Rabu, 26 September 2012

Kun Si Dukun #Nikah Masal[ah]

"Hidup itu juga harus tahu kapan matematikanya, kapan fisikanya, kapan kimianya, kapan bahasanya, kapan sosialnya, kapan kapannya Fayya." lelaki berkaca mata kecil itu memandang serius ke wajah anak perempuannya.
"Iya Pak. Fayya ngerti. Tapi dia sangat serius dengan Fayya pak. Hanya dia lelaki yang Fayya kenal dengan tingkat keseriusan level panglima perang pak."
"Fayya, anak tercantikku satu-satunya. Bukan bapak tidak setuju kalau kamu menikah dengan anak itu. Tapi kamu juga harus paham, siapa sebenarnya dia itu. Seberapa kenal kamu dengannya? Fayya, nikah itu bukan hanya urusan cinta. Harus benar-benar cukup bekal. Tidak asal nikah saja. Banyak hal atau masalah-masalah baru yang akan muncul, yang pasti akan kalian hadapi. Apalagi kamu sebagai perempuan. Harus selektif. Bobot bibit bebetnya jelas. Bukan asal cinta saja. Kerja apa dia?"
"Mmmmm, cuma seorang tukang cuci piring di kantin Mbok Sum. Kantin di kampus Fayya."
"Hmmm. Cuma tukang cuci piring? Kamu lebih baik bercermin sekali lagi Fayya. Kamu itu calon dosen. Tinggal beberapa langkah lagi, harapan bapak ke kamu segera terwujud. Kamu jangan lantas merusak cita-cita luhur keluarga ini Fayya. Bapak sudah mati-matian menguliahkan kamu ke kampus itu. Tidak sedikit biaya yang bapak keluarkan untuk studimu itu Fayya."
"Tapi sekarang Fayya kan sudah mampu mencari uang sendiri. Fayya kan nggak minta lagi sama bapak, sama ibu."
"Fayya. Lebih baik kamu dengarkan perkataan bapakmu itu. Ini demi kebaikanmu. Demi masa depanmu Fayya." perempuan dengan sedikit uban di poninya itu ikut menimpali. "Kamu yakin bakal hidup bahagia dengan seorang tukang cuci piring? Fayya, tolong jangan gegabah mengambil keputusan. Kamu itu calon intelektual di kampusmu."
"Tapi dia sangat menyayangi Fayya bu. Berkali-kali dia menyelamatkan hidup Fayya. Dia yang menjaga martabat, harga diri, bahkan nyawa Fayya bu. Cuma dia bu."
"Omonganmu semakin ngawur. Dia Superman? Spiderman? Iron Man?"
"Terserah kalau bapak nggak percaya sama Fayya. Yang penting Fayya sudah bicara dan memohon doa restu dari bapak ibu."
Kemudian Fayya bergegas pergi menuju kamar tidur. Sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Bapak ibunya kembali melakukan diskusi terkait dengan masalah Fayya. Orang tua. Segala sesuatu yang dilakukan selalu tentang kebahagiaan anaknya.
"Fayya sudah dewasa pak. Sudah sepantasnya dia menentukan pilihannya sendiri."
"Tapi bu. Apa kata orang nanti. Seorang dosen menikah dengan tukang cuci piring. Itu hanya terjadi di film-film murahan. Sangat tidak mungkin terjadi disini bu."
"Iya pak. Ibu paham. Cuma masalahnya Fayya sepertinya benar-benar mencintai tukang cuci piring itu."
"Gini aja. Bapak cari orang pinter aja. Bapak mau konsultasi gimana sebaiknya. Siapa tahu Mbah Nolet punya solusinya."
"Lho bukannya Mbah Nolet sudah lama meninggal pak?"
"Belum. Mbah Nolet sengaja menghilang. Hanya beberapa orang dekat, termasuk bapak yang masih punya pin BB nya. Dia langganan keluargaku dulu."
"Langganan? Berarti bapak sebelum menikahi ibu sempat berkonsultasi juga sama Mbah Nolet?"
"Hehehehe. Iya."
............

Rumah itu biasa. Seperti rumah kebanyakan. Ada pintu, jendela, genteng, ubin, teras. Hanya aura yang memancar dari rumah itu yang berbeda. Seperti sesuatu yang menyimpan energi dahsyat.
"Sulit. Sulit. Sangat-sangat sulit."
"Apanya Mbah?"
"Sulit. Aku sulit membaca siapa anak ini sebenarnya."
"Maksutnya mbah?"
"Lelaki yang dicintai anakmu Fayya ini belum bisa ku analisa sekarang. Tapi kalau melihat tanggal lahir dari keduanya, mereka memang lebih baik tidak bersama. Kalau mereka bersama, akan terjadi masalah dengan anakmu. Masalah itu bukan masalah spele. Itu masalah besar."
"Kata Fayya, anak itu lahir hari Selasa Pahing mbah."
"Iya dan anakmu Rabu Wage?"
"Iya mbah."
"Sangat-sangat berbahaya. Angin ketemu api itu. Sangat-sangat tidak cocok. Atau begini saja. Kamu undang anak itu ke rumahmu. Pertemukan aku dengan dia. Biar aku terangkan padanya kalau lebih baik dia pergi jauh saja dari Fayya."
"Iya mbah. Kalau bisa sedikit diberi apa gitu, biar dia semakin mantap meninggalkan Fayya."
"Hmmm. Itu urasan mudah. Serahkan saja semuanya padaku."
.............

Di kantin Mbok Sum,
"Ini Kun bayaranmu bulan ini."
"Makasih Mbok."
"Nggak dihitung dulu Kun?"
"Nggak mbok. Kun percaya."
"Bocah aneh. Itung dulu sana!"
"Mbok, aku kerja disini bukan cari duit mbok."
"Halah. Sok sok an. Itung apa nggak?!"
"Iya deh iya. Mbok, ini kok 250 ribu?"
"He? Berapa?"
"250 ribu mbok."
"Sini coba mbok lihat. Oh iya. 250 ribu."
"Berarti kelebihan mbok. Biasanya kan cuma 150."
"Makanya mbok suruh ngitung dulu. Maksut mbok ya gini ini. Mungkin masih ada kelebihan gitu."
"Ealah mbok mbok."
"Eh sudah ditunggu Fayya dari tadi di depan. Wajahnya serius. Nggak pake headset. Pasti lagi ada apa-apa kalian."
"Bentar mbok. Kun keluar dulu."

"Kun, aku mau ngomong. Ini serius."
"Iya. Langsung aja."
"Tapi jangan potong sebelum aku selesai bicara."
"Iya. Mana berani aku motong pembicaraanmu."
"Janji ya."
"Iya janji."
"Serius?"
"Iya serius."
"Bener ya."
"Iya bener. Ini kapan kamu ngomongnya?"
"Aku sudah bilang sama bapak ibuku. Aku sudah cerita banyak tentang kamu. Intinya, mereka belum bisa merestui hubungan kita. Aku belum bisa menikah denganmu."
"Menikah? Emang siapa yang ngajak kamu nikah?"
"Ya kamu lah Kun! Jangan bilang kamu lupa ya?"
"Kapan aku pernah melamarmu?"
"Eh ini anak beneran bodohnya! Jangan sampai aku ngeluarin headset ya."
"Apa sih? Nggak ngerti aku."
"Heh! Cincin matahari yang kamu kasih ke aku itu untuk apa?!!!"
"Oalah. Cincin itu? Iya iya baru inget. Aduh maap maap."
"Hihhh!!!"
"Oh jadi bapak ibu nggak setuju? Baguslah kalau gitu."
"Ha? Kamu bilang bagus?"
"Iya. Kalau emang dengan itu kamu bisa lebih bahagia kan aku juga ikut bahagia."
"Terus cincinnya?"
"Ya buat kamu lah. Nggak bakalan aku minta. Kan bapak ibumu nggak setuju."
"Kun. Bapak ibu bukan NGGAK setuju, tapi BELUM setuju."
"Oh..."
"Ngomong sama kamu itu kalau nggak di CAPSLOCK kok susah sepertinya."
"Terus ada penawaran apa dari bapak?"
"Penawaran? Kamu kira jualan apa? Ada sih Kun. Bapak minta kamu maen ke rumah ku. Bapak ingin ngobrol dulu sama kamu. Bapak ingin tahu lebih banyak tentang siapa kamu."
"Emang kamu belum cerita?"
"Udah."
"Terus?"
"Aku diketawain bapak. Katanya kamu dikira Superman yang sehari-harinya bekerja sebagai pencuci piring di kantin Mbok Sum."
.......

Senyap. Suara jangkrik hampir tak ada. Angin juga enggan berhembus kencang-kencang. Nyamuk apalagi. Seperti tak enak hati ikut ngerumpi. Iya sekarang Kun di hadapkan dengan sesuatu yang belum pernah sama sekali dialami. Berhadapan dengan makhluk sakti apapun dia tak gentar. Tapi untuk berhadapan dengan calon mertua, ini lain cerita. Tapi bukan Kun kalau tak bisa mengatasinya.
"Diminum dulu tehnya." Bapak Fayya berbasa-basi.
"Iya pak." Sruputttt....
"Bagaimana? Terlalu manis?"
"Nggak pak. Pas."
"Fayya yang bikin."
"Enak kok pak. Enak."
"Jadi, Kun serius dengan anak saya?"
"Kalau bapak ibu berkenan ya, saya ingin melanjutkan ke level, eh kok level, tahap berikutnya pak. Menikah."
"Tak gampang lho orang menikah dan berumah tangga itu."
"Iya pak. Tapi meskipun sulit, kenyataannya bapak ibu bisa melakukannya. Iya kan? Kalau bapak ibu bisa, kenapa saya nggak mampu?" Kun mengeluarkan kata-kata yang salah tempat sepertinya.
"Kamu yakin sekali Kun. Apa modalmu?"
"Saya pak? Saya nggak punya modal apa-apa."
"Terus bagaimana kamu mau melanjutkan hubungan kalian kalau tanpa modal?"
"Pak, kalau orang punya modal, lalu dirinya jadi sukses, itu sudah biasa pak. Tapi kalau nggak punya modal sama sekali, lalu dia sukses, itu baru dahsyat pak. Kalau pun dia tidak meraup keuntungan dari usahanya itu, dia nggak akan pernah rugi pak. Orang dia nggak ngeluarin modal apa-apa. Darimana dia bisa rugi?"
Bapak Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"
"Nak Kun. Bukan begitu. Masa depan kan penting. Rencana juga harus ada. Apa rencanamu ke depan?"
"Kalau saya sama Fayya sudah merencanakan dan sepakat untuk menikah bu."
"Iya ke depannya?"
"Iya menikah itu bu."
"Maksut ibu..."
"Iya bu. Kami berdua sudah sepakat untuk menikah dan menikah. Menikah terus setiap hari. Menikah dengan enak dan tidak enaknya kehidupan. Termasuk menikah dengan masalah-masalah baru nantinya."
Ibu Fayya terdiam sambil membatin, "Ini manusia apa bukan sih?"

"Bapak ibu ke dalam sebentar. Ada yang harus kami bicarakan. Nanti akan ada yang menemani nak Kun ngobrol."
"Asyikkkk. Fayya?"
"Bukan. Ntar kamu juga tahu sendiri."

Lalu sosok Mbah Nolet keluar. Kun menemuinya. Ada pembicaraan penting disana. Hanya mereka berdua yang tahu............

..........
Di Kantin Mbok Sum (lagi)....
"Kuuuunnnn!!!!!" Fayya teriak kegirangan. Hampir memeluk Kun tapi tak jadi.
"Hmmm. Ada apa sih tuan putri pagi-pagi udah teriak-teriak?"
"Kunnnnn!!! Aku punya kabar baik!!!!"
"Iya iya. Duduk dulu kenapa sih."
"Kun. Bapak Ibu sudah menyetujui hubungan kita. Yeeeyyyyy!!!!"
"Oh.."
"Just Oh? Datar banget! Ih sebel deh!"
"Iya kan kata bapak ibumu yang terpenting ke depannya. Bukan saat ini aja. Hehehe..."
"Iya sih. Eh kamu tau nggak sih siapa yang bicara sama kamu semalam? Itu Mbah Nolet lho. Mbah Nolet itu orang kepercayaan keluargaku. Mmmm..."
"Penasehat spiritual? Psikolog? Konsultan? Profesor kejiwaan?"
"Iya semacam itu sih. Kamu tahu?"
"Gini aja deh. Aku ajak kamu ke rumahnya aja."
"Emang kamu tahu rumah?"
"Udah deh, masa sama calon suami nggak paham-paham juga."
"Ih, mulai kumat songongnya!"
"Yuk sekarang aja."
"Sepagi ini?"
"Iya. Mau nggak?"
"Mau mau..."
........

"Mbah! Mbah Nolet! Mbah! Bangun Mbah! Jam segini masih tidur! Mbah! Woy! Bangun woy!"
"Masih tidur kali Kun."
"Haduhhh. Siapa sih pagi-pagi gini udah teriak-teriak. Iya bentar!!!"

"Ehhhh, nak Kun. Mari masuk-masuk." Mbah Nolet menciumi tangan Kun. Berkali-kali. Fayya melongo sendiri. Dia tidak percaya dengan peristiwa aneh hari ini.






Share: