Kun baru saja selesai membersihkan pekarangan rumah karena rumput-rumput sudah mulai meninggi. Rumput-rumput itu nanti akan direbus oleh Fayya. Air hasil rebusan itu nanti akan dijadikan minuman. Bukan. Bukan untuk Kun. Melainkan untuk sapi tetangga. Minuman herbal. Ini adalah resep yang ditemukan Fayya. Alasannya simpel. Supaya sapinya tidak bosen dengan menu rumput organik mentah seperti itu. Meskipun kadnag Fayya usil juga, sengaja menyampurkan air rumput itu ke minuman Kun. Alasannya juga simpel. Supaya Kun tidak bosen, dengan sapi.
"Sayang... sarapan siap!"
"Iya sayang. Perutku juga udah siap. Aku mau beres-beres dulu bentar."
Setelah beberes, Kun melenggang menuju rumah. Baru tiga langkah, seseorang memanggilnya.
"Mas!"
Kun tidak segera menoleh karena memang jarang ada yang memanggilnya 'mas'.
"Mas!"
Baru 'mas' yang kedua Kun menoleh menuju sumber suara.
"Mas!"
"Iya?"
"Lupa sama aku?"
"Kam.. muuu.."
"Aku mantanmu!"
Deg.
Mantan? Di episode sebelumnya, setelah Kun kembali ke masa lalu, tidak ada satu pun mantan yang dia miliki. Ini kenapa tiba-tiba ada perempuan dengan wajah yang memiliki postur tubuh dengan Fayya, mengaku mantan Kun.
Kun melihat ke pintu belakang rumah. Memastikan Fayya tidak mendengar suara perempuan yang mengaku mantan Kun itu. Kun menghampiri si perempuan yang berdiri di luar pagar dengan senyum manisnya.
"Siapa kamu? Ngaku." Kun membuka percakapan tanpa basa basi.
"Aku mantanmu Kun."
"Siapa yang mengirimmu?"
"Kun! Jangan pura-pura deh!"
"Tidak. Aku tak mengenalmu. Siapa kamu?"
"Kun... aku man.. tan.. muuu...." suara perempuan itu tercekat.
"Tak mungkin. Aku tidak pernah behubungan dengan perempuan selain Fayya."
"Kamu memang sakti Kun. Tapi sepertinya kamu lupa. Setiap ilmu yang kamu miliki meningkat levelnya, ada efek yang kamu tidak mengerti."
"Efek?"
"Salah satunya, sebagian memori di otakmu terkikis perlahan."
"Tidak. Kamu mengarang cerita."
"Sayaaaang... sarapan sudah siiii...." kepala Fayya menyembul dari pintu belakang. Sontak Fayya kaget. Dia mematung.
"Siapa itu?!" teriak Fayya.
Tak ada jawaban dari Kun atau perempuan itu.
"Bukannya arisannya diundur? Kenapa iurannya diminta sekarang?!"
Masih tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.
"Uang sampah juga sudah aku bayar." Fayya masih tak mengerti.
Dan masih juga tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.
Fayya mulai penasaran dengan apa yang terjadi antara Kun dan perempuan itu. Lalu dia menyusul ke depan, dengan menenteng wajan jumbo di tangan kanannya dalam posisi 'siap hantam'.
"Dia..."
"Aku mantan Kun." perempuan itu mengulurkan tangan kepada Fayya.
"Man.... tan...?" tanya Fayya.
"Iya. Perkenalkan, aku Nira. Mantan Kun di Batu Payung."
Deg.
Nira? Siapa dia? Batin Fayya. Kalau untuk urusan makhluk astral yang aneh-aneh bentuk dan namanya, Fayya sudah bisa terima. Karena dia paham bahwa Kun memang makhluk multi dimensi. Tapi lain dengan perempuan bernama Nira ini. Dia, berwujud manusia, dan sepenuhnya manusia. Dan sialnya, cantik. Lebih cantik dari Fayya.
"Ini pasti Mbak Fayya ya? Istrinya Mas Kun ya?"
Untuk adegan berikutnya Kun tidak banyak bergerak.
"Iya. Aku istrinya. Ada perlu apa ke sini?". Fayya dingin.
"Nggak ada hal penting sih. Aku kangen aja sama Mas Kun."
"Itu saja?"
"Sama ini. Aku mau mengembalikan cincin matahari yang diberikan Kun dulu kepadaku."
"Cincin matahari? Tidak. Hanya aku satu-satunya si pemilik syah cincin matahari. Tidak mungkin. Siapa kamu sebenarnya?"
"Mbak Fayya, aku Nira mantan Kun."
Kun masih tak bergerak. Kakinya mengakar ke tanah. Dalam arti sebenarnya.
"Ini." Nira melepas cincin yang sama dengan yang dipakai Fayya dari jari manisnya."
Fayya menerima cincin itu.
"Sudah, Nira pamit dulu. Mari Mbak Fayya. Mas Kun, jaga kesehatan. Jangan lupa makan."
Perempuan bernama Nira itu berlalu.
Prang!
Fayya memukul kepala Kun dengan wajan jumbo.
Kun.
Biasa saja.
"Heh! Dasar lelaki pembohong! Kamu bukan dukun sakti! Kamu dukun cabul! Kamu dukun cabul! Dukun cabul!"
Fayya memukul Kun berkali-kali, tapi Kun masih biasa saja.
Fayya berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamar. Dari luar lamat-lamat terdengar isak tangis Fayya. Kun perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia sudah ingin meninju perempuan bernama Nira yang mengaku-ngaku sebagai mantannya tadi. Kemudian menyusul Fayya.
"Sayang..." Kun mengetuk pintu kamar dari luar.
"Pergi!" balas Fayya.
"Sayang... aku bisa jelaskan semuanya."
"Nggak perlu!"
Cincin matahari yang diberikan Nira mengeluarkan sinar berwarna putih kemilau. Tangan Fayya gemetar menggenggamnya. Kemudian cincin matahari yang dipakai Fayya juga mengeluarkan sinar berwarna kuning keemasan. Dua cincin tersebut terbang dan mengambang di udara untuk beberapa waktu. Suara gemuruh terdengar dari luar kamar. Getaran mirip gempa juga terasa sampai ke halaman rumah.
"Fayya!" Kun panik.
"Kamu kenapa!" Kun berteriak dan membuka paksa pintu kamar.
Fayya terkejut. Di hadapannya sudah berdiri Fayya yang menyala-nyala.
Kun mendekat, tapi segera saja Fayya menghempaskan tubuh Kun hanya dengan sekali sentuh. Kun terpelanting. Fayya mengejarnya. Fayya memegang kepala Kun dan meninju wajah Kun sampai ke angkasa luar.
Fayya melesat menyusul Kun dan menghajar Kun bertubi-tubi tanpa Kun bisa melawan. Tubuh Kun sudah tidak karuan bentuknya. Bibirnya sudah penuh darah.
"Ayo! Lawan aku!" tantang Fayya.
"Tidak. Aku tak akan pernah menyakitimu!"
"Dasar tukang bohong!"
Blum!
Fayya menghantam perut Kun. Lagi-lagi Kun terpelanting kembali ke bumi. Fayya menyusulnya dan langsung melayangkan tendangan super ampuh ke tubuh Kun yang terseungkur di pinggir sungai.
"Ayo! Lawan aku!"
"Fayya.. tiii daaakk mungkiiin... aku berbohong kepadamuuu... dan kamu juga harus tahu. Bahwa hal tersulit kedua di dalam hidup ini setelah mengalahkan diri sendiri adalah bertempur melawan orang yang sangat kita cintai. Aku tidak pernah punya mantan Fayya."
Fayya diam. Dua cincin matahari yang telah menyatu dan melekat di jari manisnya meredup sinarnya.
"Kamu percaya kan sama suamimu?"
Fayya masih diam.
"Fayya..."
"Kun, aku percaya kamu. Tapi, siapa Nira?"
.................
Di belahan bumi yang lain, seorang perempuan sedang tertawa dengan sangat keras sekali. Dia merasa menang karena sudah berhasil membuat keluarga orang tersakti di jagad ini kocar-kacir. Misinya berhasil. Strategi yang digunakan sangat sempurna. Penyamarannya sebagai seorang 'mantan' membuat Kun kehilangan sebagian semangat hidupnya. Namun ada hal yang tidak disadari oleh perempuan itu. Dia tidak tahu kalau Fayya menjadi sangat sakti karena kekuatan dua cincin matahari yang menyatu.
"Hei perempuan sialan!"
Perempuan itu kaget melihat Fayya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Rasakan ini!"
Blum!
..............
"Sayang... sarapan siap!"
"Iya sayang. Perutku juga udah siap. Aku mau beres-beres dulu bentar."
Setelah beberes, Kun melenggang menuju rumah. Baru tiga langkah, seseorang memanggilnya.
"Mas!"
Kun tidak segera menoleh karena memang jarang ada yang memanggilnya 'mas'.
"Mas!"
Baru 'mas' yang kedua Kun menoleh menuju sumber suara.
"Mas!"
"Iya?"
"Lupa sama aku?"
"Kam.. muuu.."
"Aku mantanmu!"
Deg.
Mantan? Di episode sebelumnya, setelah Kun kembali ke masa lalu, tidak ada satu pun mantan yang dia miliki. Ini kenapa tiba-tiba ada perempuan dengan wajah yang memiliki postur tubuh dengan Fayya, mengaku mantan Kun.
Kun melihat ke pintu belakang rumah. Memastikan Fayya tidak mendengar suara perempuan yang mengaku mantan Kun itu. Kun menghampiri si perempuan yang berdiri di luar pagar dengan senyum manisnya.
"Siapa kamu? Ngaku." Kun membuka percakapan tanpa basa basi.
"Aku mantanmu Kun."
"Siapa yang mengirimmu?"
"Kun! Jangan pura-pura deh!"
"Tidak. Aku tak mengenalmu. Siapa kamu?"
"Kun... aku man.. tan.. muuu...." suara perempuan itu tercekat.
"Tak mungkin. Aku tidak pernah behubungan dengan perempuan selain Fayya."
"Kamu memang sakti Kun. Tapi sepertinya kamu lupa. Setiap ilmu yang kamu miliki meningkat levelnya, ada efek yang kamu tidak mengerti."
"Efek?"
"Salah satunya, sebagian memori di otakmu terkikis perlahan."
"Tidak. Kamu mengarang cerita."
"Sayaaaang... sarapan sudah siiii...." kepala Fayya menyembul dari pintu belakang. Sontak Fayya kaget. Dia mematung.
"Siapa itu?!" teriak Fayya.
Tak ada jawaban dari Kun atau perempuan itu.
"Bukannya arisannya diundur? Kenapa iurannya diminta sekarang?!"
Masih tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.
"Uang sampah juga sudah aku bayar." Fayya masih tak mengerti.
Dan masih juga tak ada jawaban dari Kun dan perempuan itu.
Fayya mulai penasaran dengan apa yang terjadi antara Kun dan perempuan itu. Lalu dia menyusul ke depan, dengan menenteng wajan jumbo di tangan kanannya dalam posisi 'siap hantam'.
"Dia..."
"Aku mantan Kun." perempuan itu mengulurkan tangan kepada Fayya.
"Man.... tan...?" tanya Fayya.
"Iya. Perkenalkan, aku Nira. Mantan Kun di Batu Payung."
Deg.
Nira? Siapa dia? Batin Fayya. Kalau untuk urusan makhluk astral yang aneh-aneh bentuk dan namanya, Fayya sudah bisa terima. Karena dia paham bahwa Kun memang makhluk multi dimensi. Tapi lain dengan perempuan bernama Nira ini. Dia, berwujud manusia, dan sepenuhnya manusia. Dan sialnya, cantik. Lebih cantik dari Fayya.
"Ini pasti Mbak Fayya ya? Istrinya Mas Kun ya?"
Untuk adegan berikutnya Kun tidak banyak bergerak.
"Iya. Aku istrinya. Ada perlu apa ke sini?". Fayya dingin.
"Nggak ada hal penting sih. Aku kangen aja sama Mas Kun."
"Itu saja?"
"Sama ini. Aku mau mengembalikan cincin matahari yang diberikan Kun dulu kepadaku."
"Cincin matahari? Tidak. Hanya aku satu-satunya si pemilik syah cincin matahari. Tidak mungkin. Siapa kamu sebenarnya?"
"Mbak Fayya, aku Nira mantan Kun."
Kun masih tak bergerak. Kakinya mengakar ke tanah. Dalam arti sebenarnya.
"Ini." Nira melepas cincin yang sama dengan yang dipakai Fayya dari jari manisnya."
Fayya menerima cincin itu.
"Sudah, Nira pamit dulu. Mari Mbak Fayya. Mas Kun, jaga kesehatan. Jangan lupa makan."
Perempuan bernama Nira itu berlalu.
Prang!
Fayya memukul kepala Kun dengan wajan jumbo.
Kun.
Biasa saja.
"Heh! Dasar lelaki pembohong! Kamu bukan dukun sakti! Kamu dukun cabul! Kamu dukun cabul! Dukun cabul!"
Fayya memukul Kun berkali-kali, tapi Kun masih biasa saja.
Fayya berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamar. Dari luar lamat-lamat terdengar isak tangis Fayya. Kun perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia sudah ingin meninju perempuan bernama Nira yang mengaku-ngaku sebagai mantannya tadi. Kemudian menyusul Fayya.
"Sayang..." Kun mengetuk pintu kamar dari luar.
"Pergi!" balas Fayya.
"Sayang... aku bisa jelaskan semuanya."
"Nggak perlu!"
Cincin matahari yang diberikan Nira mengeluarkan sinar berwarna putih kemilau. Tangan Fayya gemetar menggenggamnya. Kemudian cincin matahari yang dipakai Fayya juga mengeluarkan sinar berwarna kuning keemasan. Dua cincin tersebut terbang dan mengambang di udara untuk beberapa waktu. Suara gemuruh terdengar dari luar kamar. Getaran mirip gempa juga terasa sampai ke halaman rumah.
"Fayya!" Kun panik.
"Kamu kenapa!" Kun berteriak dan membuka paksa pintu kamar.
Fayya terkejut. Di hadapannya sudah berdiri Fayya yang menyala-nyala.
Kun mendekat, tapi segera saja Fayya menghempaskan tubuh Kun hanya dengan sekali sentuh. Kun terpelanting. Fayya mengejarnya. Fayya memegang kepala Kun dan meninju wajah Kun sampai ke angkasa luar.
Fayya melesat menyusul Kun dan menghajar Kun bertubi-tubi tanpa Kun bisa melawan. Tubuh Kun sudah tidak karuan bentuknya. Bibirnya sudah penuh darah.
"Ayo! Lawan aku!" tantang Fayya.
"Tidak. Aku tak akan pernah menyakitimu!"
"Dasar tukang bohong!"
Blum!
Fayya menghantam perut Kun. Lagi-lagi Kun terpelanting kembali ke bumi. Fayya menyusulnya dan langsung melayangkan tendangan super ampuh ke tubuh Kun yang terseungkur di pinggir sungai.
"Ayo! Lawan aku!"
"Fayya.. tiii daaakk mungkiiin... aku berbohong kepadamuuu... dan kamu juga harus tahu. Bahwa hal tersulit kedua di dalam hidup ini setelah mengalahkan diri sendiri adalah bertempur melawan orang yang sangat kita cintai. Aku tidak pernah punya mantan Fayya."
Fayya diam. Dua cincin matahari yang telah menyatu dan melekat di jari manisnya meredup sinarnya.
"Kamu percaya kan sama suamimu?"
Fayya masih diam.
"Fayya..."
"Kun, aku percaya kamu. Tapi, siapa Nira?"
.................
Di belahan bumi yang lain, seorang perempuan sedang tertawa dengan sangat keras sekali. Dia merasa menang karena sudah berhasil membuat keluarga orang tersakti di jagad ini kocar-kacir. Misinya berhasil. Strategi yang digunakan sangat sempurna. Penyamarannya sebagai seorang 'mantan' membuat Kun kehilangan sebagian semangat hidupnya. Namun ada hal yang tidak disadari oleh perempuan itu. Dia tidak tahu kalau Fayya menjadi sangat sakti karena kekuatan dua cincin matahari yang menyatu.
"Hei perempuan sialan!"
Perempuan itu kaget melihat Fayya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Rasakan ini!"
Blum!
..............