Sabtu, 09 November 2013

HaniMun

"Sayang, tulisannya bukan gitu kali. Honeymoon. Bukan hanimun sayang."
"Oh. Tapi bacanya hanimun kan?"
"Iiiihhh... ya tetep aja tulisannya salah sayang."
"Mana yang lebih bener? Yang tulisan dan cara bacanya bener apa yang antara tulisan dan cara bacanya beda?"
"Tau ah. Yang paling bener itu yang keluar dari hatimu sayang."

Iya. Sekarang mereka berdua sedang berada di Tokyo. Honeymoon kata Fayya, atau hanimun kata Kun. Sama saja. Yang jelas mereka sedang merenda merajut kehidupan baru setelah sekian lama berkutat dengan keanehan demi keanehan. Kun juga sudah bertemu ibunda tercinta sewaktu prosesi pernikahan kemaren. Tak ada hal yang paling menggembirakan selain restu dari ibu. Sesakti seampuh apapun seorang anak, dia tetaplah anak. Tak ada satu pun pawang yang dikerahkan meski hujan terus terusan mengguyur sekitar rumah Fayya.

"Biarlah. Hujan ini berkah." begitu gumam Kun.

Tenda-tenda basah oleh air hujan. Tapi ada tak ada satu raut muka tamu yang cemberut panik atau gelisah karena mereka tahu siapa yang menikah. Anak muda yang sembilan puluh sembilan persen prestasi akademiknya amburadul tapi sangat solutif terhadap semua permasalahan yang terjadi di sekitar kampus. Dari masalah yang 'kasar' sampai yang 'halus'. Anak muda yang seharusnya mampu cumlaude, tapi memilih untuk telat lulusnya. Sederhana, hanya ingin merasakan proses demi proses kehidupan menuju sejatinya kedewasaan dan kematangan dalam berfikir dan bertindak. Anak muda yang paham bahwa es teh adalah sama dengan air kembang. Sama-sama herbal. Anak muda yang memiliki kemampuan menghilang tapi lebih memilih berjalan kaki jika bepergian. Anak muda, yang memang sangat memiliki potensi awet muda. Dan anak muda yang setia dengan satu pasangan saja. Fayya.

"Selamat ya Kun..." Pak Armando memeluk erat Kun kala itu.
"Terima kasih pak."
"Ini kenalkan istri saya."
"Istri?" Kun mengangkat alis. "Katanya kalian ber..."
"Ssssttt... nggak jadi Kun. Ini berkat ajian yang kamu ajarkan." 
"Ajian? Ajian apa ya?"
"Ajian milkshake. Masa lupa?"
"Pak! Itu bukan ajian! Itu minuman! Saya minta pak Armando sering-sering membuatkan milkshake kesukaan istri bapak biar istri bapak merasa disayang oleh suami. Bukan ajian!"
Pak Armando melongo. Istrinya juga. Sampai tumpah air liurnya. Dikiranya milkshae sama dengan horseshake atau ajian jaran goyang.

"Sayang, kok nggak ada salju? Katanya di Tokyo banyak salju." Fayya merengek manja di dekapan Kun. Erat. Dilem. Disemen. Dicor.
"Sayaaang. Ini musim apa coba? Kan bukan musim dingin. Mana ada salju yang. Lagian emang daerah Tokyo itu jarang-jarang juga turun salju meski musim dingin tiba." Kun menjelaskan sambil sesekali membelai kepala istrinya itu.
"Apa? Nggak ada salju? Masa kalah sama Indonesia. Di Indonesia kan banyak salju. Keluarnya juga nggak mengenal musim."
"Emang ada yang? Dimana? Kok baru denger sekarang."
"Ada kok." Fayya manggut-manggut sambil manyun-manyun bibirnya.
"Dimana sih yang? Penasaran aku. Kalau di Indonesia ada salju yang selalu turun tanpa mengenal waktu lebih baik besok kita pulang saja ke Indonesia yang."
"Ada yang. Beneran mau pulang besok?"
"Iya. Malam ini kita kemasi barang-barang."
"Nggak kecewa kalau aku bilang dimana tempat salju yang selalu turun itu?"
"Emang dimana sih yang?"
"Di tempat CUCI MOTOR SALJU. Hahahaha.... "
"Dasar duduuuullll!!! Siniiiiii!!!" Kun menggelitik Fayya, sampai terkekeh dan berlinang air mata. Kemudian selanjutnya terjadi adegan laga. Saling hantam, saling tindih, saling tarik, tapi tak ada yang tersakiti. Karena kalian tahu itu adegan apa. Hanimun kata Kun.

Pagi di Tokyo. Rencananya pasangan sejoli yang baru dirundung bahagia ini mau melanjutkan jalan-jalan mereka ke menara Tokyo atau Tokyo tower. Sebuah menara yang terletak di taman Shiba yang mirip dengan menara Eiffel di Paris. Tapi karena agak kecapekan setelah pertarungan semalam, Kun memutuskan untuk bersantai di kamar hotelnya. Fayya masih tergolek manja di ranjang.

"Akhirnya. Aku jadi manusia. Manusia seutuhnya. Semalam sudah yang ketiga kali aku melakukannya dengan Fayya. Berarti semua kekuatanku yang aneh-aneh itu sudah hilang. Aku normal sekarang. Aku manusia normal." batin Kun. 
"Sayaaang... Kamu dimana?" Fayya memanggil manja. Kun tersenyum menghampirinya.
"Disini sayang..."
"Sini peluuuk..."
"Teletubbies kalah sama kita yang. Jumlah berpelukan kita lebih banyak daripada mereka."
"Iiiihhh, gemes ah." Fayya mencubit perut Kun.
"Bangun yuk. Mandi sarapan habis itu kita ke menara Tokyo."
"Nggak mau. Maunya disini saja sama suami."
"Masa nggak jalan-jalan?"
"Nggak, bersamamu adalah perjalanan terindah dalam hidupku yang. Anyway, terimakasih Kun sayang."
"Iya Fayya sayang. Karenamu, aku menjadi manusia seutuhnya."
"Hu'um."
Dan lagi adegan laga itu berlanjut. Season 2.

Mereka menikmati perjalanan menggunakan kereta api super cepat menuju taman Shiba. Dalam hati Kun berkata, ternyata manusia memang suka terburu-buru atas nama efisiensi waktu. Padahal kalau mereka mau dan tahu, mereka bisa lebih cepat dari kereta ini tanpa menggunakan sarana apapun. Alami. Natural. Hmmm....
"Sayang.." Fayya membuyarkan lamunan Kun.
"Eh, iya."
"Ngelamunin apa sih?"
"Nggak itu tadi lho. Ada buruk bagus banget yang lewat. Warnanya lucu. Kayaknya burungnya penggemar Reggae."
"Ah ngaco ah. Kereta secepat ini mana sempat melihat burung."
"Burungnya, penggemar Reggae. Burungnya menggemari Reggae atau burungnya si penggemar Reggae. Iya sih. Aneh sih."

Kereta berhenti mendadak. Sepertinya ada hal darurat. Semua penumpang saling pandang seolah berkata 'ada apa sih'. Tak ada informasi apa-apa. Tiba-tiba saja kereta berguncang keras. Blarrrr! Semua penumpang berteriak histeris. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ketakutan. Jerit tangis terdengar di setiap gerbong. 

"Tenang sayang." Kun memeluk erat Fayya. 
"Ada apa sih Kun?" Fayya datar.
"Woy. Yang lain panik kenapa wajah kamu innocent gitu? Takut dikit kenapa sih?"
"Bersamamu aku tak takut menghadapi apapun sayang."
"Halooo, bukan saatnya gombal-gombalan. Lihat itu orang-orang pada panik. Kita panik juga dong."
"Ah terlalu mainstream. Mengikuti suara terbanyak itu kurang asyik."
"Astaga. Kamu lebih aneh dariku Fayya. Yuk keluar yuk. Yang lain udah pada keluar tuh."
"Nggak mau. Ntar aja kalau udah lima detik sebelum kereta meledak kita baru keluar."
"Astaga. Sayaaang.. Ini kita lagi nggak main film. Ini beneran. Darurat sayang daruraaat..."
"Iya deh kita keluar aja." Fayya masih innocent. Kun garuk-garuk kepala.

Lalu keadaan sedikit tenang. Kemudian ia mencoba berbincang dengan orang Jepang. Dengan 'bahasa'.
"Iya. Saya pernah bertugas di Indonesia lama. Mengurusi distribusi perusahaan otomotif."
"Syukur. Karena saya tidak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Perancis."
"Sayang. Ini Jepang." Fayya memberi isyarat Kun, bahwa kebodohan adalah kunci kebodohan selanjutnya.
"Ngomong-ngomong tadi ada apa?"
"Ada monster yang ingin menguasai bumi."
"HAAAA??? MONSTER???" Kun dan Fayya kompak. 
"Oke sayang. Kita pulang. Dia tak lebih aneh daripada kita." Kun menarik tangan Fayya. 

"Sayang. Gimana kalau ternyata ada monster beneran di Jepang?"
"Astagaaa... di Indonesia ketemu siluman. Di Jepang ketemu monster. Kapan bisa tenang hidup ini."

Di kamar hotel, laptop Fayya berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk di sana.
Bapak: Nak, kalian kapan pulang? Sebaiknya secepatnya.
Fayya: Iya pak. Kalau bapak menghendaki kami pulang, kami akan pulang secepatnya.
Bapak: Disini lagi ada masalah kecil. Pamanmu kesurupan. Sudah tiga hari ini. Kadang ia berbicara dengan logat yang aneh. Seperti orang Jepang.
Kun: Bapak, tunggu saya pulang.

Segera setelah turun dari pesawat mereka meluncur menuju rumah Fayya. Di sana paman Fayya, sudah diikat dengan rantai besar.

"Mana! Mana Kun! Manaaa!!!" matanya beringas. "Mana! Mana Kun! Manaaa!!!"
"Aku di sini. Tenanglah. Kita bicara baik-baik."
"HAHAHA.. rupanya kamu sudah di sini. Sekarang lepaskan aku dan kita bertarung secara ksatria!"
"Bapak..." Kun memberi isyarat kepada mertuanya untuk melepas rantai yang mengikat pamannya.
"Jangan di sini. Di luar saja. Kita selesaikan berdua." Kun berjalan santai menuju halaman rumah. Si paman yang kesurupan segera mengejar Kun dan ingin menghantamnya dari belakang.

Suuuuuutttttt.... Kun menghentikan si paman dengan menujukkan rambu-rambu berlambang 'S'.

"Duduk." pinta Kun yang lebih dulu mengambil posisi bersila. Kemudian si paman duduk.
"Apa maumu?" Kun bertanya dengan tenang.
"Aku? Hahaha!!"
"Nggak usah tertawa gitu. Biasa saja. Itu memperburuk citramu."
"Sial! Aku mau menguasai tubuh ini."
"Serius?"
"Iya!"
"Kamu mau menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia?"
"Iya!"
"Siap menjadi manusia lebih tepatnya manusia Indonesia?"
"Iiii.. yaaaa..."
"Siap hidup di negara yang seperti ini?"
"Iiii... yaaaa..."
"Siap dengan kondisi ekonomi yang seperti ini?"
"Tiiii.. iyaaa..."
"Kamu pikir enak apa menjadi manusia? Ha? Kamu harus berumah tangga, beranak pinak, mematuhi aturan dan etika. Enak apa? Kamu bodoh ya? Kehidupanmu itu jauh lebih baik. Jadi manusia itu sulit. Apalagi ini Indonesia. Kalau mau merasuki tubuh orang itu kira-kira. Nggak boleh asal. Perhitungkan dulu baik-baik kultur, politik, ekonomi, sosial, dan semua unsurnya secara matang. Ngawur! Lagian pamanku itu sudah punya anak istri. Jangan renggut kebahagiaan orang lain. Ngerti kamu! Percuma kamu hidup menjadi manusia yang itu bukan dirimu sendiri! Kamu harus bersusah payah meminjam tubuh orang lain. Belum lagi jika kamu melarikan diri dari sini kamu harus mengurus ijin ini itu dan membuat KTP baru. Dikira gampang apa ngurus birokrasi di sini! Ha! Ngerti?"
"Nger..."
"Ngerti nggak?!"
"E, iya iya.. nger ngerti ti."
"Sekarang keluar dari tubuh paman saya."
"Nggak mau."
"Ya terserah situ kalau nggak mau." Kun berdiri meninggalkan si Paman. Tapi kemudian tubuh si paman tergeletak. Kun segera menyadarkannya. Si paman sudah kembali. Keluarga ikut senang.

Di dalam kamar,
"Katanya sudah nggak mau memakai kekuatan itu lagi yang?"
"Nggak kok. Tadi cuma aku ajak bicara."
"Eh tapi tapi, siapa yang merasuki paman tadi."
"Mau tahu?"
"Hu'um." Fayya manggut-manggut manja.
"Beneran?"
"Hu'um." Fayya makin manja.
"Jangan kaget ya."
"Hu'uuummm sayangku.."
"Tadi itu, MONSTER JEPANG!!! HAAAAA....."

Dan adegan laga itupun terjadi lagi untuk kesekian kali. Selamat menempuh hidup baru Kun Fayya...






Share: