Soal duit, jangan ditanya. Dukun kok ditanya soal remeh temeh begituan. Jangan sekali-kali menanyakan soal punya duit berapa kepada Kun. Bisa-bisa rumah kalian dipenuhi dengan duit saat kalian bangun tidur. Pernah ada satu orang berusaha 'iseng' dengan Kun. Dengan berkacak pinggang, orang itu mencoba mempermalukan Kun di depan umum. Bahkan di depan keluarga besar Fayya.
"Kamu? Jadi guru? Punya apa kamu? Ha?!"
Kun tidak berbicara sepatah kata pun. Dia menahan diri. Atau lebih tepatnya, Fayya menahan dirinya.
"Ayo buktikan kalau kamu sakti! Coba beri aku uang yang banyak!"
Karena sudah cukup lama menahan, Kun akhirnya bersuara, "Besok, ketika anda membuka mata, uang itu akan ada di rumah anda. Jumlahnya akan selalu lebih banyak dari yang anda bayangkan."
Keesokan harinya, orang tersebut mendapati lembaran demi lembaran uang yang jumlahnya memang sangat banyak. Dengan hati yang gembira, dia pergi ke sebuah bank bermaksud menyimpan uang-uangnya.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau menabung. Atau deposit. Atau apalah yang penting uang ini aman dan saya bisa menikmati bunganya."
"Oh, bisa kami hitung dulu uangnya bapak."
Orang itu mengangkat tasnya. Kemudian mengeluarkan beberapa tumpuk uang kertas. Teller menerimanya dengan wajah sumringah. Begitu akan dihitung,
"Lho Pak? Ini mata uang negara mana?" Teller terbelalak.
"Itu uang asli kok mbak."
"Iya saya tahu Pak. Ini asli. Mesin pendeteksi juga menunjukkan tidak ada masalah. Tapi saya belum pernah lihat mata uang ini Pak."
"Coba saya lihat mbak."
Di sudut kanan atas uang itu ada tulisan, 'Alat Tukar Sah Padepokan Batu Payung'.
"Sayang. Hati-hati ya. Semoga studi banding di Padepokan Batu Payungnya lancar. Semoga nanti sepulang dari sana membawa sesuatu yang bisa diterapkan di sini. Termasuk kurikulumnya."
"Iya sayang. Kesaktian setiap manusia harus dimunculkan."
"Harus ya sayang?"
"Nggak juga sih. Nggak juga nggak apa-apa."
"Lha terus ngapain kamu jauh-jauh sampe kesana?"
"Jauh?"
"Iya. Batu Payung kan jauh sayang."
"Yang bilang jauh siapa?"
"Lho bukannya kamu yang bilang?"
"Batu Payung itu hanya tiga puluh tiga kali kedipan mata sayang."
"Ealah. Lha buat apa kamu bawa barang banyak banyak kayak gitu sayang?"
"Ya buat gaya aja. Biar kesannya habis dari perjalanan jauuuuuhhhh...."
"Ya udah. Kalau gitu aku ikut."
"Ealah. Aku mau studi banding kurikulum berbasis kesaktian lokal sayang. Jangan ikut dulu. Cuma lokal lho. Deket. Kesaktian lokal itu kayak misalnya tanganmu gatal, terus tumbuh benjolan merah kecil, terus kamu tahu kalau penyebab benjolan merah itu karena digigit nyamuk. Pengetahuanmu soal penyebab kegatalan, itulah kesaktian lokal sayang."
"Bodo amat. Pokoknya aku ikut."