Pagi ini Kun bersemangat sekali untuk berangkat mengajar. Matahari sepertinya tahu apa yang dirasa Kun hingga turut menyumbangkan sinarnya yang cerah ceria. Sarapan sudah tersedia di meja. Fayya tetap dengan kondisi khasnya 'bangun pagi tanpa make up'.
"Cantiiikknyooo.. istri siapa sih.."
"Tiranosaurus!"
"Idiiihh galak amir neng. Sarapan hari ini apa neng?"
"Oseng-oseng kulit landak."
"Hehehe.. pagi-pagi kok cemberut."
"Tau ah. Gara-gara kamu."
"Lhooo.. kok gara-gara aku?"
"Iya! Semuwaaah ini gara-gara kamuh! Kamuh! Kamuh! Kamuuuhh!"
"Kamu salah minum jamu kayaknya."
"Nggak!"
"Kamu minum jamu galian singset apa galian sewot sih?"
"Aku nggak minum jamu bego!"
"Kamu minum 'jamu bego'? Pantesan aja."
"Nggak. Pokoknya ini gara-gara kamu!"
"Emang aku kenapa?"
"Semalam kamu bobo duluan dan baru bangun tadi pagi! Tau artinya apa?!"
"Fayya turun deh. Marahnya nggak perlu sampe naik meja gitu deh. Turun turun cantik. Yuk sini sini."
"Habis kamu gitu sih."
"Iya iya. Aku yang salah. Itu piring letakin dulu jangan digigit-gigit gitu."
"Hhhh sebel! Kamu lupa semalam malam apa?"
"Malam jumat."
"Tau apa artinya malam Jumat bagi pasangan suami-istri?"
"Tau."
"Apa?"
"Bobo."
"Hhhh.. kamu nggak peka! Dukun apaan nggak peka gitu!"
"Emang bobo kan?"
"Malam Jumat itu kan jatahnya kita..."
"Astaga.. jatah kita nge-date kan?"
"Telat."
"Maaf-maaf sayang. Ma'aaaafff banget ya. Kayaknya aku sudah mulai terbiasa sama jadwal manusia yang suka nge-date di malam minggu. Ma'aaaaf banget."
"Makanya.."
"Iya iya. Maaf yaaa.."
"Ya udah besok-besok jangan diulangi lagi. Diinget-inget. Kalau perlu dicatet. Apa dibikin kaos sekalian gitu."
"He'em. Masak apa yang?"
"Ini telur dadar kesukaanmu sama tempe goreng dilumat."
"Dilumat? Dipenyet kali yang."
"Nggak. Dilumat namanya. Aku lumat pake hak sepatu."
"Kamu lama-lama menjijikan yang."
"Becanda yang. Mau gantian ngambek?"
"Nggak ah. Capek ngambek terus."
"Eh gimana kasus Pak Armando kemarin? Udah beres."
"Udah. Rumahnya udah bersih. Udah nggak ada yang ganggu."
"Terus yang nunggu gimana?"
"Udah aku suruh pulang. Tempatnya nggak disitu kok."
"Emang dimana?"
"Taipe."
"Udah aku berangkat dulu ya. Tempe telur lumat kamu lezat."
..............
Kun sedang beristirahat di kantor. Hari ini cukup menyita banyak energi dan emosi. Ada anak yang jatuh akibat main dorong-dorongan dengan temannya. Akibatnya kepala si anak sedikit memar. Anehnya dia tidak menangis sedikitpun. Dan yang tak kalah aneh adalah jawaban yang keluar dari mulut si anak ketika ditanya oleh Kun.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak pak. Anak yang lahirnya malam Jumat pasti kuat."
"Kamu harus disegera diobati. Benturan di kepalamu mempengaruhi kinerja otakmu nak. Hadeehh.."
Di kantor Kun melakukan kontak dengan Pak Armando. Pak Armando bercerita bahwa rumahnya sudah benar-benar aman dan dia bermaksud memberikan imbalan kepada Kun atas jasanya itu.
"Nggak usah pak. Mending disumbangkan kemana gitu. Duit dua puluh lima juta itu nggak sedikit lho pak." Kun menolak secara halus.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau akan saya sumbangkan ke yayasan temen saya yang baru diresmikan pada malam Jumat lalu. Katanya kalau malam Jumat itu membawa keberuntungan."
Kun menutup percakapan itu dengan penuh tanda tanya. Malam Jumat? Why?
............
Seminggu berlalu dan sampailah pada malam Jumat berikutnya. Sedari jam 5 sore Fayya sibuk berdandan. Meskipun mereka berdua sudah cukup lama menikah, namun momen nge-date ini tak boleh dijalani dengan srampangan dan asal-asalan. Harus spesial.
Pun begitu dengan Kun. Dia juga harus tampil fresh dan prima. Seperti tak mau kalah dan seolah ingin mengimbangi Fayya, Kun sudah berdandan dari jam enam belas lebih lima puluh lima menit. Artinya Kun berdandan lima menit lebih dulu dari Fayya. Sori, dikira aku nggak bisa dandan apa. Begitu batin Kun.
Tepat pukul dua puluh nol nol mereka keluar dari kamar yang berbeda. Fayya keluar dahulu. Disusul Kun kemudian. Fayya terlihat begitu eksotis dan Kun terlihat begitu fantastis. Fayya tampak anggun dan Kun tampak elegan. Fayya tampak samping, Kun tampak miring.
Mereka bertemu dan berpelukan lama. Malam Jumat ini tak boleh dilewatkan begitu saja.
"Sayang.. kemana kitahh.." Fayya mendesah pertanda bahwa lautan cinta siap tertumpah.
"Kitaaah akan menyebrangi tujuh samuderaaahh sayaaang.. samudera kenikmatan.."
"Baik sayang. Semua kuserahkan padamuuuhhh.."
Lalu Kun menggendong Fayya ke kamar. Fayya bengong.
"Sayang! Katanya mau nge-date?! Kok ke kamar sih?"
"Ssstt.. ini malam Jumat sayang. Malam Jumat Kli.."
"Malam Jumat Kliwon?"
"Bukan sayang. Ini malam Jumat Klimis. Malam Jumat khusus buatmu maniiiisss.."
Klik!
Lampu kamar dimatikan, dan Fayya sudah tidur (mendengkur) duluan karena seharian capek berdandan. Kun? Nggak usah kalian pikirkan. Baru tersiksa dia sekarang.