Minggu, 22 Januari 2012

Kun Si Dukun #Fitrah

"Kun!!!!" seorang menemui Kun. Mukanya masam.
"Apalagi! Gak pake teriak kenapa sih?"
"Ekspresi emosional Kun."
"Ada apa?"
"Duitku habis. Aku diputusin pacar. Aku jomblo Kun."
"Oh selamat. Kamu kembali ke fitrah."
"Maksutnya Kun?"
"Pas lahir ke dunia, kamu bawa duit?"
"Gak."
"Sekarang duitmu habis. Berarti kan kamu seperti bayi yang baru lahir."
"Terus pacarku?"
"Pas lahir ke dunia, kamu bawa pacarmu?"
"Gak."
"Kalau kamu diputusin pacarmu, kamu juga kembali ke fitrah. Seperti bayi yang baru lahir. Gak ada ceritanya kan bayi yang baru lahir bawa pacar?"
"HUAAAAAAA!!!!" orang itu nangis.
"Kenapa nangis?"
"Kembali ke fitrah Kun. Saat bayi dilahrikan ke dunia kan menangis. Huaaaaa!!!"
Share:

Selasa, 17 Januari 2012

Kun Si Dukun #Akhirnya Lulus

"Hore hore hore! Aku lulus! Aku lulus!" teriak Kun kegirangan. Kantin Mbok Sum bergemuruh seketika.
"Yuhuuuuu!!! Hello evribadeh! Aku lulus!! Yihaaa!!" Kun tak terkontrol lagi. Gelas, piring, semuanya berhampuran. Laptop kesayangannya juga ikut melayang entah kemana.

Beberapa mahasiswa bergegas mencari Fayya. Mereka takut kalau Kun berubah jadi gila. Gila dalam arti yang sebenarnya. Jingkrak-jingkraknya sudah melebihi batas manusia normal. Kadang-kadang sampai terbang ke langit.

Fayya berhasil ditemukan.

"Kun! Stoppppp!!!!" instruksi Fayya berhasil menghentikan Kun.
"Kenapa kamu sayang?" tanya Fayya lembut-lembut cemas. Kun nyengir.
"Hehehehe..."
"Kenapa sih?"
"Aku lulus. Wajar kan kalau aku seneng. Apalagi ini mata kuliah tersulit. Pak Armando! Bayangkan! Bayangkan!" keceriaan Kun sudah kelewat batas.
"Sini coba lihat nilaimu!" Fayya penasaran.
"Gimana? Aku lulus kan?"
"Aduh. Ini kan mata kuliah semester tiga. Sekarang kamu semester berapa sayang?" Fayya menutup mata.

Fayya menggandeng Kun pergi dari kantin Mbok Sum. Berharap kejadian ini tidak banyak yang mengetahuinya. Kun lulus ujian mata kuliah semester tiga. Masalahnya sekarang dia semester tak terhingga.
Share:

Sabtu, 14 Januari 2012

Kun Si Dukun #Fakir Tafsir

"Kun, semalam aku mimpi dikejar ular!" ujar Tono.
"Sedang ada yang naskir kamu itu."
"Tapi aku udah punya pacar Kun."
"Berarti, dalam waktu dekat kamu akan menikah."
"Tapi Kun pacarku Bambang! Gimana Kun?"
"Pergi aja ke kebun binatang. Masuk aja ke kandang ular! Cari ular mana yang semalam mengejarmu!"
...........

"Kun semalem aku mimpi naik gunung. Artinya apa Kun?" tanya Yusril.
"Kamu akan segera menemukan kesuksesan dalam hidupmu."
"Tapi aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang."
"Buruan ngungsi! Gunung di sebelah rumahmu mau meletus!"
............

"Kun, semalam aku mimpi ketemu pocong! Takutnya ga ilang-ilang sampe sekarang." kata Marisa.
"Kamu mau dapat duit banyak tuh."
"Tapi aku sudah kaya Kun. Aku nggak butuh duit lagi. Ini di tas aja ada semilyar."
"Buru-buru aja deh tinggalin semua duitmu. Bentar lagi kamu akan dipocong!"
............

"Kun semalem aku mimpi liat bintang jatuh bersinar terang sekali. Artinya?" tanya Yono.
"Kehidupanmu akan semakin cerah. Semua keinginanmu akan terwujud."
"Tapi Kun. Aku sudah bersyukur dengan kehidupanku sekarang."
"Awas. Rumahmu mau kejatuhan meteor!"
...........

"Semalam aku mimpi berpelukan terus sama kamu Kun. Artinya?" tanya Fayya.
"Kalau mimpimu buruk, tidak enak, itu sebagai pengganti di kehidupan nyatamu. Kalau mimpi indah, itu sebagai tanda bahwa hidupmu akan benar-benar indah...." kata Kun sambil nyengir...
Share:

Minggu, 08 Januari 2012

Kun Si Dukun #Perampok Bank

"Kun.....ngeband yuk!"
"Aduh. Gak ah. Males maen musik."
"Ayolah Kun. Kamu kan sakti yah. Pegang apapun pasti bunyi kan? Bisa kan?"
"Aduh. Ini gimana sih." Kun garuk-garuk kepala. Ternyata terlalu populer kurang enak juga.
"Yah Kun yah. Mau yah. Kita kekurangan personil nih."
"Kalian itu bukan hanya kekurangan personil. Tapi kekurangan kerjaan juga. Kenapa aku yang diajak!"
"Yah Kun yah. Plisss. Minggu depan ada audisi besar-besaran nih. Yang menang dapat kontrak rekaman seumur hidup! Bayangin Kun!"
"Argghhhh. Cari orang lain aja kenapa sih! Mana enak seumur hidup maen band terus. Kalian kan bisa tua juga."
"Tapi kamu pasti punya ramuan awet muda kan?"
"Mana ada ramm...bentar."

BB Kun berdering. Kun menjawab telepon yang masuk.
"Hallo Kun Si Dukun disini."
"Hallo."
"Iya passwordnya pak."
"Jaran Goyang Jaran Centil."
"Iya benar sekali bapak. Dengan bapak siapa dimana?"
"Dengan Pak Sofi di bank."
"Siapa pak? Sofi?"
"Iya Sofi. Sofiyanto."
"Oh bapak Sofi di bank yah. Keperluannya bapak?"
"Mengharap kedatangan Kun segera kesini. Ada perampokan bank."
"Iya baik bapak Sofi saya segera kesana bapak."

"Kemana lagi Kun? Urusan kita belum selesai."
"Assshh. Aku ada keperluan penting. Ada perampokan bank."
"Kalau gitu kamu kontribusi nama aja deh. Beri kami nama yang cocok untuk band kami."
"Horse Shakes. Udah aku ke bank dulu."
..........

Di bank sudah ramai banyak orang. Biasa orang antri. Kun heran. Katanya ada perampokan tapi kok situasi normal-normal saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Silahkan masuk. Ada yang bisa dibantu pak." sapa Satpam ramah.
"Mau ketemu Pak Sofi."
"Oh pak Sofi. Sudah ada janji sebelum nya?"
"Sudah pak. Bilang saja dicari Kun. Pasti beliau paham." Kun menatap serius tulisan TELLER. Itu bacanya sama kayak ES TELER bukan. Batin Kun. Maklum dukun cerdas. Makanya kuliah tak kunjung lulus.

Kun sudah berada di ruangan Pak Sofi. Seorang petinggi bank.
"Paham cerita saya tadi?"
"Paham pak Sofi. Jadi bank mengalami kerugian yang luar biasa. Beberapa uang raib, tapi laporan keuangan baik-baik saja. Gitu kan pak?"
"Betul sekali Kun. Saya curiga ada sesuatu yang telah terjadi."
"Gini pak. Saya minta segelas air putih."
"Oh kamu mau menerawang lewat gelas itu?" tanya Pak Sofi.
"Gelasnya agak besar pak. Jangan gelas yang kecil."
"Baik. Biar saya panggil OB dulu."

Gelas berisi air putih sudah berada di depan Kun. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Pak Sofi khidmat. Suasana mirip mengheningkan cipta. Mulut Kun komat-kamit. Terus sampai bibir Kun mengering. Lalu Kun membuka matanya. Mata yang tajam tertuju pada air di dalam gelas. Cukup lama dia memandang. Lalu, Glek! Kun menghabiskan air di dalam gelas.

"Ahhh. Seger pak Sofi. Haus saya sudah hilang." mata Kun berbinar. Pak Sofi menghela nafas setelah nafasnya tertahan lama gara-gara menyimak polah tingkah Kun.
"Sudah dapat jawabannya Kun. Siapa yang merampok uang di bank saya?"
"Tenang pak Sofi. Maksimal seminggu dari sekarang bapak akan segera tahu siapa yang terlibat di dalam kejadian ini. Tapi satu pesan saya pak. Jangan kaget nanti. Ya?"
"Baiklah. Terima kasih Kun."

Kun keluar ruangan sambil lirik-lirik lagi tulisan TELLER. Ia masih penasaran, sama tidak ya cara bacanya dengan ES TELER.
.......

Headline news koran tiga hari kemudian,
"Istri seorang petinggi bank diperiksa oleh KPK. Diduga lemah ia terlibat kasus penyelewengan kucuran dana bank."
Berita di bawahnya,
"Seorang petinggi bank mengalami stroke setelah mengetahui istrinya diperiksa oleh KPK sebagai tersangka ahli.
Berita di bawahnya lagi,
"Warung ES TELLER Pak Samin beromset 1 milyar tiap bulan..."
Berita paling bawah sendiri,
"KPK berencana berganti nama. Kekuatan Penyatu Keluarga..."
Share:

Sabtu, 07 Januari 2012

Kun Si Dukun #Kenangan No.1

Ini malam Jum'at. Hari yang tepat bagi Kun untuk mengajak Fayya jalan-jalan. Bosan tiap nge-date cuma di kantin Mbok Sum dan kandang sapi belakang kampus. Menghirup udara kota, berjalan saling bergandengan tangan, mesra sepertinya. Lampu taman remang-remang menawan. Bintang tetap berpijar. Rembulan tertawa riang. Namun Kun merasa ada yang kurang. Fayya tak mau melepas headset-nya.
Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terlontar. Seolah menikmati, entah itu kehangatan atau justru keterpisahan. Mereka dekat, tapi headset menjadi semacam batu karang penghalang. Kun tetap tersenyum mencoba menerima segala kelebihan dan kekurangan Fayya seperti yang pernah terucap saat mereka belum jadian dulu. Janji adalah janji. Janji adalah uji.
Sembari menikmati malam, Kun berinisiatif untuk membeli ubi bakar seberang jalan. Ubi bakar mirip makanan khas pertapaan Batu Payung. Telobakar. Semoga Fayya suka. Harap Kun dalam hati.

"Bang dua yah."
"Dua? Rasa?"
"Mmmm, ada apa aja?"
"Rumput laut ada. Sapi panggang ada. Coto Makasar ada. Gudeg Jogja juga ada. Atau yang biasa, asin pedas?"
"Mmmm, asin pedas aja deh dua."
"Makan sini apa bungkus?"
"Sini aja deh."
"Minum?"
"Gak deh bang. Udah bawa sendiri."
"Itu pacarnya telinganya gak sakit ditempelin gituan?" tanya abang penjual ubi bakar keliling.
"Oh. Ini sudah biasa bang. Gak papa kok."

Suasana sepi. Hanya ada Kun, Fayya, dan abang penjual ubi bakar. Aroma ubi bakar menghambur. Fayya merem sambil manggut-manggut disamping Kun. Hidungnya juga ikut bergerak merespon aroma ubi bakar yang khas. Tiba-tiba dari arah yang tak terduga muncul seseorang berpakaian putih. Dia berlari ke arah Fayya dan menyambar tas Fayya. Tapi ternyata bukan tas yang didapat melainkan headset Fayya.

"COPET!!!" Fayya berteriak. Abang penjual ubi bakar kaget meloncat. Kun datar. Secepat kilat orang tadi menghilang. Headset Fayya raib. Fayya menangis tersedu.
"KUN! Kenapa kamu gak mengejar copet itu!" Fayya marah hebat. Dua kali lipat lebih hebat dari biasanya.
"KUN!" Fayya menggoncang tubuh Kun. Kun diam saja. Air mukanya rata.
"KUN! Aku kecewa sama kamu! Cowok macam apa kamu! Alien darimana kamu! Makhluk apa kamu! Spesies apa kamu! HA! Ngomong dong! NGOMONG!" Fayya marah makin lebat. Abang penjual ubi segera bergegas pergi takut terkena cipratan darah dari perkelahian ini.
"Fayya," kata Kun lembut. "Seberapa berarti headset itu buat kamu?"
Fayya mulai menurunkan volume tangisannya. Dengan nafas sedikit tersengal, Fayya bicara.
"Itu headset kesayanganku."
"Hanya itu alasannya?"
"Bukan. Ada lagi."
"Apa?"
"Itu headset peninggalan kakakku yang sudah meninggal. Dengan itu aku bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaanku sambil mengenang wajah kakakku tanpa aku harus terganggu dan mengganggu orang lain." Fayya menyandarkan kepalanya ke dada Kun. Kun memeluk Fayya.
"Fayya. Kenangan itu boleh kamu tempatkan dimana aja. Lagu, film, cokelat, bau parfum, baju, buku, atau dimanapun sesuka hatimu. Kenangan itu cara kita untuk berbaik-baik dengan masa lalu. Sekarang Fayya, bolehkah aku menjadi kenanganmu yang nomer satu diantara sekian kenanganmu yang ada kelak? Aku mengajukan diri dari sekarang."
"Jangan pergi Kun." pelukan Fayya semakin erat.
"Gak kok. Ini ubi bakarnya makan dulu. Gak usah sedih lagi yah." jawab Kun sambil memakai headset kesayangan Fayya. Fayya segera merebut headset itu lagi. Kun menatap gemerlap bintang di angkasa. Ada bintang jatuh disana. Oh bukan. Itu copet tadi yang terlempar.
Share:

Kamis, 05 Januari 2012

Kun-Si-Dukun #Sandal Terbang

"Ini siapa yang nempel disini Mbok?" tanya Kun kepada Mbok Sum sembari membaca poster di tembok.
"Itu? Gak tau ada yang naruh gitu aja. Kamu kan dukun, kenapa masih nanya si Mbok ya?"
"Ealah Mbok. Masa mau tiap hari nerawang terus. Lama-lama ya bosen juga mbok. Monoton."
"Bener kamu mau bikin kerajinan sandal Kun? Mau jajal peruntungan di dunia bisnis? Mau jadi pengusaha sandal?"
"Kalau bikin kerajinan sandal seh iya Mbok. Tapi kalau bikin sandal yang bisa terbang kayak di poster itu, gak Mbok. Ini siapa lagi yang kurang kerjaan kayak gini. Masa Fayya sih. Gak mungkin ah."
"Tapi kan itu bisa bermanfaat bagi orang banyak Kun. Kalau tiap orang bisa terbang, kan bisa mengurangi kemacetan di jalan Kun."
"Betul mbok. Tapi pasti tak semua orang siap dengan hal itu. Para pengusaha otomotif misalnya. Pak Supeltas misalnya."
"Supeltas? Kasih aja mereka sandal itu. Beres kan?"
"Tumben mbok cerdas." Kun duduk. Fayya datang. Senyum-senyum genit. Ber-headset. Kun maklum.

Kun membuka laptopnya. Ia membuka file berisi rancangan sandal yang akan dibuat. Memang, sandal yang dibuat bukan sembarang sandal. Ini sandal yang memiliki kemampuan melawan gaya gravitasi. Namun hal ini masih bersifat RAHASIA. CAPSLOCK.
Kun menelaah terus menerus. Memperhitungan apa-apa yang dibutuhkan untuk menyusun sandal terbang itu. Karena ada komponen yang sangat langka, yaitu penggunaan batu merah delima sebagai tenanga utama. Batu yang sangat sulit sekali dicari di pasaran. Apalagi pasar Kambing. Kun terinspirasi dari perbincangan alumni pertapaan batu payung tentang mobil yang bisa terbang seminggu yang lalu. Menurut Kun, sandal yang bisa terbang lebih bersifat personal. Dan setiap orang memiliki ukuran kaki yang berbeda. Yang kedua ini agak kurang nyambung.
Fayya masih asik ber-headset. Merem-merem. Kun pergi toliet meninggalkan laptop dengan posisi menyala. Peraturan kampus, mengharuskan untuk melepas sandal ketika masuk ke kamar mandi. Kun melakukan itu. Iya, dia ke kampus tapi pakai sandal. Karena tidak pernah masuk kelas. Kelasnya ya di kantin Mbok Sum itu.
Agak lama Kun berada di dalam toilet. Gemericik air terdengar samar-samar. Lalu pintu terbuka, Kun keluar dan mendapati sandalnya sudah tidak berada di tempat yang semula. Kun bergegas membetulkan celananya lalu berjalan menuju kantin. Lagi, dia mendapati file rancangan sandalnya telah di copy oleh seseorang. Fayya ada disana, ber-headset dan masih merem-merem. Kun bertanya kepada mbok Sum jawaban mbok Sum seperti ini. GELENG-GELENG. Kun berkacak pinggang. Ia masih bisa tersenyum meski kehilangan sandalnya. Fayya dicolek. Kun mengajak Fayya pergi ke kandang sapi belakang kampus. Fayya manggut-manggut.
.........

Seorang anak kecil berlari menemui Kun. Matanya berkaca-kaca. Raut mukanya dipenuhi rasa bersalah. Baru akan ngomong itu bocah, Kun sudah mendahuluinya.

"Balikin sandal?" tanya Kun. Anak kecil itu melongo.
"Gak usah dibalikin. Buat kamu aja." kata Kun. Anak itu masih melongo.
"Mau sandal lagi?" tanya Kun. Anak itu melongo. Ada lalat masuk ke mulutnya. Tersedak.
"Minum?"
"Tapi bukan aku yang nyuri. Aku disuruh sama....sama....sama...."
"Sssttt. Minum dulu. Aku ngerti kok siapa yang nyuruh kamu." kata Kun. Anak itu melongo lagi.
"Emang kak Kun tau?"
"Iya. Sebentar lagi orangnya kesini."
"Hah? Kesini?" anak kecil itu ketakutan. Sangat ketakutan. Dan semakin ketakutan.
"Woy! Wajah biasa aja woy! Gak usah over scared gitu ah."
"Tapi nanti kalau dia tau aku disini bersama kak Kun. Aku bisa..."
"Woy! Dibilangin biasa aja gak usah ketakutan gitu kenapa sih? Halooo..., kan ada kakak disini. Kenapa masih takut?"

Seseorang berkostum aneh datang. Dia terbang. Sandalnya menyala-nyala. Close up sandalnya. Itu sandal Kun yang hilang di toilet. Mirip cerita superhero impor, kostum kurang lebih seperti itu. Anak kecil itu bergegas sembunyi ke dapur mbok Sum. Mbok Sum kaget. Dikira ada tuyul masuk dapur.

"Kamu yang nyuruh anak itu?" tanya Kun.
"Iya. Aku menantangmu!"
"Menantang? Tapi pose kamu kurang menantang tuh?"
"Aku menantang balap terbang. Siapa yang paling cepat sampai di tujuan, dia berhak atas Fayya!"
"Heh! Jangan bawa-bawa Fayya. Tolong hargai perempuan. Dia bukan piala bergilir. Hati-hati kalau bicara!" Kun mulai naik pitam.
"Hahahaha. Bilang saja kalau kau tak berani! Hahahaha..."
"Ini kenapa yah? Tiap tokoh jahat kok tertawanya seragam sih? Gak usah tertawa dulu kenapa? Tarung aja belum udah ketawa. Ngakak lagi."
"Hahahaha. Bagaimana? Takut?"
"Hmmm. Aku terima tantanganmu. Mana garis akhirnya?"
"Toko roti seberang jalan. 150 km dari sini."
"Halooo...toko roti banyak kali. Yang lain!"
"Warung ayam bakar. 18 km dari sini."
"Kamu nantangin balap terbang apa mau kuliner sih? Yang sadis dong tempatnya."
"Baik. Tempat pemotongan hewan. 159 km dari sini."
"Haduh...Gini aja deh. Capek aku ngomongnya. Siapa yang bisa duduk bersama Fayya disana. Dia yang menang." Kun menunjuk Fayya lagi duduk sendiri di taman.
"Hahahaha. Baiklah. Fair play. Ini garis start nya."
"Mbok Sum tolong hitung!" teriak Kun.
"Kamu semuanya 3500 Kun!" Sahut Mbok Sum dari dalam dapur.
"Bukan itu mbok. Keluar dulu mbok. Hitung satu sampai tiga mbok."

Mbok Sum keluar sambil membawa sapu tangan. Mbok Sum berada di tengah-tengah antara Kun dan orang misterius itu. Mbok Sum centil. Mbok Sum seksi. Untuk sejenak.

"Satu, dua, tiga!"

Orang itu terbang dengan kecepatan penuh. Dari sandalnya muncul sinar merah delima. Dia sampai di taman dimana Fayya duduk tadi. Dia sampai lebih awal dari pada Kun. Tapi, orang itu linglung. Tidak ada Fayya disana, juga Kun. Tolah toleh tolah toleh. Garuk-garuk kepala. Lupa kalau dia memakai helm. Setelah linglung beberapa menit. Dia kembali ke kantin. Dia melihat Fayya sedang bercanda dengan Kun.

"Woy! Gak usah heran!"
"Tapi Kun, kamu kok cepat sekali? Kamu terbang tadi?" orang itu menyela. Nadanya putus asa.
"Kamu gak pernah update ilmu seh. Ya terserah aku mau terbang atau mau apa, yang penting aku yang lebih dulu sampai kan?"
"Tapi Kun, kamu kan sering terbang pakai sandal itu kan? Aku sering melihatmu kok."
"Itu, bukan karena sandalnya. Yah terserah aku mau terbang pakai apa. Sandal, piring, karpet, atau apapun. Yang penting itu bukan sandalnya tapi 'ilmu'nya. Dan ingat, jangan pernah menyuruh anak kecil lagi untuk mencuri!  Anak kecil itu polos, dia belum tahu apa-apa."
"Dimana anak itu?"
"Dia sedang ku hukum." kata Kun sambil menatap anak kecil yang sedang bermain-main dengan sandal terbang kreasi Kun. Anak itu terlihat menikmati kebingungan dengan penerbangannya. Sesekali ia terjatuh, lalu tertawa dan berusaha untuk terbang lagi.

Orang itu pingsan. Mobil ambulance RSJ datang.
Share:

Rabu, 04 Januari 2012

Kun Si Dukun #Gagak Rimang

Seekor gagak hinggap di gelas. Gagak itu seram, cool, dan agak cuek dengan atribut kehitamannya. Gelas berisi air kembang, es teh milik Kun sejenak bergetar hebat. Kun mencoba berkomunikasi dengan gagak itu. Gagak Rimang.

"Ngapain?" tanya Kun polos.
"Undangan sob."
"Undangan apalagi?"
"Dari alumni pertapaan Batu Payung sob."
"Perihal?"
"Temu kangen sob."
"Eh kamu gagak Rimang bukan?"
"Iya sob. Gagak yang bertugas dalam hal surat menyurat sob."
"Bukannya merpati biasanya?"
"Merpati sudah gak aktif sob. Mereka ikut industri penerbangan dan surat menyurat sob. Merpati airline dan Pos sob."
"Mana undangannya?"
"Nih sob. Sob sini ada air kembang sob?"
"Ada. Itu di gelas yang kamu tongkrongin."
"Bukannya teh sob?"
"Air kembang. Teh sama kembang melati. Cobain deh."
"Wah seger juga sob. Recomended sama teman-teman di pertapaan Batu Payung sob. Seger bener sob."
"Eh ini untuk alumni yah? Aku belum pernah sekalipun ke pertapaan batu payung itu? Gimana? Gak salah ini undangannya?"
"Gak tuh. Bener kok. Ada nama kamu disitu."
"Ini kapan?"
"Sepuluh menit setelah kamu baca undangan ini sob. Langsung ke lokasi. Lokasinya sesuai yang tertera di undangan. Datang aja. Ada doorprise nya sob. Aku pamit dulu sob. Yuks!"
"Thanks gagak Rimang. Eh Rimang artinya apa yah?"
"Rimang sob! Rindu Ditimang!" gagak Rimang berlalu mengepakkan sayap hitamnya. Gagah. Mistis. Eksotis.
.......

Kun clingak-clinguk. Rame juga ternyata. Banyak dari alumni pertapaan batu payung yang datang ke acara pertemuan ini. Dia sangat asing dengan wajah-wajah yang ia temui. Seseorang mencolek bahunya dari belakang.
"Nak, jangan percaya dengan apa yang kamu lihat. Ini bukan wajah asli mereka."
Kun menoleh.
"Oh, terus, apa gunanya pertemuan ini?"
"Ini hanya untuk membahas hal-hal kecil yang sedang terjadi di dunia luar sana. Simak saja dan kau akan mengerti."

Lantas muncul sesosok orang berjubah hitam diatas podium.
"Siapa itu?" tanya Kun.
"Itu Gagak Rimang."
"Oh pantesan doyan es teh. Manusia juga ternyata dia. Kirain burung."
"Emang pernah ketemu?"
"Pernah. Dia sendiri yang ngundang aku kesini. Nyamar jadi burung lagi. Gak matching lagi. Masa gagak nganterin surat."

Dari podium muncul suara.
"KUN! Maju kesini!" Gagak Rimang memanggil Kun. Kun segera melesat. Kun berdiri di podium. Mukanya datar.
"Perkenalkan ini Kun!" kata gagak Rimang. Hadirin manggut-manggut.
"Sudah kembali lagi ke tempatmu tadi."
"Sudah? Cuma gitu aja? Kirain apaan?" Kun merasa dikerjain secara kekeluargaan.
"Sudah. Selamat menikmati jamuan-jamuan disini."
"Ealah."

Kun berkeliling sambil saling sapa. Terlihat beberapa dukun wanita yang sedang membicarakan proses kelahiran bayi di sudut dekat pintu. Di tempat lain Kun melihat kerumunan dukun yang membahas bumbu dan resep masakan. Selain itu Kun juga menemukan gerombolan lima orang yang sedang bercakap tentang mobil-mobil produk lokal. Kun merasa tertarik. Kun mendekati mereka. Kun menyimak pembicaraan mereka.
"Levitasi!" kata salah satu dari mereka semangat.
"Iya. Pakai teknologi jadul aja! Levitasi. Bener itu." tanggap yang lain.
"Nanggung kalau cuma bikin mobil nasional lagi. Sekalian bikin mobil yang bisa terbang!" teriak yang lain.
"Sip besok kita bikin rancangannya." yang lain tak kalah bersemangat.
"Manfaatkan tenaga angin! Kita namai pesawat mini ini dengan Gagak Rimang! Setuju?"
"Yeaayyyyy!!!" yang lain antusias mengangkat cawan.

Kun senyum-senyum sendiri. Dia melirik lagi kerumunan dukun wanita yang membahas proses kelahiran bayi tadi. Ada yang cantik disana. Senyumnya manis. Namun baru akan melangkahkan kakinya, wajah imut Fayya muncul di hatinya. Ah, masa dukun pacaran sama dukun, batin Kun. Kun pergi ke kantin Mbok Sum. Ada Fayya disana. Ber-headset
Share:

Kun Si Dukun #Susuk Sapi

Kun mondar-mandir lagi.

"Duduk kenapa?" tanya Fayya.
"Bukan gitu Fay. Masih ingat sama Sandra?"
"Sandra....Sandra, Sandra yang mana Kun? Sandra jepit?"
"Ealah. Kamu memang benar-benar cantik deh. Sandra yang kemaren itu, yang mau ikut audisi idol-idol itu lho. Masa lupa seh?"
"Idol? Pasta gigi bukan?"
"Itu odol sayang. Idol di tivi itu. Yang merebutkan hadiah 100 juta itu lho. Kamu pernah liat tivi gak seh?"
"Untuk apa aku liat tivi. Sedang wajahmu sudah tergambar jelas di hatiku..."
Kun menyublim.

"Duduk gih." Fayya berhasil menjinakkan Kun. Kun duduk. Hatinya sendu. Kun menyublimkan diri.
"Emang kenapa dengan Sandra?" Fayya mengelus rambut Kun yang gondrong sepundak.
"Kemaren dia ngotot banget minta susuk sama aku. Susuk yang bisa meningkatkan aura wajahnya. Biar para juri meloloskan dirinya ke babak final."
"Terus udah kamu kasih?"
"Belum seh Fay. Makanya aku bingung tadi. Dikira kita distributor susuk apa."
"Kamu lagi gak ada stock susuk?"
"Dari dulu aku mana punya susuk gitu. Kakek gak pernah mengajariku bab susuk menyusuk."
"Kalau kamu gak punya susuk, kasih aja susuk sapi."
"Itu susu sayang, bukan susuk." Kun mencubit pipi Fayya. Kun gemes.
"Lepasin gak? Kalau kamu gak lepasin tangan kamu, aku pakai headset nih." Fayya mengancam untuk berubah menjadi siluman headset. Kun segera melepas tangannya dari teritorial pipi Fayya.
"Eh susuk sapi boleh juga tuh." Kun mendapatkan ide.
"Kumat deh ngawurnya."
"Fayya, kamu hebat. Kamu bakat juga jadi dukun."
"Emang kamu dukun?" Fayya menggoda Kun.
"Mmmm, kasih tahu gak yahhh...."
"Siapapun kamu, bukan masalah untukku." kata Fayya mengusap pipi Kun. Ada nyamuk disana. Mereka larut dalam cinta. Di depan kandang sapi belakang kampus.
........

Sandra datang lagi menemui Kun di kantin Mbok Sum. Fayya tak ber-headset. Sekarang Kun yang ber-headset.

"Kun!" Sandra kegirangan. Kun cuek. Merem sambil manggut-manggut. Fayya menatap Sandra sambil memberi isyarat untuk duduk.
"Urusan Kun, aku yang handle. Ada apa?" tanya Fayya tegas. Bergas namun tak beringas.
"Susuk. Aku minta susuk seperti yang dijanjikan Kun kemaren." kata Sandra tak kalah tegas. Maklum mantan paskibra semasa SMA.
"Nih." Fayya memberikan cairan kental berwarna putih dalam sachet.
"Gak yakin aku." Sandra manyun.
"Gak percaya?"
"Iya. Aku mengajukan mosi tak percaya. Harus Kun sendiri yang memberikan. Bukan kamu."
"Gak percaya?"
"Iya."
"Silahkan pulang." Fayya lebih tegas. Sandra berpikir ulang.
"Baiklah." Sandra menerima itu.
"Aturan pakainya, seduh dengan air hangat. Minum sehari sebelum audisi."
"Ini beneran susuk?" Sandra masih tak yakin.
"Sudah pernah lihat susuk sebelumnya?" tanya Fayya.
"Belum." Sandra menggeleng.
"Belum kenapa ngeyel? Itu namanya susuk sapi. Disebut sapi karena warna putihnya. Biar wajahmu memancarkan aura seputih kulit sapi."
"Oke deh kalau begitu. Makasih. Salam buat Kun."
"Baik. Akan ku sampaikan salam darimu. Maaf, Kun sedang gak bisa diganggu. Dia sedang merapal mantra. Tuh lihat sampai merem kayak gitu."
Sandra berlalu. Fayya mencolek paha Kun. Kun membuka mata. Fayya mengerlingkan mata.
......

Di rumah Sandra. Seorang anak kecil berlari menuju gelas berisi cairan warna putih. Diambilnya gelas itu, lau diminumlah cairan di dalamnya. Sandra mengetahui hal itu dan membentak adiknya yang masih imut.
"Hey! Jangan diminum! Itu bukan untuk anak kecil!" Muka Sandra memerah melihat susuk yang baru ia buat diminum oleh adiknya
"Maap Kak Candela, cucunya enyak." adik kecil itu ketakutan sampai seluruh tubuhnya menggigil hampir saja pingsan.


"Susuk itu, senyum tulus dari dalam hatimu...." Sandra membaca tulisan yang tertera di sachet yang akan dibuang ke tempat sampah. Sandra merangkul adiknya. Segera. Kun dan Fayya berduaan di depan kandang sapi belakang kampus.
......
Share: