Rabu, 23 April 2014

Guru Indonesia #2

"Sayaaaang..... bangun. Udah jam berapa ini? Katanya masuk jam setengah tujuh." Fayya berbisik lembut.
"Jam berapa sayang?" Kun berucap lirih sambil mengelap ilernya.
"Jam setengah lima sayang." Fayya mengusap rambut Kun yang semalam baru saja dipotong.
"Baru juga jam setengah lima sayang. Bobo lagi ah."
"Eeeh. Jangan gitu dong sayang. Kalau Gurunya telat bagaimana muridnya? Ayo bangun sayang."
"Uhmmm, tapi ada syaratnya."
"Apa sayang syaratnya? Hmm?"
"Cium kening dulu."
"Iya. Sini sini sayang. Muuuaaahhh...."
"Makasih sayang. Bobo lagi ya."

THUWANG!

"Aduh! Sakit sayang!"
"He? Mau dipukul lagi pakai wajan jumbo? He? Bangun nggak! Bangun!"
"Iya iya. Bangun nih."
"Disayang sayang kok masih nggak ngerti juga. Bangun! Air kembangnya udah siap dari tadi! Keburu dingin ntar rasanya kayak pipis kuda!"
"Iya iya. Galak banget sih sekarang. Dulu aja nggak pernah mukul. Sekarang mukul beneran. Sakit nih."
"Sakit sayang? Aduh maaf deh. Sini coba lihat. Ups... Maaf sayang. Tadi maunya bercanda. Taunya kena beneran maaf ya."

Begitulah. Hari pertama Kun mengajar diwarnai dengan adegan yang masuk kategori 'deleted scene'. Cukup brutal. Apalagi jika dikonsumsi para pengantin baru yang ingin membina keluarga harmonis. Tidak layak ditiru memang. Namun, seperti itulah kemesraan yang terjadi antara Kun dan Fayya. Romantisme wajan jumbo.

Kun sudah selesai mandi. Tampilannya cukup menawan. Fayya menjadi penata gaya bagi Kun. Setelah Kun memberi kabar bahwa dirinya diterima menjadi guru di sebuah sekolah di bawah naungan yayasan yang cukup perlente Fayya bergegas mencari referensi fashion guru masa kini. Dari yang casual hingga yang modis tapi terksesan disembunyikan. Misalnya. Paduan celana bahan halus model skinny dan sepatu pantofel mengkilap bagi guru laki-laki. Iya, percuma juga sih kalau Fayya mencari referensi fashion guru perempuan. Kalau fashion istri para guru, dia sudah menguasai.

Untuk Kun, Fayya sudah menyiapkan kostum yang paling pas untuk dipadupadankan dengan tubuh Kun yang tinggi semampai, berkulit kuning bangsat, bertangan panjang, dan berkaki lebar. Memang hanya Fayya satu-satunya perempuan yang sudah paham lekuk tubuh Kun.

"Ini untuk hari Senin. Ini hari Selasa. Ini Rabu. Ini Kamis."
"Stop. Khusus untuk hari Kamis aku tidak mau menyalahi aturan leluhurku di Batu Payung. Untuk hari Kamis aku harus pakai kostum hitam-hitam."
"Sayaaaang.... Nanti yang diajar kan murid SD. Masih anak-anak sayang. Anak-anak itu sukanya warna-warna cerah."
"Itu salah satu kesalahan pendidikan kita. Siapa bilang hitam itu menakutkan? Siapa bilang anak-anak tidak suka hitam? Anak-anak itu bukan badut. Yang didandani warna-warni seperti crayon berjalan. Sudah aku pakai hitam-hitam aja."
"Hmmm... gini aja sayang." Kemudian Fayya membisiki Kun.
"Hmmm... cerdas kamu sayang. Istri siapa sih ini?" Kun memuji dengan nada kesal.
"Istrinya Pak Guru." Fayya tersenyum.

Tahu apa yang dibisikkan Fayya kepada Kun? Seperti ini.

"Kalau begitu yang hitam-hitam dalemannya aja sayang."

Dengan rasa yang serba aneh dan mengganjal, Kun berangkat menuju sekolah. Batinnya agak sedikit tersiksa. Menghadapi makhluk dari alam apapun dia sanggup. Tapi anak kecil? Bisa apa dia dihadapan anak kelas 2 SD? Sedangkan masa kecil Kun sendiri sudah dipenuhi dengan hal-hal seperti, terbang, menghilang, memindahkan benda tanpa memegangnya, dan beberapa ketrampilan yang sebenarnya tidak pantas untuk dimiliki oleh anak seusianya. Iya. Kun memang terlahir spesial. Karena itu juga, Fayya sayang kepadanya.

"Perkenalkan anak-anak nama saya, Pak Dewa. Siapa anak-anak?"
"Pak Dewaaaaaaaaa...."

Harus. Demi kepentingan misi penyelamatan ini Kun harus mengganti namanya menjadi Dewa. Pak Dewa begitu Genderuwo memilihkan nama tanpa pertimbangan filosofis dan maknawi apapun. Asal aja. Dewa. Pak Dewa.

"Mulai hari ini dan seterusnya Pak Dewa akan menemani kalian belajar sambil bermain."
"Bermain pak?" tanya anak lelaki yang masih terbuka resleting celananya.
"Iya bermain." jawab Kun ramah. Padahal dalam hati dia mencaci maki Genderuwo. Genderuwo kurang kerjaan! Begitu batinnya.
"Asyiiikkkk!!! Teman-teman kita tidak akan belajar tapi bermain-main sama Pak Dewa!"
"Asyiiiiikkk!!!" Jawab paduan suara cempreng anak-anak itu.
"Pak Dewa Pak Dewa..."
"Iya, ada apa?"
"Pak Dewa aku punya pertanyaan buat Pak Dewa."
"Pertanyaan? Tapi sebelum itu perkenalkan siapa nama kamu?"
"Namaku Ucup Pak."
"Ucup? Yusuf kali?"
"Nggak pak Ucup."
"Nama lengkapnya?"
"Ucup Mesranianto Pak."
"Astaga, itu Kecup kali Cup! Kecup Mesra Nian. Karena kamu laki-laki ditambah akhiran -to."
"Bukan Pak! Ucup! Bukan Kecup!"
"Iya iya. Suka-suka bapak ibumu lah."
"Bukan Pak. Yang memberi nama ini bukan bapak ibu. Tapi kakek."
"Oooo kakek."
"Ho'oh pak. Kakek saya dukun."
"Astaga... pantesan aneh gitu ya? Dimana-mana dukun memang aneh Cup."
"Pertanyaanya sekarang Pak."
"Oh iya. Apa pertanyaannya Cup?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Binatang apa yang tidak memiliki ekor?"
"Iya Pak. Apa?"
"Uhmmm, apa ya Cup. Pertanyaan yang sulit Cup. Anak-anak ada yang tahuuuuuu?"
"Tidaaaaaakkkk!!!!"
"Ayo pak. Apa Pak?"
"Bentar Cup. Beri waktu bapak berfikir Cup."
"Ucup hitung sampai lima ya Pak. Satu.... Dua.... Tigaaaaa.... Empaaaaaatt... dan Liiiiimmmm...."
"Nyerah Cup. Pak Dewa nggak tahu."
"Yes! Binatang yang tidak memiliki ekor adalah Kita!"
"Astagaaaaa... Genderuwo sialan. Ini sekolah macam apaaaaa.....!!!!"

Saat istirahat di ruang kepala sekolah,

"Kamu gila ya Gen. Anak-anak di sini aneh-aneh semua! Lebih baik aku menyamar jadi tukang kebun aja daripada jadi guru."
"Hehehe... Tapi asyik kan Kun?"
"Asyik apanya. Kirain cuma satu anak yang aneh. Nggak tahunya semua. Masa mereka baru mau belajar kalau aku menyanyi sambil menari dulu. Dan mereka maunya aku melakukan itu setiap pagi sebelum pelajaran dimulai lho."
"Hahaha, kelas 2 itu memang agak spesial Kun. Makanya aku minta kamu yang pegang. Kamu kan pawang. Pakai dong energi pawangmu."
"Heh! Asal kamu tau ya Gen. Fayya melarangku untuk menggunakan kekuatan apapun selama aku di sini. Apalagi ilmu tinggi sekelas ilmu pawang itu."
"Takut sama istri?"
"Bilang seperti itu lagi ku kembalikan kamu ke alam asalmu selamanya lho!"
"Nggak Kun. Bercanda bercanda."
"Tapi, ada baiknya juga sih Gen aku berinteraksi dengan anak-anak. Belajar kalau punya anak besok." senyum Kun mengembang.
"Cieeee... emang udah berapa bulan Fayya."
"Nggak tahu. Aku nggak ngitung. Kalau saatnya lahir juga akan lahir sendiri."
"Pengen cowok apa cewek?"
"Apa aja lah Gen. Yang penting nggak kayak bapaknya?"
"Lha? Emang anak siapa kalau nggak mirip kamu."
"Maksudnya biar hatinya kelak selembut ibunya. Galak galak gitu istriku ngangenin Gen."
"Tahu lah perjalanan cinta kalian kayak apa."
"Gen, aku ijin pulang dulu ya."
"Ngapain pulang."
"Kangen Fayya Gen."
"Ijin pulang karena kangen istri Kun? Tidak! Sekolah ini baru aja memenangkan lomba disiplin tingkat nasional. Dengan kata lain, sekolah ini sangat menjunjung tinggi asas kedisiplinan semua kalangan. Baik guru maupun murid. Ijin pulang karena kangen? Cuih...."
"Nggak boleh?"
"Boleh deh boleh. Matamu udah memerah gitu. Bentar lagi keluar apinya deh. Daripada aku jadi Genderuwo bakar. Iya deh silakan pulang deh. Ati-ati di jalan deh. Aku kasih uang saku sekalian deh."

Kun pulang pagi. Dia sudah tidak kuat menahan rindu. Namun dia tidak pernah lupa akan misinya. Membongkar gelombang aneh di sudut belakang sekolah bersama Genderuwo.

"Sayaaang aku pulaaaang...."
"Lhooo sayang kok udah pulang? Bukannya kemarin katanya sampai jam dua. Ini kenapa jam sepuluh udah pulang. Kamu sakit sayang?"
"Nggak. Aku kangen sama kamu."
"Hmmm.. sini peluk dulu sayang..."
"Iya sayang."
"Sayang..." Fayya berbisik.
"Hu'um?"
"Kamu pilih aku pukul pakai wajan jumbo lagi apa balik ke sekolah sekarang juga?"
"Astagaaaa...."

Kun kembali ke sekolah dengan pikiran, "Kalau begini caranya kapan proses pembuahan di siang hari akan terjadi....."


Share:

Senin, 14 April 2014

Guru Indonesia

Antrian panjang. Bau keringat menyeruak dimana-mana. Hampir semua mata menyipit. Panas. Beberapa ada yang mencoba menyejukkan tubuhnya dengan menggunakan jari jemarinya. Semacam, kipas darurat meski mereka tahu efek yang ditimbulkan tidak seberapa.
"Nanti, kalau ikut antrian para pelamar, nggak boleh curang. Sayangku harus ikut audisi senatural mungkin." begitu pesan Fayya kepada Kun.

Boleh ditebak, Kun memang sedang ikut dalam audisi GURU INDONESIA. Sebenarnya ini merupakan pantangan besar. Bisa saja menimbulkan efek samping yang kurang baik bagi kesehatan Kun. Namun, karena kondisi sosial, dia harus menjadi manusia normal. Manusia biasa. Atau lebih tepatnya, manusia. Nggak pakai normal nggak pakai biasa. Manusia.

"Uhmmm, cuma itu syaratnya sayang?"
"Iya. Pokoknya kamu nggak boleh pakai kekuatan apapun. Kamu harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau yang lain kepanasan, kamu juga harus mau kepanasan. Jangan lantas mengeluarkan jurus Masuk Angin mu."
"Yeeee, emang namanya jurus masuk angin?"
"Fayya sendiri yang ngarang itu."
"Doakan aku sayang."

Keringat mulai membasahi baju Kun. Satu orang di depannya mencoba menawarkan minum. Kun tahu orang itu tidak berniat jahat kepada Kun tapi Kun tetap menolak. Dia sengaja berpuasa untuk menguji seberapa kuat dirinya berdiri lama, dengan kondisi menyengat dan, bau.

"Audisi aneh. Dimana-mana yang ada orang meminta diangkat menjadi murid. Ini malah mencalonkan diri menjadi guru. Minta diangkat lagi. Emang karung beras minta diangkat." perempuan di belakang Kun mengomel sendiri. Kun membalikkan badan dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas, ini audisi teraneh sepanjang sejarah kehidupan saya mas. Setahu saya di film-film silat itu yang ada hanya orang-orang yang minta diangkat menjadi murid. Bukan minta menjadi guru kayak audisi ini." perempuan itu sewot. Kun mencoba jernih.
"Maaf mbak, tapi ini kan bukan film silat. Ini kan dunia nyata."
"Dunia nyata apanya mas? Ini tuh lebih aneh dari film kartun!"
"Terus kenapa mbak ada di sini?"
"Terpaksa mas. Supaya ijazah saya berguna."
"Ijazah apa mbak?"
"Aduh dimana ijazah saya!?" perempuan itu lantas keluar dari antrian dengan wajah panik.

Kun memejamkan mata. Dia mencoba memindai sebenarnya seperti apa isi kepala orang-orang yang ikut mencalonkan diri menjadi guru ini. Kun mendapatkan berbagai macam jawaban. Dia senyum-senyum sendiri. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia ini. Batin Kun. Namun Kun menangkap sinyal aneh. Kun mendapati sebuah gelombang yang tak dikenal. Tempatnya tepat di belakang gedung audisi berlangsung. Kun terus mendeteksi. Baginya, ini gelombang baru. Apa ini? Atau tepatnya siapa ini? Kun semakin penasaran. Gelombang tak dikenal itu memenuhi kepala Kun hingga Kun hampir terjatuh. Kun mencoba membiarkan untuk sementara waktu gelombang tak dikenal itu. Dia ingin fokus kepada pesan Fayya.

Setelah menunggu, akhirnya nama Kun dipanggil. Dia sudah duduk di hadapan penguji.
"Nama?"
"Kun."
"Nama lengkap?"
"Kun."
"Nama panggilan?"
"Kun."
"Nama sayang?"
"Kun."
"Tempat tanggal lahir?"
"Batu Payung 11-11-11."
"Tahun 1911?"
"Bukan. Tahun 11."
"Oh. Hobi?"
"Terbang."
"Ketrampilan?"
"Menghilang."
"Kegiatan selama ini?"
"Jualan jagung bakar."
"Ada warung?"
"Ada."
"Dimana?"
"Di dalam piramida."
"Baik tunggu sebentar."

Jawaban yang normal menurut Kun. Dia mengemban amanah dari istrinya, Fayya. Bahwa, katakanlah dengan jujur meskipun itu pahit.

"Saudara Kun. Silakan ke dalam. Pimpinan yayasan ingin bertemu langsung."

Begitu Kun masuk ruangan,

"Kuuuunnnnn!!!"
"Aduh. Sial! Kostum kamu jelek Genderuwo!"
"Hahahaha... sini peluk dulu sahabatkuuuu!"
"Aaakkkk... pelan-pelan woy!"
"Iyaaa maaf.. terlalu seneng aku. Lama kita tak bersua kawan! Hahahaha.."
"Satu pertanyaanku. NGAPAIN KAMU DI SINI!"
"Hahaha.... nggak kok. Ini tugas dari kaumku."
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mengurusi yayasan ini."
"Nggak. Aku nggak paham. Kamu, makhluk dari alam lain, disuruh mengurusi yayasan milik manusia?"
"Ceritanya begini. Pemilik yayasan ini orang yang baik. Sangat baik sekali. Orangnya jujur, ramah, tegas, adil, bersahaja, berwibawa, tidak gampang mengeluh, tidak gampang cengeng..."
"Oke. Stop. Itu kamu bukan tim sukses kan?"
"Hahaha.. nggak lah Kun. Kami, makhluk Genderuwo, mengendus, bahkan mendapatkan data kalau pimpinan yayasan di sini sedang dalam keadaan bahaya. Kami tidak tega Kun. Lantas kepala suku kami menemui pimpinan yayasan ini dan menawarkan operasi penyelamatan."
"Jadi maksudmu sekarang pimpinan yayasan yang asli sekarang ada di.."
"Yap. Dia aman di wilayah kami. Kami mengambilnya kemarin. Sekarang aku yang menjadi dirinya untuk sementara sampai keadaan benar-benar aman. Lupa kalau kami ini, kaum Genderuwo ahli dalam bidang penculikan dan spionase? Masih ingat dengan cerita tiba-tiba ada anak menghilang dan orang-orang menganggap diambil oleh Genderuwo kan?"
"Iya tau. Cerita basi itu. Bahkan kalian juga menyunat. Dasar ahli medis salah sasaran kalian."
"Hahaha... begitulah Kun."
"Berarti audisi Guru Indonesia ini pasti juga ulahmu kan?"
"Hahaha.. iyaaa.."
"Dasar makhluk aneh."
"Jujur Kun. Aku memang sengaja membuat acara seperti ini untuk memancing kedatanganmu. Kalau aku ke rumahmu langsung, pasti istrimu akan marah-marah. Kamu kan disuruh berperilaku normal. Nggak boleh main lagi sama kita-kita ini."
"Ya bukan begitu Gen. Ada baiknya juga istriku berbuat seperti itu. Bosen tiap harus ketemu sama makhluk aneh kayak kamu!"
"Terserah kamu lah Kun. Hahahaha.. yang jelas aku butuh bantuanmu saat ini untuk menyelamatkan yayasan ini Kun. Atau lebih tepatnya menyelamatkan sekolah ini. Dari...."
"Dari apa?"
"Dari...."
"Dari apa Gen!"
"Dariiiiii...."
"Gen!"
"Dari sesuatu di belakang gedung ini."
"Astaga.. pantas saja aku menangkap gelombang yang aneh."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kun?"
"Gen. Ini akan butuh waktu lama. Tidak bisa sekarang. Aku sama sekali belum pernah merasakan gelombang seperti ini sebelumnya. Satu atau dua tahun mungkin belum cukup."
"Oke. Supaya kamu mudah melakukan pendeteksian sekarang sebagai pimpinan yayasan aku mengangkatmu langsung menjadi Guru di sini."
"Ha?"
"Kamu dapat jadwal mengajar kelas 2."
"Ha? Kelas 2? SD? Aku mengajar anak kecil?"
"Terserah nanti kamu ajari terbang atau terbang-terbangan atau apalah. Yang jelas sesuatu di belakang gedung ini harus segera diketahui. Ini jadwal mengajarmu."
"Sebentar-sebentar..."
"Sudah tak ada waktu lagi Kun. Kamu harus di sini masuk dalam operasi penyelamatan ini."
"Masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang Gen? Kamu gila apa? Aku tidak pernah mau mencalonkan diri sebagai Guru Gen! Nggak! Aku jadi murid saja! Kamu tahu kan nilai akademis ku sewaktu kuliah seperti apa? Kamu ingat kan bahwa kelas utamaku adalah kantin Mbok Sum?"
"Ayo lah Kun. Tolong bantu kami dalam misi penyelamatan ini. Beliau orang baik Kun."
"Haduh. Padahal aku nggak berharap diterima Gen. Aku nggak pantes jadi guru Gen."
"Demi Fayya."
"Gen...."
"Lakukan ini demi orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu Kun. Sebagaimana kami kaum Genderuwo menyayangi pimpinan yayasan ini."
"Gen...."
"Oh iya, jangan lupa buat RPP nya juga."
"Astaga....."

Di rumah,
"Sayang selamat ya akhirnya kamu diterima jadi guru." Fayya memeluk Kun erat. Pelukan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
"Iya. Makasih ya sayang." Kun mencoba memaksa diri untuk tersenyum.
"Kenapa sayang? Kok cemberut?"
"Jadi guru di yayasan, gajinya sedikit." Padahal bukan itu yang ingin diomongkan Kun. Tapi dia terpaksa berbohong.
"Sayang. Fayya nggak minta apa-apa darimu sayang. Kalau kamu nggak kelihatan bekerja, gimana kata tetangga?"
"Iya. Itu wajar."
"Sekarang senyum dong sayang."

Kun tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Apa sebenarnya di belakang gedung tadi....."

"Ke kamar yuk..." Fayya menggandeng Kun. Proses perkembangbiakan dimulai.


Share:

Jumat, 14 Maret 2014

Fayya Ngidam

Di dek sebuah kapal yang menuju pulau kecil, Kun melamun. Dia menerawang sedang apa istri tercintanya sekarang. Sambil mengusap-usap cincin perkawinan mereka, Kun berharap istrinya baik-baik saja di rumah sederhana mereka. Untuk kemudian matanya terpejam.
"Sayang, kamu sedang apa sekarang?"
Terngiang suara Fayya, "Kun, lupa kalau kamu dukun?"
"Eh sayang, rupanya kamu tahu kalau aku sedang merindukanmu?" Kun membalas.
"Ya tahu lah sayang. Gelombang yang kamu kirimkan kan jalurnya berbeda dengan gelombang-gelombang yang ada. Kalau yang sering dipakai internet yang sekarang sih masih belum ada apa-apanya."
"Hahaha, sayang.. maaf aku terpaksa pakai kekuatan yang ini. Aku nggak kuat. Kangen banget sama kamu Fayya."
"Sama sayang. Kangenku juga nggak kalah besar sama kangenmu."
"Kamu sedang apa sekarang?"
"Yeee, katanya dukun, kok masih tanya. Hahaha..."
"Sayaaaaang... ini kan formalitas sebagai seorang suami istri. Kalau aku nggak pura-pura tanya terus kita mau mesra-mesraan pakai apaaaa.... Hiiihhhh, gemes tau!!!"
"Hahaha, berhasil bikin sayangku gemes..."
"Sesakti-saktinya, seampuh-ampuhnya, secerdas-cerdasnya manusia bikin teknologi apapun, proses penciptaan manusia yang paling nikmat ya dengan bertemunya aku dan kamu untuk menjadi kita, dan menjadi anak kita...."
"Ngomong apa sih yang?"
"Hiiiiihhh.. gemeeess!!"
"Hahaha..."

Bahu kanan Kun ditepuk seseorang. Mata Kun terbuka. Komunikasi dengan Fayya terputus.
"Maaf mas. Ini sampai mana?"
"Oh, maaf mas. Saya juga kurang tahu. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Mas mau kemana?"
"Ke pulau Harpu."
"Pulau Harpu? Serius mas?"
"Iya mas."
"Di sana angker lho mas. Orang yang sudah pergi ke sana tidak akan kembali dengan selamat."
"Mas kok tahu. Pernah ke sana?"
"Belum mas. Menurut cerita-cerita orang di sekitar pulau seperti itu mas."
"Uhmmm,"
"Mas ada keperluan apa?"
"Main aja."
"Main?"
"Iya. Istri saya sedang hamil. Terus dia meminta saya untuk pergi ke pulau Harpu. Ngidam gitu mas. Kalau nggak dituruti ya gimana."
"Ah, itu takhayul mas. Itu cuma mitos. Ngidam itu nggak dituruti juga nggak apa-apa mas. Pasti nanti takut kalau bayinya lahirnya nggak normal kan?"
"Mas," Kun tersenyum, "Saya mau menuruti keinginan istri saya untuk pergi ke pulau Harpu itu bukan semata agar bayi saya nanti lahirnya bisa selamat, normal. Itu karena saya berusaha menghormati dan menghargainya sebagai seorang istri. Di rumah dia sudah melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi ini bentuk rasa syukur dan terima kasih saya kepada istri saya mas."
"Oh..."
"Mas sendiri mau kemana?"
"Saya turun sini." kemudian laki-laki itu menghilang. Kun, biasa saja. Memang seperti ini dunianya. Mau gimana lagi?

Kapal berhenti di bibir pantai. Kun turun dengan membawa tas rangsel kecil berwarna hitam. Semacam tas untuk laptop. Isinya, dia tidak tahu. Karena Fayya lah yang menyiapkan semuanya. Iya, seperti yang Kun katakan kepada 'makhluk' di kapal tadi, Fayya memang istri yang baik.

Siang hari yang terik pulau Harpu terlihat sepi. Lebih tepat kalau dikatakan lengang. Kun juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan foto-foto selfie dan mengirimkan gambarnya via bbm lantas pulang kembali ke rumah, atau mendirikan tenda dan menginap di pulau Harpu yang katanya angker ini untuk beberapa hari. Sementara ini Kun memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling menikmati pulau Harpu yang indah ini.

Pohon-pohon besar yang rindang, sejuknya udara, dan semilirnya angin pantai menemani perjalanan Kun. Iya, benar-benar lengang. Kicauan burung-burung juga turut serta membersamai Kun. Entah kenapa air matanya menitih. Ini bukan tempat angker. Batin Kun. Ini tempat yang indah. Benar-benar indah. Kun mengambil ponselnya. Ternyata tidak ada sinyal. Kun tersenyum. Baginya ini adalah tempat yang tepat. Terima kasih Fayya sayang. Kenapa tepat? Karena tempat yang tidak bisa ditembus oleh sinyal seluler dan internet adalah tempat yang masih murni gelombang elektromagnetiknya. Begitu diagnosa Kun. Dan tempat-tempat seperti itu adalah tempat yang sangat cocok untuk menetralisir isi kepala dan isi hati.

Lalu di bawah pohon yang rindang, Kun duduk bersila setelah meletakkan rangsel di sampingnya. Matanya, terpejam.

Datang seorang anak kecil. Dia tersenyum lalu bersalaman dengan Kun dan menyium punggung tangan Kun.
"Siapa kamu?" anak kecil itu bertanya. Menurut Kun dia ganteng.
"Namaku Kun. Kamu siapa?"
"Aku, aku lupa siapa aku."
"Iya nggak usah dijelaskan. Aku tahu kok. Kamu Si Gelombang kan?"
"Iya. Kok kamu tahu sih? Padahal aku kan sudah berpura-pura lupa."
"Hehehe, eh Gelombang, aku panggil kamu Mbang gitu aja ya. Soalnya kalau Gelombang terlalu panjang."
"Nggak papa Om Kun."
"Yeee, manggil Om lagi. Mas aja."
"Yeee, ya nggak mau. Om Kun aja ya."
"Iya deh. Terserah kamu."
"Om Kun di sini ngapain?"
"Nggak tahu. Main aja."
"Ke rumahku aja yuk Om. Deket situ kok. Kebetulan di sini lagi ada pesta Om."
"Pesta? Pesta apa Mbang?"
"Syukuran. Ibuku hamil Om."
"Ibumu hamil?"
"Iya. Hamil calon adikku Om."
"Kamu anak yang nomer berapa Mbang."
"Aku anak nomer 1134509 Om."
"Astaga. Berarti adikmu nanti anak nomer 1134510?"
"Yap! Bener Om."
"Berarti memang Gelombang itu memang banyak jenisnya ya?"
"Iya Om. Jenis kami banyak kok. Dan berbeda-beda. Yang dikenal manusia itu ya cuma gelombang-gelombang yang itu-itu aja Om. Mereka itu Jenis Gelombang yang ingin populer Om. Tapi sebenarnya yang lebih hebat dari mereka juga masih banyak Om."
"Lha?"
"Kenapa Om? Bukannya Om sudah tahu ya?"
"Iya sih sudah tahu. Kaget aja. Om kira tidak sebanyak itu jenisnya."
"Kalau pembagian secara umum cuma dua. Kayak manusia Om."
"Oh."
"Gimana Om? Jadi ikut ke rumah nggak. Beneran lagi ramai Om."
"Boleh deh. Daripada nggak ngapa-ngapain."

Di rumah si Mbang sangat ramai. Kumpul banyak sekali Gelombang. Semua melihat ke arah Kun. Mereka tersenyum ramah. Kun juga membalas setiap senyum itu. Baru kali ini dia merasa heran setelah sekian lamanya. Si Mbang mengajak masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada bapak ibunya.

"Nak Kun ya?" Bapak Mbang menyebut nama Kun.
"Kok tahu Pak?" Kun heran.
"Sudah. Kayak nggak ngerti sama gelombang aja Kun. Data kami soal kamu banyak. Kamu itu jenis manusia yang paling sering berinteraksi dan sering menggunakan jasa kami kan?"
"Iya bapak. Terus terang saya kaget kalau kalian sebanyak ini pak. Pantesan sinyal hape nggak mampu menembus. Lha di sini tempat lahirnya gelombang. Hahaha.."
"Hahaha... Nak Kun, gimana kabar istrinya? Si Fayya."
"Iya pak. Fayya sedang hamil. Dia ngidam dan meminta saya datang ke pulau Harpu ini pak. Nggak tahu maksud dia apa."
"Perempuan, jenis manusia itu memang sinyalnya kuat Kun. Banyak dari kami, gelombang, khususnya gelombang-gelombang yang kuat, yang ikut bersama perempuan Kun."
"Gitu ya Pak?"
"Tubuh seorang perempuang adalah tempat yang nyaman bagi gelombang-gelombang kuat Kun.  Fayya memang sekilas perempuan biasa. Tapi begitu dia mengabdi dan menerima suaminya dengan penuh ketulusan, maka gelombang-gelombang yang ada di tubuhnya akan menjelma menjadi pendaran-pendaran yang sangat kuat. Kuat di sini bukan kuat untuk menyerang yang lain. Tapi kuat untuk mengayomi yang lain. Kuat untuk kamu ajak berjuang di medan perang model apapun. Apa lagi, dia sedang hamil."
"Pak,"
"Kenapa Nak Kun?"
"Boleh meluk pak?"
"Sini-sini. Jangan siakan sayang Fayya kepadamu Nak Kun. Sayangi dia, lindungi dia. Nafkahi dia sebagai tanggung jawabmu sebagai lelaki. Dia dipilih untuk menjagamu. Menjaga keseimbangan hidupmu Kun."
"Tapi istri bapak juga sedang hamil."
"Kalau kami sih hampir setiap hari melahirkan Kun. Hahaha...."
.......................

Di rumah Fayya sedang bersiap menyambut Kun. Usia kandungannya sudah memasuki angka dua bulan. Bagi Fayya ini adalah anugerah tersendiri. Awalnya dia berfikir jangan-jangan dia tidak bisa hamil. Secara Kun adalah makhluk aneh. Tapi nyatanya dia hamil juga.

Teh hangat, sambel petai, dan sedikit gorengan tempe sudah tersaji cantik di meja makan. Kun datang.

"Sayang. Mau mandi dulu apa langsung makan?" Fayya menyambut Kun penuh keramahan.
"Makan dulu yang. Mandinya nanti. Bareng kamu." Kun menggoda.
"Baru juga pulang pikirannya sudah sampai sana. Gimana? Dapat apa dari pulau Harpu?"
"Dapat banyak sayang."
"Mana? Tasnya juga masih kempes gini."
"Ada kok. Nanti di kamar aja. Aku lapar."
"Hu'um. Sini Fayya ambilkan nasinya. Eh sayang, aku boleh jujur nggak."
"Boleh. Kenapa Fayya sayang?"
"Uhmmm, sebenarnya aku tuh nggak tahu kalau ada pulau yang namanya Harpu. Saat itu aku nyebut kata Harpu begitu aja. Eh nggak tahunya ada beneran ya? Hehehe.."
"Hiiihhhh... Gemes gemes gemeeeeessss....."

Setelah adegan saling cubit dan makan bersama, Kun dan Fayya mandi. Bareng. Tak usah dibayangkan bagaimana adegannya. Setelah adegan yang kurang bisa digambarkan itu, mereka berada di kasur. Terjadilah diskusi yang sangat penting.

"Sayang, sayang mau anak kita besok jadi apa?" Kun mengawali. Dan apa respon Fayya?
"Pertanyaanmu terlalu mainstream Kun. Ganti."

Klik. Lampu pun dimatikan.
Share: