Sabtu, 09 November 2013

HaniMun

"Sayang, tulisannya bukan gitu kali. Honeymoon. Bukan hanimun sayang."
"Oh. Tapi bacanya hanimun kan?"
"Iiiihhh... ya tetep aja tulisannya salah sayang."
"Mana yang lebih bener? Yang tulisan dan cara bacanya bener apa yang antara tulisan dan cara bacanya beda?"
"Tau ah. Yang paling bener itu yang keluar dari hatimu sayang."

Iya. Sekarang mereka berdua sedang berada di Tokyo. Honeymoon kata Fayya, atau hanimun kata Kun. Sama saja. Yang jelas mereka sedang merenda merajut kehidupan baru setelah sekian lama berkutat dengan keanehan demi keanehan. Kun juga sudah bertemu ibunda tercinta sewaktu prosesi pernikahan kemaren. Tak ada hal yang paling menggembirakan selain restu dari ibu. Sesakti seampuh apapun seorang anak, dia tetaplah anak. Tak ada satu pun pawang yang dikerahkan meski hujan terus terusan mengguyur sekitar rumah Fayya.

"Biarlah. Hujan ini berkah." begitu gumam Kun.

Tenda-tenda basah oleh air hujan. Tapi ada tak ada satu raut muka tamu yang cemberut panik atau gelisah karena mereka tahu siapa yang menikah. Anak muda yang sembilan puluh sembilan persen prestasi akademiknya amburadul tapi sangat solutif terhadap semua permasalahan yang terjadi di sekitar kampus. Dari masalah yang 'kasar' sampai yang 'halus'. Anak muda yang seharusnya mampu cumlaude, tapi memilih untuk telat lulusnya. Sederhana, hanya ingin merasakan proses demi proses kehidupan menuju sejatinya kedewasaan dan kematangan dalam berfikir dan bertindak. Anak muda yang paham bahwa es teh adalah sama dengan air kembang. Sama-sama herbal. Anak muda yang memiliki kemampuan menghilang tapi lebih memilih berjalan kaki jika bepergian. Anak muda, yang memang sangat memiliki potensi awet muda. Dan anak muda yang setia dengan satu pasangan saja. Fayya.

"Selamat ya Kun..." Pak Armando memeluk erat Kun kala itu.
"Terima kasih pak."
"Ini kenalkan istri saya."
"Istri?" Kun mengangkat alis. "Katanya kalian ber..."
"Ssssttt... nggak jadi Kun. Ini berkat ajian yang kamu ajarkan." 
"Ajian? Ajian apa ya?"
"Ajian milkshake. Masa lupa?"
"Pak! Itu bukan ajian! Itu minuman! Saya minta pak Armando sering-sering membuatkan milkshake kesukaan istri bapak biar istri bapak merasa disayang oleh suami. Bukan ajian!"
Pak Armando melongo. Istrinya juga. Sampai tumpah air liurnya. Dikiranya milkshae sama dengan horseshake atau ajian jaran goyang.

"Sayang, kok nggak ada salju? Katanya di Tokyo banyak salju." Fayya merengek manja di dekapan Kun. Erat. Dilem. Disemen. Dicor.
"Sayaaang. Ini musim apa coba? Kan bukan musim dingin. Mana ada salju yang. Lagian emang daerah Tokyo itu jarang-jarang juga turun salju meski musim dingin tiba." Kun menjelaskan sambil sesekali membelai kepala istrinya itu.
"Apa? Nggak ada salju? Masa kalah sama Indonesia. Di Indonesia kan banyak salju. Keluarnya juga nggak mengenal musim."
"Emang ada yang? Dimana? Kok baru denger sekarang."
"Ada kok." Fayya manggut-manggut sambil manyun-manyun bibirnya.
"Dimana sih yang? Penasaran aku. Kalau di Indonesia ada salju yang selalu turun tanpa mengenal waktu lebih baik besok kita pulang saja ke Indonesia yang."
"Ada yang. Beneran mau pulang besok?"
"Iya. Malam ini kita kemasi barang-barang."
"Nggak kecewa kalau aku bilang dimana tempat salju yang selalu turun itu?"
"Emang dimana sih yang?"
"Di tempat CUCI MOTOR SALJU. Hahahaha.... "
"Dasar duduuuullll!!! Siniiiiii!!!" Kun menggelitik Fayya, sampai terkekeh dan berlinang air mata. Kemudian selanjutnya terjadi adegan laga. Saling hantam, saling tindih, saling tarik, tapi tak ada yang tersakiti. Karena kalian tahu itu adegan apa. Hanimun kata Kun.

Pagi di Tokyo. Rencananya pasangan sejoli yang baru dirundung bahagia ini mau melanjutkan jalan-jalan mereka ke menara Tokyo atau Tokyo tower. Sebuah menara yang terletak di taman Shiba yang mirip dengan menara Eiffel di Paris. Tapi karena agak kecapekan setelah pertarungan semalam, Kun memutuskan untuk bersantai di kamar hotelnya. Fayya masih tergolek manja di ranjang.

"Akhirnya. Aku jadi manusia. Manusia seutuhnya. Semalam sudah yang ketiga kali aku melakukannya dengan Fayya. Berarti semua kekuatanku yang aneh-aneh itu sudah hilang. Aku normal sekarang. Aku manusia normal." batin Kun. 
"Sayaaang... Kamu dimana?" Fayya memanggil manja. Kun tersenyum menghampirinya.
"Disini sayang..."
"Sini peluuuk..."
"Teletubbies kalah sama kita yang. Jumlah berpelukan kita lebih banyak daripada mereka."
"Iiiihhh, gemes ah." Fayya mencubit perut Kun.
"Bangun yuk. Mandi sarapan habis itu kita ke menara Tokyo."
"Nggak mau. Maunya disini saja sama suami."
"Masa nggak jalan-jalan?"
"Nggak, bersamamu adalah perjalanan terindah dalam hidupku yang. Anyway, terimakasih Kun sayang."
"Iya Fayya sayang. Karenamu, aku menjadi manusia seutuhnya."
"Hu'um."
Dan lagi adegan laga itu berlanjut. Season 2.

Mereka menikmati perjalanan menggunakan kereta api super cepat menuju taman Shiba. Dalam hati Kun berkata, ternyata manusia memang suka terburu-buru atas nama efisiensi waktu. Padahal kalau mereka mau dan tahu, mereka bisa lebih cepat dari kereta ini tanpa menggunakan sarana apapun. Alami. Natural. Hmmm....
"Sayang.." Fayya membuyarkan lamunan Kun.
"Eh, iya."
"Ngelamunin apa sih?"
"Nggak itu tadi lho. Ada buruk bagus banget yang lewat. Warnanya lucu. Kayaknya burungnya penggemar Reggae."
"Ah ngaco ah. Kereta secepat ini mana sempat melihat burung."
"Burungnya, penggemar Reggae. Burungnya menggemari Reggae atau burungnya si penggemar Reggae. Iya sih. Aneh sih."

Kereta berhenti mendadak. Sepertinya ada hal darurat. Semua penumpang saling pandang seolah berkata 'ada apa sih'. Tak ada informasi apa-apa. Tiba-tiba saja kereta berguncang keras. Blarrrr! Semua penumpang berteriak histeris. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ketakutan. Jerit tangis terdengar di setiap gerbong. 

"Tenang sayang." Kun memeluk erat Fayya. 
"Ada apa sih Kun?" Fayya datar.
"Woy. Yang lain panik kenapa wajah kamu innocent gitu? Takut dikit kenapa sih?"
"Bersamamu aku tak takut menghadapi apapun sayang."
"Halooo, bukan saatnya gombal-gombalan. Lihat itu orang-orang pada panik. Kita panik juga dong."
"Ah terlalu mainstream. Mengikuti suara terbanyak itu kurang asyik."
"Astaga. Kamu lebih aneh dariku Fayya. Yuk keluar yuk. Yang lain udah pada keluar tuh."
"Nggak mau. Ntar aja kalau udah lima detik sebelum kereta meledak kita baru keluar."
"Astaga. Sayaaang.. Ini kita lagi nggak main film. Ini beneran. Darurat sayang daruraaat..."
"Iya deh kita keluar aja." Fayya masih innocent. Kun garuk-garuk kepala.

Lalu keadaan sedikit tenang. Kemudian ia mencoba berbincang dengan orang Jepang. Dengan 'bahasa'.
"Iya. Saya pernah bertugas di Indonesia lama. Mengurusi distribusi perusahaan otomotif."
"Syukur. Karena saya tidak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Perancis."
"Sayang. Ini Jepang." Fayya memberi isyarat Kun, bahwa kebodohan adalah kunci kebodohan selanjutnya.
"Ngomong-ngomong tadi ada apa?"
"Ada monster yang ingin menguasai bumi."
"HAAAA??? MONSTER???" Kun dan Fayya kompak. 
"Oke sayang. Kita pulang. Dia tak lebih aneh daripada kita." Kun menarik tangan Fayya. 

"Sayang. Gimana kalau ternyata ada monster beneran di Jepang?"
"Astagaaa... di Indonesia ketemu siluman. Di Jepang ketemu monster. Kapan bisa tenang hidup ini."

Di kamar hotel, laptop Fayya berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk di sana.
Bapak: Nak, kalian kapan pulang? Sebaiknya secepatnya.
Fayya: Iya pak. Kalau bapak menghendaki kami pulang, kami akan pulang secepatnya.
Bapak: Disini lagi ada masalah kecil. Pamanmu kesurupan. Sudah tiga hari ini. Kadang ia berbicara dengan logat yang aneh. Seperti orang Jepang.
Kun: Bapak, tunggu saya pulang.

Segera setelah turun dari pesawat mereka meluncur menuju rumah Fayya. Di sana paman Fayya, sudah diikat dengan rantai besar.

"Mana! Mana Kun! Manaaa!!!" matanya beringas. "Mana! Mana Kun! Manaaa!!!"
"Aku di sini. Tenanglah. Kita bicara baik-baik."
"HAHAHA.. rupanya kamu sudah di sini. Sekarang lepaskan aku dan kita bertarung secara ksatria!"
"Bapak..." Kun memberi isyarat kepada mertuanya untuk melepas rantai yang mengikat pamannya.
"Jangan di sini. Di luar saja. Kita selesaikan berdua." Kun berjalan santai menuju halaman rumah. Si paman yang kesurupan segera mengejar Kun dan ingin menghantamnya dari belakang.

Suuuuuutttttt.... Kun menghentikan si paman dengan menujukkan rambu-rambu berlambang 'S'.

"Duduk." pinta Kun yang lebih dulu mengambil posisi bersila. Kemudian si paman duduk.
"Apa maumu?" Kun bertanya dengan tenang.
"Aku? Hahaha!!"
"Nggak usah tertawa gitu. Biasa saja. Itu memperburuk citramu."
"Sial! Aku mau menguasai tubuh ini."
"Serius?"
"Iya!"
"Kamu mau menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia lebih tepatnya manusia Indonesia?"
"Iiii.. yaaaa..."
"Siap hidup di negara yang seperti ini?"
"Iiii... yaaaa..."
"Siap dengan kondisi ekonomi yang seperti ini?"
"Tiiii.. iyaaa..."
"Kamu pikir enak apa menjadi manusia? Ha? Kamu harus berumah tangga, beranak pinak, mematuhi aturan dan etika. Enak apa? Kamu bodoh ya? Kehidupanmu itu jauh lebih baik. Jadi manusia itu sulit. Apalagi ini Indonesia. Kalau mau merasuki tubuh orang itu kira-kira. Nggak boleh asal. Perhitungkan dulu baik-baik kultur, politik, ekonomi, sosial, dan semua unsurnya secara matang. Ngawur! Lagian pamanku itu sudah punya anak istri. Jangan renggut kebahagiaan orang lain. Ngerti kamu! Percuma kamu hidup menjadi manusia yang itu bukan dirimu sendiri! Kamu harus bersusah payah meminjam tubuh orang lain. Belum lagi jika kamu melarikan diri dari sini kamu harus mengurus ijin ini itu dan membuat KTP baru. Dikira gampang apa ngurus birokrasi di sini! Ha! Ngerti?"
"Nger..."
"Ngerti nggak?!"
"E, iya iya.. nger ngerti ti."
"Sekarang keluar dari tubuh paman saya."
"Nggak mau."
"Ya terserah situ kalau nggak mau." Kun berdiri meninggalkan si Paman. Tapi kemudian tubuh si paman tergeletak. Kun segera menyadarkannya. Si paman sudah kembali. Keluarga ikut senang.

Di dalam kamar,
"Katanya sudah nggak mau memakai kekuatan itu lagi yang?"
"Nggak kok. Tadi cuma aku ajak bicara."
"Eh tapi tapi, siapa yang merasuki paman tadi."
"Mau tahu?"
"Hu'um." Fayya manggut-manggut manja.
"Beneran?"
"Hu'um." Fayya makin manja.
"Jangan kaget ya."
"Hu'uuummm sayangku.."
"Tadi itu, MONSTER JEPANG!!! HAAAAA....."

Dan adegan laga itupun terjadi lagi untuk kesekian kali. Selamat menempuh hidup baru Kun Fayya...






Share:

Minggu, 27 Oktober 2013

Ilmu Amuba Baroka Hasana

Kun melepas topi hitamnya dan menaruhnya di meja. Di meja itu pula sudah menunggu segelas air kembang. Raut mukanya linglung. Mbok Sum segera menghampirinya.
"Tahu goreng Kun." 
"Iya mbok. Makasih. Belum mau makan."
"Sedang puasa kamu?"
"Sepertinya sih iya."
"Ini kan Sabtu. Puasa apa kamu?"
"Puasa Tahu mbok. Nggak makan tahu dulu selama seminggu."
Plak!
"Ditanya beneran kok."
"Iya mbok puasa."
"Puasa apaan?! Terus yang minum es teh itu siapa?"
"Bukan aku mbok. Itu diriku yang lain."
"Dirimu yang lain?"
"Iya. Diriku yang lain." Kembali, Kun linglung. Senyap. Kantin mbok Sum membeku seketika. Tahu goreng itu berubah menjadi es krim tahu.

Di hari menjelang pernikahannya dengan Fayya, Kun seharusnya gembira. Layaknya manusia-manusia yang siap menyongsong suka cita kehidupan baru yang penuh cahaya. Tapi tidak dengan Kun. Ke-linglung-annya kali ini bukan hal yang main-main. Tiga hari lagi dia akan menikah. Di ritual suci itu tentu akan hadir beberapa keluarganya dari pertapaan Batu Payung. Termasuk Ibunda tercinta. Tapi ini lain. Di saat Kun harus menjalannya puasa 3 hari berturut-turutnya dalam rangka menyongsong prosesi sakral itu, Kun malah tidak puasa sama sekali. Kenapa kamu Kun. Kenapa.

Di tengah-tengah kebekuan yang melingkupi kantin Mbok Sum, Kun berucap lirih.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." Kun seperti sedang berbicara dengan seseorang tapi tidak ada siapapun di sana karena semuanya membeku. Membeku dalam arti sebenarnya.

"Kamu, kembalilah. Tolong kembalilah sekarang." lagi. Kun mengulangi ucapannya, tapi dengan siapa Kun berbicara.

Kun menghela nafas panjang. Seperti ada penyesalan di wajah yang baru saja dicukur kumis dan jenggotnya itu. Tak ada cara lain. Kemudian Kun memanggil Kakenya yang sudah lama tidak pernah dihubunginya. Yang sudah lama menyapih Kun sejak Kun bisa menjalankan ilmu menghilangnya.

"Kakek, kesinilah. Cucumu ini sedang..." Kemudian segera muncul Kakek Kun berjaket tebal untuk mengantisipasi dingin yang diciptakan Kun.
"Kamu sendiri yang bisa menyelesaikan ini Kun. Tidak juga dengan Fayya." Singkat. Lalu Kakek Kun segera pergi.
"Kek....." Kun menggeleng-gelengkan kepala, tanda ia menyerah. Kenapa lagi kamu Kun.
"Baiklah. Kalau ini yang harus aku alami. Fayya, bapaknya Fayya, Ibunya Fayya, maaf aku harus pergi sekarang. Ke masa laluku."

Lalu, semua berlalu. Melaluli lalu lalangnya waktu, Kun kembali ke 29 hari sebelum semua itu.

"Sayang. Ini nanti kan bapak mau mengundang beberapa temannya yang ada di luar negeri sana, tapi masalahnya, bapak itu agak sedikit aneh.."
"Iya wajar, anaknya juga aneh."
"Kun! Dengerin dulu kenapa sih!"
"Iya Fayya ku sayang.."
"Masalahnya bapak nggak mau ngirim undangan via online. Bapak maunya ngirim undangan sekaligus ngirim bingkisannya langsung. Tapi tiket kesananya kan mahal dan kolega bapak itu nggak hanya berada di satu negara saja. Uhmmm, maksut Fayya, Kun mau kalau misalnya...."
"Mengantarkan undangan dan bingkisan itu langsung dalam waktu yang bersamaan?"
"Iya sayang. Gimana? Punya caranya kan."
"Ada sih gampang itu. Semua undangan yang khusus untuk disini juga aku bisa mengirimnya langsung dalam satu waktu."
"Oke deh sayang. Yuk kita tulisi undangan-undangan ini dulu. Eh Suprapto ini kurang gelarnya sayang. Nanti suka marah kalau gelarnya nggak disebut. Katanya nggak menghargai orang."
"Iya deh. Gelarnya panjang banget ya yang? Ini gelar apa kereta api sih? Hahaha.."
"Hahaha..."

Undangan-undangan itu semuanya berjumlah ribuan. Dan harus segera dikirim karena penentuan hari yang mendadak dari Fayya. Secara spontan Fayya meminta Kun menikahinya selambat-lambatnya sebulan dari selesaina telpon mereka hari itu. Kun dan Fayya menulis undangan secara manual, meskipun sebenarnya bisa dilakukan secara kilat dan hasilnya mengkilap. Tapi mereka ingin menikmati suasana yang menurut mereka butuh kejelian itu. Terutama untuk penulisan gelar beberapa tamu dari Indonesia. Seolah mereka tak bisa hidup tanpa gelar. Lalu dimana Tuhan? Sibukkah Ia mencari gelar? Demikian Kun berfikir. Tumben.

Malam. Kun duduk bersila. Matanya terpejam. Ia akan mencoba ilmu amuba. Membelah dirinya menjadi 99 bagian dalam semalam. Demi apa kalau bukan demi calon mertuanya tercinta. Turki, Pakistan, Rusia, Canada, Hiroshima, dan masih banyak kota dan negara di luar sana yang harus bisa Kun tembus tanpa memakai visa. Ilmu Amuba Baroka Hasana.

"Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Laila laila laila bi wardhani. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Songosongosongosong. Mecah telu dadi telu. Mecah limo dadi limo. Mecah pitu dadi pitu. Mecah songo dadi SongoSongo!!!!!"

Byaaarrr!!!! 

Keluar sembilan puluh sembilan macam jenis Kun dan segera melesat sesusai arah yang dituju. Dari 99 bagian itu tiap bagiannya masih memecah 99 lagi dan begitu seterusnya. Tiap bagian dari dirinya pergi membawa bingkisan dan undangan pernikahannya. Konyol bukan? Iya. Tapi ini harus dilakukannya.

Kun bisa kemana pun secara bersamaan. Undangan tersebar dari China hingga ujung Kutub Utara, ada. Padahal itu cuma temen facebook bapaknya Fayya. Siapa saja diundang, di add. Dikiranya semua orang perlu hadir di acara pernikahan anaknya. Tapi nggak mau menyebar undangan online. Iya, namanya juga demi calon mertua. 

"Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Laila laila laila bi akadi. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Jisijisijisiji. Soko songo dadi siji. Soko pitu dadi siji. Soko telu dadi siji. Seko siji bali siji!!!!!"

Sut sut sut sut sut sut sut sut sut!!!!

Bagian-bagian tubuh Kun satu persatu kembali ke tubuh Kun yang satu. Yang masih duduk bersila di kamarnya. Nafasnya tersengal. Kun ambruk seketika. Energinya benar-benar terkuras kali ini. Tidak, dia tak sampai pingsan. Hanya ingin merebah. Kemudian dia bangkit lagi dan bersila. Segelas es teh diteguknya. Matanya terpejam. Mulutnya seperti sedang menghitung sesuatu.

"Sembilan pulan enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan. Sembilan puluh delapan? Kenapa cuma sembilan puluh delapan? Terus yang satu kemana?" Kun mulai panik. Dihitungnya kembali jumlah dirinya yang sudah terkumpul. Masih sama. Tetap 98 yang berarti itu kurang 1. Kun memanggil-manggil dengan mantra-mantra dan semua kekuatannya. Tapi nihil tak ada jawaban selama hampir sebulan. Dan inilah yang menyebabkan kun gelisah hingga membekukan seisi Kantin Mbok Sum.

Kembali ke kantin mbok Sum yang membeku.
Pasrah. Sudah jelas Kun tak bisa berbuat apa-apa. Ini resiko yang belum pernah diperhitungakan sebelumnya. Dia tak tahu kalau ada bagian tertentu dari tubuhnya yang tak mau kembali. Itu artinya ada sesuatu yang hilang dari tubuh Kun, dan berpengaruh terhadap apa-apa yang di sekitarnya. Dia takut, kalau bagian yang hilang dan belum kembali itu adalah bagian dirinya, yang mencintai Fayya. 

Ponselnya berdering. Kun tersadar. Lalu seisi kantin kembali normal seperti semula. Cuma ada sedikit basah di sekitar ketiak mbok Sum.

"Kun, segera ke rumah ya. Sudah ditunggu bapak ibu makan siang. Jangan di kantin mbok Sum terus. Sayang nggak puasa kan?"
"Nggak. Aku segera kesana." jawaban Kun datar. D A T A R. Tanpa Rasa. Hambar.

Makan siang bersama keluarga Fayya dijalani dengan biasa saja. Hanya basa-basi formalitas saja. Seperti formalitas hidup menjadi manusia yang diberi kemampuan luar biasa tapi juga harus menghadapi resiko-resiko yang luar biasa sulitnya.

Selesai. Kun duduk di teras depan yang kemudian disusul Fayya.

"Tumben kamu nggak bantu ibu cuci piring yang?" Fayya bertanya.
"Nggak tahu. Lagi nggak mood." jawab Kun. Mood? Sejak kapan Kun mempertimbangkan mood dalam melakoni hidup? Bahkan baru kali ini Fayya mendengar kata itu keluar dari mulut calon suaminya. Fayya mengernyitkan dahi. Kun, masih biasa saja.
"Kamu kenapa yang?" tanya Fayya sambil memegang tangan Kun. Ada yang sedikit bergetar di tubuh Kun. Tapi Kun tak menjawab.
"Sayang, kamu tak apa kan?" Lagi suara lembut Fayya menggetarkan Kun. Dengan tiba-tiba Kun menyandarkan kepala di bahu Fayya.
"Sini sini. Sayang..." Fayya mengelus-elus kepala Kun. Dan langsung terbesit satu kata di kepala Kun, 'Ceritakanlah'.

Kun mengangkat kepalanya. Lalu mulutnya ngoceh bagai burung bercerita tentang yang telah terjadi pada dirinya. Termasuk ketakutan akan hilangnya bagian dari dirinya yang mencintai Fayya. Dan,

"Sayang, aku mencintaimu. Masih mencintai dan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu. Pun ketika cinta itu hilang dari dirimu, aku akan tetap mencintaimu." ucap Fayya membinarkan mata Kun yang sayu sebelumnya.

Ponsel Kun bergetar ada sms rupanya.
"Tenang saja aku segera pulang. Ini masih di Tokyo. Besok kamu ma Fayya bulan madu kesini aja. Udah aku pesenin tempat. Akomodasi beres. Dari Kun 'yang lain'."

Fayya tersenyum. Kun sendu.




Share:

Senin, 26 Agustus 2013

Bunga Sakti, Bunga Tini

Hari ini Kun sedang melakukan gladi bersih untuk upacara wisudanya besok. Iya, sebuah acara wisuda yang 'tanpa rasa' ini mau tidak mau harus dilakoni Kun. Untuk apalagi kalau bukan prasyarat penikahannya dengan gadis pujaan hatinya, Fayya.

"Akhirnya kamu lulus juga Kun."
"Iya pak Armando. Makasih bantuannya kemaren. Kalau bukan karena bapak, mana mungkin saya bisa menempuh ujian skripsi dan lulus seperti ini pak."
"Halah Kun, masih suka basa basi dengan bapak. Meskipun bapak sering memusuhi kamu, tapi sebenarnya bapak itu menaruh perhatian yang besar kepadamu Kun. Secara akademis kamu memang tidak diperhitungkan di kampus, tapi untuk urusan pengusiran makhluk jahat, pemindahan hujan, pengaturan kecepatan angin, pihak kampus harus berterima kasih kepadamu."
"Tapi pak, itu bukan pekerjaan sa...."
"Ah sudahlah. Jangan merendah terus gitu. Kami tahu itu Kun. Tahu sekali. Sudah, acara gladi bersih sudah dimulai tuh. Sana."
"Itu orang kenapa masih aneh aja sih. Dibilangin aku nggak pernah ngelakuin itu semua masih nggak percaya. Yang kemaren-kemaren itu kan memang kejadian wajar bin alamiah. Makhluk jahat, makhluk jahat apa. Seisi kampus ini kan baik-baik semua orangnya. Makanya aku betah. Hihihihi.. tapi ah biarin. Biar Armando, eh Pak Armando percaya juga nggak apa-apa. Yang penting aku lulus sekarang." batin Kun.

BB jadul Kun bergetar. Tertera tulisan 'Fayya' di ponsel yang katanya smartphone tapi hanya bisa buat bbm-an, sms-an, dan sesekali telfon itu.

"Maaf sayang, aku nggak bisa hadir di upacara wisudamu besok. Masih ada urusan...."
"Keluarga? Ponakan sunat?"
"Hiiiiih! Nggak usah nebak dulu kenapa sih!" 
"Iya iya. Maaf."
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang. Nggak bisa ngasih bunga ucapan selamat buat kamu besok."
"Nggak papa sayang. Udah tenang aja. Urusan keluarga lebih penting. Keluarga yang utama. Upacara wisuda juga paling kayak gitu-gitu aja. Ngebosenin. Paling aku besok ngilang. Muncul kalau pas dipanggil aja. Hihihi..."
"Heh! Sayangku nggak boleh gitu. Inget apa kata bapak kemaren. Dilarang keras menggunakan ilmu apapun! Inget nggak?!"
"Iya iya. Galak amat sih."
"Udah ya. Besok aku minta tolong sama si Isnu buat ngasih bunga ke kamu."
"Isnu?"
"Iya Isnu Isnu."
"Isnu yang jenggotnya bisa buat nyapu lantai itu?"
"Sayang nggak boleh gitu ah."
"Nggak mau! Isnu kan cowok! Masa aku nerima bunga dari cowok? Nggak nggak nggak! Mending aku nyari bunga sendiri di puncak Himalaya sana. Ih amit-amit. Cowok nerima bunga dari cowok. Nggak mau. Titik!"
"Beneran nggak mau?"
"Nggak. Sekali nggak mau tetep nggak mau."
"Berarti kamu nggak mau jadi su..."
"Oke aku mau."
"Nah gitu dong sayang. Anggap aja Isnu itu aku."
"Ih... amit a..."
"Nggak mau?"
"Mau mau mau sayaaaang...."

Yap dan dengan terpaksa sekali Kun harus berfoto dengan Isnu sebagai butki kalau dia telah menerima bunga dari Fayya. Beberapa foto menunjukkan mereka berdua saling rangkul dan menggenggam bunga bersama-sama. Sejak saat itu Kun harus mempertaruhkan harga dirinya. Yang jatuh merosot. Lebih merosot dari nilai tukar rupiah terhadap dollar.

"Hahaha.. mesra banget kalian Kun." Fayya ngakak tak terkira melihat foto-foto wisuda Kun.
"Puas? Seneng? Bahagia?" Kun jengkel.
"Sayaang. Jangan cemberut gitu ah. Dandanan udah keren gitu kok masih cemberut aja. Lagian fotonya kan masih bisa diedit sayang." Senyum Fayya menenangkan Kun.
"Sayang, makasih ya. Kadang aku masih nggak percaya bisa lulus juga."
"Iya. Sebenarnya sederhana aja sih sayang. Kamu kan bisa macem-macem ilmu yang manusia biasa nggak bisa, seharusnya kan kamu bisa dengan mudah lulus sayang."
"Yeee, ya nggak sesederhana itu sayang. Coba diulang lagi pernyataanmu."
"Yang mana?"
"Yang terakhir tadi."
"Oh, kamu kan bisa ilmu macem-macem yang manusia biasa nggak bisa..."
"Nah. Justru itu poinnya. Jadi sarjana kan manusia biasa banyak yang bisa sekarang. Yang nggak biasa itu kan kalau mereka berani hidup tanpa gelar sarjana. Jadi wajar kalau aku nggak lulus-lulus sayang."
"Kun, sayang, kamu itu cerdas tapi salah tempat. Nyebelin tahu nggak sih."
"Cie gantian cemberut cieee..."
"Habis, kamu diajak bicara serius malah ngomongnya kemana-mana."
"Iya iya maaf. Sebenarnya persoalan lulus atau nggak itu cuma masalah komunikasi kita aja sama pembimbing. Tahu kenapa aku milih pak Armando? Karena dia itu percaya banget sama aku. Selama bimbingan kemaren dia banyak cerita macem-macem tentang masalah keluarganya. Aku cuma jadi pendengar yang baik aja. Ngasih solusi juga nggak. Eh, dia nganggep semua masalah keluarganya selesai gara-gara aku kasih jampi-jampi. Nggak tahu cara berfikirnya kayak apa. Mungkin campuran spiral dan zig-zag. Hihihi.."
"Anyway sayang. Terlepas dari cerita-cerita konyol itu semua, selamat yah. Sekarang calon suamiku sudah jadi sarjana." Fayya mengecup kening Kun.
"Berarti sudah legal buka praktek?"
"Boleh sayang. Tapi cuma aku yang jadi pasienmu."

"Kuuuunnnn!!!" Gagak Rimang, Genderuwo, Pangeran Tokek, dan Serigala Botak muncul tiba-tiba dan membentuk paduan suara. Gagak Rimang suara 1. Genderuwo suara 2. Pangeran Tokek suara 3. Serigala Botak suara, anjing.
"Kalian lagi kalian lagi! Munculnya agak nanti aja kenapa sih. Gangguin adegan romantis aja. Ada apa?"
"Yeee, kita kan juga mau ngasih selamat Kun." Gagak Rimang membela diri.
"Iya Kun bener." Genderuwo mengamini.
"Iya Kun." Pangeran Tokek juga.
"You are our best friend Kun."
"Serigala Botak nggak usah sok-sok an pake bahasa Inggris kenapa sih." Kun risih. Tapi di dalam hati Kun bangga, sekaligus terharu.
"Ini Kun ada yang spesial dari kami." Gagak Rimang memberikan sekuntum bunga.
"Bunga apa itu?"
"Ini bunga sakti dari Pertapaan Batu Payung. Namanya Bunga Tini. Kepanjangan dari Bunga haTi nuraNi."
"Kenapa nggak dinamakan bunga Han...."
"Kun." Fayya memberi isyarat kepada Kun supaya diam.
"Ini bunga sakti. Tidak semua mampu mengambil bunga ini. Lebih tepatnya tidak semua orang dipertemukan dengan bunga ini. Meskipun pertapaan Batu Payung banyak menghasilkan orang-orang sakti, tapi tidak semua penduduk di sana berhasil ditemui oleh bunga Tini ini Kun."
"Terus, berarti Gagak Rimang yang berhasil ditemui oleh bunga Tini ini?"
"Bukan Kun. Uhmmm, ibumu yang ditemui Bunga Tini ini. Bunga ini titipan dari beliau."

Hening. Hening. Hening.

Fayya menyeka air mata Kun. Dia tahu, bahwa calon suaminya itu sangat merindukan ibunya di Pertapaan Batu Payung sana. Meskipun ibunya sudah merestui hubungannya dengan Fayya yang disampaikan melalui Gagak Rimang, namun tetap saja Kun masih ingin meminta restu secara langsung mencium kedua kaki ibunya.

"Sayang.." lagi-lagi senyum Fayya yang menenangkan Kun. "Anggap saja Bunga Tini ini, ibumu sayang. ibumu yang juga menjadi ibuku. Bunga Tini..."

Bunga Tini berubah menjadi kepulan asap dan seketika masuk melalui mulut Kun yang menganga secara otomatis. Tubuhnya bersinar. Matanya berbinar. Senyumnya berkibar. Laut dan langit bergetar. Kesaktian Kun, bertambah besar.... Tetapi masalahnya, bukan hanya kekuatan Kun yang bertambah besar. Perutnya juga.

Share:

Sabtu, 23 Februari 2013

Kun Si Dukun #New Look of Kun

Dari bawah, jendela di lantai dua terlihat terbuka. Di sana ada sepasang mata menatap kosong. Tatapan mata yang kadang diselingi sebuah senyuman. Senyum, cara tersederhana manusia agar terlihat bahagia. Sesekali pula ia menata rambutnya yang berbeda dari sebelumnya. Angin pagi perlahan masuk ke ruangan itu. Menyibak penutup jendela yang mengenai wajahnya. Kumis mulai sedikit tumbuh di sekitar wajahnya yang kini tampak lebih dewasa.

"Sepertinya, hidupku terasa lebih indah sekarang." gumamnya.

Pintu kamar itu terketuk pelan.
"Masuk." katanya sedikit berteriak.
"Mas Kun. Gimana? Sudah agak baikan?"
"Hehe. Dari dulu saya orangnya sudah terkenal baik mbak suster. Kok belum pulang? Dinas malam?"
"Iya iya. Percaya deh. Siapa sih yang nggak tahu mas Kun. Hehe.. Iya mas. Dinas malam. Ini masih nunggu jemputan suami."
"Berarti semalam ngesot lagi? Hahaha..."
"Hahaha.... nggak lah mas Kun. Capek ngesot terus."
"Mbak nggak marah gitu profesi mbak dijadikan bahan nakut-nakutin anak kecil gitu? Sering lho orang-orang tua sekarang nakut-nakutin anak-anaknya yang nggak mau mandi. Eh ayo mandi! Kalau nggak mandi nanti dimandiin suster ngesot lho! Gitu mbak suster."
"Hahaha... nggak papa lah mas Kun. Kita sebagai suster nggak ada yang marah kok. Nggak demo juga menuntut pencemaran nama baik. Lagian kadang kita emang ngesot juga kok."
"Lha? Yang bener?"
"Nggak lah mas Kun. Becanda. Ini sarapannya. Nanti suster pengganti akan datang jam sepuluh. Membawa obat sama makanan kecil. Mari mas Kun. Semoga segera pulih."

Kun. Pemuda yang katanya sakti itu kini harus dirawat di rumah sakit. Entah. Kata dokter seksi yang memeriksanya, dia terkena masuk angin. 

Kun batuk-batuk kecil. Terdengar dahak masih menghuni tenggorokannya. Infus sudah dicabut. Awalnya jarum infus tidak mau menembus dagingnya. Sampai beberapa kali patah, hingga akhirnya pas jarum ke-99 barulah dagingnya mampu ditembus. Itu pun bukan sembarang orang yang memasukkannya. Dia, haruslah Fayya.

"Gimana? Itu kenapa nggak dimakan?" Fayya bertanya.
"Kenapa tidak menjawab?" lagi Fayya bertanya. Ia kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang dan menghela nafas panjang.
"Mana suamimu?" suara Kun parau.
"Dia bukan suamiku." Fayya menjawab.
"Tak perlu berpura-pura. Aku tahu. Dia suamimu."
"Untuk apa aku berpura-pura. Tidak ada gunanya."
"Fayya sudahlah. Jangan kau bohongi dirimu sendiri. Dia itu suamimu."
"Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu Kun."
"Tapi aku tidak mencintaimu Fayya."
"Sekarang giliran kamu yang bohong!"
"Baiklah. Aku memang mencintaimu. Tapi setiap laki-laki punya caranya sendiri untuk mencintai..."
"Iya! Dan perempuan juga berhak untuk menentukan siapa laki-laki yang boleh mencintainya!"

Kun masih melihat di luar. Di bawah ada anak-anak kecil yang sedang berlarian sambil memegang balon. Beberapa balon itu terlepas dari genggaman. Terbang melewati wajah Kun. Fayya mengambil tisu seraya menyeka air mata yang perlahan menetes. Kemudian Kun mendatangi Fayya mendekat ke telinganya.

"Akting kamu bagus."
"Hahahaha..... Dasar orang gila! Lagian kamu ngapain pakai nanya-nanya mana suamimu mana suamimu. Hahaha..."
"Yeeee, kamu juga ngapain nanggepin orang gila. Eh tapi kita berdua bakat jadi pemain film kayaknya. Hehehe.." Kun nyengir.
"Iya dong. Secara kita udah kompak gitu. Eh gimana? Beneran udah baikan? Kapan boleh pulang? Aku kangen kamu ajak 'ngilang' terus tiba-tiba kita nongol dimana gitu. Terakhir kapan itu ya?"
"Terakhir itu. Kita nongol di acara pemilihan ketua partai."
"Hahaha. Iya Kun Iya. Kita pakaiannya serba biru, eh anggota partainya serba kuning semua. Hahaha... Tapi Kun,"
"Apa Fayya?"
"Kali ini sakit kamu benar-benar yang terparah. Lain kali hati-hati kalau pakai tenaga ya. Kalau butuhnya tenaga luar, nggak usah pakai tenaga dalam."
"Iya sayang iya."

Kun, sekarang resmi menjadi tunangan Fayya. Lamaran Kun diterima oleh keluarga Fayya meski ada hal-hal yang harus dipenuhi sebagai prasyaratnya. Satu di antaranya adalah, Kun harus lulus kuliah, dengan cara orang normal. Dilarang pakai jampi-jampi apapun, jurus apapun, ilmu apapun. Selulus-lulusnya meski sampai berdarah-darah sekalipun. Anehnya Fayya mau menunggu dengan jatuh tempo yang tidak menentu pula. Dari dulu tidak berubah. Padahal Kun juga tidak menggunakan jampi-jampi apapun. Malah kadang Fayya-nya yang aneh sering menggoda Kun. "Pelet aku Kun! Pelet aku!!!" Itu anak, perempuan yang cukup mengerikan ternyata.

Iya. Sebenarnya dia sampai dirawat dua bulan di rumah sakit hanya gara-gara hal yang spele. Malam itu angin terasa biasa saja. Salah satu kerabat Fayya akan menggelar pesta pernikahan esok harinya. Namun ada kesalahan fatal yang dilakukan beberapa orang yang mengaku bisa mengendalikan hujan. Mereka membentengi rumah sekitar kerabat Fayya tapi dengan cara yang overload. Mereka tidak hanya membentengi dari air hujan, tapi juga dari angin. Sebenarnya Kun sudah merasakan ada hal yang kurang beres. Namun sebagai anak muda, dia harus tetap menghormati orang-orang itu. Dia sudah mewanti-wanti kepada Fayya untuk menyediakan beberapa perlengkapan penyelamatan jika terjadi hal-hal yang mengerikan.

Benar saja. Keesokan harinya sesaat setelah pesta baru saja di mulai, datang angin dari timur dengan kecepatan yang tinggi.
"Sial!" batin Kun. Sejurus kemudian segera dia mengambil kuda-kuda melakukan antisipasi. Itu seperti angin yang balas dendam karena semalam dibuang-buang dianggap sesuatu yang tidak berguna.
"Kalian payah! Seharusnya kalian buang air saja! Tak perlu buang angin segala!" Kun memaki orang-orang itu. Tapi yang dimaki tidak mengerti karena menurut mereka susunan kalimat Kun aneh.
"Buang air saja, tak perlu buang angin?" mereka garuk-garuk pantat.
"Ah sudah lah."

Lantas Kun berlari menjemput sekawanan angin berkecepatan tinggi itu.
"Ini sudah terlambat. Tak mungkin aku alihkan ke lain tempat. Satu-satunya cara adalaaaaahhh........ Hiyaaaaaaa!!!! ANGIN ANGIN ANGIN JANGAN KAU BENCI ANGIN KARENA IA PEMILIK INGIN!!!!"

Kun masuk ke pusaran angin itu dan menyedot semua angin, hingga tubuhnya dipenuhi angin. Ini adalah masuk angin terbesar dalam sejarah umat manusia. Cara mengeluarkan anginnya manual. Dalam sehari dia harus kentut seratus kali selama dua bulan berturut-turut. Syukur bisa berak. Dan di rumah sakitlah dia mendapat obat perangsang buang angin. Di tempat tambal ban nggak ada.


Di kantin Mbok Sum,
"Kamu itu ya aneh. Dimana-mana makan itu nasi, ini angin kamu makan."
"Kalau mbok Sum jadi Kun apa yang mbok lakukan."
"Hmmm. Aku sih sederhana. Aku ambil wajan jumbo, aku goreng angin itu."
"Tambah aneh mbok."
"Bentar mbok goreng tahu di belakang dulu. Kamu minum apa?"
"Biasa mbok air kembang. Gulanya sedikit."

Muncul secara misterius sebuah surat di meja Kun.
"Haduh. Capek deh capek deh! Capek deh capek deh capek deh! Tahun udah berganti, kenapa cara kalian masih manual seperti ini sih! Keluar keluar keluar! KELUAR! CEPETAN KELUAR NGGAK!!!"
"Horeeeee Kuuuuunnnnnn!!!!!" Pangeran tokek, Genderuwo, Gagak Rimang, Serigala Botak semuanya muncul. Mereka memeluk Kun.
"Wuih! Dandanan baru cint? Genderuwo! Kamu keren lho pakai blazer kayak gitu! Pangeran Tokek astaga rambutnya! North Korean style! Gagak Rimang, ponimu aduuuhhh!! Keren abis! Serigala botak, percuma. Buang wig itu. Buang."
"Hahaha...Kun sudah kembali saudara-saudara!"
"Kun ini es teh.... Ha?!! Kamu punya boyband sekarang?!!" Mbok Sum terkejut.
"Sssttttt....." mereka kompak menyuruh mbok sum diam. Mbok Sum freeze.
"Kun, kamu juga harus seperti kami. Ganti mode. Ikat kepala kayak gitu sudah ketinggalan jauh! Sekarang pakai ini." Pangeran tokek memberikan topi hitam dengan lambang huruf K di tengah.
"Pakai ini juga!" Genderuwo memberikan jas hitamnya.
"Ini juga!" Gagak Rimang memberikan kemeja hitamnya.
"Dan yang terakhir ini juga." Kun menerima kaca mata hitam dari Serigala Botak.

"Berubah!!!!" Kun terlihat keren.

Fayya datang. Ia kaget melihat Kun yang berubah jadi lebih keren, rapi, bersih, dan tampan.
"Aku Kun sayang! Kun!"
"Nggak percaya!" Fayya cemberut.
"Aku Kun! Eh teman-teman aku Kun kan?" mereka mengangguk.
"Nggak! Nggak percaya!"
"Beneran deh. Aku Kun kok."
"Baiklah. Cuma ada satu cara untuk membuktikan kamu Kun atau bukan. Mbok Sum! WAJAN JUMBO!!!"

Kun pasrah. Wajan jumbo mendarat di kepalanya. Teriakkan kesakitannya khas, dan itu tidak bisa ditirukan oleh siapapun.


Share: