Hari ini Kun sedang melakukan gladi bersih untuk upacara wisudanya besok. Iya, sebuah acara wisuda yang 'tanpa rasa' ini mau tidak mau harus dilakoni Kun. Untuk apalagi kalau bukan prasyarat penikahannya dengan gadis pujaan hatinya, Fayya.
"Akhirnya kamu lulus juga Kun."
"Iya pak Armando. Makasih bantuannya kemaren. Kalau bukan karena bapak, mana mungkin saya bisa menempuh ujian skripsi dan lulus seperti ini pak."
"Halah Kun, masih suka basa basi dengan bapak. Meskipun bapak sering memusuhi kamu, tapi sebenarnya bapak itu menaruh perhatian yang besar kepadamu Kun. Secara akademis kamu memang tidak diperhitungkan di kampus, tapi untuk urusan pengusiran makhluk jahat, pemindahan hujan, pengaturan kecepatan angin, pihak kampus harus berterima kasih kepadamu."
"Tapi pak, itu bukan pekerjaan sa...."
"Ah sudahlah. Jangan merendah terus gitu. Kami tahu itu Kun. Tahu sekali. Sudah, acara gladi bersih sudah dimulai tuh. Sana."
"Itu orang kenapa masih aneh aja sih. Dibilangin aku nggak pernah ngelakuin itu semua masih nggak percaya. Yang kemaren-kemaren itu kan memang kejadian wajar bin alamiah. Makhluk jahat, makhluk jahat apa. Seisi kampus ini kan baik-baik semua orangnya. Makanya aku betah. Hihihihi.. tapi ah biarin. Biar Armando, eh Pak Armando percaya juga nggak apa-apa. Yang penting aku lulus sekarang." batin Kun.
BB jadul Kun bergetar. Tertera tulisan 'Fayya' di ponsel yang katanya smartphone tapi hanya bisa buat bbm-an, sms-an, dan sesekali telfon itu.
"Maaf sayang, aku nggak bisa hadir di upacara wisudamu besok. Masih ada urusan...."
"Keluarga? Ponakan sunat?"
"Hiiiiih! Nggak usah nebak dulu kenapa sih!"
"Iya iya. Maaf."
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang. Nggak bisa ngasih bunga ucapan selamat buat kamu besok."
"Nggak papa sayang. Udah tenang aja. Urusan keluarga lebih penting. Keluarga yang utama. Upacara wisuda juga paling kayak gitu-gitu aja. Ngebosenin. Paling aku besok ngilang. Muncul kalau pas dipanggil aja. Hihihi..."
"Heh! Sayangku nggak boleh gitu. Inget apa kata bapak kemaren. Dilarang keras menggunakan ilmu apapun! Inget nggak?!"
"Iya iya. Galak amat sih."
"Udah ya. Besok aku minta tolong sama si Isnu buat ngasih bunga ke kamu."
"Isnu?"
"Iya Isnu Isnu."
"Isnu yang jenggotnya bisa buat nyapu lantai itu?"
"Sayang nggak boleh gitu ah."
"Nggak mau! Isnu kan cowok! Masa aku nerima bunga dari cowok? Nggak nggak nggak! Mending aku nyari bunga sendiri di puncak Himalaya sana. Ih amit-amit. Cowok nerima bunga dari cowok. Nggak mau. Titik!"
"Beneran nggak mau?"
"Nggak. Sekali nggak mau tetep nggak mau."
"Berarti kamu nggak mau jadi su..."
"Oke aku mau."
"Nah gitu dong sayang. Anggap aja Isnu itu aku."
"Ih... amit a..."
"Nggak mau?"
"Mau mau mau sayaaaang...."
Yap dan dengan terpaksa sekali Kun harus berfoto dengan Isnu sebagai butki kalau dia telah menerima bunga dari Fayya. Beberapa foto menunjukkan mereka berdua saling rangkul dan menggenggam bunga bersama-sama. Sejak saat itu Kun harus mempertaruhkan harga dirinya. Yang jatuh merosot. Lebih merosot dari nilai tukar rupiah terhadap dollar.
"Hahaha.. mesra banget kalian Kun." Fayya ngakak tak terkira melihat foto-foto wisuda Kun.
"Puas? Seneng? Bahagia?" Kun jengkel.
"Sayaang. Jangan cemberut gitu ah. Dandanan udah keren gitu kok masih cemberut aja. Lagian fotonya kan masih bisa diedit sayang." Senyum Fayya menenangkan Kun.
"Sayang, makasih ya. Kadang aku masih nggak percaya bisa lulus juga."
"Iya. Sebenarnya sederhana aja sih sayang. Kamu kan bisa macem-macem ilmu yang manusia biasa nggak bisa, seharusnya kan kamu bisa dengan mudah lulus sayang."
"Yeee, ya nggak sesederhana itu sayang. Coba diulang lagi pernyataanmu."
"Yang mana?"
"Yang terakhir tadi."
"Oh, kamu kan bisa ilmu macem-macem yang manusia biasa nggak bisa..."
"Nah. Justru itu poinnya. Jadi sarjana kan manusia biasa banyak yang bisa sekarang. Yang nggak biasa itu kan kalau mereka berani hidup tanpa gelar sarjana. Jadi wajar kalau aku nggak lulus-lulus sayang."
"Kun, sayang, kamu itu cerdas tapi salah tempat. Nyebelin tahu nggak sih."
"Cie gantian cemberut cieee..."
"Habis, kamu diajak bicara serius malah ngomongnya kemana-mana."
"Iya iya maaf. Sebenarnya persoalan lulus atau nggak itu cuma masalah komunikasi kita aja sama pembimbing. Tahu kenapa aku milih pak Armando? Karena dia itu percaya banget sama aku. Selama bimbingan kemaren dia banyak cerita macem-macem tentang masalah keluarganya. Aku cuma jadi pendengar yang baik aja. Ngasih solusi juga nggak. Eh, dia nganggep semua masalah keluarganya selesai gara-gara aku kasih jampi-jampi. Nggak tahu cara berfikirnya kayak apa. Mungkin campuran spiral dan zig-zag. Hihihi.."
"Anyway sayang. Terlepas dari cerita-cerita konyol itu semua, selamat yah. Sekarang calon suamiku sudah jadi sarjana." Fayya mengecup kening Kun.
"Berarti sudah legal buka praktek?"
"Boleh sayang. Tapi cuma aku yang jadi pasienmu."
"Berarti sudah legal buka praktek?"
"Boleh sayang. Tapi cuma aku yang jadi pasienmu."
"Kuuuunnnn!!!" Gagak Rimang, Genderuwo, Pangeran Tokek, dan Serigala Botak muncul tiba-tiba dan membentuk paduan suara. Gagak Rimang suara 1. Genderuwo suara 2. Pangeran Tokek suara 3. Serigala Botak suara, anjing.
"Kalian lagi kalian lagi! Munculnya agak nanti aja kenapa sih. Gangguin adegan romantis aja. Ada apa?"
"Yeee, kita kan juga mau ngasih selamat Kun." Gagak Rimang membela diri.
"Iya Kun bener." Genderuwo mengamini.
"Iya Kun." Pangeran Tokek juga.
"You are our best friend Kun."
"Serigala Botak nggak usah sok-sok an pake bahasa Inggris kenapa sih." Kun risih. Tapi di dalam hati Kun bangga, sekaligus terharu.
"Ini Kun ada yang spesial dari kami." Gagak Rimang memberikan sekuntum bunga.
"Bunga apa itu?"
"Ini bunga sakti dari Pertapaan Batu Payung. Namanya Bunga Tini. Kepanjangan dari Bunga haTi nuraNi."
"Kenapa nggak dinamakan bunga Han...."
"Kun." Fayya memberi isyarat kepada Kun supaya diam.
"Ini bunga sakti. Tidak semua mampu mengambil bunga ini. Lebih tepatnya tidak semua orang dipertemukan dengan bunga ini. Meskipun pertapaan Batu Payung banyak menghasilkan orang-orang sakti, tapi tidak semua penduduk di sana berhasil ditemui oleh bunga Tini ini Kun."
"Terus, berarti Gagak Rimang yang berhasil ditemui oleh bunga Tini ini?"
"Bukan Kun. Uhmmm, ibumu yang ditemui Bunga Tini ini. Bunga ini titipan dari beliau."
Hening. Hening. Hening.
Fayya menyeka air mata Kun. Dia tahu, bahwa calon suaminya itu sangat merindukan ibunya di Pertapaan Batu Payung sana. Meskipun ibunya sudah merestui hubungannya dengan Fayya yang disampaikan melalui Gagak Rimang, namun tetap saja Kun masih ingin meminta restu secara langsung mencium kedua kaki ibunya.
"Sayang.." lagi-lagi senyum Fayya yang menenangkan Kun. "Anggap saja Bunga Tini ini, ibumu sayang. ibumu yang juga menjadi ibuku. Bunga Tini..."
Bunga Tini berubah menjadi kepulan asap dan seketika masuk melalui mulut Kun yang menganga secara otomatis. Tubuhnya bersinar. Matanya berbinar. Senyumnya berkibar. Laut dan langit bergetar. Kesaktian Kun, bertambah besar.... Tetapi masalahnya, bukan hanya kekuatan Kun yang bertambah besar. Perutnya juga.
"Yeee, kita kan juga mau ngasih selamat Kun." Gagak Rimang membela diri.
"Iya Kun bener." Genderuwo mengamini.
"Iya Kun." Pangeran Tokek juga.
"You are our best friend Kun."
"Serigala Botak nggak usah sok-sok an pake bahasa Inggris kenapa sih." Kun risih. Tapi di dalam hati Kun bangga, sekaligus terharu.
"Ini Kun ada yang spesial dari kami." Gagak Rimang memberikan sekuntum bunga.
"Bunga apa itu?"
"Ini bunga sakti dari Pertapaan Batu Payung. Namanya Bunga Tini. Kepanjangan dari Bunga haTi nuraNi."
"Kenapa nggak dinamakan bunga Han...."
"Kun." Fayya memberi isyarat kepada Kun supaya diam.
"Ini bunga sakti. Tidak semua mampu mengambil bunga ini. Lebih tepatnya tidak semua orang dipertemukan dengan bunga ini. Meskipun pertapaan Batu Payung banyak menghasilkan orang-orang sakti, tapi tidak semua penduduk di sana berhasil ditemui oleh bunga Tini ini Kun."
"Terus, berarti Gagak Rimang yang berhasil ditemui oleh bunga Tini ini?"
"Bukan Kun. Uhmmm, ibumu yang ditemui Bunga Tini ini. Bunga ini titipan dari beliau."
Hening. Hening. Hening.
Fayya menyeka air mata Kun. Dia tahu, bahwa calon suaminya itu sangat merindukan ibunya di Pertapaan Batu Payung sana. Meskipun ibunya sudah merestui hubungannya dengan Fayya yang disampaikan melalui Gagak Rimang, namun tetap saja Kun masih ingin meminta restu secara langsung mencium kedua kaki ibunya.
"Sayang.." lagi-lagi senyum Fayya yang menenangkan Kun. "Anggap saja Bunga Tini ini, ibumu sayang. ibumu yang juga menjadi ibuku. Bunga Tini..."
Bunga Tini berubah menjadi kepulan asap dan seketika masuk melalui mulut Kun yang menganga secara otomatis. Tubuhnya bersinar. Matanya berbinar. Senyumnya berkibar. Laut dan langit bergetar. Kesaktian Kun, bertambah besar.... Tetapi masalahnya, bukan hanya kekuatan Kun yang bertambah besar. Perutnya juga.