehidupan saya mas. Setahu saya di film-film silat itu yang ada hanya orang-orang yang minta diangkat menjadi murid. Bukan minta menjadi guru kayak audisi ini." perempuan itu sewot. Kun mencoba jernih.
"Maaf mbak, tapi ini kan bukan film silat. Ini kan dunia nyata."
"Dunia nyata apanya mas? Ini tuh lebih aneh dari film kartun!"
"Terus kenapa mbak ada di sini?"
"Terpaksa mas. Supaya ijazah saya berguna."
"Ijazah apa mbak?"
"Aduh dimana ijazah saya!?" perempuan itu lantas keluar dari antrian dengan wajah panik.

Kun memejamkan mata. Dia mencoba memindai sebenarnya seperti apa isi kepala orang-orang yang ikut mencalonkan diri menjadi guru ini. Kun mendapatkan berbagai macam jawaban. Dia senyum-senyum sendiri. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia ini. Batin Kun. Namun Kun menangkap sinyal aneh. Kun mendapati sebuah gelombang yang tak dikenal. Tempatnya tepat di belakang gedung audisi berlangsung. Kun terus mendeteksi. Baginya, ini gelombang baru. Apa ini? Atau tepatnya siapa ini? Kun semakin penasaran. Gelombang tak dikenal itu memenuhi kepala Kun hingga Kun hampir terjatuh. Kun mencoba membiarkan untuk sementara waktu gelombang tak dikenal itu. Dia ingin fokus kepada pesan Fayya.

Setelah menunggu, akhirnya nama Kun dipanggil. Dia sudah duduk di hadapan penguji.
"Nama?"
"Kun."
"Nama lengkap?"
"Kun."
"Nama panggilan?"
"Kun."
"Nama sayang?"
"Kun."
"Tempat tanggal lahir?"
"Batu Payung 11-11-11."
"Tahun 1911?"
"Bukan. Tahun 11."
"Oh. Hobi?"
"Terbang."
"Ketrampilan?"
"Menghilang."
"Kegiatan selama ini?"
"Jualan jagung bakar."
"Ada warung?"
"Ada."
"Dimana?"
"Di dalam piramida."
"Baik tunggu sebentar."

Jawaban yang normal menurut Kun. Dia mengemban amanah dari istrinya, Fayya. Bahwa, katakanlah dengan jujur meskipun itu pahit.

"Saudara Kun. Silakan ke dalam. Pimpinan yayasan ingin bertemu langsung."

Begitu Kun masuk ruangan,

"Kuuuunnnnn!!!"
"Aduh. Sial! Kostum kamu jelek Genderuwo!"
"Hahahaha... sini peluk dulu sahabatkuuuu!"
"Aaakkkk... pelan-pelan woy!"
"Iyaaa maaf.. terlalu seneng aku. Lama kita tak bersua kawan! Hahahaha.."
"Satu pertanyaanku. NGAPAIN KAMU DI SINI!"
"Hahaha.... nggak kok. Ini tugas dari kaumku."
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mengurusi yayasan ini."
"Nggak. Aku nggak paham. Kamu, makhluk dari alam lain, disuruh mengurusi yayasan milik manusia?"
"Ceritanya begini. Pemilik yayasan ini orang yang baik. Sangat baik sekali. Orangnya jujur, ramah, tegas, adil, bersahaja, berwibawa, tidak gampang mengeluh, tidak gampang cengeng..."
"Oke. Stop. Itu kamu bukan tim sukses kan?"
"Hahaha.. nggak lah Kun. Kami, makhluk Genderuwo, mengendus, bahkan mendapatkan data kalau pimpinan yayasan di sini sedang dalam keadaan bahaya. Kami tidak tega Kun. Lantas kepala suku kami menemui pimpinan yayasan ini dan menawarkan operasi penyelamatan."
"Jadi maksudmu sekarang pimpinan yayasan yang asli sekarang ada di.."
"Yap. Dia aman di wilayah kami. Kami mengambilnya kemarin. Sekarang aku yang menjadi dirinya untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman. Lupa kalau kami ini, kaum Genderuwo ahli dalam bidang penculikan dan spionase? Masih ingat dengan cerita tiba-tiba ada anak menghilang dan orang-orang menganggap diambil oleh Genderuwo kan?"
"Iya tau. Cerita basi itu. Bahkan kalian juga menyunat. Dasar ahli medis salah sasaran kalian."
"Hahaha... begitulah Kun."
"Berarti audisi Guru Indonesia ini pasti juga ulahmu kan?"
"Hahaha.. iyaaa.."
"Dasar makhluk aneh."
"Jujur Kun. Aku memang sengaja membuat acara seperti ini untuk memancing kedatanganmu. Kalau aku ke rumahmu langsung, pasti istrimu akan marah-marah. Kamu kan disuruh berperilaku normal. Nggak boleh main lagi sama kita-kita ini."
"Ya bukan begitu Gen. Ada baiknya juga istriku berbuat seperti itu. Bosen tiap harus ketemu sama makhluk aneh kayak kamu!"
"Terserah kamu lah Kun. Hahahaha.. yang jelas aku butuh bantuanmu saat ini untuk menyelamatkan yayasan ini Kun. Atau lebih tepatnya menyelamatkan sekolah ini. Dari...."
"Dari apa?"
"Dari...."
"Dari apa Gen!"
"Dariiiiii...."
"Gen!"
"Dari sesuatu di belakang gedung ini."
"Astaga.. pantas saja aku menangkap gelombang yang aneh."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kun?"
"Gen. Ini akan butuh waktu lama. Tidak bisa sekarang. Aku sama sekali belum pernah merasakan gelombang seperti ini sebelumnya. Satu atau dua tahun mungkin belum cukup."
"Oke. Supaya kamu mudah melakukan pendeteksian sekarang sebagai pimpinan yayasan aku mengangkatmu langsung menjadi Guru di sini."
"Ha?"
"Kamu dapat jadwal mengajar kelas 2."
"Ha? Kelas 2? SD? Aku mengajar anak kecil?"
"Terserah nanti kamu ajari terbang atau terbang-terbangan atau apalah. Yang jelas sesuatu di belakang gedung ini harus segera diketahui. Ini jadwal mengajarmu."
"Sebentar-sebentar..."
"Sudah tak ada waktu lagi Kun. Kamu harus di sini masuk dalam operasi penyelamatan ini."
"Masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang Gen? Kamu gila apa? Aku tidak pernah mau mencalonkan diri sebagai Guru Gen! Nggak! Aku jadi murid saja! Kamu tahu kan nilai akademis ku sewaktu kuliah seperti apa? Kamu ingat kan bahwa kelas utamaku adalah kantin Mbok Sum?"
"Ayo lah Kun. Tolong bantu kami dalam misi penyelamatan ini. Beliau orang baik Kun."
"Haduh. Padahal aku nggak berharap diterima Gen. Aku nggak pantes jadi guru Gen."
"Demi Fayya."
"Gen...."
"Lakukan ini demi orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu Kun. Sebagaimana kami kaum Genderuwo menyayangi pimpinan yayasan ini."
"Gen...."
"Oh iya, jangan lupa buat RPP nya juga."
"Astaga....."

Di rumah,
"Sayang selamat ya akhirnya kamu diterima jadi guru." Fayya memeluk Kun erat. Pelukan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
"Iya. Makasih ya sayang." Kun mencoba memaksa diri untuk tersenyum.
"Kenapa sayang? Kok cemberut?"
"Jadi guru di yayasan, gajinya sedikit." Padahal bukan itu yang ingin diomongkan Kun. Tapi dia terpaksa berbohong.
"Sayang. Fayya nggak minta apa-apa darimu sayang. Kalau kamu nggak kelihatan bekerja, gimana kata tetangga?"
"Iya. Itu wajar."
"Sekarang senyum dong sayang."

Kun tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Apa sebenarnya di belakang gedung tadi....."

"Ke kamar yuk..." Fayya menggandeng Kun. Proses perkembangbiakan dimulai.


Share:

Jumat, 14 Maret 2014

Fayya Ngidam

Di dek sebuah kapal yang menuju pulau kecil, Kun melamun. Dia menerawang sedang apa istri tercintanya sekarang. Sambil mengusap-usap cincin perkawinan mereka, Kun berharap istrinya baik-baik saja di rumah sederhana mereka. Untuk kemudian matanya terpejam.
"Sayang, kamu sedang apa sekarang?"
Terngiang suara Fayya, "Kun, lupa kalau kamu dukun?"
"Eh sayang, rupanya kamu tahu kalau aku sedang merindukanmu?" Kun membalas.
"Ya tahu lah sayang. Gelombang yang kamu kirimkan kan jalurnya berbeda dengan gelombang-gelombang yang ada. Kalau yang sering dipakai internet yang sekarang sih masih belum ada apa-apanya."
"Hahaha, sayang.. maaf aku terpaksa pakai kekuatan yang ini. Aku nggak kuat. Kangen banget sama kamu Fayya."
"Sama sayang. Kangenku juga nggak kalah besar sama kangenmu."
"Kamu sedang apa sekarang?"
"Yeee, katanya dukun, kok masih tanya. Hahaha..."
"Sayaaaaang... ini kan formalitas sebagai seorang suami istri. Kalau aku nggak pura-pura tanya terus kita mau mesra-mesraan pakai apaaaa.... Hiiihhhh, gemes tau!!!"
"Hahaha, berhasil bikin sayangku gemes..."
"Sesakti-saktinya, seampuh-ampuhnya, secerdas-cerdasnya manusia bikin teknologi apapun, proses penciptaan manusia yang paling nikmat ya dengan bertemunya aku dan kamu untuk menjadi kita, dan menjadi anak kita...."
"Ngomong apa sih yang?"
"Hiiiiihhh.. gemeeess!!"
"Hahaha..."

Bahu kanan Kun ditepuk seseorang. Mata Kun terbuka. Komunikasi dengan Fayya terputus.
"Maaf mas. Ini sampai mana?"
"Oh, maaf mas. Saya juga kurang tahu. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Mas mau kemana?"
"Ke pulau Harpu."
"Pulau Harpu? Serius mas?"
"Iya mas."
"Di sana angker lho mas. Orang yang sudah pergi ke sana tidak akan kembali dengan selamat."
"Mas kok tahu. Pernah ke sana?"
"Belum mas. Menurut cerita-cerita orang di sekitar pulau seperti itu mas."
"Uhmmm,"
"Mas ada keperluan apa?"
"Main aja."
"Main?"
"Iya. Istri saya sedang hamil. Terus dia meminta saya untuk pergi ke pulau Harpu. Ngidam gitu mas. Kalau nggak dituruti ya gimana."
"Ah, itu takhayul mas. Itu cuma mitos. Ngidam itu nggak dituruti juga nggak apa-apa mas. Pasti nanti takut kalau bayinya lahirnya nggak normal kan?"
"Mas," Kun tersenyum, "Saya mau menuruti keinginan istri saya untuk pergi ke pulau Harpu itu bukan semata agar bayi saya nanti lahirnya bisa selamat, normal. Itu karena saya berusaha menghormati dan menghargainya sebagai seorang istri. Di rumah dia sudah melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi ini bentuk rasa syukur dan terima kasih saya kepada istri saya mas."
"Oh..."
"Mas sendiri mau kemana?"
"Saya turun sini." kemudian laki-laki itu menghilang. Kun, biasa saja. Memang seperti ini dunianya. Mau gimana lagi?

Kapal berhenti di bibir pantai. Kun turun dengan membawa tas rangsel kecil berwarna hitam. Semacam tas untuk laptop. Isinya, dia tidak tahu. Karena Fayya lah yang menyiapkan semuanya. Iya, seperti yang Kun katakan kepada 'makhluk' di kapal tadi, Fayya memang istri yang baik.

Siang hari yang terik pulau Harpu terlihat sepi. Lebih tepat kalau dikatakan lengang. Kun juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan foto-foto selfie dan mengirimkan gambarnya via bbm lantas pulang kembali ke rumah, atau mendirikan tenda dan menginap di pulau Harpu yang katanya angker ini untuk beberapa hari. Sementara ini Kun memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling menikmati pulau Harpu yang indah ini.

Pohon-pohon besar yang rindang, sejuknya udara, dan semilirnya angin pantai menemani perjalanan Kun. Iya, benar-benar lengang. Kicauan burung-burung juga turut serta membersamai Kun. Entah kenapa air matanya menitih. Ini bukan tempat angker. Batin Kun. Ini tempat yang indah. Benar-benar indah. Kun mengambil ponselnya. Ternyata tidak ada sinyal. Kun tersenyum. Baginya ini adalah tempat yang tepat. Terima kasih Fayya sayang. Kenapa tepat? Karena tempat yang tidak bisa ditembus oleh sinyal seluler dan internet adalah tempat yang masih murni gelombang elektromagnetiknya. Begitu diagnosa Kun. Dan tempat-tempat seperti itu adalah tempat yang sangat cocok untuk menetralisir isi kepala dan isi hati.

Lalu di bawah pohon yang rindang, Kun duduk bersila setelah meletakkan rangsel di sampingnya. Matanya, terpejam.

Datang seorang anak kecil. Dia tersenyum lalu bersalaman dengan Kun dan menyium punggung tangan Kun.
"Siapa kamu?" anak kecil itu bertanya. Menurut Kun dia ganteng.
"Namaku Kun. Kamu siapa?"
"Aku, aku lupa siapa aku."
"Iya nggak usah dijelaskan. Aku tahu kok. Kamu Si Gelombang kan?"
"Iya. Kok kamu tahu sih? Padahal aku kan sudah berpura-pura lupa."
"Hehehe, eh Gelombang, aku panggil kamu Mbang gitu aja ya. Soalnya kalau Gelombang terlalu panjang."
"Nggak papa Om Kun."
"Yeee, manggil Om lagi. Mas aja."
"Yeee, ya nggak mau. Om Kun aja ya."
"Iya deh. Terserah kamu."
"Om Kun di sini ngapain?"
"Nggak tahu. Main aja."
"Ke rumahku aja yuk Om. Deket situ kok. Kebetulan di sini lagi ada pesta Om."
"Pesta? Pesta apa Mbang?"
"Syukuran. Ibuku hamil Om."
"Ibumu hamil?"
"Iya. Hamil calon adikku Om."
"Kamu anak yang nomer berapa Mbang."
"Aku anak nomer 1134509 Om."
"Astaga. Berarti adikmu nanti anak nomer 1134510?"
"Yap! Bener Om."
"Berarti memang Gelombang itu memang banyak jenisnya ya?"
"Iya Om. Jenis kami banyak kok. Dan berbeda-beda. Yang dikenal manusia itu ya cuma gelombang-gelombang yang itu-itu aja Om. Mereka itu Jenis Gelombang yang ingin populer Om. Tapi sebenarnya yang lebih hebat dari mereka juga masih banyak Om."
"Lha?"
"Kenapa Om? Bukannya Om sudah tahu ya?"
"Iya sih sudah tahu. Kaget aja. Om kira tidak sebanyak itu jenisnya."
"Kalau pembagian secara umum cuma dua. Kayak manusia Om."
"Oh."
"Gimana Om? Jadi ikut ke rumah nggak. Beneran lagi ramai Om."
"Boleh deh. Daripada nggak ngapa-ngapain."

Di rumah si Mbang sangat ramai. Kumpul banyak sekali Gelombang. Semua melihat ke arah Kun. Mereka tersenyum ramah. Kun juga membalas setiap senyum itu. Baru kali ini dia merasa heran setelah sekian lamanya. Si Mbang mengajak masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada bapak ibunya.

"Nak Kun ya?" Bapak Mbang menyebut nama Kun.
"Kok tahu Pak?" Kun heran.
"Sudah. Kayak nggak ngerti sama gelombang aja Kun. Data kami soal kamu banyak. Kamu itu jenis manusia yang paling sering berinteraksi dan sering menggunakan jasa kami kan?"
"Iya bapak. Terus terang saya kaget kalau kalian sebanyak ini pak. Pantesan sinyal hape nggak mampu menembus. Lha di sini tempat lahirnya gelombang. Hahaha.."
"Hahaha... Nak Kun, gimana kabar istrinya? Si Fayya."
"Iya pak. Fayya sedang hamil. Dia ngidam dan meminta saya datang ke pulau Harpu ini pak. Nggak tahu maksud dia apa."
"Perempuan, jenis manusia itu memang sinyalnya kuat Kun. Banyak dari kami, gelombang, khususnya gelombang-gelombang yang kuat, yang ikut bersama perempuan Kun."
"Gitu ya Pak?"
"Tubuh seorang perempuang adalah tempat yang nyaman bagi gelombang-gelombang kuat Kun.  Fayya memang sekilas perempuan biasa. Tapi begitu dia mengabdi dan menerima suaminya dengan penuh ketulusan, maka gelombang-gelombang yang ada di tubuhnya akan menjelma menjadi pendaran-pendaran yang sangat kuat. Kuat di sini bukan kuat untuk menyerang yang lain. Tapi kuat untuk mengayomi yang lain. Kuat untuk kamu ajak berjuang di medan perang model apapun. Apa lagi, dia sedang hamil."
"Pak,"
"Kenapa Nak Kun?"
"Boleh meluk pak?"
"Sini-sini. Jangan siakan sayang Fayya kepadamu Nak Kun. Sayangi dia, lindungi dia. Nafkahi dia sebagai tanggung jawabmu sebagai lelaki. Dia dipilih untuk menjagamu. Menjaga keseimbangan hidupmu Kun."
"Tapi istri bapak juga sedang hamil."
"Kalau kami sih hampir setiap hari melahirkan Kun. Hahaha...."
.......................

Di rumah Fayya sedang bersiap menyambut Kun. Usia kandungannya sudah memasuki angka dua bulan. Bagi Fayya ini adalah anugerah tersendiri. Awalnya dia berfikir jangan-jangan dia tidak bisa hamil. Secara Kun adalah makhluk aneh. Tapi nyatanya dia hamil juga.

Teh hangat, sambel petai, dan sedikit gorengan tempe sudah tersaji cantik di meja makan. Kun datang.

"Sayang. Mau mandi dulu apa langsung makan?" Fayya menyambut Kun penuh keramahan.
"Makan dulu yang. Mandinya nanti. Bareng kamu." Kun menggoda.
"Baru juga pulang pikirannya sudah sampai sana. Gimana? Dapat apa dari pulau Harpu?"
"Dapat banyak sayang."
"Mana? Tasnya juga masih kempes gini."
"Ada kok. Nanti di kamar aja. Aku lapar."
"Hu'um. Sini Fayya ambilkan nasinya. Eh sayang, aku boleh jujur nggak."
"Boleh. Kenapa Fayya sayang?"
"Uhmmm, sebenarnya aku tuh nggak tahu kalau ada pulau yang namanya Harpu. Saat itu aku nyebut kata Harpu begitu aja. Eh nggak tahunya ada beneran ya? Hehehe.."
"Hiiihhhh... Gemes gemes gemeeeeessss....."

Setelah adegan saling cubit dan makan bersama, Kun dan Fayya mandi. Bareng. Tak usah dibayangkan bagaimana adegannya. Setelah adegan yang kurang bisa digambarkan itu, mereka berada di kasur. Terjadilah diskusi yang sangat penting.

"Sayang, sayang mau anak kita besok jadi apa?" Kun mengawali. Dan apa respon Fayya?
"Pertanyaanmu terlalu mainstream Kun. Ganti."

Klik. Lampu pun dimatikan.
Share:

Sabtu, 09 November 2013

HaniMun

"Sayang, tulisannya bukan gitu kali. Honeymoon. Bukan hanimun sayang."
"Oh. Tapi bacanya hanimun kan?"
"Iiiihhh... ya tetep aja tulisannya salah sayang."
"Mana yang lebih bener? Yang tulisan dan cara bacanya bener apa yang antara tulisan dan cara bacanya beda?"
"Tau ah. Yang paling bener itu yang keluar dari hatimu sayang."

Iya. Sekarang mereka berdua sedang berada di Tokyo. Honeymoon kata Fayya, atau hanimun kata Kun. Sama saja. Yang jelas mereka sedang merenda merajut kehidupan baru setelah sekian lama berkutat dengan keanehan demi keanehan. Kun juga sudah bertemu ibunda tercinta sewaktu prosesi pernikahan kemaren. Tak ada hal yang paling menggembirakan selain restu dari ibu. Sesakti seampuh apapun seorang anak, dia tetaplah anak. Tak ada satu pun pawang yang dikerahkan meski hujan terus terusan mengguyur sekitar rumah Fayya.

"Biarlah. Hujan ini berkah." begitu gumam Kun.

Tenda-tenda basah oleh air hujan. Tapi ada tak ada satu raut muka tamu yang cemberut panik atau gelisah karena mereka tahu siapa yang menikah. Anak muda yang sembilan puluh sembilan persen prestasi akademiknya amburadul tapi sangat solutif terhadap semua permasalahan yang terjadi di sekitar kampus. Dari masalah yang 'kasar' sampai yang 'halus'. Anak muda yang seharusnya mampu cumlaude, tapi memilih untuk telat lulusnya. Sederhana, hanya ingin merasakan proses demi proses kehidupan menuju sejatinya kedewasaan dan kematangan dalam berfikir dan bertindak. Anak muda yang paham bahwa es teh adalah sama dengan air kembang. Sama-sama herbal. Anak muda yang memiliki kemampuan menghilang tapi lebih memilih berjalan kaki jika bepergian. Anak muda, yang memang sangat memiliki potensi awet muda. Dan anak muda yang setia dengan satu pasangan saja. Fayya.

"Selamat ya Kun..." Pak Armando memeluk erat Kun kala itu.
"Terima kasih pak."
"Ini kenalkan istri saya."
"Istri?" Kun mengangkat alis. "Katanya kalian ber..."
"Ssssttt... nggak jadi Kun. Ini berkat ajian yang kamu ajarkan." 
"Ajian? Ajian apa ya?"
"Ajian milkshake. Masa lupa?"
"Pak! Itu bukan ajian! Itu minuman! Saya minta pak Armando sering-sering membuatkan milkshake kesukaan istri bapak biar istri bapak merasa disayang oleh suami. Bukan ajian!"
Pak Armando melongo. Istrinya juga. Sampai tumpah air liurnya. Dikiranya milkshae sama dengan horseshake atau ajian jaran goyang.

"Sayang, kok nggak ada salju? Katanya di Tokyo banyak salju." Fayya merengek manja di dekapan Kun. Erat. Dilem. Disemen. Dicor.
"Sayaaang. Ini musim apa coba? Kan bukan musim dingin. Mana ada salju yang. Lagian emang daerah Tokyo itu jarang-jarang juga turun salju meski musim dingin tiba." Kun menjelaskan sambil sesekali membelai kepala istrinya itu.
"Apa? Nggak ada salju? Masa kalah sama Indonesia. Di Indonesia kan banyak salju. Keluarnya juga nggak mengenal musim."
"Emang ada yang? Dimana? Kok baru denger sekarang."
"Ada kok." Fayya manggut-manggut sambil manyun-manyun bibirnya.
"Dimana sih yang? Penasaran aku. Kalau di Indonesia ada salju yang selalu turun tanpa mengenal waktu lebih baik besok kita pulang saja ke Indonesia yang."
"Ada yang. Beneran mau pulang besok?"
"Iya. Malam ini kita kemasi barang-barang."
"Nggak kecewa kalau aku bilang dimana tempat salju yang selalu turun itu?"
"Emang dimana sih yang?"
"Di tempat CUCI MOTOR SALJU. Hahahaha.... "
"Dasar duduuuullll!!! Siniiiiii!!!" Kun menggelitik Fayya, sampai terkekeh dan berlinang air mata. Kemudian selanjutnya terjadi adegan laga. Saling hantam, saling tindih, saling tarik, tapi tak ada yang tersakiti. Karena kalian tahu itu adegan apa. Hanimun kata Kun.

Pagi di Tokyo. Rencananya pasangan sejoli yang baru dirundung bahagia ini mau melanjutkan jalan-jalan mereka ke menara Tokyo atau Tokyo tower. Sebuah menara yang terletak di taman Shiba yang mirip dengan menara Eiffel di Paris. Tapi karena agak kecapekan setelah pertarungan semalam, Kun memutuskan untuk bersantai di kamar hotelnya. Fayya masih tergolek manja di ranjang.

"Akhirnya. Aku jadi manusia. Manusia seutuhnya. Semalam sudah yang ketiga kali aku melakukannya dengan Fayya. Berarti semua kekuatanku yang aneh-aneh itu sudah hilang. Aku normal sekarang. Aku manusia normal." batin Kun. 
"Sayaaang... Kamu dimana?" Fayya memanggil manja. Kun tersenyum menghampirinya.
"Disini sayang..."
"Sini peluuuk..."
"Teletubbies kalah sama kita yang. Jumlah berpelukan kita lebih banyak daripada mereka."
"Iiiihhh, gemes ah." Fayya mencubit perut Kun.
"Bangun yuk. Mandi sarapan habis itu kita ke menara Tokyo."
"Nggak mau. Maunya disini saja sama suami."
"Masa nggak jalan-jalan?"
"Nggak, bersamamu adalah perjalanan terindah dalam hidupku yang. Anyway, terimakasih Kun sayang."
"Iya Fayya sayang. Karenamu, aku menjadi manusia seutuhnya."
"Hu'um."
Dan lagi adegan laga itu berlanjut. Season 2.

Mereka menikmati perjalanan menggunakan kereta api super cepat menuju taman Shiba. Dalam hati Kun berkata, ternyata manusia memang suka terburu-buru atas nama efisiensi waktu. Padahal kalau mereka mau dan tahu, mereka bisa lebih cepat dari kereta ini tanpa menggunakan sarana apapun. Alami. Natural. Hmmm....
"Sayang.." Fayya membuyarkan lamunan Kun.
"Eh, iya."
"Ngelamunin apa sih?"
"Nggak itu tadi lho. Ada buruk bagus banget yang lewat. Warnanya lucu. Kayaknya burungnya penggemar Reggae."
"Ah ngaco ah. Kereta secepat ini mana sempat melihat burung."
"Burungnya, penggemar Reggae. Burungnya menggemari Reggae atau burungnya si penggemar Reggae. Iya sih. Aneh sih."

Kereta berhenti mendadak. Sepertinya ada hal darurat. Semua penumpang saling pandang seolah berkata 'ada apa sih'. Tak ada informasi apa-apa. Tiba-tiba saja kereta berguncang keras. Blarrrr! Semua penumpang berteriak histeris. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ketakutan. Jerit tangis terdengar di setiap gerbong. 

"Tenang sayang." Kun memeluk erat Fayya. 
"Ada apa sih Kun?" Fayya datar.
"Woy. Yang lain panik kenapa wajah kamu innocent gitu? Takut dikit kenapa sih?"
"Bersamamu aku tak takut menghadapi apapun sayang."
"Halooo, bukan saatnya gombal-gombalan. Lihat itu orang-orang pada panik. Kita panik juga dong."
"Ah terlalu mainstream. Mengikuti suara terbanyak itu kurang asyik."
"Astaga. Kamu lebih aneh dariku Fayya. Yuk keluar yuk. Yang lain udah pada keluar tuh."
"Nggak mau. Ntar aja kalau udah lima detik sebelum kereta meledak kita baru keluar."
"Astaga. Sayaaang.. Ini kita lagi nggak main film. Ini beneran. Darurat sayang daruraaat..."
"Iya deh kita keluar aja." Fayya masih innocent. Kun garuk-garuk kepala.

Lalu keadaan sedikit tenang. Kemudian ia mencoba berbincang dengan orang Jepang. Dengan 'bahasa'.
"Iya. Saya pernah bertugas di Indonesia lama. Mengurusi distribusi perusahaan otomotif."
"Syukur. Karena saya tidak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Perancis."
"Sayang. Ini Jepang." Fayya memberi isyarat Kun, bahwa kebodohan adalah kunci kebodohan selanjutnya.
"Ngomong-ngomong tadi ada apa?"
"Ada monster yang ingin menguasai bumi."
"HAAAA??? MONSTER???" Kun dan Fayya kompak. 
"Oke sayang. Kita pulang. Dia tak lebih aneh daripada kita." Kun menarik tangan Fayya. 

"Sayang. Gimana kalau ternyata ada monster beneran di Jepang?"
"Astagaaa... di Indonesia ketemu siluman. Di Jepang ketemu monster. Kapan bisa tenang hidup ini."

Di kamar hotel, laptop Fayya berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk di sana.
Bapak: Nak, kalian kapan pulang? Sebaiknya secepatnya.
Fayya: Iya pak. Kalau bapak menghendaki kami pulang, kami akan pulang secepatnya.
Bapak: Disini lagi ada masalah kecil. Pamanmu kesurupan. Sudah tiga hari ini. Kadang ia berbicara dengan logat yang aneh. Seperti orang Jepang.
Kun: Bapak, tunggu saya pulang.

Segera setelah turun dari pesawat mereka meluncur menuju rumah Fayya. Di sana paman Fayya, sudah diikat dengan rantai besar.

"Mana! Mana Kun! Manaaa!!!" matanya beringas. "Mana! Mana Kun! Manaaa!!!"
"Aku di sini. Tenanglah. Kita bicara baik-baik."
"HAHAHA.. rupanya kamu sudah di sini. Sekarang lepaskan aku dan kita bertarung secara ksatria!"
"Bapak..." Kun memberi isyarat kepada mertuanya untuk melepas rantai yang mengikat pamannya.
"Jangan di sini. Di luar saja. Kita selesaikan berdua." Kun berjalan santai menuju halaman rumah. Si paman yang kesurupan segera mengejar Kun dan ingin menghantamnya dari belakang.

Suuuuuutttttt.... Kun menghentikan si paman dengan menujukkan rambu-rambu berlambang 'S'.

"Duduk." pinta Kun yang lebih dulu mengambil posisi bersila. Kemudian si paman duduk.
"Apa maumu?" Kun bertanya dengan tenang.
"Aku? Hahaha!!"
"Nggak usah tertawa gitu. Biasa saja. Itu memperburuk citramu."
"Sial! Aku mau menguasai tubuh ini."
"Serius?"
"Iya!"
"Kamu mau menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia lebih tepatnya manusia Indonesia?"
"Iiii.. yaaaa..."
"Siap hidup di negara yang seperti ini?"
"Iiii... yaaaa..."
"Siap dengan kondisi ekonomi yang seperti ini?"
"Tiiii.. iyaaa..."
"Kamu pikir enak apa menjadi manusia? Ha? Kamu harus berumah tangga, beranak pinak, mematuhi aturan dan etika. Enak apa? Kamu bodoh ya? Kehidupanmu itu jauh lebih baik. Jadi manusia itu sulit. Apalagi ini Indonesia. Kalau mau merasuki tubuh orang itu kira-kira. Nggak boleh asal. Perhitungkan dulu baik-baik kultur, politik, ekonomi, sosial, dan semua unsurnya secara matang. Ngawur! Lagian pamanku itu sudah punya anak istri. Jangan renggut kebahagiaan orang lain. Ngerti kamu! Percuma kamu hidup menjadi manusia yang itu bukan dirimu sendiri! Kamu harus bersusah payah meminjam tubuh orang lain. Belum lagi jika kamu melarikan diri dari sini kamu harus mengurus ijin ini itu dan membuat KTP baru. Dikira gampang apa ngurus birokrasi di sini! Ha! Ngerti?"
"Nger..."
"Ngerti nggak?!"
"E, iya iya.. nger ngerti ti."
"Sekarang keluar dari tubuh paman saya."
"Nggak mau."
"Ya terserah situ kalau nggak mau." Kun berdiri meninggalkan si Paman. Tapi kemudian tubuh si paman tergeletak. Kun segera menyadarkannya. Si paman sudah kembali. Keluarga ikut senang.

Di dalam kamar,
"Katanya sudah nggak mau memakai kekuatan itu lagi yang?"
"Nggak kok. Tadi cuma aku ajak bicara."
"Eh tapi tapi, siapa yang merasuki paman tadi."
"Mau tahu?"
"Hu'um." Fayya manggut-manggut manja.
"Beneran?"
"Hu'um." Fayya makin manja.
"Jangan kaget ya."
"Hu'uuummm sayangku.."
"Tadi itu, MONSTER JEPANG!!! HAAAAA....."

Dan adegan laga itupun terjadi lagi untuk kesekian kali. Selamat menempuh hidup baru Kun Fayya...






Share:

Minggu, 27 Oktober 2013

Ilmu Amuba Baroka Hasana

Kun melepas topi hitamnya dan menaruhnya di meja. Di meja itu pula sudah menunggu segelas air kembang. Raut mukanya linglung. Mbok Sum segera menghampirinya.
"Tahu goreng Kun." 
"Iya mbok. Makasih. Belum mau makan."
"Sedang puasa kamu?"
"Sepertinya sih iya."
"Ini kan Sabtu. Puasa apa kamu?"
"Puasa Tahu mbok. Nggak makan tahu dulu selama seminggu."
Plak!
"Ditanya beneran kok."
"Iya mbok puasa."
"Puasa apaan?! Terus yang minum es teh itu siapa?"
"Bukan aku mbok. Itu diriku yang lain."
"Dirimu yang lain?"
"Iya. Diriku yang lain." Kembali, Kun linglung. Senyap. Kantin mbok Sum membeku seketika. Tahu goreng itu berubah menjadi es krim tahu.

Di hari menjelang pernikahannya dengan Fayya, Kun seharusnya gembira. Layaknya manusia-manusia yang siap menyongsong suka cita kehidupan baru yang penuh cahaya. Tapi tidak dengan Kun. Ke-linglung-annya kali ini bukan hal yang main-main. Tiga hari lagi dia akan menikah. Di ritual suci itu tentu akan hadir beberapa keluarganya dari pertapaan Batu Payung. Termasuk Ibunda tercinta. Tapi ini lain. Di saat Kun harus menjalannya puasa 3 hari berturut-turutnya dalam rangka menyongsong prosesi sakral itu, Kun malah tidak puasa sama sekali. Kenapa kamu Kun. Kenapa.

Di tengah-tengah kebekuan yang melingkupi kantin Mbok Sum, Kun berucap lirih.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." Kun seperti sedang berbicara dengan seseorang tapi tidak ada siapapun di sana karena semuanya membeku. Membeku dalam arti sebenarnya.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." lagi. Kun mengulangi ucapannya, tapi dengan siapa Kun berbicara.

Kun menghela nafas panjang. Seperti ada penyesalan di wajah yang baru saja dicukur kumis dan jenggotnya itu. Tak ada cara lain. Kemudian Kun memanggil Kakenya yang sudah lama tidak pernah dihubunginya. Yang sudah lama menyapih Kun sejak Kun bisa menjalankan ilmu menghilangnya.

"Kakek, kesinilah. Cucumu ini sedang..." Kemudian segera muncul Kakek Kun berjaket tebal untuk mengantisipasi dingin yang diciptakan Kun.
"Kamu sendiri yang bisa menyelesaikan ini Kun. Tidak juga dengan Fayya." Singkat. Lalu Kakek Kun segera pergi.
"Kek....." Kun menggeleng-gelengkan kepala, tanda ia menyerah. Kenapa lagi kamu Kun.
"Baiklah. Kalau ini yang harus aku alami. Fayya, bapaknya Fayya, Ibunya Fayya, maaf aku harus pergi sekarang. Ke masa laluku."

Lalu, semua berlalu. Melaluli lalu lalangnya waktu, Kun kembali ke 29 hari sebelum semua itu.

"Sayang. Ini nanti kan bapak mau mengundang beberapa temannya yang ada di luar negeri sana, tapi masalahnya, bapak itu agak sedikit aneh.."
"Iya wajar, anaknya juga aneh."
"Kun! Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya Fayya ku sayang.."
"Masalahnya bapak nggak mau ngirim undangan via online. Bapak maunya ngirim undangan sekaligus ngirim bingkisannya langsung. Tapi tiket kesananya kan mahal dan kolega bapak itu nggak hanya berada di satu negara saja. Uhmmm, maksut Fayya, Kun mau kalau misalnya...."
"Mengantarkan undangan dan bingkisan itu langsung dalam waktu yang bersamaan?"
"Iya sayang. Gimana? Punya caranya kan."
"Ada sih gampang itu. Semua undangan yang khusus untuk disini juga aku bisa mengirimnya langsung dalam satu waktu."
"Oke deh sayang. Yuk kita tulisi undangan-undangan ini dulu. Eh Suprapto ini kurang gelarnya sayang. Nanti suka marah kalau gelarnya nggak disebut. Katanya nggak menghargai orang."
"Iya deh. Gelarnya panjang banget ya yang? Ini gelar apa kereta api sih? Hahaha.."
"Hahaha..."

Undangan-undangan itu semuanya berjumlah ribuan. Dan harus segera dikirim karena penentuan hari yang mendadak dari Fayya. Secara spontan Fayya meminta Kun menikahinya selambat-lambatnya sebulan dari selesaina telpon mereka hari itu. Kun dan Fayya menulis undangan secara manual, meskipun sebenarnya bisa dilakukan secara kilat dan hasilnya mengkilap. Tapi mereka ingin menikmati suasana yang menurut mereka butuh kejelian itu. Terutama untuk penulisan gelar beberapa tamu dari Indonesia. Seolah mereka tak bisa hidup tanpa gelar. Lalu dimana Tuhan? Sibukkah Ia mencari gelar? Demikian Kun berfikir. Tumben.

Malam. Kun duduk bersila. Matanya terpejam. Ia akan mencoba ilmu amuba. Membelah dirinya menjadi 99 bagian dalam semalam. Demi apa kalau bukan demi calon mertuanya tercinta. Turki, Pakistan, Rusia, Canada, Hiroshima, dan masih banyak kota dan negara di luar sana yang harus bisa Kun tembus tanpa memakai visa. Ilmu Amuba Baroka Hasana.

"Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Mecah telu dadi telu. Mecah limo dadi limo. Mecah pitu dadi pitu. Mecah songo dadi SongoSongo!!!!!"

Byaaarrr!!!! 

Keluar sembilan puluh sembilan macam jenis Kun dan segera melesat sesusai arah yang dituju. Dari 99 bagian itu tiap bagiannya masih memecah 99 lagi dan begitu seterusnya. Tiap bagian dari dirinya pergi membawa bingkisan dan undangan pernikahannya. Konyol bukan? Iya. Tapi ini harus dilakukannya.

Kun bisa kemana pun secara bersamaan. Undangan tersebar dari China hingga ujung Kutub Utara, ada. Padahal itu cuma temen facebook bapaknya Fayya. Siapa saja diundang, di add. Dikiranya semua orang perlu hadir di acara pernikahan anaknya. Tapi nggak mau menyebar undangan online. Iya, namanya juga demi calon mertua. 

"Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Soko songo dadi siji. Soko pitu dadi siji. Soko telu dadi siji. Seko siji bali siji!!!!!"

Sut sut sut sut sut sut sut sut sut!!!!

Bagian-bagian tubuh Kun satu persatu kembali ke tubuh Kun yang satu. Yang masih duduk bersila di kamarnya. Nafasnya tersengal. Kun ambruk seketika. Energinya benar-benar terkuras kali ini. Tidak, dia tak sampai pingsan. Hanya ingin merebah. Kemudian dia bangkit lagi dan bersila. Segelas es teh diteguknya. Matanya terpejam. Mulutnya seperti sedang menghitung sesuatu.

"Sembilan pulan enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan. Sembilan puluh delapan? Kenapa cuma sembilan puluh delapan? Terus yang satu kemana?" Kun mulai panik. Dihitungnya kembali jumlah dirinya yang sudah terkumpul. Masih sama. Tetap 98 yang berarti itu kurang 1. Kun memanggil-manggil dengan mantra-mantra dan semua kekuatannya. Tapi nihil tak ada jawaban selama hampir sebulan. Dan inilah yang menyebabkan kun gelisah hingga membekukan seisi Kantin Mbok Sum.

Kembali ke kantin mbok Sum yang membeku.
Pasrah. Sudah jelas Kun tak bisa berbuat apa-apa. Ini resiko yang belum pernah diperhitungakan sebelumnya. Dia tak tahu kalau ada bagian tertentu dari tubuhnya yang tak mau kembali. Itu artinya ada sesuatu yang hilang dari tubuh Kun, dan berpengaruh terhadap apa-apa yang di sekitarnya. Dia takut, kalau bagian yang hilang dan belum kembali itu adalah bagian dirinya, yang mencintai Fayya. 

Ponselnya berdering. Kun tersadar. Lalu seisi kantin kembali normal seperti semula. Cuma ada sedikit basah di sekitar ketiak mbok Sum.

"Kun, segera ke rumah ya. Sudah ditunggu bapak ibu makan siang. Jangan di kantin mbok Sum terus. Sayang nggak puasa kan?"
"Nggak. Aku segera kesana." jawaban Kun datar. D A T A R. Tanpa Rasa. Hambar.

Makan siang bersama keluarga Fayya dijalani dengan biasa saja. Hanya basa-basi formalitas saja. Seperti formalitas hidup menjadi manusia yang diberi kemampuan luar biasa tapi juga harus menghadapi resiko-resiko yang luar biasa sulitnya.

Selesai. Kun duduk di teras depan yang kemudian disusul Fayya.

"Tumben kamu nggak bantu ibu cuci piring yang?" Fayya bertanya.
"Nggak tahu. Lagi nggak mood." jawab Kun. Mood? Sejak kapan Kun mempertimbangkan mood dalam melakoni hidup? Bahkan baru kali ini Fayya mendengar kata itu keluar dari mulut calon suaminya. Fayya mengernyitkan dahi. Kun, masih biasa saja.
"Kamu kenapa yang?" tanya Fayya sambil memegang tangan Kun. Ada yang sedikit bergetar di tubuh Kun. Tapi Kun tak menjawab.
"Sayang, kamu tak apa kan?" Lagi suara lembut Fayya menggetarkan Kun. Dengan tiba-tiba Kun menyandarkan kepala di bahu Fayya.
"Sini sini. Sayang..." Fayya mengelus-elus kepala Kun. Dan langsung terbesit satu kata di kepala Kun, 'Ceritakanlah'.

Kun mengangkat kepalanya. Lalu mulutnya ngoceh bagai burung bercerita tentang yang telah terjadi pada dirinya. Termasuk ketakutan akan hilangnya bagian dari dirinya yang mencintai Fayya. Dan,

"Sayang, aku mencintaimu. Masih mencintai dan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu. Pun ketika cinta itu hilang dari dirimu, aku akan tetap mencintaimu." ucap Fayya membinarkan mata Kun yang sayu sebelumnya.

Ponsel Kun bergetar ada sms rupanya.
"Tenang saja aku segera pulang. Ini masih di Tokyo. Besok kamu ma Fayya bulan madu kesini aja. Udah aku pesenin tempat. Akomodasi beres. Dari Kun 'yang lain'."

Fayya tersenyum. Kun sendu.




Share:

Senin, 26 Agustus 2013

Bunga Sakti, Bunga Tini

Hari ini Kun sedang melakukan gladi bersih untuk upacara wisudanya besok. Iya, sebuah acara wisuda yang 'tanpa rasa' ini mau tidak mau harus dilakoni Kun. Untuk apalagi kalau bukan prasyarat penikahannya dengan gadis pujaan hatinya, Fayya.

"Akhirnya kamu lulus juga Kun."
"Iya pak Armando. Makasih bantuannya kemaren. Kalau bukan karena bapak, mana mungkin saya bisa menempuh ujian skripsi dan lulus seperti ini pak."
"Halah Kun, masih suka basa basi dengan bapak. Meskipun bapak sering memusuhi kamu, tapi sebenarnya bapak itu menaruh perhatian yang besar kepadamu Kun. Secara akademis kamu memang tidak diperhitungkan di kampus, tapi untuk urusan pengusiran makhluk jahat, pemindahan hujan, pengaturan kecepatan angin, pihak kampus harus berterima kasih kepadamu."
"Tapi pak, itu bukan pekerjaan sa...."
"Ah sudahlah. Jangan merendah terus gitu. Kami tahu itu Kun. Tahu sekali. Sudah, acara gladi bersih sudah dimulai tuh. Sana."
"Itu orang kenapa masih aneh aja sih. Dibilangin aku nggak pernah ngelakuin itu semua masih nggak percaya. Yang kemaren-kemaren itu kan memang kejadian wajar bin alamiah. Makhluk jahat, makhluk jahat apa. Seisi kampus ini kan baik-baik semua orangnya. Makanya aku betah. Hihihihi.. tapi ah biarin. Biar Armando, eh Pak Armando percaya juga nggak apa-apa. Yang penting aku lulus sekarang." batin Kun.

BB jadul Kun bergetar. Tertera tulisan 'Fayya' di ponsel yang katanya smartphone tapi hanya bisa buat bbm-an, sms-an, dan sesekali telfon itu.

"Maaf sayang, aku nggak bisa hadir di upacara wisudamu besok. Masih ada urusan...."
"Keluarga? Ponakan sunat?"
"Hiiiiih! Nggak usah nebak dulu kenapa sih!" 
"Iya iya. Maaf."
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang. Nggak bisa ngasih bunga ucapan selamat buat kamu besok."
"Nggak papa sayang. Udah tenang aja. Urusan keluarga lebih penting. Keluarga yang utama. Upacara wisuda juga paling kayak gitu-gitu aja. Ngebosenin. Paling aku besok ngilang. Muncul kalau pas dipanggil aja. Hihihi..."
"Heh! Sayangku nggak boleh gitu. Inget apa kata bapak kemaren. Dilarang keras menggunakan ilmu apapun! Inget nggak?!"
"Iya iya. Galak amat sih."
"Udah ya. Besok aku minta tolong sama si Isnu buat ngasih bunga ke kamu."
"Isnu?"
"Iya Isnu Isnu."
"Isnu yang jenggotnya bisa buat nyapu lantai itu?"
"Sayang nggak boleh gitu ah."
"Nggak mau! Isnu kan cowok! Masa aku nerima bunga dari cowok? Nggak nggak nggak! Mending aku nyari bunga sendiri di puncak Himalaya sana. Ih amit-amit. Cowok nerima bunga dari cowok. Nggak mau. Titik!"
"Beneran nggak mau?"
"Nggak. Sekali nggak mau tetep nggak mau."
"Berarti kamu nggak mau jadi su..."
"Oke aku mau."
"Nah gitu dong sayang. Anggap aja Isnu itu aku."
"Ih... amit a..."
"Nggak mau?"
"Mau mau mau sayaaaang...."

Yap dan dengan terpaksa sekali Kun harus berfoto dengan Isnu sebagai butki kalau dia telah menerima bunga dari Fayya. Beberapa foto menunjukkan mereka berdua saling rangkul dan menggenggam bunga bersama-sama. Sejak saat itu Kun harus mempertaruhkan harga dirinya. Yang jatuh merosot. Lebih merosot dari nilai tukar rupiah terhadap dollar.

"Hahaha.. mesra banget kalian Kun." Fayya ngakak tak terkira melihat foto-foto wisuda Kun.
"Puas? Seneng? Bahagia?" Kun jengkel.
"Sayaang. Jangan cemberut gitu ah. Dandanan udah keren gitu kok masih cemberut aja. Lagian fotonya kan masih bisa diedit sayang." Senyum Fayya menenangkan Kun.
"Sayang, makasih ya. Kadang aku masih nggak percaya bisa lulus juga."
"Iya. Sebenarnya sederhana aja sih sayang. Kamu kan bisa macem-macem ilmu yang manusia biasa nggak bisa, seharusnya kan kamu bisa dengan mudah lulus sayang."
"Yeee, ya nggak sesederhana itu sayang. Coba diulang lagi pernyataanmu."
"Yang mana?"
"Yang terakhir tadi."
"Oh, kamu kan bisa ilmu macem-macem yang manusia biasa nggak bisa..."
"Nah. Justru itu poinnya. Jadi sarjana kan manusia biasa banyak yang bisa sekarang. Yang nggak biasa itu kan kalau mereka berani hidup tanpa gelar sarjana. Jadi wajar kalau aku nggak lulus-lulus sayang."
"Kun, sayang, kamu itu cerdas tapi salah tempat. Nyebelin tahu nggak sih."
"Cie gantian cemberut cieee..."
"Habis, kamu diajak bicara serius malah ngomongnya kemana-mana."
"Iya iya maaf. Sebenarnya persoalan lulus atau nggak itu cuma masalah komunikasi kita aja sama pembimbing. Tahu kenapa aku milih pak Armando? Karena dia itu percaya banget sama aku. Selama bimbingan kemaren dia banyak cerita macem-macem tentang masalah keluarganya. Aku cuma jadi pendengar yang baik aja. Ngasih solusi juga nggak. Eh, dia nganggep semua masalah keluarganya selesai gara-gara aku kasih jampi-jampi. Nggak tahu cara berfikirnya kayak apa. Mungkin campuran spiral dan zig-zag. Hihihi.."
"Anyway sayang. Terlepas dari cerita-cerita konyol itu semua, selamat yah. Sekarang calon suamiku sudah jadi sarjana." Fayya mengecup kening Kun.
"Berarti sudah legal buka praktek?"
"Boleh sayang. Tapi cuma aku yang jadi pasienmu."

"Kuuuunnnn!!!" Gagak Rimang, Genderuwo, Pangeran Tokek, dan Serigala Botak muncul tiba-tiba dan membentuk paduan suara. Gagak Rimang suara 1. Genderuwo suara 2. Pangeran Tokek suara 3. Serigala Botak suara, anjing.
"Kalian lagi kalian lagi! Munculnya agak nanti aja kenapa sih. Gangguin adegan romantis aja. Ada apa?"
"Yeee, kita kan juga mau ngasih selamat Kun." Gagak Rimang membela diri.
"Iya Kun bener." Genderuwo mengamini.
"Iya Kun." Pangeran Tokek juga.
"You are our best friend Kun."
"Serigala Botak nggak usah sok-sok an pake bahasa Inggris kenapa sih." Kun risih. Tapi di dalam hati Kun bangga, sekaligus terharu.
"Ini Kun ada yang spesial dari kami." Gagak Rimang memberikan sekuntum bunga.
"Bunga apa itu?"
"Ini bunga sakti dari Pertapaan Batu Payung. Namanya Bunga Tini. Kepanjangan dari Bunga haTi nuraNi."
"Kenapa nggak dinamakan bunga Han...."
"Kun." Fayya memberi isyarat kepada Kun supaya diam.
"Ini bunga sakti. Tidak semua mampu mengambil bunga ini. Lebih tepatnya tidak semua orang dipertemukan dengan bunga ini. Meskipun pertapaan Batu Payung banyak menghasilkan orang-orang sakti, tapi tidak semua penduduk di sana berhasil ditemui oleh bunga Tini ini Kun."
"Terus, berarti Gagak Rimang yang berhasil ditemui oleh bunga Tini ini?"
"Bukan Kun. Uhmmm, ibumu yang ditemui Bunga Tini ini. Bunga ini titipan dari beliau."

Hening. Hening. Hening.

Fayya menyeka air mata Kun. Dia tahu, bahwa calon suaminya itu sangat merindukan ibunya di Pertapaan Batu Payung sana. Meskipun ibunya sudah merestui hubungannya dengan Fayya yang disampaikan melalui Gagak Rimang, namun tetap saja Kun masih ingin meminta restu secara langsung mencium kedua kaki ibunya.

"Sayang.." lagi-lagi senyum Fayya yang menenangkan Kun. "Anggap saja Bunga Tini ini, ibumu sayang. ibumu yang juga menjadi ibuku. Bunga Tini..."

Bunga Tini berubah menjadi kepulan asap dan seketika masuk melalui mulut Kun yang menganga secara otomatis. Tubuhnya bersinar. Matanya berbinar. Senyumnya berkibar. Laut dan langit bergetar. Kesaktian Kun, bertambah besar.... Tetapi masalahnya, bukan hanya kekuatan Kun yang bertambah besar. Perutnya juga.

Share:

Sabtu, 23 Februari 2013

Kun Si Dukun #New Look of Kun

Dari bawah, jendela di lantai dua terlihat terbuka. Di sana ada sepasang mata menatap kosong. Tatapan mata yang kadang diselingi sebuah senyuman. Senyum, cara tersederhana manusia agar terlihat bahagia. Sesekali pula ia menata rambutnya yang berbeda dari sebelumnya. Angin pagi perlahan masuk ke ruangan itu. Menyibak penutup jendela yang mengenai wajahnya. Kumis mulai sedikit tumbuh di sekitar wajahnya yang kini tampak lebih dewasa.

"Sepertinya, hidupku terasa lebih indah sekarang." gumamnya.

Pintu kamar itu terketuk pelan.
"Masuk." katanya sedikit berteriak.
"Mas Kun. Gimana? Sudah agak baikan?"
"Hehe. Dari dulu saya orangnya sudah terkenal baik mbak suster. Kok belum pulang? Dinas malam?"
"Iya iya. Percaya deh. Siapa sih yang nggak tahu mas Kun. Hehe.. Iya mas. Dinas malam. Ini masih nunggu jemputan suami."
"Berarti semalam ngesot lagi? Hahaha..."
"Hahaha.... nggak lah mas Kun. Capek ngesot terus."
"Mbak nggak marah gitu profesi mbak dijadikan bahan nakut-nakutin anak kecil gitu? Sering lho orang-orang tua sekarang nakut-nakutin anak-anaknya yang nggak mau mandi. Eh ayo mandi! Kalau nggak mandi nanti dimandiin suster ngesot lho! Gitu mbak suster."
"Hahaha... nggak papa lah mas Kun. Kita sebagai suster nggak ada yang marah kok. Nggak demo juga menuntut pencemaran nama baik. Lagian kadang kita emang ngesot juga kok."
"Lha? Yang bener?"
"Nggak lah mas Kun. Becanda. Ini sarapannya. Nanti suster pengganti akan datang jam sepuluh. Membawa obat sama makanan kecil. Mari mas Kun. Semoga segera pulih."

Kun. Pemuda yang katanya sakti itu kini harus dirawat di rumah sakit. Entah. Kata dokter seksi yang memeriksanya, dia terkena masuk angin. 

Kun batuk-batuk kecil. Terdengar dahak masih menghuni tenggorokannya. Infus sudah dicabut. Awalnya jarum infus tidak mau menembus dagingnya. Sampai beberapa kali patah, hingga akhirnya pas jarum ke-99 barulah dagingnya mampu ditembus. Itu pun bukan sembarang orang yang memasukkannya. Dia, haruslah Fayya.

"Gimana? Itu kenapa nggak dimakan?" Fayya bertanya.
"Kenapa tidak menjawab?" lagi Fayya bertanya. Ia kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang dan menghela nafas panjang.
"Mana suamimu?" suara Kun parau.
"Dia bukan suamiku." Fayya menjawab.
"Tak perlu berpura-pura. Aku tahu. Dia suamimu."
"Untuk apa aku berpura-pura. Tidak ada gunanya."
"Fayya sudahlah. Jangan kau bohongi dirimu sendiri. Dia itu suamimu."
"Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu Kun."
"Tapi aku tidak mencintaimu Fayya."
"Sekarang giliran kamu yang bohong!"
"Baiklah. Aku memang mencintaimu. Tapi setiap laki-laki punya caranya sendiri untuk mencintai..."
"Iya! Dan perempuan juga berhak untuk menentukan siapa laki-laki yang boleh mencintainya!"

Kun masih melihat di luar. Di bawah ada anak-anak kecil yang sedang berlarian sambil memegang balon. Beberapa balon itu terlepas dari genggaman. Terbang melewati wajah Kun. Fayya mengambil tisu seraya menyeka air mata yang perlahan menetes. Kemudian Kun mendatangi Fayya mendekat ke telinganya.

"Akting kamu bagus."
"Hahahaha..... Dasar orang gila! Lagian kamu ngapain pakai nanya-nanya mana suamimu mana suamimu. Hahaha..."
"Yeeee, kamu juga ngapain nanggepin orang gila. Eh tapi kita berdua bakat jadi pemain film kayaknya. Hehehe.." Kun nyengir.
"Iya dong. Secara kita udah kompak gitu. Eh gimana? Beneran udah baikan? Kapan boleh pulang? Aku kangen kamu ajak 'ngilang' terus tiba-tiba kita nongol dimana gitu. Terakhir kapan itu ya?"
"Terakhir itu. Kita nongol di acara pemilihan ketua partai."
"Hahaha. Iya Kun Iya. Kita pakaiannya serba biru, eh anggota partainya serba kuning semua. Hahaha... Tapi Kun,"
"Apa Fayya?"
"Kali ini sakit kamu benar-benar yang terparah. Lain kali hati-hati kalau pakai tenaga ya. Kalau butuhnya tenaga luar, nggak usah pakai tenaga dalam."
"Iya sayang iya."

Kun, sekarang resmi menjadi tunangan Fayya. Lamaran Kun diterima oleh keluarga Fayya meski ada hal-hal yang harus dipenuhi sebagai prasyaratnya. Satu di antaranya adalah, Kun harus lulus kuliah, dengan cara orang normal. Dilarang pakai jampi-jampi apapun, jurus apapun, ilmu apapun. Selulus-lulusnya meski sampai berdarah-darah sekalipun. Anehnya Fayya mau menunggu dengan jatuh tempo yang tidak menentu pula. Dari dulu tidak berubah. Padahal Kun juga tidak menggunakan jampi-jampi apapun. Malah kadang Fayya-nya yang aneh sering menggoda Kun. "Pelet aku Kun! Pelet aku!!!" Itu anak, perempuan yang cukup mengerikan ternyata.

Iya. Sebenarnya dia sampai dirawat dua bulan di rumah sakit hanya gara-gara hal yang spele. Malam itu angin terasa biasa saja. Salah satu kerabat Fayya akan menggelar pesta pernikahan esok harinya. Namun ada kesalahan fatal yang dilakukan beberapa orang yang mengaku bisa mengendalikan hujan. Mereka membentengi rumah sekitar kerabat Fayya tapi dengan cara yang overload. Mereka tidak hanya membentengi dari air hujan, tapi juga dari angin. Sebenarnya Kun sudah merasakan ada hal yang kurang beres. Namun sebagai anak muda, dia harus tetap menghormati orang-orang itu. Dia sudah mewanti-wanti kepada Fayya untuk menyediakan beberapa perlengkapan penyelamatan jika terjadi hal-hal yang mengerikan.

Benar saja. Keesokan harinya sesaat setelah pesta baru saja di mulai, datang angin dari timur dengan kecepatan yang tinggi.
"Sial!" batin Kun. Sejurus kemudian segera dia mengambil kuda-kuda melakukan antisipasi. Itu seperti angin yang balas dendam karena semalam dibuang-buang dianggap sesuatu yang tidak berguna.
"Kalian payah! Seharusnya kalian buang air saja! Tak perlu buang angin segala!" Kun memaki orang-orang itu. Tapi yang dimaki tidak mengerti karena menurut mereka susunan kalimat Kun aneh.
"Buang air saja, tak perlu buang angin?" mereka garuk-garuk pantat.
"Ah sudah lah."

Lantas Kun berlari menjemput sekawanan angin berkecepatan tinggi itu.
"Ini sudah terlambat. Tak mungkin aku alihkan ke lain tempat. Satu-satunya cara adalaaaaahhh........ Hiyaaaaaaa!!!! ANGIN ANGIN ANGIN JANGAN KAU BENCI ANGIN KARENA IA PEMILIK INGIN!!!!"

Kun masuk ke pusaran angin itu dan menyedot semua angin, hingga tubuhnya dipenuhi angin. Ini adalah masuk angin terbesar dalam sejarah umat manusia. Cara mengeluarkan anginnya manual. Dalam sehari dia harus kentut seratus kali selama dua bulan berturut-turut. Syukur bisa berak. Dan di rumah sakitlah dia mendapat obat perangsang buang angin. Di tempat tambal ban nggak ada.


Di kantin Mbok Sum,
"Kamu itu ya aneh. Dimana-mana makan itu nasi, ini angin kamu makan."
"Kalau mbok Sum jadi Kun apa yang mbok lakukan."
"Hmmm. Aku sih sederhana. Aku ambil wajan jumbo, aku goreng angin itu."
"Tambah aneh mbok."
"Bentar mbok goreng tahu di belakang dulu. Kamu minum apa?"
"Biasa mbok air kembang. Gulanya sedikit."

Muncul secara misterius sebuah surat di meja Kun.
"Haduh. Capek deh capek deh! Capek deh capek deh capek deh! Tahun udah berganti, kenapa cara kalian masih manual seperti ini sih! Keluar keluar keluar! KELUAR! CEPETAN KELUAR NGGAK!!!"
"Horeeeee Kuuuuunnnnnn!!!!!" Pangeran tokek, Genderuwo, Gagak Rimang, Serigala Botak semuanya muncul. Mereka memeluk Kun.
"Wuih! Dandanan baru cint? Genderuwo! Kamu keren lho pakai blazer kayak gitu! Pangeran Tokek astaga rambutnya! North Korean style! Gagak Rimang, ponimu aduuuhhh!! Keren abis! Serigala botak, percuma. Buang wig itu. Buang."
"Hahaha...Kun sudah kembali saudara-saudara!"
"Kun ini es teh.... Ha?!! Kamu punya boyband sekarang?!!" Mbok Sum terkejut.
"Sssttttt....." mereka kompak menyuruh mbok sum diam. Mbok Sum freeze.
"Kun, kamu juga harus seperti kami. Ganti mode. Ikat kepala kayak gitu sudah ketinggalan jauh! Sekarang pakai ini." Pangeran tokek memberikan topi hitam dengan lambang huruf K di tengah.
"Pakai ini juga!" Genderuwo memberikan jas hitamnya.
"Ini juga!" Gagak Rimang memberikan kemeja hitamnya.
"Dan yang terakhir ini juga." Kun menerima kaca mata hitam dari Serigala Botak.

"Berubah!!!!" Kun terlihat keren.

Fayya datang. Ia kaget melihat Kun yang berubah jadi lebih keren, rapi, bersih, dan tampan.
"Aku Kun sayang! Kun!"
"Nggak percaya!" Fayya cemberut.
"Aku Kun! Eh teman-teman aku Kun kan?" mereka mengangguk.
"Nggak! Nggak percaya!"
"Beneran deh. Aku Kun kok."
"Baiklah. Cuma ada satu cara untuk membuktikan kamu Kun atau bukan. Mbok Sum! WAJAN JUMBO!!!"

Kun pasrah. Wajan jumbo mendarat di kepalanya. Teriakkan kesakitannya khas, dan itu tidak bisa ditirukan oleh siapapun.


Share:

Rabu, 26 September 2012

Kun Si Dukun #Nikah Masal[ah]

"Hidup itu juga harus tahu kapan matematikanya, kapan fisikanya, kapan kimianya, kapan bahasanya, kapan sosialnya, kapan kapannya Fayya." lelaki berkaca mata kecil itu memandang serius ke wajah anak perempuannya.
"Iya Pak. Fayya ngerti. Tapi dia sangat serius dengan Fayya pak. Hanya dia lelaki yang Fayya kenal dengan tingkat keseriusan level panglima perang pak."
"Fayya, anak tercantikku satu-satunya. Bukan bapak tidak setuju kalau kamu menikah dengan anak itu. Tapi kamu juga harus paham, siapa sebenarnya dia itu. Seberapa kenal kamu dengannya? Fayya, nikah itu bukan hanya urusan cinta. Harus benar-benar cukup bekal. Tidak asal nikah saja. Banyak hal atau masalah-masalah baru yang akan muncul, yang pasti akan kalian hadapi. Apalagi kamu sebagai perempuan. Harus selektif. Bobot bibit bebetnya jelas. Bukan asal cinta saja. Kerja apa dia?"
"Mmmmm, cuma seorang tukang cuci piring di kantin Mbok Sum. Kantin di kampus Fayya."
"Hmmm. Cuma tukang cuci piring? Kamu lebih baik bercermin sekali lagi Fayya. Kamu itu calon dosen. Tinggal beberapa langkah lagi, harapan bapak ke kamu segera terwujud. Kamu jangan lantas merusak cita-cita luhur keluarga ini Fayya. Bapak sudah mati-matian menguliahkan kamu ke kampus itu. Tidak sedikit biaya yang bapak keluarkan untuk studimu itu Fayya."
"Tapi sekarang Fayya kan sudah mampu mencari uang sendiri. Fayya kan nggak minta lagi sama bapak, sama ibu."
"Fayya. Lebih baik kamu dengarkan perkataan bapakmu itu. Ini demi kebaikanmu. Demi masa depanmu Fayya." perempuan dengan sedikit uban di poninya itu ikut menimpali. "Kamu yakin bakal hidup bahagia dengan seorang tukang cuci piring? Fayya, tolong jangan gegabah mengambil keputusan. Kamu itu calon intelektual di kampusmu."
"Tapi dia sangat menyayangi Fayya bu. Berkali-kali dia menyelamatkan hidup Fayya. Dia yang menjaga martabat, harga diri, bahkan nyawa Fayya bu. Cuma dia bu."
"Omonganmu semakin ngawur. Dia Superman? Spiderman? Iron Man?"
"Terserah kalau bapak nggak percaya sama Fayya. Yang penting Fayya sudah bicara dan memohon doa restu dari bapak ibu."
Kemudian Fayya bergegas pergi menuju kamar tidur. Sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Bapak ibunya kembali melakukan diskusi terkait dengan masalah Fayya. Orang tua. Segala sesuatu yang dilakukan selalu tentang kebahagiaan anaknya.
"Fayya sudah dewasa pak. Sudah sepantasnya dia menentukan pilihannya sendiri."
"Tapi bu. Apa kata orang nanti. Seorang dosen menikah dengan tukang cuci piring. Itu hanya terjadi di film-film murahan. Sangat tidak mungkin terjadi disini bu."
"Iya pak. Ibu paham. Cuma masalahnya Fayya sepertinya benar-benar mencintai tukang cuci piring itu."
"Gini aja. Bapak cari orang pinter aja. Bapak mau konsultasi gimana sebaiknya. Siapa tahu Mbah Nolet punya solusinya."
"Lho bukannya Mbah Nolet sudah lama meninggal pak?"
"Belum. Mbah Nolet sengaja menghilang. Hanya beberapa orang dekat, termasuk bapak yang masih punya pin BB nya. Dia langganan keluargaku dulu."
"Langganan? Berarti bapak sebelum menikahi ibu sempat berkonsultasi juga sama Mbah Nolet?"
"Hehehehe. Iya."
............

Rumah itu biasa. Seperti rumah kebanyakan. Ada pintu, jendela, genteng, ubin, teras. Hanya aura yang memancar dari rumah itu yang berbeda. Seperti sesuatu yang menyimpan energi dahsyat.
"Sulit. Sulit. Sangat-sangat sulit."
"Apanya Mbah?"
"Sulit. Aku sulit membaca siapa anak ini sebenarnya."
"Maksutnya mbah?"
"Lelaki yang dicintai anakmu Fayya ini belum bisa ku analisa sekarang. Tapi kalau melihat tanggal lahir dari keduanya, mereka memang lebih baik tidak bersama. Kalau mereka bersama, akan terjadi masalah dengan anakmu. Masalah itu bukan masalah spele. Itu masalah besar."
"Kata Fayya, anak itu lahir hari Selasa Pahing mbah."
"Iya dan anakmu Rabu Wage?"
"Iya mbah."
"Sangat-sangat berbahaya. Angin ketemu api itu. Sangat-sangat tidak cocok. Atau begini saja. Kamu undang anak itu ke rumahmu. Pertemukan aku dengan dia. Biar aku terangkan padanya kalau lebih baik dia pergi jauh saja dari Fayya."
"Iya mbah. Kalau bisa sedikit diberi apa gitu, biar dia semakin mantap meninggalkan Fayya."
"Hmmm. Itu urasan mudah. Serahkan saja semuanya padaku."
.............

Di kantin Mbok Sum,
"Ini Kun bayaranmu bulan ini."
"Makasih Mbok."
"Nggak dihitung dulu Kun?"
"Nggak mbok. Kun percaya."
"Bocah aneh. Itung dulu sana!"
"Mbok, aku kerja disini bukan cari duit mbok."
"Halah. Sok sok an. Itung apa nggak?!"
"Iya deh iya. Mbok, ini kok 250 ribu?"
"He? Berapa?"
"250 ribu mbok."
"Sini coba mbok lihat. Oh iya. 250 ribu."
"Berarti kelebihan mbok. Biasanya kan cuma 150."
"Makanya mbok suruh ngitung dulu. Maksut mbok ya gini ini. Mungkin masih ada kelebihan gitu."
"Ealah mbok mbok."
"Eh sudah ditunggu Fayya dari tadi di depan. Wajahnya serius. Nggak pake headset. Pasti lagi ada apa-apa kalian."
"Bentar mbok. Kun keluar dulu."

"Kun, aku mau ngomong. Ini serius."
"Iya. Langsung aja."
"Tapi jangan potong sebelum aku selesai bicara."
"Iya. Mana berani aku motong pembicaraanmu."
"Janji ya."
"Iya janji."
"Serius?"
"Iya serius."
"Bener ya."
"Iya bener. Ini kapan kamu ngomongnya?"
"Aku sudah bilang sama bapak ibuku. Aku sudah cerita banyak tentang kamu. Intinya, mereka belum bisa merestui hubungan kita. Aku belum bisa menikah denganmu."
"Menikah? Emang siapa yang ngajak kamu nikah?"
"Ya kamu lah Kun! Jangan bilang kamu lupa ya?"
"Kapan aku pernah melamarmu?"
"Eh ini anak beneran bodohnya! Jangan sampai aku ngeluarin headset ya."
"Apa sih? Nggak ngerti aku."
"Heh! Cincin matahari yang kamu kasih ke aku itu untuk apa?!!!"
"Oalah. Cincin itu? Iya iya baru inget. Aduh maap maap."
"Hihhh!!!"
"Oh jadi bapak ibu nggak setuju? Baguslah kalau gitu."
"Ha? Kamu bilang bagus?"
"Iya. Kalau emang dengan itu kamu bisa lebih bahagia kan aku juga ikut bahagia."
"Terus cincinnya?"
"Ya buat kamu lah. Nggak bakalan aku minta. Kan bapak ibumu nggak setuju."
"Kun. Bapak ibu bukan NGGAK setuju, tapi BELUM setuju."
"Oh..."
"Ngomong sama kamu itu kalau nggak di CAPSLOCK kok susah sepertinya."
"Terus ada penawaran apa dari bapak?"
"Penawaran? Kamu kira jualan apa? Ada sih Kun. Bapak minta kamu maen ke rumah ku. Bapak ingin ngobrol dulu sama kamu. Bapak ingin tahu lebih banyak tentang siapa kamu."
"Emang kamu belum cerita?"
"Udah."
"Terus?"
"Aku diketawain bapak. Katanya kamu dikira Superman yang sehari-harinya bekerja sebagai pencuci piring di kantin Mbok Sum."
.......

Senyap. Suara jangkrik hampir tak ada. Angin juga enggan berhembus kencang-kencang. Nyamuk apalagi. Seperti tak enak hati ikut ngerumpi. Iya sekarang Kun di hadapkan dengan sesuatu yang belum pernah sama sekali dialami. Berhadapan dengan makhluk sakti apapun dia tak gentar. Tapi untuk berhadapan dengan calon mertua, ini lain cerita. Tapi bukan Kun kalau tak bisa mengatasinya.
"Diminum dulu tehnya." Bapak Fayya berbasa-basi.
"Iya pak." Sruputttt....
"Bagaimana? Terlalu manis?"
"Nggak pak. Pas."
"Fayya yang bikin."
"Enak kok pak. Enak."
"Jadi, Kun serius dengan anak saya?"
"Kalau bapak ibu berkenan ya, saya ingin melanjutkan ke level, eh kok level, tahap berikutnya pak. Menikah."
"Tak gampang lho orang menikah dan berumah tangga itu."
"Iya pak. Tapi meskipun sulit, kenyataannya bapak ibu bisa melakukannya. Iya kan? Kalau bapak ibu bisa, kenapa saya nggak mampu?" Kun mengeluarkan kata-kata yang salah tempat sepertinya.
"Kamu yakin sekali Kun. Apa modalmu?"
"Saya pak? Saya nggak punya modal apa-apa."
"Terus bagaimana kamu mau melanjutkan hubungan kalian kalau tanpa modal?"
"Pak, kalau orang punya modal, lalu dirinya jadi sukses, itu sudah biasa pak. Tapi kalau nggak punya modal sama sekali, lalu dia sukses, itu baru dahsyat pak. Kalau pun dia tidak meraup keuntungan dari usahanya itu, dia nggak akan pernah rugi pak. Orang dia nggak ngeluarin modal apa-apa. Darimana dia bisa rugi?"
Bapak Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"
"Nak Kun. Bukan begitu. Masa depan kan penting. Rencana juga harus ada. Apa rencanamu ke depan?"
"Kalau saya sama Fayya sudah merencanakan dan sepakat untuk menikah bu."
"Iya ke depannya?"
"Iya menikah itu bu."
"Maksut ibu..."
"Iya bu. Kami berdua sudah sepakat untuk menikah dan menikah. Menikah terus setiap hari. Menikah dengan enak dan tidak enaknya kehidupan. Termasuk menikah dengan masalah-masalah baru nantinya."
Ibu Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"

"Bapak ibu ke dalam sebentar. Ada yang harus kami bicarakan. Nanti akan ada yang menemani nak Kun ngobrol."
"Asyikkkk. Fayya?"
"Bukan. Ntar kamu juga tahu sendiri."

Lalu sosok Mbah Nolet keluar. Kun menemuinya. Ada pembicaraan penting disana. Hanya mereka berdua yang tahu............

..........
Di Kantin Mbok Sum (lagi)....
"Kuuuunnnn!!!!!" Fayya teriak kegirangan. Hampir memeluk Kun tapi tak jadi.
"Hmmm. Ada apa sih tuan putri pagi-pagi udah teriak-teriak?"
"Kunnnnn!!! Aku punya kabar baik!!!!"
"Iya iya. Duduk dulu kenapa sih."
"Kun. Bapak Ibu sudah menyetujui hubungan kita. Yeeeyyyyy!!!!"
"Oh.."
"Just Oh? Datar banget! Ih sebel deh!"
"Iya kan kata bapak ibumu yang terpenting ke depannya. Bukan saat ini aja. Hehehe..."
"Iya sih. Eh kamu tau nggak sih siapa yang bicara sama kamu semalam? Itu Mbah Nolet lho. Mbah Nolet itu orang kepercayaan keluargaku. Mmmm..."
"Penasehat spiritual? Psikolog? Konsultan? Profesor kejiwaan?"
"Iya semacam itu sih. Kamu tahu?"
"Gini aja deh. Aku ajak kamu ke rumahnya aja."
"Emang kamu tahu rumah?"
"Udah deh, masa sama calon suami nggak paham-paham juga."
"Ih, mulai kumat songongnya!"
"Yuk sekarang aja."
"Sepagi ini?"
"Iya. Mau nggak?"
"Mau mau..."
........

"Mbah! Mbah Nolet! Mbah! Bangun Mbah! Jam segini masih tidur! Mbah! Woy! Bangun woy!"
"Masih tidur kali Kun."
"Haduhhh. Siapa sih pagi-pagi gini udah teriak-teriak. Iya bentar!!!"

"Ehhhh, nak Kun. Mari masuk-masuk." Mbah Nolet menciumi tangan Kun. Berkali-kali. Fayya melongo sendiri. Dia tidak percaya dengan peristiwa aneh hari ini.






Share: