Sabtu, 23 Februari 2013

Kun Si Dukun #New Look of Kun

Dari bawah, jendela di lantai dua terlihat terbuka. Di sana ada sepasang mata menatap kosong. Tatapan mata yang kadang diselingi sebuah senyuman. Senyum, cara tersederhana manusia agar terlihat bahagia. Sesekali pula ia menata rambutnya yang berbeda dari sebelumnya. Angin pagi perlahan masuk ke ruangan itu. Menyibak penutup jendela yang mengenai wajahnya. Kumis mulai sedikit tumbuh di sekitar wajahnya yang kini tampak lebih dewasa.

"Sepertinya, hidupku terasa lebih indah sekarang." gumamnya.

Pintu kamar itu terketuk pelan.
"Masuk." katanya sedikit berteriak.
"Mas Kun. Gimana? Sudah agak baikan?"
"Hehe. Dari dulu saya orangnya sudah terkenal baik mbak suster. Kok belum pulang? Dinas malam?"
"Iya iya. Percaya deh. Siapa sih yang nggak tahu mas Kun. Hehe.. Iya mas. Dinas malam. Ini masih nunggu jemputan suami."
"Berarti semalam ngesot lagi? Hahaha..."
"Hahaha.... nggak lah mas Kun. Capek ngesot terus."
"Mbak nggak marah gitu profesi mbak dijadikan bahan nakut-nakutin anak kecil gitu? Sering lho orang-orang tua sekarang nakut-nakutin anak-anaknya yang nggak mau mandi. Eh ayo mandi! Kalau nggak mandi nanti dimandiin suster ngesot lho! Gitu mbak suster."
"Hahaha... nggak papa lah mas Kun. Kita sebagai suster nggak ada yang marah kok. Nggak demo juga menuntut pencemaran nama baik. Lagian kadang kita emang ngesot juga kok."
"Lha? Yang bener?"
"Nggak lah mas Kun. Becanda. Ini sarapannya. Nanti suster pengganti akan datang jam sepuluh. Membawa obat sama makanan kecil. Mari mas Kun. Semoga segera pulih."

Kun. Pemuda yang katanya sakti itu kini harus dirawat di rumah sakit. Entah. Kata dokter seksi yang memeriksanya, dia terkena masuk angin. 

Kun batuk-batuk kecil. Terdengar dahak masih menghuni tenggorokannya. Infus sudah dicabut. Awalnya jarum infus tidak mau menembus dagingnya. Sampai beberapa kali patah, hingga akhirnya pas jarum ke-99 barulah dagingnya mampu ditembus. Itu pun bukan sembarang orang yang memasukkannya. Dia, haruslah Fayya.

"Gimana? Itu kenapa nggak dimakan?" Fayya bertanya.
"Kenapa tidak menjawab?" lagi Fayya bertanya. Ia kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang dan menghela nafas panjang.
"Mana suamimu?" suara Kun parau.
"Dia bukan suamiku." Fayya menjawab.
"Tak perlu berpura-pura. Aku tahu. Dia suamimu."
"Untuk apa aku berpura-pura. Tidak ada gunanya."
"Fayya sudahlah. Jangan kau bohongi dirimu sendiri. Dia itu suamimu."
"Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu Kun."
"Tapi aku tidak mencintaimu Fayya."
"Sekarang giliran kamu yang bohong!"
"Baiklah. Aku memang mencintaimu. Tapi setiap laki-laki punya caranya sendiri untuk mencintai..."
"Iya! Dan perempuan juga berhak untuk menentukan siapa laki-laki yang boleh mencintainya!"

Kun masih melihat di luar. Di bawah ada anak-anak kecil yang sedang berlarian sambil memegang balon. Beberapa balon itu terlepas dari genggaman. Terbang melewati wajah Kun. Fayya mengambil tisu seraya menyeka air mata yang perlahan menetes. Kemudian Kun mendatangi Fayya mendekat ke telinganya.

"Akting kamu bagus."
"Hahahaha..... Dasar orang gila! Lagian kamu ngapain pakai nanya-nanya mana suamimu mana suamimu. Hahaha..."
"Yeeee, kamu juga ngapain nanggepin orang gila. Eh tapi kita berdua bakat jadi pemain film kayaknya. Hehehe.." Kun nyengir.
"Iya dong. Secara kita udah kompak gitu. Eh gimana? Beneran udah baikan? Kapan boleh pulang? Aku kangen kamu ajak 'ngilang' terus tiba-tiba kita nongol dimana gitu. Terakhir kapan itu ya?"
"Terakhir itu. Kita nongol di acara pemilihan ketua partai."
"Hahaha. Iya Kun Iya. Kita pakaiannya serba biru, eh anggota partainya serba kuning semua. Hahaha... Tapi Kun,"
"Apa Fayya?"
"Kali ini sakit kamu benar-benar yang terparah. Lain kali hati-hati kalau pakai tenaga ya. Kalau butuhnya tenaga luar, nggak usah pakai tenaga dalam."
"Iya sayang iya."

Kun, sekarang resmi menjadi tunangan Fayya. Lamaran Kun diterima oleh keluarga Fayya meski ada hal-hal yang harus dipenuhi sebagai prasyaratnya. Satu di antaranya adalah, Kun harus lulus kuliah, dengan cara orang normal. Dilarang pakai jampi-jampi apapun, jurus apapun, ilmu apapun. Selulus-lulusnya meski sampai berdarah-darah sekalipun. Anehnya Fayya mau menunggu dengan jatuh tempo yang tidak menentu pula. Dari dulu tidak berubah. Padahal Kun juga tidak menggunakan jampi-jampi apapun. Malah kadang Fayya-nya yang aneh sering menggoda Kun. "Pelet aku Kun! Pelet aku!!!" Itu anak, perempuan yang cukup mengerikan ternyata.

Iya. Sebenarnya dia sampai dirawat dua bulan di rumah sakit hanya gara-gara hal yang spele. Malam itu angin terasa biasa saja. Salah satu kerabat Fayya akan menggelar pesta pernikahan esok harinya. Namun ada kesalahan fatal yang dilakukan beberapa orang yang mengaku bisa mengendalikan hujan. Mereka membentengi rumah sekitar kerabat Fayya tapi dengan cara yang overload. Mereka tidak hanya membentengi dari air hujan, tapi juga dari angin. Sebenarnya Kun sudah merasakan ada hal yang kurang beres. Namun sebagai anak muda, dia harus tetap menghormati orang-orang itu. Dia sudah mewanti-wanti kepada Fayya untuk menyediakan beberapa perlengkapan penyelamatan jika terjadi hal-hal yang mengerikan.

Benar saja. Keesokan harinya sesaat setelah pesta baru saja di mulai, datang angin dari timur dengan kecepatan yang tinggi.
"Sial!" batin Kun. Sejurus kemudian segera dia mengambil kuda-kuda melakukan antisipasi. Itu seperti angin yang balas dendam karena semalam dibuang-buang dianggap sesuatu yang tidak berguna.
"Kalian payah! Seharusnya kalian buang air saja! Tak perlu buang angin segala!" Kun memaki orang-orang itu. Tapi yang dimaki tidak mengerti karena menurut mereka susunan kalimat Kun aneh.
"Buang air saja, tak perlu buang angin?" mereka garuk-garuk pantat.
"Ah sudah lah."

Lantas Kun berlari menjemput sekawanan angin berkecepatan tinggi itu.
"Ini sudah terlambat. Tak mungkin aku alihkan ke lain tempat. Satu-satunya cara adalaaaaahhh........ Hiyaaaaaaa!!!! ANGIN ANGIN ANGIN JANGAN KAU BENCI ANGIN KARENA IA PEMILIK INGIN!!!!"

Kun masuk ke pusaran angin itu dan menyedot semua angin, hingga tubuhnya dipenuhi angin. Ini adalah masuk angin terbesar dalam sejarah umat manusia. Cara mengeluarkan anginnya manual. Dalam sehari dia harus kentut seratus kali selama dua bulan berturut-turut. Syukur bisa berak. Dan di rumah sakitlah dia mendapat obat perangsang buang angin. Di tempat tambal ban nggak ada.


Di kantin Mbok Sum,
"Kamu itu ya aneh. Dimana-mana makan itu nasi, ini angin kamu makan."
"Kalau mbok Sum jadi Kun apa yang mbok lakukan."
"Hmmm. Aku sih sederhana. Aku ambil wajan jumbo, aku goreng angin itu."
"Tambah aneh mbok."
"Bentar mbok goreng tahu di belakang dulu. Kamu minum apa?"
"Biasa mbok air kembang. Gulanya sedikit."

Muncul secara misterius sebuah surat di meja Kun.
"Haduh. Capek deh capek deh! Capek deh capek deh capek deh! Tahun udah berganti, kenapa cara kalian masih manual seperti ini sih! Keluar keluar keluar! KELUAR! CEPETAN KELUAR NGGAK!!!"
"Horeeeee Kuuuuunnnnnn!!!!!" Pangeran tokek, Genderuwo, Gagak Rimang, Serigala Botak semuanya muncul. Mereka memeluk Kun.
"Wuih! Dandanan baru cint? Genderuwo! Kamu keren lho pakai blazer kayak gitu! Pangeran Tokek astaga rambutnya! North Korean style! Gagak Rimang, ponimu aduuuhhh!! Keren abis! Serigala botak, percuma. Buang wig itu. Buang."
"Hahaha...Kun sudah kembali saudara-saudara!"
"Kun ini es teh.... Ha?!! Kamu punya boyband sekarang?!!" Mbok Sum terkejut.
"Sssttttt....." mereka kompak menyuruh mbok sum diam. Mbok Sum freeze.
"Kun, kamu juga harus seperti kami. Ganti mode. Ikat kepala kayak gitu sudah ketinggalan jauh! Sekarang pakai ini." Pangeran tokek memberikan topi hitam dengan lambang huruf K di tengah.
"Pakai ini juga!" Genderuwo memberikan jas hitamnya.
"Ini juga!" Gagak Rimang memberikan kemeja hitamnya.
"Dan yang terakhir ini juga." Kun menerima kaca mata hitam dari Serigala Botak.

"Berubah!!!!" Kun terlihat keren.

Fayya datang. Ia kaget melihat Kun yang berubah jadi lebih keren, rapi, bersih, dan tampan.
"Aku Kun sayang! Kun!"
"Nggak percaya!" Fayya cemberut.
"Aku Kun! Eh teman-teman aku Kun kan?" mereka mengangguk.
"Nggak! Nggak percaya!"
"Beneran deh. Aku Kun kok."
"Baiklah. Cuma ada satu cara untuk membuktikan kamu Kun atau bukan. Mbok Sum! WAJAN JUMBO!!!"

Kun pasrah. Wajan jumbo mendarat di kepalanya. Teriakkan kesakitannya khas, dan itu tidak bisa ditirukan oleh siapapun.


Share:

4 komentar:

  1. #terhibur,
    Selalu melompat ya mas? :D

    Pokoknya nendang terus, wathon madep. Sae mas, tenin ra ngapusi tur yo ora akting.

    *salam go fayya ya.. :D

    BalasHapus