Rabu, 09 November 2016

#Tenaga Dalam Negeri

Batu Payung. Keadaannya selalu sama. Tenang. Rindang. Penuh kasih dan sayang. Hanya saja mulai muncul beberapa anak cabang padepokan. Terhitung Padepokan Batu Payung sudah memiliki cabang ketujuh karena jumlah murid yang membludak. Padepokan Batu Payung memiliki jargon "Pengen Sakti? Jangan Ke Sini!".
Padepokan yang Ibunda Kun turut berpartisipasi di dalamnyq merupakan Padepokan yang pertama kali dirintis. Dan jangan harap kita akan bertemu dengan orang-orang sakti di sini. Yang kita temui adalah orang-orang yang dititipi dua jenis kemampuan saja. Kemampuan menanam dan kemampuan mengolah.
Seperti Ibunda Kun yang memiliki kemampuan mengolah bahan apa saja menjadi masakan yang super lezat. Dan seperti itu pula yang diingat Kun ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Batu Payung.

"Gimana Fayya? Sudah isi?"

Kun tak langsung menjawab karena mulutnya dipenuhi oleh potongan ayam kampung goreng.

"Belum. Minta restunya ya bunda."
"Selalu. Ibu selalu merestuimu nak."
"Kalau bisa laki-laki. Sehat."
"Iya. Sehat pasti."
"Kakek sekarang dimana?"
"Kakek lagi meresmikan cabang ke tujuh."
"Lho? Katanya sudah dibuka pendaftaran. Kok baru diresmikan?"
"Nak, ini Batu Payung."
"Sepertinya Batu Payung sudah mulai membuka diri ya Bun."
"Bukan. Batu Payung tidak pernah promosi kesana kemari. Bikin spanduk juga tidak. Nyebar brosur apalagi."
"Mereka tahu dari mana?"

Ibunda Kun menjawab dengan senyuman. Dalam hatinya dia berkata bahwa Batu Payung menjadi seperti ini karena sepak terjang Kun di luar sana. Namun Ibunda Kun merahasiakan ini semua. Supaya Kun tidak terlalu berat tanggung jawabnya.

"Bunda masih kelihatan cantik. Padahal sudah tua ya."
"Ini, Batu Payung. Apapun bisa terjadi di sini. Yang tidak mungkin di luar sana, menjadi mungkin di sini."

Mendengar itu Kun menghentikan makannya. Dia mencerna pernyataan sang ibu.

"Yang tidak mungkin di luar sana, menjadi mungkin di sini? Berarti keinginanku untuk membuat sekolah yang mengadopsi Kurikulum Berbasis Kesaktian Lokal dari Batu Payung, hanya bisa terwujud di Batu Payung saja? Kata Fayya ide-ideku tentang sekolah tidak mungkin diwujudkan di sana..."
"Kenapa nak?"
"Ah, nggak apa-apa."
"Kamu lupa? Ini,"
"Batu Payung. Ibu sudah tahu berarti?"
"Tidak ada salahnya mencoba nak. Jangan takut gagal. Jangan takut kalah. Kalau ingin sakti?"
"Jangan ke sini. Itu yang bikin jargon pasti Kakek."
"Siapa lagi. Itu saja terpaksa. Dan itu sebenarnya bukan jargon. Itu kenyataan lapangan. Kakekmu sudah tak ingin menerima murid lagi. Muridnya Kakek ya cuma kamu itu."
"Aku pikir dulu semua kesaktian kakek sudah lenyap karena sudah dipindah ke dalam tubuhku."
"Ibu kasih tahu satu rahasia. Nanti kalau kamu lihat atau dengar ada murid-murid yang membicarakan satu ilmu bernama Tenaga Dalam Negeri, kamu jangan kaget ya."
"Kenapa?"
"Ilmu itu menjadi ilmu favorit yang paling ingin dipelajari oleh murid-murid di sini."
"Favorit? Seberapa hebat ilmu itu?"
"Nggak ada. Itu tenaga dalam yang biasanya dipelajari."
"Terus kenapa ada tambahan negeri di belakang?"
"Kayak kamu nggak kenal kakekmu aja. Terserah dia mau melabeli ilmu itu apa. Mungkin besok meningkat lagi. Tenaga Luar Negeri. Atau Tenaga Dalam Tenaga.
"Ahahaha... kakek kakek. Kakek tak pernah berubah. Aku juga mau buat ilmu baru. Tenaga Dalam Bangeeettt....."

Mereka tertawa. Dari jauh si Kakek tahu, cucu kesayangannya pulang. Dia bahagia.

"Apakah ramalan itu benar-benar akan terjadi?" batin si Kakek.

Share:

Senin, 31 Oktober 2016

#Kurikulum Berbasis Kesaktian Lokal

Kun mengemasi barang-barangnya. Setelah memastikan bahwa Fayya aman ditinggal sendirian untuk waktu yang lama, Kun berpamitan dengan istri tersayangnya.

"Salam buat penduduk Batu Payung sayang."
"Iya."
"Salam juga buat ibu."
"Beres. Kalau ada apa-apa, kamu tahu apa yang harus dilakukan sayang."
"Hu'um. Tinggal bilang aja kalau aku suami dari dukun abad terkini."
"Pinter."

Batu Payung. Tempat kelahiran Kun. Sudah lama Kun tak menginjakkan kaki di Batu Payung. Karena sejak kecil Kun sudah dibawa menjauh dari Batu Payung dan ibunya oleh kakeknya. Tujuannya satu, memastikan potensi ke-dukun-an dalam diri Kun bisa maksimal semaksimal-maksimalnya. Kalau sejak kecil dia terbiasa dengan kemanjaan, bisa jadi dia tidak menjadi seperti yang sekarang ini. Alih-alih dia malah menjadi dukun manja. Maunya serba ada. Serba cepat. Bahkan serba menguntungkan secara ekonomikal. Itu yang sangat dihindari Kun. Maka ketika dulu, Kun ditawari untuk menjadi seorang guru dengan gaji di bawah rata-rata, atau Kun menyebutnya, 'Gaji Kerak Bumi', Kun mengiyakan. Dia harus mau melakoni hidup sebagai manusia manusia wajar.

Namun, setelah Kun tahu, bahwa itu adalah misi yang dilakukan temannya si Genderuwo untuk menyelamatkan Kepala Sekolah yang asli dari pengaruh energi tak bertanggung jawab, Kun menyadari, bahwa memang tugasnya di sini adalah menjadi dirinya sendiri. Menjadi Kun yang seperti di dalam kisah ini. Menjadi Kun yang sudah beristri. Menjadi Kun yang, orang bilang, cukup sakti untuk menjadi penguasa di rumahnya sendiri.

Misi itu selesai sudah lama sekali. Setelah tuntas Kun memutuskan untuk keluar dari sekolah. Meskipun sebenarnya Kun sudah ditawari untuk menjadi penasehat di yayasan sekolah itu, Kun menolaknya. Dia tidak mau terjebak oleh kenyamanan-kenyamanan semu. Atau dengan alasan yang cukup bisa diterima, yaitu bahwa lebih mudah menjadi orang sakti daripada menjadi penasehat yayasan yang tanggung jawabnya sangat besar. Menjadi sakti birokrasinya tidak rumit. Itu menurut Kun.

Soal duit, jangan ditanya. Dukun kok ditanya soal remeh temeh begituan. Jangan sekali-kali menanyakan soal punya duit berapa kepada Kun. Bisa-bisa rumah kalian dipenuhi dengan duit saat kalian bangun tidur. Pernah ada satu orang berusaha 'iseng' dengan Kun. Dengan berkacak pinggang, orang itu mencoba mempermalukan Kun di depan umum. Bahkan di depan keluarga besar Fayya.

"Kamu? Jadi guru? Punya apa kamu? Ha?!"

Kun tidak berbicara sepatah kata pun. Dia menahan diri. Atau lebih tepatnya, Fayya menahan dirinya.

"Ayo buktikan kalau kamu sakti! Coba beri aku uang yang banyak!"

Karena sudah cukup lama menahan, Kun akhirnya bersuara, "Besok, ketika anda membuka mata, uang itu akan ada di rumah anda. Jumlahnya akan selalu lebih banyak dari yang anda bayangkan."

Keesokan harinya, orang tersebut mendapati lembaran demi lembaran uang yang jumlahnya memang sangat banyak. Dengan hati yang gembira, dia pergi ke sebuah bank bermaksud menyimpan uang-uangnya.

"Maaf, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau menabung. Atau deposit. Atau apalah yang penting uang ini aman dan saya bisa menikmati bunganya."
"Oh, bisa kami hitung dulu uangnya bapak."

Orang itu mengangkat tasnya. Kemudian mengeluarkan beberapa tumpuk uang kertas. Teller menerimanya dengan wajah sumringah. Begitu akan dihitung,

"Lho Pak? Ini mata uang negara mana?" Teller terbelalak.
"Itu uang asli kok mbak."
"Iya saya tahu Pak. Ini asli. Mesin pendeteksi juga menunjukkan tidak ada masalah. Tapi saya belum pernah lihat mata uang ini Pak."
"Coba saya lihat mbak."

Di sudut kanan atas uang itu ada tulisan, 'Alat Tukar Sah Padepokan Batu Payung'.

"Sayang. Hati-hati ya. Semoga studi banding di Padepokan Batu Payungnya lancar. Semoga nanti sepulang dari sana membawa sesuatu yang bisa diterapkan di sini. Termasuk kurikulumnya."
"Iya sayang. Kesaktian setiap manusia harus dimunculkan."
"Harus ya sayang?"
"Nggak juga sih. Nggak juga nggak apa-apa."
"Lha terus ngapain kamu jauh-jauh sampe kesana?"
"Jauh?"
"Iya. Batu Payung kan jauh sayang."
"Yang bilang jauh siapa?"
"Lho bukannya kamu yang bilang?"
"Batu Payung itu hanya tiga puluh tiga kali kedipan mata sayang."
"Ealah. Lha buat apa kamu bawa barang banyak banyak kayak gitu sayang?"
"Ya buat gaya aja. Biar kesannya habis dari perjalanan jauuuuuhhhh...."
"Ya udah. Kalau gitu aku ikut."
"Ealah. Aku mau studi banding kurikulum berbasis kesaktian lokal sayang. Jangan ikut dulu. Cuma lokal lho. Deket. Kesaktian lokal itu kayak misalnya tanganmu gatal, terus tumbuh benjolan merah kecil, terus kamu tahu kalau penyebab benjolan merah itu karena digigit nyamuk. Pengetahuanmu soal penyebab kegatalan, itulah kesaktian lokal sayang."
"Bodo amat. Pokoknya aku ikut."


Share:

Minggu, 30 Oktober 2016

#Sekolah (Beda) Alam

Regenerasi. Itu yang ada di benak Kun setelah 'tamu' itu pergi. Pertanyaan si tamu berkostum serba ungu itu membuat Kun harus memikirkan masa depan. Bukan hanya keturunan secara biologis, namun juga persoalan, kemana semua ilmu Kun akan ditransfer? Karena Kun juga punya prediksi, bahwa ilmu dan kemampuan yang dimilikinya tidak akan lenyap begitu saja. Kemampuan itu akan mencari pemiliknya. Ada yang secara random, tapi ada juga yang bisa diarahkan oleh si empunya ilmu. Bisa dipilih akan dikemanakan ilmu-ilmu tersebut.
Kalau anak dari garis keturunan sendiri, agak kurang mungkin karena Kun sudah bercampur dan tercampur dengan Fayya. Jadi Kun mencoba cara lain. Dia mencoba membicarakan ini dengan Fayya.

"Sayang, bikin sekolah yuk."
"Sekolah? Buat apa?"
"Ya buat bersekolah."
"Kamu aneh-aneh aja Kun. Ide yang lebih brilian gitu nggak ada? Jaman sekarang orientasi sekolah itu harus ke cara pikir ekonomikal. Semua sekolah juga sama. Mau atas nama apapun visi misinya, yang dicari juga asas, semakin laku semakin mahal. Harusnya kan semakin laku semakin murah. Duitnya kan udah banyak."
"Aku nggak mau bikin sekolah yang kayak gitu. Aku mau bikin sekolah yang melatih anak-anak menjadi sakti."
"Kamu ngomong apa sih yang?"
"Aku kepikiran, bahwa makhluk atau manusia sejenis aku jumlahnya pasti banyak. Hanya saja mereka tidak mau menampakkan diri. Ada dua alasan, malu atau takut tidak dapat mengendalikan kekuatannya dan menjadi jahat."
"Emang tahu dari mana kalau jumlah manusia kayak kamu itu banyak?"
"Entahlah. Ada informasi tadi malam."
"Oh. Tamu yang berbaju serba ungu semalam?"
"Lho kok kamu tahu. Kamu sama aku kan sedang nonton..."
"Sayaaaang, aku tahu kamu membelah diri. Aku sudah hafal gejalanya. Pokoknya aku sudah kenal kamu luar dalam. Nggak usah heran deh. Dukun kok masih sering keheranan gitu? Lagian baju yang mereka pakai itu jemuran Mbak Sri tetangga depan rumah itu."
"Ealah."
"Terus kalau anak-anak itu sudah sakti emang mau ngapain? Menyelamatkan bangsa dan negara? Dari apa? Emang negara kita sedang perang? Orang negara ini aman-aman saja kok. Mending mikir yang lain sayang."
"Aku mau bikin sekolah yang beda. Apa-apanya beda. Kurikulumnya beda. Guru muridnya juga beda. Lintas demensi."
"Mulai deh. Si Genderuwo lagi yang jadi kepala sekolahnya?"
"Bisa jadi. Nggak tahu sayang kok malah jadi pengen bikin sekolah ya."
"Apa? Sekolah Sakti Sekolah Berbakti?"
"Kalau bisa muridnya dari bayi umur tujuh bulan. Jadi nanti memonitor perkembangan kemampuannya bisa maksimal."
"Kayaknya kamu harus menenangkan diri dulu Kun sayang. Isi kepalamu sudah mulai hilang kendali."

Fayya ke dapur dan membuatkan air kembang hangat dengn sedikit gula kesukaan Kun. Tak ketinggalan kerupuk terasi digoreng sebagai camilan. Fayya tahu, kalau Kun gelisah, itu sangat berbahaya. Kegelisahannya bisa mendatangkan badai petir.

"Ini diminum dulu. Sudah nggak usah terlalu dipikir sayang. Bikin sekolah itu nggak gampang. Itu pondasi dasar dari kehidupan manusia. Sebelum menjadi apa-apa dia diwajibkan oleh negara untuk bersekolah. Kalau nggak,"
"Mereka nggak akan dianggap manusia."
"Hu'um."
"Sekolahnya harus tidak terlihat sebagai sekolah. Yang tampak oleh indera bukan sekolah. Tapi mereka tetap belajar dalam bimbingan. Kemampuan mereka tetap ada yang mengawasi."
"Habis ini kamu tidur Kun. Besok dilanjutkan lagi."
"Sekolahnya harus beda. Benar-benar beda. Harus beda. Sekolahnya beda. Sekolah beda. Sekolah beda alam."

Kemudian terdengar suara Kun ngorok. Keringat dinginnya keluar. Fayya mengambil selimut. Di luar mendung mengintai. Tapi tak lama kemudian pergi. Karena Kun sudah terlelap.

Share:

Rabu, 26 Oktober 2016

#Panen Pujian

Fayya menjemur pakaian di belakang rumah. Baru beberapa menit selesai, langit menggelap. Angin bertiup lamat-lamat membawa hawa dingin.

"Sayaaangg!!! Menduuunggg!!!" Fayya memberi isyarat kepada suaminya yang sedang menonton film Korea terbaru. Kebiasaan sejak mahasiswa yang tak pernah hilang sampai sekarang.

"Iyaaa!! Tauuuu!!" sahut Kun. 
"Diurus duluu!!"
"Mendungnya?!"
"Nggak. Hujannya nggak usah diusir. Kamu cepetan kesini! Angkatin jemuran!"
"Ealah..."

Kun membereskan beberapa helai pakaian yang benar-benar masih basah. 

"Makasih sayang."
"Yohoiii.. sama-sama sayang. Aku lanjut nonton film yak. Seru."
"Aku ikutan nonton ah."
"Lha jemuran ini?"
"Biarin."
"Nanti baunya nggak enak lho."
"Gampang. Serahin aja sama aku."

Mereka menuju kamar. Film Korea yang sudah separuh tayang, terpaksa diulang dari awal. Dalam situasi semacam ini, Kun tak bisa berbuat apa-apa. Perempuan pemegang kendali. Dengan muka terlipat Kun mengikuti jalan cerita yang dia sudah hampir hafal.

"Nggak tenang aja. Nanti nggak jadi mati. Perempuan itu masih hidup."
"Berisik! Diam dulu ah. Nggak seru kalau kamu spoiler terus kayak gitu."
"Itu nanti perempuannya berubah jadi..."
"Berisik!!! Diem nggak?"

Hujan deras datang. Angin yang semula lamat-lamat berubah jadi kencang. Bahkan menjadi sangat kencang. Pepohonan mengeluarkan derit-derit yang cukup bisa didengar sampai ke telinga Kun dan Fayya. 

"Sayang?"
"Apa?"
"Kamu nggak curiga? Kok aku merasa ada yang aneh dengan hujan dan angin kali ini?"
"Nggak ah. Nggak ada apa-apa. Ini biasa."
"Masa sih?"
"Iya. Lanjut nonton yuk."
"Tapi sayang, kok aku takut ya?"
"Fayya.. kan ada aku. Kenapa masih takut?"
"Beneran kamu nggak ngerasain apa-apa sayang?"
"Nggak ada apa-apa. Sudah lah."

Kun membelah diri. Yang satu duduk manis menonton film Korea bersama Fayya, yang satu keluar dari rumah. Menyambut kedatangan salah satu 'tamu'nya.

"Ada apa teman-teman?" tanya Kun.
"Apa kabar Kun?" tanya salah satu perwakilan rombongan berbaju ungu itu.
"Aku, baik. Kalian ada perlu apa?"
"Boleh kami masuk?"
"Nggak usah. Bisa banjir rumahku. Lagian di dalam 'kami' sedang nonton film Korea. Kalau Fayya merasa terganggu kalian mau dihantam cincin matahari?"
"Oh. Nggak usah kalau begitu. Kami di luar saja."
"Kedatangan kalian bisa nggak kalau nggak usah pakai hujan angin kayak ini? Mengganggu manusia. Bisa kena pasal mengganggu ketertiban umum."
"Ya nggak bisa lah Kun. Hujan dan angin adalah kendaraan kami. Tanpa itu kami nggak bisa kesini. Lagian kami cuma sebentar kok. Mau menitipkan sesuatu."
"Ya udah. Apa?"
"Begini Kun, kamu nggak kepikiran punya keturunan?"
"Ada. Kenapa?"
"Ini. Kami titip ini buat anakmu kelak?"

Sebuah batu kecil. Sangat kecil sekali.

"Kami titip batu ini."
"Itu namanya kerikil. Bukan. Batu."
"Batu."
"Kerikil."
"Batu."
"Kerikil."
"Ya sudah. Kami titip kerikil ini untuk anakmu kelak. Ini sebagai tanda terima kasih kami atas bantuanmu mengatasi masalah perang saudara antar makhluk di dimensi kami. Kalau bukan karena jasamu, mungkin kami sudah tidak ada lagi di kehidupan ini. Sekali lagi terima kasih. Kami ini memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya untukmu Kun. Kami sudah menyiapkan sebuah patung di tengah kota untuk mengenang jasa-jasamu."
"Oh. Kalau begitu dengarkan aku baik-baik. Hari ini aku merasa terhormat. Aku akan menerima hadiah dari kalian tapi dengan syarat."
"Apa itu?"
"Robohkan patung itu."
"Tapi..."
"Robohkan patung itu. Sekali lagi robohkan patung itu."
"Baiklah. Terima kasih banyak."
"Kalau sudah selesai urusan kalian, segera pergi. Jemuranku banyak."

Rombongan itu pergi. Kun menggenggam kerikil pemberian mereka. Kemudian dia membuangnya di halaman rumah. 

"Kalau memang kerikil ini energinya baik, besok pasti aku panen cabe. Mending panen cabe daripada panen pujian. Hari ini aku dipuja-puja. Besok? Lagian aku tahu patung menurut versi mereka itu beda dengan versi manusia. Kemarin aja katanya mau bikin patung kuda jadinya patung bebek. Nyebut kerikil aja batu. Kok berani-beraninya bikin patungku.

Di kamar, film Korea masih diputar. Kun dan Fayya tertidur. Padahal hujan sudah pergi. Dan mentari tersenyum menyinari. Jemuran sudah menanti.



Share:

Selasa, 25 Oktober 2016

#Ideologi Mantan

"Perempuan yang bernama Nira itu sudah ku kirim ke demensi lain." Fayya membuka percakapan senja itu.
"Tapi," Fayya melanjutkan, "Aku masih penasaran, apa yang telah terjadi sebenarnya."
"Terus terang aku tidak pernah mengenal perempuan itu." sanggah Kun.
"Aku mau tanya, apa benar, setiap kemampuanmu meningkat, ada sebagian memorimu yang hilang?"
"Sebenarnya aku belum menelusuri sampai sejauh itu. Tapi memang Kakek pernah sedikit menyinggung hal itu dulu. Sudah lama sekali."
"Berarti ada kemungkinan Nira benar-benar mantanmu?" Fayya mencari kejelasan.

Kun terdiam.

"Benar Kun?"
"Mungkin." Kun tertunduk.

"Fayya, aku minta..."
"Bukan itu poin pembicaraan kita Kun."
"Lalu?"
"Aku khawatir selama ini memang memori yang ada di kepalamu terkikis sedikit demi sedikit tanpa kamu sadari. Aku khawatir kamu bisa hilang ingatan secara total. Aku takut kalau..."
"Kalau aku melupakanmu?"
"He'em."

Ada jeda lama di antara mereka. Makanan yang sudah disiapkan Fayya untuk santap malam, perlahan sudah hilang hangatnya. Seperti hangatnya hubungan mereka. Pelan tapi pasti, dingin itu menyusupi isi hati.

"Jadi, apa yang sebaiknya aku perbuat?" Kun bertanya.
"Mungkin, kita berpisah dulu saja."

Deg.

"Tapi.."
"Ini demi kebaikan kita Kun. Kalau kamu sering dekat dengan ku, otomatis banyak musuh yang mengincar keberadaanmu. Jika musuh datang itu artinya kamu harus menggunakan kekuatanmu. Ketika kekuatanmu keluar, resiko..."
"Amnesia ku cukup besar."
"Iya."
"Sulit Fayya. Sangat sulit jauh darimu."
"Tidak Kun. Yang kamu lakukan cukup bersandiwara di hadapan musuhmu. Anggap aku tidak pernah ada di kehidupanmu. Dengan begitu mereka tidak pernah tahu, tentang kelemahanmu. Kamu aman. Aku juga aman."
"Tidak adakah opsi lain?"
"Misalnya?"
"Kita tetap bersama. Kita hadapi bersama-sama. Kita selesaikan bersama-sama. Lagian belum pasti juga apakah memoriku selama ini memang terkikis. Bisa jadi itu hanya trik dari orang-orang yang membenciku. Karena ideologi mantan memang punya peluang besar untuk memecah belah."
"Benar juga kamu Kun. Jadi kita tidak usah berpisah ya?"
"Iya. Asal kita saling percaya. Saling menjaga kekuatan satu dengan yang lain. Kalau yang satu lupa, yang lain mengingatkan. Deal sayang?"
"Deal."

Fayya melepaskan cincin matahari. Kun mencegahnya. Kun memberi isyarat agar Fayya tetap memakainya. Untuk jaga-jaga, siapa tahu ada makhluk usil yang mengaku-ngaku sebagai mantan Kun. Kalau masih ada lagi, tinggal di..

BLUM!
Share:

Selasa, 09 Februari 2016

#Kun VS Fayya

Kun baru saja selesai membersihkan pekarangan rumah karena rumput-rumput sudah mulai meninggi. Rumput-rumput itu nanti akan direbus oleh Fayya. Air hasil rebusan itu nanti akan dijadikan minuman. Bukan. Bukan untuk Kun. Melainkan untuk sapi tetangga. Minuman herbal. Ini adalah resep yang ditemukan Fayya. Alasannya simpel. Supaya sapinya tidak bosen dengan menu rumput organik mentah seperti itu. Meskipun kadnag Fayya usil juga, sengaja menyampurkan air rumput itu ke minuman Kun. Alasannya juga simpel. Supaya Kun tidak bosen, dengan sapi.

"Sayang... sarapan siap!"
"Iya sayang. Perutku juga udah siap. Aku mau beres-beres dulu bentar."

Setelah beberes, Kun melenggang menuju rumah. Baru tiga langkah, seseorang memanggilnya.

"Mas!"

Kun tidak segera menoleh karena memang jarang ada yang memanggilnya 'mas'.

"Mas!"

Baru 'mas' yang kedua Kun menoleh menuju sumber suara.

"Mas!"
"Iya?"
"Lupa sama aku?"
"Kam.. muuu.."
"Aku mantanmu!"

Deg.

Mantan? Di episode sebelumnya, setelah Kun kembali ke masa lalu, tidak ada satu pun mantan yang dia miliki. Ini kenapa tiba-tiba ada perempuan dengan wajah yang memiliki postur tubuh dengan Fayya, mengaku mantan Kun.

Kun melihat ke pintu belakang rumah. Memastikan Fayya tidak mendengar suara perempuan yang mengaku mantan Kun itu. Kun menghampiri si perempuan yang berdiri di luar pagar dengan senyum manisnya.

"Siapa kamu? Ngaku." Kun membuka percakapan tanpa basa basi.
"Aku mantanmu Kun."
"Siapa yang mengirimmu?"
"Kun! Jangan pura-pura deh!"
"Tidak. Aku tak mengenalmu. Siapa kamu?"
"Kun... aku man.. tan.. muuu...." suara perempuan itu tercekat.
"Tak mungkin. Aku tidak pernah behubungan dengan perempuan selain Fayya."
"Kamu memang sakti Kun. Tapi sepertinya kamu lupa. Setiap ilmu yang kamu miliki meningkat levelnya, ada efek yang kamu tidak mengerti."
"Efek?"
"Salah satunya, sebagian memori di otakmu terkikis perlahan."
"Tidak. Kamu mengarang cerita."

"Sayaaaang... sarapan sudah siiii...." kepala Fayya menyembul dari pintu belakang. Sontak Fayya kaget. Dia mematung.

"Siapa itu?!" teriak Fayya.

Tak ada jawaban dari Kun atau perempuan itu.

"Bukannya arisannya diundur? Kenapa iurannya diminta sekarang?!"

Masih tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.

"Uang sampah juga sudah aku bayar." Fayya masih tak mengerti.

Dan masih juga tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.

Fayya mulai penasaran dengan apa yang terjadi antara Kun dan perempuan itu. Lalu dia menyusul ke depan, dengan menenteng wajan jumbo di tangan kanannya dalam posisi 'siap hantam'.

"Dia..."
"Aku mantan Kun." perempuan itu mengulurkan tangan kepada Fayya.
"Man.... tan...?" tanya Fayya.
"Iya. Perkenalkan, aku Nira. Mantan Kun di Batu Payung."

Deg.

Nira? Siapa dia? Batin Fayya. Kalau untuk urusan makhluk astral yang aneh-aneh bentuk dan namanya, Fayya sudah bisa terima. Karena dia paham bahwa Kun memang makhluk multi dimensi. Tapi lain dengan perempuan bernama Nira ini. Dia, berwujud manusia, dan sepenuhnya manusia. Dan sialnya, cantik. Lebih cantik dari Fayya.

"Ini pasti Mbak Fayya ya? Istrinya Mas Kun ya?"

Untuk adegan berikutnya Kun tidak banyak bergerak.

"Iya. Aku istrinya. Ada perlu apa ke sini?". Fayya dingin.
"Nggak ada hal penting sih. Aku kangen aja sama Mas Kun."
"Itu saja?"
"Sama ini. Aku mau mengembalikan cincin matahari yang diberikan Kun dulu kepadaku."
"Cincin matahari? Tidak. Hanya aku satu-satunya si pemilik syah cincin matahari. Tidak mungkin. Siapa kamu sebenarnya?"
"Mbak Fayya, aku Nira mantan Kun."

Kun masih tak bergerak. Kakinya mengakar ke tanah. Dalam arti sebenarnya.

"Ini." Nira melepas cincin yang sama dengan yang dipakai Fayya dari jari manisnya."

Fayya menerima cincin itu.

"Sudah, Nira pamit dulu. Mari Mbak Fayya. Mas Kun, jaga kesehatan. Jangan lupa makan."

Perempuan bernama Nira itu berlalu.

Prang!

Fayya memukul kepala Kun dengan wajan jumbo.
Kun.
Biasa saja.

"Heh! Dasar lelaki pembohong! Kamu bukan dukun sakti! Kamu dukun cabul! Kamu dukun cabul! Dukun cabul!"

Fayya memukul Kun berkali-kali, tapi Kun masih biasa saja.

Fayya berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamar. Dari luar lamat-lamat terdengar isak tangis Fayya. Kun perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia sudah ingin meninju perempuan bernama Nira yang mengaku-ngaku sebagai mantannya tadi. Kemudian menyusul Fayya.

"Sayang..." Kun mengetuk pintu kamar dari luar.
"Pergi!" balas Fayya.
"Sayang... aku bisa jelaskan semuanya."
"Nggak perlu!"

Cincin matahari yang diberikan Nira mengeluarkan sinar berwarna putih kemilau. Tangan Fayya gemetar menggenggamnya. Kemudian cincin matahari yang dipakai Fayya juga mengeluarkan sinar berwarna kuning keemasan. Dua cincin tersebut terbang dan mengambang di udara untuk beberapa waktu. Suara gemuruh terdengar dari luar kamar. Getaran mirip gempa juga terasa sampai ke halaman rumah.

"Fayya!" Kun panik.
"Kamu kenapa!" Kun berteriak dan membuka paksa pintu kamar.

Fayya terkejut. Di hadapannya sudah berdiri Fayya yang menyala-nyala.

Kun mendekat, tapi segera saja Fayya menghempaskan tubuh Kun hanya dengan sekali sentuh. Kun terpelanting. Fayya mengejarnya. Fayya memegang kepala Kun dan meninju wajah Kun sampai ke angkasa luar.

Fayya melesat menyusul Kun dan menghajar Kun bertubi-tubi tanpa Kun bisa melawan. Tubuh Kun sudah tidak karuan bentuknya. Bibirnya sudah penuh darah.

"Ayo! Lawan aku!" tantang Fayya.
"Tidak. Aku tak akan pernah menyakitimu!"
"Dasar tukang bohong!"

Blum!

Fayya menghantam perut Kun. Lagi-lagi Kun terpelanting kembali ke bumi. Fayya menyusulnya dan langsung melayangkan tendangan super ampuh ke tubuh Kun yang terseungkur di pinggir sungai.

"Ayo! Lawan aku!"
"Fayya.. tiii daaakk mungkiiin... aku berbohong kepadamuuu... dan kamu juga harus tahu. Bahwa hal tersulit kedua di dalam hidup ini setelah mengalahkan diri sendiri adalah bertempur melawan orang yang sangat kita cintai. Aku tidak pernah punya mantan Fayya."

Fayya diam. Dua cincin matahari yang telah menyatu dan melekat di jari manisnya meredup sinarnya.

"Kamu percaya kan sama suamimu?"

Fayya masih diam.

"Fayya..."

"Kun, aku percaya kamu. Tapi, siapa Nira?"

.................

Di belahan bumi yang lain, seorang perempuan sedang tertawa dengan sangat keras sekali. Dia merasa menang karena sudah berhasil membuat keluarga orang tersakti di jagad ini kocar-kacir. Misinya berhasil. Strategi yang digunakan sangat sempurna. Penyamarannya sebagai seorang 'mantan' membuat Kun kehilangan sebagian semangat hidupnya. Namun ada hal yang tidak disadari oleh perempuan itu. Dia tidak tahu kalau Fayya menjadi sangat sakti karena kekuatan dua cincin matahari yang menyatu.

"Hei perempuan sialan!"

Perempuan itu kaget melihat Fayya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.

"Rasakan ini!"

Blum!

..............

Share: